Perjalanan Wayang Indonesia di UNESCO (2)


“Walah, Pelatih Karawitan Kok Orang Asing”

PELATIH KARAWITAN: Sylvie Chantriaux dan Ki Manteb saat berfoto bersama di luar gedung UNESCO. Sylvie selama setahun terakhir ini menjadi pelatih karawitan bagi warga Indonesia di Kedutaan Besar Prancis.(69j) – SM/Joko Dwi Hastanto

wayang-unesco-2

DI sela-sela pertunjukan wayang kulit di gedung UNESCO, seorang gadis asing berusaha masuk ke tempat pertunjukan. Dia pun bersemangat ikut berdesak-desakan dengan ratusan penonton lain yang mengerubungi Ki Manteb Soedharsono yang pada malam itu menjadi bintang seusai pergelaran wayang yang menawan.

“Pak Manteb, perkenalkan nama saya Sylvie Chantriaux, orang Prancis asli. Saya pelatih karawitan di Kedutaan Besar Indonesia di Prancis. Saya sudah lama mengagumi Bapak. Beruntung saya bertemu di sini sekarang,” ungkapnya dengan bahasa Indonesia patah-patah memperkenalkan diri.

Ki Manteb yang disalami pun terhenyak. Begitu pula anggota rombongan yang lain. Mereka pun setengah tidak percaya dengan gadis yang mengaku berprofesi sebagai pelatih karawitan itu, apalagi pelatih karawitan di Kedutaan Indonesia.

Hanya Jeff Cottaz, pemandu rombongan dari Kedutaan Prancis yang mesam-mesem. Dia sudah tahu bahwa gadis itu adalah pelatih karawitan di kedutaan. Dia salah seorang warga Prancis yang intensif menggeluti seni pedalangan di Indonesia dan pernah nyantrik di padepokan Ki Manteb Soedharsono selama dua tahun.

Continue reading Perjalanan Wayang Indonesia di UNESCO (2)

Perjalanan Wayang Indonesia di UNESCO (1)


Hormati Utusan Srilanka, Lakon Diubah

SM/Joko Dwi Hastanto PENTAS DI UNESCO : Ki Manteb menerima sertifikat penghargaan untuk wayang Indonesia sebelum mementaskan wayang kulit dengan lakon Sesaji Raja Suya di Gedung Unesco di Paris.(55t)

wayang-unesco-1

Selama hampir tiga pekan sejak pertengahan April hingga awal Mei, wartawan Suara Merdeka Joko Dwi Hastanto mengikuti rombongan dalang kondang Ki Manteb Soedharsono yang mendapat kehormatan pentas di gedung UNESCO di Paris, Prancis dalam rangka penerimaan penghargaan Master Piece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity untuk wayang Indonesia. Berikut catatan selama berada di markas lembaga di bawah PBB yang mengurus persoalan pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan tersebut.

Ada perasaan bangga luar biasa di setiap dada para anggota rombongan, ketika dengan indah, Gending Kebogiro melantun di gedung UNESCO yang megah di pusat Kota Paris, berdekatan dengan Menara Eiffel yang menjulang tinggi. Gending itu mengalun mengiringi Direktur Jenderal UNESCO Koitchira Matsuura yang melangkah perlahan bersama Dubes UNESCO Bambang Soehendro, Dubes Prancis Adian Silalahi, serta Ketua Senawangi Solichin.

Continue reading Perjalanan Wayang Indonesia di UNESCO (1)

Audio Wayang Ki Sugino Siswocarito


Ki Sugino adalah salah seorang dalang dari Banyumas.

ki-sugino-siswo-carito-2

MP3 wayang Ki Sugino Siswocarito yang sudah di upload :

  1. Babad Alas Mertani
  2. Wisodewo Kromo

Berikut ada berita tentang gagrag Banyumas :

Membeo, Gagrag dan Pakem Pedalangan

  • Oleh Soediro

MENARIK, sekaligus menggeletik, berita yang dimuat Suara Merdeka (15/2/2008) dengan judul Dalang Banyumas Dinilai Membeo. Berita ini menimbulkan pro dan kontra, justru karena ada beberapa hal yang layak untuk dikemukakan.

Dalam berita itu telah terjadi kesalahan cukup fundamental, dipandang dari ilmu jurnalistik. Selain ada kesalahan cetak (masih dalam batas kewajaran), juga ada kesalahan tekstual serta kesalahan ”letak” fakta terbalik).

Dalam foto pendukung terdapat keterangan pentas dalang Ki Sugito di Baturraden; mestinya pentas Ki Bagus Marwoto. Sedangkan di tubuh berita disebutkan Ki Sugito Purbocarito adalah dalang pakem, sementara Ki Sugino Siswocarito dalang kreatif. Di sinilah kesalahan letak, karena data yang benar justru sebaliknya.

Tanpa berniat menghakimi, berita ini tidak disertai check and recheck. Apalagi narasumbernya kurang tepat. Materi berita tentang pedalangan Banyumas, tetapi tak semua tokoh yang diwawancarai berprofesi sebagai dalang. Misalnya, pelawak kok ”dipaksa” berkomentar tentang pedalangan.
Dipertanyakan juga, mengapa Ki Sugino dan Ki Sugito tak diwawancarai? Jika ada istilah the bad news is the good news, maka berita tersebut lebih tepat disebut the news with the bad marks, dan tentu saja bukan the good news.

Terpancing berita ini, Ki Bagus Marwoto angkat bicara. Lalu muncullah berita tanggal 18 Februari lalu, berjudul Tak Mungkin Utuh Berdialek Banyumas. Dalang muda Banyumas ini terkesan hanya menanggapi komentar Drajat Nurasongko, sekretaris Dewan Kesenian Banjarnegara.

Menurut Marwoto, jika dalang Banyumas menggunakan dialek banyumasan, itu hanya tepat untuk memerankan tokoh tertentu agar lebih komunikatif. la mengatakan, bahasa bandek (bahasa keraton–Red) atau bahasa Jawa standar Surakarta/Yogya adalah bagian dari pakem. Soal tudingan membeo yang ditujukan kepada dalang Banyumas, Marwoto mengatakan, ”Membeo merupakan hal yang tak dapat dihindarkan dari proses peniruan dalam kesenian”.

Hak Koreksi

Tulisan ini merupakan klarifikasi dari kedua berita tersebut, sesuai dengan amanat pasal 1 (angka 12) UU No 40/1999 tentang Pers. Pasal ini mengatur hak koreksi, yang menjadi hak setiap orang untuk mengoreksi / membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan pers, baik tentang dirinya maupun orang lain.

Sebagai salah seorang pengurus Pepadi Banyumas, saya ingin mengoreksi substansi berita tanggal 15 Februari. Sepengetahuan saya, gagrag (bisa diartikan versi atau model) adalah istilah yang digunakan dalam dunia pedalangan untuk membedakan gaya pedalangan antara daerah yang satu dan daerah lain.

Misalnya gagrag Surakarta, Mataram (Yogyakarta), dan Banyumas. Versi pedalangan tersebut secara spesifik dapat dikenali perbedaannya, baik dalam penokohan, gending, maupun sajian khusus yang melahirkan nuansa berbeda dalam cita rasa seni.

Ki Manteb Sudharsono dalam sebuah saresehan di Banyumas pernah mengatakan, gagrag Surakarta terkesan anggun dan agung. Gagrag Mataram mrenes (segar, menggelitik dan mengesankan), sedangkan gagrag Banyumas terkesan ramai.

Kesan ini disebabkan perbedaan-perbedaan seperti disebutkan di atas. Pencinta pedalangan dengan mudah bisa membedakan ketiga gagrag itu, saat menyaksikan langsung atau mendengarkan secara audio.

Apabila pertunjukan wayang kulit menggunakan satu keprak (lembaran logam tipis dari besi, kuningan, perunggu), dengan suara ”ting.. ting.. ting..” yang beradu dengan bungkul (logam kecil bulat-panjang, dijepit di antara ibu jari kaki sebagai pemukul keprak), dapat dipastikan pentas ini bergaya Mataram. Jumlah keprak banyak (biasanya lima), tanpa bungkul, berarti bergaya Surakarta. Nah, gagrag Banyumas menggunakan tiga lembar keprak dengan bungkul.

Selain itu, penokohan dari ketiga gagrag itu juga sering berbeda. Tokoh Pandhita Durna di Banyumas digambarkan berperangai amat buruk. Sedangkan dalam gagrag Surakarta dan Mataram, tokoh yang buruk justru Patih Harya Sangkuni. Tokoh Bawor dalam gagrag Banyumas adalah anak pertama dari Semar. Sedangkan di Surakarta dan Mataram, Bagong adalah anak terakhir.

Contoh lain, Raden Werkudara di Banyumas memiliki empat orang anak. Di Mataram tiga, bahkan di Solo hanya dua anak. Inilah gambaran singkat mengenai gagrag pedalangan Surakarta, Mataram dan Banyumas.

Pembakuan Dialek

Tudingan membeo (dialek Surakarta dan Mataram) juga menjadi persoalan tersendiri. Sampai saat ini belum ada pembakuan dialek dalam dunia pedalangan. Bahkan dalam buku Pathokan Pedalangan Gagrag Banyumas (Senawangi, 1983), belum ada ketentuan mengeni hal itu.

Jika yang dimaksud membeo adalah meniru dalang kondang Ki Sugito dan Ki Sugino, itu bukanlah hal tabu. Di Solo, sebagian besar dalang muda juga meniru penampilan Ki Manteb dan Ki Anom Suroto. Di Yogya, gaya Ki Timbul Hadiprayitno atau Ki Hadi Sugito (alm) juga kerap ditiru.
Dalang senior yang diidolakan masyarakat memang cenderung diikuti gayanya, tentu dengan aplikasi yang inovatif dan kreatif oleh dalang-dalang muda. Inilah yang membedakannya dari istilah membeo: sekedar meniru, layaknya burung beo.

Bagaimana dengan pakem? Menurut Sujamto, dalam buku Wayang dan Budaya Jawa, pakem menyangkut tata gending, irama gamelan, tata urut penyajian adegan, pembakuan jalan cerita, pembakuan watak, pembakuan bentuk wayang, pembakuan etika wayang, pembakuan simbol-simbol pokok, pembakuan suluk, dan arahan terhadap aspek-aspek teknis tertentu.
Jadi, pada dasarnya pakem terkait dengan gagrag, di mana setiap daerah memiliki bentuk tersendiri (khas), meski cerita asli wayang kulit Jawa berada dalam bingkai yang sama, yaitu serial Mahabharata dan Ramayana dari India.

Jika sekarang masih memperdepatkan masalah gagrag dan pakem, kita akan kehilangan kesempatan untuk melangkah maju, justru ketika wayang diakui sebagai karya luhur di dunia. Apalagi kalau dialek pun dijadikan kambing hitam untuk menuding gaya dan penampilan dalang.

Dalang-dalang yang selama ini eksis menumbuhkembangkan seni pedalangan, dengan gagrag dan pakem apapun, adalah insan-insan yang layak dihormati, bukan oknum-oknum yang pantas dituding, dilecehkan, dan dimarjinalkan. Jika Anda pelaku pedalangan, berkreasi dan berkaryalah secara nyata. Jadilah pemain yang aktif, bukan sekadar penonton yang hanya pandai bersorak dan mengejek, tetapi tidak pernah berbuat apa-apa. (32)

– Soediro SH, ketua Pepadi eks-Kotatif Purwokerto.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=3850

Audio Wayang Ki Warseno Slenk


warseno-slenk

Ki Warseno Slenk, nama lengkapnya adalah Warseno Harjodarsono. Adik Kandung Ki Anom Suroto ini lahir di Klaten tanggal 18 Juni 1965. Ia adalah putra Ki Harjodarsono dalang tenar dari Klaten sekitar tahun 1950 sampai 1970-an. Keterampilannya dalam mendalang diwarisi dari Ayahnya. Dalang muda yang lulusan S-2 UGM jurusan Ilmu Pemerintahan ini juga tercatat sebagai mahasiswa STISI Surakarta (sekarang ISI Surakarta) selama dua semester.

Sejak kecil kira-kira kelas V SD Warseno telah belajar mendalang. Ketika berumur 16 tahun ia telah percaya diri untuk mengadakan pentas di muka umum untuk pertama kalinya. Sesuai dengan namanya Slenk, dalang muda ini dalam garap pakelirannya memang senang slengekan, tetapi ia mampu tampil dengan sangat komunikatif dan kreatif. Kelebihannya yang menonjol adalah dalam garap iringan. Gamelan sebagai pengiring pergelaran wayang dapat dipadukan secara apik dengan berbagai jenis music etnis maupun music kontemporer seperti rock, punk, dan rap sehingga mendekatkan wayang kepada generasi muda.

Sumber : http://warta.pepadi.com/?p=8

Berikut pagelaran wayang oleh Ki Warseno Slenk (Sumber : javawayang.com)

Ki Warseno Slenk :

  1. Wahyu Manik Tunjung Seta
  2. Wahyu Pulunggono

KAS Audio Wayang


Koleksi mp3 wayang oleh Ki Anom Suroto untuk sementara sudah selesai diupload. Mudah-mudahan nanti ada lakon lain yang dapat di sharing.

anom-suroto

Ki Anom Suroto :

  1. Antasena Rabi
  2. Jayadrata & Burisrawa Lena
  3. Kumbokarno Gugur
  4. Narayana Winisuda
  5. Pandawa Maneges
  6. Parto Dewo
  7. Semar Mantu
  8. Wahyu Nugroho Jati
  9. Wahyu Tohjali
  10. Wahyu Topeng Wojo
  11. Wahyu Widayat
  12. Wisanggeni Lahir

Selamat menikmati

Pracona sekti mandraguna gawe wedine para dewa


sekipu_solo

Prabu Pracona iku raja ing nagara Tasikwaja. Wujude raseksa sing sekti mandraguna utawa widigjaya. Prabu Pracona pengin duwe prameswari sawijining widadari ing Suralaya. Prabu Pracona banjur pengin nglamar Dewi Gagarmayang.

Dheweke ngutus ditya Kasipu kanggo mujudake gegayuhane. Nanging panglamare ditulak para dewa. Pracona banjur mrentah Kasipu supaya ngrabasa Suralaya. Wusana pecah paprangan antarane wadyabalane Pracona sing ditindhihi ditya Kasipu kalawan para dewa ing Suralaya.

Paprangan lumaku rame lan suwe. Wadyabala dewa krasa kasoran ngadhepi panempuhe wadyabalane Pracona lan pangamuke ditya Kasipu. Ditya Kasipu dhewe pancen sekti mandraguna, ora beda kalawan Prabu Pracona.

Continue reading Pracona sekti mandraguna gawe wedine para dewa