Sebuah Nilai


Bagi orang lain, membaca cerita wayang mungkin sangat membosankan

Atau mendengar dalang mengucap kalimat yang sangat susah diartikan, sungguh membuang waktu

Atau saat menganalisa ketidak nalaran suatu kisah, tidak logisnya sebuah lakon, pun ketika membahas anehnya seorang tokoh wayang, memang benar-benar suatu yang tidak ada value-nya

Namun saat menyaksikan dulu di kampung, betapa orang-orang begitu khusyu’ berlama-lama dalam dekapan sarung tua, menyaksikan pagelaran wayang di tengah dingin malam … tanpa beranjak dan sesekali dihiasi dengan senyum, tertawa ngakak dan acap termangu sendiri …

Aku sempat bertanya dalam hati “Apa yang dinikmati orang-orang ini”

Atau beberapa waktu yang lalu saat aku berbicang dengan seorang kakek tua berumur 90-an yang masih tegar dan fasih omongannya, yang begitu bersemangat menceritakan pengetahuannya akan semua lakon dan tokoh dalam dunia pewayangan

Akupun kembali heran “Ngapain sih kakek ini”

Bagaimana kakek itu kemudian menggambarkan bahwa seharusnya hidup itu harus begini seperti tokoh wayang tertentu, dan hidup itu jangan begitu layaknya tokoh yang lain serta bagaimana dia merindukan suasana di salah satu negara pewayangan  seandainya di negri kita tercinta memiliki seorang raja seperti di negri itu …

Aku kemudian mulai sedikit terperangah …

Atau jika kembali kukuak lagi kenangan tentang Almarhum Bapak yang dengan senang hati rumahnya jadi berantakan akibat memperoleh giliran menjadi ajang pagelaran wayang di kampung, namun kemudian aku melihat beliau tersenyum senang mendengar komentar para penonton yang mengaku terpuaskan sementara imbalannya hanya tugas beres-beres rumah yang cukup merepotkan

Betapa setelah itu beliau hanya mulai bekerja tidak berkata-kata dan kamipun mau tidak mau harus mengintili aktifitasnya

Aku kemudian mulai berfikir “Ada sesuatukah di sini”

Dan saat aku mulai menemukan buku-buku wayang warisan Bapak dan ketika aku sudah mampu membeli sendiri referensinya

Aku mulai tertarik

Aku bayangkan tentang orang-orang kampung yang hidup begitu bersemangat, pekerja keras namun bersikap nrimo ing pandum, sabar dan welas asih

Aku saksikan seorang kakek yang api semangatnya masih menyala terang mengarungi kehidupan dengan mempertahankan prinsip hidupnya, “Menjauhi kebatilan dan selalu berupaya dalam jalan kebenaran”, selalu memegang kejujuran laksana Yudistira, berjalan teguh layaknya Bima dan menjauhkan sikap iri dengki dan munafik yang ada pada diri Duryudana dan Sengkuni

Aku pikirkan seorang sosok seperti Bapak yang tiada banyak kata terucap, namun dalam hidupnya selalu dihiasi dengan karya dan nilai. Teladan dijadikan andalan, tidak perlu ucapan perintah atau panjangnya petuah … hanya teladan

Dan hari ini …

Saat aku begitu kagum bahwa begitu banyak hal yang sebenarnya dapat diambil manfaat

Seperti misalnya, bagaimana seorang Ki Nartosabdho mampu mementaskan lakon begitu banyak dan begitu indah disamping peran aktifnya dalam menciptakan gending dan menumbuhkan kesenian jawa lainnya

Aku bertambah kagum

Aku yakin bahwa mereka-mereka itu semua, hanya ingin memberi manfaat kepada orang lain, hanya ingin berbagi atau memaknai diri tuk kepentingan diri dan lingkungannya

Orang-orang kampung, kakek tua dan Bapak mampu memberi nilai kepada diri mereka sendiri

Dan kalau kita pintar, tentu dapat mengambil manfaat dari teladan itu

Advertisements

4 thoughts on “Sebuah Nilai”

  1. Hampir sama dengan pengalaman saya, saya menyenangi pertunjukan wayang karena almarhum bapak hobynya mendengarkan wayang melalui radio yang ( Radio Wono Colo ). Sambil ikut lek2an saya selalu tanya2 masalah cerita yang dibawakan oleh Ki Narto Sabdho. Mungkin karena sebab itu bapak membelikan cerita komik Maha Bharata bergambar yang dikarang oleh A. Kosasih. Walaupun nama tokoh wayangnya berbeda. Almarhum bapak saya memberi penjelasan panjang lebar mengenai perbedaan tersebut, seperti nama raden Palguna kalau di komik A.Kosasih di sebut Ekalaya dan lain2 tokoh yang namanya berbeda………

  2. sebenarnya betul apa yg di katakan di atas tadi,wayang itu membosankan sekaligus mengherankan,kenapa orang boleh tahan semalam suntuk hanya untuk mengikuti satu jalan cerita. di jaman modern ini di mana film 2D,3D bahkan 4 dan 5D sudah tersedia tapi ada segelintir orang masih mau mengikuti jalan cerita itu walau 12 jam lamanya. termasuklah saya ini,umur saya baru 30 tahun hidup di dunia modern,hoby saya dunia luar angkasa serta nonton film2 modern,saya tidak suka film cerita kuno sprti hary potter atau film2 tentang empayar jaman dulu,saya suka sains. tapi kenapa saya suka wayang,saya bisa menikmati wayang itu semalam suntuk sama seperti kakek2 di kampung sana. kenapa…? saya pun tak punya jawaban pasti,tapi ada hikmah,ada cerita,ada tuntunan,dan ada banyak hal2 lain di balik cerita wayang yang membosankan itu. kadang kita harus menghargai sekaligus menjaga warisan budaya nenek moyang kita.saya mungkin hanya bisa menghargai dengan cara saya yaitu menikmati WAYANG …..!

  3. Msh lmayan mas Bawor, drpd tdk tau sama sekali. sy jg Dalang, sejk kcil ikut bpk ndalang, setelah lulus SMKI 87, bukan berarti ingin sebagai DALANG, tapi ingin mempolularitaskan tentang Wayang, nyatanya meskipun sy jarang pentas tapi sy tetap eksis di dunia pedalangan e.. bot-bote nguri-uri kabudayan jawi, tapi MC manten dll yo jalan terus he… he……..

  4. Nilai wayang bagi saya…..sungguh sangat luar biasa. dulu sewaktu masih sama simbah kakung selalu di ajak nonton kalo ada pertunjukan wayang di desa ataupun daerah sekitar desa saya. direwangi ngepit onta saya naik di belakang sama simbah. walaupun kadang saya mlipir2 mencari cliwik hehehe…ya kalo menang lumayan beli bakso…sempet dicari mbah kakung ” ning ngendi to cah iki…” akirnya ketemu…trus sama simbah diajak ke deket niyogo /tukang gamelan…ehh yang bikin terharu yang nge gong kasih saya lemper…lumayan buat nonton pertunjukan….saya sangat senang dulu melihat wayang antareja karena kulitnya warna abu-abu..kok bisa ” krn masih kecil maklum…ya begitulah. .Sekarang saya tau makna dari kisah2 pewayangan untuk menuntun kita supaya menjadi lebih baik dan panutan melalui karakter2 dan pitutur yang dikisahkan para dalang. Matur nuwun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s