KHS Arjuna Catur


Kisah Arjuna kembar empat yang dibawakan oleh Ki Hadi Sugito ini adalah sumbangan dari Mas Bayu dan Mas Suhadin Purwidayat dari Purworejo.

Sebenarnya sudah minggu lalu dikirim via 4shared, namun karena file aslinyamasih mono dan dipritil-pritili kecil-kecil sehingga memerlukan proses lebih lanjut agar layak dibagikan kepada sutresna wayang prabu.

Matur nuwun atas sumbangan lakon ini.

Selamat Menikmati

Permadi Boyong, Crita Carangan Klasik


Berikut saya sampaikan sedikit ulasan dari MasPatikrajaDewaku tentang lakon “Permadi Boyong” oleh Ki Nartosabdho yang telah diunggah sebelumnya Disini

________________________

By MasPatikrajaDewaku

Permadi Boyong, klebu crita carang dinapur, tegese crita kang kagubah dening empu pewayangan Jawa, kang njangkepi crita Mahabarata asli India.

Critane “standar”, sakmadya, Permadi lang Lara Ireng wis selapan dina anggone mentas angayahi pahargyan temanten. Ing kene godha wis mulai miwiti ngreridhu pahargyan pangundhuhan penganten ing negara Amarta.

Pagelaran kang dianakake ing tlatah Slawi, binuka dening Talu. Tumrap para sutresnane Wayang Prabu kang remen lan suasana pagelaran jangkep, mesthi priksa, yen talu kuwi bagian kang kaya dene intro ing sawijining lagu tumrap musik barat. Ing swasana talu kuwi, biyasane dadi pangantu antu tumprap para pamriksa. Dadi tanda yen Ki Dhalang njangkah munggah ing panggung.

Yen biyasane ing undhuhan liyane, talu disirahi karawitan pathet sanga ayak ayak, palaran lan tiba ing talu, njupuk wektu setengah jam. Ing jaman mbiyen ngisi penuh setengah isi kaset.

Nanging ing lakon iki murni talu, saka buka kendhang langsung talu, wektune amung kurang saka 3 menit. Cekak Aos !

Jejeran sepisan, Kraton Mandura uga dibukak langsung dhodhogan ayak ayak, lan pungkasaning jejeran janturan, seseg terus sulukan pathet nem ageng.

Lha ing kene iki, arang arang cakepan kang gegayutan lan adegan jejeran kaya ing ngisor iki kapatrapake. Pas lan adegan jejerane.

Sang Baladewa Narpati,

Tuwin sang Nareswara Kresna,

Kalangkunging tresnanira,

Marang Dyah Banon Cinawi

Mangka pisah unggyanipun,

Mila tansah tanya warta

Wau Sri Narendra kalih mring sang retna Madubranta.

Dene ada-ada girisa cakepane lumrah ing meh saben jejeran sepisanan.

Rembug jejeran menggalihake bab panyuwune para kadang Pandawa lan Sri Kresna dhewe, ngemuti Prabu Baladewa kuwi kadang sepuh. Kayangapa-a kudu diaturi rawuh ing pahargyan ngundhuh mantu mau. Najan ing rasa Prabu Baladewa isih nduwe rasa isin amarga klakon bandayuda lawan Werkudara sabab mbelani adhi ipe Burisrawa. Nanging sepira-a sing njugarake palakramane Burisrawa lan Wara Subadra, merga Permadi lan para Pandhawa saguh ngana’ake pamundhutan saka Prabu Baladewa nalika semana, wujud:

  1. Kreta kencana kang rinakit kudha yaksa, kinusiran wanara seta kang bisa tata jalma.
  2. Pahargyan kaana’ake ing bale kencana karengga ing putri dhomas.
  3. Ngrawuhake tamu para dewa lan widadari.
  4. Abon aboning suralaya wujud kayu klepu Dewandaru, kembar mayang gedhang mas pupus cindhe.
  5. Tumuruning widadari kang nabuh gamelan Lokananta, lan
  6. Srah srahan Maesandanu cacah 140. kang nalika semana darbe sang Dhadhungawuk.

Continue reading Permadi Boyong, Crita Carangan Klasik

KTCM Begawan Ciptaning


1. Gunung Indralika:

Kyai Semar bersama anak-anaknya yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Yang dibicarakan punakawan atas sikap dan tabahnya serta keteguhan jiwa Begawan Ciptoning yang tak lain dan tak bukan adalah si Arjuna, dalam melaksanakan wangsit dari Hyang Agung agar bertapa di Goa Pamintaraga.Tak lama kemudian datanglah Begawan Anoman yang diiringi oleh Gatutkaca. Suasana menjadi riang gembira atas kedatangan Anoman. Setelah bertemu dalam keadaan selamat maka kedatangan Anoman memang disuruh oleh Pandawa untuk mencari Arjuna, maka Semarpun mengatakan bahwa Raden Arjuna sedang bertapa di Goa Pamintaraga dengan alih nama “Begawan Ciptoning”.
Anoman dan Gatotkaca merasa gembira dengan keterangan Kyai Semar, maka Anoman secepatnya memberitahu kepada Pandawa, namun sebelum berangkat ditempat itu situasinya berubah menjadi gaduh, karena datangnya patih Mamanggono beserta wadyabala raksasa. Patih dari negara Himahimantaka dan punggawanya mencari saudaranya tua yang bernama patih Mamangmurko yang kesiku oleh dewa berupa babi hutan yang akhirnya pergi dari Jamurdipa, memasuki kawasan gunung Indrakila. Karena silang pendapat dengan Anoman maka terjadilah perang. Perang antara patih Mamanggono belum selesai, ada sambungan cerita, yakni yang ada di Kayangan Suralaya.

2. Kayangan

Batara Indra dihadap 7 bidadari dan memrintahkan para bidadari membuyarkan tapa arjuna karena para Dewa telah kewalahan menghadapi Niwatakaca.

Usaha 7 bidadari gagal total, justru malah para bidadari yang jatuh cinta pada arjuna, bukannya arjuna yang badhar tapanya

3. Kayangan Suralaya:

Bathara Guru sedang miyos siniwoko, dihadapi Bathara Narada dan putra-putra dewa. Yang dibicaraakan Bathara Guru minta laporan atas kehendak Raja Himahimantaka yakni prabu Niwotokawoco, yang ingin mempersunting Bathari Supraba. Bathara Indra melaporkan bahwa Prabu Niwotokawoco mengutus patihnya yang bernama Patih Mamangmurko dan Patih Mamanggono. (Laporan Bathara Indra tadi digelar tersendiri yang kejadiannya sebagai berikut):

Betara Indra beserta dewa lainnya telah bertemu dengan patih mamangmurko dan punggawanya di lereng Gunung Jamurdipa, karena permintaan memboyong Bathari Supraba di tolak oleh Bathara Indra maka terjadilah perang, yang akhirnya Patih Mamangmurko dikutuk oleh dewa menjadi babi hutan Bathara Narada menyarankan walaupun hari ini utusan prabu Niwotokawoco sudah pergi dari gunung Jamurdipa, manun perlu mencari jago guna mengimbangi sekaligus menumpas Prabu Niwotokawoco. Kehendak Bathari Guru untuk mencari jago dilakukan sendiri dan yang dituju yaitu gunung Indrakila, karena Bathari Guru tahu di gua Pamintaraga ada pendeta yang sedang bertapa. Maka Bathara Guru berganti diri menjadi ksatriya dengan nama “Raden Kerotorupo”.

4. Gunung Indrakila:

Gareng, Petruk dan Bagong tidak berani mengganggu Semar yang sedang semedi membantu begawan Ciptoning yang juga terus bertapa. Namun juga tidak berani mendekat kepada Anoman dan gatotkaca yang sedang perang dengan Mamanggono dan wadyabala raksasa. Untuk menghibur diri Gareng, Petruk dan Bagong dengan cara tetembangan. Belum puas untuk mengalunkan tembang-tembangnya ditempat punakawan tersebut terpaksa menjadi ajang perang yang terus bergeser ke gua Pamintaraga. Perang terus berlanjut antara Anoman melawan Patih Mamanggono dan antara Gatotkaca melawan wadyabala raksasa.

5. Gua Pamintaraga:

Begawan Ciptaning beberapa bulan lamanya bertapa, namun terpaksa badhar dari semedinya, dikarnakan ada babi hutan yang mengamuk dan semakin mendekati tempat begawan Ciptaning bertapa. Begawan Ciptaning segera mengambil anak panah dan kemudian dilepaskannya tepat mengenai leher babi hutan, bersamaan dengan lepasnya anak panah milik raden Keratarupa yang juga menancap pada leher si babi hutan tersebut, yang tak lain babi hutan tersebut adalah jelmaan dari patih Mamangmurko. Begawan Ciptaning dan Raden Keratarupa berebut kebenaran atas anak panah yang mengenai babi hutan, maka akhirnya terjadi perang. Ciptaning badhar Arjuna, Raden Keratarupa badhar Betara guru sekaligus mengangkat Arjuna sebagai jago dewa, serta Betara Guru memberi pusaka kyai Pasopati, kemudian Arjuna diboyong ke kayangan. Kembali lagi melanjutkan Anoman yang sengaja menghabiskan tenaga patih Mamanggono, yang akhirnya tewas di tangan Anoman. Gatutkaca tidak gentar menghadapi bala raksasa dari Himahimantaka, maka satu demi satu bala raksasa tersebut akhirnya tewas. Tewasnya patih dan bala raksasa, kemudian datanglah kyai Semar mengatakan bahwa Raden Arjuna menjadi jagonya dewa untuk menumpas Prabu Niwotokawoca raja Himahimantaka. Anoman dan Gatutkaca segera pamit kepada para panakawan untuk segera memberitahu kepada para Pandawa. Setelah itu para panakawan bergegas untuk menyusul Arjuna ke Kayangan Suralaya.

6. Kayangan Suralaya

Bathara Guru dihadap oleh para Dewa, dan Raden Arjuna yang akan diwisuda untuk menjadi jago Dewa. Setelah persiapan selesai, Arjuna diwisuda menjadi jago Dewa untuk menumpas murkanya Prabu Niwotokawoco yang menentang kodrat, yakni ingin mempersunting Bathari Supraba. kemudian Arjuna berangkat ke Himohimantoko didampingi Bathari Supraba.

7. Kerajaan Himohimantoko

Prabu Niwotokawoco menerima kedatangan Togog dan Bilung yang melaporkan tewasnya Patih Mamangmurko dan Patih Mamanggono. sang Prabu sangat marah mendengar berita tersebut, namun belum sampai jumangkah, Abdi Emban menghadap, untuk menghaturkan bahwa Bathari Supraba berada di Kedaton. Bathari Supraba beberapa lama menanti kondur sang Prabu Niwotokawoco. Setelah yang dinanti-nantikan datang, kemudian Bathari Supraba mengatakan bahwa kedatangannya memang siap untuk dipersunting sang raja.Prabu Niwotokawoco sangat gembira mendengar keterangan dari Bathari Supraba sehingga secara tidak sadar, sang raja memberitahu segala hal yang ingin diketahui oleh Dewi Supraba. Sang raja juga memberi tahu letak kesaktiannya, termasuk Aji Gineng, sampai letak pengapesannya juga diberitahukan kepada Bathari Supraba. pada waktu itu juga, keterangan sang raja didengar oleh Arjuna yang juga berada di kedaton tersebut dengan menggunakan Aji Panglemunan, yang akhirnya terjadilah perang antara Arjuna melawan Prabu Niwatakawaca.

8. Kerajaan Himahimantaka:

Arjuna tidak berdaya melawan kekuatan Prabu Niwatakawaca. Namun pada waktu Arjuna telah dijangkahkan oleh Prabu Niwatakawaca yang sedang tertawa terbahak-bahak, Arjuna melihat sinar yang berada di telak sang raja, yang merupakan sinar dari Aji Gineng. Kemudian dengan gerak yang sangat cepat, Arjuna melepaskan Pasopati tepat mengenai telak Prabu Niwatakawaca, yang membuat sang raja tewas. Para Punggawa yang tidak menerima kematian raja mereka bisa ditumpas oleh Raden Bima yang juga sudah berada di Himahimantaka.
Bathara Indra menjemput sang Arjuna untuk menghadapi Sang Hyang Giripati untuk diwisuda menjadi “Lananging Jagat Lancuring Madyapada”.

9. Kayangan Suralaya.

Batara Indra dihadap para dewa, bidadari dan arjuna. Disini Arjuna diwisudha menjari raja kaendran selama 7 hari (dunia) = 7 bulan di kayangan dan boleh memilih 40 bidadari sebagai istrinya

Tancep Kayon

Arjuna Wiwaha (Mintaraga) by KTCM

 

Update Terakhir : 03042014

http://www.4shared.com/folder/-U9yopxK/027.html

KTCM Kalima Husada


Watak Darmokusumo

Prabu Darmokusumo itu ya Puntaweda, Puntadewa itu berdara putih atau ludiro seta, darah putih disini melambangkan keikhlasan dan kesabaran tanpa batas, kalau di sejarah islam mirip2 Abu Bakar Ash-shidiq, kalau dibanding-bandingkan dengan Umar bin Khatab yg pemberani dan tegas maka ibarat semua kebaikan Umar maka hanya bernilai satu bagi kebaikan Abu Bakar. Nah kembali ke Puntadewa, saking ikhlasnya dia maka walaupun istrinya yaitu Drupadi diminta pun dikasihkan ke yg meminta, Puntadewa itu juga tidak pernah marah karena sangat sabar, tapi apabila dia kesabarannya sudah habis dan marah maka akan bertiwikrama menjadi raksasa putih yg sangat besar bernama dewa Amral yg membuat seisi kahyangan menjadi ketakutan, bahkan kebesaran wayang Dewa Amral itu lebih besar dari tiwikramanya dewa Wisnu.

Darmokusumo atau Puntadewa itu satu2nya prabu /raja tanpa mahkota, dia memakai udheng yg melambangkan sudah paham akan arti kehidupan yg didalamnya terdapat layang atau jimat Kalimasada, kalimasada itu berarti kalima husada atau kalimat penyembuh yg menyimbolkan wejangan2nya tentang kehidupan akan menyembuhkan segala penyakit hati. Kalimasada juga berarti kalimat syahadat, syahadat disini bukan syahadat ikut2an supaya dikira sudah masuk islam tapi merupakan syahadat total yaitu sudah menjadi saksi sepenuhnya atas keesaan Allah dan kesaksian itu dimulai dari “laa ilaaha illa huwa”.

  • Pemimpin harus mempunyai watak ihlas dan sabar tanpa batas,
  • pemimpin harus bisa menyadarkan kesesatan dari rakyat dengan memakai kalimat2 penyembuh,
  • pemimpin harus bisa paham apa tujuannya dia memimpin dan tujuannya dia hidup yaitu, dari dan menuju Allah,
  • syahadat pemimpin itu harus total bukan ikut2an maka pemimpin itu sudah menjadi saksi atas keesaan Tuhan sehingga keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu benar2 yakin, bukan keyakinan yg diyakin yakinkan tapi sebenarnya tidak yakin.

Baca selengkapnya di sini

Nikmati Pagelaran wayang berjudul KALIMA HUSADA bersama KTCM

 

Update Terakhir : 03042014

 

http://www.4shared.com/folder/F-QjIAtz/084.html

KTCM Bedah Lokapala


Termasuk lakon pakem, lakon ini menceritakan keangkaramurkaan Prabu Rahwana raja Alengka, yang membuat prihatin Prabu Danaraja, raja Lokapala. Karena itu Danapati mengutus Gohmuka untuk mengantarkan surat peringatan sekaligus nasehat kepada Rahwana.

Rahwana membaca surat Danapati sangat murka, Gohmuka dibunuhnya; kemudian segera menyusun kekuatan menyerang Lokapala.

Peperangan antara pasukan Alengka dan Lokapala pun terjadi. Rahwana bertanding dengan Danapati, keduanya sama-sama sakti. Namun, peperangan belum selesai, dewa telah menjemput kematian Danapati, untuk dinobatkan sebagai pelengkap caturlokapala (keempat dewa penguasa dunia). Karena itu Rahwana gugat kepada dewa, minta agar Danapati dihidupkan kembali. Batara Guru tidak mengabulkan, sebagai pengganti Rahwana dianugerahi umur panjang.

Ketika Rahwana kembali dari kahyangan, ia bertemu dengan Widawati. Rahwana jatuh cinta, namun ditolak, bahkan Widawati bunuh diri ke dalam api, sehingga Rahwana mabuk asmara.

http://wayang.wordpress.com/2006/10/24/bedah-lokapala/

Lakon Bedah Lokapala oleh KTCM

 

Update Terakhir : 03042014

 

http://www.4shared.com/folder/tmhHMrzk/090.html

KTCM Prabu Watu Gunung


Prabu Watugunung seorang raja di Gilingwesi. Menurut riwayatnya, ia seorang putera, raja Prabu Palindriya, tetapi waktu ia masih dalam kandungan, ibunya, yang bernama Dewi Sinta, meninggalkan istana karena dimadu dengan saudaranya sendiri. Dalam perjalanan di tengah rimba, Dewi Sinta bersalin seorang anak laki-laki dan diberi nama Raden Wudug. Suatu kali waktu Raden Wudug masih kanak-kanak ia dimarahi oleh ibunya dan kepalanya dipukulnya dengan centong hingga luka. Karena itu Raden Wudug meninggalkan ibunya dan berganti nama Radite.

Kemudian Raden Radite berhasil menyadi raja di Gilingwesi, karena kesaktiannya, dan bergelar Prabu Watugunung dan berpermaisuri dengan seorang puteri yang sangat dicintainya, tetapi permaisuri itu sebenarnya ialah ibunya sendiri, dan tiada diketahui keduanya. Rahasia itu akhirnya diketahui oleh permaisuri sebab melihat cacat Prabu Watugunung di kepalanya waktu sedang berkutu-kutuan, dan Prabu Watugunung menerangkan apa penyebabnya. Untuk menghindarkan kekejian itu Dewi Sinta meminta supaya Prabu Watugunung seorang bidadari untuk djadikan madunya. Prabu Watugunung meluluskan permintaan itu dan ia menuju ke Suralaya (kerajaan Dewa-Dewa) guna mencari bidadari untuk jadi permaisurinya itu. Maka terjadilah perang dan Prabu Watugunung binasa dalam peperangan itu. Memang inilah yang diharap oleh Dewi Sinta.

BENTUK WAYANG

Prabu Watugunung bermata jaitan, hidung mancung. Bermahkota kerajaan, berjamang tiga susun dengan garuda membelakang, berpraba (pakaian serupa sayap), dikenakan pada bahu kanan dan kiri. Umumnya praba ini hanya untuk pakaian raja-raja dan kesatria. besar. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bentuk kerajaan.

K e t e r a n g a n

Watugunung juga nama seorang wuku, wuku itu berarti perhitungan hari bulan, pada tiap-tiap bagian menerangkan hal maksud hari kelahiran orang dengan ramalan penghidupan orang yang mempunyai waktu itu.
Dipandang sepintas lalu, hal ini sebagai ramalan takhyul, tetapi kalau ditilik benar-benar hal ini mengenai juga pada perhitungan waktu keadaan di bumi, misalnya hal hujan, tanda-tanda perhitungan masa yang cocok, bukanlah takhyul. Jalan perhitungan waktu berturut-turut, bersambung-sambung pada tiap-tiap hari Minggu.

Menurut riwayat wuku-wuku itu nama 30 orang. Pada tiap orang itu diambil oleh seorang Dewa dianggap sebagai puteranya. Tiap-tiap wuku diambil oleh seorang Dewa dianggap sebagai puteranya. Tiap-tiap, wuku berdewa sendiri, dan perhitungan wuku itu berganti pada tiap-tiap hari Minggu.

Adapun nama wuku itu: 1) Sinta, 2) Landep, 3) Wukir, 4) Kurantil, 5) Tolu, 6) Gumbreg, 7) Warigalit, 8) Warigagung, 9) Julungwangi, 10) Sungsang, 11) Galungan, 12) Kuningan, 13) Langkir, 14) Mandasiya, 15) Julungpujut, 16) Pahang, 17) Mrakeh, 18) Wugu, 19) Tambir, 20) Madangkungan, 21) Maktal, 22) Wuje, 23) Manahil, 24) Prangbakat, 25) Bala, 26) Wugu, 27) Wayang, 28) Kulawu, 29) Dukut, 30) Watugunung.

Dewa-dewa 30 wuku itu:1) Yamadipati, 2) Mahadewa, 3) Mahayekti, 4) Langsur, 5)Bayu, 6) Cakra, 7) Asmara, 8) Mahayekti, 9) Sambu. 10) Gana, 11) Kamajaya. 12) Indra, 13) Barawa = Kala, 14) Brama, 15) Guritna, 16) Tantra, 17) Wisnu, 18) Surenggana, 19) Siwah, 20) Basuki, 21) Sakri, 22) Kuwera, 23) Citragotra, 24) Resi Wara Bisma, 25) Betari Durga, 26) Singajalma, 27) Betari Sri, 28) Betara Sadana, 29) Sakri, 30) Sang Hyang Antaboga dan Dewi Nagagini.

Untuk mengingat nama satu-satu wuku itu ada hafalan dalam bahasa Jawa dengan lagu dandanggula, sebagai berikut.

Sinta Landep ,ukir Ian Kurantil, Tolu Guinbreg, Warigalit lawan, Warigagung. Julungwange (perubahan dari kata wangi), Sungsang Galunganipun, ku (wuku) Kuningan Langkir Mandasih (asal dari Mandasiya), Julungpujut myang Pahang, Mrakeh Wuku Tambur (asal dari kata Tambir), Madangkungan wuku Wujwa (asal dari Wuje), Manahil Prangbakat Bala Wugu Binggit (Wayang), Klawu (Kulawu) Dukut Selarga (Watugunung)..

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

http://wayangku.wordpress.com/2008/11/05/prabu-watugunung/

Berikut lakon Prabu Watu Gunung bersama KTCM

 

Update Terakhir : 03042014

http://www.4shared.com/folder/bDLOkjBd/072.html

KTCM Banjaran (12 Lakon)


Berikut masih bersama Ki Timbul Cermo Manggolo. Dari Radio Swara Kenanga Jogja kami sampaikan cerita Banjaran

Update Terakhir : 03042014

Banjaran Abimanyu


Banjaran Arjuna

Banjaran Bimo Seno

Banjaran Carios Hanoman

Banjaran Carios Gatotkaca

Banjaran Duryudono

Banjaran Karno

Banjaran Kumbokarno

Banjaran Pandita Durna

Banjaran Baladewa

Banjaran Sengkuni

Banjaran Rahwana

dasamuka