Bimo Kurdho (Pandu Swargo)


Berikut adalah lakon oleh dalang Ki Enthus Susmono dari Tegal dengan mengambil lakon Bimo Kurdho atau Pandhu Swargo. Kisah tentang “pembangkangan” Pandawa terhadap Dewa yang “menyiksa” Pandu, ayah para Pandawa, setelah kematiannya.

Berikut saya kutip beritanya di malangraya

Gelar Wayang, Pandu Swargo Jadi Lakon

19 Oktober 2008

Peringatan HUT Kota Batu ke 7, Jumat (17/10) malam lalu disemarakkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Pagelaran yang dihelat di pelataran Pendopo Pemkot Batu itu mendatangkan dalang Ki Enthus Suswono bersama Paguyuban Tari Satria Laras dari Tegal Jawa Tengah. Lakon yang dimainkan adalah Pandu Swargo.

Acara itu dihadiri ratusan warga Kota Batu termasuk Wali Kota Batu Eddy Rumpoko berserta istri Ny

Dewanti Rumpoko, Wawali HM Budiono, serta jajaran Muspida Kota Batu dan anggota Dewan. Hadir pula Ny Endang Imam Kabul isteri mendiang mantan Walikota Batu pertama Imam Kabul.

“Pagelaran ini untuk lebih mendekatkan warga Kota Batu dengan pejabat di jajaran Pemkota Batu dan anggota dewan. Karena acara ini murni kami persembahan untuk warga Kota Batu. Tidak lupa, dalam momen paling baik ini, secara khuhus kami mengucapkan penghargaan setinggi-tinggi kepada almarhum Walikota Imam Kabul sebagai tokoh berdirinya Kota Batu,” ujar Walkot, Eddy Rumpoko dalam sambutannya.

Sementara itu Ketua DPRD Kota Batu, Mashuri Abdul Rokhim mengulas banyak sejarah perjalanan Kota Batu. Mulai perjuangan ‘berpisah’ dari induknya Kabupaten Malang hingga memasuki usia tujuh tahun. Sebelumnya secara khusus Ki Enthus menghadiahkan tokoh pewayangan tertua Pandawa Lima, Puntodewo kepada Wali Kota Eddy Rumpoko dan Werkudoro kepada Wawali HM Budiono.

“Saya gambarkan Pak Eddy Rumpoko ini ibaratnya lakon Puntodewo yang tak banyak bicara dan menjadi tempatnya ‘berobat’ bagi mereka yang ingin sembuh dari segala macam penyakit kehidupan. Sedangkan Pak Budiono, ibarat Werkudoro, adalah dwi tunggal-nya wali kota yang terpisahkan dalam membangun Kota Batu,” ujar Ki Enthus.

Dalam kesempatan itu, secara khusus Eddy menyerahkan Gunungan kepada dalang asal Tegal tersebut. Disusul penyematan pin HUT Kota Batu ke 7 oleh Ny Dewanti Rumpoko kepada Ny. Endang Imam Kabul, Wali Kota, dan Dalang.

Lakon ‘Pandu Swargo’ diibaratkan sebuah lakon perjuangan warga Kota Batu berjuang dari bawah hingga berusia tujuh tahun seperti sekarang ini. Disebutkan lakon tersebut mengisahkan ketika Prabu Pandu ayah para Pandawa Lima yang bersikap lupa diri terhadap Dewi Madrim menuai amrah para Dewata.(nov/eno) (Muhaimin/malangpost)


Audionya dapat dinikmati disini, sengaja saya split per cd agar tidak terlalu besar ukuran filenya.

Asep Sunandar Sunarya : Dewi Nila Ningrum


Semar Badranaya memanggil Cepot & Dawala untuk diberikan nasihat dan petuah. Sementara istrinya Sutiragen pergi ke Sekarnumbe bersama Gareng. Selain memberikan nasihat Semar juga bermaksud memberitahukan kepada Cepot & Dawala bahwa ia ingin beristri lagi dengan menikahi Dewi Nila Ningrum.

Ternyata dari pihak Kurawa, Aswatama putra satu-satunya Resi Drona juga ingin menikahi Dewi Nila Ningrum. Terjadilah perkelahian antara ayahanda Dewi Nila Ningrum dan Aswatama karena sang putri tidak bersedia dinikahi oleh Aswatama.

Bertemulah Gatotkaca dengan Cepot dan Dawala. Ternyata Gatotkaca juga diperintah oleh Yudistira untuk melamar Dewi Nila Ningrum agar dapat dinikahi oleh Yudistira.

Keadaan semakin kusut karena banyak yang ingin menikah dengan Dewi Nila Ningrum termasuk Semar dan Yudistira. Bagaimana kisah selanjutnya? Tidak lepas dari bodoran cepot dan buta khas Asep Sunandar Sunarya, VCD Dewi Nila Ningrum penuh dengan didikan, seru dan menghibur.

Sumber : http://www.kapalay.com/produkdetail.php?id=1004

Audio File :

http://www.4shared.com/folder/yADYp9o_/Dewi_Nilaningrum.html

KASS Cepot Cawokah


“Cawokah” kamus LBSS mah hartina teh jorang, porno, resep nyebut kecap-kecap nu kudu dibalibirkeun jeung nyaritakeun sual nu matak ngahudang birahi. Arti sederhananya ya … suka ngomong atau bicara yang terkesan “menjurus” …

Dalam dunia lawakan kita, hal-hal seperti itu sudah menjadi suatu kebiasaan. Ngomong yang “menjurus” cenderung mengundang senyum dan tawa. Asal ngomongnya tidak terlalu vulgar dan kata-kata yang dipilih berbahasa halus dan cerdas maka humor demikian tidak ada salahnya.

Audio File :

http://www.4shared.com/mp3/QgNFSt11ba/cepot_cawokah.html