Suharni Sabdowati


Berikut saya kutip kajian tentang seorang dalang wanita asal Sragen “Suharni Sabdowati”.

Sayang saya cari gambar sang tokoh tidak ditemukan, hanya saya peroleh cuplikan pertunjukan beliau di youtube.

Harmonia VOL. 1V No. 2/Mei – Agustus 2003

PENGARUH NARTOSABDO TERHADAP GAYA PAKELIRAN SUHARNI SABDOWATI SRAGEN (Influence Nartosabdo to Suharni Sabdowati Puppet Style from Sragen)

Oleh : Suwondo*

*Staf Pengajar Jurusan Pedalangan STSI Surakarta

Abstrak

Nartosabdo merupakan dalang populer yang banyak berpengaruh terhadap dalang lain, baik pria maupun wanita di beberapa daerah terutama di Sragen. Gaya pakelirnya berbeda dengan gaya pakeliran Sragen, sastranya berbobot, alur dramatik, lakonnya memukau.

Antawacanannya sangat pilah, gendhing-gendhingnya sangat bervariasi dan gaya sabetnya sederhana tetapi terasa mantap. Banyak dalang yang meniru, juga terkandung maksud supaya sukses. Salah seorang dalang wanita yang gigih mengikuti gayanya adalah Suharni Sabdowati. Belajar dengan nyantrik, disertai dengan suara keras, mandiri, memanfaatkan segala aspek teknik audio visual, memberikan pengaruh kuat terhadap kemiripan gayanya dengan Nartosabdo.

Pemberian gelar Sabdowati oleh Nartosabdo menyebabkan semakin populer dan menaikkan citra dalang wanita itu. Oleh karena itu gaya Suharni Sabdowati lebih dikenal dengan sebutan penganut dalang Nartosabdo, karena semangat (greget) pertunjukannya mengelola sejak awal pertunjukan hingga akhir pertunjukan, perulangan kata dan kalimat khususnya dalam pembicaraan serius, banyak narasi dan dialog, sangat jelas perbedaan suara dan lagu kalimat dari masing-masing tokoh. Suharni Sabdowati terkenal dengan sebutan duplikasi Nartosabdo.

Kata Kunci: penganut gaya, pakeliran, Nartosabdo, Suharni.

A. Pendahuluan

Dalang dalam pertunjukan wayang mempunyai “multi peran” antara lain sebagai : sutradara, aktor, narator, ilustrator, konduktor, penata musik, penata cahaya, dan manager (1995: 3). Demikian kompleknya tugas yang harus diemban, oleh karena itu untuk menjadi dalang Sastramiruda, mengemukakan tujuh persyaratan sebagai berikut:

  • pertama mardawalagu artinya harus paham betul akan lagu karawitan (Jw: gendhing) dan nyanyian (Jw: tembang) Kawi yang digunakan untuk sulukan,
  • kedua amardibasa artinya harus dapat membeda-bedakan bahasa cakepan masing-masing tokoh wayang menurut golongan derajatnya seperti bahasa yang berlaku di lingkungan kerajaan, para dewa, manusia, raksasa, prajurit, dan pendeta,
  • ketiga, awicarita artinya menguasai cerita yang digunakan dalam pedalangan,
  • keempat, paramakawi artinya memahami bahasa Kawi untuk menjelaskan narasi yang memerlukan padan kata,
  • kelima, paramasastra artinya tidak buta aksara,
  • keenam renggep artinya pedalangnya selalu penuh semangat: dan
  • ketujuh sabet artinya trampil dalam menggerakkan semua wayang (1981:5051).

Umar Kayam (1996) dengan mempertimbangkan kompleksitas tugas dalang serta beratnya persyaratan untuk menjadi dalang menyatakan bahwa pekerjaan sebagai dalang adalah pekerjaan yang paling sesuai untuk kaum pria. Pernyataan ini sebagian benar. Kenyataan menunjukkan bahwa diantara dalang-dalang pria pada setiap generasi tentu muncul dalang-dalang wanita meskipun jumlahnya relatif sedikit jika dibandingkan dengan pria.

Sampai dengan tahun 1980-an diketahui terdapat beberapa dalang wanita terkenal antara lain : Bardiyati dari Baturan Klaten (tahun 1970), Supadmi dari Tegalombo Klaten (tahun 1985), Suwanti dari Kartasura (tahun 1980), Rumiyati Anjangmas dari Kartasura (tahun 1980), Sumiyati Sabdasih dari Banjarnegara (tahun 1980), Sabdorini dari Kendal (tahun 1980), Sufiyah dari Kebumen, Suwati dari Jombang, Partini dari Sragen (tahun 1980-1985), dan Suharni Sabdowati dari Sragen (tahun 1980).

Diantara dalang-dalang itu Suharni Sabdowati tampak lebih populer. Hal ini berkaitan dengan luasnya daerah pementasan serta frekuensi pementasannya, selain itu mempunyai kekhususan yang tidak terdapat ada dalang-dalang wanita lain. Gaya pakelirannya sepenuhnya mengiblat gaya pakeliran Nartosabdo baik dalam antawacana wayang, penyuaraan narasi, penggarapan lakon maupun penampilan gendhing-gendhing dan lagu dolanan. Akibat dari itu di kalangan masyarakat pecinta wayang dan masyarakat dalang Suharni terkenal sebagai duplikat Nartosabdo.

Permasalahannya adalah bagaimana pengaruh gaya pakeliran Nartosabdo kepada dalang terutama dalang wanita Sragen.

B. Metodologi Penelitian

1. Tahap Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan empat cara yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara dan pendokumentasian.

a. Studi Pustaka

Pengumpulan data ini dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan buku-buku acuan, artikel, makalah, laporan penelitian yang relevan dengan objek yang diteliti. Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh landasan teori dan kerangka konseptual yang relavan dengan penelitian, diantaranya berupa buku, artikel, makalah, dan laporan penelitian yang digunakan sebagai acuan antara lain sebagai berikut:

  • Buku Peranan Seni Budaya Dalam Kehidupan Manusia, Kontinuitas dan perubahannya, oleh Soedarsono (1985). Buku ini secara umum memaparkan fungsi seni pertunjukan tradisional yakni kepentingan ritual, sebagai tontonan, dan sebagai hiburan pribadi.
  • Buku Seni, Tradisi, Masyarakat, oleh Umar Kayam (1981), buku ini digunakan sebagai perangkat untuk menelaah tindakan seniman dalam hubungannya dengan masyarakat pendukungnya.
  • Buku Beberapa Segi Etika dan Etiket Jawa, oleh Sartono Kartodirjo (1987 – 1988), digunakan untuk melacak akar-akar nilai budaya Jawa yang menjadi salah satu pola anutan seniman dalang.
  • Javanese Shadow Plays, Javanese Selves, tulisan Ward Keeler (1987), isi buku ini digunakan sebagai pijakan melihat ciri pedalangan Sragen terutama Nyi Suharni Sabdowati.

b. Observasi/pengamatan

Dalam penelitian ini observasi dilakukan terhadap beberapa pertunjukan dalang wanita terutama pada gaya pakeliran Suharni. Pada gaya pakeliran Suharni terdapat kemiripan dengan gaya Ki Nartosabdo.

Pada pengamatan yang dilakukan dicatat dan direkam dengan video dan tape recorder. Pada saat observasi ternyata Suharni meniru gaya pakeliran Ki Nartosabdo terutama pada unsur Cak Pakeliran, Catur Karawitan iringan pakeliran. Dalam sabet ternyata Suharni juga memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Ki Nartosabdo yaitu kurang terampil. Hal itu kemudian diimbangi dengan catur dan karawitan iringan pakeliran. Perubahan-perubahan garap atau kreatifitas relatif kecil sehingga kesan yang kuat adalah Suharni meniru (Jebres-Jawa) dengan pakeliran Ki Nartosabdo.

c. Wawancara

Wawancara merupakan langkah pengumpulan data dengan bertanya langsung kepada informan yang mengetahui seluk beluk dalang Sragen, utamanya Nyi Suharni Sabdawati. Bentuk yang digunakan dalam wawancara adalah dengan pertanyaan berstruktur dan tidak berstruktur.

Pertanyaan berstruktur akan memberikan data tentang gaya pakeliran Sragen khususnya dalang wanita pengikut Nartosabdo. Pertanyaan tidak berstruktur memberi kebebasan kepada informan dalam memberikan jawaban terutama sejarah pakeliran Sragen, dalang Sragen dan kehidupan pertunjukan wayang Sragen. Wawancara dilakukan terhadap dalang Suharni terutama meliputi, cak pakeliran, cara mendalang Ki Nartosabdo sehingga menarik, alasan ketertarikan, cara latihan meniru Ki Nartosabdo, unsur-unsur yang dikembangkan sendiri meskipun relatif sedikit, dan cara hidup Suharni yang juga meniru Ki Nartosabdo.

d. Dokumentasi

Pendokumentasian dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh tidak hilang, dapat dilihat dan atau didengar ulang pada saat penganalisaan atau pengolahan data. Alat yang digunakan untuk pendokumentasian yaitu audio visual dan tape recorder yang digunakan untuk merekam pertunjukan wayang kulit. Hal ini penting dilakukan untuk melengkapi data guna memudahkan menginterpretasikan data agar mudah ditransfer ke dalam suatu laporan tertulis.

C. Tahap Analisa Data

Hasil dari pengumpulan data yang diperoleh dari studi pustaka, studi lapangan dan wawancara, kemudian dikelompokkan dan diseleksi berdasarkan keterkaitannya dengan permasalahan. Data-data yang telah penulis peroleh dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu:

  1. Data yang berkaitan dengan sejarah dan bentuk penyajian pertunjukan wayang kulit Sragen.
  2. Data yang berkaitan dengan latar belakang Nyi Suharni Sabdowati sebagai dalang.
  3. Data yang berkaitan dengan Nyi Suharni Sabdowati terhadap masyarakat.

Selanjutnya untuk mengolah dan analisis data digunakan teknik analisis data dengan “deskripsi analisis interpretatif”.

D. Pembahasan

1. Latar Belakang Kehidupan Dalang Wanita Suharni Sabdowati

Banyak dalang hidup dan berkembang baik pria maupun wanita di Sragen dan sekitarnya seperti Ganda Darman, Suharni dan Partini. Ganda Darman terkenal sebagai dalang cucut. Suharni merupakan dalang wanita lebih dikenal duplikat Nartosabdo, sehingga kecenderungannya menjadi salah satu dalang wanita yang dpengaruhi oleh Gaya Nartosabda.

Adapun sekilas riwayatnya demikian:

Sejak umur dua tahun Suharni telah mulai akrab dengan kesenian terutama ketoprak dan karawitan, karena selama masih kecil mengikuti ayahnya mengelola ketoprak Krida muda. Keikutsertaan Suharni dalam ketoprak ini menunjukkan bahwa pengaruh kehidupan seni telah terasa sejak dini.

Setelah kembali ke Kedung Bringkil, tanah kelahirannya ia beralih menyenangi pertunjukan wayang. Bersama Kromo Wahana kakeknya yang sebagai penggender, Suharni seringkali melihat pentas dalang-dalang terkenal di daerah Sragen seperti Ganda Suwarna, Ganda Logiyana dan Ganda Buana. Demikian cintanya terhadap wayang sehingga hampir tiap saat kakeknya mengender, terus menerus diikutinya.

Menurut Geertz yang dikutip oleh Koentjaraningrat dan Franz Magnis Susena bahwa keluarga selalu melindungi anaknya terhadap pengalaman frustasi. Anak yang berumur tiga tahun terus menerus menjadi pusat perhatian orang tua. Pengalaman frustasi dan kejutan-kejutan sedapat-dapatnya dicegah serta semua keinginannya dipenuhi, selain itu anak tidak pernah dibiarkan sendirian (1988: 45).

Sambil melihat pertunjukan wayang Suharni mulai berlatih menabuh gamelan meskipun terbatas pada racikan kethuk. Dengan berlatih rician ini keperluannya terhadap irama mulai terbentuk, setiap melihat pertunjukan wayang ia tentu menirukan apa yang dilakukan oleh dalang, seperti suluk, antawacana, dan gerak wayang. Apapun yang ia pegang akan ia suarakan dan gerakkan sebagaimana dalang memperlakukan wayangnya. Dikemukakan oleh Sumanto, dengan mengikuti pentas orang tuanya atau orang yang dianggap sebagai guru, akhirnya mereka dapat melakukan seperti yang dilakukan oleh orang tua atau yang dianggap sebagai guru. Dalam hal ini kepekaan dan ketekunan anak merupakan faktor yang sangat menentukan (1990: 22).

Kebiasaan melihat wayang dan menirukan dalang itu berlangsung terus, meskipun ia sudah masuk Sekolah Dasar. Mulai tahun 1946 ia disamping mengenal pertunjukan wayang kulit juga akrab dengan ayang suluh, karena ayahnya diangkat sebagai pegawai penerangan dan petugas menyebarkan program-program pemerintah melalui wayang suluh.

Kecintaan terhadap wayang seperti terputus sebentar yakni ketika ia melanjutkan sekolah Kepandaian Putri (SKP) di Surakarta, kemudian ketika berumur tujuh belas tahun terpaksa harus menikah dengan Suci Purnama atas kehendak orang tuanya. Ternyata kedudukannya sebagai ibu rumah tangga sama sekali tidak menghambat kecintaannya terhadap wayang. Sejak hamil anak yang pertama sekitar tahun 1955, ia mulai terjun kembali ke dunia kesenian. Selain melihat pertunjukan wayang pada hari-hari luang ia isi dengan latihan karawitan putri, latihan pethilan gara-gara, atau latihan ketoprak yang anggotanya terdiri dalang-dalang se Kecamatan Gondadang.

Pada tahun 1961 Suharni melaksanakan pentas perdana wayang, yakni pentas wayang Suluh di kantor Kecamatan Gondang Sragen. Untuk kepentingan pentas, terlebih dahulu dipersiapkan menguasai janturan, pacapan, ginem, sulukan dan lakon. Pementasannya cukup berhasil. Atas anjuran para dalang-dalang Gobdang Sragen, Suharni diminta menekuni wayang kulit purwa karena disamping potensinya memadahi juga kehidupan wayang purwa lebih subur daripada wayang suluh. Sejak itu Suharni mulai belajar wayang purwa dengan menirukan gaya pakeliran dalang terkenal di daerah Sragen. Atas usaha tersebut dalang-dalang di daerah Sragen mendukung sepenuhnya dengan memberi kesempatan untuk muncuki, njejeri, sampai pentas siang hari.

Suharni pertama kali pentas wayang kulit purwa tahun 1967 dengan lakon Kongso Adu Jogo. Warna suaranya besar seperti laki-laki menyebabkan dirinya lebih menarik. Berawal dari pentas pertama berhasil kemudian sering dipanggil pentas wayang kulit purwa.

2. Suharni Sadbowati Penganut Gaya Pakeliran Nartosabdo

Berawal dari mendengarkan dari siaran wayang melalui radio tahun 1967. Suharni mulai mengenal gaya pakeliran Nartosabdo. Semula yang menarik perhatian karena berbeda dengan para dalang pada umumnya baik dalam sastra, antawacana, dramatik, lakon, sulukan maupun gendhing-gendhingnya.

Oleh karena itu ketika ada pentas di Sragen dalam rangka peresmian Waduk Toray, Suharni menyempatkan diri untuk melihat. Dengan minat yang kuat berisi duduk di sebelah kotak wayang bersebrangan dengan dalang. Semalam suntuk diperhatikannya perilaku dalang dan kagum melihat penampilan Nartosabdo. Berhari-hari terngaing-ngiang gaya pakeliran Nartosabdo. Karena itulah bersama Suparti pergilan ke Semarang untuk nyantrik. Sejak itu keduanya sering kali mengikuti pentas Nartosabdo jika menerima panggilan pentas.

Sejak saat itulah, Suharni berusaha meniru gaya pakelirannya.

Dengan nyantrik serta mengikuti pentasnya semakin kenal betul terhadap pakeliran Nartosabdo. Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Suharni berusaha keras antara lain dengan mentranskrip seluruh rekaman wayang komersial. Sambil mendengarkan rekaman ia berusaha membaca hasil transkripnya sesuai dengan lagu penyuaraan dalam rekaman. Untuk mentranskrip satu lakon seperti Gatutkaca Sungging biasanya menghabiskan waktu lima belas hari. Untuk membaca transkrip sekaligus menyuarakan dengan rekaman sering memakan waktu minimal sepuluh hari. Suharni berusaha meniru persis pakeliran Nartosabdo baik penampilan pocapan, janturan, dialog, sabet, sulukan dan gendhing-gendhing, selain juga berusaha meniru persis lakon-lakon yang disajikan Nartosabdo.

Kegigihannya berusaha menirukan gaya pakeliran itu terkandung maksud supaya dapat mencapai sukses seperti yang telah dicapai oleh Nartosabdo. Dari sisi lain dapat dianggap berorientasi pada tujuan (goal oriented) pada kegiatan (social oriented) (1996: 4). Usaha itu mulai menampakkan hasil. Dengan mengikuti gaya pakeliran Nartosabdo frekuensi pentasnya mulai naik. Lebih-lebih setelah mendapat tambahan gelar Sabdowati. Dengan tambahan nama itu masyarakat pencinta wayang semakin yakin bahwa Suharni diakui resmi oleh Nartosabdo sebagai penerus gaya pakelirannya.

3. Popularitas Suharni Sabdowati Dalang Wanita Sragen

Wujud dari ciri pakeliran Suharni Sabdowati pada dasarnya mirip dengan Nartosabdo. Dalam hal penggarapan lakon, catur, dan sabetan diupayakan seketat-ketatnya meniru Nartosabdo. Lakon-lakon yang ditampilkan sebagian besar adalah lakon Nartosabdo yang telah dikasetkan serta menakan lakon yang porsi caturnya lebih menonjol daripada sabet.

Struktur penampilan lakon Suharni Sabdowati sama persis seperti struktur lakon Nartosabdo yang pada dasarnya mengikuti pola struktur lakon wayang gaya Surakarta. Adapun struktur lakon itu adalah sebagai berikut:

Bagian Pathet Nem

  1. Jejer atau adegan pertama, dilanjutkan babak unjal, bedhoan, dan gapuran.
  2. Adegan kedhaton, dilanjutkan limbukan
  3. Adegan paseban jaban, dilanjutkan budhalan, kapalan, pocapan, kereta atau gajah, dan perang ampyak
  4. Adegan sabrangan (dapat dilakukan sekali atau dua kali).
  5. Adegan perang gagal

Bagian Pathet Sanga:

  1. Sangan sepisan dapat berupa adegan pertapan, kesatriyan, alas, atau garagara
  2. Adegan perang kembang
  3. Adegan sintren atau sanga pindho atau magak
  4. Adegan perang sampak tanggung

Bagian Pathet Manyura:

  1. Adegan manyura sepisan
  2. Adegan manyura pindho
  3. Adegan manyura katelu
  4. Adegan manyura brubuh
  5. Adegan tayungan dan dakhiri
  6. Tancep kayon dan atau golekan

Pola struktur di atas tidak sepenuhnya diikuti secara ketat. Sering kali ada adegan-adegan yang tidak ditampilkan seperti adegan babak unjal dan gapuran. Selain itu seperti halnya Nartosabdo, Suharni Sabdowati juga sering kali menampilkan adegan gara-gara.

Bahkan dalam episode Baratayudha oleh para dalang pada umumnya tidak menampilkan gara-gara atau perang kembang, Suharni tetap menampilkan kedua adegan itu.

Sajian catur Suharni Sabdoati sering mempunyai persamaan catur Nartosabdo sebagai berikut :

a. Dalam hal janturan Suharni sabdowati sering melakukan perubahan terhadap janturan baku utuk jejer, terutama ketika mendeskripsikan watak Duryudana (Pada penampilan janturannya mengikuti apa yang pernah ditampilkan oleh Nartosabdo, khususnya janturan baku untuk jejer pertama ia merubah pada bagian permulaan. menurut tradisi diawali dengan kalimat Swuh ep data pitana yang artinya “sebenarnya dalam kehancuran akan diikuti dengan kedamaian”. Oleh Suharni diubah menjadi Aum awigenam hastu, mugi rahayu sagung dumadi yang artinya “semoga selamat seluruh makhluk”. Bagian janturan baku lainnya yang sering dirubah adalah ketika mendeskripsikan tokoh Duryudana Raja Astina. Menurut tradisi penggambaran watak Duryudana adalah sebagai berikut :

…. Sayekti agung dedanane Sri nata ing Astina, remen paring andhang wong kawudan, paring teken jalma kaluyon, paring boga wong keluwen, angsung kudhung ing kapanasan, akarya suka marang kang nandhang prihatin…

Terjemahan :

… Sunguh besar pahala Raja Astina, suka memberi busana orang yang tidak berpakaian, memberi makan makanan orang yang kelaparan, suka memberi tongkat orang yang terpeleset, memberi topi orang yang terkena terik matahari, membuat senang orang yang menderita kesusahan . . .

Penggambaran Duryudana seperti itu oleh Suharni Sabdowati dirubah sebagai berikut :

… narendra hambeg adigang adigung sumungah sesongaran, watake lamun bisa kadulu sapa sira sapa ingsun gagabah marang sasamining tumitah, rumangsa dhuwur dhewe, malela dhewe jagad tanpa timbang, wiwit saka solah bawane, tandang tanduk munamuni sambang lan srawung tan bangkit angenaki tyasing sesama. Sapa wae kang sumadhing supaya amrad marang sarirane, ora jeneng mokal lamun kurang pratitis nggone nindakake adil nyang bebener …

Terjemahan :

… Raja yang berwatak sombong, merasa paling berkuasan, menghina sesama manusia, merasa paling terhormat yang dui dunia tidak ada bandingnya, mulaida ri tingkah laku hingga tutur kata, dalampergaulan selalu menyakiti orang lain, siapa saja yang mendekat dengan dirinya harus selalu menganggap dirinya baik, tidak mengherankan jika ia kurang tepat melakukan keadilan dan kebenaran …

Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nartosabdo, Suharni juga sering menampilkan bentuk-bentuk persajakan dalam janturannya.

b. Baik dalam janturan maupun pocapan seringkali menampilkan bentuk-bentuk persajakan (purwakanthi). Hal ini antara lain nampak dari sebagian janturan Astina dalam lakon Bima Gugur sebagai berikut :

…ora jeneng mokal lamun kathah jiwa kang bakal rebah kasulayah ana madyaning panca bakah, nganti kaya sarahing gelagah pateng balengkrah ing lemah. Kwandha ambelasan kapidah dening gajah…

Terjemahan:

… Tidak mengherankan jika banyak jiwa yang akan menjadi korban di dalam peperangan sampai bagaikan sampah batang gelagah yang berserakan di tanah, bangkai berserakan terinjakinjak olegh gajah…

Bentuk seperti ini jug atampak dlam janturan adegan paseban Jawi seperti sebagai berikut :

…bentuk manyul mripat pandul, irung kaya penthul, lambene gandhul, untune gisul…

Terjemahan :

..dahi menonjol, matanya tidak rata, hidungnya seperti hidung penthul, bibirnya menggelantung, giginya tidak teratur…

Suharni dalam janturannya meskipun melakukan perubahan-perubahan tetapi masih tetap mengikuti struktur isi janturan tradisi pada umumnya.

c. Suharni Sabdowati merubah pocapan ceritera tradisi yang semula berfokus pada keraton diubah menjadi terfokus pada tokoh. Khususnya pocapan gara-gara masih ketat mengikuti pocapan gara-gara tradisi Surakarta. meskipun ketat mengikuti pocapan gara-gara baku, tetapi sebagaimana halnya dyang dilakukan oleh Nartosabdo, ia juga memberi variasi dengan memasukkan bentuk persajakan (Jw. Purwakanthi). Hal ini tampak pada kalimat sebagai berikut :

… gara-gara mubal babal, genineyomani, lir kinebur temah ambabar agenging lahar, dahana makantar-kantar lir angabar ing kahyangan yayah kawelegar…

Terjemahan :

..garagara api neraka berkobar, bagai diaduk-aduk menyebabkan besarnya api lahar kain menjadi seperti membakar tempat tinggal dewa…

d. Dalam wacana dialog tidak lagi menggunakan dialog blangkon terutama ragam ginem tapa-praja. Dalam hal pemilihan kata-kata, berusaha menghindari kata-kata bahasa Kawi sehingga terasa komunikatif.

Untuk memberi penekanan akan arti pentingnya ginem dari seseorang tokoh, dilakukan pengulangan pengucapan.

Suharni Sabdowati dalam penyajian sabetnya tidak terampil . Secara umum tergolong sederhana, namun khususnya di dalam pengaturan komposisi tancepan adegan cukup bersih, dan pilah. Dia tidak pernah menampilkan gerak-gerak akrobatik, penampilan gerak wayangnya di kelir masih sangat lekat dengan aturan-aturan (Jw. Udanerara), bahwa wayang bergerak, bayangan tokoh wayang harus melekat dengan bagaikan bawah kelir yang disebut palemahan. Aturan bayangan kaki wayang melekat pada palemahan seringkali kurang diperhatikan oleh para dalang sehingga ketika dilihat dari belakang kelir wayangnya tampak terbang. Dalang dalang masa lalu termasuk angkatan Nartosabdo, aturan ini dipandang sebagai pedoman yang harus diikuti secara ketat. Kiranya yang dilakukan oleh Suharni sabdowati merupakan warisan yang ia terima dari Nartosabdo, disamping itu juga berusaha agar sabetnya yang sederhana dan kurang terampil itu tetap ada bobotnya (Manteb S, wawancara 29 April 99).

Penampilan sulukan baik jenis macam penggunaannya, sangat ketat mengikuti sulukan Nartosabdo. ia tidak pernah secara lengkap menampilkan seluruh repertoar sulukan tradisi gaya Surakarta. Dalam penampilan sulukannya sering memberi variasi dengan menampilkan Macapat sebagai sulukan dari gaya pakeliran purwa Yogyakarta, Banyumas dan Golek Kebumen.

Keinginannya mengikuti penampilan gendhing-gendhing Nartosabdo ternyata tidak dapat terpenuhi. Relatif sedikit yang dapat ditampilkan dari karya Nartosabdo yang berupa kreasi dari gendhing-gendhing tradisi maupun yang susunan baru. Hal ini diakui sepenuhnya justru ini menunjukkan sangat tingginya kemampuan Nartosabdo, sehingga tidak ada seorang muridnya yang mampu menguasai seluruh karyanya (Suharni S, wawancara 25 September 2000).

Suharni sabdowati mencapai puncak karir sebagai dalang penganut Nartosabdo antara tahun 1977 sampai dengan tahun 1985. Dalam tahun-tahun itu rata-rata frekuensi pentasnya 10 sampai dengan 17 kali per bulan. Jumlah ini masih di bawah rata-rata dalang pria populer, tetapi jauh diatas frekuensi dalang populer di daerah Sragen dan dalang wanita di daerah Surakarta. Wilayah pementasannya menyebar hampir seluruh kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Jakarta dan Bandung. Kota-kota di luar Jawa antara lain Bengkulu, Lampung, dan Merauke.

Para dalang gaya Surakarta pada umumnya berpendpat bahwa pakeliran Suharni sabdowati adalah mengiblat gaya pakeliran Nartosabdo.

Karena kebesaran nama Nartosabdo dan juga eratnya hubungan Suharni Sabdowati dengan para dalang maka sangat sulit didapat pendapat yang negatif.

Kehadiran pakeliran Suharni Sabdowati dalam dunia pedalangan adalah sebagai pelestari pakeliran gaya Nartosabdo, memperkaya khasanah gaya pakeliran khususnya bagi masyarakat Sragen dan Jawa Tengah pada umumnya.

E. Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya pakeliran Nartosabdo selain berbeda dengan pakeliran para dalang Sragen pada saat itu juga sastranya dianggap sangat berbobot, dramatik lakonnya dapat memukau, antawacana wayang sangat pilah, gendhing-gendhingnya bervariasi, dan gaya sabetnya sederhana tetapi terasa mantap. Gaya dalang saat itu terutama dalang wanita Sragen mengiblat Nartosabdo. hal itu juga terkandung harapan ingin mencapai sukses seperti Nartosabdo.

Untuk itu Suharni Sabdowati nyantrik kepada Nartosabdo disertai usaha keras berlatih secara mandiri, mentranskrip rekaman audio pakeliran Nartosabdo dan menirukan secara ketat. Motivasi berlatih adalah mementingkan belajar sebagai sarana untuk mengikuti seluruh perilaku mendalang gurunya.

Pemberian gelar Sabdowati oleh Nartosabdo dan bantuannya dapat siaran di RRI menyebabkan Suharni Sabdowati semakin populer di mata masyarakat dalam maka dianggap sebagai penerus pakeliran Nartosabdo. Ciri-ciri pakelirannya mirip dengan ciri pakeliran Nartosabdo antara lain: pertunjukannya bersemangat (Jw: greget) sejak awal sampai akhir pentas, terdapat perulangan kata-kata dan kalimat khususnya dalam pembicaraan serius, banyak persajakan dalam narasi dan dialog, serta sangat jelas perbedaan suara dan lagu kalimat dari masing-masing tokoh wayang.

Frekuensi pentas dan daerah pentas, serta imbalan, jasanya jauh melebihi dalang-dalang wanita terkenal, bahkan melebihi rata-rata dalang pria terkenal daerah Sragen.

Kehadiran pakeliran Suharni Sabdowati tetap mempunyai kontribusi bagi khasanah pakeliran terutama sebagai pelestarian pakeliran gaya Nartosabdo.

Daftar Pustaka

Murtiyoso, Bambang. 1995. “Faktor-faktor Pendukung Popularitas Dalang” (tesis) Yogyakarta: UGM

Susena, Franz M. 1988. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi Kebijaksanan Hidup Jawa. Jakarta: PT. Gramedia

Kats, J. 1984. De Wajang Poerwa (Terjemahan KRT Kartoningrat). USA:Cinana Minsen. Holland: Foris Publication

Keller, J. 1987. Ward, Javanese Shadow Plays, JavaneseSelyes. New Jersey: Princeton University Press.

Kuntowidjoyo. 1987. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana

Kusumodilaga. 1987. Serat Sastramiruda. (terjemahan). Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Depdikbud. VOL. 1V No. 2/Mei – Agustus 2003 50

HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Moleong, J.L. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya

Pannen P. 1994. Dalam Mengajar Di Perguruan Tinggi. Jakarta: Pusat Antar Universitas Dirjen Dikti dan Kebudayaan

Soedarsono, RM. 1991. “Nasib Seni Tradisi Menjelang Era Tinggal Landas”. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Soetarno. 1990. “Narto Sabda Kehadirannya Dalam Dunia Pedalangan Sebuah Biografi” (tesis) Yogyakarta: Prog. Pasca UGM

Kayam, Umar. 1981. Seni Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan

4 thoughts on “Suharni Sabdowati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s