“Kontribusi” Kresna atas kemenangan Pandawa


Sungguh malang nasib Pandawa dan Drupadi. Mereka harus menjalani masa pembuangan 12 tahun dan masa penyamaran 1 tahun. Semua adalah akibat kalah dalam main dadu (lakon Pandawa Dadu). Permainan dadu terjadi atas ulah licik Sengkuni dan Duryudana yang memanfaatkan “kelemahan” Yudistira yang pantang menampik undangan dan membuat kecewa kawan atau saudara. Namun semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur.

Saat Kresna kemudian berkunjung di hutan tempat pembuangan menemui Pandawa dan mencerna cerita serta tangisan Drupadi yang dipermalukan dan berusaha ditelanjangi di muka umum oleh Kurawa, maka dengan keras Kresna mengutuk perilaku para Kurawa dan bersumpah di perang Bharatayuda nanti dia akan berfihak kepada Pandawa dan membantunya dengan segenap kemampuannya.

Dan janji itu dipenuhi oleh Kresna saat perang Bharatayuda berlangsung. Kontribusi Kresna sangat besar dalam ikut membantu menyingkirkan Durna (lakon Durna Gugur), menghindakan Arjuna dari termakan sumpahnya sendiri saat menyaksikan anaknya Abimanyu gugur (Jayadrata gugur), pada saat Arjuna melawan Karna (Karna tanding), ketika Bima kewalahan untuk menaklukan Duryudana (Duryudana gugur).

Kontribusi macam apa yang diberikan oleh Kresna kepada Pandawa sehingga kemudian memperoleh kemenangan yang gemilang ?

http://singaraja.files.wordpress.com/2008/03/bg-krishna-instructs-arjuna.jpg

Jawaban Pak Baskara

A. Kontribusi Kresna membantu Pandawa hingga menang perang Bharatayudha:

1. Dalam lakon Durna gugur.

Ketika Durna maju sebagai panglima perang Kurawa, kesaktiannya tidak tertandingi oleh pihak Pandawa. Kelemahan Durna adalah kasih sayangnya kepada anaknya, Aswatama. Sebelum maju perang, dia berpesan supaya Aswatama tidak ikut terjun ke medan laga.
Mengetahui kelemahan ini, Prabu Kresna menyuruh Pandawa membunuh seekor gajah yang bernama Swatomo, kemudian balatentara Pandawa diminta bersorak-sorai: “Swatomo mati, swatomo gugur, swatomo gugur.”

Mendengar gegap-gempita itu, Durna keder hatinya, hilang semangatnya. Pendengarannya sudah agak berkurang, sehingga dikiranya yang mati anaknya. Tapi dia belum percaya sepenuhnya, hingga dia bertanya kepada seseorang yang tidak pernah bohong. Dia bertanya kepada muridnya yang dipercaya: “Yudistira muridku, kau tidak akan berbohong kepadaku. Benarkah Aswatama telah mati?”.

Yudistira, yang sesunggguhnya telah dibujuk Kresna agar sedikit berbohong, menjawab:”Ya guru, aku tidak membohongimu. Yang mati adalah “esti” Swatomo”. (Yudistira tidak mau berbohong).

Dalam pemahaman Durna, dia percaya, karena dia mendengar “Esti” sebagai “estu”, bahasa Jawa yang berarti “benar”. Sedangkan maksud Yudistira, “esti” maknanya “gajah”.

Runtuhlah semangat Durna, sehingga dia tidak ingin hidup lagi, dan memilih mati di medan laga, gugur sebagai ksatria. Akhirnya Durna yang sakti itu gugur di tangan Destrajumena.

(ada versi yang menceritakan bahwa Destrajumena menikam Durna dari belakang, sehingga berhasil menewaskannya).

2. Saat mendengar bahwa Abimanyu telah gugur dengan cara diranjap (dijebak Kurawa kemudian dikeroyok beramai-ramai), hancurlah hati Arjuna. Yang melancarkan serangan mematikan Abimayu adalah Jayadrata (sering disebut juga Jayajatra). Arjuna bersumpah, bahwa sebelum matahari terbenam, dia akan membunuh Jayadrata. Jika matahari terbenam dan Arjuna tidak berhasil membunuh Jayadrata, Arjuna akan bunuh diri.

Mendengar sumpah Arjuna, Kurawa menyembunyikan Jayadrata dan melindunginya dengan penjagaan berlapis-lapis. Arjuna berada di tengah gelanggang, mencoba mencari Jayadrata, tetapi tidak berhasil menemuinya, hingga matahari condong ke barat. Kurawa sudah bergembira, karena yakin tak lama lagi matahari terbenam, Arjuna bakal bunuh diri. Kresna turun tangan: dia gunakan senjata Cakra menghalangi matahari, sehingga sinarnya terhalang. Suasana mencekam, bagaikan sudah mendekati senjahari. Pelan-pelan terlihat seakan-akan matahari telah terbenam, Arjuna berdiri di gelanggang, matanya sayu, tangannya tetap memegang busur dan anak panah.

Kurawa bersorak -sorai, menunggu Arjuna melaksanakan sumpahnya, bunuh diri.

Jayadrata, yang pandangannya terhalang karena dilindungi pasukan Kurawa berlapis-lapis, ingin tahu juga bagaimana Arjuna bunuh diri. Dia melompat-lompat, ingin melihat ke tengah gelanggang. Saat itu lah, sebenarnya Arjuna masih waspada. Dilihatnya di kejauhan, kepala Jayadrata timbul tenggelam, di balik pasukan Kurawa. Ditunggunya saat yang baik. Tepat ketika kepala Jayadrata muncul lagi, walau sekilas, melesatlah panah Pasopati milik Arjuna, telak mengenai leher Jayadrata. Putuslah lehernya, dan kepala Jayadrata terlempar jauh, hingga jatuh ke depan bapak angkatnya, Begawan Sempani.

Pelahan-lahan Kresna menarik senjata Cakranya, dan matahari bersinar kembali. Hari sudah sore, tetapi matahari belum tenggelam.
Arjuna tidak jadi bunuh diri.

3. Kala Arjuna harus maju melawan Karna, sempat gundah hatinya, melemah semangat bertempurnya. Saat itu sudah banyak jatuh korban, termasuk Abimanyu, Gatotkaca, Bisma, Seto, dan lain-lain. Sempat hilang kemauannya berperang, untuk apa dia harus membunuh saudara sekandungnya, hanya untuk kenikmatan duniawi berupa kerajaan Hastina? Lebih pentingkah harta benda daripada nyawa saudara-saudara, guru, sahabat?

Melihat itu, Kresna mengajak Arjuna berbincang-bincang. Percakapan Arjuna-Kresna ini kemudian tercatat sebagai “Bhagavad Gita”. Intinya adalah, Arjuna berperang menjalankan perannya sebagai ksatria, dan berdharma membasmi kejahatan. Bangkitlah semangat Arjuna, sehingga majulah dia ke medan laga dengan semangat baru, mengendarai kereta yang disaisi Kresna. Berkat kepiawaian Kresna mengendarai kereta, Arjuna selalu luput dari panah Karna. Akhirnya Arjuna menang.

4. Pada hari terakhir Bharatayudha, habislah ksatria Kurawa, tinggal Duryudana seorang. Majulah dia, dan diberi kelonggaran memilih lawannya. Duryudana memilih Bima. Bertandinglah mereka, menggunakan gada. Mengapa Duryudana memilih Bima? Karena, dalam perang tanding itu, disepakati aturan yang memang berlaku pada jaman itu, bahwa untuk pertandingan menggunakan senjata gada, dilarang menyerang bagian tubuh di bawah pusar. Duryudana punya kesaktian kekebalan tubuh, tidak mempan senjata, kecuali pahanya.

Pertandingan itu disaksikan orang banyak, termasuk Prabu Baladewa. (dalam versi lain, Baladewa usai bertapa ketika Bharatayuda telah selesai, ada pula versi yang mengkisahkan Baladewa menyaksikan hari terakhir saja). Bima lupa kelemahan Duryudana ini, sehingga setelah bertempur sekian lama, belum berhasil mengalhkan Duryudana. Kresna menyuruh Arjuna berdiri di arah pandangan mata Bima. Kresna tahu gaya bertanding Duryudana, yang sering menyerang sambil melompat tinggi.

Pada saat yang tepat, Kresna memberi isyarat agar Arjuna memperagakan gerakan memukul pinggang. Melihat itu, Bima melancarkan pukulan kearah pinggang Duryudana. Saat itulah, Duryudana sedang melompat, maka terpukullah pahanya, titik lemahnya. Itu lah awal kekalahan Duryudana di tangan Bima.

Melihat Duryudana terpukul pahanya, marahlah Baladewa. Dia menganggap Bima melanggar peraturan perang tanding gada. Tapi kemudian Kresna menjelaskan, bahwa Bima tidak sengaja memukul paha, yang diserang pinggang. Kebetulan Duryudana melompat, hingga kena pahanya. Mendengar penjelasan itu, redalah amarah Baladewa.

Catatan:

Selain 4 hal di atas, masih banyak lagi siasat Kresna membantu Pandawa. Antara lain, membantu Setyaki membunuh Burisrawa, membujuk Yudistira melawan Salya.

B. Nilai dan teladan yang terkandung.

1. Nilai terbesar yang terkandung dalam peran Kresna dalam Bharatayudha, adalah Bagavad Gita, percakapannya dengan Arjuna menjelang bertanding melawan Karna. Versi lengkap Bhagavad Gita bisa berupa buku yang sangat tebal. Inti ajaran Hindu tercakup dalam Kitab Bhagavad Gita ini. Waktu saya mendengarkan versinya berupa percakapan Kresna-Arjuna dalam lakon Karna Tanding, hanya berdurasi kurang dari 10 menit.

Interpretasi Bhagavad Gita juga bervariasi, tergantung pada tingkat pemahaman yang membacanya. Saya sendiri, kali pertama membacanya, kemudian membaca ulang, juga mendapatkan pemahaman baru. Pengertian kasta dalam ajaran Hindu juga bersumber dari Bhagavad Gita ini. tetapi interpretasinya bisa berbeda. Bhagavad Gita dengan bermacam versinya (dan bahasa), bisa diunduh dengan gratis di internet.

2. Yudistira terpaksa (sedikit) berbohong kala ditanya Dorna mengenai kematian Aswatama. Konon, ada versi yang menceritakan bahwa begitu Yudistira mengucapkan bohong ini, keretanya yang semula melayang 20 cm di atas tanah, langsung mendarat ke bumi, sebagaimana layaknya kereta-kereta yang lain. Suatu pertanda, bahwa Yudistira pun manusia biasa, yang bisa berbuat salah.

Makna: Bahkan terkadang karena situasi memaksa, tokoh sekaliber Kresna pun terpaksa menggunakan siasat ini, yaitu mempedayai lawan. Sesuai peribahasa: “Tiada gading yang tak retak”, akhirnya Yudistira pun pernah berbohong juga (walau pun sedikit).
Sesungguhnya, Dorna gugur juga akibat karmanya kepada Ekalaya di masa lalu. Sukma Ekalaya “manjing” ke dalam diri Drestajumena waktu membunuh Dorna.

3. Dalam pertempuran Bima lawan Duryudana pun, terpaksa Kresna melakukan siasat, membantu Bima dengan tidak kentara. Itu pun karena Duryudana memanfaatkan peraturan dalam adu gada yang biasa berlaku pada jaman itu, demi keuntungannya.

Teladan: Siasat harus dilawan dengan siasat, asal masih dalam jalur aturan (atau kesepakatan bersama) yang berlaku. Dalam jaman modern ini, aturan atau kesepakatan bersama itu lazim disebut Undang-undang, yaitu aturan yang tertulis. Kita harus ingat bahwa selain hukum tertulis, ada juga hukum tak tertulis.

4. Dalam upaya melindungi Arjuna dari akibat sumpahnya sendiri, Kresna pun melakukan “tipuan”, seolah-olah hari telah senja, pada hal matahari belum terbenam. Kresna melakukan itu pun, karena dipicu oleh kecurangan Kurawa sebelumnya, yaitu menjebak Abimanyu hingga terpisah dari pasukannya, kemudian mengeroknya beramai-ramai. Walau pun sesungguhnya ini pun tak lepas dari karma Abimanyu di masa lalu, ketika mengucap sumpah kepada calon isteri yang kedua, bahwa dia belum beristri, dann bila dia bohong, kelak akan mati dengan luka “arang-kranjang”.

Jawaban Pak Widji

1. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Resi Bismo,

Pada awal Resi Bismo maju ke medan perang, tidak satupun senopati Pandowo yang bisa mengalahkan Resi Bismo, bahkan makan korban Senopati gugur pihak pandowo banyak sekali seperti Senopati dari Wiroto (Seto, Wratsongko, Utoro) dan beberapa anak Arjuna. Kemudian Kresno datang ke medan perang dan akan membunuh Resi Bismo dengan Senjata Cakra Pamungkasnya, kemudian Resi Bismo mengendor dalam berperang dan menyembah Prabu Kresno sebagai penjemaan Batara Wisnu yang akan memberikan kebahagiaan, kemudian Resi Bismo meminta dan siap gugur tapi harus dengan Senopati Pandowo wanita. Kemudian Srikandi diangkat menjadi Senopati perang. Karena Bismo sudah tahu bahwa mendiang istrinya yaitu dewi Ambo telah menitis ke tubuh Srikandi, sehingga resi Bismo menurunkan senjatanya dan pasrah siap gugur melawan Srikandi, kemudian Srikandi melepas panah saktinya dan mengenai dada resi Bismo dan akhirnya gugur dimedan perang. (Bisa didengarkan pada cerita Kresno Duto).

2. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Jayajatra

Setelah Abimanyu gugur dan Arjuna mendengar kabar bahwa yang membunuh anaknya adalah Jayajatra, sehingga didepan Prabu Kresno, Arjuna bersumpah akan mati bunuh diri dalam bara api, bila hingga sore nanti ia tidak bisa membunuh Jayajatra. Begawan Sempani (Orang tua Jayajatra) mendengar dan langsung menyembunyikan Jayajatra dalam Gedung Baja dan menasehatinya agar diam didalam gedung dan jangan mendengarkan apapun suara dari luar gedung dan jangan melihat apapun yang berada diluar gedung, kemudian Begawan Sempani juga menciptakan Jayajatra 1000 yang sama. Dalam hal ini Arjuna bingung, yang mana sebetulnya Jayajatra yang asli. Prabu Kresno kemudian memberi nasehat pada Arjuna, bahwa Jayajatra yang asli sedang disembunyikan dalam gedung baja, dan yang diluar semua tidak asli dan kemudian menyuruh Arjuna agar mementang panah Kyai Gandewo yang dapat mendatangkan panah narocobolo yang jumlahnya ribuan untuk melenyapkan Jayajatra palsu ciptaan Begawan Sempani. Kemudian semua Jayajatra palsu dapat dilenyapkan secara bersamaan. Setelah itu Prabu Kresno memberi tahu Arjuna bahwa matahari akan ditutup dengan senjata cakra agar suasananya menjadi remang-remang seperti menjelang malam, dan Arjuna harus selalu waspada pada jendela gedung baja yang ditempati Jayajatra dan harus siap mementang panah Kyai Pasopati. Setelah matahari ditutup dengan senjata cakra dan nampak suasana telah remang-remang seperti menjelang malam, prabu kresno kemudian menyuruh prajurit pandowo untuk berteriak bahwa Arjuna akan PATI OBONG (Bunuh diri dengan membakarkan badannya pada bara api). Berita tersebut sudah tersiar pada para Kurawa termasuk Durna, Duryudana, dan Jayajatra dalam gedung. Semua prajurit Pandowo dan Kurawa menonton bara api yang rencana untuk bunuh diri Arjuna. Yang menonton termasuk Durno dan Duryudono. Ketika Prabu Kresno melihat bahwa Jayajatra telah berani mengintip lewat jendela gedung baja yang mana leher keatas kelihatan dan leher kebawah tidak nampak, kemudian Prabu Kresno memberi Sasmito kepada Arjuna, bahwa Jayajatra lehernya sudah kelihatan dan dia akan mengambil senjata cakranya dilangit. Setelah senjata cakra diambil, ternyata masih jam 2 siang dan dengan sigap Arjuna mementang langkap dan anak panahnya mengenai leher Jayajatra putus jatuh diluar gedung dan kemudian bersorak gembira para prajurit Pandowo. Kepala Jayajatra kemudian dilempar kepangkuan Begawan Sempani yang sedang semedi oleh Prabu Kresno, dan alangkah kagetnya bahwa anaknya tinggal kepala saja, kemudian ia tetap bersemedi agar anaknya tetap hidup dan diberi senjata kemudian siap mengamuk dimedan perang yang dapat membunuh para anak Arjuna, sehingga tidak satupun anak Arjuna tersisa. Prabu Kresna kemudian mendatangi Begawan Sempani, dan menggoda dalam semedinya agar bicara anaknya mati bukan hidup. Pada waktu Begawan Sempani mengucapkan bahwa anaknya mati, Prabu Kresno meninggalkan Begawan Sempani dan menyuruh Bima untuk menggunakan Gada Rujak Polo untuk menghancurkan kepala Jaya jatra, akhirnya Jayajatra Gugur.

3. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Begawan Sempani.

Setelah Jayajatra gugur, begawan Sempani mengamuk dan banyak prajurit Pandowo yang gugur, akhirnya Prabu Kresno memanggil Arjuna, bahwa Begawan Semapani tidak bisa dibunuh dengan senjata, melainkan begawan Sempani akan meninggal dengan sendirinya bila ia kedinginan, kemudian menyuruh Arjuna untuk memuja hujan, setelah hujan lebat datang Begawan Sempani kedinginan dan akhirnya tidak bisa bernafas dan gugur dimedan perang.

4. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Burisrawa

Pada waktu Burisrawa perang tanding melawan Setyaki, Setyaki sudah tidak bisa bergerak karena ditindih oleh Burisrawa. Setelah Prabu Kresno melihat, lalu memanggil Arjuna dan bertanya apakah masih ingat cara-cara memanah setelah beberapa lama bingung memikirkan Abimanyu yang telah gugur. Akhirnya Prabu Kresno mengetes agar Arjuna bisa memanah rambut yang mana sebelumnya telah diluruskan ke bahu kanan Burisrawa. Setelah panah dilepas dan mengenai rambut kemudian mengenai bahu kanan Burisrawa sampai putus, dan akhirnya Burisrawa lemah dalam memiting Setyaki dan Setyaki terlepas dari pitingannya Burisrawa kemudian leher Burisrawa dilempar lembing sampai putus dan gugur dimedan perang.

5. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Pandita Durno.

Setelah Durno maju menjadi Senopati, Prabu Drupodo gugur dan banyak prajurit Pandowo yang gugur. Prabu Kresno menyuruh Bima untuk membunuh bantuan Kurawa yaitu Prabu Sumarmo, Kartipeyo , Satu permeo, gajah Estitomo, dan seluruh pasukannya . Pada malam hari Bima dapat menghancurkan pakuwon yang ditempati Sumarmo, Kartipeyo, Satu permeo, gajah Estitomo, dan para pasukannya dengan gada rujak polo, sehingga semuanya gugur. Setelah itu Prabu Kresno menyuruh prajurit pandowo untuk berbohong bahwa Aswotomo yang gugur dan bukan Estitomo. Karena ada berita bahwa Aswotomo gugur, sehingga Pandito Durno gusar dalam berperang dan menurunkan semua senjata untuk minta keterangan yang pasti, tapi semuanya bilang bahwa Aswotomo berada di pakuwon Sumarmo, dan sekarang pakuwonnya hancur. Prabu Kresno berharap bahwa Prabu Puntodewo mau berbohong, bahwa yang gugur Aswotomo dan bukan Estitomo, tapi Prabu Puntodewo tidak mau dan akhirnya mau bila menyebut Esti pelan sekali dan Tomo nya yang keras. Pada waktu Pandito Durno menemui Prabu Puntodewo dan mendapat jawaban bahwa yang meninggal adalah Esti (pelan) dan Tomo (keras). Akibat pendengarannya kurang baik, sehingga mengganggap bahwa Aswotomo yang gugur. Karena Pandito Durno tambah sedih & gusar dan hanya tiduran di semak-semak dan tidak mau perang, akhirnya datang Drestojumeno (Anak Prabu Drupodo) yang telah kemasukan roh Prabu Palgunadi dan memotong leher pandito Durno putus dan kemudian dijadikan tendang-tendangan para prajurit pandowo. Prabu Palgunadi adalah raja yang telah dibunuh oleh pandito Durno secara kejam.

6. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Dursosono

Pada waktu Dursosono perang tanding melawan Bima, Dursosono mengajak perang kejar-kejaran dan melompat kali Cingcing goling, Prabu Kresno melihat dan menasehati Bima agar tidak melompat kali cingcing goling, karena sudah menjadi prasasti siapa yang melompat kali tsb akan sial dan kalah dalam perang. Setelah ledek-ledekan antara Dursosono dan Bima, ketika Dursosono hendak melompat kembali pada kali tsb, kakinya di jegal oleh roh karto dan temannya yang mana telah dibunuh Dursosono untuk tumbal sebelum perang baratayuda terjadi. Ketika Dursosono jatuh, rambutnya langsung ditarik oleh Bima dan diseret badannya jauh dari kali, kemudian datanglah Duryudono, Sengkuni dan sebagian Kurawa untuk memintakan maaf supaya Dursosono dilepas, tapi Prabu Kresno mengingatkan kejadian yang lalu tentang Drupadi yang dijamah rambutnya oleh Dursosono. Akhirnya Bima menusuk dada Dursosono dengan Kuku Ponconoko untuk diminum darahnya dan gugurlah Dursosono dimedan perang, kemudian disempal-sempal seluruh anggota badannya .

7. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Prabu Karno

Sebelum perang tanding antara Prabu Karno dan Arjuna, ada ular naga jadi-jadian yang berasal dari Raja Raksasa Gowa barong yang bernama Prabu Harjowaleko yang akan membalas pati orang tuanya yaitu Prabu Joto Gimbal yang terbunuh oleh Arjuna. Atas petunjuk Parabu Kresno, agar Arjuna melepas panah untuk ular jadi-jadian tsb dan akhirnya ular tsb mati. Sehingga sudah tidak ada gangguan lagi dalam menghadapi Prabu Karno. Pada waktu Prabu Karno melepas panah Kunto wijaya danu, prabu kresno mempercepat jalannya kuda, sehingga Arjuna hanya terkena teropongnya saja, tapi panah pasopati dari Arjuna dapat mengenai leher Prabu Karno hingga putus dan kepala jatuh ke tanah dan badan bersandar di-kereta. Pada waktu prabu karno gugur, badannya berbicara minta agar Arjuna mendekat karena ingin dirangkul, tapi Prabu Kresno melarangnya karena yang bicara tersebut adalah keris kyai Jalak, dan menyuruh Arjuna agar mengeluarkan keris Kalanadah pada waktu mendekati jenasah Prabu Karno. Karena pusaka tsb kalah wibawa, hingga keris kyai jalak kembali ke asalnya dan tidak ada yang bicara lagi.

8. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Prabu Salyo

Pada waktu mendengar bahwa Prabu Salyo akan menjadi Senopati, Prabu Kresno menyuruh Kembar Nakula & Sadewo menemui Prabu Salyo pada malam hari sebelum berangkat perang keesokan harinya untuk minta dibunuh saja, karena tidak ingin Nakula & Sadewa melihat jenasah kakaknya besok pagi bila Prabu Salyo menjadi Senopati. Atas permintaan tsb, Prabu Salyo marah, tapi Nakula & Sadewa tetap minta agar dibunuh malam itu, akhirnya iba hatinya karena Nakula & Sadewa adalah darah dagingnya sendiri dan kemudian berkata bahwa sebetulnya hatinya akan membantu Pandowo, tapi lahirnya harus membantu Kurawa karena telah berjanji pada Prabu Duryudono. Akhirnya Negara Mondoroko diberikan oleh Nakula & Sadewa dan menyuruh Nakula Sadewa pulang dan member tahu Prabu Kresno, agar Pandowo besok pagi mengangkat Senopati Prabu Puntodewo dengan membawa pusaka Jamus Kalimasodo. Pada pertemuan di Pakuwonnya Pandowo Mandoloyudo, Nakula & Sadewa melapor bahwa Prabu Salyo meminta agar Pandowo mengangkat Senopati perang Prabu Puntodewo dengan membawa pusaka Jamus Kalimosodo, tapi prabu Puntodewo tidak mau karena tidak pernah berperang. Setelah roh Begawan Bagaspati (mendiang mertua Prabu Salyo) menyatu kedalam tubuh Prabu Puntodewo, akhirnya mau maju kemedan perang. Dalam perang Prabu Salyo gugur setelah dibalang pusaka Jamus kalimasodo.

9. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Patih Sengkuni.

Pada waktu Patih sengkuni membanting kopiah (pemberian Abiyoso) di medan perang, terjadi hujan batu dan banyak para prajurit Pandowo yang gugur, kemudian Prabu Kresno memanggil Arjuna dan para Punakawan yang mana Arjuna disuruh memuja hujan agar turun dan angin yang sepoi-sepoi beberapa lama, setelah itu memuja agar hujan berhenti dan matahari dapat timbul setelahnya. Bila Patih Sengkuni kedinginan dan kemudian muncul matahari, biasanya kopiah akan dijemur. Punakawan Petruk & Bagong yang harus bisa mencuri kopiah tsb. Akhirnya kopiah tsb bisa dicuri oleh punokawan. Dan akhirnya Patih Sengkuni dapat ditangkap Bima, dan ditusuk dengan kuku ponconoko, tapi tidak mempan, kemudian Prabu Kresno menasehati Bimo bahwa penafasan Patih Sengkuni berada pada DUBUR, kemudian duburnya ditusuk dan disobek,akhirnya patih Sengkuni gugur dan kemudian dikuliti.

10. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Duryudono

Pada waktu terjadi perang tanding anatara Duryudono dan Bima, Prabu Kresno memberi tahu bahwa pengapasan Duryudono adalah kaki kirinya yang mana dulunya tidak ikut dibedaki LISAH TOLO, sehingga setelah digada oleh Bimo kaki kiri Duryudono lari pincang masuk Samodra. Setelah kembali dari samodra yang mana telah bertemu Bathara Rakata Tama (Dewa laut), diberi gada inten yang besar untuk melawan Bima. Pada waktu Duryudono muncul dari lautan dan membawa gada yang besar, Bima agak takut menghadapainya. Akhirnya Prabu Kresno memberi tahu bahwa biar besar gada Duryudono adalah kosong isinya, tapi walaupun gada rujak polo agak kecil tapi mentes. Setelah perang lagi dan disaksikan oleh Prabu Bolodewo, gada duryudono makin lama makin kecil, dan akhirnya prabu Duryudono terkena pukulan Bima jatuh kemudian mukanya diasah diatas batu hingga tak berbentuk manusia lagi. Kemudian prabu Baladewa marah dan akan melawan Bima, pada akhirnya Prabu Kresno mendinginkan prabu Baladewa bahwa kejadian ini merupakan balasan serupa yang pernah dilakukan prabu Duryudono kepada orang yang tak berdosa. Akhirnya prabu Duryudono gugur.

3 thoughts on ““Kontribusi” Kresna atas kemenangan Pandawa”

  1. Setelah membaca jawaban-jawaban diatas memang besar sekali peran dari Kresna. Tetapi menurut saya adalagi jasa dari Kresna pada saat perang Bharatayuda, yaitu pada saat Adipati Karna menjadi senopati, sebelum melawan Arjuna. Pada saat itu Kresna mengangkat Gatut Kaca untuk menjadi senopati dengan alasan serangan terjadi pada saat malam hari. Tetapi sebenarnya Kresna tahu bahwa Karna saat itu masih memiliki senjata Kunta (kalau tidak salah menurut sumber yg pernah saya baca hanya boleh dilakukan 1 kali saja, dan senjata itu memang hanya akan digunakan untuk melawan Arjuna) karena dalam cerita Gatotkaca lahir hanya senjata kunta yang bisa memotong pusar dari Gatut kaca meskipun itu hanya warangkanya saja. Akhirnya Gatutkaca mati karena senjata kunta tetapi Karna sudah tidak punya senjata pamungkas lagi untuk menghadapi Arjuna. Setelah Gatut kaca mati seiring bersatunya senjata kunta, maka Kresna memberi ijin Arjuna untuk menghadapi Adipati Karna. Disinilah menurut saya letak kepandaian mengatur strategi perang dari Kresna.

  2. Yang bs jadi lawan Kresna kek ny cuma sang kakak Baladewa,tp kek ny jg lagi2 karena tipu daya Kresna,dy g bs ikut perang…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s