Karna Basusena : Pilihan antara Kunthi dan Balas Budi


Perang Bharatayuda adalah perang besar yang melibatkan banyak negara serta berbagai sosok dan karakter yang saling bertempur. Perang Bharatayuda adalah perang saudara yang tidak hanya mengadu fisik untuk meraih kemenangan, namun kemantapan niat, kecondongan hati, huru-hara emosi, bergumul memperebutkan jati diri. Perang Bharatayudha membuat banyak tokoh-tokoh yang berperan didalamnya menjadi “menderita” karena hatipun ikut berperang antara bisikan nurani melawan “keterpaksaan” mengangkat jiwa ksatria.

Diantara tokoh-tokoh yang “setengah hati” dalam menjalani perang besar itu adalah Resi Bhisma, Begawan Durna, Prabu Salya dan Adipati Karna.

Uraikan bagaimana sebenarnya kiprah mereka dalam perang Bharatayudha ! (hubungan persaudaraan antara pihak yang berperang Pandawa-Kurawa, upaya yang telah dilakukan menghindari perang tuk menciptakan perdamaian, peranan dan kontribusi serta perbedaan antara sikap hati dengan sikap tindakan

 

Jawaban Ali Mustafa

Dahyang Durna/ Resi Durno semasa mudanya bernama Bambang Kumbayana, beroman cakap dan sakti, asal dari Atasangin. Kumbayana mempunyai seorang saudara angkat bernama Bambang Sucitra, yang telah meninggalkan negerinya pergi ke tanah Jawa. Kumbayana pergi menyusul. Tetapi setelah sampai di tepi samudera, Kumbayana berhenti dengan sangat berduka cita Kumbayana berkata, bahwa siapapun juga yang dapat menyeberangkan dia dari pantai itu hingga sampai di pantai tanah Jawa, jika ia laki-laki akan diaku jadi saudara, jika ia perempuan akan diambil jadi isteri.

Setelah berkata itu datanglah seekor kuda betina bersayap (Jawa: kuda sembrani) mendekatinya. Kumbayana merasa bahwa kuda itulah yang akan menolongnya menyeberangkan. Maka Kumbayana mengendarai kuda itu dan terbanglah ia secepat kilat, hingga sampailah di daratan tanah Jawa. Setelah Kumbayana turun, kuda itu melahirkan seorang anak laki-laki, kemudian ia berubah menjadi seorang bidadari bernama Dewi Wilotama, dan terus terbang. Ke angkasa. Anak itu diberi nama Bambang Aswatama.

Kumbayana makin. susah, karena dalam perjalanan itu harus membawa bayi. Kemudian sampai juga ia ke Cempalareja, negeri saudara angkatnya; Bambang Sucitra, yang telah bertahta di sana dan bergelar Prabu Drupada.

Mendengar itu Kumbayana amat bersukacita, ia terus masuk di balairung, dan ketika dikenalnya saudara angkat itu, ia berseru: Sucitra, Sucitra!” Gandamana, ipar Prabu Drupada, sangat murka mendengar seruan Kumbayana itu. Perbuatan itu dipandang menghina, dan Kumbayana dianiaya hingga cacat badannya. Prabu Drupada mengetahui kejadian sangat menyesal. Kumbayana lalu dirawar dan tinggal di Sokalima, bernama Dahyang Durna. Kemudian Durna menghambakan diri pada raja Hastinapura, Sri Duryudana dan diangkat jadi pendeta dan guru sekalian Kurawa dan Pandawa.

Sebenarnya ia seorang pendeta bijaksana, guru Pandawa dan Kurawa. Wrekudaralah seorang anak muridnya yang sejati. Adapun pada mulanya memang Wrekudara diperdayanya, diperintahkan terjun ke dalam laut supaya mati. Tapi segala petunjuk Durna yang demikian itu malahan menjadikan kesempumaan ilmunya atas petunjuk Dewa Ruci, dewanya Wrekudara yang sebenarnya.

Dalam perang Baratayudha, Durna tewas oleh Raden Drustajumena kena tusukan keris yang telah kemasukan jiwa Prabu Palgunadi, yang membalas dendam pada Durna

Jawaban Pak Widji

D. Prabu Karno Basuseno

1. Hubungan Keluarga Pandowo & Kurawa

Hubungan dengan Kurawa, menjadi Panglima perang negara Astina, dan Ipar sesama menantu Prabu Salyo dari Prabu Duryudono.

Hubungan dengan Pandowo, sudara sekandung sesama ibu Puntodewo, Bima, dan Arjuna

2. Usaha Menciptakan Perdamaian dan menghindari perang

-Tidak ada usaha menghindari perang Baratayuda, justru agar perang Baratayuda terjadi, agar angkara murka Prabu Duryudono dan saudaranya, dapat cepat musnah dimuka bumi.

3. Peranan dan Konstribusi

– Peranan,

Panglima perang dan penasehat Prabu Duryudono

-Konstribusi,

-Memberi semangat agar Prabu Duryudono mau berperang melawan Pandowo, karena dengan senjata Kuntho yang disandangnya, Pandowo akan kalah.

– Membunuh Gatotkoco, pada waktu perang terjadi malam hari.
– Membunuh beberapa anak Arjuna, pada waktu Abimanyu maju ke-medan perang.
– Prabu Karno gugur melawan Arjuna dalam ceritera Karno Tanding.

Jawaban Pak Baskara

A4. Adipati Karna.

Nama lengkapnya Karna Basusena. Anak pertama Dewi Kunti, tatkala Kunti belum bersuami. Bagaimana mungkin? Itu akibat ajian yang dipelajari Dewi Kunti, puteri raja Mandura, Prabu Kuntiboja. Ajian itu bisa mendatangkan dewa, tapi ada pantangannya. Yaitu tidak boleh ditrapkan waktu Dewi Kunti sedang tidur, atau sedang mandi. Suatu ketika, lupalah Kunti, waktu sedang mandi, “matek aji” itu. Datanglah seorang dewa, kebetulan Batara Surya, dewa penguasa matahari (dewaning rahina). Akibatnya, Dewi Kunti berbadan dua. Karena masih berstatus belum bersuami, waktu lahir, bayi itu dibuang di sungai Jamuna, dibekali kalung yang bertuliskan namanya, Karna Basusena. Untuk menjaga keperawanan Dewi Kunti, lahirnya dari telinga. Bayi itu kelak ditemukan oleh seorang yang berprofesi sais istana Hastina.

Waktu menginjak remaja, Karna menonton pertandingan murid-murid Begawan Durna. Di sanalah dia bertemu Arjuna, yang sedang dielu-elukan karena menang pertandingan adu panah. Karna panas hatinya, dan berniat ikut bertanding. Tapi dilarang oleh Pendawa, karena dianggap tidak memenuhi syarat, karena tidak berdarah bangsawan. Duryudana turun tangan, memberi gelar bangsawan kepada Karna, sehingga berhak ikut pertandingan. Karna merasa berhutang budi kepada Duryudana, yang telah mengangkat derajatnya.

(Waktu itu Karna belum tahu bahwa sebenarnya dia juga berdarah bangsawan, putera Dewi Kunti).

Dalam perang Bharatyudha, Karna tetap membela Duryudana. Adipati Karna gugur dalam perang tanding melawan Arjuna. Karena mereka bersaudara, waktu bertanding, keduanya sangat mirip, hingga bagaikan dua orang Karna yang sedang bertanding. Oleh karena itu, disebut “Karna tanding”.

C4- Adipati Karna, lahir batin menunaikan tugasnya sebagai ksatria sejati. Sebagai Adipati Awangga yang berada di wilayah Hastina, dia maju perang membela Hastina.

Bagaimana batinnya? Mengapa dia rela melawan adik-adiknya satu ibu?

Ada satu versi paling menarik bagi saya, setelah mendengar “Kresna Duta” yang dibawakan Ki Narto Sabdho. Adipati Karna sengaja membela Duryudana, karena hanya dengan cara itu lah kejahatan dapat ditumpas tuntas. Duryudana sempat ragu-ragu, mampukah dia menandingi kessaktian Pendawa. Melihat keraguan itu, Adipati Karna tampil dan meyakinkan Duryudana bahwa akan menang melawan Pendawa. Pengakuan Karna ini disampaikan kepada Prabu Kresna, waktu keduanya bertemu di tempat kediaman Dewi Kunti. Pengakuan Karna ini hanya diketahui Kresna dan Kunti saja, dan tidak diceritakan kepada Pendawa.

Ada faktor lain lagi. Dalam hati kecilnya, Adipati Karna ada rasa sedikit kecewa mengapa ibunya dulu membuangnya waktu dia masih bayi. Ini membuat tekadnya menjadi bulat, rela mati dalam Perang Bharatayudha. Dengan demikian, bisa membuat ibunya merasakan bagaimana pilunya melihat anak-anaknya bertempur satu sama lain, dan bagaimana pilunya melihat anak yang dulu dibuangnya, meregang nyawa di depan mata.

Jadi, menurut pandangan Karna, sebagai ksatria dia membela negara yang menaunginya. Batinnya, dia membela kebenaran, karena dengan kesediaannya membela Duryudana itu lah perang Bharatayudha terlaksana.

Advertisements

3 thoughts on “Karna Basusena : Pilihan antara Kunthi dan Balas Budi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s