Wayang Orang Jawa Barat


Wayang orang adalah suatu bentuk teater daerah yang tempat pementasannya dan perlengkapannya sudah mengikuti teater modern Barat. Misalnya pentasnya yang berbentuk proscenium (satu arah) serta menggunakan layar depan, layar belakang dan seben (penyekat samping). Kemudian, pentas itu pun menggunakan setting yang merupakan layar belakang atau layar samping yang bergambar dan disesuaikan dengan yang sedang berlaku serta menggunakan tata cahaya dan tata suara seperti pentas modern Barat.

Cerita yang dipentaskan dalam wayang orang adalah cerita wayang, tetapi dimainkan oleh para pemeran yang harus menguasai gerak atau tari wayang. Suara para pemeran pun harus disesuaikan dengan peran wayang yang diperankannya. Setiap tokoh wayang memiliki patokan tersendiri mengenai gaya bicaranya. Dan ini harus sesuai dengan nada-nada tertentu sehingga tidaklah mudah menjadi pemain wayang orang. Pemain wayang orang harus pandai menari serta mempunyai perbendaharaan gerakan wayang bagi kelengkapan berperan (acting)-nya.

Di samping gerakan dan tarian serta suara yang harus sesuai, pemain wayang orang pun harus memiliki perawakan (wanda) yang sesuai dengan wanda wayang yang diperankannya yang telah ditentukan oleh patokannya sesuai dengan penggolongan dalam pewayangan. Misalnya seperti golongan Ponggawa; tokoh-tokoh wayang golongan ini badannya besar, kekar serta raut mukanya dari tampan sampai menyeramkan tergantung dari kedudukan.

Di samping Ponggawa, ada pula golongan Ksatria yang memiliki wajah tampan dan terkesan halus serta memiliki perawakan yang ramping, termasuk pula dalam golongan ini adalah peran wanita. Tutur katanya halus dan bertuturnya lamban, berlawanan dengan Ponggawa yang suaranya berat, tegas serta ada nada keras bagi yang mempunyai watak murka. Dalam gerak-geriknya pun ada patokan yang baku, termasuk tekanan serta tenaga dalam melakukan gerak-geriknya sesuai dengan tekanan suaranya yang dilakukan sambil bicara.

Para pemain yang memerankan tokoh-tokoh yang dipertunjukkan dalam wayang orang dituntut mempunyai kemahiran dalam mempertunjukkan tarian yang khusus bagi tokoh tersebut dalam suasana tertentu. Umpamanya, seorang atau serombongan prajurit yang bersiap akan maju ke medan perang atau bersiaga, tariannya tidak panjang hanya ada penekanan pada kegagahan dan kesiagaan tokoh-tokoh tersebut serta harus lengkap dengan pembendaharaan gerak tarinya yang sesuai dengan perwatakannya. Demikian pula dengan lagu iringannya terutama pola tabuh kendangnya dalam wayang wong gaya Sunda.

Terdapat beberapa tokoh wayang yang biasa memperlihatkan tarian yang panjang secara utuh seperti tokoh Gatotkaca yang wataknya monggawa lungguh. Gatotkaca biasa menari agak panjang dalam adegan siaga menghadapi tugas menjaga keamanan atau menjelang pertarungan dengan lawan yang disebut tari “Gatotkaca Maju Jurit“.

Selain itu ada juga tarian yang utuh ketika Gatotkaca sedang Gandrung. Tarian ini bisa disebut bahwa Gatotkaca yang tugasnya menjaga keamanan negara pernah jatuh cinta kepada seorang putri bernama Pergiwa. Akan tetapi, Gatotkaca yang tegap tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan perasaannya kepada idamannya, maka lahirlah suatu tarian yang disebut “Tari Gatotkaca Gandrung “ yang diiringi lagu Gunungsari.

Wayang lain yang sifatnya monggawa yang biasa ditampilkan dalam tarian yang utuh adalah Raja Danawa yang sedang gandrung. Di antaranya adalah Niwatakawaca, Raja Negara Manimantaka, yang menggandrungi bidadari Supraba yang ada di Swargaloka. Dalam tariannya ia digambarkan sedang berpakaian, membenahi diri, karena membayangkan akan bertemu dengan Dewi Supraba. Lalu ia membayangkan melihatnya dan memburunya untuk dipeluk olehnya, akan tetapi kenyataannya hanya dalam bayangan saja.

Ada pula tokoh Ksatria yang ditampilkan dalam tarian yang utuh, yaitu Adipati Karna yang dikenal sebagai ksatria yang gagah berani dalam membela negara Astina. Nampak dalam tarian itu ia membenahi dirinya untuk bersiap siaga tidak ada yang ditakutinya, tanpa latar belakang suatu kisah pribadinya tapi tariannya memberi kesan ksatria yang “Pinilih Tanding “ (tanpa tandingan).

Waditra untuk mengiringi pertunjukan wayang orang terdiri dari satu gamelan lengkap yang dipimpin oleh seorang dalang yang juga menyanyikan Kakawen, Murwa atau Suluk. Sedang wayangnya bicara sendiri yang disebut antawacana. Akan tetapi, lebih lengkap lagi kalau ada pesinden yang menyertai, terutama untuk mendukung suasana tertentu dengan nyanyiannya, umpamanya adegan sedih.

Sementara itu, para nayaga diharapkan dapat mendukung dengan tabuhannya maupun senggaknya, sehingga hal itu dapat membuat suasana menjadi riuh pada adegan pertarungan umpamanya, yang biasanya diisi dengan Tarian Tarung dalam bentuk yang utuh. Di sini lagu yang dibawakan adalah lagu Sireum Beureum untuk adegan tarung para ksatria, sedangkan untuk adegan pertarungan tokoh monggawa digunakan lagu Bendrong.

Walaupun pentas dan perlengkapannya meniru gaya teater modern Barat, tetapi gaya mainnya adalah asli daerah, terlihat dalam hal permainan yang tidak dipimpin oleh sutradara, meskipun ada pimpinan yang lebih umum sifat pimpinannya. Selain itu, dialog yang digunakan tidak menurutkan naskah yang tertulis untuk dihapalkan, tetapi lebih banyak dibawakan sendiri sesaat ketika berada di atas pentas atau improvisasi, walaupun ada dialog tertentu yang sudah menjadi baku dan telah menjadi pakem. Dahulu dialog-dialog itu diucapkan oleh dalang, sedangkan para pemain hanya menggerakkan tangannya seolah-olah ia berbicara. Akan tetapi, kini dalam pentas wayang orang Sunda yang juga biasa disebut “sandiwara wayang”, dialog diucapkannya sendiri.

Sekarang, gaya bicara yang seharusnya dilakukan dengan lagak lagu wayang, ternyata bercampur dengan gaya sandiwara yang agak lain gayanya, malah seolah-olah seperti gaya bicara biasa. Mungkin hanya tokoh Panakawan saja yang sebagai pelawak dari dulu menggunakan gaya keseharian dalam bicara. Tokoh panakawan wayang orang sama dengan pada wayang golek, yaitu Semar, Cepot, Gareng dan Dawala. walau gaya bicaranya gaya bicara keseharian, namun masing-masing memiliki ciri bicara sendiri. Umpamanya Semar sebagai ayah, biasanya ia menggunakan gaya berlagu tertentu, Cepot gaya bicaranya khas Sunda pedesaan dan tentu saja agak jenaka karena suka membelok kesana kemari, Dawala gaya bicaranya seperti orang yang gugup agak lamban dan cadel sedang Gareng gaya bicaranya tegas tetapi agak kejawa-jawaan dan ceplas ceplos.

Dahulu rombongan wayang orang dimiliki oleh seorang dalang yang sekaligus membiayai segalanya. Pemainnya tak hanya pemain profesional, tetapi juga ditambah dengan yang masih amatir sebagai pemain sambilan. Selanjutnya, bantuan diberikan juga oleh satu atau dua sponsor yang membantu pembiayaan, jadi tidak ada lembaga seperti Keraton atau Kabupaten (kabupatian) yang mensponsorinya. Akan tetapi, pernah wayang orang secara sporadis dibiayai oleh Kabupaten dalam menghadapi suatu pementasan untuk meramaikan peristiwa tertentu, di antaranya semasa Bupati Panyelang Bandung, R.A.A Martanagara, yang mementaskan wayang orang Ramayana. Kemudian Bupati Bandung R.A.A.M. Muharam Wiranatakusumah yang mensponsori pementasan wayang orang Laraskonda. Pada saat itu para tokoh tari Sunda dikumpulkan.

Pada tahun 60-an, Persatuan Padalangan Jawa Barat (PPJB) di Bandung pernah mengadakan pementasan wayang orang yang sebagaian besar dimainkan oleh para dalang. Pementasan tersebut sungguh sangat mengesankan, antawacananya dibawakan dengan sangat mahir dan tariannya dibawakan oleh Mang Olas (Eon Muda) sebagai pmeran tokoh Baladewa dengan sangat mempesona.

Disamping pementasan wayang orang di atas, ada pula pementasan wayang orang yang dimainkan oleh anak-anak anggota perkumpulan “Sekar Binangkit“ di bawah pimpinan Abah Kayat, seorang seniman terkenal dari Babakan Tarogong. Ternyata mereka dapat menyajikan pentas wayang orang yang menjanjikan, di antaranya dalam tata rias muka mereka merujuk kepada wayang golek termasuk Panakawannya.

Pada tahun 1957, Daya Mahasiswa Sunda (Damas) melakukan pemugaran wayang orang gaya Sunda yang mereka sebut sandiwara wayang yang dipimpin oleh R. Sambas Wirakusumah pimpinan “Perkumpulan Wirahma Sari “ dari Rancaekek sebagai tokoh yang pernah menekuni wayang orang pada zaman sebelum kemerdekaan. Bahkan beliaulah yang menjadi pemeran Laraskonda sewaktu pementasan wayang orang di Pendopo Kabupaten Bandung pada zaman Bupati Wiranatakusumah. Pemugaran wayang orang itu mengambil cerita “Jabang Tutuka“ yaitu tentang lahir dan tumbuhnya pahlawan Gatotkaca, ksatria Pringgandani. Para pemainnya selain para mahasiswa juga ada yang dari Rancaekek yaitu dari Perkumpulan Wirahma Sari.

Rombongan sandiwara yang ada di Bandung juga pernah tersaksikan mementaskan sandiwara wayang yang permainannya cukup lumayan serta mereka mampu bermain secara beruntun walaupun pemainnya hanya sambilan orang. Perlu dicatat, para pemain sandiwara di Jawa Baratmemang sebagian besar pemain sambilan. Di antara mereka ada yang mempunyai pekerjaan tetap di samping sebagai pemain sandiwara yang cukup meyakinkan. Disayangkan memang, rupanya orang Sunda tidak begitu menyenangi pementasan sandiwara wayang dibandingkan dengan kegemaran mereka menonton wayang golek. Tetapi, kalau sandiwara cerita lain, seperti cerita dari wawacan De Sheik (cerita Seribu Satu Malam) dan lakon biasa keseharian yang disebut drama, maka akan lebih banyak penontonnya.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-orang/

Wayang Kulit Bekasi


Wayang kulit Bekasi sebenarnya masih sama latar belakangnya dengan wayang-wayang sejenis yang ada di Pulau Jawa. Yang membedakan antara wayang kulit Bekasi dengan wayang kulit daerah lain adalah faktor sosilogis dan pengaruh budaya lingkungannya. Perbedaan lainnya yaitu adanya tokoh yang lebih mirip dengan wayang golek misalnya Semar, Cepot, Udel dan Gareng, sementara Dorna digambarkan dengan wajah kearab-araban dengan memakai topi haji.

Awalnya wayang kulit Bekasi dibawa oleh seseorang yang bernama Balentet. Setelah ia berguru di daerah Cirebon dengan membawa wayang kulit Pandawa Lima sebagai warisan gurunya, Balentet mematangkan ilmu pedalangannya di daerah Bekasi dengan mendatangi tiga orang guru pedalangan, diantaranya Mbah Belentuk, Mbah Rasiun dan Mbah Cepe. Sekitar tahun 1918, Balentet mulai mendalang hingga meninggal dunia pada tahun 1982.

Sebagai dalang kondang di Bekasi, menjelang akhir hayatnya Balentet mewariskan keterampilan mendalangnya kepada putra-putranya, diantaranya Naman Sanjaya Balentet dan Namin. Keterampilan mendalang putra Balentet ini cukup terkenal di wilayah Bekasi, karena cara memainkan wayang dan pertunjukan wayang itu sendiri yang sangat egaliter.

Sebagai seni pertunjukan yang merakyat, wayang kulit Bekasi biasa dipertontonkan di tengah-tengah masyarakatnya. Adakalanya pertunjukan wayang kulit Bekasi ini dipersembahkan dalam acara hajat bumi sebagai peristiwa yang dianggap sakral. Namun, sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini melayani pula pesanan atau tanggapan dari masyarakat yang akan melaksanakan kenduri, baik khitanan maupun pernikahan.

Pertunjukan wayang kulit Bekasi dibagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah bubuka, dimulai pada pukul 20.00 sampai tengah malam. Bagian ini menjelaskan keseluruhan cerita yang akan dipertunjukkan dengan diawali penjelasan Ki Dalang tentang cerita yang akan disajikan, kemudian dilanjutkan dengan tatalu, rajah, nyandera atau menjelaskan adegan-adegan yang akan dipentaskan (patetnem). Kedua adalah isi cerita, berlangsung dari tengah malam sampai kurang lebih pukul 03.00 dini hari. Bagian ini mempertunjukkan bagaimana beberapa persoalan dalam sebuah lakon dipecahkan (patetsanga). Ketiga adalah tutup kayon dari pukul 03.00 dini hari sampai pertunjukan selesai.

Dari segi gaya permainan, wayang kulit Bekasi sangat mungkin mendapatkan pengaruh dari wayang golek Sunda, sekalipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Bekasi (Betawi pinggiran). Namun pengaruh itu tetap terlihat pada intonasi dan narasi yang terikat dalam struktur melodi yang nyaris sama dengan pedalangan Sunda. Pertunjukan wayang kulit Bekasi diiringi dengan seni suara dan gending iringan Sunda yang berlaras salendro, serta aksen-aksen berupa tarompet, suling dan rebab. Adapun jenis-jenis musik atau komposisi yang dimainkan dalam pertunjukan wayang kulit Bekasi ini dapat digolong-golongkan dalam: musik pembuka, musik wayang, musik perang, musik hiburan, musik respon dan musik penutup.

Penampilan wayang kulit Bekasi dilengkapi dengan teknik lampu yang memberikan efek visual wayang yang dimainkan menjadi lebih hidup. Hal demikian sangat menarik perhatian penonton/masyarakat pendukungnya. Apalagi dalam cerita yang dibawakannya lebih akrab dengan penonton, misalnya cerita humor, adegan perang, pencak silat atau lagu dan tariannya. Beberapa cerita khas wayang kulit Bekasi antara lain Aji Sukirana, Barong Sapu Jagal, Muris Kawin, Semar Ketemu Jodoh dan lain-lain.

Dalam kemandiriannya, wayang kulit Bekasi ini terasa memiliki kekhasan tersendiri dalam setiap pertunjukannya. Keunikan wayang kulit Bekasi nampaknya dihasilkan oleh sifat kerakyatan pertunjukannya sendiri dengan memilih ciri yang mandiri. Tidak heran jika hingga sekarang, wayang kulit Bekasi tetap mendapat tempat di hati masyarakatnya yang sudah dikepung oleh jenis-jenis seni pertunjukan modern itu.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-kulit-bekasi/

Wayang Kulit Indramayu


Wayang Kulit Indramayu sebenarnya tak ada bedanya dengan wayang kulit Jawa dan Cirebon. Perbedaannya terletak pada perbedaan bahasa yang dipergunakannya. Penggunaan bahasa ibu (setempat) menjadi khas pula di dalam berbagai tuturannya, baik lakon maupun sempal guyonnya. Bahasa ibu menjadi bahasa sosial dan komunikatif. Periwayatan tentang wayang kulit di daerah Indramayu tak terlalu berbeda dengan di daerah Cirebon. Hanya mungkin terdapat pengakuan bahwa wayang pernah menjadi media dakwah oleh Wali Sunan Kalijaga atas perintah Sunan Gunung Jati.

Adapun ceritanya, tak jauh pula bedanya. Wayang kulit Indramayu sama juga masih menggunakan dua cerita babon, yakni Ramayana dan Mahabharata. Tetapi, munculnya cerita karangan oleh para dalang di daerah Indramayu memiliki daya tarik tersendiri. Dewasa ini pertunjukan wayang kulit Indramayu ditampilkan dalam acara-acara tertentu, seperti: Ruwatan bersih desa, ngunjung, hajatan sunatan dan perkawinan.

Musik pengiring tak jauh berbeda dengan umumnya wayang kulit, yakni gamelan pelog-salendro yang ditambah dengan kemanak serta bedug yang cukup dominan, untuk efek tertentu. Adapun susunan adegan wayang kulit Indramayu sama dengan umumnya pola pengadegan wayang yang lain di Jawa Barat antara lain: Tatalu, dalang dan sinden naik panggung; Gending sejer / kawit, murwa, nyandra, suluk, kakawen dan biantara; Babak unjal, Paseban dan Bebegalan; Nagara Sejen; Patepah; lalu Perang Gagal; Panakawan / Goro-goro; Perang Kembang; Perang Raket; Tutug.

Salah satu fungsi wayang di masyarakat Indramayu adalah ngaruwat, yaitu membersihkan orang atau benda dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: Wunggal (anak tunggal), Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia), Suramba (empat orang putra), Surambi (empat orang putri), Pandawa (lima orang putra), Pandawi (lima orang putri), Talaga tanggal kausak (seorang putra dihapit putri); Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra), dan sebagainya.

Makna yang terkandung dalam pertunjukan wayang kulit, antara lain: Makna spiritual pertunjukan wayang kulit itu sendiri, yakni bahwa di mana pun kesenian ini berada, ia terkait dengan sistem kepercayaan yang diyakini oleh komunitas tertentu. Demikian juga masyarakat Indramayu di lokasi ngunjung. Dengan mengambil lakon leluhur Pandawa, masyarakat diingatkan tentang rasa hormat terhadap leluhur desa. Makna teatrikalnya ialah bahwa sosok-sosok dalam wayang kulit pada umumnya sangat teatrikal ditambah bentuk blencong yang berbeda dengan wayang kulit Jawa. Makna sosialnya, pertunjukan wayang kulit Indramayu dalam upacara ngunjung ikut serta di dalam proses interaksi antara anggota masyarakat yang masih percaya bahwa menghormati leluhur adalah perbuatan yang baik dan terpuji. Semua pertunjukan dan segala keperluan upacara ngunjung ditanggung oleh masyarakat, tanpa bantuan pemerintah.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-kulit-indramayu/

Wayang Kulit versi Malaysia


Wayang kulit ada juga lho di negri jiran kita, Malaysia !

Sumber : http://daftarwarisan.gov.my/index.php?page=warisan_keb_home&subpage=show_detail&category=2&id=37

20070627_065357_31020_pertunjukan20wayang20kulit

Gambar 1: Pertunjukan Wayang Kulit

Butiran Warisan :

Latar Belakang Sejarah : Wayang Kulit adalah satu bentuk teater tradisional yang menggunakan prinsip cahaya dan bayang. Bayang-bayang daripada patung-patung kulit yang terdiri daripada pelbagai watak mitos dan khayalan dilarikan oleh seorang dalang. Di Alam Melayu, Wayang Kulit boleh didapati dalam beberapa jenis. Antaranya termasuklah Wayang Kelantan, Wayang Melayu, Wayang Purwo dan Wayang Gedek. Persembahan wayang kulit akan diiringi dengan satu kumpulan muzik sebagai membantu menghidupkan lagi watak-watak yang dimainkan dan menggambarkan suasana adegan-adegan yang berlaku ketika itu. Peralatan muzik yang sering digunakan dalam persembahan wayang kulit adalah Serunai (utama), Gendang Ibu, Gendang Anak, Gendombak Ibu, Gedombak Anak, Kesi, Geduk Ibu, Geduk Anak, Canang dan Gong.

Jenis – jenis Wayang Kulit

Wayang kulit di Malaysia terbahagi kepada tiga jenis iaitu Wayang Kelantan, Wayang Purwo dan Wayang Gedek. Wayang Kelantan terdapat di Kelantan dan negeri-negeri Pantai Timur yang mempersembahkan cerita-cerita Hikayat Seri Rama, manakala Wayang Purwo pula terdapat di bahagian Selatan Pantai Barat Semenanjung terutamanya di Johor yang mengetengahkan episod dari kitab Mahabrata dan cerita Panji. Wayang kulit didirikan oleh beberapa elemen penting iaitu dalang, patung, kelir dan muzik. Gabungan dari elemen inilah yang menjadikan persembahan wayang kulit satu persembahan yang harmonis.

Continue reading Wayang Kulit versi Malaysia

Sejarah Wayang Kulit Betawi


http://www.kampungbetawi.com/gerobog/sohibul/sohibul6.php

Sejarah Wayang Kulit Betawi

Konon, ketika Pasukan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram menyerang Belanda ke Betawi, salah sebuah rumah di Jakarta menjadi pos peristirahatan tentara Mataram. Di pos itulah seorang tentara Matarm setiap malam bercerita tentang tokoh-tokoh dan peristiwa pewayangan. Kisah-kisah yang diceritakan ternyata banyak disukai penduduk. Berawal dari sinilah kemudian muncul seni wayang kulit Betawi. Salah satu bentuk teater Betawi, yang penting. Ini cerita sejarah wayang kulit Betawi versi Surya Bonang, seorang dalang terkenal di antara sedikit dalang wayang kulit Betawi yang masih tersisa.

Banyak versi-versi sejarah tentang pemunculan wayang kulit Betawi. Kebanyakan dari versi yang ada mengkaitkannya dengan kehadiran pasukan mataram di Betawi. Terlepas dari benar atau tidaknya versi-versi sejarah lahirnya seni pewayangan di Betawi, yang jelas kehadiran wayang kulit Betawi adalah hasil interaksi dengan budaya para pendatang yang berasal dari Jawa. Oleh karena itu, tak heran antara wayang kulit Betawi dengan Wayang Kulit jawa banyak terdapat kesamaan.

“Pada wayang kulit Betawi, pengaruh Budaya Jawa dapat kita lihat pada boneka wayang yang pipih dan terbuat dari kulit kerbau. Tokoh-tokohnya juga mendekat wayang purwa Jawa,” ujar budayawan Prof Dr Umar Kayam. “Selain itu, reporter yang diambil dalam pewayangan Betawi sama dengan wayang Jawa, diambildari Mahabrata dan Ramayana. Perhatikan pula dialog yang dilakukan oleh dalang. Dialog dilakukan dengan Bahasa Melayu Betawi bercampur Jawa dan Sunda,” jelas Kayam lagi dalam Sarasehan Budaya Jakarta yang diadakan 25-27 juli lalu di taman Mini Indonesia Indah.

Serupa Tapi Tak Sama

Serupa tapi tak sama, ungkapan ini rasanya tepat guna menggambarkan perbandingan antara wayang kulit Betawi dan wayang kulit Jawa. Di antara berbagai persamaan ada pula beberapa perbedaan. Kalau saja kita jeli mengamati bentuk boneka wayang, penampilan wayang Betawi lebih kasar dibangdingkan wayang dari Jawa Barat, tengah atau timur. “Ini sesuai dengan sifat orang Betawi. Orang kita’kan kalau ngomong asal nyerocos saja kagak ada yang ditutup-tutupin, apa adanya,” kata Bonang beralasan.

Selain bentuk fisik boneka wayang, perbedaan juga kita temui pada alat musik yang dipakai. “Musik kita mirip gamelan, tapi bukan gamelan, namanya gambang kromong,” kata Bonang.

Alat-alatnya terdiri kendang, gambang, kromong, kenong, rebab, suling, kecrek, dan gong. Kadang-kadang, disertai pula dengan terompet Cina. Menurut catatan Inventarisasi dan Dokumentasi Budaya Betawi yang ditulis Srijono, alat musik pengiring wayang kulit seperti yang saat ini kita jumpai, mulai dikenal tahun 1925.

Uniknya, dalam tiap petunjukan wayang kulit Betawi, ada tiga bahasa yang digunakan. ”Kalau ceritanya tentang orang-orang terhormat ya kita pakai bahasa Sunda atau Jawa. Tapi kalau cerita orang biasa kayak Gareng sama Petruk, nah… kita pakai dah bahasa Betawi klotokan. Itu tuh, Betawi yang tulen banget,” jelas Bonang dengan logat Betawinya yang kental.

Lucunya lagi, boneka wayang kulit Betawi justru didapat dari Jawa Tengah. “Kami beli dari Solo dan Yogya terus dipoles-poles lagi dah”. Cerita Bongan. Impor wayang dari Jawa Tenah ini terjadi, sebab menurut penuturan Bonang, Bahan-bahannya sulit didapat, disamping pembuat wayang kulit Betawi secara khusus memang tak ada.

Jika di Jawa umumnya kesenian wayang kulit berasal, dibina dan dikembangkan oleh pihak keraton, maka wayang kulit Betawi sesuai dengan struktur social dalam masyarakatnya yang tak mengenal bentuk kerajaan secara mantap, maka kesenina ini lebih menonjolkan ciri kerakyatan yang sederhana, polos dan suasana akrab yang timbal balik antara penonton dan dalang. Karenanya, jika kita menyaksikan pertunjukan wayang kulit Betawi, maka yang akan lebih sering kita dengar adalah percakapan dalam bahawa Betawi ‘Klotokan’ menurut istilah dalang Bonang. Atau istilah lain mengatakan Betawi ‘ora’ yaitu Betawi pinggiran.

Wayang Tambun

Ada beberapa pengamat yang menjuluki Wayang Betawi dengan sebutan Wayang Tambun. Istilah itu mereka gunakan berdasarkan sejarah penyebaran kesenian Betawi, yang kini kian langka. Wayang kulit Betawi, merupakan salah satu kesenian tradisional Betawi yang berkembang di daerah pinggiran kota Jakarta, yang saat sekarang dikenal dengan daerah Botabek. Karena wilayah penyebarannya di pinggiran Jakarta, khususnya daerah Tambun, Bekasi, maka Wayang Betawi disebut juga Wayang Tambun.

Wilayah penyebarannya antara lain meliputi Kebayoran Lama, Klender, Tambun. Depok dan Tangerang. Bahkan menurut catatan Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Betawi, beberapa daerah di Serang, Banten terdapt pula kesenian ini. “Di Jakarta, dalang wayang kulit paling banyak ngumpulnya di daerah Jakarta Timur, Kramat Jati, Pasar Rebo dan sekitar Lubang Buaya sana,” kata Bongang.

Perkembangan Wayang Kulit Betawi sempat mandeg dan hampir saja punah dari panggung kesenian tradisional Betwi. Laju modernisasi yang begitu cepat berikut berbagai tawaran hiburan melalui sarana teknogi elektronik jauh lebih menggiurkan kaum muda Betawi. Mereka sebagai pendukung kebudayaannya, justru enggan mempelajari dan menonton wayang kulit. Bahkan, ada seorang mahasiswa yang mangaku putra asli Betawi bertanya, “Apa ada wayang kulit Betawi?” Aneh memang, tapi nyata. Gejala ini diakui sendiri oleh Surya Bonang, dalang asal Jagakarsa. ”Anak muda sekarang mah nggak suka nonton wayang kulit Betawi. Selain itu juga, jadi dalang imbalannya kecil. Sekarang udah lebih lumayan dah, ada perhatian dari pemerintah,” ungkap Bonang. Memang sejak tahun 1978, pemerintah melalui Pemda DKI mulai memperhatikan bentuk kesenian ini. Perhatian itu antara lain dilakukan dengan bentuk festival, seminar, penataran dan juga publikasi melalui layar kaca. Usaha pemerintah ini membawa hasil. Anak-anak muda Betawi mulai memperhtikan dan menyengangi kembali wayang kulit Betawi yang hampir saja tenggelam di antara bentuk-bentuk kesenian modern . Meski Bonang masih mengeluh. “Sekarang udah banyak anak muda mau perhatiin wayang. Tapi, yang benar-benar jadi dalang susah dicari, yang ada sekarang masih mentah,” tutur Bonang. Masalah regenerasi emang kagak gampang.

Mengenang Perjalanan Sembilan Wali lewat Wayang Kulit


http://www.sinarharapan.co.id/berita/0210/08/hib02.html

Dalang Junaidi

SH/Herdjoko
WAYANG WALISANGA – Wayang kulit kini tak lagi hanya mengambil cerita klasik macam Mahabharata dan Ramayana. Yang dilakukan Wayang Walisanga adalah mengangkat cerita dari kisah perjuangan sembilan wali menyampaikan Islam di tanah Jawa.

YOGYAKARTA – Selama beratus tahun di tanah Jawa, cerita Mahabharata atau Ramayana selalu menjadi inspirasi pementasan wayang kulit. Wayang Kulit Walisanga mencoba menerobos kebiasaan tersebut dan memilih kisah-kisah Wali Sanga untuk dipentaskan. Ini merupakan sebuah perenungan dari seorang dalang Junaidi (40) yang juga dosen seni pedalangan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.
Apakah perbedaan mencolok antara wayang kulit biasa dan Wayang Walisanga? Yang pasti, jika dalam wayang kulit biasa, tokoh-tokoh sentral berasal dari keluarga Pendawa dan Kurawa, maka dalam Wayang Walisanga, karakter utamanya adalah para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Agar para penonton tidak merasa dipisahkan terlalu jauh dari budaya wayang kulit biasa, penempatan tokoh-tokoh baik dan jahat pun tetap mengikuti pakem. Yang baik berada di sisi kanan, sementara yang jahat berada di sisi kiri.

Perbedaan yang mencolok hanya ada pada kostum dalang, penabuh gamelan, dan sinden. Ki dalang mengenakan ikat kepala putih dan baju putih, sementara para penabuh gamelan mengenakan peci hitam, berkalung sorban, baju putih dan bersarung. Para sinden pun berjilbab putih dan berbaju putih. Di sisi lain, gamelan yang dipakai didominasi deretan bedug—sebuah alat perkusi ciri khas masjid.
Sarana Dakwah dan Tabligh

Ditemui sehari sebelum pementasan pada acara Pembukaan Festival Walisanga di Gedung Jogja Expo Center, Yogyakarta pada Jumat (27/9) silam; Junaidi menerangkan bahwa Wayang Walisanga itu diadaptasi dari wayang sadat (akronim dari wayang sarana dakwah dan tabligh).
”Dari situlah, wayang itu saya namakan Wayang Walisanga. Ini merupakan sarana untuk ngabekti (berbakti) kepada para Wali,” ujar Junaidi.

Gagasan pembuatan Wayang Walisanga itu baru direalisasikan pada bulan Agustus silam dan pada akhir September lalu merupakan pementasan yang pertama kali. ”Ide pembuatan Wayang Walisanga itu sebenarnya sudah muncul sejak tahun lalu ketika saya mulai mendalang wayang sadat. Saya memang harus bekerja keras sebab harus menggubah gending dan wayangnya,” katanya.
Junaidi memang serius dalam menciptakan wayang itu. Khusus bentuk wayang ia bekerja sama dengan dosen seni rupa. Ia membuat sketsanya, dosen seni rupa itulah yang menerjemahkannya dalam bentuk wayang. Sementara itu, untuk gendingnya ia menggandeng dosen karawitan. Ia yang membuat konsepnya, rekannya itu kemudian yang menyusun gendingnya.

Junaidi mengaku bahwa gending di Wayang Walisanga pada dasarnya tetap gending Jawa. ”Tapi nama-namanya disesuaikan dengan nama-nama Islam. Misalnya, tutur shalat dari gending ladrang. Kemudian patet sulukan takasur, gending nawaitu berupa ketuk loro kerep, ketawang dari gending peleng. Khusus untuk tokoh-tokoh antagonis seperti berandal dan begal, saya membuat gending ladrang sorak yang meriah. Pada intinya untuk menunjukkan bahwa mereka itu orang-orang kafir,” tuturnya.
Soal penggunaan bahasa, Junaidi masih memakai bahasa Jawa. Namun ia mengaku berusaha mementaskan wayangnya dalam bahasa Indonesia. Sementara jenis-jenis langgam pun digubah menjadi suara Islami. Misalnya, dalam langgam salam ada kalimat assalamualaikum; kemudian pada langgam Istighfar ada kalimat ”astaghfirullahal’adziim”. Pendek kata nuansanya memang nuansa Islam. Bahkan jika tokoh sunan muncul, dia akan mengucap salam, yang kemudian dijawab serempak oleh para penabuh gamelan dengan ”a’alaikum salaam.”

Dalang muda ini pun tidak kepalang tanggung. Agar warna Islami benar-benar muncul di jagad pakeliran, maka kelir warna hitam-putih itu nantinya akan diganti dengan warna hijau atau biru. Adakah kesulitan dalam memodifikasi cerita Wayang Walisanga?
”Ya… Yang paling sulit adalah bagaimana mengadaptasi ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an ke gamelan. Itu perlu dilakukan sedemikian agar kebenaran lafalnya tetap terjaga,” gumam Junaidi lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta Jurusan Pedalangan ini.

Baru 20 Wayang

Dosen ini menceritakan bahwa pembuatan satu wayang rata-rata menghabiskan dana Rp 400 ribu. Sampai kini baru Junaidi baru menyelesaikan 20-an wayang dari rencana keseluruhan sekitar 200-an wayang.

”Saya akan menyelesaikan jumlah itu jika ada sponsor. Termasuk untuk latihan dan sebagainya. Setidaknya hingga kini saya sudah menghabiskan sekitar Rp 30 juta. Untuk pentas kali ini saya dibayar Rp 20 juta untuk dua kali pentas yang berdurasi 20 menit dan tiga jam,” katanya. Soal durasi pementasan, Wayang Walisanga sangat luwes. Bisa satu jam, bisa tiga jam, tetapi bisa juga semalam suntuk. Tergantung permintaan.

Junaidi semula adalah dalang wayang purwa–wayang kulit biasa. Jika kemudian ia beralih mendalang Wayang Walisanga karena ada semangat dakwah yang mendasarinya.

Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam wayangnya tentu saja meliputi para wali itu sendiri serta para santri yang berkaitan dengan cerita itu. ”Tapi saya juga juga menambahan sejumlah tokoh baru. Untuk tokoh punakawan, misalnya, saya punya tokoh yang saya beri nama Gadung (hijau), Wulung (hitam), Seto (putih), dan Rekto (merah). Nama-nama itu saya gunakan sekaligus untuk menggambarkan empat nafsu” ungkapnya.

Empat punakawan itu tentu saja merupakan modifikasi dari punakawan wayang purwa: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Sedangkan untuk pengganti tokoh Togog dan Mbilung, maka dibuatlah si Dadu dan si Wungu. ”Kedua warna ini saya ambil untuk menggambarkan sifat kedua tokoh yang memang tidak jelas lagi warnanya, tak punya kepribadian, sehingga mengikuti tokoh-tokoh jahat dalam cerita ini. Warna dadu dan ungu itu kan warna yg tidak jelas, campuran beberapa warna lain,” tuturnya.
Tokoh-tokoh berandal diberi nama seperti Waru Doyong, Trembesi, Joko Gimbal, Joko Rangsang, dan Joko Rambut. Dengan adanya tokoh-tokoh tambahan itu maka cerita di wayang Walisanga makin hidup dan banyak konflik yang tercipta. (SH/herdjoko)

Balada Kunti dan Karna


Kokom tersedu. Ia membayangkan dirinya jadi Dewi Kunti, bunda para Pandawa yang tak diakui ibu oleh Karna, yang juga putra kandungnya.

“Bagaimanakah sikapku ketika menghadapi situasi seperti yang dialami Kunti?” Kokom masih tersedu sambil kepalanya rebahan di dada Juha pada sebuah Minggu sore.

Ada rasa sesal di hati Juha. Kenapakah ia harus menceritakan kisah Adipati Karna sehabis nonton wayang kulit melalui televisi dengan dalang Ki Manteb Sudarsono. Bukankah itu membuat sedih hati bininya?

Entahlah, Juha merasa lakon itu sedemikian menggetarkan nuraninya, karenanya wajib dibagi untuk Kokom. Apalagi interpretasi Pak Manteb yang mendudukkan tokoh Karna sebagai satria luhur yang punya sikap, yang sekaligus menggugurkan kesimpulan kebanyakan penonton wayang yang mengangap Karna adalah tokoh oportunis yang cuma mengejar pangkat belaka.

Dalang asal Karang Pandan, Klaten, Jateng, itu memang tak sekedar memainkan wayang. Ia mencoba menawarkan wacana baru tentang sebuah lakon pewayangan yang selama ini bergerak linear tentang tokoh/kelompok jahat-baik yang diwakili oleh Kurawa-Pandawa.

Maka benarlah kata para penggemar wayang, Ki Manteb memang mewarisi “greget” dari dalang kharismatik asal Semarang, almarhum Ki Nartosabdho. Ki Manteb tak hanya memberi “kehidupan” pada wayang-wayang yang dimainkannya, tapi juga melengkapinya dengan situasi batin tiap tokoh wayang yang dimainkannya.

Simaklah percakapan Karna dan Kresna sebelum perang Baratayudha pecah di bawah ini:

Kresna: Saya minta Anda kembali ke Pandawa, berkumpul kembali dengan saudara-saudara Pandawa lainnya.

Karna: Tidak. Ini sudah pilihanku. Toh tidak ada bedanya, jika kelak aku mati di perang Baratayudha, Pandawa tetap lima. Begitu juga sebaliknya jika Harjuna yang mati, Pandawa tetap lima.

Kresna: Kenapa harus saling membunuh, padahal kamu tahu Pandawa itu adalah saudara-saudaramu sendiri? Kamu, Puntadewa, Bima dan Harjuna adalah putra-putra Kunti!

Karna: Ini bukan persoalan bunuh membunuh. Ini persoalan tugas suci yang harus diemban oleh setiap ksatria untuk membuktikan bahwa pilihannya adalah benar.

Kresna: Bagaimana engkau bisa mengatakan pilihanmu adalah benar, sementara engkau membela angkara murka?

Karna: Jangan cuma melihat kulit, kakanda.

Kresna: Maksudmu?

Karna: Kanda tahu? Tiap orang memiliki cara untuk menyampaikan kebenaran. Pandita menyampaikan kebenaran lewat nasihat, sedang ksatria seperti saya ya lewat perang. Ah, kakanda pasti sudah tahu maksudku.

(Kresna diam. Sebagai titisan Dewa Wisnu, Kresna memang diberi kelebihan mengetahui sesuatu yang akan terjadi).

Karna: Begini, kakanda. Berkali-kali para pandita menasihati raja Hastina, Duryudana, untuk berbuat baik. Tapi tetap saja ia masih bersifat angkara murka. Maka satu-satunya jalan bagiku adalah mendorong dirinya untuk berani perang melawan Pandawa dalam Baratayudha.

Kresna: Kenapa harus melalui peperangan?

Karna: Karena hanya melalui peperanganlah angkara murka Prabu Duryudana akan punah sampai ke akar-akarnya!

Ya, ya, cerita tentang Prabu Karna oleh Ki Manteb tak seperti yang diketahui oleh Juha selama ini melalui dalang-dalang konvensional yang cuma menggambarkan sosok Karna sebagai tokoh matre yang tega melupakan saudara.

Melalui cerita Ki Manteb, Juha jadi tahu betapa Karna siap jadi tumbal bagi kejayaan saudara-saudaranya keluarga Pandawa. Satu sisi ia ingin membasmi sifat angkara murka keluarga Kurawa, sisi lainnya ia siap mati oleh panah Harjuna. Padahal, jika mau, tak ada jenis pusaka apapun yang sanggup menandingi senjata Kunta Wijaya Danu milik Prabu Karna.

“Tapi Karna kok kejem banget, padahal Bu Kunti kan udah minta maaf ya Bang? Padahal Kunti bertahun-tahun telah mencarinya. Eh, begitu ketemu malah nggak mau mengakui Kunti sebagai ibunya,” kata Kokom lirih.

“Kejam mana dengan Kunti yang tega membuang Karna ke sungai ketika masih bayi?”

“Ah yang bener, Bang…”

“Mana gue tahu, orang ini juga cuma cerita.”

“Ganjen juga tuh si Kunti.”

“Emang.”

“Abang tahu ceritanya si Kunti itu?”

“Sun dulu, dong.”

“Huh, sama ganjennya!”

Setelah sebuah ciuman mendarat dengan cepat di pipi, Juha pun bercerita tentang tokoh Kunti.

Dewi Kunti, kata Juha, adalah seorang anak raja bernama Kuntiboja. Meski sudah dikaruniai kecantikan, Kunti rupanya masih tertarik dengan ilmu pengasihan agar disuka banyak orang.

Suatu hari Kunti iseng kepingin mecoba ilmunya. Dengan busana yang rada menantang, Kunti berjemur di tepi kolam kaputren. Tanpa disadari oleh Kunti, mendadak ia disergap oleh sinar yang menerangi sekujur tubuhnya.

Setelah kejadian itu, Kunti pun hamil. Sang ayah kebingungan begitu mendapatkan anaknya hamil tanpa suami. Segera sang raja mengadakan pertemuan darurat yang intinya untuk merahasiakan kehamilan Dewi Kunti.

Untunglah kemudian ada orang pintar yang memberitahu sang raja, bahwa Kunti hamil akibat perbuatan Dewa Surya (dewa matahari) yang naik libidonya saat menyaksikan Kunti berjemur di tepi kolam.

Untungnya juga, si orang pintar yang berhasil melacak jejak durjana pemangsa “mahkota” Kunti, mampu mengeluarkan bayi Kunti tanpa melewati rahim untuk menjaga keperawanan sang putri.

“Trus lewat mana, Bang?”

“Telinga!”

“Hah?”

“Makanya si bayi akhirnya diberi nama Karna, artinya telinga.”

Agar kehormatan keluarga kerajaan tetap terjaga, maka bayi Karna dibuang ke sungai, lanjut Juha. Untunglah seorang kusir (pengemudi) kereta kerajaan yang bernama Adirata menemukan Karna.

“Tapi bener tuh Bang, Karna lahir lewat kuping?”

“Namanya juga cerita.”

“Ih, irasional banget.”

“Kagak usah nggaya lo, Kom. Pakai istilah irasional segala, mending lo tahu artinya.”

“Pan lagi ramai istilah itu di koran-koran. Emang apaan artinya, Bang?”

“Kalau ada awalannya i, berarti nggak. Irasional, berarti nggak rasional, nggak masuk akal.”

“Kalau ilegal?”

“Nggak legal, nggak resmi.”

“Kalau… i..kasihan deh lu?”

“Au ah gelap.”

jodhi@kompas.com

Penulis: jodhi yudono

http://64.203.71.11/ver1/hiburan/0608/19/094450.htm