Ki Nartosabdho : Arjuna Wiwaha


Kisah kepahlawanan Arjuna yang menolong para dewa di kahyangan dalam menghadapi keangkaramurkaan raja raksasa Himahimantaka bergelar Prabu Niwatakawaca. Sang Prabu yang telah diberi kemulyaan oleh dewa dengan beristrikan seorang bathari, merasa kurang dan meminta lebih untuk mempersunting kembali kembang para bathari, Bathari Supraba. Keinginan tersebut tentu saja mengundang amarah para dewa, namun sungguh tak dinyana bahwa para dewapun kalah bertempur dalam menghadapi utusan Prabu Niwatakawaca, patih Mamangmuka.

niwatakawaca_solo

Para dewa kemudian mencari jalan menghadapi Raja Himahimantaka. Bagaimana kelanjutannya ?

Silahkan nikmati pagelaran wayang oleh dalang Ki Nartosabdho berjudul “Harjuna Wiwaha”. Koleksi ini adalah kiriman dai Mas Imam Garut. Matur nuwun kami ucapkan kepada Mas Imam yang telah memberikan koleksinya untuk kita semua.

arjuna_solo

Dan bagi yang ingin membaca bukunya, telah ada di blog ini ebook karangan Resi Kano berjudul sama. Silahkan membacanya bagi yang belum mendownloadnya disini.

 

Update terakhir new upload : 29032014

http://www.4shared.com/folder/15E-ylYM/137.html

Jumlah File : 9 File

Advertisements

5 thoughts on “Ki Nartosabdho : Arjuna Wiwaha”

  1. nyuwun pangapunten, kenapa filenya besar-besar sedangkan di website born javanese untuk mp3 dengan durasi 30 menit hanya rata-rata 9 MB (masih tetap enak didengar), nyuwun pangapunten.

  2. Udarasa Lain tentang Harjuna Wiwaha

    Ki Manteb menggelar lakon Arjuna Wiwaha pada tgl 1 Juli 2008 dalam rangka ulang tahun bhayangkara ke 62, Ditlantas Polda Metrojaya (Sumber: http://entertainment.kompas.com tgl 2 Juli 2008).
    Arjuna Wiwaha berarti perkawinan Arjuna. Syair epos ini ditulis oleh Mpu Kanwa yg menurut dugaan, hidup pada zaman Raja Airlangga. Raja Airlangga atau sering pula disingkat Erlangga, adalah pendiri Kerajaan Kahuripan yang memerintah tahun 1009-1042, dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.

    Konon, Mpu Kanwa mempersembahkan karya Arjuna Wiwaha kepada raja Airlangga. Untuk menghormati raja itu ia melukiskan kekuasaannya dengan mengambil Arjuna sebagai contoh. Lakon Arjuna Wiwaha yang digelar di halaman Polda Metro Jaya memang permintaan Dirlantas Kombes Pol Drs Joko Susilo MSi yang mengagumi Ki Manteb.

    Usai adegan Limbukan, Manteb memunculkan suasana di Kerajaan Himahimantaka yang dipimpin oleh Raja Niwatakawaca. Pada adegan ini, Manteb mengeluarkan wayangnya dengan beragam karakter hasil kreasinya. Bermacam mahluk aneh dengan berbagai keunikannya dimunculkan di sini.

    Tak lama kemudian muncul Raja Niwatakawaca yang diiringi oleh prajurit kepercayaannya yang bernama Mamang Muka yang didampingi Togog. Diceritakan, Raja Niwatakawaca memiliki keinginan hendak mempersunting bidadari tercantik di kahyangan bernama Dewi Supraba.

    Tentu saja, para dewa menolak mentah-mentah keinginan Niwatakawaca. Merasa dilecehkan, Niwatakawaca pun murka. Dengan kesaktiannya, ia mengerahkan prajuritnya ke kahyangan untuk memeroleh Dewi Supraba secara paksa.

    Suasana berganti. Kali ini Manteb menampilkan keluarga Pandawa yang sedang kehilangan salah satu ksatrianya yang bernama Harjuna. Keluarga Pandawa tak tahu ke manakah ksatria tampan yang dijuluki lelaning jagad itu pergi.

    Sedang suntuk mereka mebicarakan Harjuna, mendadak muncul preman dari kerajaan Himahimantaka yang ingin mengobrak-abrik semua kerajaan, termasuk kerajaan para keluarga Pandawa. Tentu saja, keluarga Pandawa melawan. Peperangan pun berlangsung dengan dahsyat.

    Pada adegan ini, Ki Manteb kembali menunjukkan kelasnya sebagai “dalang setan”. Dalang yang memiliki sabetan yang indah sekaligus atraktif. Ya, dalam hal sabetan, Manteb memang tiada duanya. Namun beberapa bibit muda seperti Bayu Aji Pamungkas yang putra dalang Anom Suroto serta Purbo Asmoro patut diwaspadai oleh Manteb. Bahkan, Bayu konon mewarisi kemerduan suara ayahnya yang terkenal dalam olah vokal. Orang bilang, salah satu kelemahan Manteb adalah di sisi vokal.

    Tapi, kelebihan Manteb juga bukan cuma di sabetan, namun juga pada dinamika dialog para tokohnya. Misalnya, saat Baladewa menantang seorang raksasa, Manteb menggunakan dialog yang cepat namun tetap terjaga artikulasinya. Tak cuma itu, ia juga pandai mengendalikan emosi penonton.

    Sementara sebagian prajurit Himahimantaka melabrak anak-anak Pandawa, pasukan lain kerajaan itu langsung dipimpin oleh Niwatakawaca menyerbu Junggring Saloka, negeri para dewa.

    Betara Guru, bos para dewa khawatir, negerinya bakal hancur oleh amuk Niwatakawaca. Oleh tangan kanannya yang bernama Narada, disarankan agar dewa memerintahkan Begawan Ciptaning untuk melawan Niwatakawaca. Betara Guru setuju, tapi Ciptaning harus diuji dulu oleh tujuh bidadari. Apabila Ciptaning lolos ujian dan tak mempan rayuan bidadari, baru boleh dijadikan lawan Niwatakawaca. Tak cuma itu, betara Guru juga turun langsung menguji kesaktian Harjuna. Guru menjelma jadi seorang pemburu bernama Raden Keratarupa.

    Tepat pukul 00.41, adegan gara-gara mulai berlangsung. Begawan Ciptaning yang sedang bertapa didampingi oleh punakawan, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Mereka masuk diiringi lagu Dara Muluk. Gareng, Petruk dan Bagong tidak berani mengganggu Semar yang sedang semedi membantu begawan Ciptaning yang sedang bertapa. Untuk menghibur diri, Gareng, Petruk dan Bagong mulai menyanyi dan saling meledek.

    Setelah Begawan Ciptaning bertapa beberapa bulan lamanya, hari itu ia harus membatalkan tapa. Sebab, mendadak ada seekor babi hutan yang mengamuk dan semakin mendekati tempat begawan Ciptaning bertapa. Begawan Ciptaning segera mengambil anak panah dan kemudian dilepaskannya tepat mengenai leher babi hutan, bersamaan dengan lepasnya anak panah milik raden Keratarupa yang juga menancap pada leher si babi hutan tersebut. Babi hutan tersebut adalah jelmaan dari patih Mamangmurko.

    Begawan Ciptaning dan Raden Keratarupa berebut kebenaran atas anak panah yang mengenai babi hutan. Akhirnya di antara dua ksatria itu pun terjadi perang. Saat tiada yang kalah dan menang, Ciptaning menjelma kembali menjadi Arjuna, sedangkan Raden Keratarupa menjelma kembali menjadi Batara guru sekaligus mengangkat Arjuna sebagai jago dewa untuk menghadapi Niwatakawaca. Agar menang, Batara Guru memberi pusaka kyai Pasopati, kemudian Arjuna diboyong ke kayangan.

    Bathara Guru dihadap oleh para Dewa, dan Raden Arjuna yang akan diwisuda untuk menjadi jago Dewa. Setelah persiapan selesai, Arjuna diwisuda menjadi jago Dewa untuk menumpas murkanya Prabu Niwatakawaca yang menentang kodrat, yakni ingin mempersunting Bathari Supraba. kemudian Arjuna berangkat ke Himahimantaka didampingi Bathari Supraba.

    Prabu Niwatakawaca menerima kedatangan Togog dan Bilung yang melaporkan tewasnya Patih Mamangmurko dan Patih Mamanggono. Sang Prabu sangat marah mendengar berita tersebut, namun saat kemarahannya sampai di ubun-ubun, Abdi Emban menghadap, seraya memberi kabar bahwa Bathari Supraba berada di Kedaton. Supraba mengatakan, kedatangannya memang siap untuk dipersunting sang raja.

    Prabu Niwatakawaca sangat gembira mendengar keterangan dari Supraba sehingga secara tidak sadar, sang raja memberitahu segala rahasia hal yang ingin diketahui oleh Dewi Supraba. Sang raja juga memberi tahu letak kesaktiannya, termasuk Aji Gineng, sampai letak pengapesannya juga diberitahukan kepada Bathari Supraba. Saat bersamaan, keterangan sang raja didengar oleh Arjuna yang juga berada di kedaton tersebut dengan menggunakan Aji Panglemunan (tak nampak oleh mata). Akhirnya terjadilah perang antara Arjuna melawan Prabu Niwatakawaca.

    Arjuna tidak berdaya melawan kekuatan Prabu Niwatakawaca. Namun pada waktu Arjuna tak berdaya ia melihat keanehan pada Prabu Niwatakawaca yang sedang tertawa terbahak-bahak. Arjuna melihat sinar yang berada di telak sang raja, yang merupakan sinar dari Aji Gineng. Kemudian dengan gerak yang sangat cepat, Arjuna melepaskan Pasopati tepat mengenai telak Prabu Niwatakawaca, yang membuat sang raja tewas.

  3. Cerita ini merupakan sambungan dari lakon SOmbo Juwing (Perang Gojali Suta) dimana arjuna merasa kalah adu kesaktian dengan Prabu Bomanarakasura yang sebenarnya kampuh arjuna hanya terserempet senjata (robek satu jengkal), dan bersambung lagi dengan cerita (lakon) Bambang Partodewo.

  4. Seni kita haruskita jaga mari kita dukung walau kecil tapi ada perbuatan untuk melestarikan dengan tetap menjaga aqidah bahwa ini sebuah seni yang sarat dengan nasehat. terima kasih Poro Mpu

  5. matur nuwun sanget, ing pamanggih mboten saged tanpo umpami salebete angleluri budoyo asli jowo mugi” rahayu ing pamanggih, wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s