Quiz Wayang #1-5 dan #1-6


QUIZ WAYANG

Tujuan : Mengenal, Memahami, dapat Menikmati dan mampu Memanfaatkan Nilai yang terkandung dalam budaya WAYANG (Lihat uraian disini)

Peserta : Seluruh pengunjung yang ingin berpartisipasi, kecuali Author Blog ini.

Mekanisme pelaksanaan :

  • Setiap hari akan ada satu pertanyaan yang harus di jawab peserta quiz dengan menuliskan jawabannya di komentar dengan menuliskan nama dan email. Penulisan nama dan email diharapkan tidak berubah agar mempermudah penilaian.
  • Rentang Waktu pelaksanaan : 2 Minggu (14 Hari)
  • Waktu pelaksanaan : 24 Mei s.d 6 Juni 2010
  • Metoda Penilaian : 75:25
    • Validitas & Comprehensive : Kebenaran dan kelengkapan jawaban. Jawaban yang benar dan lengkap memiliki nilai tertinggi.
    • Kontinuitas : Jumlah jawaban dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Peserta yang mengikuti quiz setiap hari dengan memberikan jawaban, memperoleh nilai tertinggi.
  • Pemenang :
    • Akan ditetapkan 2 pemenang yaitu Pemenang 1 dan Pemenang 2
    • Hadiah Pemenang 1 :
      • 2 Lakon Pagelaran wayang kulit lengkap
      • 6 Keping DVD MP3 wayang
      • Hadiah lain (kalau ada yang mau nyumbang sebagai sponsor atau berkeinginan ikut berpartisipasi memberikan hadiah)
    • Hadiah Pemenang 2 :
      • 2 Lakon Pagelaran wayang kulit lengkap
      • 3 Keping DVD MP3 wayang
      • Hadiah lain (kalau ada yang mau nyumbang sebagai sponsor atau berkeinginan ikut berpartisipasi memberikan hadiah)

____________

Catatan : Mulai hari ke-3 jawaban dari para peserta akan di hold (tidak ditampilkan) dulu langsung, baru pada hari kemudian di tampilkan.

<<<<<< ooo >>>>>>

QUIZ #1-5

Sungguh malang nasib Pandawa dan Drupadi. Mereka harus menjalani masa pembuangan 12 tahun dan masa penyamaran 1 tahun. Semua adalah akibat kalah dalam main dadu (lakon Pandawa Dadu). Permainan dadu terjadi atas ulah licik Sengkuni dan Duryudana yang memanfaatkan “kelemahan” Yudistira yang pantang menampik undangan dan membuat kecewa kawan atau saudara. Namun semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur.

Saat Kresna kemudian berkunjung di hutan tempat pembuangan menemui Pandawa dan mencerna cerita serta tangisan Drupadi yang dipermalukan dan berusaha ditelanjangi di muka umum oleh Kurawa, maka dengan keras Kresna mengutuk perilaku para Kurawa dan bersumpah di perang Bharatayuda nanti dia akan berfihak kepada Pandawa dan membantunya dengan segenap kemampuannya.

Dan janji itu dipenuhi oleh Kresna saat perang Bharatayuda berlangsung. Kontribusi Kresna sangat besar dalam ikut membantu menyingkirkan Durna (lakon Durna Gugur), menghindakan Arjuna dari termakan sumpahnya sendiri saat menyaksikan anaknya Abimanyu gugur (Jayadrata gugur), pada saat Arjuna melawan Karna (Karna tanding), ketika Bima kewalahan untuk menaklukan Duryudana (Duryudana gugur).

Kontribusi macam apa yang diberikan oleh Kresna kepada Pandawa sehingga kemudian memperoleh kemenangan yang gemilang ?

QUIZ #1-6

Siapa sajakah Putra dari Raja Mandura, Prabu Basudewa ? dan sebutkan nama ibunya.

Ceritakan sekilas tentang KANGSA dan Arya UDAWA !

6 thoughts on “Quiz Wayang #1-5 dan #1-6”

  1. Jawaban Quiz I-5:

    A. Kontribusi Kresna membantu Pandawa hingga menang perang Bharatayudha:

    1. Dalam lakon Durna gugur.
    Ketika Durna maju sebagai panglima perang Kurawa, kesaktiannya tidak tertandingi oleh pihak Pandawa. Kelemahan Durna adalah kasih sayangnya kepada anaknya, Aswatama. Sebelum maju perang, dia berpesan supaya Aswatama tidak ikut terjun ke medan laga.
    Mengetahui kelemahan ini, Prabu Kresna menyuruh Pandawa membunuh seekor gajah yang bernama Swatomo, kemudian balatentara Pandawa diminta bersorak-sorai: “Swatomo mati, swatomo gugur, swatomo gugur.”
    Mendengar gegap-gempita itu, Durna keder hatinya, hilang semangatnya. Pendengarannya sudah agak berkurang, sehingga dikiranya yang mati anaknya. Tapi dia belum percaya sepenuhnya, hingga dia bertanya kepada seseorang yang tidak pernah bohong.
    Dia bertanya kepada muridnya yang dipercaya: “Yudistira muridku, kau tidak akan berbohong kepadaku. Benarkah Aswatama telah mati?”.
    Yudistira, yang sesunggguhnya telah dibujuk Kresna agar sedikit berbohong, menjawab:”Ya guru, aku tidak membohongimu. Yang mati adalah “esti” Swatomo”. (Yudistira tidak mau berbohong).
    Dalam pemahaman Durna, dia percaya, karena dia mendengar “Esti” sebagai “estu”, bahasa Jawa yang berarti “benar”. Sedangkan maksud Yudistira, “esti” maknanya “gajah”.
    Runtuhlah semangat Durna, sehingga dia tidak ingin hidup lagi, dan memilih mati di medan laga, gugur sebagai ksatria. Akhirnya Durna yang sakti itu gugur di tangan Destrajumena.

    (ada versi yang menceritakan bahwa Destrajumena menikam Durna dari belakang, sehingga berhasil menewaskannya).

    2. Saat mendengar bahwa Abimanyu telah gugur dengan cara diranjap (dijebak Kurawa kemudian dikeroyok beramai-ramai), hancurlah hati Arjuna. Yang melancarkan serangan mematikan Abimayu adalah Jayadrata (sering disebut juga Jayajatra).
    Arjuna bersumpah, bahwa sebelum matahari terbenam, dia akan membunuh Jayadrata. Jika matahari terbenam dan Arjuna tidak berhasil membunuh Jayadrata, Arjuna akan bunuh diri.
    Mendengar sumpah Arjuna, Kurawa menyembunyikan Jayadrata dan melindunginya dengan penjagaan berlapis-lapis.
    Arjuna berada di tengah gelanggang, mencoba mencari Jayadrata, tetapi tidak berhasil menemuinya, hingga matahari condong ke barat.
    Kurawa sudah bergembira, karena yakin tak lama lagi matahari terbenam, Arjuna bakal bunuh diri.
    Kresna turun tangan: dia gunakan senjata Cakra menghalangi matahari, sehingga sinarnya terhalang. Suasana mencekam, bagaikan sudah mendekati senjahari. Pelan-pelan terlihat seakan-akan matahari telah terbenam, Arjuna berdiri di gelanggang, matanya sayu, tangannya tetap memegang busur dan anak panah.
    Kurawa bersorak -sorai, menunggu Arjuna melaksanakan sumpahnya, bunuh diri.
    Jayadrata, yang pandangannya terhalang karena dilindungi pasukan Kurawa berlapis-lapis, ingin tahu juga bagaimana Arjuna bunuh diri. Dia melompat-lompat, ingin melihat ke tengah gelanggang.
    Saat itu lah, sebenarnya Arjuna masih waspada. Dilihatnya di kejauhan, kepala Jayadrata timbul tenggelam, di balik pasukan Kurawa. Ditunggunya saat yang baik. Tepat ketika kepala Jayadrata muncul lagi, walau sekilas, melesatlah panah Pasopati milik Arjuna, telak mengenai leher Jayadrata.
    Putuslah lehernya, dan kepala Jayadrata terlempar jauh, hingga jatuh ke depan bapak angkatnya, Begawan Sempani.
    Pelahan-lahan Kresna menarik senjata Cakranya, dan matahari bersinar kembali. Hari sudah sore, tetapi matahari belum tenggelam.
    Arjuna tidak jadi bunuh diri.

    3. Kala Arjuna harus maju melawan Karna, sempat gundah hatinya, melemah semangat bertempurnya. Saat itu sudah banyak jatuh korban, termasuk Abimanyu, Gatotkaca, Bisma, Seto, dan lain-lain. Sempat hilang kemauannya berperang, untuk apa dia harus membunuh saudara sekandungnya, hanya untuk kenikmatan duniawi berupa kerajaan Hastina? Lebih pentingkah harta benda daripada nyawa saudara-saudara, guru, sahabat?
    Melihat itu, Kresna mengajak Arjuna berbincang-bincang. Percakapan Arjuna-Kresna ini kemudian tercatat sebagai “Bhagavad Gita”. Intinya adalah, Arjuna berperang menjalankan perannya sebagai ksatria, dan berdharma membasmi kejahatan.
    Bangkitlah semangat Arjuna, sehingga majulah dia ke medan laga dengan semangat baru, mengendarai kereta yang disaisi Kresna. Berkat kepiawaian Kresna mengendarai kereta, Arjuna selalu luput dari panah Karna. Akhirnya Arjuna menang.

    4. Pada hari terakhir Bharatayudha, habislah ksatria Kurawa, tinggal Duryudana seorang. Majulah dia, dan diberi kelonggaran memilih lawannya. Duryudana memilih Bima. Bertandinglah mereka, menggunakan gada. Mengapa Duryudana memilih Bima? Karena, dalam perang tanding itu, disepakati aturan yang memang berlaku pada jaman itu, bahwa untuk pertandingan menggunakan senjata gada, dilarang menyerang bagian tubuh di bawah pusar.
    Duryudana punya kesaktian kekebalan tubuh, tidak mempan senjata, kecuali pahanya.
    Pertandingan itu disaksikan orang banyak, termasuk Prabu Baladewa. (dalam versi lain, Baladewa usai bertapa ketika Bharatayuda telah selesai, ada pula versi yang mengkisahkan Baladewa menyaksikan hari terakhir saja).
    Bima lupa kelemahan Duryudana ini, sehingga setelah bertempur sekian lama, belum berhasil mengalhkan Duryudana.
    Kresna menyuruh Arjuna berdiri di arah pandangan mata Bima.
    Kresna tahu gaya bertanding Duryudana, yang sering menyerang sambil melompat tinggi.
    Pada saat yang tepat, Kresna memberi isyarat agar Arjuna memperagakan gerakan memukul pinggang. Melihat itu, Bima melancarkan pukulan kearah pinggang Duryudana. Saat itulah, Duryudana sedang melompat, maka terpukullah pahanya, titik lemahnya. Itu lah awal kekalahan Duryudana di tangan Bima.

    Melihat Duryudana terpukul pahanya, marahlah Baladewa. Dia menganggap Bima melanggar peraturan perang tanding gada. Tapi kemudian Kresna menjelaskan, bahwa Bima tidak sengaja memukul paha, yang diserang pinggang. Kebetulan Duryudana melompat, hingga kena pahanya.
    Mendengar penjelasan itu, redalah amarah Baladewa.

    Catatan:
    Selain 4 hal di atas, masih banyak lagi siasat Kresna membantu Pandawa. Antara lain, membantu Setyaki membunuh Burisrawa, membujuk Yudistira melawan Salya.

    B. Nilai dan teladan yang terkandung.

    1. Nilai terbesar yang terkandung dalam peran Kresna dalam Bharatayudha, adalah Bagavad Gita, percakapannya dengan Arjuna menjelang bertanding melawan Karna. Versi lengkap Bhagavad Gita bisa berupa buku yang sangat tebal. Inti ajaran Hindu tercakup dalam Kitab Bhagavad Gita ini. Waktu saya mendengarkan versinya berupa percakapan Kresna-Arjuna dalam lakon Karna Tanding, hanya berdurasi kurang dari 10 menit.
    Interpretasi Bhagavad Gita juga bervariasi, tergantung pada tingkat pemahaman yang membacanya. Saya sendiri, kali pertama membacanya, kemudian membaca ulang, juga mendapatkan pemahaman baru. Pengertian kasta dalam ajaran Hindu juga bersumber dari Bhagavad Gita ini. tetapi interpretasinya bisa berbeda.
    Bhagavad Gita dengan bermacam versinya (dan bahasa), bisa diunduh dengan gratis di internet.

    2. Yudistira terpaksa (sedikit) berbohong kala ditanya Dorna mengenai kematian Aswatama. Konon, ada versi yang menceritakan bahwa begitu Yudistira mengucapkan bohong ini, keretanya yang semula melayang 20 cm di atas tanah, langsung mendarat ke bumi, sebagaimana layaknya kereta-kereta yang lain. Suatu pertanda, bahwa Yudistira pun manusia biasa, yang bisa berbuat salah.
    Makna: Bahkan terkadang karena situasi memaksa, tokoh sekaliber Kresna pun terpaksa menggunakan siasat ini, yaitu mempedayai lawan.
    Sesuai peribahasa: “Tiada gading yang tak retak”, akhirnya Yudistira pun pernah berbohong juga (walau pun sedikit).
    Sesungguhnya, Dorna gugur juga akibat karmanya kepada Ekalaya di masa lalu. Sukma Ekalaya “manjing” ke dalam diri Drestajumena waktu membunuh Dorna.

    3. Dalam pertempuran Bima lawan Duryudana pun, terpaksa Kresna melakukan siasat, membantu Bima dengan tidak kentara. Itu pun karena Duryudana memanfaatkan peraturan dalam adu gada yang biasa berlaku pada jaman itu, demi keuntungannya.
    Teladan: Siasat harus dilawan dengan siasat, asal masih dalam jalur aturan (atau kesepakatan bersama) yang berlaku.
    Dalam jaman modern ini, aturan atau kesepakatan bersama itu lazim disebut Undang-undang, yaitu aturan yang tertulis. Kita harus ingat bahwa selain hukum tertulis, ada juga hukum tak tertulis.

    4. Dalam upaya melindungi Arjuna dari akibat sumpahnya sendiri, Kresna pun melakukan “tipuan”, seolah-olah hari telah senja, pada hal matahari belum terbenam.
    Kresna melakukan itu pun, karena dipicu oleh kecurangan Kurawa sebelumnya, yaitu menjebak Abimanyu hingga terpisah dari pasukannya, kemudian mengeroknya beramai-ramai.
    Walau pun sesungguhnya ini pun tak lepas dari karma Abimanyu di masa lalu, ketika mengucap sumpah kepada calon isteri yang kedua, bahwa dia belum beristri, dann bila dia bohong, kelak akan mati dengan luka “arang-kranjang”.
    —————————————————————————————
    Salam,
    Baskara

  2. Salam, kangmas Prabu.
    Rupanya masih ada pertanyaan lain:

    Siapa sajakah Putra dari Raja Mandura, Prabu Basudewa ? dan sebutkan nama ibunya.
    Ceritakan sekilas tentang KANGSA dan Arya UDAWA !QUIZ WAYANG

    1. Putera Raja Mandura:
    – Kakrasana (kelak bergelar Prabu Baladewa). ibunya Dewi Mahendra (nama lainnya Dewi Mahira, Dewi Maekah).
    – Narayana (kelaj bergelar Prabu Kresna), ibunya Dewi Mahendra
    – Lara Ireng (Dewi Sumbadra); ibunya Dewi Badrahini.
    – Arya Udawa; ibunya bernama Ken Sagupi, seniwati Mandura yang dikawini tidak resmi oleh Prabu Basudewa.

    catatan:
    a.-versi lain menyebut Arya Udawa adalah anak pasangan Kyai-Nyai Sagupi yang bermukim di Widarakandang. Selain Udawa, Kyai-Nyai Sagupi punya anak Dewi Larasati.
    Pada masa kecilnya, Kakrasana, Narayana, Lara Ireng, Udawa, Larasati, bersama-sama tinggal bersama Kyai-Nyai Sagupi di Widarakandang, dan mereka mengira sebagai anak Kyai-Nyai Sagupi.

    b. Ada anak Dewi Mahendra yang lain bernama Kangsa, yang juga diakui sebagai anak Prabu Basudewa.

    2. Riwayat singkat Kangsa dan Arya Udawa:

    Dewi Mahira melahirkan anak yang diberi nama Kangsa, lahir dari hubungannya dengan Prabu Gorawangsa yang menyamar sebagai Prabu Basudewa, tatkala raja Mandura ini sedang mengemban tugas, pergi dari Negara Mandura.

    Kangsa diasuh oleh Ditya Suratimantra, adik Gorawangsa.
    Menjelang dewasa, oleh Suratimantra dibawa ke Mandura dihadapkan kepada Prabu Basudewa. Dengan kebesaran hatinya, mengingat Kangsa dilahirkan istri sahnya, Basudewa mengaku Kangsa sebagai anaknya.
    Sementara itu, untuk melindungi dari bahaya dibunuh Kangsa, anak-anak kandung Basudewa yaitu Kakrasana, Narayana, Lara Ireng, diungsikan ke Widarakandang, diasuh oleh Ken Sagupi, “emban” Mandura, yang kemudian bermukim di Widarakandang dan kawin dengan Kyai Sagupi. Kakrasana, Narayana, dan Lara Ireng tidak diberitahu bahwa mereka anak raja Basudewa,
    Kyai-Nyai Sagupi juga beranak Arya Udawa dan Dewi Larasati.

    Belakangan Kangsa, dalam upayanya merebut negeri Mandura, mengadakan “adu jago” melawan Basudewa, dengan taruhan Kerajaan Mandura. Jago Kangsa adalah Suratimantra, dan jago Basudewa adalah Jagal Abilawa, yang sesungguhnya Bima dalam penyamaran.
    Dalam adu jago itu Suratimantra tewas, dan Kangsa dibunuh Kakrasana dengan senjata Nanggala.
    Baru lah secara resmi Kakrasana, Narayana, dan Lara Ireng dinyatakan sebagai putra-putri Raja Basudewa.
    Kelak Kakrasana menggantikan ayahnya menjadi Raja Mandura bergelar Prabu Baladewa. Narayana menjadi raja Dwarawati setelah menaklukkan rajanya, dan Udawa diangkat menjadi patih Dwarawati.
    Lara Ireng menikah dengan Arjuna, dan Larasati menjadi selir Arjuna.

    3. Nilai dan Teladan dari kisah ini:

    a. Membuktikan kebesaran hati Prabu Basudewa, yang rela mengakui Kangsa sebagai anaknya, karena beliau sadar bahwa Dewi Mahendra tidak berbuat serong.

    b. Kebijaksanaannya mengungsikan Kakrasana, Narayana, dan Lara Ireng untuk keluar istana, dan diasuh Kyai-Nyai Sagupi di Widarakandang. Dengan begitu, Kakrasana dan Narayana berkesempatan menuntut ilmu dan merasakan sukaduka kehidupan rakyat jelata. Sehingga kala tiba saatnya menjadi raja, bisa memerintah dengan bijaksana.
    Konon kebiasaan ini juga ada di negeri Tiongkok dan Korea. Calon-calon kaisar dikirim ke biara (di antaranya yang terkenal Shaolin) untuk dibekali bermacam ilmu dan pengetahuan.
    Di jaman modern pun, ada tradisi di Inggris, putera mahkota kerajaan Inggris wajib masuk militer.
    ——————————————————————————

    Salam,
    Baskara

  3. Maaf, nuwun sewu, punteun …
    Karena kesalahan teknis maka yang seharusnya pertanyaan untuk besok ternyata terpublish bersamaan dengan hari ini ….
    Quiz nomor 1-5 dan 1-6 terkirim bersama-sama …
    Untuk jelasnya yng nomor 1-5 adalah mandura
    yang nomor 1-6 tentang peranan Kresna di Bharatayuda

    Jadi karena sudah terlanjur maka sekalian saja pertanyaan atau quiz ini untuk hari ini dan besok

    Mohon maaf ya …

    1. Jawaban Quiz 1-5

      Siapa saja anak Ranja Mandura ( Prabu Basudewa )

      Istri Prabu Basudewa yang resmi ada 4 yaitu :
      1. Dewi Maerah atau Dewi Amirah….penah di cidra resmi oleh Prabu Gorawangsa ketika Prabu Basudewa berburu ke hutan..kelak lahir Raden Kangsa

      2. Dewi Rohini…melahirkan Raden Kakrasana ( kelak jadi Prabu Baladewa penerus tahta Mandura )

      3. Dewi Saki atau Dewi Ngaki melahirkan Raden Narayana ( kelak jadi Prabu Kresna raja Dwarawati )

      4. Dewi Badraini..melahirkan Rara Ireng atau Dewi Wara Sumbadra

      Ada 1 istri tidak resmi yaitu Nyai Sagopi..melahirkan Raden Udawa..

      Raden Kangsa ketika sudah besar di berikan tanah perdikan di Mandura dengan Gelar Prabu Anom Wara Kangsa di tlatah Sengkapura ..sedangkan ke empat anaknya ; Kakrasana,Narayana,Rara Ireng dan Udawa disembunyikan di Widara Kandhang dititipkan kepada Kiai Sagopa ..tetapi setelah sekian lama di Sengkapura dan mendapatkan bujukan dari Patih Suratimantra untuk meminta hak sebagai pengganti raja Mandura….maka keluarlah lakon wayang ” Kangsa Adu Jago “..siapa yang kalah harus keluar dari Negara Mandura. Sebetulnya Adu Jago ini hanya taktik agar anak-anak Mandura yang berada di Widara Kandhang bisa keluar..jadi gampang untuk dibunuh oleh Kangsa..sehingga mempermudah dirinya untuk naik tahta Kerajaan Mandura.
      Di dalam lakon ini Kangsa memiliki Jago Patih Suratimantra sedangkan Raja Mandura Prabu Basudewa mendapatkan jago yang di cari oleh Prabu Setyajid yaitu Raden Bratasena.
      Akhir cerita Suratimantra mati diangan Raden Bratasena..dan Kangsa sendiri mati ditangan Raden Kakrasana dan Raden Narayana.

      Setelah Prabu Basudewa Mangkat…maka Raden Kakrasana naik tahta menggantikan orang tuanya..dan Raden Udawa diangkat sebagai Patih..karena telah berjasa pada kehidupan Raden Kakrasana dari kecil hingga dewasa selama di Widara Kandhang…

      Udawa juga putra dari Prabu Basudewa..dari Nyai Sagopi.

  4. Jawaban Quiz Wayang # 1-5

    1. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Resi Bismo,

    Pada awal Resi Bismo maju ke medan perang, tidak satupun senopati Pandowo yang bisa mengalahkan Resi Bismo, bahkan makan korban Senopati gugur pihak pandowo banyak sekali seperti Senopati dari Wiroto (Seto, Wratsongko, Utoro) dan beberapa anak Arjuna. Kemudian Kresno datang ke medan perang dan akan membunuh Resi Bismo dengan Senjata Cakra Pamungkasnya, kemudian Resi Bismo mengendor dalam berperang dan menyembah Prabu Kresno sebagai penjemaan Batara Wisnu yang akan memberikan kebahagiaan, kemudian Resi Bismo meminta dan siap gugur tapi harus dengan Senopati Pandowo wanita. Kemudian Srikandi diangkat menjadi Senopati perang. Karena Bismo sudah tahu bahwa mendiang istrinya yaitu dewi Ambo telah menitis ke tubuh Srikandi, sehingga resi Bismo menurunkan senjatanya dan pasrah siap gugur melawan Srikandi, kemudian Srikandi melepas panah saktinya dan mengenai dada resi Bismo dan akhirnya gugur dimedan perang. (Bisa didengarkan pada cerita Kresno Duto).

    2. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Jayajatra

    Setelah Abimanyu gugur dan Arjuna mendengar kabar bahwa yang membunuh anaknya adalah Jayajatra, sehingga didepan Prabu Kresno, Arjuna bersumpah akan mati bunuh diri dalam bara api, bila hingga sore nanti ia tidak bisa membunuh Jayajatra. Begawan Sempani (Orang tua Jayajatra) mendengar dan langsung menyembunyikan Jayajatra dalam Gedung Baja dan menasehatinya agar diam didalam gedung dan jangan mendengarkan apapun suara dari luar gedung dan jangan melihat apapun yang berada diluar gedung, kemudian Begawan Sempani juga menciptakan Jayajatra 1000 yang sama. Dalam hal ini Arjuna bingung, yang mana sebetulnya Jayajatra yang asli. Prabu Kresno kemudian memberi nasehat pada Arjuna, bahwa Jayajatra yang asli sedang disembunyikan dalam gedung baja, dan yang diluar semua tidak asli dan kemudian menyuruh Arjuna agar mementang panah Kyai Gandewo yang dapat mendatangkan panah narocobolo yang jumlahnya ribuan untuk melenyapkan Jayajatra palsu ciptaan Begawan Sempani. Kemudian semua Jayajatra palsu dapat dilenyapkan secara bersamaan. Setelah itu Prabu Kresno memberi tahu Arjuna bahwa matahari akan ditutup dengan senjata cakra agar suasananya menjadi remang-remang seperti menjelang malam, dan Arjuna harus selalu waspada pada jendela gedung baja yang ditempati Jayajatra dan harus siap mementang panah Kyai Pasopati. Setelah matahari ditutup dengan senjata cakra dan nampak suasana telah remang-remang seperti menjelang malam, prabu kresno kemudian menyuruh prajurit pandowo untuk berteriak bahwa Arjuna akan PATI OBONG (Bunuh diri dengan membakarkan badannya pada bara api). Berita tersebut sudah tersiar pada para Kurawa termasuk Durna, Duryudana, dan Jayajatra dalam gedung. Semua prajurit Pandowo dan Kurawa menonton bara api yang rencana untuk bunuh diri Arjuna. Yang menonton termasuk Durno dan Duryudono. Ketika Prabu Kresno melihat bahwa Jayajatra telah berani mengintip lewat jendela gedung baja yang mana leher keatas kelihatan dan leher kebawah tidak nampak, kemudian Prabu Kresno memberi Sasmito kepada Arjuna, bahwa Jayajatra lehernya sudah kelihatan dan dia akan mengambil senjata cakranya dilangit. Setelah senjata cakra diambil, ternyata masih jam 2 siang dan dengan sigap Arjuna mementang langkap dan anak panahnya mengenai leher Jayajatra putus jatuh diluar gedung dan kemudian bersorak gembira para prajurit Pandowo. Kepala Jayajatra kemudian dilempar kepangkuan Begawan Sempani yang sedang semedi oleh Prabu Kresno, dan alangkah kagetnya bahwa anaknya tinggal kepala saja, kemudian ia tetap bersemedi agar anaknya tetap hidup dan diberi senjata kemudian siap mengamuk dimedan perang yang dapat membunuh para anak Arjuna, sehingga tidak satupun anak Arjuna tersisa. Prabu Kresna kemudian mendatangi Begawan Sempani, dan menggoda dalam semedinya agar bicara anaknya mati bukan hidup. Pada waktu Begawan Sempani mengucapkan bahwa anaknya mati, Prabu Kresno meninggalkan Begawan Sempani dan menyuruh Bima untuk menggunakan Gada Rujak Polo untuk menghancurkan kepala Jaya jatra, akhirnya Jayajatra Gugur.

    3. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Begawan Sempani.

    Setelah Jayajatra gugur, begawan Sempani mengamuk dan banyak prajurit Pandowo yang gugur, akhirnya Prabu Kresno memanggil Arjuna, bahwa Begawan Semapani tidak bisa dibunuh dengan senjata, melainkan begawan Sempani akan meninggal dengan sendirinya bila ia kedinginan, kemudian menyuruh Arjuna untuk memuja hujan, setelah hujan lebat datang Begawan Sempani kedinginan dan akhirnya tidak bisa bernafas dan gugur dimedan perang.

    4. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Burisrawa

    Pada waktu Burisrawa perang tanding melawan Setyaki, Setyaki sudah tidak bisa bergerak karena ditindih oleh Burisrawa. Setelah Prabu Kresno melihat, lalu memanggil Arjuna dan bertanya apakah masih ingat cara-cara memanah setelah beberapa lama bingung memikirkan Abimanyu yang telah gugur. Akhirnya Prabu Kresno mengetes agar Arjuna bisa memanah rambut yang mana sebelumnya telah diluruskan ke bahu kanan Burisrawa. Setelah panah dilepas dan mengenai rambut kemudian mengenai bahu kanan Burisrawa sampai putus, dan akhirnya Burisrawa lemah dalam memiting Setyaki dan Setyaki terlepas dari pitingannya Burisrawa kemudian leher Burisrawa dilempar lembing sampai putus dan gugur dimedan perang.

    5. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Pandita Durno.

    Setelah Durno maju menjadi Senopati, Prabu Drupodo gugur dan banyak prajurit Pandowo yang gugur. Prabu Kresno menyuruh Bima untuk membunuh bantuan Kurawa yaitu Prabu Sumarmo, Kartipeyo , Satu permeo, gajah Estitomo, dan seluruh pasukannya . Pada malam hari Bima dapat menghancurkan pakuwon yang ditempati Sumarmo, Kartipeyo, Satu permeo, gajah Estitomo, dan para pasukannya dengan gada rujak polo, sehingga semuanya gugur. Setelah itu Prabu Kresno menyuruh prajurit pandowo untuk berbohong bahwa Aswotomo yang gugur dan bukan Estitomo. Karena ada berita bahwa Aswotomo gugur, sehingga Pandito Durno gusar dalam berperang dan menurunkan semua senjata untuk minta keterangan yang pasti, tapi semuanya bilang bahwa Aswotomo berada di pakuwon Sumarmo, dan sekarang pakuwonnya hancur. Prabu Kresno berharap bahwa Prabu Puntodewo mau berbohong, bahwa yang gugur Aswotomo dan bukan Estitomo, tapi Prabu Puntodewo tidak mau dan akhirnya mau bila menyebut Esti pelan sekali dan Tomo nya yang keras. Pada waktu Pandito Durno menemui Prabu Puntodewo dan mendapat jawaban bahwa yang meninggal adalah Esti (pelan) dan Tomo (keras). Akibat pendengarannya kurang baik, sehingga mengganggap bahwa Aswotomo yang gugur. Karena Pandito Durno tambah sedih & gusar dan hanya tiduran di semak-semak dan tidak mau perang, akhirnya datang Drestojumeno (Anak Prabu Drupodo) yang telah kemasukan roh Prabu Palgunadi dan memotong leher pandito Durno putus dan kemudian dijadikan tendang-tendangan para prajurit pandowo. Prabu Palgunadi adalah raja yang telah dibunuh oleh pandito Durno secara kejam.

    6. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Dursosono

    Pada waktu Dursosono perang tanding melawan Bima, Dursosono mengajak perang kejar-kejaran dan melompat kali Cingcing goling, Prabu Kresno melihat dan menasehati Bima agar tidak melompat kali cingcing goling, karena sudah menjadi prasasti siapa yang melompat kali tsb akan sial dan kalah dalam perang. Setelah ledek-ledekan antara Dursosono dan Bima, ketika Dursosono hendak melompat kembali pada kali tsb, kakinya di jegal oleh roh karto dan temannya yang mana telah dibunuh Dursosono untuk tumbal sebelum perang baratayuda terjadi. Ketika Dursosono jatuh, rambutnya langsung ditarik oleh Bima dan diseret badannya jauh dari kali, kemudian datanglah Duryudono, Sengkuni dan sebagian Kurawa untuk memintakan maaf supaya Dursosono dilepas, tapi Prabu Kresno mengingatkan kejadian yang lalu tentang Drupadi yang dijamah rambutnya oleh Dursosono. Akhirnya Bima menusuk dada Dursosono dengan Kuku Ponconoko untuk diminum darahnya dan gugurlah Dursosono dimedan perang, kemudian disempal-sempal seluruh anggota badannya .

    7. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Prabu Karno

    Sebelum perang tanding antara Prabu Karno dan Arjuna, ada ular naga jadi-jadian yang berasal dari Raja Raksasa Gowa barong yang bernama Prabu Harjowaleko yang akan membalas pati orang tuanya yaitu Prabu Joto Gimbal yang terbunuh oleh Arjuna. Atas petunjuk Parabu Kresno, agar Arjuna melepas panah untuk ular jadi-jadian tsb dan akhirnya ular tsb mati. Sehingga sudah tidak ada gangguan lagi dalam menghadapi Prabu Karno. Pada waktu Prabu Karno melepas panah Kunto wijaya danu, prabu kresno mempercepat jalannya kuda, sehingga Arjuna hanya terkena teropongnya saja, tapi panah pasopati dari Arjuna dapat mengenai leher Prabu Karno hingga putus dan kepala jatuh ke tanah dan badan bersandar di-kereta. Pada waktu prabu karno gugur, badannya berbicara minta agar Arjuna mendekat karena ingin dirangkul, tapi Prabu Kresno melarangnya karena yang bicara tersebut adalah keris kyai Jalak, dan menyuruh Arjuna agar mengeluarkan keris Kalanadah pada waktu mendekati jenasah Prabu Karno. Karena pusaka tsb kalah wibawa, hingga keris kyai jalak kembali ke asalnya dan tidak ada yang bicara lagi.

    8. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Prabu Salyo

    Pada waktu mendengar bahwa Prabu Salyo akan menjadi Senopati, Prabu Kresno menyuruh Kembar Nakula & Sadewo menemui Prabu Salyo pada malam hari sebelum berangkat perang keesokan harinya untuk minta dibunuh saja, karena tidak ingin Nakula & Sadewa melihat jenasah kakaknya besok pagi bila Prabu Salyo menjadi Senopati. Atas permintaan tsb, Prabu Salyo marah, tapi Nakula & Sadewa tetap minta agar dibunuh malam itu, akhirnya iba hatinya karena Nakula & Sadewa adalah darah dagingnya sendiri dan kemudian berkata bahwa sebetulnya hatinya akan membantu Pandowo, tapi lahirnya harus membantu Kurawa karena telah berjanji pada Prabu Duryudono. Akhirnya Negara Mondoroko diberikan oleh Nakula & Sadewa dan menyuruh Nakula Sadewa pulang dan member tahu Prabu Kresno, agar Pandowo besok pagi mengangkat Senopati Prabu Puntodewo dengan membawa pusaka Jamus Kalimasodo. Pada pertemuan di Pakuwonnya Pandowo Mandoloyudo, Nakula & Sadewa melapor bahwa Prabu Salyo meminta agar Pandowo mengangkat Senopati perang Prabu Puntodewo dengan membawa pusaka Jamus Kalimosodo, tapi prabu Puntodewo tidak mau karena tidak pernah berperang. Setelah roh Begawan Bagaspati (mendiang mertua Prabu Salyo) menyatu kedalam tubuh Prabu Puntodewo, akhirnya mau maju kemedan perang. Dalam perang Prabu Salyo gugur setelah dibalang pusaka Jamus kalimasodo.

    9. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Patih Sengkuni.

    Pada waktu Patih sengkuni membanting kopiah (pemberian Abiyoso) di medan perang, terjadi hujan batu dan banyak para prajurit Pandowo yang gugur, kemudian Prabu Kresno memanggil Arjuna dan para Punakawan yang mana Arjuna disuruh memuja hujan agar turun dan angin yang sepoi-sepoi beberapa lama, setelah itu memuja agar hujan berhenti dan matahari dapat timbul setelahnya. Bila Patih Sengkuni kedinginan dan kemudian muncul matahari, biasanya kopiah akan dijemur. Punakawan Petruk & Bagong yang harus bisa mencuri kopiah tsb. Akhirnya kopiah tsb bisa dicuri oleh punokawan. Dan akhirnya Patih Sengkuni dapat ditangkap Bima, dan ditusuk dengan kuku ponconoko, tapi tidak mempan, kemudian Prabu Kresno menasehati Bimo bahwa penafasan Patih Sengkuni berada pada DUBUR, kemudian duburnya ditusuk dan disobek,akhirnya patih Sengkuni gugur dan kemudian dikuliti.

    10. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Duryudono

    Pada waktu terjadi perang tanding anatara Duryudono dan Bima, Prabu Kresno memberi tahu bahwa pengapasan Duryudono adalah kaki kirinya yang mana dulunya tidak ikut dibedaki LISAH TOLO, sehingga setelah digada oleh Bimo kaki kiri Duryudono lari pincang masuk Samodra. Setelah kembali dari samodra yang mana telah bertemu Bathara Rakata Tama (Dewa laut), diberi gada inten yang besar untuk melawan Bima. Pada waktu Duryudono muncul dari lautan dan membawa gada yang besar, Bima agak takut menghadapainya. Akhirnya Prabu Kresno memberi tahu bahwa biar besar gada Duryudono adalah kosong isinya, tapi walaupun gada rujak polo agak kecil tapi mentes. Setelah perang lagi dan disaksikan oleh Prabu Bolodewo, gada duryudono makin lama makin kecil, dan akhirnya prabu Duryudono terkena pukulan Bima jatuh kemudian mukanya diasah diatas batu hingga tak berbentuk manusia lagi. Kemudian prabu Baladewa marah dan akan melawan Bima, pada akhirnya Prabu Kresno mendinginkan prabu Baladewa bahwa kejadian ini merupakan balasan serupa yang pernah dilakukan prabu Duryudono kepada orang yang tak berdosa. Akhirnya prabu Duryudono gugur.

    Reagards,
    WN

  5. Jawaban Quiz 1-5

    MANDURO

    -Silsilah Manduro
    Prabu Kunti Boja menikah dengan Dewi Dayita dan mempunyai anak sbb;
    1) Arya Basudewa,
    2) Dewi Prita/Dewi Kunti,
    3) Arya Prabu Rukma dan
    4) Arya Ugrasena.

    1. Dewi Kunti Melahirkan Karno Basuseno

    Karena dianggap telah menyalah gunakan Aji Pameling dan memanggil Hyang Batara Surya tanpa tujuan, Puteri Prita yang kelak akan dikenal sebagai Dewi Kunti tersebut dikutuk oleh Hyang Batara Surya mengandung anak tanpa bapak.
    Dan karena doa dari Resi Druwasa, Hyang Batara Surya memberi sedikit pengampunan dengan menjanjikan pada Dewi Kunti walaupun Dewi Kunti melahirkan bayi tapi sang Dewi tetap perawan. Hyang Batara juga mengangkat anak Karna yang akan dilahirkan oleh Puteri Prita itu menjadi anak angkatnya.
    Dengan hanya dibantu dayang Kinasih sang Dewi berhasil bersalin dengan lancar. Dan bayi merah yang diberi nama Karna itu atas kesepakatan Prabu Kunti Boja dan Permaisuri Kunti Boja ayah dan ibu sang Dewi, dibuang ke Sungai Gangga.
    Dan dalam perjalanan kisahnya, Karna akhirnya harus tewas ditangan Arjuna adik seibunya dalam perkelahian bersaudara antara Kurawa dan Pandawa. Karna membela kubu Kurawa karena harus membalas kebaikan Duryudana atas pengangkatan dirinya sebagai Raja Awangga, yang sebelumnya dihina sebagai anak sopir itu. (And)

    2. Dewi Kunti mengadakan Sayemboro Pilih

    Cerita ini mengisahkan perjalanan Salya muda ketika diusir dari kerajaan Mandaraka.
    Pertama saat ayahnya marah karena Narasoma tidak mau menikah. Kedua karena ia membunuh Begawan Bagaspati, ayah dari Dewi Pujowati istrinya, karena malu mempunyai mertua Raksasa. Kemudian ia pergi dari kerajaan dengan diikuti oleh adiknya, Dewi Madrim, sampai akhirnya ia berhasil memenangkan sayembara pilih yang diadakan oleh Dewi Kunti, anak dari Prabu Kunti Boja, raja Mandura, namun ia berhasil dikalahkan oleh Raden Pandu Dewanata dalam peperangan, karana Raden Pandu juga menginginkan Dewi Kunti. Bahkan Dewi Madrim pun diberikannya untuk dijadikan isteri Raden Pandu.

    3. Basudewo naik tahta

    Setelah Prabu Kunto Boja berusia lanjut, anak sulung Raden Basudewo diangkat menjadi raja Manduro bergelar Prabu Basudewo. Prabu Basudewa mempunyai tiga orang isteri atau permaisuri dan empat orang putra. Dengan permaisuri Dewi Mahira alias Maerah ia berputra Kangsa. Kangsa sebenarnya putra Prabu Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang dengan beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu dan berhasil mengadakan hubungan asmara dengan Dewi Mahira.
    Dengan permaisuri Dewi Mahindra alias Maerah (dalam pewayangan Jawa), Prabu Basudewa memperoleh dua orang putra bernama Kakrasana alias Baladewa dan Narayana alias Kresna. Sedangkan dengan permaisuri Dewi Badrahini ia berputra Dewi Wara Sumbadra alias Dewi Lara Ireng. Secara tidak resmi, Prabu Basudewa juga mengawini Ken Sagupi, swaraswati Keraton Mandura, dan memperoleh seorang putra bernama Arya Udawa.
    Prabu Basudewa sangat sayang kepada keluarganya. Ia pandai olah keprajuritan dan mahir memainkan senjata panah dan lembing. Setelah usia lanjut, ia menyerahkan Kerajaan Mandura kepada putranya, Kakrasana, dan hidup sebagai pendeta di Pertapaan Randugumbala.
    Dewi Maerah, istri pertama, karena terlibat skandal yang memalukan dengan Prabu Gorawangsa, raja raksasa dari Kerajaan Guwabarong. Walaupun perselingkuhan itu bukan semata-mata kesalahan Dewi Maerah, demi martabat raja dan kerajaan Mandura, Dewi Maerah terpaksa dihukum mati. Namun adik Basudewa, yakni Haryaprabu Rukma yang ditugasi membunuh Dewi Maerah tidak sampai hati melaksanakan hukuman mati itu, setelah tabu bahwa Dewi Maerah mengandung. Akhirnya Dewi Maerah hanya ditinggalkan sendiri di tengah hutan. Wanita malang itu ditolong oleh seorang pertapa berujud raksasa bernama Resi Anggawangsa. Kelak Dewi Maerah melahirkan seorang bayi berwajah raksasa dan diberi nama Kangsa. Sesudah melahirkan anaknya, Dewi Maerah meninggal dunia. Bayi haram itu, dirawat, dipelihara, dan dididik dengan penuh kasih sayang oleh Resi Anggawangsa, seorang pendeta berujud raksasa. Setelah dewasa datang ke Mandura dan minta diakui sebagai anak Basudewa. Tuntutan si Anak Haram itu dikabulkan. Raja Mandura itu bahkan mengangkatnya menjadi raja muda di Sengkapura, yang masih termasuk wilayah Mandura.

    Ketika tumbuh dewasa Kongso datang ke Mandura dan berhasil mengusir Basudewa dari Mandura, kurang puas hanya dengan kudeta/mengusir, selanjutnya berkeinginan juga membersihkan keturunan Basudewa (pembersihan etnis ) sementara anak-anak Basudewa tidak ada di Mandura, Agar Kongso tidak susah-susah mencari maka diperoleh akal yaitu berunding dengan Basudewa dan mengatakan sebenarnya dia adalah orang yang berhak jadi Raja di Negeri Manduro tetapi cara ini tidak jantan , sebagai kesepakatan dihasilkan bahwa akan diadakan adu jago ( Adu Ayam Jago ) kalau Basudewa menang silahkan menduduki tahtanya lagi , tetapi sebenarnya adu orang yang jago berkelahi.
    Maka diutuslah Ugraseno saudaranya pergi untuk mencari jago oleh Basudewo. Ditengah perjalanan Ugroseno bertemu Kemenakannya sendiri yaitu Bima, Karena bima adalah putra Dewi Kunti yang merupakan adik dari Basudewa. Bima tidak keberatan menjadi jago karena punya kepentingan juga sedang mencari Arjuno yang telah lama pergi, ia meminta agar dibantu.
    Dihari yang telah ditentukan, Kongso membawa jago juga yaitu Suratrimontro pamannya sendiri. Dengan akalnya yang kreatif disekitar arena tanding telah disiapkan kolam air / sendang “panguripan” dimana bila ada orang yang mati dalam bertanding misalnya pamannya, jika mayatnya dimasukkan dikolam itu mayat akan hidup lagi.
    Dan pertandingan dimulai, Walaupun bima orangnya besar sebenarnya dengan Suratrimontro jenis raksasa juga , adalah sama kuatnya, tetapi akhirnya dengan Kuku Pancanaka senjata khas bima, Suratimontro bisa dibunuh, tetapi mayatnya selalu hidup lagi bila dimasukkan ke kolam panguripan dan begitu seterusnya.
    Akhirnya Kokrosono bersama Arjuna bertemu dan Kokrosono telah mengetahui bahwa ada yang curang dalam pertandingan ini, maka Kokrosono menyuruh Permadi/Arjuna untuk memasukkan senjata Sarutomo ke kolam , seketika itulah tubuh Suratrimontro hancur lebur.
    Demikian juga Kongso tewas oleh tumbak Kokrosono yang bernama Nenggala. Dalam perang baratayuda Baladewa memihak kurawa tetapi bisa dibujuk oleh Kresna agar tidak ikut perang
    Setelah Prabu Basudewo berusia lanjut, diangkatnya Kokosrono menjadi raja Manduro bergelar Prabu Bolodewo atau Prabu Boloromo.

    4. ARYO PRABU RUKMO (PRABU BISMOKO)

    Arya Prabu Rukma menikah dengan Dewi Rumbini putra Prabu Rumbaka raja Negara Kumbina. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama: Dewi Rukmini dan Arya Rukmana.
    Secara tidak resmi Arya Prabu Rukma juga mengawini Ken Sagupi swaraswati keraton Mandura dan mempunyai seorang putri bernama Ken Rarasati (Dewi Larasati).

    Arya Prabu Rukma mempunyai sifat dan perwatakan berani, cerdik pandai, trengginas, mahir mempergunakan senjata panah dan ahli strategi perang. Ia menjadi raja negara Kumbina menggantikan mertuanya Prabu Rumbaka dan bergelar Prabu Bismaka, Prabu Wasukunti atau Prabu Hirayana.

    Akhir riwayatnya diceritakan Prabu Bismaka (Arya Prabu Rukma) gugur di medan perang melawan Prabu Bomanarakasura raja negara Surateleng atau Trajutisna.

    5. ARYA UGRASENA

    Arya Ugraseno berhasil membinasakan Prabu Kalaruci, raja negara Karanggubarja yang menyerang Suralaya karena ingin memperistri Dewi Wersini. Oleh Bathara Guru, negara Karanggubarja diserahkan kepada Arya Ugrasena, yang kemudian iak tahta bergelar Prabu Setyajid. Negara Karanggubarja pun diganti nama menjadi Lesanpura.
    Dari perkawinan Dewi Wersini, ia memperoleh dua orang putra bernama; Dewi Setyaboma dan Arya Setyaki. Secara tidak resmi Arya Ugrasena juga mengawini Ken Sagupi, swaraswati Keraton Mandura, dan memperoleh dua orang putra bernama; Arya Pragota dan Arya Adimanggala. Arya Ugrasena mempunyai sifat dan perwatakan; berani, cerdik pandai, tangkas dan pandai mempermainkan senjata gada. Arya Ugrasena menjadi raja negara Lesanpura menggantikan mertuanya, Prabu Wersaya dan bergelar Prabu Setyajid.

    Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Setyajid/Ugrasena gugur dimedan perang melawan Prabu Bomanarakasura, raja negara Surateleng atau Trajutisna.

    6. PRABU BALADEWA ATAU BALARAMA

    Setelah Prabu Basudewo berusia lanjut, diangkatnya Kokosrono menjadi raja Manduro bergelar Prabu Bolodewo atau Prabu Boloromo. Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.
    Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.
    Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa berkulit putih.
    Pada perang Bharatayuddha sebenarnya prabu Baladewa memihak para Korawa, tetapi berkat siasat Kresna, beliau tidak ikut namun sebaliknya bertapa di Grojogan Sewu (Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Bharatayuddha, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti Bharatayuddha terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang Bharatayuddha. Jika Baladewa turut serta, pasti para Pandawa kalah, karena Baladewa sangatlah sakti.
    Baladewa ada yang mengatakan sebgai titisan daripada naga sementara yang lainya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayudha, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia bergelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.

    Regards,
    WN

    Jawaban Quiz Wayang # 1-6

    1. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Resi Bismo,

    Pada awal Resi Bismo maju ke medan perang, tidak satupun senopati Pandowo yang bisa mengalahkan Resi Bismo, bahkan makan korban Senopati gugur pihak pandowo banyak sekali seperti Senopati dari Wiroto (Seto, Wratsongko, Utoro) dan beberapa anak Arjuna. Kemudian Kresno datang ke medan perang dan akan membunuh Resi Bismo dengan Senjata Cakra Pamungkasnya, kemudian Resi Bismo mengendor dalam berperang dan menyembah Prabu Kresno sebagai penjemaan Batara Wisnu yang akan memberikan kebahagiaan, kemudian Resi Bismo meminta dan siap gugur tapi harus dengan Senopati Pandowo wanita. Kemudian Srikandi diangkat menjadi Senopati perang. Karena Bismo sudah tahu bahwa mendiang istrinya yaitu dewi Ambo telah menitis ke tubuh Srikandi, sehingga resi Bismo menurunkan senjatanya dan pasrah siap gugur melawan Srikandi, kemudian Srikandi melepas panah saktinya dan mengenai dada resi Bismo dan akhirnya gugur dimedan perang. (Bisa didengarkan pada cerita Kresno Duto).

    2. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Jayajatra

    Setelah Abimanyu gugur dan Arjuna mendengar kabar bahwa yang membunuh anaknya adalah Jayajatra, sehingga didepan Prabu Kresno, Arjuna bersumpah akan mati bunuh diri dalam bara api, bila hingga sore nanti ia tidak bisa membunuh Jayajatra. Begawan Sempani (Orang tua Jayajatra) mendengar dan langsung menyembunyikan Jayajatra dalam Gedung Baja dan menasehatinya agar diam didalam gedung dan jangan mendengarkan apapun suara dari luar gedung dan jangan melihat apapun yang berada diluar gedung, kemudian Begawan Sempani juga menciptakan Jayajatra 1000 yang sama. Dalam hal ini Arjuna bingung, yang mana sebetulnya Jayajatra yang asli. Prabu Kresno kemudian memberi nasehat pada Arjuna, bahwa Jayajatra yang asli sedang disembunyikan dalam gedung baja, dan yang diluar semua tidak asli dan kemudian menyuruh Arjuna agar mementang panah Kyai Gandewo yang dapat mendatangkan panah narocobolo yang jumlahnya ribuan untuk melenyapkan Jayajatra palsu ciptaan Begawan Sempani. Kemudian semua Jayajatra palsu dapat dilenyapkan secara bersamaan. Setelah itu Prabu Kresno memberi tahu Arjuna bahwa matahari akan ditutup dengan senjata cakra agar suasananya menjadi remang-remang seperti menjelang malam, dan Arjuna harus selalu waspada pada jendela gedung baja yang ditempati Jayajatra dan harus siap mementang panah Kyai Pasopati. Setelah matahari ditutup dengan senjata cakra dan nampak suasana telah remang-remang seperti menjelang malam, prabu kresno kemudian menyuruh prajurit pandowo untuk berteriak bahwa Arjuna akan PATI OBONG (Bunuh diri dengan membakarkan badannya pada bara api). Berita tersebut sudah tersiar pada para Kurawa termasuk Durna, Duryudana, dan Jayajatra dalam gedung. Semua prajurit Pandowo dan Kurawa menonton bara api yang rencana untuk bunuh diri Arjuna. Yang menonton termasuk Durno dan Duryudono. Ketika Prabu Kresno melihat bahwa Jayajatra telah berani mengintip lewat jendela gedung baja yang mana leher keatas kelihatan dan leher kebawah tidak nampak, kemudian Prabu Kresno memberi Sasmito kepada Arjuna, bahwa Jayajatra lehernya sudah kelihatan dan dia akan mengambil senjata cakranya dilangit. Setelah senjata cakra diambil, ternyata masih jam 2 siang dan dengan sigap Arjuna mementang langkap dan anak panahnya mengenai leher Jayajatra putus jatuh diluar gedung dan kemudian bersorak gembira para prajurit Pandowo. Kepala Jayajatra kemudian dilempar kepangkuan Begawan Sempani yang sedang semedi oleh Prabu Kresno, dan alangkah kagetnya bahwa anaknya tinggal kepala saja, kemudian ia tetap bersemedi agar anaknya tetap hidup dan diberi senjata kemudian siap mengamuk dimedan perang yang dapat membunuh para anak Arjuna, sehingga tidak satupun anak Arjuna tersisa. Prabu Kresna kemudian mendatangi Begawan Sempani, dan menggoda dalam semedinya agar bicara anaknya mati bukan hidup. Pada waktu Begawan Sempani mengucapkan bahwa anaknya mati, Prabu Kresno meninggalkan Begawan Sempani dan menyuruh Bima untuk menggunakan Gada Rujak Polo untuk menghancurkan kepala Jaya jatra, akhirnya Jayajatra Gugur.

    3. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Begawan Sempani.

    Setelah Jayajatra gugur, begawan Sempani mengamuk dan banyak prajurit Pandowo yang gugur, akhirnya Prabu Kresno memanggil Arjuna, bahwa Begawan Semapani tidak bisa dibunuh dengan senjata, melainkan begawan Sempani akan meninggal dengan sendirinya bila ia kedinginan, kemudian menyuruh Arjuna untuk memuja hujan, setelah hujan lebat datang Begawan Sempani kedinginan dan akhirnya tidak bisa bernafas dan gugur dimedan perang.

    4. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Burisrawa

    Pada waktu Burisrawa perang tanding melawan Setyaki, Setyaki sudah tidak bisa bergerak karena ditindih oleh Burisrawa. Setelah Prabu Kresno melihat, lalu memanggil Arjuna dan bertanya apakah masih ingat cara-cara memanah setelah beberapa lama bingung memikirkan Abimanyu yang telah gugur. Akhirnya Prabu Kresno mengetes agar Arjuna bisa memanah rambut yang mana sebelumnya telah diluruskan ke bahu kanan Burisrawa. Setelah panah dilepas dan mengenai rambut kemudian mengenai bahu kanan Burisrawa sampai putus, dan akhirnya Burisrawa lemah dalam memiting Setyaki dan Setyaki terlepas dari pitingannya Burisrawa kemudian leher Burisrawa dilempar lembing sampai putus dan gugur dimedan perang.

    5. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Pandita Durno.

    Setelah Durno maju menjadi Senopati, Prabu Drupodo gugur dan banyak prajurit Pandowo yang gugur. Prabu Kresno menyuruh Bima untuk membunuh bantuan Kurawa yaitu Prabu Sumarmo, Kartipeyo , Satu permeo, gajah Estitomo, dan seluruh pasukannya . Pada malam hari Bima dapat menghancurkan pakuwon yang ditempati Sumarmo, Kartipeyo, Satu permeo, gajah Estitomo, dan para pasukannya dengan gada rujak polo, sehingga semuanya gugur. Setelah itu Prabu Kresno menyuruh prajurit pandowo untuk berbohong bahwa Aswotomo yang gugur dan bukan Estitomo. Karena ada berita bahwa Aswotomo gugur, sehingga Pandito Durno gusar dalam berperang dan menurunkan semua senjata untuk minta keterangan yang pasti, tapi semuanya bilang bahwa Aswotomo berada di pakuwon Sumarmo, dan sekarang pakuwonnya hancur. Prabu Kresno berharap bahwa Prabu Puntodewo mau berbohong, bahwa yang gugur Aswotomo dan bukan Estitomo, tapi Prabu Puntodewo tidak mau dan akhirnya mau bila menyebut Esti pelan sekali dan Tomo nya yang keras. Pada waktu Pandito Durno menemui Prabu Puntodewo dan mendapat jawaban bahwa yang meninggal adalah Esti (pelan) dan Tomo (keras). Akibat pendengarannya kurang baik, sehingga mengganggap bahwa Aswotomo yang gugur. Karena Pandito Durno tambah sedih & gusar dan hanya tiduran di semak-semak dan tidak mau perang, akhirnya datang Drestojumeno (Anak Prabu Drupodo) yang telah kemasukan roh Prabu Palgunadi dan memotong leher pandito Durno putus dan kemudian dijadikan tendang-tendangan para prajurit pandowo. Prabu Palgunadi adalah raja yang telah dibunuh oleh pandito Durno secara kejam.

    6. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Dursosono

    Pada waktu Dursosono perang tanding melawan Bima, Dursosono mengajak perang kejar-kejaran dan melompat kali Cingcing goling, Prabu Kresno melihat dan menasehati Bima agar tidak melompat kali cingcing goling, karena sudah menjadi prasasti siapa yang melompat kali tsb akan sial dan kalah dalam perang. Setelah ledek-ledekan antara Dursosono dan Bima, ketika Dursosono hendak melompat kembali pada kali tsb, kakinya di jegal oleh roh karto dan temannya yang mana telah dibunuh Dursosono untuk tumbal sebelum perang baratayuda terjadi. Ketika Dursosono jatuh, rambutnya langsung ditarik oleh Bima dan diseret badannya jauh dari kali, kemudian datanglah Duryudono, Sengkuni dan sebagian Kurawa untuk memintakan maaf supaya Dursosono dilepas, tapi Prabu Kresno mengingatkan kejadian yang lalu tentang Drupadi yang dijamah rambutnya oleh Dursosono. Akhirnya Bima menusuk dada Dursosono dengan Kuku Ponconoko untuk diminum darahnya dan gugurlah Dursosono dimedan perang, kemudian disempal-sempal seluruh anggota badannya .

    7. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Prabu Karno

    Sebelum perang tanding antara Prabu Karno dan Arjuna, ada ular naga jadi-jadian yang berasal dari Raja Raksasa Gowa barong yang bernama Prabu Harjowaleko yang akan membalas pati orang tuanya yaitu Prabu Joto Gimbal yang terbunuh oleh Arjuna. Atas petunjuk Parabu Kresno, agar Arjuna melepas panah untuk ular jadi-jadian tsb dan akhirnya ular tsb mati. Sehingga sudah tidak ada gangguan lagi dalam menghadapi Prabu Karno. Pada waktu Prabu Karno melepas panah Kunto wijaya danu, prabu kresno mempercepat jalannya kuda, sehingga Arjuna hanya terkena teropongnya saja, tapi panah pasopati dari Arjuna dapat mengenai leher Prabu Karno hingga putus dan kepala jatuh ke tanah dan badan bersandar di-kereta. Pada waktu prabu karno gugur, badannya berbicara minta agar Arjuna mendekat karena ingin dirangkul, tapi Prabu Kresno melarangnya karena yang bicara tersebut adalah keris kyai Jalak, dan menyuruh Arjuna agar mengeluarkan keris Kalanadah pada waktu mendekati jenasah Prabu Karno. Karena pusaka tsb kalah wibawa, hingga keris kyai jalak kembali ke asalnya dan tidak ada yang bicara lagi.

    8. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Prabu Salyo

    Pada waktu mendengar bahwa Prabu Salyo akan menjadi Senopati, Prabu Kresno menyuruh Kembar Nakula & Sadewo menemui Prabu Salyo pada malam hari sebelum berangkat perang keesokan harinya untuk minta dibunuh saja, karena tidak ingin Nakula & Sadewa melihat jenasah kakaknya besok pagi bila Prabu Salyo menjadi Senopati. Atas permintaan tsb, Prabu Salyo marah, tapi Nakula & Sadewa tetap minta agar dibunuh malam itu, akhirnya iba hatinya karena Nakula & Sadewa adalah darah dagingnya sendiri dan kemudian berkata bahwa sebetulnya hatinya akan membantu Pandowo, tapi lahirnya harus membantu Kurawa karena telah berjanji pada Prabu Duryudono. Akhirnya Negara Mondoroko diberikan oleh Nakula & Sadewa dan menyuruh Nakula Sadewa pulang dan member tahu Prabu Kresno, agar Pandowo besok pagi mengangkat Senopati Prabu Puntodewo dengan membawa pusaka Jamus Kalimasodo. Pada pertemuan di Pakuwonnya Pandowo Mandoloyudo, Nakula & Sadewa melapor bahwa Prabu Salyo meminta agar Pandowo mengangkat Senopati perang Prabu Puntodewo dengan membawa pusaka Jamus Kalimosodo, tapi prabu Puntodewo tidak mau karena tidak pernah berperang. Setelah roh Begawan Bagaspati (mendiang mertua Prabu Salyo) menyatu kedalam tubuh Prabu Puntodewo, akhirnya mau maju kemedan perang. Dalam perang Prabu Salyo gugur setelah dibalang pusaka Jamus kalimasodo.

    9. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Patih Sengkuni.

    Pada waktu Patih sengkuni membanting kopiah (pemberian Abiyoso) di medan perang, terjadi hujan batu dan banyak para prajurit Pandowo yang gugur, kemudian Prabu Kresno memanggil Arjuna dan para Punakawan yang mana Arjuna disuruh memuja hujan agar turun dan angin yang sepoi-sepoi beberapa lama, setelah itu memuja agar hujan berhenti dan matahari dapat timbul setelahnya. Bila Patih Sengkuni kedinginan dan kemudian muncul matahari, biasanya kopiah akan dijemur. Punakawan Petruk & Bagong yang harus bisa mencuri kopiah tsb. Akhirnya kopiah tsb bisa dicuri oleh punokawan. Dan akhirnya Patih Sengkuni dapat ditangkap Bima, dan ditusuk dengan kuku ponconoko, tapi tidak mempan, kemudian Prabu Kresno menasehati Bimo bahwa penafasan Patih Sengkuni berada pada DUBUR, kemudian duburnya ditusuk dan disobek,akhirnya patih Sengkuni gugur dan kemudian dikuliti.

    10. Konstribusi Prabu Kresno pada gugurnya Duryudono

    Pada waktu terjadi perang tanding anatara Duryudono dan Bima, Prabu Kresno memberi tahu bahwa pengapasan Duryudono adalah kaki kirinya yang mana dulunya tidak ikut dibedaki LISAH TOLO, sehingga setelah digada oleh Bimo kaki kiri Duryudono lari pincang masuk Samodra. Setelah kembali dari samodra yang mana telah bertemu Bathara Rakata Tama (Dewa laut), diberi gada inten yang besar untuk melawan Bima. Pada waktu Duryudono muncul dari lautan dan membawa gada yang besar, Bima agak takut menghadapainya. Akhirnya Prabu Kresno memberi tahu bahwa biar besar gada Duryudono adalah kosong isinya, tapi walaupun gada rujak polo agak kecil tapi mentes. Setelah perang lagi dan disaksikan oleh Prabu Bolodewo, gada duryudono makin lama makin kecil, dan akhirnya prabu Duryudono terkena pukulan Bima jatuh kemudian mukanya diasah diatas batu hingga tak berbentuk manusia lagi. Kemudian prabu Baladewa marah dan akan melawan Bima, pada akhirnya Prabu Kresno mendinginkan prabu Baladewa bahwa kejadian ini merupakan balasan serupa yang pernah dilakukan prabu Duryudono kepada orang yang tak berdosa. Akhirnya prabu Duryudono gugur.

    Reagards,
    WN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s