Merindukan Wayang Sadat


Oleh Herat Jemen

KABUPATEN Klaten memiliki banyak potensi unggulan di berbagai bidang. Dalam bidang industri kerajinan, misalnya, daerah ini memiliki kerajinan tenun lurik di Kecamatan Pedan, batik di Bayat, dan keramik di Paseban. Di bidang pariwisata, Klaten memiliki sejumlah objek wisata ziarah seperti maka Sunan Pandanaran di Bayat dan makam Ki Ageng Ribig di Jatinom.
kayon_sadatwayang-sadat
Sedangkan di bidang seni-budaya, Klaten memiliki wayang kulit khas, yang membedakannya dengan wayang kulit dari daerah lain. Meski sama-sama terbuat dari kulit yang disamak, tokoh yang ditampilkan berbeda. Bukan Kresna, Arjuna, Semar, atau yang lainnya, melainkan tokoh-tokoh seperti Sunan Kalijaga, Raden Patah, Sunan Kudus, dan wali-wali lainnya di Tanah Jawa.
Wayang kulit ini biasa disebut wayang sadat. Sadat adalah akronim dari sarana dakwah dan tabligh. Wayang ini berkembang di Dusun Mireng, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.

Sejauh ini cuma tersisa seorang dalang wayang sadat, yaitu Ki Suryadi. Jika wayang kulit pada umumnya digelar semalam suntuk, wayang sadat hanya digelar selama empat jam.

Dalang Berjubah

Pakaian yang dikenakan dalang juga berbeda. Kalau biasanya ki dalang mengenakan beskap, jarit, keris, dan blangkon di kepalanya, maka dalang wayang sadat mengenakan jubah biasa (seperti surjan), dan surban di kepalanya. Sedangkan wiyaga dan waranggana (sinden) mengenakan baju yang ditutup mukena.

Selama pergelaran wayang sadat, bacaan lafal Alquran kerapkali terdengar. Bacaan syahadat dan basmallah terdengar berselang-seling, saat Ki Suryadi memainkan tokok wayang Sunan Bonang atau waliyullah lainnya.

Dengan tampilan seperti itu, wayang sadat sangat baik dan mengena apabila digelar di lingkungan pondok pesantren, karena unsur dakwah merupakan suatu keharusan dalam pergelaran wayang sadat.

Sempat muncul rumor, wayang sadat ditengarai mengandung unsur-unsur magis, namun isu tersebut dibantah Ki Suryadi. Ki Suryadi menciptakan wayang ini sejak puluhan tahun lalu, namun baru kali pertama dipentaskan di depan umum pada tahun 1985. Di masa Orde Baru, pementasan wayang unik ini kerap muncul di TVRI, yang saat itu merupakan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. Wayang sadat juga pernah ditampilkan dalam Festival Istiqlal di Jakarta (1991).

Namun setelah itu, entah kenapa, tidak pernah lagi terdengar kabarnya. Wayang sadat seperti tenggelam dalam hiruk pikuk budaya manca, bahkan ketika pergelaran wayang kulit masih eksis di sejumlah daerah. Apakah wayang sadat sudah mengalami mati suri, atau benar-benar telah mati?

Sepengetahuan penulis, Ki Suryadi pernah berobsesi ingin menciptakan wayang nusantara, terutama setelah wayang sadat dikenal masyarakat luas. Tokoh-tokoh yang akan ditampilkannya dalam wayang nusantara adalah para elite pemimpin dan politisi di negeri ini, baik sebelum maupun setelah Indonesia merdeka.

Generasi Muda

Ketika wayang nusantara belum juga muncul, kita layak bertanya: bagaimana keberadaan wayang sadat dalam jagat pewayangan di Indonesia? Ki Suryadi harus bangkit kembali untuk memopulerkan wayang unik hasil kreasinya ini, terlebih ketika negeri ini dilanda krisis moral.

Dengan mengisahkan masa kejayaan Kerajaan Islam Demak Bintoro dan Kerajaan Mataram Islam, maupun perjuangan ulama-ulama besar yang tergabung dalam Majelis Wali Songo dalam syiar Islam di Tanah Jawa, setidaknya kaum generasi muda bisa memeroleh asupan lain yang positif.
Para penggemar wayang sadat, juga kalangan anak muda yang penasaran dengan informasi ini, pasti ingin menyaksikan pergelaran wayang khas Kabupaten Klaten tersebut. Apalagi masa pertunjukannya ”amat terjangkau” oleh berbagai kalangan, hanya empat jam, sehingga tak perlu begadang semalam suntuk.

Bagi yang pernah menyaksikannya, pasti akan kangen dengan tokoh-tokoh kharismatik seperti Sunan Kalijaga atau Sunan Bonang. Semoga tulisan ini bisa menggugah semangat Ki Suryadi untuk kembali berkreasi. Semoga pula stasiun televisi lokal, seperti TVRI Jawa Tengah, TV Borobudur, TV Semarang Cakra, TV-Ku, Pro-TV, TVRI Yogyakarta, dan TV Jogja, ikut terpanggil untuk menanggap dan menayangkan pergelaran wayang sadat. Semoga saja! (32)

-Herat Jemen, pemerhati kesenian tradisional, tinggal di Yogyakarta.

http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=44523

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s