Yatno dan Wayang Suket Metropolitan


Kamis, 5 Agustus 2010 | 02:57 WIB
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
SUYATNO HADI RAHARJO

HENDRIYO WIDI

Di tangan Suyatno Hadi Raharjo, janur bekas dan ilalang di kota metropolitan Jakarta mampu mewujud menjadi sosok pewayangan Puntadewa, Raja Amarta. Sampah dan salah satu jenis rerumputan liar yang sering dianggap orang tak berguna itu mengejawantahkan kesederhanaan, sekaligus kejujuran salah satu tokoh Pandawa itu.

Meski seorang raja, Puntadewa tak memakai gelung keling, gelang emas di tangan dan kaki, serta jubah kebesaran. Perhiasan yang dipakainya berupa cincin, pertanda kesetiaan terhadap istri sekaligus negara.

Menurut Yatno, panggilannya, sosok Puntadewa akan lebih mengesankan kesederhanaannya jika dibuat dari suket atau rumput dan janur, bukan kulit. Alasannya, rumput itu berada di bawah, tetapi memberikan kehidupan dan keindahan. Sedangkan janur merupakan daun di ketinggian yang berfungsi sebagai bahan pembuat hiasan berbagai acara, seperti ritual keagamaan, pernikahan, dan khitanan. Janur juga menjadi pembungkus makanan, ketupat. ”Puntadewa yang terbuat dari suket dan janur itu menampilkan sosok yang dapat menjadi cermin para penguasa, terutama di Jakarta, agar tidak melik nggendhong lali (kuasa membuat lupa) dan selalu memerhatikan rakyat,” katanya.

Itulah salah satu refleksi Yatno, perajin wayang suket, terhadap tokoh wayang favoritnya. Melalui para tokoh wayang suketnya, Yatno belajar tentang hidup, sekaligus memberikan edukasi kepada orang lain. Sejak kecil, Yatno menyukai wayang. Dia kerap membuat wayang dari kardus, pelepah pisang, dan singkong. Daun keluwih juga biasa ia gunakan untuk membuat tokoh raksasa dan gunungan wayang.

Setiap kali ibunya ke pasar, Yatno kecil kerap minta dibelikan wayang kardus. ”Sejak kelas IV hingga VI SD, wayang kardus yang dibelikan Ibu terkumpul sejumlah 60 tokoh.”

Berbekal wayang kardus itu, Yatno kerap bermain dalang-dalangan. Saking sayangnya dengan anak wayangnya itu, Yatno kecil tak segan meminjam jodang atau kotak tempat piring, untuk menyimpan wayang. Kain putih ibunya pun ia gunakan untuk kelir atau layar pewayangan.

Yatno kecil pun mengumpulkan teman sebayanya untuk menjadi niyaga atau penabuh gamelan. Gamelannya saat itu terdiri dari aneka peralatan rumah tangga. ”Untuk menambah bunyi-bunyian mirip suara asli, kami suka menambahkan suara-suara mirip gamelan sesungguhnya lewat mulut kami,” kisahnya.

Setamat sekolah dasar, bakat mendalang Yatno ”terkubur”. Orangtua meminta dia lebih menekuni pelajaran di sekolah. Demi memenuhi keinginan orangtua, ia lalu menyimpan wayang kardus itu di atas lemari ibunya.

Program untuk pelajar

Selulus SMA Yaspri, Jakarta, Yatno melamar menjadi pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia diterima sebagai anggota staf Museum Seni Rupa dan Keramik, Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta.

Tugas membuat dia sering bertemu para perupa. Ia pun suka belajar melukis dari mereka. ”Meski tidak terlalu sempurna, saya bisa melukis tokoh-tokoh pewayangan,” tuturnya. Di Museum Seni Rupa dan Keramik, Yatno menekuni anatomi wayang sebagai dasar melukis wayang.

Pada 2005, pergulatan Yatno dengan wayang kembali muncul tatkala ia dimutasi ke Museum Wayang, Jakarta, sebagai staf edukasi. Berbasis keterampilannya semasa kecil, ia berupaya membuat program edukasi wayang bagi para pelajar di DKI Jakarta. Bagi siswa taman kanak-kanak, misalnya, ia memperkenalkan para tokoh pewayangan melalui program ”Mewarnai Wayang”.

Bagi siswa kelas I sampai III SD, ia menerapkan program ”Menggambar dan Membuat Wayang” dengan cara mengeblat, melaminating, dan memberi penyangga wayang. Adapun bagi siswa kelas IV-VI SD dan SMP, ia mengajari mereka membuat wayang kardus, kertas, dan suket. ”Sedikit demi sedikit saya menanamkan pula karakter tokoh dan pesan moral pewayangan yang intinya kebaikan selalu mengalahkan kejahatan,” katanya.

Mereka pun senang karena membuat wayang suket relatif mudah. Bahan bakunya janur, ilalang, mundeng, serai, bambu, lidi, tali, kawat, dan kabel. Janur dan berbagai jenis rerumputan itu didapat dari lahan tidur, sempadan sungai, dan pekarangan rumah yang tak terurus.

Maka, Yatno menyebut ”produknya” itu sebagai wayang suket metropolitan. Metode pembuatannya sederhana, menggunakan sistem tujuh tali. Tali itu sebagai pengikat rangka wayang yang terbuat dari bambu, lidi, kawat, atau kabel. Setelah rangka diikat, mereka lalu menganyam suket.

”Dari (bahan baku) suket, saya membuat 15 tokoh wayang, terutama Pandawa dan punakawan. Kalau dari kardus, saya sudah membuat 25 tokoh,” kata Yatno.

Melalui pergulatan dengan wayang suket, ia mengenyam ilmu kehidupan Jawa. Salah satunya ”Lakuning Urip” (Perjalanan Hidup). Selama menjalani hidup, manusia harus eling (ingat), waspada, tuhu (mencintai sesama), utama (mengutamakan kejujuran), dan narima ing pandum (menerima kenyataan).

Gerak budaya

Pada 2009, Yatno pensiun sebagai PNS. Ia kemudian menjadi tutor membuat wayang suket dan kardus di sejumlah sekolah dan saat Museum Wayang menggelar program edukasi. Ia juga didatangi sejumlah penjual mainan yang memborong wayang suket dan kardus buatannya seharga Rp 12.000-Rp 30.000 per wayang.

”Melalui para pedagang mainan itu, gerakan budaya mempromosikan dan menguri-uri wayang terus dilakukan. Dengan bahan baku wayang suket dan kardus, anak-anak banyak yang tertarik,” kata Yatno.

Pergerakan Yatno tak berhenti pada pengenalan wayang untuk generasi muda. Sewaktu tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan, pada 1981, ia mengajak orang-orang Jawa yang merantau ke Jakarta melestarikan karawitan. Tujuannya, membangun kelompok penabuh gamelan pengiring wayang.

Dengan berpatungan, Yatno dan sejumlah tetangganya bisa membeli gamelan dan membayar guru karawitan. Sekali seminggu mereka berlatih. Dari sini lalu terbentuk Sanggar Langen Gito. Di sanggar inilah wayang kulit kerap dimainkan.

Sanggar itu terus berkembang dan memunculkan Paguyuban Laras Moyo yang melayani uyon-uyon mantenan (pengiring upacara pernikahan adat Jateng dan DI Yogyakarta). Ada pula kelompok campursari Madyaratri yang anggotanya para tukang bakso dan mi ayam serta pemilik warung makan.

”Kelompok-kelompok itu suka tampil di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Saya juga mengajak mereka mementaskan lakon wayang suket buatan saya,” kata Yatno bersemangat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s