Ki Hadi Sugito : Antasena Ngraman


Antasena adalah putra Bima dari Nagagini putri Hyang Antaboga, dewanya ular. Pada kisah Bale Sigalagala dimana atas pertolongan dari Hyang Antaboga, Pandawa lolos dari bencana kebakaran dengan menyelamatkan diri melalui lorong-lorong bawah tanah. Dan kemudian akhirnya Nagagini menikah dengan Bima di istana perut bumi kediaman Hyang Antaboga.

Lakon ini mengisahkan huru hara yang ditimbulkan oleh kedua bocah pandawa yaitu Antasena dan Pancawala. Pancawala adalah anak Yudistira dan Drupadi. Apa huru hara yang ditimbulkan mereka ?

Sebenarnyalah ini adalah “ide gila” dari Antasena, Pancawala hanya ngikut-ngikut adiknya saja. Aktor utamanya adalah Antasena.

Pancawala menghadap ke uwa-nya raja Astina, Duryudana, untuk meminta negri astina hak para pendawa saat itu juga. Tentu saja permintaan itu ditolak mentah-mentah. Kemudian pecah perkelahian antara Antasena melawan Kurawa. Kurawa dikalahkan dengan mudah. Pun Karna dan kemudian Baladewa dapat dikalahkan oleh Antasena. Hingga akhirnya Duryudana ngungsi keluar Astina. Sengkuni di sandera untuk mendampingi kedua bocah tadi di istana …

Cerita selanjutnya ?

Tambahan deskripsi 4 Feb 2010

Dari WIKI

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Anantasena, atau sering disingkat Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu Bimasena, serta saudara lain ibu dari Antareja dan Gatotkaca.

Dalam pewayangan klasik versi Surakarta, Antasena merupakan nama lain dari Antareja, yaitu putra sulung Bimasena. Sementara menurut versi Yogyakarta, Antasena dan Antareja adalah dua orang tokoh yang berbeda.

Akan tetapi dalam pewayangan zaman sekarang, para dalang Surakarta sudah biasa memisahkan tokoh Antasena dengan Antareja, sebagaimana yang dilakukan oleh para dalang Yogyakarta.

Asal-Usul

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Wrekodara, yaitu Pandawa nomor dua. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Mintuna. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri Amarta.

Antasena lahir dan dibesarkan dalam naungan ibu dan kakeknya. Setelah dewasa ia berangkat menuju Kerajaan Amarta untuk menemui ayah kandungnya. Namun saat itu Bima dan saudara-saudaranya sedang disekap oleh sekutu Korawa yang bernama Ganggatrimuka raja Dasarsamodra.

Antasena berhasil menemukan para Pandawa dalam keadaan mati karena disekap di dalam penjara besi yang ditenggelamkan di laut. Dengan menggunakan Cupu Madusena pusaka pemberian kakeknya, Antasena berhasil menghidupkan mereka kembali. Ia juga berhasil menewaskan Ganggatrimuka.

Antasena kemudian menikahi sepupunya yang bernama Janakawati putri Arjuna.

Sifat dan Kesaktian

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.

Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata.

Kematian

Antasena dikisahkan meninggal secara moksa bersama sepupunya, yaitu Wisanggeni putra Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para Pandawa menjelang meletusnya perang Baratayuda.

Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap Sanghyang Wenang, leluhur para dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.

Sumber Gubahan Lain

Buku Antareja Antasena : Jalan Kematian Para Ksatria karangan Pitoyo Amrih. Resensi di halaman http://antareja-antasena.pitoyo.com

Advertisements

19 thoughts on “Ki Hadi Sugito : Antasena Ngraman”

  1. Setahu kita kalo versi gagrak Jogja, Antasena itu putra dari Bimasena dengan Dewi Urangayu anak dari Sang Hyang Baruna(Dewa Ikan), yang cucu Sang Hyang Anantaboga itu Antareja..memang dari sejak lahir dititipkan di Kasatrian Jangkarbumi bersama kakaknya Antareja..

  2. Ketingalipun ing gragrag Surakarta figur Antasena menika sami kaliyan Antareja. Dados sifat ingkang dipun angge kirang langkung ugi sami kaliyan Antareja. Sinaosa namung 60 km tebihipun, saged katah bentenipun antawis Yogya kaliyan Solo.
    1. Durna – Yogya awon, Solo sae
    2. Anoman – Yogya basa krama kaliyan Panakawan, Solo ngoko
    3. Durna kaliyan Sengkuni – Yogya basa krama kasar, Solo Durna ngoko – Sengkuni krama
    Lan taksih kathah malih …

  3. Apa gak salah mas, di banyumas Antasena adalah anak Dewi Urangayu, sedangkan anak dari Nagagini adalah Antareja.
    Mohon lain kali kalau mau nampilkan di konfrontir dulu dengan ahli pewayangan dulu. Karena bisa menyesatkan orang awam yang gak tau wayang.
    Terima kasih.

    ____
    Terima kasih mas
    seperti saya sebutkan diatas … ada perbedaan disana antara yogya dan solo dan juga banyumasan
    saya mengutip itu juga berdasarkan referensi dari sebuah buku
    matur nuwun

  4. Langkung sae menawi deskripsi antasena wonten ninggil menika dipun gantos mas.

    Awit, ingkang sepisan, lakon Antasena ngraman menika saking suwargi ki Hadisugito, ingkang sampun kondhang ngagem gagrag ngayogyakarta inggih menika Antasena putranipun Rdn Werkudara kalih Dewi Urangayu.

    Ingkang kaping kalih, sakmenika wonten ing wayang kulit gagrag Solo, sak sampunipun dipun pandhegani lan dipun pelopori kaliyan suwargi Ki Nartosabdo, Antasena kalih Antareja inggih di pun damel benten. Panjenengan mirsani mawon pagelaran wayang dhalang Ki Anom suroto, Ki Purbocaraka, Ki Enthus. Antasena kaliyan antareja dipun bentenaken.

    Dadosipun ( nyuwun pangapunten sakderengipun) langkung sae menawi dipun gantos, ngangem deskripsinipun Antasena putranipun dewi Urangayu

    Matur Nuwun.

  5. Langkung sae menawi deskripsi antasena wonten ninggil menika dipun gantos mawon mas Prabu

    Awit, ingkang sepisan, lakon Antasena ngraman menika saking suwargi ki Hadisugito, ingkang sampun kondhang ngagem gagrag ngayogyakarta inggih menika Antasena putranipun Rdn Werkudara kalih Dewi Urangayu.

    Ingkang kaping kalih, sakmenika wonten ing wayang kulit gagrag Solo, sak sampunipun dipun pandhegani lan dipun pelopori kaliyan suwargi Ki Nartosabdo, Antasena kalih Antareja inggih di pun damel benten. Panjenengan mirsani mawon pagelaran wayang dhalang Ki Anom suroto, Ki Purbocaraka, Ki Enthus. Antasena kaliyan antareja dipun bentenaken.

    Matur Nuwun.

    ____
    OK kulo tambah deskripsi penjelasan lain tentang Antasena dari WIKI
    Matur nuwun

  6. Nuwun sewu, menawi pareng munggel pangandikan sawatawis…
    (jadi inget kebiasaan pas rapat, Mohon ijin bicara, pak…!)

    Pengalaman pribadi kulo, kedah wonten kathah toleransi ing babagan mirengaken ringgit. (istilah teman rondha, harus banyak permakluman ketika mendengar wayang)

    Sebab, banyak tokoh yang muncul dari dalang berdasarkan setting waktu dan tempat. Kadang, beberapa tokoh hanya ada di seputaran jogja-solo.
    (ada cerita, dari dalang x, kadang untuk acara bersih deso aja, ada 2 perwakilan yang datang ke rumah dalang tsb. Lakonnya sama, tapi cara membawakan yang jadi perbedaan. sebagian minta gaya A, sebagian warga yang lain minta dalang ybs lakon dibawakan dengan gaya B. Padahal ya itu tadi, banyak selisih karakter, selisih jalan cerita, tapi ini menentukan cara mendalang dan penokohan saat lakon berlangsung. Di depan yang mau ditanggap, keduanya mengemukakan alasan masing-masing.
    semua benar. Dan kata beliau, inilah indahnya wayang, dan sungguh luar biasa kemampuan bathin pencipta wayang, hingga sedemikian fanatik para pecintanya, hingga seakan para tokoh wayang tersebut benar-benar ada).

    Sedoyo leres, sedoyo sae, lan sedoyo adhedasar paugeran ingkang pun ugemi dalang.

    Meniko namung pengalaman pribadi kulo, ingkang sanget cubluk ing babagan pedhalangan.
    Sepindah malih, nuwun sewu, sak kathahipun lepat nyuwun pangapunten. Ijin bicara, pak….

  7. Ndherek matur

    Untuk saat ini, wayang gagrag Surakarta sudah banyak yang memisahkan antara tokoh Antareja dan Antasena. Terbukti sudah tercipta anak wayang khusus Antasena gaya Surakarta, yaitu seperti di illustrasi di atas itu.

    Namun, secara pribadi, dengan melihat karakter Antasena yang urakan, ugal-ugalan namun sembada itu, saya lebih merasa Antasena gaya Yogya dalam hal prejengan lbh sesuai. Pada Antasena gaya Surakarta, dengan muka hitam seperti Gatotkaca, sepertinya kesannya wataknya pendiam, serius, tapi keras dan berwibawa spt Gatotkaca, jauh dari tampang ugal-ugalan.

    Mungkin beberapa dalang Surakartan juga menyadari kekurang sesuian ini, karena itu mereka membuat kreasi sendiri wayang tokoh Antasena tetap dengan Gaya Surakarta tapi dengan prejengan yang lebih disesuaikan dengan karakternya. Wayang hasil kreasi pengembangan ini mirip seperti Antasena gaya Surakarta yang lama, tetapi muka kuning emas (tidak hitam), agak gemukan dikit, wajah lebih imut dan terkesan lebih santai, dan bercelana pendek (yang lama bercelana panjang), sehingga sekilas lebih mirip dengan Bratasena muda tapi tubuh lebih kecil, wajah lebih imut dan tanpa kuku pancanaka.

    Beberapa dalang yang sudah sering menggunakan Antasena “kreasi baru” di antaranya Ki Anom Suroto dan Ki Joko Winarno (Boyolali).

    Menurut saya, sebagai pengembangan karya seni yg selalu dinamis, sah2 saja pada dalang membuat kreasi2 baru yang dirasa bisa lebih menyempurnakan karya seni yang sudah ada.

    Matur nuwun

  8. kalo saya memang lebih senang kalo antasena itu berbeda dengan antareja. Antasena itu lebih rame. Coba kalo para dalang bikin cerita-cerita yang lakonnya antareja dan antasena. Pasti lebih seru.
    Mohon maaf buat para pencinta wayang, saya orangnya memang ga bisa halus, padahal seneng sama cerita wayang.

  9. kalau dipikir cerita wayang itu aneh sekali ya, lha wong negara astina sudah berhasil direbut ontoseno sendirian kok malah dikembalikan lagi dan harus direbut lagi dengan perang baratayuda padahal hanya akan mengorbankan orang banyak. dan lebih aneh lagi kalau ontoseno ikut perang dalam baratayuda nanti justru pendowo malah akan kalah sehingga ontoseno harus mati sebelum perang baratayuda terjadi. aneh kan ? ? ?

  10. Wonten ing jagad pewayangan, menopo malih ingkang kalebet lakon carangan, tamtu kemawon wonten bentenipun, amargi lakon carangan sewau mujudaken carios anggitanipun para dalang. Kulo kinten para pandemen wayang mboten sisah seling serap. Menawi badhe madosi ingkang pakem, njih kulo aturi migatosaken carios-carios ingkan pakem kemawon, injih meniko carios ingkang mlebet wonten babak pakem mahabharata lan babak baratayudha. Kulo kinten mekaten langkung prayogi.

  11. Lha…., sakmeniko…, menawi wonten pandemen ingkang kagungan sumber kiyat tumrap ingkang nganggit lakon carangan, monggo dipun unggah. Upaminipun, carios Antasena Ngraman meniko…, sinten cobi ingkang nganggit……?

  12. Maturnuwon sedoyo, banyak hal yang bisa saya baca disini, saya sebagai orang asli sulawesibisa sedikit mengerti dan menyimpulkan, lakon antasena tiinggal antasena ngraman yang belum saya donload. terimakasih Kang Prabu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s