PETRUK


http://id.shvoong.com/humanities/1894245-wayang-petruk-dan-makna-filosofisnya/

PETRUK ………….adalah anak Gandarwa (sebangsa jin), menjadi anak angkat kedua Semar setelah Gareng.Nama lain Petruk adalah Kanthong Bolong, artinya suka berdema. Doblajaya, artinya pintar. Diantara saudaranya (Gareng dan Bagong) Petruklah yang paling pandai dan pintar bicara.
Petruk tinggal di Pecuk Pecukilan. Ia mempunyai satu anak yaitu Bambang Lengkung Kusuma (seorang yang tampan) istrinya bernama Dewi Undanawati. Sebagai punakawan Petruk selalu menghibur tuannya ketika dalam kesusahaan menerima cobaan, mengingatkan ketika lupa, membela ketika teraniaya. Intinya bisa momong, momot, momor,mursid dan murakabi.

  1. momong ………………………………. artinya bisa mengasuh.
  2. momot …………………………………  artinya dapat memuat segala keluhan tuannya, dapat merahasiakan masalah.
  3. Momor ………………………………..  artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung.
  4. Mursid …………………………………  artinya pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya.
  5. Murakabi ……………………………..  artinya bermanfaat bagi sesama.

Pada suatu waktu Pandawa kehilangan jimat Kalimasada. kehilangan jimat ini artinya Pandawa lumpuh karena hilang kebijaksanaan dan kemakmuran, keangkaramurkaan timbul dimana-mana. Jimat ini dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu Bambang Irawan dan Bambang Priyambodo (anak Arjuna) dengan disertai Petruk berusaha merebut jimat tersebut dari tangan Mustakaweni. Akhirnya jimat tersebut berhasil direbut dan dititipkan kepada Petruk.
Sementara itu ternyata Adipati Karna juga berhasrat memiliki jimat tersebut. petruk ditusuk dengan keris pusaka yang ampuh yaitu Kyai Jalak, Petrukpun mati seketika. Atas kesaktian ayahnya (Gandarwa) Petruk dihidupkan lagi. Kemudian ayahnya tersebut ingin menolong Petruk dengan berubah wujud menjadi Duryudana. ketika Karna bertemu Duryudana jimat kalimasada diserahkan kepadanya. Betapa terkejutnya Karna mengetahui telah diperdaya oleh Gandarwa. Akhirnya jimat tersebut oleh Gandarwa diserahkan kembali kepada Petruk, dan dia menasehati kalau menghadapi musuh Petruk harus hati-hati dan jimat tersebut diminta untuk diletakkan di atas kepalanya. Ternyata setelah jimat tersebut diterapkan sesuai anjuran ayahnya Petruk menjadi sangat sakti, tidak mempan senjata apapun. Karna-pun dapat dikalahkannya.Tak terasa akhirnya Petruk terpisah dengan tuannya Bambang Irawan. Petrukpun mengembara, semua negara ditakhlukkannya termasuk negara Ngrancang Kencana. Petruk menjadi raja disana dan bergelar Prabu Wel Keduwelbeh. Sedangkan raja yang asli menjadi bawahannya. Begitulah ketika Punakawan kalau sudah mengeluarkan kesaktiannya tidak ada manusiapun yang dapat menandinginya.
Ketika akan mewisuda dirinya, semua raja negara bawahan yang ditaklukkannya hadir termasuk Astina. Yang belum hanya Pandawa, Dwarawati, dan Mandura. Semula ketiga raja negar tersebut tidak mau hadir, tetapi setelah Pandawa dan Mandura dikalahkan akhirnya Raja Dwarawati  (Prabu Kresna) menyerahkan hal ini kepada Semar. Oleh Semar Gareng dan Bagong diajukan sebagai wakil dari Dwarawati. Terjadilah peperangan yang sangat ramai antara Prabu Wel Keduwelbeh dengan Gareng dan Bagong, peperangan tidak segera berakhir karena belum ada yang menang dan belum ada yang kalah, sampai ketiganya berkeringat. Gareng dan Bagong akhirnya bisa mengenali bau keringat saudaranya Petruk dan yakin bahwa orang yang mengajak bertarung itu sesungguhnya adalah Petruk, maka mereka tidak lagi bertarung kesaktian tetapi malah diajak bercanda, berjoged bersama, dengan berbagai lagu dan tari. Wel Geduwelbeh merasa dirinya kembali ke habitatnya, lupa bahwa dia memakai pakaian kerajaan. Setelah ingat …. ia segera lari meninggalkan Gareng dan Petruk. Wel Geduwlbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong setelah tertangkap,  sang prabu dipeluk dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud aslinya.
Setelah terbuka semua Petruk ditanya oleh Kresna mengapa ia bertindak seperti itu. ia beralasan bahwa tindakan itu untuk mengingatkan tuannya bahwa segala perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu. Contohnya saat membangun candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga kehilangan jimat Kalimasada. Bambang Irawan jangan mudah percaya kepada siapa saja. Kalau diberi tugas sampai tuntas jangan dititipkan kepada siapapun. Setelah menjadi raja jangan sombong  dan meremehkan rakyat kecil, karena rakyat kecil kalau sudah marah/ memberontak pimpinan bisa berantakan. Dengan cara inilah Petruk ingin menyadarkan tuannya, karena kalau secara terang-terangan pasti tidak dipercaya bahkan mungkin dimarahi.
Bagaimanapun Petruk merasa bersalah, kemudian ia minta maaf. Pandawapun akhirnya memaafkan Petruk dan dengan senang hati menerima nasihat Petruk.

Inti pendidikan budi pekerti yang bisa diambil dari cerita diatas :

  1. Budi dan watak tidak dapat diukur dari penampilan/ fisik, tetapi dengan perilaku nyata.
  2. Bawahan harus setia pada atasan
  3. Mengerjakan tugas hingga tuntas dan diusahakan berhasil dengan baik
  4. Jangan merebut hak dan milik orang lain
  5. Semua tindakan harus dengan penuh perhitungan, jangan ceroboh dan tergesa-gesa mengambil keputusan.
  6. milikilah watak momong, momot, momor,mursid, dan murakabi
  7. Kalau sudah mulia jangan terlena
  8. Kalau salah harus berani mengakui dan meminta maaf

http://id.wikipedia.org/wiki/Petruk

Petruk adalah tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa, di pihak keturunan/trah Witaradya. Petruk tidak disebutkan dalam kitab Mahabarata. Jadi jelas bahwa kehadirannya dalam dunia pewayangan merupakan gubahan asli Jawa.

Masa lalu

Menurut pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dan bertempat di dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelahi. Ia seorang yang pilih tanding/sakti di tempat kediamannya dan daerah sekitarnya. Oleh karena itu ia ingin berkelana guna menguji kekuatan dan kesaktiannya.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba yang pergi dari padepokannya di atas bukit, untuk mencoba kekebalannya. Karena mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, berhantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini kemudian dipisahkan oleh Smarasanta (Semar) dan Bagong yang mengiringi Batara Ismaya. Mereka diberi fatwa dan nasihat sehingga akhirnya keduanya menyerahkan diri dan berguru kepada Smara/Semar dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Demikianlah peristiwa tersebut diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.

Karena perubahan wujud tersebut masing-masing kemudian berganti nama. Bambang Pecruk Panyukilan menjadi Petruk, sedangkan Bambang Sukodadi menjadi Gareng.

Istri dan keturunan

Petruk mempuyai istri bernama Dewi Ambarawati, putri Prabu Ambarasraya, raja Negara Pandansurat yang didapatnya melalui perang tanding. Para pelamarnya antara lain: Kalagumarang dan Prabu Kalawahana raja raksasa di Guwaseluman. Petruk harus menghadapi mereka dengan perang tanding dan akhirnya ia dapat mengalahkan mereka dan keluar sebagai pemenang. Dewi Ambarawati kemudian diboyong ke Girisarangan dan Resi Pariknan yang memangku perkawinannya. Dalam perkawinan ini mereka mempunyai anak lelaki dan diberi nama Lengkungkusuma.

Petruk dalam lakon pewayangan

Oleh karena Petruk merupakan tokoh pelawak/dagelan (Jawa), kemudian oleh seorang dalang digubah suatu lakon khusus yang penuh dengan lelucon-lelucon dan kemudian diikuti dalang-dalang lainnya, sehingga terdapat banyak sekali lakon-lakon yang menceritakan kisah-kisah Petruk yang menggelikan, contohnya lakon Petruk Ilang Pethele menceritakan pada waktu Petruk kehilangan kapak/pethel-nya.

Dalam kisah Ambangan Candi Spataharga/Saptaraga, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada dengan jalan menyamar sebagai kerabat Pandawa (Gatotkaca), sehingga dengan mudah ia dapat membawa lari pusaka tersebut. Kalimasada kemudan menjadi bahan perebutan antara kedua negara itu. Di dalam kekeruhan dan kekacauan yang timbul tersebut, Petruk mengambil kesempatan menyembunyikan Kalimasada, sehingga karena kekuatan dan pengaruhnya yang ampuh, Petruk dapat menjadi raja menduduki singgasana kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey). Lakon ini terkenal dengan judul Petruk Dadi Ratu. Prabu Welgeduwelbeh/Petruk dengan kesaktiannya dapat membuka rahasia Prabu Pandupragola, raja negara Tracanggribig, yang tiada lain adalah kakaknya sendiri, yaitu Nala Gareng. Dan sebaliknya Bagong-lah yang menurunkan Prabu Welgeduwelbeh dari tahta kerajaan Lojitengara dan badar/terbongkar rahasianya menjadi Petruk kembali. Kalimasada kemudian kembali kepada Pandawa.

Hubungan dengan punakawan lainnya

Petruk dan panakawan yang lain (Semar, Gareng dan Bagong) selalu hidup di dalam suasana kerukunan sebagai satu keluarga. Bila tidak ada kepentingan yang istimewa, mereka tidak pernah berpisah satu sama lain. Mengenai panakawan, panakawan berarti ”kawan yang menyaksikan” atau pengiring. Saksi dianggap sah, apabila terdiri dari dua orang, yang terbaik apabila saksi tersebut terdiri dari orang-orang yang bukan sekeluarga. Sebagai saksi seseorang harus dekat dan mengetahui sesuatu yang harus disaksikannya. Di dalam pedalangan, saksi atau panakawan itu memang hanya terdiri dari dua orang, yaitu Semar dan Bagong bagi trah Witaradya.

Sebelum Sanghyang Ismaya menjelma dalam diri cucunya yang bernama Smarasanta (Semar), kecuali Semar dengan Bagong yang tercipta dari bayangannya, mereka kemudian mendapatkan Gareng/Bambang Sukodadi dan Petruk/Bambang Panyukilan. Setelah Batara Ismaya menjelma kepada Janggan Smarasanta (menjadi Semar), maka Gareng dan Petruk tetap menggabungkan diri kepada Semar dan Bagong. Disinilah saat mulai adanya panakawan yang terdiri dari empat orang dan kemudian mendapat sebutan dengan nana ”parepat/prepat”.

3 thoughts on “PETRUK”

  1. Petruk Dadi Ratu
    Wayang Kulit sesekali pernah dipertontonkan kepada warga desa, manakala ada keluarga yang mengadakan hajatan pernikahan atau khitanan. Nama tokoh Semar kerap menjadi teladan bagi penonton karena kearifan dan kebijaksanaannya, sedangkan tokoh seperti Petruk selain sering ngebayol juga merupakan merek rokok favorit yang biasa dihisap oleh warga desa disamping merek Sintren. Namun, anak-anak zaman sekarang sangat jarang disuguhi tontonan seperti itu, mereka lebih mengenal Superman, Batman, Spiderman, atau Power Rangers. Pun bagi orang dewasa, nama-nama tokoh pewayangan seperti di atas mungkin terasa asing di telinga. Pada masa lampau, wayang sering dijadikan media syiar Islam mengingat tanah Jawa penduduknya mayoritas memeluk agama Hindu sebelum masuknya Islam melalui Wali Songo. Sehingga tidak heran bila di Jawa Tengah & Timur bisa dijumpai Wayang Orang dan Wayang Kulit, ataupun di Jawa Barat dikenal dengan Wayang Golek.
    Banyak versi tentang kisah rakyat tersebut, Petruk misalnya ada yang menyebutnya seorang pengeran, putra begawan sakti dengan nama asli Bambang Pecrukpanyukilan, yang gemar guyon dan berkelahi. Pada saat menuju ke tempat Pertapaan dirinya bertemu dengan Bambang Sukakadi (Gareng), kemudian keduanya berkelahi menguji kesaktian. Tubuh keduanya menjadi rusak dan perkelahian itu akhirnya dilerai dan dihentikan oleh Semar beserta anaknya Bagong. Kemudian keduanya diangkat menjadi anak Semar, sedangkan Semar konon merupakan orang suci (dewa). Namun cerita itu berkembang dengan berbagai versi, tokoh Petruk, Gareng, dan Bagong dikenal sebagai punakawan, abdi atau pelayan. Versi ini lebih banyak dikenal daripada sebelumnya, sehingga nama tokoh Petruk menjadi identik dengan pelayan, batur atau abdi dalem. Lalu bagaimana jika seorang abdi dalem menjadi petinggi kerajaan?
    Kisah Petruk Jadi Raja merupakan contoh bagaimana seseorang berubah menjadi angkuh dan sombong bahkan cenderung menjadi lupa diri saat berada di pusat kekuasaan. Petruk mendapatkan keberuntungan menjadi seorang raja, gelimang harta benda dan kekuasaan menyebabkan ia lupa daratan dan mabuk kekuasaan sehingga bersikap sewenang-wenang dan merendahkan orang lain. Dia pun mempergunakan aji mumpung untuk kesenangannya. Karena seorang abdi, ia tidak bisa mengelola kekuasaannya dengan bijak dan tepat. Ia terlalu bergairah untuk duduk di singgasana dan semakin haus dengan kekuasaan, ia pun tidak punya gagasan cemerlang untuk mensejahterakan rakyatnya. Pepatah mengatakan Kere Munggah Bale, adalah sikap aji mumpung ketika si miskin tiba-tiba menjadi penguasa.
    Cerita itu menjadi relevan dengan kondisi saat ini, ketika kita menengok kepada lingkungan sekitar. Arus reformasi telah membawa perubahan format politik, budaya, dan sosial-ekonomi. Jabatan Gubernur, Bupati, Walikota yang semula menjadi hak istimewa institusi, kelas dan orang-orang tertentu, kini terbuka bagi setiap orang. Asumsi politik mengatakan jika pemilihan pejabat dilakukan secara langsung seakan menjadi jaminan terciptanya demokrasi, padahal inti demokrasi muaranya antara lain adalah kesejahteraan rakyat. Senyatanya, kondisi yang diharapkan belum terjadi dan memunculkan fenomena memprihatinkan dari oknum anggota legislatif di pusat atau daerah, yaitu menguatnya perilaku aji mumpung – karena masa jabatan hanya sebentar. Sehingga tidak mengherankan bila Transparency International Indonesia (TII) menempatakan lembaga legislatif sebagai institusi terkorup di negeri ini. Pun tidak sedikit para pejabat eksekutif pusat maupun daerah yang juga menggunakan ajian mumpung untuk memenuhi kesenangannya. Padahal jika kita menengok ke belakangan, bahwa orang-orang yang katanya sukses atau bergelimang harta adalah manusia yang pada awalnya tidak memiliki apa-apa, bahkan Oom Lim sekalipun, dahulunya juga orang susah, miskin dan hidup seadanya.
    Keadaan seperti itu tersurat dalam firman-Nya, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh Dhuhaa, 93:8).
    Nenek moyang kita dahulu hanya hidup dari alam, berangsur-angsur keturunannya bisa memperoleh makanan yang lebih baik, mendirikan rumah yang layak, mengeyam pendidikan, dan pada akhirnya bisa membaca serta berilmu pengetahuan. Sebagian dari mereka menjalani profesi yang berbeda sesuai keahlian/pengetahuan yang dimiliki untuk penghidupannya. Semua itu adalah karena karunia-Nya, Dialah yang mencukupi keperluan kita, “(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,” (QS. Asy Syu’araa, 26:78-79). Namun setelahnya, bukan syukur, tetapi malah kufur seperti lupanya seorang Petruk akan asalnya.
    Cukup banyak contoh orang-orang yang berada di posisi puncak, tetapi malah menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Mereka menyadari bahwa kepemimpinannya (kekhalifahannya) akan dimintai pertanggunganjawaban. Misalnya, Umar bin Khatab r.a yang lebih memilih menaiki keledai kecil dan dengan pakaian ala kadarnya. Mahatma Gandhi, inspirator gerakan kemerdekaan di Asia pada era 40-an, menyukai berpakaian hanya selembar kain gandum. Bung Hatta menjadi sangat dikenang selain karena intelektualitas juga karena kesederhanaan dan kejujurannya. Ataupun Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, anak seorang tukang pangkas rambut. Kantornya hanyalah sebuah bangunan kecil di kawasan padat di tengah Teheran, bahkan lebih kecil dari kantor Gubernur DKI Jakarta. Pakaian kesehariannya produk dalam negeri, dan hanya memakai jas tanpa dasi. Ia menolak tinggal di rumah dinas presiden, dan lebih memilih tinggal di apartemen sederhana di kawasan kelas menengah bawah di Nurmagi,
    Teheran Tenggara. Kesederhanaan sebagai manifestasi dari bentuk empati dan simpati itulah yang membuat mereka menjadi guru (digugu dan ditiru) bagi rakyat yang dipimpinnya daripada mereka memilih gaya borjuis saat menjadi Ratu. Tangan, pemikiran, dan kedudukannya telah memberi manfaat untuk kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya. Semoga pesan ini dapat menggugah keterlenaaan kita sebagai makhluk Allah bahwa kemanfaatan sebagai khalifah di bumi-Nya adalah segalanya, hal itu jualah yang membedakan mana Petruk dan diri kita, dan kita termasuk orang-orang yang senantiasa mau berbuat bagi kemasalahatan umat dan orang banyak. Mudah-mudahan Allah SWT meringankan langkah kita dan meridhoi setiap upaya kita semua.
    Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s