Quiz Wayang #1-7 dan #1-8


Quiz kali ini sengaja saya gabung untuk dua quiz, hari ini dan besok. Alasannya karena kontennya saling berhubungan dan berkelanjutan sehinga akan lebih baik bila disatukan agar dalam menjawab dapat lebih mengalir.

Matur nuwun.

Quiz #1-7

Perang Bharatayudha berakhir sudah. Meskipun Pandawa pada akhirnya meraih kemenangan namun yang dirasakan kemudian sungguh sangat menyesakan. Orang-orang terkasih banyak yang mati menjadi korban, sementara yang masih hidup-pun terluka hatinya menyaksikan kehancuran segala akibat perang. Yudistira selanjutnya diangkat menjadi Raja Astinapura dengan mendapat restu dari Bhisma yang kemudian menghembuskan nafas terakhir setelah memberikan wejangan-wejangan dan restu kepada Yudistira di atas “dipan” hunjaman ribuan anak panah yang menopang (dan menusuk) sekujur tubuhnya.

Setelah beberapa tahun bertahta dan kemudian tiba saatnya menyerahkan kekuasaan maka yang menerimanya adalah Parikesit. Mengapa Parikesit, anak Abimanyu cucu Arjuna, yang menerima tahta itu ? Kemana anak atau cucu para Pandawa lainnya ?

Quiz #1-8

Setelah menyerahkan tahta kepada Parikesit, kemudian para Pandawa mencari jalan menuju akhir hidupnya di dunia. Dengan melepaskan segala atribut keduniawiannya, meraka menyusuri jalan dan tempat yang pernah mereka lalui dahulu. Namun kini visi dan misinya telah berubah. Tidak lagi ada keinginan untuk merengkuh kekuasaan, tidak terbersit sedikitpun niat mencari senjata pamungkas untuk menumpas lawan, ataupun upaya untuk memperoleh wahyu dari Yang Kuasa sebagai jalan meraih kemenangan. Yang meraka rasakan hanyalah rasa letih dan ingin beristirahat dari hingar bingar duniawi yang semu sekaligus menghanyutkan. Yang mereka inginkan hanyalah “pulang” kembali ke kesejatian.

Hingga suatu saat ketika rasa lelah dan letih menyusuri perjalanan nan jauh, tibalah mereka di kaki gunung Himalaya. Puncak gunung yang menjulang tinggi tidak menghalangi mereka untuk melanjutkan perjalanan menggapai “tingginya” ciptaan Ilahi.

Di episode inilah sangat terkenal kisah tentang Puntadewa dan anjing yang mengiringi dan sejumlah tamsil ataupun “penampakan” yang membuat Yudistira diajak untuk berfikir dan merenungi kehidupan fana dan kehidupan abadi.

Ceritakan sekilas episode itu dan berikan point-point terpenting terhadap nilai yang terkandung di dalamnya !

7 thoughts on “Quiz Wayang #1-7 dan #1-8”

  1. Quiz #1-7:
    Parikesit yang berhak menerima takhta kerajaan karena ialah satu-satunya keturunan Pandawa , yaitu putra Abimanyu yang gugur di Bharatayudha bersama putra-putra Pandawa yang lain.

    Quiz #1-8:
    Para Pandawa akhirnya mati satu persatu , akibat kelelahan mendaki Mahameru . Tinggal Puntadewa bersama seekor anjing yang meneruskan perjalanan mereka . Puntadewa bersama seekor anjing tiba di puncak Mahameru , dan tiba-tiba dewa Indra datang dan mengatakan sukma saudara-saudara pandawa telah berada di surga , dan mengatakan anjing tidak diperbolehkan masuk ke surga.

    Mendengar jawaban itu , Puntadewa mengatakan kepada dewa Indra bahwa ia tak akan turut ke surga jika anjing yang mengikutinya tak diperbolehkan masuk ke surga.

    Anjing itu seakan-akan mengerti perkataan Puntadewa . Tiba-tiba anjing itu berubah menjadi dewa Dharma , yaitu ayah Yudistira sendiri . Lalu dewa Indra , dewa Dharma dan Puntadewa terbang ke surga . Di surga , Puntadewa heran melihat Kurawa dalam keni’matan dan kegemilangan surga . Mengapa orang – orang durhaka dan sombong ditempatkan didalam surga?

    Puntadewa diajak oleh seorang tinggi besar kesebuah tempat yang suram dan mengerikan . Hawanya pun panas karena asap belerang yang bergumpal-gumpal dari sebuah kawah . Disana ia melihat manusia-manusia yang sedang menjalani siksaan . Tiba tiba asap belerang tak muncul lagi , digantikan oleh hawa dingin dan sejuk . Ini karena kekuatan kesucian dari Puntadewa.

    Tempat demi tempat di neraka ia lalui , tetapi ia terkejut karena melihat Prabu Karna , saudara Pandawa , & istri Puntadewa , yaitu Dewi Drupadi , ditempatkan dalam sebuah ruangan yang panas karena api yang berkobar-kobar dengan dasyatnya. Karena kekuatan suci Puntadewa , ruangan itu menjadi dingin.

    Puntadewa berkata kepada orang yang tinggi besar agar meninggalkannya , supaya ia bisa merasakan siksaan bersama saudaranya . Seketika itu muncullah para dewa di ruangan itu , hingga cahayanya terang benderang . Dewa Dharma menjelaskan kepada Puntadewa sebuah rahasia , yaitu :

    1.Semua manusia , tidak pandang harkat dan tingkat
    harus merasakan yang namanya siksaan.
    2.Berat ringannya siksaan tergantung kepada besar kecil
    dosanya masing-masing.
    3.Ada yang mula-mula mendapat surga kemudian
    mendapat neraka , atau neraka dulu surga kemudian.
    4.Para kurawa memang mendapat surga karena mereka
    mati secara ksatria , tapi nanti kurawa akan mendapat
    neraka karena mereka membela kejahatan.
    5.Para Pandawa mendapat siksaan yang ringan karena
    tak luput dari kesalahan.
    6.Hanya Puntadewalah yang hanya sekedar menyaksikan ,
    karena ia berbudi luhur.

    Tiba-tiba terlihatlah pemandangan yang indah , para saudara pandawa , prabu Karna dan dewi Drupadi terlihat membelakangi sebuah gedung putih yang berkilauan . Mereka terlihat tertawa , gembira & melambaikan tangan .

    Puntadewa pun terperanjat , karena melihat saudara-saudara kurawa yang menjerit dan berteriak kesakitan karena dijilat api neraka yang berkobar.

    Point terpenting: Setiap manusia pasti menjalani siksaan , ada yang menjalani siksaan baru masuk surga (untuk orang yang baik , sholeh dan taat kepada tuhannya ) atau surga dahulu baru siksaan neraka (untuk orang yang jahat , sombong dan ingkar kepada tuhannya) karena hidup di akhirat kekal , tidak hidup tidak mati . Lama pendeknya hidup di surga / neraka tergantung berat dosanya masing-masing . Jadi berbuat baiklah selagi masih hidup , tidak ada gunanya menyesal , karena penyesalan datangnya diakhir perbuatan.

  2. Jawaban Quiz # 1-7

    Sesudah berakhirnya perang Bharatayuda, Prabu Puntadewa menjadi raja negara Astina bergelar Prabu Karimataya / Kalimataya disaksikan oleh Begawan Abiyoso dan bukan Resi Bhismo (Maaf ada sedikit koreksi pada tulisan Author), karena Resi Bhismo telah gugur pada awal perang Baratayuda. Setelah menobatkan Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari sebagai raja negara Astina, Prabu Puntadewa memimpin perjalanan moksa para Pandawa yang diikuti Dewi Drupadi.

    Pertanyaannya adalah, Mengapa harus raden Parikesit yang dinobatkan menjadi Raja?

    Jawabannya adalah sbb;

    -Abimanyu (Ayah Parikesit) adalah satu-satunya satria Pandowo yang telah mendapatkan wahyu CAKRANINGRAT (Pewaris Tahta), sehingga kelak akan menurunkan raja-raja yang jujur dan dapat melindungi rakyatnya secara adil dan bijaksana.

    -Pada suatu hari sewaktu Raden Parikesit masih bayi, menangis terus menerus tanpa henti, sehingga membuat para pepunden gelisah bagaimana caranya agar Parikesit diam. Bima berjanji akan menyunggi (menaruh diatas kepala) parikesit selama 1 tahun, bila mau diam dari tangisnya. Ternyata Parikesit belum diam juga, kemudian Arjuna berjanji akan menggendong Parikesit selama masih belum bisa jalan, tapi ternyata tidak mau diam juga dari tangisnya. Begawan Abiyoso menyuruh Puntodewa untuk bertindak, dan kemudian Prabu Puntodewo bersumpah bahwa kelak akan menjadikannya raja di Astina & Indropasta untuk menggantikan Prabu Puntodewa, bila berhenti dalam tangisnya, akhirnya Raden Parikesit diam dari tangisnya seketika. Cucu-cucu Pandowo lainnya menjadi punggawa Negara astina.

    Salam,
    WN

  3. Jawaban Quiz # 1-8

    Setelah Raden Parikesit (Cucu Arjuna) dewasa dan dinobatkan menjadi Raja Astina & Indroprasto bergelar Prabu Parikesit atau Prabu Paripurno dan wafatnya Prabu Kresno, Puntadewa, Drupadi, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa mengundurkan diri dari urusan duniawi. Mereka meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat duniawi untuk melakukan perjalanan terakhir, mereka berjalan menuju puncak Himalaya. Di kaki gunung Himalaya, Puntadewa menemukan anjing dan kemudian hewan tersebut menjadi pendamping perjalanan Pandawa yang setia. Saat mendaki puncak, satu per satu mulai dari Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima meninggal dunia, karena masing-masing terseret oleh kesalahan dan dosa yang pernah mereka perbuat pada waktu masih didunia. Hanya Puntadewa dan anjingnya yang berhasil mencapai puncak gunung, karena kesucian hatinya.
    Batara Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput Puntadewa untuk diajak naik ke sorga dengan kereta kencananya. Namun, Indra menolak anjing yang dibawa Puntadewa dengan alasan bahwa hewan tersebut tidak suci dan tidak layak untuk masuk sorga. Puntadewa menolak masuk sorga apabila harus berpisah dengan anjingnya. Batara Indra merasa heran karena Puntadewa tega meninggalkan saudara-saudaranya dan Drupadi tanpa mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun lebih memilih untuk tidak mau meninggalkan anjingnya. Puntadewa menjawab bahwa bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah yang meninggalkan dirinya.
    Kesetiaan Puntadewa telah teruji dan lulus, dan anjingnya pun kembali ke wujud asli yaitu Dewa Dharma. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta Batara Indra. Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada justru Duryodana dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara murka didunia. Batara Indra menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya termasuk Drupadi sedang menjalani penyiksaan di neraka. Puntadewa menyatakan siap masuk neraka menemani keempat adiknya dan Drupadi. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang disertai suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda untuk meninggalkan neraka, Puntadewa berhasil menguasai diri. Setelah mendengar suara saudara-saudaranya dan Drupadi memanggil-manggil, Puntadewa memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik hidup tersiksa bersama sudara-saudaranya yang baik hati daripada bergembira di sorga namun ditemani oleh Duryudono dan saudaranya yang jahat pada waktu masih didunia. Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi indah, Batara Indra muncul dan berkata bahwa anda telah lulus ujian terakhirnya, kemudian Batara Indra mengatakan bahwa sejak saat itu, Pandawa Lima dan para pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni Surga yang kekal dan abadi, sementara para korawa dipindahkan dan akan menjalani siksaan yang kekal di neraka.

    Kesimpulan,

    Orang yang berbuat baik walaupun sedikit pasti kelak akan masuk surga, walaupun harus menjalani sisksa neraka atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya pada waktu di-dunia. Sedangkan orang yang tidak pernah berbuat kebaikan akan kekal selamanya tinggal di neraka.

    Salam,
    WN

  4. Quiz yang #1-7 jawaban saya adalah:
    Jika merunut kisah Mahabarata dan sejarah turun temurun di Kerajaan Astinapura, maka yang mampu menjadi raja adalah mereka yang mampu duduk di singgasana ato dhampar kencana. Dari sekian banyak anak cucu pandawa yang mampu mendudukinya hanya Abimanyu. Bahkan Duryudana pun dalam rangka untuk memperoleh legitimasi politik, terpaksa harus membuat duplikat singgasana tersebut dalam kesehariannya.
    Dikarenakan Abimanyu tewas dalam Baratayudha oleh Jayadrata (dan juga akumulasi pengeroyokan oleh pasukan Kurawa), maka trahnyalah yang dianggap pantas dan mampu. Perlu diketahui, pada saat itu juga masih hidup cucu-cucu Bima, jadi Parikesit bukanlah cucu satu-satunya. Paling tidak ada 3 anak Gatotkaca yang masih ada, Sasikirana (diangkat Senapati Astina oleh Parikesit), Arya Jayasupena dan Aryasuryakaca.
    Namun anak pandawa semua sudah gugur dalam perang baratayuda.

  5. Jawaban Quiz 1-7:

    A. Anak-anak Pendawa adalah:

    1. Puntadewa/Yudistira berputra Pancawala. Tidak secara eksplisit diceritakan apakah Pancawala turut dalam Perang Bharatayuda.

    2. Bima berputra Antareja, Gatotkaca, dan Antasena.
    – Antareja, mati menjelang Bharatayudha, dengan menjilat telapak kakinya sendiri.
    – Gatotkaca, gugur di tangan Adipati Karna, kena senjata Kunta, dalam Perang Bharatayuda. Selain menyelamatkan Arjuna dari senjata Kunta (yang hanya dapat digunakan satu kali), Gatotkaca membayar karmanya kepada Kalabendana, paman yang tidak sengaja dibunuhnya (dalam kisah Abimanyu memperistri Utari)
    – Antasena, mati muksa, menjelang Bharatayuda, sebagai tumbal bagi kemenangan Pandawa.

    Gatotkaca berputra Sasikirana, dan Jayasumpena. Kelak menjadi senapati Hastina di masa pemerintahan Prabu Parikesit.

    3. Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak, yang laki-laki gugur dalam Perang Bharatayuda, kecuali Wisanggeni yang mati muksa menjelang Bharatayuda.

    1). Dewi Sumbadra, berputra Raden Abimanyu; gugur di tangan Jayadrata;
    2). Dewi Larasati, berputra Raden Sumitra dan Bratalaras; Raden Sumitra gugur di tangan Bisma.
    3). Dewi Srikandi, tidak berputra;
    4). Dewi Ulupi/Palupi, berputra Bambang Irawan; mati sampyuh melawan Kalasrenggi.
    5). Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti; mati di tangan Bisma.
    6). Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka; gugur di tangan Bisma
    7) Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni; mati muksa menjelang Bharatayuda
    8). Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga; gugur di tangan Bisma
    9). Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati;
    10) Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma; gugur di tangan Bisma
    11). Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa; gugur di tangan Bisma
    12). Dewi Maeswara;
    13). Dewi Retno Kasimpar;
    14). Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada; gugur di tangan Bisma
    15). Dewi Dyah Sarimaya.

    4. Nakula berputera Dewi Sritanjung.
    5. Sadewa berputera Bambang Widapeksa, kelak beristri Dewi Sritanjung.
    ———————————————————————————–

    B. Parikesit ditetapkan sebagai pewaris tahta Hastina, menggantikan Puntadewa/Yudistira, karena dia putera Abimanyu, yang mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Pengemban Wahyu Cakraningrat akan menurunkan raja-raja besar. Selain itu, waktu masih ada dalam kandungan, Abimanyu menerima pula “Wahyu Hidayat”.

    Bagaimana dengan keturunan Pendawa lainnya? Adakah kemungkinan terjadi perebutan di antara keturunan Pendawa selain Arjuna? Tidak. Sudah dipertimbangkan, karena:
    Pancawala, anak Puntadewa, tidak mempunyai keturunan.
    Keturunan Bima mewarisi Negara Pringgodani,
    Keturunan Nakula dan Sadewa mewarisi Negara Mandaraka, yang dulu milik Prabu Salya, “uwa” Nakula dan Sadewa.

    C. Nilai/Teladan

    Alih kekuasaan Hastina setelah Prabu Pandu tidak disertai huruhara. Berbeda dengan kisah sebelumnya, ketika terjadi perebutan tahta antara Kurawa dan Pendawa.
    Waktu Destarastra sukarela menyerahkan tahtanya kepada Pandu, dia lalai, tidak memperhitungkan kemungkinan keturunannya nanti menginginkan tahta itu, mengingat Destarastra adalah putra sulung.
    Kemungkinan ini seharusnya diperhitungkan.

    Ini menjadi teladan bagi kita semua.
    Kesepakatan antar saudara, terutama dalam hal pembagian hak-milik, harus dipertimbangkan masak-masak. Apa yang disetujui para orangtua, belum tentu menjadi kesepakatan anak keturunan mereka, manakala para orang tua pembuat kesepakatan itu telah meninggal dunia.
    ————————————————————————————
    Salam,
    Baskara

  6. Jawaban Quiz 1-8

    A. Sekilas Episode Pandawa Seda.

    Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi melakukan perjalanan mendaki Gunung Mahameru, guna mencapai Swargaloka, ditemani seekor anjing, yang berjalan di samping Puntadewa.
    Dalam pendakian itu, satu persatu persatu menemui ajalnya, kecuali Puntadewa bersama anjingnya.
    Yang mengalami kematian sebelum mencapai puncak Mahameru (dalam versi India puncak Himalaya) menandakan bahwa tubuh/badan fisiknya tidak kuat lagi, dan badan wadag itu harus ditinggalkan di dunia. Sukmanya lah yang kemudian melayang menuju Swargaloka.
    Rincian sekilas dan urutan kematian Pendawa dikisahkan sebagai berikut:
    1. Drupadi yang pertama menemui ajalnya. Badan wadagnya tidak dapat ikut mencapai puncak, karena semasa hidupnya, Drupadi ada rasa pilih kasih dalam menyayangi Pendawa. Yaitu, dalam hati kecilnya, Drupadi lebih menyayangi Arjuna daripada Pendawa yang lain.

    2. Sadewa. Karena dalam hati kecilnya, dia merasa bahwa dia lah yang terpandai di antara saudara-saudaranya.

    3. Nakula. Dia merasa yang paling cakap di antara Pandawa.

    4. Arjuna. Dia merasa sombong, karena merasa yang paling piawai dalam olah kanuragan, paling pandai memanah, dan paling digandrungi wanita.

    5. Bima, karena dia merasa paling kuat, paling tangguh, tidak ada yang ditakutinya.

    Setelah Drupadi dan keempat saudaranya tidak bisa meneruskan perjalanan, tinggal Puntadewa, yang sering dijuluki “Si Penakut”, masih bertahan. Dia sampai di puncak, ditemani anjingnya yang setia.

    Sampai di gerbang Swargaloka, dia dihadang oleh salah seorang dewa.
    Terjadilah percakapan panjang lebar, yang intinya seperti berikut ini:
    “Selamat datang, Puntadewa.Tinggal engkau seorang yang diberi izin memasuki alam Kahyangan bersama badan wadagmu. Silakan masuk. Tetapi, kau harus meninggalkan anjingmu, karena seekor binatang tidak boleh masuk Kahyanan.”
    “Terima kasih, Pukulun. Tetapi hamba rela mati di sini saja, supaya masih tetap bisa bersama-sama saudaraku dan anjing ini, biarlah badan wadagku tetap tinggal di dunia. Hamba lebih berbahagia kala sukma hamba berkumpul kembali bersama mereka.”

    Seketika itu juga anjing itu beralih rupa, kembali berujud sebagai Betara Dharma. Itu lah ujian terakhir bagi Puntadewa.
    Puntadewa dipersilakan masuk, dan bersama Betara Dharma dan dewa yang menghadangnya tadi, diantar melihat keadaan Kahyangan.
    Pertama yang dilihatnya adalah sukma Kurawa dan sekutu-sekutunya, sedang bersenang-senang, makan minum, dan menikmati kesenangan-kesenangan lainnya, sebagaimana biasa mereka lakukan di dunia.
    Setelah itu Puntadewa dibawa ke bagian lain, tempat yang sangat panas, sangat tidak nyaman. Di sanalah Puntadewa melihat sukma Karna, dan sukma Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Drupadi. Setiap kali tempat itu didatangi Puntadewa, hawa panas berubah menjadi sejuk, nyaman.
    Di bagian lainnya, Puntadewa menyaksikan sukma-sukma yang sedang disiksa. Ada yang bibirnya ditarik panjang, ada yang sedang dipukuli, dan banyak lagi lainnya.
    Melihat semua itu, Puntadewa termenung. Mengapa Kurawa malah mendapat kesenangan, sedangkan Pandawa tetap menderita, seperti keadaan di dunia dulu?

    Tiba lah saatnya Puntadewa sampai ke tempat yang telah disediakan baginya. Suatu tempat yang sungguh nyaman, dan berada di sana, dia senantiasa merasakan kebahagiaan.

    Dan, terjadilah perubahan bagi sukma-sukma lainnya. Pandawa, Drupadi, dan sahabat-sahabatnya berpindah tempat, ikut berdiam bersama Puntadewa, menikmati kebahagiaan abadi.
    Sementara itu, Kurawa dan sekutu-sekutunya, berpindah tempat ke tempat yang sangat panas, merasakan penderitaan.

    B. Nilai yang terkandung.

    1. Puntadewa melambangkan manusia yang nyaris sempurna. Dia langsung memasuki kebahagiaan, tanpa disiksa terlebih dulu di bagian yang sangat panas.

    a. Hal itu diperolehnya karena semasa hidupnya, Puntadewa selalu berbuat baik, memberi manfaat kepada sesama. Hal tercela yang dilakukannya hanyalah ketika main dadu, mempertaruhkan negaranya dan Drupadi, dan ketika harus berbohong sedikit, berpura-pura, ketika ditanya Dorna perihal kematian Aswatama.

    b. Ujian terakhir Puntadewa adalah saat dia tidak mau meninggalkan anjingnya setelah mencapai Puncak Mahameru, menjelang masuk kahyangan. Ini melambangkan semulia-mulia manusia, adalah yang memberi manfaat kepada sesama.
    Ini sesuai pula dengan ajaran Islam, manusia yang paling baik adalah dia yang paling bertakwa (Quran surat 49 ayat 13).

    c. Hal-hal yang diperlihatkan kepada Puntadewa di Kahyangan, mengingatkan saya kepada kisah Mi’raj Nabi Muhammad. Peristiwa-peristiwa yang dilihat Puntadewa itu merupakan metafora, “sanepa”, tentang amal perbuatan manusia di dunia, yang tidak lepas dari Hukum Sebab-Akibat. Semua amal manusia, baik atau buruk, walau pun sekecil apa pun, akan mendapatkan balasannya. Dalam ajaran Islam, disebutkan dalam Surat 99 ayat 6-8. “Amal baik dan buruk, walau pun sebesar “jarah”, akan mendapatkan balasannya. (“jarah” adalah kata Arab yang menggambarkan sesuatu yang terkecil).

    2. Perlambang yang lain:

    a. Kematian Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, Bima melambangkan keadaan manusia pada umumunya. Sebaik-baik manusia, masih menyimpan sifat yang kurang baik.
    Sukma mereka menerima siksa dulu, sebelum menikmati kebahagiaan abadi di Surga.

    b. Kesenangan Kurawa pada masa awal kehidupan mereka di Kahyangan melambangkan keterikatan manusia akan nikmat duniawi. Untuk mencapai kebahagiaan abadi, keterikatan duniawi harus dilepaskan. Keterikatan itu tidak terbatas pada harta benda saja, melainkan juga keterikatan pada jabatan, pangkat, kekuasaan, bahkan kecintaan kepada anak. Itu semua harus dilepaskan.
    Ini lah makna lain dari “La illaha illAllah”, “Tiada Tuhan selain Allah”.
    Janganlah kau menuhankan jabatanmu, menuhankan anak-anakmu.

    C. Kesimpulan

    Kisah wayang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, membuka cakrawala kita kepada wawasan yang lebih luas. Pada hakekatnya, inti ajaran agama adalah sama.
    Yang terlihat berbeda, pada dasarnya sama. Sesuai pula dengan yang telah dirintis pendahulu kita, yang tercermin pada ungkapan: “Bhinneka Tunggal Ika”, yang sesungguhnya ada lanjutannya, yang masih sering dilupakan orang, yaitu: “Tan hana dharma mangrwa”.
    Bila kita masih merasa diri kita yang paling benar (dilambangkan oleh Pandawa selain Puntadewa), berarti masih ada bagian pada diri kita yang harus ditingkatkan.
    —————————————————————————————

    Salam,
    Baskara

  7. Wah maaf telat ikut Quiz ini saya akan mencoba menjawabnya.
    Quiz 1-7
    Setelah perang besar Bharatayuda berakhir tahta kerjaan Astina dipegang oleh Yudistira sebagai saudara tertua dari Pandawa. Setelah Yudistira tahta kearjaan kemudian diserahkan kepada Parikesit Putra dari Abimayu atau cucu dari Arjuna. Tahta kerajaan Astina sebenarnya mau diserahkan kepada Abimayu, Ambimanyu ialah seorang pemuda perkasa yang telah menerima Wahyu Cakraningrat namun dalam perang Bharatayuda Abimanyu gugur ditangan para musuhnya.
    Setelah perang Bharatayuda selesai terjadi peristiwa yang memilukan yaitu saat Aswatama putra dari Dorna menyerang kemah para pandawa dan menewaskan keturunan padawa. Parikesit yang waktu itu masih dalam kandungan sebenarnya juga dapat dibunuh oleh Aswatama tetapi dapat diselamatkan ole Sri Kresna.
    Setelah perang bharatayuda selesai keturunan Pandawa tinggal parikesit, selain itu Parikesit juga merupakan putra dari Ambimayu yang sejak semula mau diangkat sebagai raja. maka setelah Abimayu meninggal Parikesit diangkat menjadi raja Astina menggantikan Yudistira.

    Quiz 1-8.
    Setelah menyelesaikan tugas-tugas di dunia Pandawa bersaudara dan Drupadi kemudian pergi untuk menyucikan diri. Mereka mengunjungi tempat-tempat suci dan tujuan terakhir mereka adalam puncak Mahameru di Pegunungan HImalaya. Dalam perjalanan mereka ada seekor anjing yang terus mengikuti dan menemani mereka dengan setia. dalam perjalanan menuju puncak mahmeru itulah para pandawa satu persatu meninggal dunia. Drupadi meninggal untuk pertama kali, kemudian disusul oleh Sadewa dan Nakula, kemudian Arjuna. Setelah Arjuna meninggal kemudian Bima menyusul maka tinggalah Yudistira seorang diri. Walau hanya seorang diri dengan ditemani oleh anjing yang mengikutinya Yudistira terus berjalan mendaki Gunung Himalaya. Pada suatu ketika YUdistira bertemu dengan Batara Indra dengan Kereta kencana yang siap membawa Yudistira menuju ke surga. “Saudara-saudaramu dan Drupadi telah sampai lebih dulu mendahului kamu. Sekarang marilah naik ke keretaku dan kita pergi ke surga” sabda Batara Indra kepada Yudistira.
    Yudistirapun kemudian naik ke kereta dengan tidak lupa membawa anjing yang telah setia menemaninya.
    kemudian Batara Indra berkata “Tidak, tidak, tidak ada tempat untuk anjing di surga.”
    Yudistira menjawab “Batara Indra yang mulia anjing ini telah setia menemani ku sepanjang perjalanan menuju ke tempat ini. Saya akan mengajak anjing ini ikut serta.”
    Batara Indra kemudian berkata lagi. “Surga adalah tempat bagi manusia yang telah menyelesaikan darmanya di dunia tapi bukan untuk anjing”.
    Yudistira menjawab. “Anjing ini telah menunjukkan kesetiaannya kepada saya. Selain itu anjing juga berasal dari asal yang sama dengan manusia. Ijinkanlah hamba mengajak anjing ini.
    Batara indra berkata lagi “Kalau kamu tetap ingin mengajak anjing itu maka kamu tidak boleh ikut ke surga.”
    Yudistira kemudian menjawab “Kalau anjing yang telah setia ini tidak boleh mengikuti hamba ke surga maka lebih baik hamba juga tidak masuk surga. Mana mungkin hamba meninggalkan anjing yang telah dengan setia menemani hamba.
    Setelah berkata demikian Anjing itu berubah menjadi Batara Dharma. Batara Dharma sedang menguji kesetiaan dari Yudistira dan Yudistira lulus dari ujian itu. Yudistira boleh masuk ke surga bersama dengan tubuh manusianya.

    Nilai-nilai yang terkadung.
    1. Anjing yang mengikuti Padawa adalah jelmaan dari Batara Dharma. Dharma adalah satu-satunya hal yang selalu menemani daplam perjalanan hidup orang. Dharmalah, dalam wujud anjing, yang selalu mendapingi Yudistira menjalani perjalanan yang melelahkan dan sulit.
    2. Yudistira adalah sosok manusia unggul. Dalam pewayangan ia disebut sebagai satria yang berdarah putih. ia memegang tinggi kejujuran dan kebenaran sehingga ia memperoleh anugerah dari pada dewa. Ia diijinkan masuk surga bersama tubuh fananya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s