Dewabrata : Sang Bhisma


Perang Bharatayuda adalah perang besar yang melibatkan banyak negara serta berbagai sosok dan karakter yang saling bertempur. Perang Bharatayuda adalah perang saudara yang tidak hanya mengadu fisik untuk meraih kemenangan, namun kemantapan niat, kecondongan hati, huru-hara emosi, bergumul memperebutkan jati diri. Perang Bharatayudha membuat banyak tokoh-tokoh yang berperan didalamnya menjadi “menderita” karena hatipun ikut berperang antara bisikan nurani melawan “keterpaksaan” mengangkat jiwa ksatria.

Diantara tokoh-tokoh yang “setengah hati” dalam menjalani perang besar itu adalah Resi Bhisma, Begawan Durna, Prabu Salya dan Adipati Karna.

Uraikan bagaimana sebenarnya kiprah mereka dalam perang Bharatayudha ! (hubungan persaudaraan antara pihak yang berperang Pandawa-Kurawa, upaya yang telah dilakukan menghindari perang tuk menciptakan perdamaian, peranan dan kontribusi serta perbedaan antara sikap hati dengan sikap tindakan)

A. Resi Bhismo

Jawaban Pak Widji

1. Hubungan Keluarga Pandowo dan Kurawa

Sebagai kakek tiri Pandowo & Kurawa, karena Resi Bhismo Putra Prabu Sentanu dengan Bathari Ganggo, Dan kakek langsung pandowo & Kurowo adalah Abiyoso putra Polosoro dengan Dewi Durgandini (Putri Wiroto). Pada waktu Bathari Ganggo kembali ke Suralaya, Prabu Sentanu menikah dengan dewi Durgandini, mempunyai beberapa anak tapi meninggal. Karena Prabu Sentanu mangkat dan Sumpah Dewo Broto (Resi Bismo pada waktu masih muda) akan tidak menikah selamanya, sehingga Abiyoso diangkat menjadi raja Astina menggantikan Prabu Sentanu. Walaupun Resi Bhismo bukan kakek langsung, tapi dalam mengasuh Pendowo dan Kurawa melebihi kakek yang sebenarnya.

2. Usaha Menciptakan Perdamaian dan menghindari perang

Resi Bhismo tidak setuju adanya perang baratayuda, dan menyarankan agar negara Astina dibagi 2 antara Pandowo & Kurawa, karena mereka masih bersaudara dan tidak baik untuk berebutan sedikit kenikmatan dengan cara saling membunuh saudaranya. Tapi Duryudono tidak setuju.

3. Peranan dan Konstribusi

– Peranannya

Sebagai penasehat dan selalu mempengaruhi Duryudono agar tidak terjadi Perang Baratayuda.

– Konstribusinya,

Melawan senopati dari Wiroto (Seto, Wratsongko, Utoro), karena bukan Pandowo maupun Kurawa. Akhirnya ketiga Senopati Wiroto gugur. Setelah Prabu Kresno mengetahui, ia akan membunuh Resi Bhismo dengan senjata Cakra, tapi Resi Bhismo meminta dengan sangat bahwa ia rela gugur untuk kemenangan Pandowo asalkan dapat membayar hutang pati terhadap mendiang istrinya (Dewi Ambo), Oleh karena itu agar Pandowo mengangkat senopati wanita yaitu Woro Srikandi yang telah kemasukan rohnya dewi Ambo (Mendiang Istrinya). Akhirnya Resi Bhismo gugur terkena panah Srikandi.

4. Perbedaan Sikap Hati & Tindakan

– Sikap Hati,

Tidak setuju adanya Perang Baratayuda, karena keduanya masih bersaudara. Bila terjadi perang ia tidak akan ikut-ikutan.

– Tidakan sebenarnya

Bertindak ke medan perang setelah ditangisi Duryudono bahwa banyak prajurit Kurawa yang gugur akibat serangan Senopati dari Woroto yaitu Seto, Wratsongko, dan Utoro, sehingga Resi Bhismo menemui Senopati Wiroto tsb agar mundur bersamanya, karena Resi Bhismo, Seto, Wratsongko, Utoro bukan Pandowo maupun Kurowo. Karena Senopati Wiroto tidak mau mundur, sehingga Resi Bhismo melawan dan akhirnya Senopati Wiroto gugur terkena panah Resi Bhismo.

MENIKMATI dan memanfaatkan NILAI-NILAI dalam kisah ini.

Jawaban Pak Baskara

Apakah waktu memutuskan maju perang sebagai panglima Hastina, Bisma sadar sepenuhnya bahwa dia sedang dalam perjalanan membayar karmanya di masa lalu? Barangkali tidak. Bisma tetap memutuskan maju perang, walau pun tahu bahwa Duryudana dan Kurawa berada dalam pihak yang tidak benar. Mengapa? Karena, Bisma mendengar bahwa putera-putera Wirata sudah maju ke medan laga, walau pun secara resmi belum dinyatakan dimulainya Perang Bharatayudha. Menurut Bisma, Seto dkk melecehkan kewibawaan Hastina. Bisma berpendapat bahwa masalah Pandawa dan Kurawa adalah masalah intern keluarga Bharata, sehingga harus diselesaikan tanpa campur tangan pihak luar.

Jadi, Bisma “madeg senapati” dipicu oleh majunya putera-putera Wirata, bukan karena ingin membela Duryudana. Setelah “kadung” bertempur, Bisma tidak bisa mundur lagi. Dan, akhirnya gugur di tangan Srikandi, yang “dipinjam” oleh sukma Dewi Amba untuk membalas Bisma.

Dalam kisah Bisma-Dewi Amba, siapakah yang salah?

Salahkah Bisma?

Salahkah Dewi Amba, yang meminta Bisma untuk memperisterinya, sebagai konsekwensinya , mengikuti sayembara? Dalam sayembara, jelas disebutkan bahwa pemenang sayembara lah yang berhak memepersunting puteri.

Memang ada yang terlewat tidak diceritakan, yaitu benarkah Bisma tidak memberitahu sebelumnya bahwa dia ikut sayembara itu adalah untuk mencari permaisuri bagi adiknya, calon raja Hastina. Seharusnya Bisma memberitahukan hal itu, sebelum terjun mengikuti sayembara.

Bagaimana dengan Dewi Amba? Apakah dia ketiban sial?

Nampaknya, “kesialan” Dewi Amba itu pun akibat perbuatannya di masa lalu. Lalu, apa peran Srikandi? Apakah sekedar menunaikan janji Dewi Amba membalas perbuatan Bisma?

Di sinilah ada pelajaran yang dapat kita petik lagi:

Bahwa dalam menjalani hidup kita ini, masing-masing punya peran, yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Tugas kita lah untuk menjalankan peran kita masing-masing sebaik-baiknya. Selalu “eling lan waspada”. Misalnya, dalam menjalankan tugas di kantor, ingat peran dan tanggungjawab, jangan sekali-kali mengambil hak orang lain.
“Think globally, act locally” Semulia-mulia manusia, adalah yang memberi manfaat bagi sesama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s