Quiz Wayang #1-2


QUIZ WAYANG

Tujuan : Mengenal, Memahami, dapat Menikmati dan mampu Memanfaatkan Nilai yang terkandung dalam budaya WAYANG (Lihat uraian disini)

Peserta : Seluruh pengunjung yang ingin berpartisipasi, kecuali Author Blog ini.

Mekanisme pelaksanaan :

  • Setiap hari akan ada satu pertanyaan yang harus di jawab peserta quiz dengan menuliskan jawabannya di komentar dengan menuliskan nama dan email. Penulisan nama dan email diharapkan tidak berubah agar mempermudah penilaian.
  • Rentang Waktu pelaksanaan : 2 Minggu (14 Hari)
  • Waktu pelaksanaan : 24 Mei s.d 6 Juni 2010
  • Metoda Penilaian : 75:25
    • Validitas & Comprehensive : Kebenaran dan kelengkapan jawaban. Jawaban yang benar dan lengkap memiliki nilai tertinggi.
    • Kontinuitas : Jumlah jawaban dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Peserta yang mengikuti quiz setiap hari dengan memberikan jawaban, memperoleh nilai tertinggi.
  • Pemenang :
    • Akan ditetapkan 2 pemenang yaitu Pemenang 1 dan Pemenang 2
    • Hadiah Pemenang 1 :
      • 2 Lakon Pagelaran wayang kulit lengkap
      • 6 Keping DVD MP3 wayang
      • Hadiah lain (kalau ada yang mau nyumbang sebagai sponsor atau berkeinginan ikut berpartisipasi memberikan hadiah)
    • Hadiah Pemenang 2 :
      • 2 Lakon Pagelaran wayang kulit lengkap
      • 3 Keping DVD MP3 wayang
      • Hadiah lain (kalau ada yang mau nyumbang sebagai sponsor atau berkeinginan ikut berpartisipasi memberikan hadiah)

<<<<<< ooo >>>>>>

Perang Bharatayuda adalah perang besar yang melibatkan banyak negara serta berbagai sosok dan karakter yang saling bertempur. Perang Bharatayuda adalah perang saudara yang tidak hanya mengadu fisik untuk meraih kemenangan, namun kemantapan niat, kecondongan hati, huru-hara emosi, bergumul memperebutkan jati diri. Perang Bharatayudha membuat banyak tokoh-tokoh yang berperan didalamnya menjadi “menderita” karena hatipun ikut berperang antara bisikan nurani melawan “keterpaksaan” mengangkat jiwa ksatria.

Diantara tokoh-tokoh yang “setengah hati” dalam menjalani perang besar itu adalah Resi Bhisma, Begawan Durna, Prabu Salya dan Adipati Karna.

Uraikan bagaimana sebenarnya kiprah mereka dalam perang Bharatayudha ! (hubungan persaudaraan antara pihak yang berperang Pandawa-Kurawa, upaya yang telah dilakukan menghindari perang tuk menciptakan perdamaian, peranan dan kontribusi serta perbedaan antara sikap hati dengan sikap tindakan)

10 thoughts on “Quiz Wayang #1-2”

  1. Dalam perjalanan hidupnya, ternyata ada dua wanita cantik, Dewi
    Amba dan Ambalika, jatuh cinta kepada Dewabrata. Dewabrata menolaknya.
    Mereka berdua terus mendekati Dewabrata, walau terus ditolak.
    Pada suatu hari, mereka mendekat lagi, maka Dewabrata mengeluarkan jemparing/panah,
    dengan maksud untuk menakut-2i agar mereka pergi, namun nasib lain, panah
    mrucut/terlepas, dan tepat mengenai mereka, mati. Arwahnya melayang dan
    berkata…”eh–eh–eh Dewabrata, tak tunggu neng surga pengrantunan
    kakang Dewabrata”.
    Pada perseteruan Kurawa (Hastina) dan Pandawa, Dewabrata sudah
    tua dan menjadi pendito/resi bernama resi Bisma. Dia tahu bahwa Kurawa
    keliru. Dia selalu menasehati, namun Kurawa tetap keras kepala. Namun
    demikian Resi Bisma patuh kepada pesan ayahandanya dulu untuk selalu
    menetap di Hastina, karena dia konsekwen dengan pesan itu: tetap di Hastina.
    Pada saatnya permulaan perang Bratayudha, Bismapun maju sebagai senopati
    perang: saya membela negaraku. Dari pihak Pendawa menunjuk Dewi Srikandi
    sebagai senopati. Walau perang, Srikandi tetap datang bersembah, dan terus dinasehati untuk
    bertugas, yaitu perang, melaksanakan tugas negara.
    Saatnya tiba, Srikandi siap dengan busur panahnya…Resi Bisma sudah ada firasat ajalnya tiba.
    Dia melihat bayang-2 Dewi Amba dan Ambalika didekat Srikandi, maka sekali
    lepas busur panah dari tangan Srikandi,…..tepat kena dan robohlah Resi
    Bisma. Arwah Dewi Amba dan Ambalika sudah siap menyambut arwah
    kekasihnya, Dewabrata. Dewabrata tidak menikah, tidak ada keturunan,
    sehingga tidak ngurushi anak turun-temurun waris negara Hastinapura dari
    ibunya, Dewi Styawati.
    Resi Bisma tergelepar bermandikan darah dimedan perang. Sebelum
    mati, dia memanggil Kurawa, minta dibawakan bantal, maka para Kurawa
    berdatangan berebut menyerahkan bantal yang paling bagus, dan paling
    mahal, namun bantal itu ditolak. Gantian, Bisma memanggil Pandawa, minta
    bantal, maka Pandawa datang dengan membawa potongan senjata yang
    bertaburan di medan perang, potongan -2 itu ditumpuk, dan untuk bantal
    resi Bisma……sekejap demi sekejap, matilah Resi Bisma.
    =============================================
    Ada nilai-2 yang dapat saya petik dari sini. Misal: Dewabrata
    selalu patuh dan berupaya sekuat tenaga untuk mematuhi orang tuanya,
    beserta pesan-2nya. Tantangan wanita cantik, ditolaknya. Banyak kerajaan
    menawarkan tempat yang teduh dan damai, tapi Bisma tetap tinggal di
    hastina karena memegang teguh pesan bapaknya. Dia bela negaranya sampai
    mati.
    Aspek lain, persoalan sulit bagi sang Prabu sewaktu dimintai
    kudangan oleh kekasihnya: agar anak turunnya yang menjadi ratu, itu
    adalah kudangan yang berat sekali. Kalut, tidak bisa dipikir, seolah
    buntu. namun, dengan dirembug dengan anaknya, ternyata ada solusi. Namun
    juga, setiap solusi ada resikonya. Sang prabu tega melepas hak mahkota
    anaknya (DEwabrata), hanya untuk memenuhi keinginannya menikahi sayangnya.
    Kembali pada awal cerita, sang Prabu tidak tahan melihat perilaku
    aneh istrinya dengan membuang anak ke laut. Dia manusia biasa, habis
    sabar, tidak tega, dan tidak tahan. Namun dia dihadapkan kepada janji,
    maka sekali janjinya dilanggar, selesailah jodonya dengan bidadari, ini
    resikonya.
    Nuwun
    Resi Bisma ialah nama Dewabrata setelah menjadi pendeta. Dalam perang Baratayudha ia memihak pada Hastinapura dan diangkat sebagai panglima berhadapan dengan Dewi Srikandi, yakni pahlawan Pandawa, puteri Cempalareja. Puteri inilah lawan Bisma dalam perang, Baratayudha. Maka tewaslah Resi Bisma kena anak panah puteri itu, seperti yang diucapkan oleh Dewi Amba waktu ia akan mati.
    BENTUK WAYANG
    Resi Bisma bermata kedondongan, hidung dan mulut sembada, serba lengkap, berkumis dan berjanggut, bersongkok dan berjamang dengan garuda membelakang, berbaju dan berselendang, bersepatu, semua akan tanda pakaian seorang pendeta, tangan hanya bergerak yang hadapan. Nampak pada wajahnya bahwa pendeta ini pemarah. Selain menilik dari wajah tanda wayang yang pemberani dan mudah marah (kepala angin), juga menilik dari cat mukanya, merah jambu akan tanda seorang pemarah

  2. Prabu Salya seorang raja di Mandraka. Ketika mudanya bernama Narasoma, keturunan raja Mandratpati; permaisurinya bernama Dewi Setyawati, putri yang sangat setia kepada suami.
    Prabu Salya seorang yang sakti, ia mempunyai ilmu Candrabirawa, yaitu berupa raksasa yang apabila dilukai musuh maka jumlahnya justru akan berlipat ganda dan tidak bisa mati. Akan tetapi Candrabirawa itu dapat dikalahkan dengan kesabaran, seperti ketika ia melawan Yudistira, seorang yang tak pernah marah, Candrabirawa tak kuasa mendekatinya karena ia merasa panas seperti dibakar, hingga mengundurkan diri. Dalam perang itu, Prabu Salya akhirnya tewas oleh Yudistira.
    Sesungguhnya jauh di lubuk hatinya Prabu Salya merasa kasih dan sayang kepada Pandawa, tetapi negeri Mandraka di bawah perintah negeri Hastinapura dan raja Hastinapura tersebut juga menantunya, terpaksa ia memihak kepada Hastinapura.
    Dalam perang Baratayudha, ketika Salya menjadi kusir kereta Adipati Karna yang sedang berperang dengan Arjuna, Salya berlaku curang, keretanya dijungkitkan, hingga anak panah Adipati Karna yang ditujukan pada Arjuna tergelincir.
    Prabu Salya seorang raja yang berbahagia, berputera tiga orang puteri, 1)Dewi Erawati, dipermaisuri oleh Prabu Baladewa, raja di Madura, 2) Dewi Surtikanti, dipermaisuri raja di Awangga, Adipati Karna, 3) Dewi Banowati dipermaisuri oleh Prabu Duryudana di Hastinapura. Jadi ketiga puterinya dipermaisuri raja semuanya dan kedua putera kernenakan, yaitu Raden Nakula dan Raden Sadewa adalah termasuk kelima Pandawa. Namun, ketika perang Baratayudha hampir pecah, Prabu Salya menjadi bimbang, di satu pihak adalah Duryudana raja di Hastinapura sebagai menantunya, dan di pihak lain adalah Pandawa, dimana Nakula dan Sadewa adalah keponakannya.

  3. Dahyang Durna/ Resi Durno semasa mudanya bernama Bambang Kumbayana, beroman cakap dan sakti, asal dari Atasangin. Kumbayana mempunyai seorang saudara angkat bernama Bambang Sucitra, yang telah meninggalkan negerinya pergi ke tanah Jawa. Kumbayana pergi menyusul. Tetapi setelah sampai di tepi samudera, Kumbayana berhenti dengan sangat berduka cita Kumbayana berkata, bahwa siapapun juga yang dapat menyeberangkan dia dari pantai itu hingga sampai di pantai tanah Jawa, jika ia laki-laki akan diaku jadi saudara, jika ia perempuan akan diambil jadi isteri.
    Setelah berkata itu datanglah seekor kuda betina bersayap (Jawa: kuda sembrani) mendekatinya. Kumbayana merasa bahwa kuda itulah yang akan menolongnya menyeberangkan. Maka Kumbayana mengendarai kuda itu dan terbanglah ia secepat kilat, hingga sampailah di daratan tanah Jawa. Setelah Kumbayana turun, kuda itu melahirkan seorang anak laki-laki, kemudian ia berubah menjadi seorang bidadari bernama Dewi Wilotama, dan terus terbang. Ke angkasa. Anak itu diberi nama Bambang Aswatama.
    Kumbayana makin. susah, karena dalam perjalanan itu harus membawa bayi. Kemudian sampai juga ia ke Cempalareja, negeri saudara angkatnya; Bambang Sucitra, yang telah bertahta di sana dan bergelar Prabu Drupada.
    Mendengar itu Kumbayana amat bersukacita, ia terus masuk di balairung, dan ketika dikenalnya saudara angkat itu, ia berseru: Sucitra, Sucitra!” Gandamana, ipar Prabu Drupada, sangat murka mendengar seruan Kumbayana itu. Perbuatan itu dipandang menghina, dan Kumbayana dianiaya hingga cacat badannya. Prabu Drupada mengetahui kejadian sangat menyesal. Kumbayana lalu dirawar dan tinggal di Sokalima, bernama Dahyang Durna. Kemudian Durna menghambakan diri pada raja Hastinapura, Sri Duryudana dan diangkat jadi pendeta dan guru sekalian Kurawa dan Pandawa.
    Sebenarnya ia seorang pendeta bijaksana, guru Pandawa dan Kurawa. Wrekudaralah seorang anak muridnya yang sejati. Adapun pada mulanya memang Wrekudara diperdayanya, diperintahkan terjun ke dalam laut supaya mati. Tapi segala petunjuk Durna yang demikian itu malahan menjadikan kesempumaan ilmunya atas petunjuk Dewa Ruci, dewanya Wrekudara yang sebenarnya.
    Dalam perang Baratayudha, Durna tewas oleh Raden, Drustajumena kena tusukan keris yang telah kemasukan jiwa Prabu Palgunadi, yang membalas dendam pada Durna

  4. Adipati Karna ( Prabu Karno ) adalah putra dari Dewi Kunti, yaitu putri Prabu Kuntiboja di Madura. Waktu muda ia bernama Suryaputra. Waktu Dewi Kunti belum bersuami ia telah hamil karena mempunyai ilmu dari Begawan Druwasa, dan ilmu itu tidak boleh diucapkan dalam sinar matahari (siang hari). Jika diucapkan dalam sinar matahari ia akan jadi. hamil. Tetapi Dewi. Kunti lupa akan larangan itu, maka hamillah ia. Oleh pertolongan Begawan Druwasa, kandungan itu dapat dilahirkan keluar dari lubang kuping, maka diberi anak itu diberi nama Karna (karna berarti kuping).Karna diaku anak angkat oleh Hyang Surya. Waktu Karna dilahirkan lalu dibuang ia ditemukan oleh Prabu Radea, raja di Petapralaya, terus diaku anak dan diberi nama Radeaputra.
    Setelah dewasa, ia berkenalan dengan seorang puteri di Mandraka bernama Dewi Surtikanti. Perkenalan itu diketahui oleh Raden Pamadi/ Raden Arjuna, hingga terjadi perang tanding. Karna mendapat luka di pelipis dan akan dibunuh oleh Pamadi. Tetapi Hyang Narada, turun dari Kahyangan untuk mencegah kehendak Pamadi itu dan Narada menerangkan, bahwa Kama itu saudara Pamadi (Pandawa) yang tertua, malah seharusnya Pamadi membantu perkawinan Karna dengan Surtikanti. Dan seketika itu juga Hyang Narada menghadiahkan mahkota. pada Karna untuk menutup luka di pelipisnya.
    Pamadi dan Karna pergi ke Awangga dan membunuh raja raksasa di Awangga bernama Prabu Kalakarna, yang, mencuri Dewi Surtikanti. Kemudian Surtikanti dihadiahkan kepada Karna untuk jadi isterinya dan Karna bertahta sebagai raja di Awangga berpangkat Adipati, suatu pangkat yang hampir setara raja, dan bergelar Adipati Awangga.
    Karna kesatria sakti dan mempunyai senjata bernama Kunta Wijayadanu.
    Senjata Kunta Tersebut hilang musna bareng atau bersamaan dengan matinya Senopati Pandawa Raden Gatotkaca dalam cerita Gatotkaca gugur.
    Dalam perang Baratayudha, Karna berperang dengan Arjuna, saudara sendiri, hingga Karna mati dalam perang sebagai kesatria. Tewasnya Adipati Karna dalam perang Baratayuda dianggap utama karena ia mati dalam perang untuk membela negeri Hastinapura, setia hingga mati, tak memandang bermusuhan dengan saudara sendiri.

  5. A. Resi Bhismo

    1. Hubungan Keluarga Pandowo dan Kurawa

    Sebagai kakek tiri Pandowo & Kurawa, karena Resi Bhismo Putra Prabu Sentanu dengan Bathari Ganggo, Dan kakek langsung pandowo & Kurowo adalah Abiyoso putra Polosoro dengan Dewi Durgandini (Putri Wiroto). Pada waktu Bathari Ganggo kembali ke Suralaya, Prabu Sentanu menikah dengan dewi Durgandini, mempunyai beberapa anak tapi meninggal. Karena Prabu Sentanu mangkat dan Sumpah Dewo Broto (Resi Bismo pada waktu masih muda) akan tidak menikah selamanya, sehingga Abiyoso diangkat menjadi raja Astina menggantikan Prabu Sentanu. Walaupun Resi Bhismo bukan kakek langsung, tapi dalam mengasuh Pendowo dan Kurawa melebihi kakek yang sebenarnya.

    2. Usaha Menciptakan Perdamaian dan menghindari
    perang

    Resi Bhismo tidak setuju adanya perang baratayuda, dan menyarankan agar negara Astina dibagi 2 antara Pandowo & Kurawa, karena mereka masih bersaudara dan tidak baik untuk berebutan sedikit kenikmatan dengan cara saling membunuh saudaranya. Tapi Duryudono tidak setuju.

    3. Peranan dan Konstribusi

    -Peranannya,
    Sebagai penasehat dan selalu mempengaruhi Duryudono agar tidak terjadi Perang Baratayuda.

    -Konstribusinya,
    Melawan senopati dari Wiroto (Seto, Wratsongko, Utoro), karena bukan Pandowo maupun Kurawa. Akhirnya ketiga Senopati Wiroto gugur. Setelah Prabu Kresno mengetahui, ia akan membunuh Resi Bhismo dengan senjata Cakra, tapi Resi Bhismo meminta dengan sangat bahwa ia rela gugur untuk kemenangan Pandowo asalkan dapat membayar hutang pati terhadap mendiang istrinya (Dewi Ambo), Oleh karena itu agar Pandowo mengangkat senopati wanita yaitu Woro Srikandi yang telah kemasukan rohnya dewi Ambo (Mendiang Istrinya). Akhirnya Resi Bhismo gugur terkena panah Srikandi.

    4. Perbedaan Sikap Hati & Tindakan

    -Sikap Hati,
    Tidak setuju adanya Perang Baratayuda, karena keduanya masih bersaudara. Bila terjadi perang ia tidak akan ikut-ikutan.

    -Tidakan sebenarnya
    Bertindak ke medan perang setelah ditangisi Duryudono bahwa banyak prajurit Kurawa yang gugur akibat serangan Senopati dari Woroto yaitu Seto, Wratsongko, dan Utoro, sehingga Resi Bhismo menemui Senopati Wiroto tsb agar mundur bersamanya, karena Resi Bhismo, Seto, Wratsongko, Utoro bukan Pandowo maupun Kurowo. Karena Senopati Wiroto tidak mau mundur, sehingga Resi Bhismo melawan dan akhirnya Senopati Wiroto gugur terkena panah Resi Bhismo.

    B. Begawan Durno

    1. Hubungan Keluarga Pandowo & Kurawa

    Sama-sama menjadi guru ilmu perang dan kesaktian lainnya oleh Pandowo & Kurowo

    2. Usaha Menciptakan Perdamaian dan menghindari
    perang

    Perang Baratayuda tidak perlu terjadi, tapi negara Astina agar dipecah-pecah, kota yang kecil kecil untuk Pandowo dan yang besar-besar untuk Kurawa. Hal ini Begawan Durno menjamin bahwa perang tidak akan terjadi. Tapi Duryudono tidak setuju.

    3. Peranan dan Konstribusi

    Peranan,

    -Penasehat Raja termasuk membuat / mengatur siasat perang dan pujangga Astina.

    – Mencari bala bantuan Senopati untuk membantu Kurwa.

    Konstribusi,
    -Idenya mengakibatkan gugurnya Abimanyu, dengan
    siasat perang “SINAPIT URANG”.

    -Mempengaruhi ribuan bala bantuan Senopati (Muridnya sendiri) agar membantu Kurawa.

    Membunuh Prabu Drupodo

    4. Perbedaan Sikap Hati & Tindakan

    Sikap hati,

    -Berusaha mencegah terjadinya perang tapi gagal karena ditolak Prabu Duryudono.
    -Tidak tega melawan Pandowo karena Pandowo juga muridnya

    -Tindakan sebenarnya,
    Mau berperang karena terpaksa, agar anak satu-satunya yaitu Aswotomo kelak hidupnya lebih terjamin.

    -Menjalankan siasat perang “SINAPIT URANG” untuk memikut Puntodewo, tapi digagalkan oleh Abimanyu, dan akhirnya Abimanyu gugur setelah diranjab ribuan senjata.

    -Membuat Prabu Drupodo gugur terkena panah Cundo Manik milik Begawan Durno

    – Begawan Durno kendor dalam berperang dan bingung serta tidur-tiduran disemak-semak setelah mendengar berita bahwa anak satu-satunya Bambang Aswotomo gugur, akhirnya begawan Durno gugur setelah dipangkas lehernya dari belakang oleh Dresto Jumena (Putra Prabu Drupodo). Dresto Jumeno melakukan ini tidak sadar setelah kemasukan roh prabu Palgunadi yang sebelumnya dibunuh oleh Durno secara tidak manusiawi.

    C. Prabu Salyo

    1. Hubungan Keluarga Pandowo dan Kurawa

    – Prabu Salyo mertua dari Duryudono dan sebagai Pak De nya Nakula dan Sadewa (Pandowo no 4 & 5)

    2. Usaha Menciptakan Perdamaian dan menghindari
    perang

    – Selalu mengingatkan Prabu Duryudono untuk menggagalkan perang Baratayuda, bahkan sanggup mengorbankan negaranya (Mandoroko) untuk diberikan kepada Duryudono. Meskipun perang baratayuda sedang berlangsung, Prabu Salyo selalu mengingatkan Prabu Duryudono untuk dapat memberhentikan perang, dan sanggup menjadi duta untuk menemui Pandowo. Tapi semua usaha selalu ditolak oleh Prabu Duryudono.

    3. Peranan dan Konstribusi

    – Peranannya
    Sebagai penasehat perang yang tidak iklas Prabu Duryudono.

    -Konstribusinya
    Selalu mengingatkan untuk dapat memberhentikan perang, tapi selalu ditolak oleh prabu Duryudono.

    – Menjadi Kusir Prabu Karno untuk melawan Arjuna karena dipaksa oleh Prabu Duryudono.

    – Iba dalam tangis Nakula & Sadewa, sehingga rela gugur dalam perang Baratayuda dan menyuruh Nakula & Sadewa agar Pandowo mengangkat Senopati perang Prabu Puntadewa.

    – Dalam perang menghadapi prabu Puntadewa, prabu Salyo gugur setelah terkena Surat Jamus Kalimasadha. Dan rohnya kembali ke Nirwana bersama bapak Mertua bagaspati, Istrinya dewi Setyowati, dan Emban Sugandini.

    4. Perbedaan Sikap Hati & Tindakan

    -Sikap Hati,
    Tidak setuju dengan adanya perang Baratayuda, dan karena tidak sengaja sudah terlanjur janji sama Prabu Duryudono bahwa kelak akan membantu Kurawa dalam menghadapai Pandowo.

    -Tindakannya
    Karena gagal dalam menasehati Prabu Duryudono untuk dapat memberhentikan perang, sehingga dengan terpaksa harus membantu Kurawa karena sudah terlanjur janji. Prabu Salyo ingat bahwa 2 orang Pandowo yaitu Nakula & Sadewa adalah masih darah dagingnya sendiri, sehingga mempunyai komitmen bahwa lahirnya ikut Kurawa, tapi batinnya membantu Pandowo.
    -Pada waktu menjadi Kusir Prabu Karno yang berperang melawan Arjuna, selalu berusaha agar Prabu Karno gagal dalam usaha membunuh Arjuna dengan cara menarik kendali kuda, sehingga senjata Kuntho Wijaya Danu gagal membunuh Arjuna.

    D. Prabu Karno Basuseno

    1. Hubungan Keluarga Pandowo & Kurawa

    Hubungan dengan Kurawa, menjadi Panglima perang negara Astina, dan Ipar sesama menantu Prabu Salyo dari Prabu Duryudono.

    Hubungan dengan Pandowo, sudara sekandung sesama ibu Puntodewo, Bima, dan Arjuna

    2. Usaha Menciptakan Perdamaian dan menghindari
    perang

    -Tidak ada usaha menghindari perang Baratayuda, justru agar perang Baratayuda terjadi, agar angkara murka Prabu Duryudono dan saudaranya, dapat cepat musnah dimuka bumi.

    3. Peranan dan Konstribusi

    – Peranan,

    Panglima perang dan penasehat Prabu Duryudono

    -Konstribusi,

    -Memberi semangat agar Prabu Duryudono mau berperang melawan Pandowo, karena dengan senjata Kuntho yang disandangnya, Pandowo akan kalah.

    – Membunuh Gatotkoco, pada waktu perang terjadi malam hari.
    – Membunuh beberapa anak Arjuna, pada waktu Abimanyu maju ke-medan perang.
    – Prabu Karno gugur melawan Arjuna dalam ceritera Karno Tanding.

    Salam,
    WN

  6. Sungguh menarik pilihan kangmas Prabu akan tokoh-tokoh yang dibahas dalam Quiz kali ini.
    Resi Bisma, Begawan Dorna, Prabu Salya, dan Adipati Karna.
    Riwayat masing-masing tokoh kalau dikisahkan semua, akan menjadi sangat panjang.
    Sesuai dengan soal Quiz 1-2, terutama akan ditulis yang terkait dengan Perang Bharatayuda.

    A. MENGENAL keempat tokoh: Resi Bisma, Prabu Salya, Begawan Dorna, Adipati Karna.

    Bisma dan Prabu Salya sama-sama mengalami akibat dari perbuatan mereka di masa lalu, berupa semacam hutang, yang dibayar saat terjadinya Perang Bharatyudha.

    A1. Kisah Bisma dan karmanya terhadap Dewi Amba, telah dibahas pada jawaban Quiz I-1 kemarin.

    A2. Ksah Prabu Salya, secara ringkas adalah sebagai berikut:
    Di masa mudanya, Prabu Salya bernama Narasoma, putra raja Mandaraka. Ketika beranjak dewasa, selalu menolak permintaan ayahandanya agar segera menikah, sehingga akhirnya ditundung (diusir) keluar dari istana. Dalam pengembaraannya, Narasoma tiba di suatu pertapaan milik seorang Resi yang berujud raksasa. Puteri sang Resi yang rupawan, jatuh cinta kepada Narasoma. Narasoma cinta juga kepada sang puteri, namun merasa malu bila mempunyai mertua berujud raksasa. Narasoma bersedia memperisteri sang puteri, dengan syarat sang Resi mati terlebih dulu.
    Sang Resi, demi kasih sayangnya kepada puterinya, rela memenuhinya, walau pun dalam hati kecilnya mengatakan bahwa permintaan Narasoma itu salah. Sebab, tidak semestinya seorang ksatria hanya ingin menikmati “enaknya” saja (mempersunting sang Puteri) tetapi tidak mau menerima “konsekwensi tidak enaknya”, yaitu punya mertua berwujud raksasa. (Sejatinya, sang Resi di masa mudanya dulu adalah saudara seperguruan ayahanda Narasoma). Resi ini mempunyai ajian Candabirawa, yang membuatnya tidak bisa mati. Supaya bisa mati, ajian ini harus diturunkan kepada orang lain. Oleh karena itu, sang resi mewariskan ajian Candabirawa ini kepada Narasoma. Saat meninggalnya, sukma sang Resi bersumpah bahwa kelak di kemudian hari, Narasoma akan menanggung akibat perbuatannya itu.
    Sang Puteri mendapat gelar baru, yaitu Dewi Setyawati, karena lebih memilih menikah dengan pemuda pilihannya, walau pun harus mengorbankan ayahnya.
    Setelah menggantikan ayahnya menjadi raja, Narasoma bergelar Prabu Salya. Prabu Salya mempunyai adik bernama Dewi Madrim, yang kemudian kawin dengan Pandu dan berputera Nakula-Sadewa, si kembar dalam keluarga Pandawa. Prabu Salya berputra 3 orang, yang masing-masing kemudian diperisteri oleh Prabu Baladewa dari Mandura, Adipati Karna, dan Prabu Duryudana dari Hastina.
    Dalam perang Bharatayudha Prabu Salya lahirnya terpaksa membela Hastina (karena 2 puterinya ada di sana), tetapi batinnya membela Pandawa (karena sadar bahwa Kurawa berada di pihak yang salah).
    Oleh karena itu, ketika bertugas menjadi kusir kereta perang Adipati Karna ketika bertanding melawan Arjuna, dia sedikit berbuat curang, sehingga Arjuna yang menang.
    Setelah Adipati Karna gugur, Prabu Salya maju sebagai panglima Kurawa. Di situlah dia membayar karmanya (terhadap mertuanya), tewas di tangan Yudistira.

    A3. Kisah Begawan Dorna.

    Semasa mudanya, Begawan Dorna bernama Kumbayana, berasal dari Negeri Atasangin. Kala itu, dia mempunyai sahabat, yang kemudian menjadi raja di negeri yang terpisahkan laut dengan Atasangin. Ketika Kumbayana bermaksud menyusul sahabatnya itu, dia terhenti di pinggir laut, dan keluarlah sumpahnya yaitu barangsiapa yang bisa membantunya menyeberang, bila pria diangkat saudara, bila wanita dijadikan isterinya. Datanglah seekor kuda Sembrani, yang sesungguhnya jelmaan bidadari bernama Dewi Wilutama, membantunya menyeberang, dengan cara terbang melintasi lautan. Setelah sampai di seberang, lahirlah bayi yang diberi nama Aswatama, dan Wilutama kembali ke kahyangan.
    Tinggallah Kumbayana yang harus merawat anaknya, meneruskan mencari sahabatnya yang telah menjadi raja. Sampai di istana, Kumbayana tidak mengindahkan tatakrama, ingin segera menemui
    sahabatnya.
    Akibatnya, patih negeri itu, yang bernama Gandamana, sangat marah, dan menghajar Kumbayana hingga fisiknya cacat, dan diusir pergi. Terlunta-lunta sambil membesarkan anaknya, Kumbayana
    melatih ilmu kanuragan, kemudian bergelar Pendita Durna atau Begawan Durna. Berkat ketekunannya, Begawan Durna mumpuni dalam ilmu kanuragan. Dalam pengembaraannya, suatu hari
    Durna bertemu anak-anak keluarga Hastina yang masih remaja, yaitu Kurawa dan Pendawa, yang sedang bermain dan kehilangan bola mereka, yang jatuh ke dalam sumur mati. Mereka tidak bisa mengambilnya. Begawan Durna menunjukkan kemahirannya, mengambil bola itu dengan menggunakan ujung rumput yang dilempar berturut-turut menancap pada bola, sambung menyambung
    menjadi tali. Berkat kesaktiannya, Durna diangkat menjadi guru yang mengajar Pendawa dan Kurawa, dan selanjutnya menetap di Hastina. Aswatama juga ikut bermukim di Hastina.
    Dalam Perang Bharatayudha, Durna membela Kurawa, dan gugur di tangan Drestajumena.

    A4. Adipati Karna.

    Nama lengkapnya Karna Basusena. Anak pertama Dewi Kunti, tatkala Kunti belum bersuami.
    Bagaimana mungkin? Itu akibat ajian yang dipelajari Dewi Kunti, puteri raja Mandura, Prabu Kuntiboja. Ajian itu bisa mendatangkan dewa, tapi ada pantangannya. Yaitu tidak boleh ditrapkan waktu Dewi Kunti sedang tidur, atau sedang mandi. Suatu ketika, lupalah Kunti, waktu sedang mandi, “matek aji” itu. Datanglah seorang dewa, kebetulan Batara Surya, dewa penguasa matahari (dewaning rahina). Akibatnya, Dewi Kunti berbadan dua. Karena masih berstatus belum bersuami, waktu lahir, bayi itu dibuang di sungai Jamuna, dibekali kalung yang bertuliskan namanya, Karna Basusena. Untuk menjaga keperawanan Dewi Kunti, lahirnya dari telinga. Bayi itu kelak ditemukan oleh seorang yang berprofesi sais istana Hastina.
    Waktu menginjak remaja, Karna menonton pertandingan murid-murid Begawan Durna. Di sanalah dia bertemu Arjuna, yang sedang dielu-elukan karena menang pertandingan adu panah. Karna panas hatinya, dan berniat ikut bertanding. Tapi dilarang oleh Pendawa, karena dianggap tidak memenuhi syarat, karena tidak berdarah bangsawan. Duryudana turun tangan, memberi gelar bangsawan kepada Karna, sehingga berhak ikut pertandingan. Karna merasa berhutang budi kepada Duryudana, yang telah mengangkat derajatnya.
    (Waktu itu Karna belum tahu bahwa sebenarnya dia juga berdarah bangsawan, putera Dewi Kunti).
    Dalam perang Bharatyudha, Karna tetap membela Duryudana. Adipati Karna gugur dalam perang tanding melawan Arjuna. Karena mereka bersaudara, waktu bertanding, keduanya sangat mirip, hingga bagaikan dua orang Karna yang sedang bertanding. Oleh karena itu, disebut “Karna tanding”.

    B. MEMAHAMI peran tokoh-tokoh itu dalam Bharatayudha.

    Secara keseluruhan, 4 tokoh dimaksud, yaitu Bisma, Durna, Salya, dan Karna, terikat kewajiban sebagai ksatria harus membela negara yang selama ini menaungi mereka atau keluarga mereka.
    Selain tugas sebagai ksatria itu, ada faktor-faktor lain yang membuat mereka ikut berperang membela pihak Kurawa.

    Bisma dan Prabu Salya mempunyai kesamaan di sini. Yaitu, membayar hutang akibat perbuatan mereka yang kurang patut di masa lalu. Perbuatan apa yang tidak patut?

    B1- Bisma ikut sayembara tanpa memberitahu bahwa dia tidak bermaksud kawin dengan puteri yang disayembarakan. akibatnya, Bisma membuat Dewi Amba tertimpa “sial”, tidak diterima oleh
    unangannya, dan tidak diterima pula oleh Bisma yang terikat sumpah tidak boleh kawin. Kelanjutannya, Dewi Amba tewas kena panah Bisma, yang tadinya hanya dimaksudkan untuk menggertak saja,

    B2- Di masa mudanya, Salya (Narasoma) malu punya mertua berujud raksasa, walau pun mencintai puterinya. Hingga dia mengajukan syarat mau menikah, asal mertuanya bersedia mati. Prabu Salya membayar hutang itu dalam perang Bharatayudha, ketika melawan Yudistira.

    —————————————————————-

    Begawan Durna dan Adipati Karna punya kesamaan dalam membela Duryudana, yaitu mereka berhutang budi kepada Duryudana, yang telah mengangkat derajat mereka dan memberikan kenikmatan duniawi di Hastina.

    C. MENIKMATI dan memanfaatkan NILAI-NILAI dalam kisah ini.

    C1- Apakah waktu memutuskan maju perang sebagai panglima Hastina, Bisma sadar sepenuhnya bahwa dia sedang dalam perjalanan membayar karmanya di masa lalu?
    Barangkali tidak.
    Bisma tetap memutuskan maju perang, walau pun tahu bahwa Duryudana dan Kurawa berada dalam pihak yang tidak benar. Mengapa? Karena, Bisma mendengar bahwa putera-putera Wirata sudah maju ke medan laga, walau pun secara resmi belum dinyatakan dimulainya Perang Bharatayudha. Menurut Bisma, Seto dkk melecehkan kewibawaan Hastina. Bisma berpendapat bahwa masalah Pandawa dan Kurawa adalah masalah intern keluarga Bharata, sehingga harus diselesaikan tanpa campur tangan pihak luar.
    Jadi, Bisma “madeg senapati” dipicu oleh majunya putera-putera Wirata, bukan karena ingin membela Duryudana. Setelah “kadung” bertempur, Bisma tidak bisa mundur lagi. Dan, akhirnya gugur di tangan Srikandi, yang “dipinjam” oleh sukma Dewi Amba untuk membalas Bisma.

    C2- Faktor apa yang membuat Salya dalam hatinya memihak Pandawa, walau pun secara lahiriah dia maju sebagai panglima perang Hastina?
    Salya harus maju perang karena puterinya adalah permaisuri Hastina, dan puterinya yang lain isteri Adipati Karna.
    Dalam hati memihak Pandawa, karena Salya tahu Duryudana di pihak yang salah, dan karena dua keponakannya, Nakula dan Sadewa, berada di pihak Pandawa. Di sinilah terlihat piawainya Kresna sebagai penasehat Pandawa. Malam setelah Adipati Karna gugur, Kresna sudah menduga bahwa Prabu Salya akan mendapat giliran maju sebagai panglima pihak Kurawa. Diutuslah Nakula dan Sadewa menemui “pakdenya”, Prabu Salya. Setelah ketemu, keduanya mengatakan: “Uwa Prabu, dalem pamit pejah”. Luluhlah hati Prabu Salya, terkenang akan penderitaan Nakula dan Sadewa yang ditinggal mati ibunya, Dewi Madrim yang juga adik Salya, dan penderitaan mereka dibuang 12 tahun di hutan.

    C3- Begawan Durna dalam versi Jawa adalah tokoh jahat, yang banyak mempengaruhi perbuatan jahat Duryudana. Bahkan bersedia menjerumuskan muridnya sendiri, Bima, dalam kisah Dewa Ruci. Tapi dalam versi Mahabharata India, tokoh jahatnya adalah Sengkuni, paman Duryudana.
    Satu hal yang menarik, nama Durna ternyata dikenal juga di luar Indonesia dan India, yaitu dalam novel-novel cerita silat Tiongkok. Menteri jahat pada cerita-cerita silat itu, sering disebut sebagai “menteri dorna”.

    C4- Adipati Karna, lahir batin menunaikan tugasnya sebagai ksatria sejati. Sebagai Adipati Awangga yang berada di wilayah Hastina, dia maju perang membela Hastina.
    Bagaimana batinnya? Mengapa dia rela melawan adik-adiknya satu ibu?
    Ada satu versi paling menarik bagi saya, setelah mendengar “Kresna Duta” yang dibawakan Ki Narto Sabdho. Adipati Karna sengaja membela Duryudana, karena hanya dengan cara itu lah kejahatan dapat ditumpas tuntas. Duryudana sempat ragu-ragu, mampukah dia menandingi kessaktian Pendawa. Melihat keraguan itu, Adipati Karna tampil dan meyakinkan Duryudana bahwa akan menang melawan Pendawa. Pengakuan Karna ini disampaikan kepada Prabu Kresna, waktu keduanya bertemu di tempat kediaman Dewi Kunti. Pengakuan Karna ini hanya diketahui Kresna dan Kunti saja, dan tidak diceritakan kepada Pendawa.
    Ada faktor lain lagi. Dalam hati kecilnya, Adipati Karna ada rasa sedikit kecewa mengapa ibunya dulu membuangnya waktu dia masih bayi. Ini membuat tekadnya menjadi bulat, rela mati dalam Perang Bharatayudha. Dengan demikian, bisa membuat ibunya merasakan bagaimana pilunya melihat anak-anaknya bertempur satu sama lain, dan bagaimana pilunya melihat anak yang dulu dibuangnya, meregang nyawa di depan mata.
    Jadi, menurut pandangan Karna, sebagai ksatria dia membela negara yang menaunginya. Batinnya, dia membela kebenaran, karena dengan kesediaannya membela Duryudana itu lah perang Bharatayudha terlaksana.

    D. Masih adakah nilai yang terkandung dalam kisah Bharatayudha, selain yang sudah diutarakan di atas?

    D1- Mari kita renungkan sejenak: benarkah Duryudana sepenuhnya berada di pihak yang salah?
    Destarastra adalah anak sulung. Karena buta, dia menyerahkan tahtanya kepada adiknya, Pandu. Menurut pandangan Duryudana, Pandu ini pemegang tahta sementara saja.
    Oleh karena itu, sesungguhnya Pendawa rela menerima separuh saja kerajaan Hastina.
    Kesalahan Duryudana yang utama adalah sifatnya yang serakah, tidak mau membagi dua wilayah Hastina, dan tidak mau menepati janjinya mengembalikan Indraprastha, yang diperolehnya karena menang main dadu.
    Kemudian, walau pun sudah dibela oleh orang-orang sakti, tetap saja Duryudana kalah.
    Kebetulan, tokoh-tokoh sakti itu harus tewas, karena karma mereka di masa lalu.
    Benarkah itu suatu kebetulan? Sesungguhnya, itu adalah hukum alam.

    D2- Dalam kisah Dewi Kunti, bermanfaatkah ajian berupa “kemampuan mendatangkan dewa” itu?
    Ternyata, ilmu itu bermanfaat manakala Pandu tidak dapat menunaikan tugasnya sebagai suami, akibat perbuatannya memanah mati rusa yang sedang bersanggama di hutan.
    Dewi Kunti “matek aji”, datanglah Betara Dharma, dan lahirlah Yudistira. “Matek aji” lagi, datang Betara Bayu, lahirlah Bima. “Matek aji” lagi, datang Betara Indra, lahirlah Arjuna.
    Lahirnya Nakula dan Sadewa dari Dewi Madrim juga berkat bantuan ajian Dewi Kunti.

    Teladan apa yang bisa kita ambil?
    Tekunlah menuntut ilmu, suatu ketika pasti bermanfaat.
    Dan, patuhilah pantangan-pantangan atau konsekwensi-konsekwensi manakala kita telah mempunyai kemampuan.

    D3- Nilai apa yang terutama menjadi teladan kita?
    “Hidup ini untuk dilakoni”.

    Salam,
    Baskara

  7. Wah ini melebihi ekspektasi jawaban yang saya harap nih …
    Semua bagus-bagus

    Seperstinya P Baskara & P Widji sangat cocok untuk jadi author WP ini

    Gimana Pak siap tho setelah quiz periode pertama ini selesai ?

    Banyak yang bisa di update dan upgrade dari konten yang sudah ini. Terutama dari pagelaran wayang oleh dalangs yg sudah ada, harusnya ada semacam kata pengantar dan ulasan sekilas tentang konten dan nilai yangterkandung didalamnya. Saya sendiri terus terang agak kewalahan untuk mereview setiap lakonnya karena keterbatasan waktu dan pengetahuan saya. Apalagi lakons yg telah beredar sudah berjumlah ratusan lebih.

    Ditambah lagi, seperti ulasan-ulasan bapak-bapak ini sudah layak untuk dijadikan sebagai sebuah tulisan tersendiri. Dan saya yakin yang ditulis ini baru sebagian kecil dari nilai-nilai yang ingin disampaikan. Dapat juga disampaikan materi-materi lain yang saya yakin sangat banyak yg belum di explore disini.

    Boleh kan Pak saya meminta kesediaannya ? :)

  8. Sama halnya dengan versi aslinya, yaitu versi Mahabharata, perang Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana.

    Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.

    Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.

    Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu.

    Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.

  9. Nuwun sewu kula badhe gujeng rumiyin. Wkkkk!!!! Mas PraBu kewalahan kayaknya. Jawaban yg masuk pada panjang2 semua. Sebenarnya sih mau ikutan jawab, cuman saya urungkan karena nanti Blog sampeyan jadi kepanjangan (-buat saya pribadi- kurang enak dilihat). Kalo’ liat responnya para sutresna wayang kayak gini saya punya usul buat quiz berikutnya :
    1. Pertanyaan ttg tokoh cukup 1-2 saja, tapi uraiannya jelas mungkin menyangkut silsilah tokoh tsb termasuk sejauh mana peranannya dalam lakon yang ditanyakan.
    2. Kalo tokoh yg ditanyakan banyak, uraiannya jawabannya bisa dibuat ringkas (padat) namun masih menjelaskan ttg tokoh dan peranan dalam lakon yang ditanyakan.
    3. Jawaban yg masuk jangan ditampilkan dulu, biar yg lain ga` nyontek. Cukup nama pengirim jawaban saja dulu (ini tugas yg dipasrahi “jaga gawang”).

    Ngapunten saderengipun mugi tetep rahayu.

    1. He he he … leres niku
      Namanya juga yang pertama … belajar jalan sambil mencari format quiz dan mekanisme yang terbaik yang kalau nanti berlanjut dapat dilakukan di quiz berikutnya …

      Usul njenengan supaya jawaban di hold dulu dan baru di tampilkan hari berikutnya, saya rasa sangat tepat … akan saya terapkan di soal berikutnya …

      Mengenai tokoh, sebenarnya kalau ada persamaan karakter atau kondisi dan disesuaikan dengan pertanyaan, jawabannya bisa disamakan

      Namun jawaban yang lebih detil baik juga kok …. selanjutnya nanti bisa kita tampilkan dalam posting tersendiri ….

      OK sekali lagi terima kasih atas usulannya Mas Koko

      Nuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s