Rames semaR #1


Bisul dan Fenomena Alam

Siang itu panas sungguh terik. Matahari seakan menumpahkan semua energi yang dimilikinya ke permukaan bumi dengan tak menemui halangan sedikitpun. Langit begitu bersih dan benderang, awan-awan berarak seakan bergerak ke atas mempersilahkan cahaya mentari memanasi bumi. Air yang menggenangi sawah menjadi hangat terasa. Hingga kerbau yang tengah bekerja menarik bajak dan tuannya untuk menggemburkan tanah sawah, terlihat ragu dan enggan untuk melanjutkan tugasnya mengitari sawah.

Dan entah dimana kini keberadaan angin semilir. Biasanya anak buah Batara Bayu ini cukup kencang bertiup, membelai mesra tubuh panas berkeringat kerbau dan tuannya, sehingga mampu menjaga semangat untuk terus tetap bekerja. Siang ini hanya sekali-sekali saja angin hadir dan itupun dengan desir pelan.

Melihat kondisi ini, maka KLKM Semar menyuruh Gareng dan Petruk untuk menghentikan kerja membajak sawah sementara. Kemudian merekapun melepas bajak dari kerbau untuk kemudian digiring ke atas dan dibiarkan beristirarat seraya menikmati snack siang rumput yang telah tersaji.

Dengan badan yang basah oleh baur antara keringat dan air sawah, mereka bertiga kemudian menuju ke bawah rindang pohon dipinggir jalan dekat sawah. Menghampiri kendi air yang tersisa dan secara bergantian kemudian meneguknya untuk mengusir haus dan panas.

Sambil menyodorkan pincuk berisi telo rebus sisa tadi pagi kepada anaknya, KLKM bergumam:

“Huuuh panas tenan awan iki yo Le”

“Inggih Rama. Pancen benten panas siyang puniko, mboten kados sabene. Rak yo ngono sing mbok rasake to Truk ?” Gareng menimpali ucapan bapaknya sekaligus meminta pendapat adiknya.

“Oooo inggih leres Rama. Bener kang Gareng, sing tak rasake ki awan iki puuuanaas tenan. Nek tak kira-kira, suhune munggah sekitar lima derajat celcius. Nek ngene ki mengko bengi mesti saya tambah adem. Wah awake dhewe kudu ngerti apa sing dadi jalaran saka kahanan iki, kang Gareng. Iki mesti ana apa-apane. Mungkin iki sing dijenengake hukum alam, sunatullah. Nek alam dipilara mesti liya dina alam arep mbales. Lha iki wayahe wis cerak” seperti biasa Petruk langsung nrocos begitu diberi kesempatan bicara.

“Oalah … kowe ki ngomong apa to le. Lha wong mung tambah panas kaya ngene wae mbok sambungna karo macem-macem” semar tersenyum mendengar celoteh anaknya.

“Ooo … niki saget dijlentrehke secara ilmiah Rama. Niki adalah fenomena alam. Alam niku nggih ciptaan Gusti Allah, rak nggih ngoten ta Rama. Lha nek alam ki kerep dipilara, manungsa seneng ngrusak lan wis ra perduli karo kelestariane, eee … tunggu tanggal maine … alam suatu saat mesti take in action.” kali ini Petruk mengekspresikan ucapannya sambil bergaya pencak silat.

Gareng tersenyum dan Semar pun tertawa lirih seraya menepuk-nepuk bahu Petruk.

“Guuayaaa mu le. Nek tak rungoke omonganmu mau kaya omongan para sarjana ning kotaraja kae. Ketoke interesting topic ki, lanjutno Le … Rama tak mirengake”

Kali ini Gareng yang tertawa pelan : “Menapa ingkang dipun sebat Rama wau, … interesting topic … basa pundi niku Rama lan napa maknanipun?”

“Wis takonno adimu kae. Dheweke sing arep njlentrehke artine sekalian deskripsi bab fenomena alam mau, rak yo ngono to bocah bagus anake Rama, Petruk ?” seraya tersenyum bijak (dan nakal) Semar melirik kepada Petruk.

Continue reading Rames semaR #1

Rames semaR #0


Initial Ruang Obrolan


Sebentar lagi Subuh. Diluar masih gelap dan dingin. Udara musim kemarau menciptakan suhu cukup dingin di pagi hari, sangat kontras bila dibandingkan dengan siang hari yang begitu menyengat. Dingin suasana semakin meninggikan sarung orang-orang yang berkemul dalam tidurnya. Namun di beberapa rumah lampu-lampu penerangan sudah mulai ditambah, pertanda penghuninya telah melakukan aktifitas menjelang subuh.

Wilayah kampung Kosong Mlompong adalah sebuah ranah pertanian. Bisa dibilang hampir seluruh penduduknya menggantungkan hidup dari hasil sawah yang dimiliki dan dikelolanya. Namun seperti terjadi di daerah-daerah lainnya, kesejahteraan penduduknya pun beragam. Ada yang menjadi juragan karena memiliki sawah yang luas dan ternak yang banyak, namun ada pula yang hidup dalam keterbatasan karena tidak memiliki tanah untuk diolah, dan hanya bekerja sebagai buruh atau berbagi hasil panen dari lahan majikan yang diolahnya. Namun sebagaian besar penduduknya adalah petani yang memiliki tanah sendiri, meskipun tidak terlalu luas, namun mampu menghidupi keluarganya secara sederhana.

Kampung Kosong Mlompong memang kampung yang sangat sederhana dengan penduduknya yang begitu bersahaja. Tidak ada yang berfikir dan melakukan hal yang neko-neko dalam kehidupan setiap penduduk kampung itu. Semua berjalan dengan simpel dan begitu apa adanya. Kehidupan relatif berlangsung dengan linear, tidak bercabang kemana-mana, bekerja dengan tekun, menikmati hasilnya dan kemudian mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhannya. Tak heran bila roda kehidupan di kampung itu seperti telah di program, di setting dengan rutinitas yang serupa. Pagi setelah sholat Subuh menuju sawah untuk bekerja, menjelang siang beristirahat, kembali ke rumah menyelesaikan pekerjaan di rumah atau nyambi bekerja lainnya, menjelang sore selesai kemudian membersihkan diri untuk sholat Maghrib dilanjutkan Isya, dan akhirnya menjelang tidur malam bercengkrama bersama seluruh anggota keluarga.

Damai dan nyaris tidak ada gejolak dalam kehidupan kampung itu. Apalagi sudah puluhan tahun yang memimpin kampung Kosong Mlompong adalah seorang yang luar biasa. Luar biasa disini dimaksudkan sesuai dengan ukuran kampung Kosong Mlompong dan daerah sekitarnya. Kalau penduduk kampung terbilang berkehidupan sederhana, maka KLKM (orang kampung biasa menyebut lurahnya dengan akronim itu dari singkatan Ki Lurah Kosong Mlompong) adalah orang yang luar biasa dalam kesederhanaan. Pun demikian dalam hal kearifan berfikir, kematangan menjalani hidup dan ketekunan dalam bekerja serta beribadah. Pokoknya KLKM sangat layak untuk dituakan di kampung itu sehingga setiap pemilihan lurah baru, maka tidak ada yang merasa sanggup bersaing dengan KLKM, sudah menyerah duluan. Dan meskipun secara arif KLKM meminta warganya agar ada yang bersedia untuk menggantikannya, demi tujuan regenerasi, namun belum ada yang berani mengacungkan tangan untuk menerima estafet kepemimpinan.

Siapakah tokoh lurah yang begitu dicintai oleh warganya itu ? Tidak lain adalah sosok yang bernama Semar.

Continue reading Rames semaR #0

KTCM Banjaran Rahwana


Sebuah koleksi yang disaharing oleh Mas Sugiran Aulia Tangerang berjudul “Banjaran Rahwono” bersama Ki Timbul Hadi Prayitno yang adalah rekaman Live saat pagelaran di Karangmojo-Gunungkidul.

Selamat Menikmati

Atas nama sutresna wayang terutama pecinta KTCM, kami ucapkan terima kasih kepada Mas Sugiran Aulia atas sharing ini. Smoga bermanfaat bagi kita semua.

Matur nuwun

 

Update Terakhir : 03042014

http://www.4shared.com/folder/r2usHO54/021.html

Merapi !


Setiap mendengar kata Merapi aku selalu terkenang masa kecil dulu
Kala melihat berita tentang Merapi, ingatanku langsung tertuju pada Yayah Sonayah
Waktu kelas 2 SD disuruh melafalkan Merapi, Yayah selalu bilang Merpapi
Bahkan setelah di eja me – ra – pi dan diikutinya dengan tepat
Begitu diulang maka kata Merpapi keluar lagi dan lagi
otomatis, tanpa rekayasa

Kota kelahiranku memang akrab dengan Gunung yang bernama Merapi
Bahkan di kompleks kami tinggal tertera nama “Panca Arga”
panca berarti lima, dan arga adalah gunung
dan memang Magelang dibentengi oleh
Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan pegunungan Menoreh
meskipun masih ada satu gunung keramat lagi yaitu Gunung Tidar
namun tidak bisa disebut sebagai gunung karena terlalu kecil
dan konon Gunung Tidar adalah paku pulau jawa dimana Kyai Semar bertapa atau dimakamkan
Hanya mitos
yang benar-benar nyata Gunung Tidar dijadikan tempat sebagai ajang latihan para taruna Akabri

Dan kelima gunung itu sungguh membuat kami damai sekaligus was-was
Merapi selalu berasap setiap saat
merbabu begitu dekat terlihat perkasa
sumbing mendekam dan rasanya terus mengembang
dan menoreh berbaris rapi menciptakan keindahan nuansa

Yang sampai sekarang aku ingat tentang “berkah” merapi
adalah saat menikmati hujan abu hasil kreasinya
bumi memutih
dan karena belum tahu apa-apa maka pemandangan itu terasa begitu indah bagiku
tak sadar bahwa dibalik keindahan itu tersimpan ancaman

Merapi …
ya merapi …
sampai kini masih penuh misteri
hingga Sultan Mataram HB IX pun kemudian mengutus Mbah Maridjan untuk memantaunya

Dan kini dengan memperlihatkan “kekuasaannya”
merapi telah mengambil Mbah Maridjan untuk kembali ke pangkuan Allah swt
tuntas sudah pengabdian Mbah Maridjan
tipikal sosok pengabdi titah atasan tanpa kompromi
ibarat seorang nahkoda,
beliau gugur di tengah laut dalam mempertahankan keselamatan penumpang dan kapal
selamat jalan Mbah …
totalitas pengabdianmu layak untuk diteladani kami semua

****

BIcara soal Merapi akan saya sharing koleksi yang saya peroleh dari madrotter

Andre Jaume with Sapto Raharjo Gamelan Orchestra