Ki Nartosabdho : Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)


bima

Cerita ini merupakan perjalanan seorang tokoh yaitu Bima. Silahkan untuk menikmatinya, apalagi diolah oleh seorang dalang sang Maestro Ki Nartosabdho. Cerita ini merupakan koleksi pribadi yang berasal dari seorang sahabat. Silahkan menikmati ceritanya Di sini

 

Update terakhir new upload : 29032014

http://www.4shared.com/folder/cddjPCj7/04_online.html

Jumlah File : 14 File

Kidung Malam 37 : Kembali ke Paranggelung


kidung_malam37

Ekalaya telah meneladani rakyatnya untuk senantiasa membasuh hatinya dengan air kejujuran (karya Herjaka HS 2008)

Adakah yang mengecewakanmu Ngger anakku si Aswatama? Hingga tanpa pamit tanpa berita engkau tinggalkan begitu saja bapakmu ini dan bumi Sokalima. Tidakkah engkau menyayangiku Ngger? Apa salahku Tole?

Dalam kebingungan Durna menemui Harjuna, untuk memasrahkan anak semata wayang si Aswatama yang tanpa pamit telah meninggalkan Sokalima bersamaan dengan Ekalaya dan Anggraeni sahabatnya.

“Harjuna, Harjuna, tolonglah aku, susullah Aswatama, dan ajak kembali, jangan perbolehkan ia pergi meninggalkan aku sendirian.”

Melihat kecemasan dan kebinggungan sang guru, Harjuna merasa iba. Maka dengan serta-merta Harjuna menyanggupi untuk mencari Aswatama.dan segera berangkat meninggalkan Sokalima. Durna sedikit lega. Ia memandangi Harjuna hingga hilang dari pandangan, kemudian masuk ke ruang dalam untuk menenangkan hati. Jika sudah demikian tak ada cantrik yang berani mengganggu.

Matahari baru sepenggalah. Walaupun Harjuna sudah meningkatkan kemampuannya untuk memacu kudanya dengan cepat, ketiga orang yang dimaksud belumlah tersusul. Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama seakan hilang ditelan bumi.

Syahdan, perjalanan Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama telah memasuki pintu gerbang tapal batas Negara Paranggelung. Kabar segera tersiar bahwa Raja yang telah pergi lebih dari tiga tahun kini telah datang. Kawula Paranggelung mulai berdatangan di sepanjang jalan yang dilalui Sang Raja. Di hadapan kawula yang mengelu-elukannya Ekalaya yang berada di punggung kuda, dibarengi oleh Anggraeni dan Aswatama, mencoba menutupi deritanya dengan senyum dan keramahan.

“Raja datang!”
“Raja jaya!”
“Hidup Sang Raja”
“Hidup!!!”

Continue reading Kidung Malam 37 : Kembali ke Paranggelung

Kidung Malam 36 : Selamat Tinggal Sokalima


kidung_malam36

Seoarang cantrik menemukan tulisan Ekalaya

Aswatama bermaksud membesarkan hati Anggraeni dan Ekalaya yang sedang berada dalam keterpurukan. Ia menggarisbawahi pendapat Anggraeni, bahwa hidup yang dianugerahkan jauh lebih berharga dibandingkan dengan pusaka andalan Paranggelung yang dimiliki Ekalaya sejak bayi. Walaupun kini pusaka yang diandalkan itu telah lepas dari dirinya dan Ekalaya menjadi orang biasa yang tidak berilmu dahsyat, Anggraeni mengalami suka cita ketika didapati suaminya mulai sadar dan lukanya berangsur-angsur pulih.

Ekalaya bangkit untuk duduk. Ia memandangi tangannya yang luka. Dan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Ia melihat Anggraeni yang berada sangat dekat dengan dirinya. Juga Aswatama yang berada tidak jauh dari dirinya. Ya, di bilik inilah ia telah mempersembahkan pusaka andalannya kepada Sang Guru Durna.

“Terima kasih Anggraeni, terima kasih Aswatama. Kalian telah merawat aku. Mungkin saat ini adalah saat akhir kita saling bertemu. Karena apa yang berharga dalam hidupku telah hilang, aku persembahkan kepada Guru Durna.”

“Jangan berkata begitu Kangmas, bukankah yang paling berharga dalam hidup ini adalah hidup itu sendiri? Dan Kangmas Ekalaya masih memilikinya?”

“Engkau benar isteriku. Namun hidup tanpa ilmu dan kesaktian tidak lebih berharga dibandingkan dengan daun jati kering.”

Continue reading Kidung Malam 36 : Selamat Tinggal Sokalima

Kidung Malam 35 : Tangis Anggraeni


kidung_malam35

Anggraeni mensyukuri atas hidup yang masih dianugerahkan kepada mereka berdua (karya Herjaka HS, 2008)

Sang Guru bertanya kepada muridnya,

“Tidak percayakah engkau padaku Ekalaya?”

“Ampun Bapa Resi, bukan maksudku untuk tidak mempercayai kemampuan Bapa Resi Durna. Aku percaya, Bapa Resi mampu melakukannya. Silakan Bapa Resi, ambilah cincin Mustika Ampal ini dari ibu jari tanganku.”

Pandita Durna ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah guru yang mumpuni dan menguasai berbagai ilmu tingkat tinggi. Sehingga tidak akan kesulitan dalam melepas Cincin Mustika Ampal, walaupun sudah manjing menjadi satu dengan ibu jari tangan kanan Ekalaya.

Ekalaya memberikan tangan kanannya kepada seorang yang sangat ia hormati. Tangan itu bergetar tanpa dapat dicegahnya. Dengan amat perlahan Durna mencoba mengeluarkan cincin Mustika Ampal itu.

Satu kali, dua kali usaha Durna belum berhasil. Cincin tersebut masih terpendam rapat di antara kulit dan daging. Walaupun tidak kelihatan mencolok, Durna telah mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya, sehingga keringatnya susul menyusul meninggalkan dahinya yang semakin berkerut. Dikarenakan tangan Ekalaya bergetar, Durna menganggap bahwa Ekalaya telah menghimpun energi untuk menghalangi pengambilan Mustika Ampal

“Ekalaya, jangan berusaha menahan cincin Mustika Ampal.”

“Ampun Bapa Resi, aku tidak menahannya. Tangan ini bergetar dengan sendirinya.”

Continue reading Kidung Malam 35 : Tangis Anggraeni

Ki Nartosabdho : Banowati Janji


Kasih tak sampai seorang Banowati terhadap Arjuna. Cintanya sebenarnya kepada Arjuna, namun Duryudana-lah yang akhirnya menjadi suaminya.

Seperti kita ketahui bahwa Banowati adalah salah satu putra dari Prabu Salya bersama Dewi Pujawati (Setyawati) yaitu : Dewi Erawati (istri Prabu Baladewa), Dewi Surtikanti (istrinya Prabu Karna), Banowati, Burisrawa dan Rukmarata.

Karna sebagai mantu dari Prabu Salya memberikan keterangan bahwa yang diminta Banowati ketika dilamar oleh Duryudana berupa pengiring penganten seorang pria yang cakep tanpa cela, tidak lain adalah saudaranya sendiri yaitu Arjuna. Hingga kemudian dimintalah arjuna menjadi pengiring penganten sesuai dengan permintaan Banowati. Kemudian apa yang terjadi ?

banuwati_solo

Ikutilah kisahnya oleh Ki Nartosabdho dalam lakon “Banowati Janji” yang adalah masih kiriman dari Mas Imam Garut.

 

Update terakhir new upload : 29032014

http://www.4shared.com/folder/6U60qSZ0/37_online.html

Jumlah File : 8 File

Ki Nartosabdho : Bambang Partodewa


Kembali koleksi dari Mas Imam Garut saya sharing untuk kita semua, masih dengan dalang Ki Nartosabdho berjudul “Bambang Partodewa”.

arjunaBatara Kamajaya

Siapakah Bambang Partodewa yang melawan Kurawa saat menyerang Amarta dimana Pandawa sedang tidak ada ?

Silahkan dinikmati disini.

 

Update terakhir new upload : 29032014

http://www.4shared.com/folder/paRKJOV5/33_online.html

Jumlah File : 7 File

 

http://www.4shared.com/folder/zeT8gPvc/33_online.html

Jumlah File : 7 File