Ki Joko Edan


http://www.dekase.net/more-about-dekase/30-the-community/69-ki-joko-edan

KI JOKO EDAN

(Si Dalang Kondang Asal Semarang)

Ki Joko Edan bernama asli Joko Prasojo. Kemudian ada nama lainnya lagi yang ia dapat setelah menikah, yaitu Joko Hadiwijoyo. Pria ini lahir di Jogja, 20 Maret 1948. Dengan demikian saat ini usianya 61 tahun, dan terhitung sudah tak muda lagi.

Ki Joko Edan adalah seorang seniman wayang kulit atau lebih familiar disebut dalang. Kiprahnya pada dunia seni pantas dibilang luar biasa. Pernyataan ini terbukti dari begitu banyaknya penghargaan yang telah ia dapatkan. Salah satu prestasi yang membanggakan ialah nama dirinya tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai sutradara pertunjukan wayang kulit yang diisi dan atau ikut diramaikan oleh tiga puluh empat kelompok seni, yang pada waktu itu pertunjukan tersebut digelar di Gedung Wali Kota Semarang pada Juli 2005 lalu.

Joko adalah suami dari Nurhana (penyanyi), dan dari hasil pernikahan ini lahirlah dua orang putri bernama Rahayu Hana Wijayanti (SD kelas 6) dan Dewi Lestari Hana Wijayanti (SD kelas 2). Kedua putrinya ini walau masih kecil-kecil namun menurut pengakuan ayahnya sudah mulai terlihat bakat-bakat seninya. Terutama pada anaknya yang nomer dua, sudah sering meraih juara di berbagai perlombaan menyanyi. Tentu saja ini merupakan anugrah yang patut mereka syukuri.

Video Goro-Goro Ki Joko Edan bersama Nurhana & Gogon “Caping Gunung” 1

Video Goro-Goro Ki Joko Edan bersama Nurhana & Gogon “Caping Gunung” 2

Joko bercerita bahwa dirinya sejak dalam perut sudah dibiasakan oleh sang ayah dikenali dunia pewayangan. Kebetulan sang ayah dari dulu sampai sekarang adalah penggila yang luar biasa terhadap wayang, meski tak bisa mendalang. Dan lahirlah Joko yang akhirnya terbiasa dan senang juga dengan kesenian ini. Saat kecil dirinya suka menggambar-gambar wayang saat sekolah SD. Terlebih lagi Joko sangat senang bila ada kesempatan menonton pertunjukan wayang saat itu. Hingga jadilah saat ini dirinya menjadi dalang kondang, Ki Joko Edan.

Joko menamatkan sekolahnya hanya sampai di bangku Sekolah Dasar. Dirinya memilih lari dari bangku sekolah karena saat kelas dua SMP sempat tidak naik kelas sebanyak dua kali. Lepas dari sekolah pria ini melanjutkan perjalanan hidupnya sebagai anak jalanan. Namun setelah merasa puas mendapat pengalaman macam-macam dirinya dinasehati sang ayah dan diberi motifasi penuh untuk kembali belajar. Joko mendapat arahan untuk ikut kursus pedalangan di Ngesti Pandowo. Pria ini mengikuti kursus tersebut selama tiga tahun.

Baru saja menyelesaikan tahun pertamanya di kursus Pedalangan Ngesti Pandowo dirinya sudah mulai suka lari dari jadwal belajar yang ditentukan. Dirinya lebih memilih untuk sering-sering melihat dan mengikuti praktek pertunjukan langsung dari dalang-dalang kondang. Kemudian dari hasil banyak mengamati itu akhirnya Joko lebih mahir mendalang dan mencoba-coba berpraktek walau belum kelar betul belajarnya. Ternyata setelah dia coba, hasilnya adalah terlaksana dengan baik. Setelah itu kecintaannya semakin besar lagi pada dunia wayang ini. Pertama kali ia praktek mendalang, yaitu di rumahnya sendiri pada saat ayahnya mengadakan acara Suronan untuk warga sekitar di tempatnya. Kemudian lagi pertama kali dalang ia jalani sebagai profesi (menghasilkan materi/ ditanggap), yaitu di Tengaran, Salatiga pada acara resepsi pernikahan.

Tokoh wayang yang menjadi idola Joko Edan adalah Rahwana. Alasan dirinya menyukai Rahwana, yaitu Rahwana merupakan sosok seorang raja yang full comitmen, berprinsip kuat, berani mengambil resiko tinggi, dan tak kenal menyerah dalam pencapaian cita-citanya. Sedang cerita wayang favoritnya adalah Mahabarata, sebab kandungan cerita ini sangat kompleks, di mana ada unsur politik, ketatanegaraan, dan lain sebagainya.

Dari usia enam belas tahun sampai sekarang, tentunya KI Joko Edan sudah punya banyak sekali pengalaman-pengalaman mendalang. Ada cerita menarik, yaitu pengalaman berkesan dari dirinya. Saat itu Joko sedang ditanggap oleh Bibit Waluyo, kemudian Joko mengibaratkannya sebagai Bima, dalam jalan ceritanya ini digariskan ternyata Bima bukanlah orang yang berhak mendapat wahyu, dan kagetlah semua penonton yang hadir dalam acara hajatanya Bibit tersebut, namun dilanjutkan lagi ceritanya oleh Joko memang bukanlah Bima nama yang keluar, yang muncul dan pantas sebagai penerima wahyu adalah namanya langsung yaitu Bibit waluyo. Joko sangat senang sekali sempat sesaat membuat pejabat itu dikerjai dan berhasil membuat candaan yang menegangkan. Ada lagi pengalaman berkesan lainnya, yaitu saat dirinya tampil di daerah transmigran, yaitu di Siting, Padang. Saat itu cuaca hujan deras dan banjir lumpur lumayan tinggi, tapi penonton yang hadir begitu banyak dan membludak. Ki Joko Edan tampil di antara Persatuan masyarakat Jawa di Padang. Mungkin besar rasa rindu mereka terhadap kebudayaan asli daerahnya. Karena meski berdomisili lama di Padang, orang-orang tersebut adalah aslinya orang Jawa. Dengan melihat antusias yang sedemikian luar biasanya, Ki Joko pun berdalang dengan rasa bangga dan semangat yang besar.

Selain mendalang, Ki Joko Edan juga menguasai seni lain, yaitu musik. Pria ini trampil memainkan alat musik apapun kecuali biola, begitu menurut pengakuannya. Sedang kalau seni lukis dia berterus terang tidak bisa dan kemudian jadi tidak terlalu senang.

Dalam menjalankan pagelaran wayangnya Ki Joko Edan membawa 64 personil yang teergabung dengan nama “Wijoyo Laras”. Personil tersebut terdiri dari pengendang/ pengrawit dan suarawati/ pesinden. Untuk wilayah dalam kota Semarang, satu kali pagelaran wayang oleh Ki Joko Edan tarifnya adalah Rp.30.000.000,- sedang untuk luar kota disesuaikan jarak dan biaya transportasinya.

Belakangan ini Ki Joko Edan merambah dunia-dunia lain di luar kesenian. Dirinya ikut aktif dalam pengusahaan bangkitnya kembali kerajaan Demak, dan saat ini ia berperan sebagai penasihat raja Demak yang mudah-mudahan akan berdiri resmi sebentar lagi. Sangat terlihat sekali keaktifan dirinya mengamati bidang politik, sosial, dan budaya. Ini terlihat nyata bila kita lihat pertunjukan-pertunjukan wayang olehnya, selalu ada isu-isu hangat di masyarakat ataupun gunjang-gunjing bangsa yang ia bawa ke dalam pertunjukan wayangnya. Termasuk salah satu yang diceritakannya adalah dirinya pernah menyelipkan kasus centuri pada pertunjukan wayangnya. Walau demikian dengan seni semua itu tetap saja terasa indah, namun bermanfaat dan mengajak berfikir berbagai pihak terutama yang melihat pagelaran wayangnya tersebut.

Dirinya adalah sosok seniman yang besar sekali kepeduliannya terhadap generasi muda bangsa. Akhir-akhir ini dirinya sering diundang dalam acara seminar-seminar kampus. Seminar-seminar ini terutama membicarakan tentang budaya dan kekayaan bangsa. dirinya sangat tidak suka bila ada yang meremehkan budaya Indonesia. Joko prihatin sekali bila melihat anak-anak muda sekarang yang justru senang dan antusias terhadap budaya perayaan hari valentine, seperti ada kasus di Bali lomba ciuman sepanjang pantai yang diikuti puluhan pasangan di sana, hal demikian  padahal  sama sekali tidak sesuai dengan budaya ketimuran yang kita anut.

Dirinya pun berucap prihatin terhadap generasi muda yang selalu ribut mengantri kerja setelah lulus, bahkan telah bertitel segala macam. Dirinya berpesan bahwa berhentilah menghabis-habisi peluang/lowongan kerja tapi justru cobalah untuk membuka peluang-peluang kerja itu, untuk diri sendiri bahkan dapat untuk orang lain juga. “Hentikan segera budaya kuli”, kira-kira demikian inti penuturannya.

Alamat :  Pudak Payung, Perumahan Payung Mas, Jl. Hulu No.36.

Nomor telepon : 0247475440 atau 08122909403.

KMS Gada Inten


Wekdal puniko giliranipun Ki Manteb Sudharsono badhe mahargya kita sedaya kanthi mundut judhul “Gada Inten”. Lakon puniko kiriman saking Mas Dedek Abadi Mawasidiri.

Lakon puniko nyariosaken malih Bambang Wisanggeni, wong edan, putra Madukara.

Monggo sami dipun mirengaken

  1. KMS –Gada Inten 01
  2. KMS –Gada Inten 02
  3. KMS –Gada Inten 03
  4. KMS –Gada Inten 04
  5. KMS –Gada Inten 05
  6. KMS –Gada Inten 06
  7. KMS –Gada Inten 07
  8. KMS –Gada Inten 08
  9. KMS –Gada Inten 09
  10. KMS –Gada Inten 10
  11. KMS –Gada Inten 11
  12. KMS –Gada Inten 12
  13. KMS –Gada Inten 13
  14. KMS –Gada Inten 14
  15. KMS –Gada Inten 15
  16. KMS –Gada Inten 16

Sugeng midangetaken

Matur nuwun

 

Update Terakhir : 02042014

http://www.4shared.com/folder/9msZ5WY-/017.html

Baratayuda [18] : Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri


By MasPatikrajaDewaku

Sejenak kita kembali kepada saat padang Kurusetra bergejolak, atas kehendak Adipati Karna dalam menjalankan perang di waktu malam. Kita beralih ke tempat yang lain namun dalam waktu yang bersamaan, di hutan Minangsraya. Ditempat ini terlihat bentangan suasana alam nan luas. Suasana yang tergelar samar dan muram, seperti halnya cahaya kunang kunang. Tak berdaya sinarnya, kalah tertelan oleh cahaya bulan purnama di awang awang. Ketika itu pranata mangsa telah menunjuk pada musim kemarau dan awan tipis berarak di kaki langit, menjadikan terpesona yang melihatnya. Bahkan juga mahluk seisi hutanpun ikut terpana, batang pohon kayu besar-pun terbakar.

Gambaran suasana yang ada di hutan Minangsraya ini, saat Pandita Durna yang terlunta lunta dan sakit hati, dijatuhi murka sang Duryudana. Duduk bersila dibawah pohon baniyan, resi Durna mengheningkan cipta. Semua pancaindriya dimatikan, hanya rasa jati yang dimunculkan. Terseret sukma sang begawan kedalam alam layap leyep, alam samar. Dan pesatlah laju suksma sang Pandita melesat keharibaan sang gurunadi, guru sejati, Ramaparasu.

Kaget sang Ramaparasu melihat datangnya Kumbayana yang menampakkan wajah murung.

Sembah bakti telah dihaturkan ke haribaan Ramaparasu atau Ramabargawa. Kemudian Kumbayana menyampaikan segala isi hatinya.

“Guru, hamba telah kehilangan harta yang tak bernilai harganya. Bahkan seluruh raga ini telah terasa bagai terseret runtuhan gunung Mahameru. Luluh lantak sudah tak berujud lagi”

“Apa sebab kamu merasa demikian, segala kesaktian, guna kawijayan kanuragan, kasantikan telah kau terima dariku waktu lalu, bagaikan telah tertuang habis mengalir kepadamu. Dan bila kamu merasa telah kehilangan harta yang tak ternilai seperti yang kau sebutkan tadi, segera jelaskan apa maksudnya.” Rama Bargawa menanyakan, namun dalam hatinya ia tidak syak lagi, bahwa didepan telah menjelang peristiwa besar yang menanti garis perjalanan Kumbayana muridnya.

“Bapa Guru, hamba telah kehilangan kepercayaan dari junjungan hamba Prabu Duryudana dalam mengemban tugas sebagai seorang senapati. Inilah yang hamba anggap kehilangan yang terbesar dalam hidup. Kehilangan kepercayaan yang berturut turut terjadi, setelah putra kesayangan hamba satu satunya Aswatama, telah diusir jauh dari pandangan mata junjungannya. Dan kini kehilangan kepercayaan dari seorang raja mengenai kegagalan hamba dalam melakukan tugas, adalah, bagai runtuh dan leburnya harga diri. Sekali telah runtuh, banyak waktu dan usaha yang teramat sulit untuk mendirikannya kembali, malah mungkin tak kan pernah lagi terbangun kepercayaan itu lagi” sedih Kumbayana memuntahkan isi hatinya, mukanya tertunduk dalam, menanti jawab sang guru yang apapun ucapannya nanti, dalam niatnya ia akan menjalankan sepenuh hati.

“Jadi apa maksudmu sekarang ? Apalagikah yang harus aku berikan untuk mengatasi masalahmu ?” sang guru sebenarnya berwatak keras sepanjang hidupnya, namun sekarang tersentuh hatinya menanyakan maksud Kumbayana.

“Berilah hamba pencerahan. Krisis kepercayaan yang terjadi pada diri hamba sekarang, telah menutup nalar hamba terhadap segala pertimbangan dan keputusan yang harus hamba ambil. Sekali lagi mohon pencerahannya bapa guru.” Memohon dengan seribu hormat Kumbayana kepada sang guru.

“Sekarang kamu sedang menimbang perkara apa ?” Kembali Ramaparasu menegaskan pertanyaannya.

“Haruskah hamba meneruskan peran yang sedang hamba pikul dipundak ini, apakah cukup disini riwayat Kumbayana, dan kemudian beban itu kami letakkan ? Kemudian hamba minta kerelaan paduka guru, agar hamba dapat  menjadi abdi paduka guru selama lamanya !” Kumbayana mengakhiri kalimat itu dengan kesan mendalam bagi sang guru bahwa ia benar benar ada dalam keputus asaan yang berat.

“Kumbayana, pantang bagi manusia sepertimu yang walaupun pada kenyataanya kamu adalah seorang pandita, namun dalam jiwamu masih bersemayam jiwa satria yang kuat. Seharusnya kamu tidaklah meletakkan beban yang disandangkan ke punggungmu, bila belum memperoleh kata perintah berhenti dari yang memberi beban. Apalagi menyerah kemudian memilih pergi ke alam kesejatian”. Sejenak Rama Parasu berhenti berbicara, ia mengamati perubahan air muka Kumbayana. Lanjutnya “Bila alam kesejatian yang hendak kau raih, jalan kearah itu janganlah dilalui melewati keputus asaan. Segeralah kembali ke medan Kurusetra. Tak perlulah kamu kembali kehadapan Duryudana, tapi segeralah kerjakan apa yang menjadi tugasmu. Menang atau kalah itu adalah darma satria. Menang kamu harus meneruskan darmamu, dan bila kalah, jalan kesejatianlah itulah benar yang seharusnya kau lalui menuju tepet suci. Itu adalah seharusnya jalan utama bagi seorang kesatria yang harus dilalui ”

“Baik, hamba akan menuruti segala sabda paduka Guru.” Mengangguk Kumbayana, mengerti yang dimaksudkan oleh gurunya.

“Terimalah bekal sarana sakti dalam menuntaskan tugas itu. Bulu merak ini mampu membuatmu tak kan terlihat dengan mata telanjang. Syaratnya adalah kamu tidak boleh bicara ketika menggunakannya.  Tetapi bila anak anakmu Pandawa kuasa untuk mengantarmu kealam abadi nanti, itu pertanda bahwa merekalah yang sebenarnya berlaku benar dan pantas memenangi perang, atau sebaliknya.”

Continue reading Baratayuda [18] : Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri

KNS : Kalabendana Gugur (Live)


Taksih kaliyan Sang Maestro Ki Nartosabdho, sakmeniko ngaturaken lakon “Kalabendana Gugur”.

Monggo menawi badhe langsung ngundhuh saget wonten mriki.

Wonten ing blog niki inggih sampun nate disharing lakon ingkang sami.

Menawi radi kawratan anggenipun ngundhuh wonten ing Multiply amargi dereng familiar lan ukuran file-ipun radi ageng, kula sampun ngunggah ulang wonten ing 4shareng lan sampun kula split dados 15 file

Monggo saget diunduh wonten mriki

 

Update terakhir new upload : 29032014

http://www.4shared.com/folder/MG5Scnrb/66_online.html

Jumlah File : 9 File

 

KMS Khasanah Budaya : Sastra Jendra Hayuningrat


Rekaman audio puniko kiriman saking Pak Dwi Darwanto Semarang, inggih puniko wedharanipun Ki Manteb Sudharsono wonten ing acaranipun Universitas Negri Semarang (UNES) dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-45 ingkang disiaraken dening RRI Semarang wonten ing acara Khasanah Budaya 15 April 2010.

Monggo dipun cermati penjelasan KMS.

Matur nuwun Pak Dwi atas sharingipun

 

Update Terakhir : 02042014

http://www.4shared.com/mp3/1UvQujdpba/satro_jendro_hayuningrat_ki_ma.html

Baratayuda [17] : Drupadi telah meluwar Janji


By MasPatikrajaDewaku

Kembali seorang dari saudara Pendawa terkena tekanan jiwa karena kematian anak tercinta. Padahal mereka tahu, kematian bagi seseorang yang masuk dalam arena pertempuran pilihannya adalah mukti atau mati. Tetapi tetap saja terjadi, setelah kematian Abimanyu anak Arjuna yang menjadikan Arjuna kehilangan pegangan diri, kali ini Sang Bima Sena-pun mengalami hal yang sama.

Tidaklah ia menyalahkan siapapun, Prabu Kresna, Karna atau dirinya sendiri. Kerelaannya melepas kepergian anaknya menjadi senapati malam itu adalah atas niat suci. Namun kenyataan yang terjadi tidak urung membuat perasaannya yang teguh sedikit banyak telah terguncang. Ketiga anak lelakinya telah mendahuluinya meraih surga. Yang pertama ketika mengikhlaskan Antareja menjadi tawur atas kejayaan trah Pandawa sebelum pecah perang waktu lalu . Kemudian berita telah sampai pula ditelinganya, ketika Antasena juga telah merelakannya akhir hidupnya atas keinginannya untuk tidak menyaksikan dan mengalami perang Barata, asalkan para orang tuanya unggul dalam perang itu. Ia dengan sukarela tersorot mata api yang tajam Batara Badawanganala, hingga lebur menjadi abu.*)

Maka ketika anak lelaki keduanya tersambut rana dalam peperangan, maka remuk redam hatinya tanpa dapat mengalirkan air mata. Dengan pikiran yang kosong Werkudara berjalan menjauhi arena peperangan. Tak terasa langkahnya sampai dipinggir bengawan Cingcingguling ketika waktu belum lagi menjelang siang. Rasa lelah semalaman dalam menghadapi barisan raksasa dari Pagerwaja, Pageralun dan Pagerwatangan, membebani raga sang Bima, ditambah jiwa yang terluka menganga, merana ditinggalkan semua anak tercintanya. Walau amuknya semalam telah menelan korban kedua adik dari Patih Sengkuni, Anggabasa dan Surabasanta, namun tetap ia tidak puas sebelum membalas kematian terhadap Adipati Karna. Rebahlah dibawah randu hutan dipinggir bengawan, sang Bima melepas lelah.

Satu bingkai demi bingkai bayangan peristiwa masa lalu mengalir bagai kejadian yang baru saja terjadi. Dibayangkannya sosok sang istri yang begitu menyayanginya dengan segenap jiwa dan raga. Wanita yang sesuai dengan angan angan ketika ia memilih istri. Wanita yang lembut namun perkasa dan sakti mandraguna.

Berkelebat bayangan kejadian pahit manis perjalanan kasih, hidup dan perjuangannya dengan sang istri. Saling bahu membahu dengannya ketika membangun Negara Amarta dari asal hutan Wisamarta yang demikian angker dengan penunggu para lelembut sakti. Para Drubiksa penghuni hutan yang ternyata mereka adalah pemilik negara maya dalam hutan itu, bahkan telah menyatu dalam jiwa masing masing pribadi para Pandawa. Terpesonanya diri ketika melihat perubahan ujud raseksi Arimbi yang begitu perkasa dan sakti, menjadi sedemikian cantik karena sabda sang ibu, Prita-Kunti Talibrata, ketika menyaksikan Arimbi yang demikian cantik budi perilakunya dalam membantu anak anaknya, sehingga tercetus kata mantra Sabda Tunggal Wenganing Rahsa ke telinga Arimbi.

Istri yang telah memberikan warna hidup hingga lebih cerah ketika ia melahirkan seorang putra yang walau masih ujud bayi merah, Jabang Tetuka, tetapi oleh olah para Dewata, anaknya itu dibuat cepat dewasa dengan kekuatan bagaikan berotot kawat tulang besi. Ia telah berhasil membebaskan Kahyangan Jonggring Saloka dengan mengenyahkan Prabu Kalapercona dan para punggawanya yang sedemikian sakti. Putra yang sangat ia banggakan dengan sosok yang dambaan yang melekat pada angan angannya. Putra sempurna yang merajai negara tinggalan dari orang tua ibunya, sekaligus musuh Pandu, orang tuanya, yaitu Prabu Trembuku. Itulah Negara Pringgandani.

Continue reading Baratayuda [17] : Drupadi telah meluwar Janji

KNS : Krida Hasta


Puniko salah satuggalipun koleksi saking Pakdhe Multiply kanti judul Krida Hasta dening Sang Maestro Ki Nartosabdho.

Monggo menawi badhe langsung ngundhuh saget wonten mriki.

Menawi radi kawratan anggenipun ngundhuh wonten ing Multiply amargi dereng familiar lan ukuran file-ipun radi ageng, kula sampun ngunggah ulang wonten ing 4shareng lan sampun kula split dados 15 file

Sugeng midangetaken

 

Update terakhir new upload : 29032014

http://www.4shared.com/folder/39EAfIms/81_online.html

Jumlah File : 15 File