Gamelan Jawa


http://www.terrajawa.net/napaktilas_detail.php?artikel_id=41

Penulis: Johanes Papu
09-10-2009


PENDAHULUAN

Pada tahun 1977, pesawat luar angkasa Voyager diluncurkan, bersama dengan Piringan Emas (Voyager Golden Record) yang berisi suara-suara serta gambar-gambar pilihan yang menggambarkan keanekaragaman makhluk hidup dan budaya di Planet Bumi. Tujuannya adalah memperkenalkan kehidupan di planet bumi kepada bentuk kehidupan di luar angkasa atau manusia bumi di masa depan yang mungkin menemukannya. Diantara suara-suara yang direkam dalam piringan emas tersebut terdapat suara ucapan salam dalam 55 bahasa, salah satunya adalah bahasa Indonesia, dan juga rekaman musik dari berbagai budaya. Salah satu musik yang direkam dalam piringan emas tersebut adalah musik Gamelan dengan Gendhing PUSPAWARNA (Kinds of Flowers – Beragam Bunga) yang dimainkan oleh Gamelan Keraton Pura Paku Alaman dibawah pimpinan K.R.T. Wasitodipuro dan direkam oleh Robert E. Brown. Musik ini sampai saat ini masih tetap diperdengarkan di ruang angkasa, mengingat bahwa misi Voyager masih akan berlangsung hingga tahun 2025. Jadi mungkin saja “para makhluk luar angkasa” sudah terbiasa mendengar musik Gamelan.

Saat ini, setelah lebih dari tiga puluh tahun peristiwa tersebut diatas, Gamelan sedang diusulkan ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Gamelan, sebagai salah satu warisan budaya yang memiliki nilai seni sangat tinggi dan sarat dengan falsafah hidup diharapkan mampu mengikuti jejak Wayang, Keris, dan Batik yang telah lebih dahulu diakui sebagai warisan pusaka Dunia yang memang berasal dari Indonesia. Pada saat ini pengakuan oleh lembaga internasional sangat penting bagi bangsa Indonesia mengingat bahwa ada banyak warisan seni dan budaya Indonesia yang diklaim oleh negara lain sebagai milik mereka.Lebih dari itu, pengakuan dunia international diharapkan dapat lebih menggugah kesadaran generasi muda Indonesia untuk tetap mau menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya negeri sendiri agar tidak punah.

Mengapa kita harus bersusah payah memperjuangkan Gamelan sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia? Apakah Gamelan itu sekedar alat musik yang bisa dibuat atau dimainkan oleh siapa saja di seluruh dunia? Dan apa sebenarnya nilai-nilai serta manfaat yang terkandung dalam Gamelan bagi masyarakat Indonesia?

Dalam tulisan ini, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Dengan adanya tulisan ini diharapkan para pembaca menjadi paham bahwa kita (bangsa Indonesia) memang layak mendapatkan pengakuan dari dunia internasional atas warisan budaya bangsa berupa Gamelan.

GAMELAN JAWA

Gamelan sebenarnya bukan lagi merupakan musik yang asing. Popularitas Gamelan telah merambah berbagai benua dan bahkan telah banyak dipakai oleh para musisi untuk memadukan musik modern dengan musik tempo dulu. Banyak musisi, peneliti atau pun pelajar yang datang ke Indonesia untuk belajar Gamelan. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa Gamelan terpilih sebagai salah satu musik yang direkam dalam Piringan Emas Voyager pada tahun 1977.

Di Indonesia, Gamelan banyak dijumpai di Jawa, Bali, Madura dan Lombok. Kita pun bisa mengenal berbagai jenis Gamelan seperti: Gamelan Jawa, Gamelan Sunda, Gamelan Bali, Gamelan Banyuwangi, dan lain-lain. Meskipun terdapat berbagai jenis Gamelan, namun diyakini bahwa Gamelan Indonesia berasal dari satu sumber yang sama. Perbedannya hanya terletak pada teknik / cara permainan dan alat-alat yang mengiringinya. Contoh: Gamelan Jawa dikenal lebih lembut dan “slow”, tarikan rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama. Sementara Gamelan Sunda mendayu-dayu dan didominasi oleh suara seruling.

Mengingat keterbatasan referensi penulis, maka dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas tentang Gamelan Jawa.Mudah-mudahan suatu saat nanti penulis akan memiliki kesempatan untuk menulis tentang Gamelan Sunda, Gamelan Bali atau pun Gamelan yang lainnya.

SEJARAH GAMELAN JAWA

Pada awal mulanya, Gamelan hanyalah berupa Gong besar. Kemudian ditambah dengan beberapa buah gong kecil yang disebut Kempul dalam jumlah yang terbatas. Dalam perkembangan selanjutnya barulah ditambah dengan berbagai instrumen lain sehingga terbentuk seperangkat Gamelan seperti yang kita kenal saat ini.

Dalam mitologi Jawa, Gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, Dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa, dan untuk pesan yang lebih khusus Ia kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk seperangkat Gamelan.

Sebagian besar alat musik Gamelan terdiri dari alat musik perkusi yang dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh. Oleh sebab itu pada waktu orang memainkan alat musik Gamelan biasanya disebut “NGGAMEL”. Nggamel adalah bahasa Jawa yang berarti Memukul / Menabuh. Inilah sebenarnya asal usul kata GAMELAN (Nggamel = Gamel ditambahan akhiran –an).

Tidak ada catatan resmi tentang kapan pertama kali Gamelan dimainkan. Namun perkembangan musik Gamelan diperkirakan mulai ada sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan musik Gamelan tidak luput dari pengaruh India, mengingat bahwa pada sekitar abad VII sampai dengan abad XV, kebudayaan Jawa mendapat pengayaan unsur-unsur kebudayaan India.

Gambaran tentang alat musik ensembel (kumpulan yang terdiri dari dua atau lebih alat musik yang dimainkan oleh sekelompok musisi) pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, yang berdiri sejak abad ke-8. Alat musik yang ditemukan di relief candi tersebut misalnya suling bambu, kendhang, kecapi, dan alat musik berdawai yang digesek dan dipetik.Selain di Borobudur, relief yang berisi tentang alat musik Gamelan juga dapat ditemukan di Candi Jago (Abad ke -13), Candi Panataran (Abad ke-14), Candi Kedaton ( Abad ke-14), dan lain-lain.

PERANGKAT GAMELAN JAWA

Gamelan Jawa sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua laras (tangga nada / titi nada), yaitu Slendro dan Pelog. Menurut mitologi Jawa, Gamelan Slendro lebih tua usianya daripada Gamelan Pelog. Slendro memiliki 5 (lima) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 (C- D E+ G A) dengan interval yang sama atau kalau pun berbeda perbedaan intervalnya sangat kecil. Pelog memiliki 7 (tujuh) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 (C+ D E- F# G# A B) dengan perbedaan interval yang besar.

Gamelan dapat dimainkan sebagai sebuah pertunjukkan musik tersendiri maupun pengiring tarian atau seni pertunjukkan seperti Wayang Kulit dan Ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukkan tersendiri, musik Gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana).

Dalam masyarakat Jawa, orkestra musik Gamelan biasanya disebut “Karawitan”. Berasal dari kata “rawit” yang berarti rumit, halus, kecil. Mengapa disebut demikian? Karena memainkan Karawitan memang tidak sekedar berfokus pada bunyi yang dihasilkan oleh alat musik, tapi juga harus dapat memahami kedalaman makna dari musik yang sedang dimainkan tersebut.Mengingat bahwa semua gendhing yang diciptakan berkorelasi dengan kehidupan manusia sehari-hari, misalnya: ada Gendhing yang merujuk pada keselamatan, ucapan syukur, permintaan, permohonan, dan sebagainya. Dengan memahami kedalaman tersebut maka sang pemain Gamelan dituntut untuk tidak memainkan alat-alat musik sekehendak hatinya, tetapi selalu berdasarkan konteks yang ada. Inilah sebabnya mengapa memainkan Gamelan seringkali dianggap “rumit”.

Seperangkat Gamelan biasanya terdiri dari beberapa alat musik. Dalam sebuah Karawitan biasanya terdapat minimal 15 instrumen yang berbeda. Alat-alat musik tersebut ada yang terbuat dari logam, besi, perunggu, kayu, bambu, dan kulit binatang.

Pada umumnya alat-alat musik yang terdapat dalam perangkat Gamelan terdiri dari:

1.    Counter-Melody, adalah alat-alat musik yangterdiri atas:

     

  • Gambang, adalah alat yang menyerupai instrument metallophone, tetapi  bilah-bilahnya terbuat dari kayu atau tembaga.
  • Suling, adalah alat musik tiup yang biasanya terbuat dari bambu. Dibedakan atas dua tipe: 1) suling dengan lima lubang (finger-holes) untuk laras Pelog; 2) suling dengan empat lubang untuk laras slendro
  • Rebab, adalah alat musik gesek yang dapat menghasilkan suara cukup keras
  • Siter atau Celempung, adalah alat petik sejenis gitar tetapi memiliki senar yang lebih banyak.
  •  

2.    Drum, terdiri atas:

     

  • Bedug, adalah alat musik tabuh yang terbuat dari sepotong batang kayu besar yang telah dilubangi bagian tengahnya sehingga menyerupai tabung besar. Pada ujung batang yang berukuran besar ditutup dengan kulit binatang (biasanya kulit sapi, kerbau atau kambing). Bedug menimbulkan suara berat, rendah, tapi dapat didengar sampai jarak yang jauh.
  • Kendang, adalah alat musik tabuh menyerupai bedug tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil. Kendang biasanya dimainkan oleh pemain gamelan profesional. Kendang dapat dibagi menjadi empat berdasarkan ukuran dari yang terbesar sampai yang terkecil: Kendang Gending, Kendang Wayangan, Kendang Ciblon, dan Kendang Ketipung
  •  

3.    Gong, terdiri dari:

     

  • Gong yang digantung. Dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu:
    • Gong Ageng, adalah gong terbesar dalam Gamelan Jawa dan dipercaya sebagai “roh” dalam Gamelan. Oleh karena itu, gong ini sangat dihormati. Biasanya Gong Ageng ditempatkan di belakang Gamelan.
    • Kempul, adalah gong gantung yang memiliki ukuran lebih kecil dari Gong Ageng.
  • Gong yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkai kayu (tempat yang terbuat dari kayu ini kadang disebut “Rancakan”). Dapat dibedakan dalam 4 (empat) jenis gong, yaitu:
    • Bonang, adalah satu set gong yang terdiri dari sepuluh sampai empat belas gong-gong kecil dengan posisi horizontal yang tersusun dalam dua deretan. Ada dua macam Bonang, yaitu:
      • Bonang Barung, yaitu Bonang berukuran sedang, beroktaf tengah sampai tinggi
      • Bonang Panerus, yaitu Bonang berukuran kecil tetapi titi nadanya lebih tinggi satu oktaf dibandingkan Bonang Barung.
  • Kenong, adalah gong terbesar yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkai kayu. Dalam beberapa Gamelan, satu bingkai kayu dapat berisi 3 (tiga) Kenong.
  • Ketuk dan Kempyang. Adalah gong-gong yang diletakkan di sebelah Kenong. Ketuk dan Kempyang selalu ditempatkan dalam sebuah kotak kayu
  •  

4.     Metallophones, adalah alat-alat musik berbentuk bilahan / lempengan yang terdiri dari enam  tau tujuh bilah, ditumpangkan pada bingkai kayu yang juga berfungsi sebagai resonator. Alat-alat musik ini dapat dibedakan menjadi  2 (dua) jenis, yaitu:

     

  • Saron, terdiri atas:
    • Saron Demung, yaitu alat musik dengan bilahan paling besar dalam keluarga Saron dan menghasilkan nada rendah. Titi nada Saron Demung lebih rendah satu oktaf dibanding Saron Barung. Saron Demung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe: Demung Slendro dan Demung Pelog.
    • Saron Barung. Dibandingkan dengan Saron Demung & Saron Panerus, Saron Barung memiliki bilahan logam menengah (medium). Titi nadanya satu oktaf lebih rendah dari Saron Panerus dan satu oktaf lebih tinggi dari Saron Demung. Saron Barung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe: Barung Slendro dan Barung Pelog.
    • Saron Panerus atau seringkali disebut dengan julukan Peking. Ini merupakan keluarga Saron yang paling kecil. Dibandingkan Saron Barung, Saron Panerus memiliki titi nada lebih tinggi satu oktaf. Saron Barung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe: Panerus Slendro dan Panerus Pelog
  • Gender, adalah alat musik yang terdiri dari bilah-bilah metal yang ditegangkan dengan tali. Gender dapat dibedakan menjadi:
    • Slentem, adalah alat musik dengan bilah metal dan resonator terbesar dalam keluarga gender. Biasanya Slentem memiliki tujuh bilah dan memiliki titi nada satu oktaf dibawah Saron Demung
    • Gender, terdiri atas:
      • Gender Barung. Gender Barung memiliki bilah metal dengan ukuran sedang dalam keluarga Gender. Gender Barung memiliki titi nada satu oktaf lebih rendah dari Gender Panerus.
      • gender Panerus. Gender Panerus memiliki bilah-bilah yang paling kecil dalam keluarga Gender. Gender Panerus memiliki titi nada satu oktaf lebih tinggi daripada Gender Barung.
  •  

Masing-masing dari alat-alat musik (perangkat) tersebut diatas memiliki fungsi-fungsi khusus yang saling mengisi dan melengkapi sehingga menciptakan harmonisasi antara satu sama lain. Setiap alat musik sudah memiliki pakem yang tertuang dalam phatet (pembatasan wilayah nada). Dalam tulisan ini, penulis memang tidak menguraikan peran-peran dari masing-masing perangkat Gamelan tersebut diatas secara lengkap dan bagaimana cara memainkannya. Mudah-mudahan ada pembaca yang bisa memberikan tambahan tulisan sehingga kita semua menjadi jelas bagaimana alat-alat musik tersebut dimainkan sehingga dapat menghasilkan suatu warna musik gamelan yang dikenal memiliki nilai seni sangat tinggi.

Apa saja keunikan musik Gamelan dibandingkan musik-musik lain? Bagaimana aturan main dalam sebuah pagelaran musik Gamelan? Falsafah hidup seperti apa yang terkandung dalam seni musik Gamelan, yang tidak mungkin dipunyai oleh bangsa lain yang mengaku-ngaku musik ini sebagai miliknya? Lalu mengapa masih banyak orang mempercayai bahwa Gamelan memiliki suatu kekuatan magis sehingga dianggap barang pusaka dan sakral? Temukan jawaban daripertanyaan-pertanyaan tersebut dalam tulisan saya pada bagian berikutnya….Semoga berguna. (jp)

Keunikan Musik Gamelan

Berbeda dengan alat musik modern yang semua instrumennya perlu di “stem” agar getaran-getaran musik tidak berselisih, gamelan justru membuat supaya getaran-getaran musiknya “berselisih”. Kalau memakai istilah dari Pak Trustho, di dalam musik gamelan justru ada yang namanya “ngumbang nginsep”, yaitu seperti suara kumbang “wung, wung, wung” (gaung),jadi memang dibuat “jarak”. Tapi uniknya,saat gamelan dimainkan bersama-sama terciptalah sebuah musik yang “hidup”, terjadi pencampuran suara baru yang memberikan kenikmatan “wung wung” – pelayangan bunyi yang enak didengar dan dinikmati. Ini menjadi sesuatu yang sulit dianalisa menurut teori musik, bagaimana instrumen musik dengan getaran-getaran “berselisih” ini bisa menghasilkan musik yang begitu indah.

Keunikan lainnya dalam musik gamelan terletak pada jumlah pemain. Musik Gamelan dapat dimainkan secara tunggal (satu instrumen saja), gabungan 2 – 3 instrumen bahkan hingga 20 instrumen atau lebih (ensembel). Para pemain gamelan profesional itu, baik secara perorangan maupun kelompok, dapat dengan mudah bergabung dengan pemain lain meskipun mereka belum pernah berlatih bersama. Sering pula dijumpai seorang pemain gamelan profesional dapat bertukar alat musik dengan pemain lain dalam suatu pagelaran musik. Hal-hal begini bisa dilakukan karena pada diri para pemain gamelan ini sudah ditanam rasa saling bersimpati, saling mengerti dan saling menghayati satu sama lain. Inilah yang dalam bahasa Jawa disebut “pada rasakake”.

Memainkan gamelan sangat berbeda dengan memainkan alat musik modern. Seorang pemain gamelan harus dapat meresapi kedalaman arti gendhing yang sedang dimainkannya sebab setiap gendhing memiliki makna tersendiri.  Makna atau nilai-nilai yang terkandung dalam gendhing bisa berupa permohonan kepada Tuhan agar warga memperoleh keselamatan (contoh: Ladrang Sri Wilujeng), rezeki melimpah (contoh: Sri Rezeki), tolak bala (contoh: Sri Dhandang), ucapan syukur atau bisa juga ungkapan kegembiraan (misal: Asmaradana). Dengan makna yang terkandung didalamnya maka musik gamelan seringkali dianggap sakral karena hanya dimainkan saat peristiwa tertentu saja. Gendhing Ketawang Puspa Warna yang direkam dalam piringan emas Voyager (lihat artikel Gamelan Jawa – Bagian 1) biasanya dimainkan untuk menyambut masuknya seorang Pangeran sebagai ucapan salam/ selamat datang.

 

Gamelan juga digunakan untuk mengiringi tarian seperti tari Serimpi atau tari Bedoyokarena mampu membangun suasana dramatik bagi sebuah tarian sehingga aura tarian itu bisa dihayati dan dirasakan “kedalamannya”. Saat mengiringi wayang musik gamelan juga untuk membangun suasana sehingga cerita yang dibawakan oleh Dalang menjadi “hidup” dan penonton dengan mudah dapat merasakan “suasana”, misalnya suasana perang, damai bahkan romantis.

Falsafah Dalam Musik Gamelan

Jika berbicara tentang pagelaran gamelan atau karawitan, kita mengenal adanya istilah “Pathet”. Pathet dalam Karawitan adalah pembatasan nada atau pembatasan permainan nada. Jadi nada itu tidak dimainkan asal-asalan tapi ada aturan-aturan tertentu. Setiap Pathet itu dikaitkan dengan falsafah kehidupan.

Menurut Pak Trustho, seorang pengrawit senior, ada tiga macam Pathet yang semuanya menggambarkan falsafah kehidupan manusia dari lahir sampai mati: Pathet 6, Pathet 9 dan Pathet Manyuro. Diawali dengan Pathet 6 yang masih sederhana itu menggambarkan bahwa pada awal kehidupan seseorang pola pikirnya itu masih sederhana, belum lengkap, belum dalam. Pada Pathet 9 dimana estetika karawitan, pola garap, pola lagu dan kedalaman rasanya cenderung mulai “menep” (dalam), menggambarkan seseorang yang sudah beranjak dewasa mulai menghadapi berbagai masalah yang harus bisa diatasi.  Kemudian, Pathet Manyuro yang sudah matang penggarapan dan permainannya itu menggambarkan masa tua yang sudah penuh solusi / berpengalaman mengatasi berbagai masalah kehidupannya.

Dalam sebuah pertunjukkan gamelan (karawitan) sudah ada pembagian wilayah kerja, dari pemimpin lagu, pemimpin irama hinggapeng-implementasi irama. Semua unsur itu bekerjasama secara otomatis meskipun tidak ada konduktornya; semua pemain sadar akan perannya masing-masing. Misalnya: seorang pemain kendang (pengendang), karena perannya sebagai pemimpin maka ia harus selalu ingat dengan para pendukungnya (pemangku lagu/ pendukung irama). Ia tidak boleh diktator mentang-mentang pemimpin lalu dengan seenaknya membuat tempo sehingga pemain lain “keteteran” tidak bisa mengikuti irama kendangnya.  Hal begini tidak boleh terjadi dalam pertunjukkan gamelan (karawitan). Demikian halnya dengan para pendukung seperti saron, demung atau instrumen pendukung lain, juga harus bisa menyesuaikan dengan instruksi yang disampaikan oleh pengendang. Begitu juga dengan instrumen yang secara struktural bersifat kolotumik seperti Gong yang mengamini, atau kenong dan kempul yang membagi-bagi kalimat lagu.

Dengan pemahaman mendalam tentang peran masing-masing maka dalam orkestra gamelan terbangun “pengendapan rasa”: tidak emosional, tidak sombong, saling menghargai dan saling melengkapi. Setiap pemain harus sungguh-sungguh bersabar menunggu gilirannya. Misalnya pemukul gong; gong pasti dipukul lebih lambatdibanding dengan yang lainnya, tapi pukulan gong selalu ditunggu, dan jika salah pasti juga akan mendapat kritikan seperti lainnya. Dengan kata lain, bermain musik gamelan mendidik orang untuk bisa mengelola emosi dan mengendalikan diri.

Gamelan Pusaka

Didalam masyarakat Indonesia, masih ada sebagian orang yang percaya bahwa gamelan tertentu memiliki kekuatan gaib. Suara yang dikeluarkan dari alat musik gamelan seringkali dianggap mempunyai daya magis yang bisa mempengaruhi aura kehidupan manusia. Gamelan seperti ini biasanya bukan lagi sekedar alat musik tapi sudah dianggap sebagai pusaka, dan hanya dimainkan pada saat yang sangat istimewa. Oleh karena keistimewaan itu, gamelan demikian mendapat penghormatan sama halnya seperti menghormati leluhur dan keris pusaka.

Sebenarnya, penghormatan seperti kepada leluhur itu tidaklah berlebihan jika kita melihat dari rasa (roso) dan energi yang terlibat saat sang empu menempa dan membentuk gamelan itu hingga menghasilkan nada yang begitu indah hingga terkesan magis; atau saat sang pemilik gamelan itu dahulu sering menumpahkan perasaan dan pikiran dengan memainkan gamelannya seperti halnya seorang pianis meresap dalam permainan pianonya.

Sebagai alat musik yang dipandang memiliki daya magis, gamelan pusaka seringkali digunakan untuk mengiringi gendhing-gendhing Jawa yang memiliki makna sangat “khusus”, yang seolah mengandung misteriseperti misalnyagendhing Tunggul Kawung yang konon untuk “menahan/memindahkan” hujan, atau sebaliknya gendhing Mego Mendhung yang untuk mendatangkan hujan lebat. Meskipunsemua itu tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, para pemain gamelan (karawitan)bisa membuktikannya dengan “rasa” yang mereka miliki.

Mempertahankan Gamelan = Mempertahankan Budaya Bangsa

Dari pembahasan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa musik gamelan mengandung tatanan, tontonan sekaligus tuntunan yang sangat berguna bagi kehidupan bermasyarakat. Dari susunan pemain atau urutan permainan hingga syair yang dinyanyikan dalam musik gamelan penuh dengan nilai-nilai etika maupun estetika, dan selalu positif.Kalaupun dijaman sekarang ini dalam musik gamelan ada syair-syairyang “kurang baik”,hal itu sebenarnya lebih karena karakteristik sang seniman itu sendiri; mungkin sang seniman terlalu fokus pada situasi kontekstual atau fenomena yang sedang terjadi didalam masyarakat dan tidak menyaringnya secara cermat.

Dengan adanya kekayaan nilai-nilai luhur dan estetika dalam musik gamelan, dengan keunikan musik yang tiada duanya, sudah sepantasnya kita sebagai anak bangsa mempertahankan, melestarikan dan memajukan seni budaya ini. Selama ini, orang-orang dari luar negeri seperti Eropa, Amerika, Jepang dan Australia yang lebih tertarik, lebih menghargai dan sengaja datang ke Indonesia untuk belajar gamelan. Sedangkan selaku pemilik, sebagian besar kita anak bangsa Indonesia, malah malu, masa bodo atau enggan untuk belajar (tentang) gamelan.

Sebenarnya, menumbuhkan kecintaan anak bangsa terhadap budaya Nusantara termasuk gamelan bisa dimulai dari sekolah. Dalam kegiatan ekstra kurikulier, musik gamelan bisa menjadi salah satu dari pilihan jenis musik yang ada. Dengan pengenalan dan kegiatan musik gamelan, diharapkan kandungan nilai-nilai tatanan dan tuntunan kehidupan didalamnya dapat “ditransferkan” kepada para generasi muda. Selain itu, musik gamelan juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengelola keresahan generasi muda kita belakangan ini.

Akhir kata: SEBELUM GAMELAN DIKLAIM OLEH NEGARA LAIN SEBAGAI MILIK MEREKA, MARI KITA JAGA DENGAN CARA MENGHARGAI DAN MEMPELAJARI GAMELAN. Semoga berguna (jp)

 

Daftar Pustaka:

1)      Geertz, Clifford (1960). The Religion of Jawa, The University of Chicago Press.

2)      ….Gamelan,http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan

3)     ….Music on Voyager Record, http://voyager.jpl.nasa.gov/spacecraft/music.html

4)     ….Gamelan, www.seasite.niu.edu/Indonesian/budaya_bangsa/Gamelan

5)     Wiji Utomo, Yunanto (2006). Gamelan, Orkestra a la Jawa, www.yogyes.com

6)     Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Trustho di Yogyakarta

Advertisements

2 thoughts on “Gamelan Jawa”

  1. Ada benang merah, dan kemungkinan benar cerita yang pernah saya dengar.
    Cerita yang dituturkan ke saya, bahwa ada bintang ataupun gugusan bintang atau mungkin galaksi yang diberi nama wasitodipuran,
    Konon, ketika Gending Puspowarno diperdengarkan di langit sana_ (istilah penutur) ada ‘cahaya’ yang berpendar.
    Kumpulan Pendar Bintang ini yang kemudian dinamakan wasitodipuran.
    Begitu Hebat Gamelan dan Segala Pesonanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s