Ulasan dan Inputan


Berikut saya teruskan sedikit ulasan dari Pak Aris Samudrianto yang awalnya hadir di email saya, namun karena saya anggap layak untuk di publish dan dicermati bersama, maka kali ini saya sharing untuk kita bersama(sebelum inyong balik maning ke mbandung  munggah sepur saka stasiun Tawang).

Selaku penggila wayang sedari kecil dan salah satu dalang yang digandrunginya adalah KNS, maka sedikit banyak pengetahuan wayang dan lakon yang dibawakan oleh KNS tentu beliau cukup detil mengetahuinya. Sedangkan dengan ditunjang pengalaman beliau di bidang media rekam merekam, sedikit ulasan tentang ripping semoga akan bermanfaat bagi kita semuanya.

Tulisan ini sudah diijinkan oleh pemiliknya, Pak Aris, untuk dipublish dengan harapan berguna bagi kita semua. Mudah-mudahan nantinya sesuai dengan yang saya minta via email, Pak Aris berkenan untuk memberikan pengetahuan dan pengalamannya terkait dengan wayang dan media lebih banyak lagi.

Matur nuwun

Berikut tulisannya :

__________________________________________________________________________

Terimakasih sudah diperkenankan mengunduh dengan bantuan kata kunci yang diberikan waktu lalu.

Tiga file sudah saya unduh, masing masing Kangsa Adu Jago, Pendawa Tyasa dan Pendawa Pitu.

Ketiganya dibawakan beliau dengan sastra pedalangan tingkat tinggi khas Nartosabdan dengan tata rekam seimbang antara vocal sang dalang, keprak, dhodhogan dan karawitannya. Sungguh detil garap tata suara pada jamannya, melebihi tata rekam salah satu dalang kondang saat ini yang pada umumnya lebih dominan suara kombangan dan teriakan sang dalang serta keprak dan gendangnya (kalau didengarkan seperti irama majruran/arab) karena audio level karawitan pengiringnya begitu lamat lamat.

Tidak demikian kualitas tata suara khas Condong Raos yang selalu terjaga tonal balance pada setiap rekamannya walaupun terdapat beda perekam, misalnya antara nuansa live show Singobarong dengan rekaman studio.

Kangsa Adu Jago, mempunyai kenangan masa kecil, ketika dengan susah payah mendengarkan siaran Radio Pertanian Wanacala-Surabaya di gelombang SW1 dengan suara yang sedikit fading karena jauhnya jarak dari Purwokerto ke Surabaya. Sekarang terlaksana sudah menikmati dengan level yang stabil, walaupun masih Mono, tetapi dimaklumi pasti saat itu rekaman masih pakai reel kaset dan siaran radionya pun tidak menuntut Stereo.

Sayang hasil ripping-nya sedikit over drive sehingga distorsi clipping terjadi saat amplitude bergejolak.

Pandawa Tyasa, saya tidak menyebut sebagai Pendadaran Siswa Sokalima, karena seingat saya, waktu itu paman saya mempunyai kaset tersebut dengan label Pandawa Tyasa dan dengan ngilernya saya ingin memutarnya waktu itu. Sekarang kembali lagi saya terlaksana menikmatinya dengan kualitas rekaman Stereo khas Singobarong, nuansa ruang  Stereo live yang meriah . . . . . Satu lagi hal, perhatikan saat perang manyura, terlepas dari apakah beliau mengulur waktu sesuai ruang kaset, jarang terjadi Sang Maestro melakukan adegan perang dengan sebegitu lama terbawa dengan sorak sorai penonton . . .dramatis .. . . . , mengingatkan masa kecil kami ketika itu keranjingan menonton wayang.

Saat di awal, kembali hasil audio ripping overdrive terjadi, untung hanya sesaat, kemudian level-nya turun hingga ke tingkat sewajarnya.

Kebiasaan saya dalam mengunduh adalah mengambil file pertama dan terakhir dari satu folder lakon. Ketika file pertama dari Pendawa Pitu saya coba dengarkan, ada suatu diluar kebiasaan dari Ki Narto, jejeran menerapkan ayak-ayak Metaraman sementara intonasi terasa sangat ditekan, sanggit antawecana pun keluar dari rel pewayangan baku. Dari situ saya teruskan dan saya merasakan mood sang dalang rupanya sedang ON, alhasil, keriuhan suasana dan sastra pedalangan mbeling khas yang pada awal jamannya banyak dicerca merusak pakem, mengalir dengan meriah.

Sayangnya rekaman masih mono dan level balance sedikit tidak imbang. Distorsi clipping juga terjadi pada sepanjang pagelaran.

Perkenankan saya mengkritisi hasil upload pada umumnya, bukan karena usil, sudah dapat files gratisan kok masih minta lebih, tetapi ini lebih karena kecintaan saya terhadap WP yang Anda bina, barangkali sesedikit pengetahuan serta pengalaman yang saya peroleh dari perjalanan karir saya di bidang elektronika konsumsi khususnya dalam rekam merekan audio analog ketika saya nyantrik di beberapa perusahaan Jepang bisa memberikan sumbangan positif pada Wayang Prabu.

Memang bukanlah pada tempatnya untuk mengharapkan kualitas audio rekaman pita lawas memiliki bandwith yang lebar, sehingga semua komposisi deretan bebunyian mulai dari gong ageng yang pulen hingga denting siter yang renyah ter-reproduksi dengan lepas, rentang dinamika yang kuasa mewadahi suara bergeseknya sendok piring nayaga hingga hingar bingarnya srepeg seseg-nya gangsa yang menjadikan pagelaran menjadi dramatis, serta lebar ruang dan tegasnya pemisahan kanal yang mereproduksi real stereo sehingga suasana menjadi seakan akan kita hadir ditengah pagelaran. Bukan itu. Tetapi tujuan usil saya adalah memberikan usulan untuk perbaikan kedepan.

Lebar bandwith, rentang dinamika dan pemisahan kanal stereo setara Super Audio Compact Disc kualitasnya sudah tidak bisa dikejar karena dari sumbernya; audio pita analog tidak lagi dapat menyamai rekaman digital saat ini. Belum lagi tingginya level desah/noise, wow & flutter khas pita kaset, degradasi kuat pendaman gauss pita dsb.

Namun ada salah satu hal yang bisa sedikit membantu mutu upload dan reproduksi download adalah membuat audio tidak overdrive saat ripping.

Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa level audio yang di-sampling tidak harus powerfull, tetapi inti usaha ripping adalah menjaga agar level audio tidak “menyundul plafon” (baca: clipping, terpotongnya puncak amplitude), agar orisinalitas sumber signal tidak ter-distorsi. Jangan khawatir dengan kemungkinan munculnya noise baru karena kerjaan ripping yang tidak powerfull, karena proses ini relative tidak banyak lagi noise yang terbangkitkan, kecuali noise (serta clipping) dari sumber signal aslinya.

Boleh percaya, overdrive hanya akan mengakibatkan distorsi clipping meninggi hingga hasil akhirnya hanya suara yang rebek-sember, keprak yang seharusnya crèk jadi crk, kendang yang seharusnya dung menjadi duk dsb.

Singkatnya, jaga ripping agar level-nya tidak overdrive, supaya kemurnian/orisinalitas sumbernya terjaga. Jangan menambah distorsi pada kualitas audio yang awalnya sudah termakan usia. 

Urusan powerfull adalah urusan amplifier.

Damn . . . !! Wong iki kok ngajari. 

Ya ora lah . . . wong mung mbagi pengalaman koh, ora papa mbokan?

Muga muga sih ora apriori: “Isaku ripping kaya ngene, seneng ya sukur, ora seneng ya ora patheken.”. Aja kaya kuwe lah . . . .

Mergane ora ana wong maju anggere ora terus usaha memperbarui diri lan ngrungu usulan seka wong liya. Aja suwe suwe manggon neng comfort area, aja ngrasa yen aku wis tanpa tandhing, ketitik aku wis sinayudan dening sepadha competitor tanpa nggebug sarana peperangan.

Nggih napa nggih . . ??

Klilaaan . . . . . . . . . . . . .

(Ooollaaahhh . . . dadi Bawor maning)

A Samudrianto.

Wong mBanyumas.

d/h  prc.eng@akira .co.id.

Laporan dan Harapan


Laporan Keuangan

Seperti yang telah kami janjikan sebelumnya untuk memberikan laporan keuangan kepada para pecinta wayang di blog ini, khususnya bagi para donatur yang telah berkenan menyisihkan rejekinya untuk “proyek” kita seperti yang telah disebutkan di posting sebelumnya, maka secara umum (rekap) akan ditampilkan laporannya posisi sampai dengan tanggal 24 April 2010, sebagai berikut :

  • Donasi yang telah masuk oleh 20 orang sebesar : Rp. 6.200.000,-
  • Pengeluaran untuk biaya transfer penganti koleksi KNS dan pembelian CD, Cover  dan biaya pengiriman ke para pendonor sebesar : Rp. 2.954.700,-
  • Saldo : Rp. 3.245.300,-

Perlu diketahui bersama, bahwa Mas Imam sementara ini ketiban sampur dan secara sukarela menjadi Bendahara. Dan untuk selanjutnya sampai waktu yang belum ditentukan kami harap Mas Imam berkenan untuk menyandang dan melaksanakan tugas mulia ini. Mungkin kalau nanti sudah terbentuk Paguyuban, akan ditetapkan secara resmi di Munaslub Paguyuban Penggemar Wayang yang belum terbayang akan diselenggarakan kapan dan dimana. he he he.

Ide-ide seputar terbentuknya Paguyuban

Dari pembicaraan informal diantara kami, ada sebuah usulan yang menarik terutama bagi para penggemar wayang yang memiliki keterbatasan dalam akses internet dikarenakan susah memperolehnya atau dapat memperoleh akses namun sangat lambat. Jangankan untuk men-DL file-file MP3 yang ukurannya cukup besar, lha wong untuk membuka page wayangprabu.com saja harus disambi nyruput kopi dan menghabiskan beberapa hisapan rokok di bibir ditambah bonus gerutuan “Oalaah … luuuuuambate rek … kok kaya Limbuk nemu gethuk keno guepuk ning angkruk disunduk sisan”. Untuk teman-teman kita itu, nanti ada semacam bantuan copy koleksi wayang dalam cede yang terkirim dan cukup diganti dengan biaya beli cede, cover dan biaya pengiriman dan kalau berkenan ditambah bonus sumbangan seikhlashnya untuk kepentingan bersama.

Sebenarnya bagus juga ide seperti itu, cuman bagaimana mekanisme dan siapa pelaksananya masih belum jelas. Mengingat masing-masing person tersebar wilayahnya dan hanya bisa berhubungan via email, telepon atau FB dan juga tentu mempunyai tanggung jawab serta kesibukan masing-masing. Nek nyerahake maneh ning Mas Imam, kami takut dicap “manungsa kurang tata”. Meskipun Mas Imam terhitung paling muda dan paling enerjik, lha nek di kuyo-kuyo kaya ngono yo pasti mbengok to … he he he …

Namun saya salut kok sama Mas imam yang kelihatannya kalem tapi kalau sudah tandang gawe, solahe cukat trengginas kaya Raden Gatotkaca, mabur sana mabur sini dadi telik sandi mencari lokasi-lokasi yang dicurigai masih memiliki harta warisan terpendam.

Cukup banyak ide-ide lain selain melengkapi warisan budaya wayang (audio, video pagelaran wayang), dukungan bagi para pelaku kesenian wayang, dukungan bagi para sesepuh dan keluarga budayawan, melepas dahaga dengan menggelar live show pagelaran, kalau perlu saresehan dan ide-ide lain yang mungkin dapat dilakukan.

Opo iso yo ?

Apa sih yang nggak mungkin ? Lha wong kalau saya cermati, para pecinta wayang yang nulis komen atau kirim email ke saya, begitu buanyak dan begitu fanatik serta enerjik dan tersebar di seantero Nusantara sampai manca negara.

Cuman memang harus ada yang manggala-ni dan me-manage segala potensi itu menjadi kekuatan yang berhasil guna.

Okelah … orang bilang itu mungkin dapat dianggap sebagai long term. Sementara sort term yang ada di depan mata sekarang adalah melanjutkan upaya yang kita bisa lakukan yaitu mengumpulkan warisan budaya, cagar budaya, berupa koleksi pagelaran wayang oleh KNS, juga KHS dan dalang-dalang lain yang mungkin belum pernah kita dengar dan nikmati.

Untuk KNS kita sudah memulainya. Untuk KHS ada rekan kita yang begitu bersemangat untuk mewujudkannya. Untuk dalang-dalang lain, alangkah indahnya bila bisa terwujud.

Dan untuk mewujudkan itu, tentu saja harus melalui perjuangan dan dukungan daya dan dana yang mungkin tidak sedikit.

Ibaratnya, satu batu telah kita langkahi. Dan batu-batu lain yang ada di depan, siap untuk kita langkahi bersama. Dengan apa ? Dengan kebersamaan, kepedulian, semangat dan yang paling penting dengan ke-istiqomah-an. Ketetapan hati dan tekad untuk selalu menjadi lebih baik di hari depan.

Dukungan Anda semua tentu masih sangat diharapkan. Upaya kita adalah upaya bersama yang akan kita nikmati bersama. Kami ucapkan sekali lagi, MATUR NUWUN atas dukungannya selama ini sehingga minimal konten di blog ini semakin hari semakin lengkap dan semakin banyak orang, khususnya para pecinta wayang, yang telah menemukan tempat berteduh untuk menikmati ademnya hati,disini.

Dari Kita dan Untuk Kita.

Matur Nuwun

Jaya Anila


http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=12349

Jaya Anila, wanara cebol kang waskitha

Jaya Anila yakuwi wanara cebol, wulune biru, sing dadi patih ing nagara Gowa Kiskendha.

Jaya Anila nggabung karo Narpati Sugriwa minangka netepi prentahe Bathara Guru.

Laire Jaya Anila kawiwitan nalika Anoman ngadhep Bathara Guru ing kahyangan, njaluk supaya diakoni putra dening Bathara Guru. Kahanan kuwi dadi guyu para bathara ing kahyangan, dadi sindhiran marang Hyang Manikmaya.

Rumangsa dheweke disindhir terus amarga duwe putra wanara, Bathara Guru banjur methik godhong waru lan disabda dadi wanara cebol sing warnane biru nila. Wanara kuwi banjur ngadhep Bathara Narada njaluk supaya diaku putra. Wusanane Bathara Narada gelem ngakoni lan menehi jeneng Jaya Anila. Para bathara liya uga dikudokake nyipta wanara kanggo kanca Anoman lan Jaya Anila. Bathara Brahma nyipta wanara abang rambut geni sing dijenengi Kapi Anggeni. Bathara Indra nyipta Kapi Sempati, Bathara Yama nyipta Kapi Anala lan sateruse.

Jaya Anila diprentah Hyang Guru supaya ngawula marang Narpati Sugriwa. Dheweke uga diangkat dadi patih nagara Guwa Kiskendha lan duweni hak ngatur barisan wanara. Prajurite Jaya Anila cacahe ewon. Wanara-wanara sing kagolong sekti antarane Kapi Saraba, wanara sirah baya sing pinter slulup. Kapi Cocakrawun, pinter mabur kanggo neliki wadyabala Alengka. Kapi Satabali, wanara sirah pitik, kapi Bekingking, wanara awujud yuyu sing pinter slulup, lan liya-liyane.

Nalika para wanara gotong royong mbangun tambak segaran sing nyambung Maliyawan karo Alengka, jejibahane Jaya Anila yakuwi ngawasi prakaryane para wanara kuwi mau. Nanging ayahan kuwi mesti ora bisa sampurna, kalamangsa ambrol nalika nyedhaki dadi. Nalika digoleki jalarane, jebule ana raseksa balane Prabu Dasamuka sing nyaru dadi wanara lan jejibahane ngrusak pagaweyan tambak kuwi mau. Jenenge Janggisrana. Sanajan bisa dicekel, nanging ora diapa-apakake dening Sri Rama. Malah, Janggisrana disandhangi lan ditundhung bali menyang Alengka.

Sawijining dina nalika Sri Rama lan Gunawan Wibisana nggagas ameh nyerang Alengka gedhen-gedhenan, Wibisana lapuran manawa Prabu Dasamuka duweni pusaka sekti sing arupa pedhang Mentawa. Anila nandhesake manawa dheweke wani nyolong pusakane Dasamuka mau.

Critane, Jaya Anila bisa nyolong pedhang Mentawa ing Alengka, nanging konangan Patih Prahasta lan dioyak nganti tekan alas Dandaka. Ing tengah alas kuwi, Jaya Anila lan Patih Prahasta banjur perang tandhing. Ora suwe, Jaya Anila njabut tugu watu banjur dikeprukake ing sirahe Prahasta nganti nemoni pati. Dene tugu watu kuwi mau banjur malih rupa dadi Dewi Wuryan utawa Dewi Indradi (ibune Sugriwa). ::Damar Sri Prakoso::

Jaya Anggada


http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=12371

Jaya Anggada, wanara kang grusa-grusu

Jaya Anggada yaiku putra Resi Subali kalawan Dewi Tara lan mapan ing Guwa Kiskendha. Nalika bapak kuwalone yakuwi Narpati Sugriwa mbiyantu Sri Rama nyerang Alengka, Jaya Anggada melu wadyabala wanara sing mbelani Sri Rama.

Nalika Sri Rama nuding Anoman dadi dutane kanggo niliki kekuwatane Alengka, Jaya Anggada srei lan rumangsa uga bisa dadi dutane Sri Rama nadyan sedina sewengi thok, kaya dene Anoman. Wusanane, Anoman sing katuding dadi dutane Sri Rama.

Lara atine Jaya Anggada samsaya ndadra nalika meruhi Anoman didadekake dhuta. Dheweke banjur nantang tandhing Anoman, nanging bisa dipisah dening Sugriwa amarga loro-lorone isih kapetung sedulur. Jaya Anggada dhewe ngrumangsani kuwi, banjur njaluk pangapura marang Anoman.

Ing liya dina, Jaya Anggada wusanane uga didadekake duta dening Sri Rama lan dititahake supaya ngadhep Dasamuka ing Alengka, njaluk supaya Dewi Shinta dieculake tanpa lumantar perang. Nanging Dasamuka tetep atos kateguhane. Jaya Anggada dhewe banjur nrejang Dasamuka lan nyaut makutane, banjur digawa bali lan dipasrahake marang Sri Rama.

Sawuse kuwi, banjur pecah perang gedhe kang kaaran Sarikudhup palwaga antarane Sri Rama sawadyabala nglawan Dasamuka sawadyabala. Perang gedhe kuwi purna nalika Dasamuka bisa dikalahake Sri Rama kanti panah sektine, yakuwi panah Guwawijaya. Sri Rama dhewe banjur nduweni niyat ngangkat Dasawilukrama, anake Dasamuka sing isih urip, dadi raja anyar ing Alengka.

Mangerteni kuwi, Jaya Anggada nyuwarani ala. Dheweke kuwatir manawa Dasawilukrama sukmben males ganti mateni Sri Rama, sing wus mateni bapake.

Jebule bener pangirane Jaya Anggada, Dasawilukrama diprentah dening rohe bapake supaya merjaya Sri Rama. Mangerteni kuwi, Jaya Anggada bali mulih menyang Alengka banjur ndhelik ing sangisore papan paturone Sri Rama.

Nalika Dasawilukrama teka kanti nggawa keris kanggo merjaya Sri Rama, Jaya Anggada nangekake Sri Rama banjur nyekel Dasawilukrama lan ngrebut keris sing digawa mau. Sajane Sri Rama menehi pangapurane, nanging Jaya Anggada wus entek sabare banjur mateni Dasawilukrama ing ngarepe Sri Rama.

Jaya Anggada rumangsa seneng banget wusanane bisa mateni Dasawilukrama, lan dheweke banjur gelem gabung maneh karo wadyabala wanara angkatan perang Kiskenda. ::Damar SP::

http://wayangku.wordpress.com/2008/10/29/anggada/

Anggada adalah salah seorang senapati tentara wanara negara Kiskenda dalam pemerintahan Prabu Sugriwa. Ayahnya adalah Resi Subali, ibunya bernama Dewi Tara, putri Batara Indra. Subali dan Sugriwa, atas perintah dewa, telah menang dalam perang melawan Prabu Maesasura, dengan seluruh balatentaranya.

Sesudah peristiwa Kiskenda, Sugriwa dikawinkan dengan Dewi Tara dan dinobatkan menjadi raja. Kerajaan Kiskenda dihadiahkan kepadanya. Atas hasut-fitnah Prabu Dasamuka, negara Kiskenda diserang Subali, yang merasa bahwa kemenangan atas Kiskenda, Subali-lah yang melakukannya. Prabu Sugriwa dengan tentaranya terpaksa meninggalkan negaranya. Subali akhirnya menduduki Kiskenda dan memperistri Dewi Tara. Dalam perkawinan ini lahirlah wanara Anggada.

Sugriwa dapat kembali menduduki Kiskenda setelah Subali dapat dibinasakan oleh Sri Rama. Anggada tetap mengikuti ibunya, Dewi Tara, yang kembali menjadi istri Sugriwa.

Dalam lakon “Hanoman Duta”, Anggada sangat iri hati atas pengangkatan Hanoman, saudara sepupunya, sebagai duta ke Alengka untuk menyelidiki tempat disembunyikannya Dewi Sinta, istri Rama. Di dalam lakon “Anggada Balik”, ia diutus Sri Rama untuk mengukur kekuatan bala tentara Alengka. Karena hasutan Rahwana, yang mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Sri Rama, Anggada kemudian mengamuk dan berbalik akan membunuh Rama. Tetapi Hanoman kemudian dapat menaklukkan dan menginsyafkan serta menyadarkannya.

Akhirnya Anggada kembali menyerang Alengka dan berhasil membawa mahkota Prabu Dasamuka dan dipersembahkan kepada Sri Rama. Dalam perang besar Alengka, Anggada menunjukkan kepahlawanannya di medan perang, ia berhadapan langsung dengan putra mahkota Alengka, Indrajit, putra Dewi Tari, saudara sepupunya. Atas jasanya ia mendapat tambahan nama “Jaya” yang berarti unggul, maka dari itu ia lazim disebut Jaya Anggada. Seperti wanara yang lain, Anggada tidak dapat diketahui akhir hidupnya.

Prabu Dasamuka


http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=12392

Prabu Dasamuka ratu sesongaran lan daksiya

Jenenge wektu lair yakuwi Rahwana, nanging amarga duweni rai cacah sepuluh, dheweke uga sinebut Dasamuka.

Rahwana utawa Dasamuka iki nduweni ibu jenenge Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali raja Alengka. Bapake Resi Wisrawa, brahmana ing padhepokan Dederpenyu. Manawa digeret garis turunan saka ibune, Dasamuka isih kepetung keturunan Bathara Brahma.

Prabu Dasamuka duwe garwa Bathari Tari, putri Sanghyang Indra. Saka jejodhoan iki sajane nurunake putri titisan Dewi Widowati, nanging amarga arep dirabi dhewe dening Dasamuka, bayi sing lair saka Dewi Tari iki banjur dijupuk Gunawan Wibisana lan dilarung sajroning kupat sinta. Ari-arine disabda dadi bayi lanang lan diwenehi kekuwatan saka mendhung utawa mega. Mula iku, putra Dasamuka iki dijenengake Megananda utawa Indrajit.

Garwa selire Dasamuka akeh banget, antarane Dewi Sayempraba, putri Prabu Wisakarma saka nagari Guwa Windu. Dewi Urangayung, putri Sanghyang Baruna lan nurunake Arya Bukbis. Dewi Pratalawati putri Sanghyang Manikem, nurunake Raden Pratalamaryam. Garwa selir liyane antarane nurunake putra Trinetra, Trisirah, Trimurda, Trikaya lan liya-liyane.

Dasamuka duwe sedulur yakuwi Raden Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka lan Gunawan Wibisana. Dene sedulur tunggal bapak beda ibu yakuwi Prabu Wisrawana lan Prabu Danapati, loro-lorone dadi ratu ing nagara Lokapala.

Nalika Prabu Sumali seda, Rahwana jumeneng nata ing Alengka, sesandhingan karo patih Prahasta sing kepetung isih paklike dhewe. Watake Prabu Dasamuka kaya ora ana apike babar pisan. Sesongaran lan seneng daksiya, seneng mateni uwong kanthi cara sing kejem. Dasamuka duwe aji-aji Pancasonya saka Resi Subali. Kasektene aji Pancasonya iki ndadekake Dasamuka ora bisa mati sasuwene awake isih kena lemah.

Saperangan korban sing dipateni Prabu Dasamuka antarane Prabu Danapati raja Lokapala sing isih sedulur dhewe, Bambang Sumantri utawa patih Suwanda saka nagara Maespati. Prabu Banaputra raja Ayodya lan Resi Rawatmaja amarga prakara wanita, yakuwi rebutan Dewi Raguwati. Dene pusaka sing kanggo mateni para korbane, awujud pedang sing jenenge Mentawa.

Prabu Dasamuka sing kepengin duwe garwa jilmane Dewi Sri Widowati banjur nglamar putri nagara Ayodya sing jenenge Dewi Sukasalya utawa Dewi Raguwati, putri Prabu Banaputra. Dewi Sukasalya dijaluk peksa sahengga njalari perang antarane rong nagara kuwi mau. Prabu Banaputra wusanane gugur disabet pedang Mentawa. Resi Rawatmeja sing ngukuhi Dewi Sukasalya uga nemoni pati ing tangane Dasamuka. Dene Dewi Sukasalya njaluk tulung marang Resi Dasarata, lan ing tembe mburi wong loro kuwi bisa jejodhoan lan nurunake Sri Rama.

Ing Serat Ramayana dicritakake manawa Dasamuka kasil anggone nyolong Dewi Shinta, garwane Sri Rama. Wusanane banjur njalari perang gedhen. Ing perang kuwi, Dasamuka bisa dipateni dening Sri Rama. ::Damar Sri Prakoso::

http://www.bausastra.com/main/index.php?do=view&id=4

Dasamuka

Adalah tokoh wayang cerita Ramayana, Dasamuka atau Rahwana adalah putra Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali raja negara Alengka. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung masing-maasing bernama: Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka dan Arya Wibisana. Dasamuka juga mempunyai saudara seayah lain ibu bernama Wisrawana (Prabu Danaraja) raja negara Lokapala, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati.

Dasamuka berwatak angkara murka, ingin menangnya sendiri, penganiaya dan penghianat. Berani dan selalu menurutkan kata hati. Ia sangat sakti. Memiliki Aji Rawarontek dari Prabu Danaraja dan Aji Pancasona dari Resi Subali. Dasamuka menjadi raja negara Alengka mengantikan kakeknya, Prabu Sumali dengan menyingkirkan pamannya, Prahasta. Ia membunuh Prabu Danaraja kakak tirinya dan merebut negara Lokapala.

Dasamuka pernah menyerang Suralaya dan memperoleh Dewi Tari, putri Bathara Indra dengan Dewi Wiyati yang menjadi istrinya dan berputra Indrajid (Megananda). Dasamuka juga menikah dengan Dewi Urangrayung, putri Bagawan Minalodra dan berputra Pratalamayam. Dari beberapa orang istri lainnya, Dasamuka berputra antara lain: Yaksadewa, Trisirah, Trimuka dan Trimurda. Dasamuka sangat menginginkan dapat memperistri wanita titisan Bathari Sri Widowati. Ia pernah mengejar-ngejar Dewi Kusalya, ibu Prabu Rama dan kemudian menculik serta mensekap Dewi Sinta, istri Prabu Rama selama hampir 12 tahun di taman Hargasoka negara Alengka.

Sarpakenaka


http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=12464

Dewi Sarpakenaka, raseksi kang seneng dhemenan

Sebutan Sarpa ing basa Jawa ngemu teges ula kang duwe wisa. Kenaka tegese kuku. Sarpakenaka duweni pusaka arupa kuku lincip lan landhep, kang ngamot wisa.

Sarpakenaka kuwi anake wadon Resi Wisrawa lan Dewi Sukesi, putu Prabu Sumali raja nagara Alengka. Sedulure Sarpakenaka ana telu, yakuwi Prabu Dasamuka, Raden Kumbakarna lan Gunawan Wibisana.

Watake Sarpakenaka ora beda karo watake Dasamuka, kejem, ngendel-endelake nepsu birahine, buktine raseksa cacah wolu kabeh didadekake bojone. Para raseksa kuwi Ditya Karadusana (Jambumangli), Ditya Wirupaksa, Ditya Animpraba, Ditya Pratamadagni, Ditya Wilugangsa, Ditya Puntadagsa, Ditya Prajangga lan Ditya Margangsa. Saliyane bojo cacah wolu kuwi, Sarpakenaka uga seneng dhemenan karo raseksa prajurite Dasamuka. Ditya Marica, raseksa kaprecayane Prabu Dasamuka uga dadi dhemenane.

Awit cilik, Sarpakenaka pancen diuja dening ibune, amarga siji sijine wong wadon ing kulawargane. Amarga kuwi, Sarpakenaka gedhene dadi raseksi kang murka lan kejem.

Nalika Sri Rama, Dewi Shinta lan Leksmana netepi laku ing alas Dandaka, Sarpakenaka meruhi pondok Sri Rama ing papan kono. Nalika nyedaki pondok, Sarpakenaka weruh Leksmana sing rupane bagus banget. Sarpakenaka dadi kedanan lan njaluk supaya dipek bojo Leksmana. Nanging Leksmana ora gelem, lan marai Sarpakenaka nesu banjur wadul marang Prabu Dasamuka. Wusanane, Dasamuka nyolong Dewi Shinta lan digawa mlayu ing Alengka.

Tibaning perang gedhen ing Alengka, Dewi Sarpakenaka ngajokake kabeh bojone sing cacah wolu mau. Nanging siji mbaka siji kabeh bojone mau mati kabeh ing alaga. Ditya Animpraba mati digada Jaya Anila. Ditya Pratamadagni lebur dadi awu amarga diobong geni gaweyane Kapi Anggeni, lan liya-liyane.

Meruhi bojone padha gugur ing paperangan, Dewi Sarpakenaka nesu banget. Dheweke banjur maju ing alaga lan wadyabala wanara dijaring nganggo kembene nganthi ora ana wanara siji sijia sing bisa ucul, kajaba Anoman lan Jaya Anila. Gunawan Wibisana banjur ngakon Leksmana supaya nggodha Sarpakenaka. Manawa wus lena amarga nyawang rupa baguse Leksmana, kembene Sarpakenaka supaya cepet dibrodol.

Siasate Wibisana iki dilakokake dening Leksmana. Sarpakenaka pancen lena tenan nyawang rupa baguse Leksmana kang kaya Bathara Kamajaya. Anoman banjur tumindhak. Kemben Sarpakenaka dibrodol nganti ewonan wanara ing njerone bisa metu kabeh. Sarpakenaka dhewe bisa dipateni sawuse kuku-kukune dicabut dening Anoman. ::Damar Sri Prakoso::

Gunawan Wibisana


http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=12487

Gunawan Wibisana setya ing kabecikan

Raden Gunawan Wibisana dadi siji-sijine anak lanange Dewi Sukesi kang awujud manungsa, amarga sedulur liyane yakuwi Dasamuka, Kumbakarna utawa Sarpakenaka wujude raseksa lan raseksi.

Bapake jenenge Resi Wisrawa, anake Resi Supadma saka pertapan Dederpenyu. Wibisana mujudake titisane Bathara Wisnu Anjali, mulane awewatak wicaksana lan mesthi mehak mring bebener. Bojone Gunawan Wibisana jenenge Dewi Triwati, saka kahyangan minangka paringane Sanghyang Manikmaya. Saka jejodhoane iki, Wibisana nurunake anak cacah loro yakuwi Dewi Trijata lan Raden Dentawilukrama. Raden Gunawan Wibisana mapane ing kasatriyan Kuntara. Minangka satriya kang mehak kabecikan, Wibisana rila misah saka para sedulure lan melu Sri Ramawijaya.

Manunggale Wibisana marang Sri Ramawijaya kawiwitan nalika Dasamuka nyolong Dewi Shinta. Wibisana dhewe ora sarujuk karo patrape kakange kuwi, amarga minangka raja gung, Dasamuka bisa nyidrani prajane dhewe lan bangsa Alengka. Ora pantes manawa raja sing samesthine dadi panutan malah tumindak ala, ngrebut bojone liyan. Dasamuka sing ora gelem nampa tanggapane Wibisana, banjur ngusir Wibisana saka Alengka.

Tekane Wibisana menyang pesanggarane Sri Rama ing Swelagiri sajane ora disenengi dening Narpati Sugriwa. Minangka adine Dasamuka, Wibisana bisa wae dadi telik sandine raja Alengka. Nanging Sri Rama duweni panyawang liyan, manawa nyawijine Wibisana mbelani kabecikan. Kasunyatane, Wibisana bisa menehi pepeling lan dadi ahli strategi perang kang apik.

Kiprahe Wibisana akeh banget, antarane mrakarsani gawe tambak kanggo kretege wadyabala wanara nalika nyabrang samudra saka Swelagiri menyang Alengka. Wibisana uga kerep menehi pituduh bab wadi lan kasektene wadyabala Alengka.

Sawuse Alengka bisa dikuwasani lan rajane wus tumeka ing pati, Gunawan Wibisana diprecaya Sri Rama dadi raja ing Alengka. Sawuse sakabehe nagari wus ayem tentrem, Gunawan Wibisana masrahake Alengka marang anake, Raden Dentawilukrama. Jeneng Alengka banjur diganti dadi Singgelapura, dene Wibisana milih netepi urip dadi pertapa nganti tutup yuswa. ::Damar SP::