Tokoh-tokoh Lugu dan Jujur


Di dalam pewayangan Jawa sudah jamak lumrah bahwa dalam dialog antar tokoh akan menunjukan kedudukan tokoh tersebut kepada yang lainnya. Basa krama (halus) biasa digunakan untuk menghormati yang muda kepada yang lebih tua, dari rakyat kepada rajanya, dari manusia kepada Dewa. Dan basa ngoko (kasar) digunakan sebaliknya, atau kepada yang sederajat.

Tapi ada beberapa tokoh yang tidak mempedulikan semua “tata krama” itu. Tokoh-tokoh itu berwatak lugu, apa anane, namun selalu bersikap jujur dan dalam berdialog selalu menggunakan basa Ngoko kepada siapapun, bahkan kepada yang lebih tua dan berkedudukan lebih tinggi atau dewa sekalipun. Siapakah mereka dan jelaskan sekilas ! (kelahiran, keluarga, kematian)

Namun akhirnya dari salah satu tokoh di atas, kemudian pada suatu saat ketika menemui seseorang , akhirnya menggunakan Basa Krama karena merasa tunduk dan begitu menghormatinya. Ceritakan tentang lakon itu sekilas ? (sekilas tentang latar belakang dan nilai yang terkandung dari lakon itu)

Jawaban Pak Widji

Tokoh yang dimaksud adalah sbb;

1. Bimo (Raden Broto Seno)

-Kelahirannya,

Anak ke-2 dari Prabu Pandu Dewonoto dan Dewi Kunthi Nalibroto. Pada waktu kehamilannya Dewi Kunthi bersemedi dan mengucapkan AJI PAMELING, sehingga datang Bathara Bayu dan kunthi diberi tahu bahwa kelak anak yang dikandung akan lahir pria tapi berbentuk bungkus, dimana jabang bayi akan melakukan bertapa dalam bungkus hingga beberapa tahun agar kelak menjadi orang yang pinunjul. Pada waktu kelahirannya benar berbentuk bungkus, sehingga atas nasehat para brahmana di Astina, perlu dibuang di Hutan MANDOLOSORO. Selama dalam bungkus, jabang bayi diberi makan dan dirawat oleh Bathara Bayu dan setelah 8 tahun bungkus di pecah oleh GAJAH SENO, sehingga badar menjadi anak yang gagah perkasa, kemudian gajah seno dapat dibunuh anak tsb dan akhirnya gajah tsb menyatu ke tubuh anak tsb. Oleh Bathara Bayu anak tsb diberi nama Raden Broto Seno atau Bimo.

Setelah Pandowo mempunyai negara sendiri yaitu Amarta yang mana pembayun Pandowo yaitu Raden Puntodewo menjadi raja, Peneggak Pandowo yaitu Bimo tinggal di kesatrian Jodipati, Penengah Pandowo yaitu Arjuna tinggal di kesatrian Madukoro, Cimende & Waruju Pandoeo yaitu Nakula & Sadewa tinggal di kesatrian Sawojajar.

Bimo adalah tokoh yang andil besar dalam perang Baratayuda, 95 % Kurawa dibunuh olehnya.

-Kematiannya,

Bersemedi kemudian MUKSO (musnah dengan raganya) setelah Prabu Parikesit (Raja Astina) dewasa

Bimo adalah salah satu tokoh yang mau menggunakan bahasa Kromo pada waktu bertemu Sang Hyang Podo Wenang, untuk mencari air suci prawito sari atas perintah gurunya Pandito Durno. Lengkapnya dapat didengarkan dalam cerita DEWO RUCI.

2. Antosena

-Keluarga

Anak dari Bimo dengan dewi Urang Ayu (Puteri Hyang Baruno-Penguasa Lautan).

Pertemuan Bima dengan Dewi Urangayu terjadi ketika Resi Druna menguji siswanya di perguruan Sokalima. Saat itu Werkudara diadu dengan duryudana, karena kalah dalam menggunakan gada, Duryudana sakit hati, sehingga menyuruh Patih Sengkuni dan para Kurawa untuk melenyapkan Bimo.

Kurawa pura-pura mengadakan pesta memeriahkan pendadaran siswa Sokalima tadi. Dalam pesta itu Bimo diajak minum tuak. Karena terlalu banyak minum, Bimo mabuk dan jatuh pingsan. Dalam keadaan pingsan itulah tubuh Sena diikat lalu diceburkan ke dalam sungai Jamuna. Tubuh Bima hanyut hingga ke Kisik Narmada (pertemuan sungai Jamuna dan sungai Gangga). ia ditolong oleh Hyang Baruna dan disembuhkan dengan air Rasakunda. Akhirnya Bimo dijodohkan dengan putrinya Dewi Urangayu adik Urang Rayung yang menjadi istri Anoman dan berputera Trigangga. Perkawinan Bimo dengan Dewi Urangayu inilah akhirnya lahir Raden Antasena, berkedudukan di Kisik Narmada ikut kakeknya.

Bersamaan lahirnya Antasena, kahyangan Suralaya sedang digempur angkatan raksasa dari Girikadasar di bawah kekuasaan raja Kalalodra. namun raja raksasa berwajah ikan itu dapat dibinasakan oleh Antasena yang saat itu masih bocah. Dengan keberhasilan menumpas musuh dewa tersebut, Kakek Antasena (Hyang Baruna) diangkat menjadi dewa penguasa Samodra.

-Kematiannya,

Menjelang meletusnya perang Baratayuda, Antasena dan Wisanggeni naik ke Kahyangan Alang-alang Kumitir meminta restu kepada Sanghyang Wenang sebelum mereka bergabung di pihak Pandawa. Akan tetapi, Sanghyang Wenang telah meramalkan, pihak Pandawa justru akan mengalami kekalahan apabila Wisanggeni dan Antasena ikut bertempur.

Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya Antasena dan Wisanggeni memutuskan untuk tidak kembali ke perkemahan Pandawa. Keduanya rela menjadi tumbal demi kemenangan para Pandawa. Mereka pun mengheningkan cipta. Beberapa waktu kemudian keduanya pun mencapai moksa, musnah bersama jasad mereka.

3. Wisanggeni

Bambang Wisanggeni adalah putra Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Dresanala, putri Batara Brahma. Wisanggeni merupakan Satriayang dikenal pemberani, tegas dalam bersikap, serta memiliki kesaktian luar biasa.

-Kelahirannya,

Kisah kelahiran Wisanggeni diawali dengan kecemburuan Dewasrani, putra Batari Durga terhadap Arjuna yang telah menikahi Dresanala. Dewasrani merengek kepada ibunya supaya memisahkan perkawinan mereka. Durga pun menghadap kepada suaminya, yaitu Batara Guru, raja para dewa.

Atas desakan Durga, Batara Guru pun memerintahkan agar Batara Brahma menceraikan Arjuna dan Dresanala. Keputusan ini ditentang oleh Batara Narada selaku penasihat Batara Guru. Ia pun mengundurkan diri dan memilih membela Arjuna.

Brahma yang telah kembali ke kahyangannya segera menyuruh Arjuna pulang ke alam dunia dengan alasan Dresanala hendak Batara Guru jadikan sebagai penari di kahyangan utama. Arjuna pun menurut tanpa curiga. Setelah Arjuna pergi, Brahma pun menghajar Dresanala untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya secara paksa.

Dresanala pun melahirkan sebelum waktunya. Durga dan Dewasrani datang menjemputnya, sementara Brahma membuang cucunya sendiri yang baru lahir itu ke dalam kawah Candradimuka.

Narada diam-diam mengawasi semua kejadian tersebut. Ia pun membantu bayi Dresanala tersebut keluar dari kawah. Secara ajaib, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Narada memberinya nama Wisanggeni, yang bermakna “racun api”. Hal ini dikarenakan ia lahir akibat kemarahan Brahma, sang dewa penguasa api. selain itu, api kawah Candradimuka bukannya membunuh justru menghidupkan Wisanggeni.

Atas petunjuk Narada, Wisanggeni pun membuat kekacauan di kahyangan. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap dan menaklukkannya, karena ia berada dalam perlindungan Sanghyang Wenang, leluhur Batara Guru. Batara Guru dan Batara Brahma akhirnya bertobat dan mengaku salah. Narada akhirnya bersedia kembali bertugas di kahyangan.

Wisanggeni kemudian datang ke Kerajaan Amarta meminta kepada Arjuna supaya diakui sebagai anak. Semula Arjuna menolak karena tidak percaya begitu saja. Terjadi perang tanding di mana Wisanggeni dapat mengalahkan Arjuna dan para Pandawa lainnya.

Setelah semuanya jelas, Arjuna pun berangkat menuju Kerajaan Tunggulmalaya, tempat tinggal Dewasrani. Melalui pertempuran seru, ia berhasil merebut Dresanala kembali.

Kesaktian Wisanggeni dikisahkan melebihi putra-putra Pandawa lainnya, misalnya Antareja, Gatutkaca, ataupun Abimanyu. Sepupunya yang setara kesaktiannya hanya Antasena saja. Namun bedanya, Antasena bersifat polos dan lugu, sedangkan Wisanggeni cerdik dan penuh akal.

-Kematiannya,

Menjelang meletusnya perang Baratayuda, Wisanggeni dan Antasena naik ke Kahyangan Alang-alang Kumitir meminta restu kepada Sanghyang Wenang sebelum mereka bergabung di pihak Pandawa. Akan tetapi, Sanghyang Wenang telah meramalkan, pihak Pandawa justru akan mengalami kekalahan apabila Wisanggeni dan Antasena ikut bertempur.

Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya Wisanggeni dan Antasena memutuskan untuk tidak kembali ke perkemahan Pandawa. Keduanya rela menjadi tumbal demi kemenangan para Pandawa. Mereka pun mengheningkan cipta. Beberapa waktu kemudian keduanya pun mencapai moksa, musnah bersama jasad mereka

Jawaban Pak Baskara

2. Bima selalu berbahasa ngoko kepada siapa saja, kecuali dalam lakon “Dewa Ruci”. Dia berbahasa krama kepada Dewa Ruci, yang ukuran fisiknya jauh lebih kecil daripada dia, tetapi persis sama ujudnya.

Ringkasan kisah Dewa Ruci: Atas bujukan Duryudana dan Sengkuni, Pendita Dorna bermaksud membinasakan Bima. Bima diberi tugas mencari “air kehidupan” guna menggapai kesempurnaan hidup, yang disebut Tirta Pawitra Mahening Suci. Menurut Dorna, air itu ada di tengah samudra. Percaya sepenuhnya kepada “nasihat” san guru, Bima terjun ke samudra. Ketemu ular naga yang besar, dansetelh berkelahi dan mengalahkan naga itu, Bima lelah setengah mati. Bertemulah dia dengan Dewa Ruci. Bima diberi nasehat serta “piwulang” oleh Dewa Ruci, dan setelah itu Bima “manjing” ke dalam raga Dewa Ruci. Setelah tuntas menerima “piwulang”, Bima kembali ke Amarta untuk menunaikan tugasnya sebagai panenggak Pandawa.

3. Nilai yang terkandung;

a. Tiga tokoh yang selalu berbahasa ngoko itu punya kelebihan, sehingga berani tampil berbeda dari kelaziman. Selain menyiratkan “isi lebih penting daripada bungkus/kemasan”, juga menyiratkan bahwa semua manusia itu punya kelebihan dan kekurangan. Orang pintar cenderung “kurang rajin” dibandingkan yang tidak pintar, terkadang kalah pintar bergaul daripada orang yang kurang cerdas.
Teladan bagi kita: Jangan merasa diri sendiri “lebih pintar”, “lebih sadar”, atau “lebih lainnya” daripada orang lain.

Mengapa Wisanggeni dan Antasena harus “muksa” sebelum perang Bharatayudha? Guna kelangsungan hukum alam/universal yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni setiap orang memperoleh balasan/akibat dari amalnya. (karma Bisma-Srikandi, Salya, Dorna-Ekalaya, Abimanyu bersumpah mati ranjap, dll, Dursasana-Drupadi, dll).

b. Nilai/teladan dari kisah Dewa Ruci. Isi nasihat Dewa Ruci, bisa diartikan lebih dari satu makna, namun pada hakikatnya, sama. Terlihat berbeda, tergantung pada tingkat kesadaran masing-masing. Dalam pewayangan Jawa, dapat diuri dari nama Tirta-pawitra-mahening-suci. Esensinya adalah bahwa kebahagiaan sejati itu berasal dari dalam diri, bukan berasal dari luar. Yang berasal dari luar itu bersifat sementara, misalnya kekayaan, hadiah juara, naik pangkat, naik jabatan, menang bertanding, dsb.

Yang menarik, falsafah Jawa (wayang) ini esensinya sama dengan falsafah hidup yang berasal dari luar Jawa, walau pun berbeda ungkapannya. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur ini bersifat Universal

Bagi yang berpengalaman meditasi, kisah Dewa Ruci melambangkan penemuan “jati diri”, setelah melakukan perjalanan ke dalam diri. Dalam ungkapan lain, “tercerahkan’. Istilah Siddharta Gautama, “sudah menemukan Buddha di dalam dirinya”. Sabda Nabi Muhammad: “Kenalilah dirimu, maka kau mengenal Tuhanmu”.

Ayat Al-Quran:”Aku lebih dekat dari urat nadimu.” (Surat 50 ayat 16).

Dalam falsafah jawa: “Manunggaling kawula lan Gusti”.

Dalam tradisi Zen, “menemukan kerbau yang hilang, kemudian bermain seruling sambil duduk di atasnya”.

c. Teladan yang lain, yang tidak kalah penting adalah:

1) Bulatnya tekad mengerjakan sesuatu, niscaya memperoleh hasil (Bima yakin sepenuhnya akan petuah gurunya). Peribahasa: Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Sabda Nabi: “Segala sesuatu tergantung dari niatnya.”

2) Setelah mencapai pencerahan, apa yang harus dilakukan? Terjun ke masyarakat, dan melaksanakan tugas dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, bukan seperti anggapan yang lazim, bahwa untuk mencapai pencerahan spiritual, harus “bertapa” di tempat sunyi, memisahkan diri dari dunia. Bila kesadaran telah meningkat, dengan berbekal kesadaran baru itu, diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Beramal bagi sesama, itu lah bentuk pengabdian kepadaNya.

d. Ada satu hal yang menarik, yang ingin saya sampikan di sini.

Tingkat berbahasa seperti di Jawa, ada ngoko, krama, krama inggil dst., ternyata ditemukan juga dalam bahasa Korea. Ini saya jumpai ketika menikmati Serial Drama Korea, misalnya yang berjudul “Jumong, Queen Seondok, Iron Empress, You are my destiny, Happiness in the Wind”, dsb. Serial drama Korea banyak mengisahkan adat istiadat Korea, yang muda sangat menghormati yang lebih tua, tatakrama, semangat juang, dsb. Rata-rata sangat menarik, selain menghibur, juga banyak nilai-nilai yang dapat kita ambil.

Sebagai sesama bangsa Timur, bahasa Jepang juga ada level berbahasa ini. Lain dengan bahasa Inggris misalnya, yang hanya ada satu macam saja. Kecuali sebutan Your honour, your majesty, sebutan “you” dipakai baik untuk anak, ayah, ibu, nenek, dsb.

Nah, kita patut bangga bahwa bahasa Jawa lebih kaya, bukan?

Advertisements

2 thoughts on “Tokoh-tokoh Lugu dan Jujur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s