Ki Narto Sabdho: Suluhan Gatutkaca Gugur


Lakon ini merupakan sumbangan dari mas Mustafa (Citayam-Depok) berupa file2 MP3, yang selanjutnya saya posting di blog ini untuk dapat dinikmati sutresna wayang kulit khususnya wayang kulit yang dibawakan oleh sang Maestro Ki Narto Sabdho.

Gatotkaca_(wayang)

Untuk dapat menikmati lakon ini silahkan:

Di klik ing mriki utawi ing mriki ugi

 

Update terakhir new upload : 29032014

http://www.4shared.com/folder/-1tTXDcn/15_online.html

Jumlah File : 16 File

Banjaran Cerita Pandawa (15)


pandawa 15

Bima masuk ke dalam samodera mencari air suci (karya Herjaka HS)

Cerita Bima Suci

Bima berguru kepada pendeta Durna. Ia disuruh mencari air yang bisa menyucikan dirinya. Bima lalu ke Ngamarta, memberitahu dan pamitan kepada saudara-saudaranya. Yudisthira diminta oleh ketiga adiknya supaya menghalangi keinginan Bima. Bima tidak dapat dihalangi, lalu pergi berpamitan dan minta petunjuk kepada pendeta Durna.

Bima menghadap pendeta Durna. Pendeta Durna memberitahu, bahwa air suci berada di hutan Tikbrasara. Bima lalu berpamitan kepada raja Doryudanan dan pendeta Durna.

Bima meninggalkan kerajaan Ngastina, masuk ke hutan. Setelah melewati hutan dengan segala gangguannya, perjalanan Bima tiba di gunung Candramuka. Bima mencari air suci di dalam gua dan membongkari batu-batu. Tiba-tiba bertemu dengan dua raksasa bernama Rukmuka dan Rukmakala. Bima diserang. Ke dua raksasa mati dan musnah oleh Bima. Mereka berdua menjelma menjadi dewa Indra dan dewa Bayu. Kemudian terdengar suara, memberi tahu agar Bima kembali ke Ngastina. Di tempat itu tidak ada air suci. Bima segera kembali ke Ngastina.

Continue reading Banjaran Cerita Pandawa (15)

Banjaran Cerita Pandawa (14)


pandawa 14

Kisah perjalanan Pandawa Lima yang terdiri dari Yudhisthira, Bima, Arjuna, Pingten dan Tangsen dalam upayanya menuju hidup abadi yang membahagiaka. (karya Herjaka HS)

Perkawinam Bima dengan Arimbi

Prabu Matswapati raja Wiratha duduk di atas singhasana, dihadap oleh Seta, Untara dan Wratsangka. Raja memperbincangkan pemberian hutan Wanamarta untuk para Pandawa. Untara Wratsangka disuruh membantu para Pandawa. Mereka minta diri, perundingan dibubarkan, raja masuk ke istana.

Prabu Matswapati menemui permaisuri, lalu bercerita tentang pemberian. tempat tinggal di Wanamarta bagi para Pandawa. Mereka lalu bersantap bersama. Seta, Untara dan Wratsangka bersiap-siap berangkat ke Wanamarta. Setelah siap mereka berangkat.

Raja jin bernama Prabu Parta berbicara dengan Gadhing Pangukir. Kerajaan mereka diganggu oleh manusia. Gading Pangukir menyerang manusia, Bima yang menghadapinya. Gading Pangukir mati oleh Bima, lalu bersatu dengan Bima.

Arimbi menghadap Prabu Arimba bercerita tentang mimpinya. Ia bermimpi bertemu dengan Bima. Prabu Arimba diminta mencarikannya. Raja marah, Arimbi dipukuli. Arimbi lari meninggalkan istana. Brajadenta, Brajamusthi dan Brajakesa disuruh mengejarnya. Mereka bersama perajurit mencari jejak Arimbi.

Arjuna dan panakawan berjalan di hutan Wanamarta. Mereka berjumpa perajurit raksasa dari pringgandani utusan Prabu Arimba. Perajurit raksasa dari Pringgandani utusan Prabu Arimba itu musnah, Togog kembali ke kerajaan.

Continue reading Banjaran Cerita Pandawa (14)

Banjaran Cerita Pandhawa (13)


pandawa 13

Bratasena dan Yudhisthira menghadap Kunthi ibunya (karaya Herjaka HS)

Kelahiran Bima (2)

Si bocah yang baru pecah dari bungkusnya merasa teraniaya hidupnya oleh Gajah Raksasa yang bernama Gajah Sena. Maka anak tersebut kemudian berusaha melawan Gajah Sena. Gajah Sena dibanting dan hancur, musnah dan menyatu dengan anak sakti itu, lalu diberi nama Bratasena. Oleh Narada, Premadi dan Bratasena disuruh kembali ke Ngastina.

Bathara Narada membawa bungkus bayi ke Banakeling, ditaruh di atas batu rata. Bungkus bayi diambil oleh raja Sempani, dan dicipta menjadi bayi. Selanjutnya bayi diberikan kepada Dewi Nandhi, isteri raja Sempani. Seketika payudara Dewi Nandhi keluar air susu untuk menyusui bayi itu. Maka bayi diberi nama Tirtanata. Bayi dimandikan dengan Banyu Gege. Seketika menjadi remaja. Tirtanata bertempat tinggal di Banakeling dan mendapat sebutan Jayadrata.

Kala Bantala telah menghadap raja Karentegnyana di kerajaan Tasikmadu. Surat lamaran diserahkan kepada raja. Raja menolak lamaran raja Batareta, Kala Bantala meninggalkan kerajaan Tasikmadu, dan mengancam kelak akan kembali untuk menyerangnya.

Patih Mandanasraya usul agar raja Tasikmadu minta bantuan kepada raja Ngastina. Raja mencari bantuan, Citrawarsita ditugaskan ke Ngastina.

Continue reading Banjaran Cerita Pandhawa (13)

Banjaran Cerita Pandhawa (12)


pandawa 12

Para Korawa berusaha memecah Bayi Bungkus anak Yudhisthira (karya Herjaka HS)

Kelahiran Bima (1)

Raja Dhestharata dihadap oleh Arya Suman dan Patih Sanjaya. Mereka membicarakan anak Pandhu yang lahir, tetapi masih berada dalam bungkus. Bayi berbungkus itu diasingkan ke hutan Krendhawahana. Konon Premadi telah diutus menghadap Bagawan Abiyasa untuk minta pertolongan agar bayi segera keluar dari bungkus. Dhestharata minta agar Arya Suman dan Warga Korawa berusaha ikut memecahkan bungkus. Setelah pertemuan selesai Dhestharata masuk ke istana, memberi tahu kepada permasuri tentang bayi anak Pandhu.

Arya Suman menjumpai para Korawa dan bercerita tentang bayi bungkus. Ia diperintah raja untuk membantu memecahkannya. Dursasana usul agar bayi dalam bungkus dibunuh saja, dengan dalih pura-pura menolongnya.

Kala Dahana raja Batareta dihadap oleh Patih Kala Bantala, Kala Maruta, Kala Ranu dan abdi perempuan bernama Kepet Mega. Raja bercerita tentang mimpinya. Dalam mimpi raja bertemu dengan Citrawarsiti putri raja Karentegnyana di Tasikmadu. Raja Kala Dahana ingin memperisteri putri itu, lalu mengutus Patih Kala Bantala untuk menyampaikan surat lamaran. Patih Kala Bantala segera minta diri, berangkat ke Tasikmadu. Para perajurit raksasa ikut menyertainya. Di tengah perjalanan perajurit raksasa itu bertemu dengan perajurit Korawa. Maka terjadilah perselisihan, mereka bertempur. Perajurit Batareta menyimpang jalan, menghindari perang.

Continue reading Banjaran Cerita Pandhawa (12)

Banjaran Cerita Pandhawa (11)


Perkawinan Yudhisthira

pandawa 11

Yudisthira naik kereta menuju Pancalareja (karya : Herjaka HS)

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sakuni, Dursasana, Kartamarma, Jayadrata, Citraksa dan Citraksi. Pada kesempatan tersebut Raja mengungkapkan niatnya, ingin mengawinkan pendeta Durna. Senyampang ada sayembara untuk merebutkan putri Cempalareja yang bernama Dewi Drupadi Jayadrata ditugaskan untuk mengikuti sayembara di Pancalareja atau Cempalareja atas nama pendeta Durna. Setelah selesai perundingan, raja membubarkan pertemuan, lalu masuk istana.

Prabu Duryodana disongsong oleh permaisuri dan ibunya. Raja bercerita tentang rencana perkawinan pendeta Durna. Mereka makan bersama

Patih Sakuni mengumpulkan para Korawa, mereka diberitahu tentang kepergian ke Pancalareja dan pembagian tugas. Setelah siap mereka berangkat bersama perajurit untuk mengikuti sayembara.

Di negara Umbul Tahunan sang raja Prabu Kala Kuramba juga ingin mengikuti sayembara dan memperisteri Drupadi, putri raja Pancalareja. Raja menugaskan Kala Gragalba untuk menyampaikan surat lamaran. Kala Gragalba disertai Kala Gendhing Caluring, Kala Palunangsa, Wijamantri dan Tejamantri berangkat ke Cempalareja. Perjalanan Kala Gragalba bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, Kala Gragalba dan perjuritnya terdesak, mereka menyimpang jalan.

Continue reading Banjaran Cerita Pandhawa (11)