Narasoma : Prabu Salya


Perang Bharatayuda adalah perang besar yang melibatkan banyak negara serta berbagai sosok dan karakter yang saling bertempur. Perang Bharatayuda adalah perang saudara yang tidak hanya mengadu fisik untuk meraih kemenangan, namun kemantapan niat, kecondongan hati, huru-hara emosi, bergumul memperebutkan jati diri. Perang Bharatayudha membuat banyak tokoh-tokoh yang berperan didalamnya menjadi “menderita” karena hatipun ikut berperang antara bisikan nurani melawan “keterpaksaan” mengangkat jiwa ksatria.

Diantara tokoh-tokoh yang “setengah hati” dalam menjalani perang besar itu adalah Resi Bhisma, Begawan Durna, Prabu Salya dan Adipati Karna.

Uraikan bagaimana sebenarnya kiprah mereka dalam perang Bharatayudha ! (hubungan persaudaraan antara pihak yang berperang Pandawa-Kurawa, upaya yang telah dilakukan menghindari perang tuk menciptakan perdamaian, peranan dan kontribusi serta perbedaan antara sikap hati dengan sikap tindakan

Jawaban Pak Baskara

Kisah Prabu Salya, secara ringkas adalah sebagai berikut:

Di masa mudanya, Prabu Salya bernama Narasoma, putra raja Mandaraka. Ketika beranjak dewasa, selalu menolak permintaan ayahandanya agar segera menikah, sehingga akhirnya ditundung (diusir) keluar dari istana. Dalam pengembaraannya, Narasoma tiba di suatu pertapaan milik seorang Resi yang berujud raksasa. Puteri sang Resi yang rupawan, jatuh cinta kepada Narasoma. Narasoma cinta juga kepada sang puteri, namun merasa malu bila mempunyai mertua berujud raksasa. Narasoma bersedia memperisteri sang puteri, dengan syarat sang Resi mati terlebih dulu.

Sang Resi, demi kasih sayangnya kepada puterinya, rela memenuhinya, walau pun dalam hati kecilnya mengatakan bahwa permintaan Narasoma itu salah. Sebab, tidak semestinya seorang ksatria hanya ingin menikmati “enaknya” saja (mempersunting sang Puteri) tetapi tidak mau menerima “konsekwensi tidak enaknya”, yaitu punya mertua berwujud raksasa. (Sejatinya, sang Resi di masa mudanya dulu adalah saudara seperguruan ayahanda Narasoma). Resi ini mempunyai ajian Candabirawa, yang membuatnya tidak bisa mati. Supaya bisa mati, ajian ini harus diturunkan kepada orang lain. Oleh karena itu, sang resi mewariskan ajian Candabirawa ini kepada Narasoma. Saat meninggalnya, sukma sang Resi bersumpah bahwa kelak di kemudian hari, Narasoma akan menanggung akibat perbuatannya itu.

Sang Puteri mendapat gelar baru, yaitu Dewi Setyawati, karena lebih memilih menikah dengan pemuda pilihannya, walau pun harus mengorbankan ayahnya.

Setelah menggantikan ayahnya menjadi raja, Narasoma bergelar Prabu Salya. Prabu Salya mempunyai adik bernama Dewi Madrim, yang kemudian kawin dengan Pandu dan berputera Nakula-Sadewa, si kembar dalam keluarga Pandawa. Prabu Salya berputra 3 orang, yang masing-masing kemudian diperisteri oleh Prabu Baladewa dari Mandura, Adipati Karna, dan Prabu Duryudana dari Hastina.

Dalam perang Bharatayudha Prabu Salya lahirnya terpaksa membela Hastina (karena 2 puterinya ada di sana), tetapi batinnya membela Pandawa (karena sadar bahwa Kurawa berada di pihak yang salah).

Oleh karena itu, ketika bertugas menjadi kusir kereta perang Adipati Karna ketika bertanding melawan Arjuna, dia sedikit berbuat curang, sehingga Arjuna yang menang.
Setelah Adipati Karna gugur, Prabu Salya maju sebagai panglima Kurawa. Di situlah dia membayar karmanya (terhadap mertuanya), tewas di tangan Yudistira.

C2- Faktor apa yang membuat Salya dalam hatinya memihak Pandawa, walau pun secara lahiriah dia maju sebagai panglima perang Hastina?

Salya harus maju perang karena puterinya adalah permaisuri Hastina, dan puterinya yang lain isteri Adipati Karna.

Dalam hati memihak Pandawa, karena Salya tahu Duryudana di pihak yang salah, dan karena dua keponakannya, Nakula dan Sadewa, berada di pihak Pandawa. Di sinilah terlihat piawainya Kresna sebagai penasehat Pandawa. Malam setelah Adipati Karna gugur, Kresna sudah menduga bahwa Prabu Salya akan mendapat giliran maju sebagai panglima pihak Kurawa. Diutuslah Nakula dan Sadewa menemui “pakdenya”, Prabu Salya. Setelah ketemu, keduanya mengatakan: “Uwa Prabu, dalem pamit pejah”. Luluhlah hati Prabu Salya, terkenang akan penderitaan Nakula dan Sadewa yang ditinggal mati ibunya, Dewi Madrim yang juga adik Salya, dan penderitaan mereka dibuang 12 tahun di hutan.

Jawaban Pak Widji

C. Prabu Salyo

1.  Hubungan Keluarga Pandowo dan Kurawa

Prabu Salyo mertua dari Duryudono dan sebagai Pak De nya Nakula dan Sadewa (Pandowo no 4 & 5)

2. Usaha Menciptakan Perdamaian dan menghindari perang

Selalu mengingatkan Prabu Duryudono untuk menggagalkan perang Baratayuda, bahkan sanggup mengorbankan negaranya (Mandoroko) untuk diberikan kepada Duryudono. Meskipun perang baratayuda sedang berlangsung, Prabu Salyo selalu mengingatkan Prabu Duryudono untuk dapat memberhentikan perang, dan sanggup menjadi duta untuk menemui Pandowo. Tapi semua usaha selalu ditolak oleh Prabu Duryudono.

3. Peranan dan Konstribusi

–  Peranannya
Sebagai penasehat perang yang tidak iklas Prabu Duryudono.

– Konstribusinya
Selalu mengingatkan untuk dapat memberhentikan perang, tapi selalu ditolak oleh prabu Duryudono.

–  Menjadi Kusir Prabu Karno untuk melawan Arjuna karena dipaksa oleh Prabu Duryudono.

–  Iba dalam tangis Nakula & Sadewa, sehingga rela gugur dalam perang Baratayuda dan menyuruh Nakula & Sadewa agar Pandowo mengangkat Senopati perang Prabu Puntadewa.

–  Dalam perang menghadapi prabu Puntadewa, prabu Salyo gugur setelah terkena Surat Jamus Kalimasadha. Dan rohnya kembali ke Nirwana bersama bapak Mertua bagaspati, Istrinya dewi Setyowati, dan Emban Sugandini.

4. Perbedaan Sikap Hati & Tindakan

– Sikap Hati,
Tidak setuju dengan adanya perang Baratayuda, dan karena tidak sengaja sudah terlanjur janji sama Prabu Duryudono bahwa kelak akan membantu Kurawa dalam menghadapai Pandowo.

– Tindakannya
Karena gagal dalam menasehati Prabu Duryudono untuk dapat memberhentikan perang, sehingga dengan terpaksa harus membantu Kurawa karena sudah terlanjur janji. Prabu Salyo ingat bahwa 2 orang Pandowo yaitu Nakula & Sadewa adalah masih darah dagingnya sendiri, sehingga mempunyai komitmen bahwa lahirnya ikut Kurawa, tapi batinnya membantu Pandowo.

-Pada waktu menjadi Kusir Prabu Karno yang berperang melawan Arjuna, selalu berusaha agar Prabu Karno gagal dalam usaha membunuh Arjuna dengan cara menarik kendali kuda, sehingga senjata Kuntho Wijaya Danu gagal membunuh Arjuna.

Advertisements

One thought on “Narasoma : Prabu Salya”

  1. Pak , saya mau tanya.
    Bagaimana cerita lahirnya Saroja Kesuma ( Lesmono Dakumoro )dan Pergiwa…
    Maturnuwun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s