Wayang Kulit:Eksistensi Perajin Antargenerasi


Rabu, 23 Mei 2007

Selain identik dengan budaya Jawa, wayang kulit kini juga sudah menjadi budaya nasional dan merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Tidak hanya tampil dalam pagelaran, wayang kulit kini juga banyak digunakan sebagai pajangan dan produk kerajinan tangan lainnya.

Memang wayang kulit selama ini identik dengan tokoh-tokoh pewayangan, seperti Gatot Kaca, Semar beserta anak-anaknya atau Arjuna. Wayang kulit selalu dikonotasikan barang-barang budaya yang selalu digunakan dalam pagelaran semalam suntuk dengan lakonnya masing-masing.

Kini, wayang kulit yang merupakan produk berbahan baku kulit binatang seperti sapi, kerbau, kambing, dan lainnya itu banyak diproduksi sebagai produk yang dikategorikan sebagai suvenir. Kini, tokoh-tokoh wayang hadir pada produk lukisan, topeng, kap lampu, pembatas buku, gantungan kunci, kipas, dan aneka suvenir lainnya.

Salah satu yang hingga kini masih menggeluti usaha membuat produk wayang kulit serta produk kerajinan dan suvenir lainnya itu adalah Sugeng Prayogo. Pria asal Bantul, Yogyakarta ini mengaku sudah memproduksi wayang kulit serta produk aneka kerajinan/souvenir sejak tahun 2000.

Sosok muda dan energik ini membuat wayang kulit dan produk kerajinan wayang lainnya di rumahnya di wilayah Timbul Harjo Sewon, Bantul, Yogyakarta. Sugeng memiliki 5 karyawan yang membantu dirinya memproduksi dan memasarkan wayang kulit serta produk kerajinan wayang lainnya itu. Saat ini, Sugeng memproduksi sekitar 20 jenis produk wayang kulit dan lainnya dengan volume produksi mencapai 10.000 unit produk per bulan.

“Saya ini sudah mengenal seni wayang kulit sejak umur 6 tahun. Kakek dan Bapak saya dalang, sehingga saya sudah akrab dengan tokoh-tokoh wayang dan sering mengikuti pagelaran sejak kecil. Saya ini sudah generasi ketiga,” kata Sugeng ketika ditemui Suara Karya saat mengikuti pameran di Plasa Industri Departemen Perindustrian, Jakarta, kemarin.

Selain memliki tempat produksi di kediamannya, Sugeng kini juga sudah memiliki gerai seni (artshop) di Malioboro Yogyakarta dan di Batam sebagai media untuk mempromosikan wayang kulit dan produk kerajinan/souvenir lain dari kulit. Selain itu, Sugeng juga secara intensif memasok ke toko-toko atau galeri seni yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Harga produk-produk wayang kulit dan turunannya produksi Sugeng dan karyawnnya mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 500.000 per unit. Pendapatan kotor usaha yang bernama Wahyu Art ini mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per bulan.

“Saya memproduksi wayang kulit dan produk souvenir berbasis wayang dengan tingkat kerumitan cukup tinggi dan lebih halus. Untuk satu produk wayang kulit dengan tokoh pewayangan atau wayang gunungan bisa memakan waktu satu minggu. Kualitas dan tingkat seninya selalu saya jaga,” tutur Sugeng.

Mungkin karena kualitas dan kehalusan tersebut, hingga saat ini para pembeli maupun kolektor masih memburu wayang kulit dan produk kerajinan berbasis wayang kulit lain yang dibuat Sugeng. Hingga saat ini, Sugeng juga masih mengerjakan produk wayang kulit pesanan para dalang yang masih eksis saat ini, maupun dari sanggar-sanggar seni.

Meski demikian, Sugeng mengaku, usaha produksi wayang kulit dan produk kerjainan turunannya itu bukanlah tanpa masalah. Saat ini, dua hal yang masih menjadi penghambat pengembangan usahanya, yakni masalah pemasaran dan mahalnya bahan baku.

Saat ini harga kulit kerbau atau sapi sudah mencapai Rp 50.000 per kilogram atau untuk kulit satu ekor bisa mencapai Rp 400.000 hingga Rp 600.000. “Untuk produk saya sebenarnya yang paling ideal kulit kerbau. tapi kita tahu sendiri jumlah kerbau sendiri sudah semakin berkurang. Sementara kulit sapi banyak peminatnya,” ujar Sugeng.

Sementara, masalah minimnya promosi dan keikutsertaan dalam pameran membuat produk Sugeng tidak banyak diketahui masyarakat. Masyarakat hanya tahu kalau mengunjungi Yogyakarta, Batam, atau Jakarta. Untuk itu, Sugeng sangat berharap bantuan pemerintah daerah dan pusat agar tetap bisa ikut pameran.

“Saya ingin terus ikut pameran, tapi memang tidak mudah. Ini karena banyak produsen dan pengusaha yang sampai mengantre untuk ikut pameran. Jadinya promosi yang saya lakukan sangat terbatas,” kata Sugeng. (Andrian Novery)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=173616

Museum Wayang Unik dengan Koleksi Lengkap


Minggu, 18 Juni 2006

Meskipun bangunan Museum Wayang warisan VOC Belanda ini sudah berusia puluhan tahun, namun penampilannya tetap anggun dan kokoh. Gedung berlantai dua yang berdiri di atas tanah seluas 935,25 m2 di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Barat, ini belum pernah direnovasi. Pasalnya, gedung bersejarah ini masuk dalam daftar di antara 136 cagar budaya yang dilindungi, sehingga harus dipelihara keasliannya dengan perawatan intensif.

Dalam waktu dekat, gedung ini akan diperluas. Tetapi bukan dengan membangun sarana baru. Apalagi, tak ada lahan kosong di sisi kiri dan kanan bangunan karena saling berdempetan dengan bangunan lain. Yang jelas, bangunan di samping kiri gedung sudah dihibahkan oleh pengusaha Probosutedjo. Sekarang ini masih dalam tahap pembenahan untuk membobol dinding sebagai pintu tembus.

Nah, dengan adanya gedung baru yang juga merupakan bangunan tua ini diharapkan mampu menambah gairah aktivitas Museum Wayang yang kini gencar melakukan promosi menarik agar dibanjiri pengunjung. “Selama ini pengunjung museum hampir sebagian besar warga asing dari berbagai negara. Di antara mereka malah berstatus pelajar sekolah asing di Indonesia,” kata Kepala Museum Wayang Im Rini Hariyani SS di Jakarta, baru-baru ini.

Berbagai terobosan telah dilakukan untuk menarik minat pengunjung museum, khususnya wisatawan domestik dan asing. Antara lain, dengan menggelar kegiatan Pameran Wayang Revolusi, karya wayang sumbangan Walikota Rotterdam tahun 2005. Wayang kulit yang menggambarkan sosok berbagai profesi, tingkat sosial, jenis kelamin dan etnis itu, konon, dibeli dari seniman Solo, Jawa Tengah Raden Mas Sajid tahun 1960-an. Kemudian akan digelar pula pertunjukan wayang kulit menyambut Hari Jadi Kota Jakarta dengan materi Wayang Revolusi di arena terbuka Plaza Museum Sejarah atau Taman Fatahillah.

Secara berkala pihak museum juga mengagendakan kegiatan mengundang siswa-siswi sekolah untuk menyaksikan peragaan membuat wayang. Kemudian diselenggarakan pula penyuluhan tentang masalah permuseuman ke SD-SD di wilayah Jakarta, pergelaran Wayang Golek Lenong dan wayang lainnya. “Agenda untuk menarik minat pengunjung terus dilakukan meski kadang kurang promosi,” kata Rini pula.

Koleksi Unik

Museum Wayang memiliki struktur bangunan sangat kokoh dan kuno dengan daya persona tersendiri. Lokasi museum ini cukup strategis, tepat di depan Taman Fatahillah lengkap dengan meriam si Jagur-nya. Tak jauh dari tempat itu berdiri bangunan Museum Keramik dan Balai Seni Rupa.

Koleksi karya wayang di Museum Wayang cukup banyak. Dari catatan Suara Karya hingga April 2001 terdapat sebanyak 5.147 koleksi. Jumlah ini, konon, terus bertambah hingga Juni 2006 tercatat sekitar 5.500 koleksi. Wayang-wayang ini berasal dari berbagai tempat di Tanah Air. Bahkan, di antaranya berasal dari mancanegara yang koleksinya cukup lengkap, unik dan memiliki nilai seni tinggi (artistik).

Koleksi Museum Wayang diperoleh dengan beraneka ragam. Ada yang merupakan titipan, hibah, sumbangan, hadiah hingga sengaja dibeli dari kolektor. Di antara koleksi yang termasuk langka adalah Wayang Katakalis dari Kerala, India Selatan. Wayang ini terbuat dari bahan gips. Kemudian ada pula Wayang Golek Sunda gaya Bogor dengan tokoh Yudistira, Nakula dan Sadewa, di samping tokoh Arjuna, Bima, Kresna. Satu lagi koleksi cukup unik adalah Wayang Kulit Gunungan Purwa dari Solo.

Koleksi lainnya berupa seperangkat gamelan Sunda. Kemudian berbagai jenis wayang kulit asal Kedu, Tejokusuman, Ngaben, Surakarta, Banyumas, dan Cirebon. Selain itu masih ada koleksi Bedod, Sadd Madya, Krucil, Catur, Sasak, Kaper, Wahyu, Kijang Kencana, Ukur, Suluh, Wayang Beber, Wayang Suket, Wayang Klithik, Wayang Beber, dam Wayang Revolusi.

Sejumlah koleksi Wayang Golek, antara lain Catur dan Cepak, di samping wayang golek asal Cirebon, Kebumen, Pekalongan, Bandung, Pakuan, dan Bogor. Ada lagi Wayang Golek Gundala-gundal dan Si Gale-Gale dari Tapanuli, Sumatera Utara. Wayang-wayang ini dibuat dari bahan kayu dan kain (1964). Ada juga koleksi Wayang Kaca, Wayang Seng, Wayang Suket, dan beberapa boneka luar negeri seperti Boneka Punch dan Boneka Judy dari Inggris, serta lukisan-lukisan wayang lainnya.

Salah satu koleksi yang cukup langka adalah Wayang Intan dari Yogyakarta. Wayang-wayang yang ditaburi intan imitasi ini tergolong koleksi tertua, diperkirakan dibuat sekitar abad 17 atau 18.

Konon, wayang ini merupakan pesanan dari seorang Tionghoa. Saudagar kaya ini ingin menghibur karyawan pabrik miliknya di Muntilan, Jawa Tengah dengan pergelaran wayang kulit. Agar menarik, wayang itu ditaburi intan sehingga berkilauan ketika dimainkan. Saat pergelaran wayang intan, konon, sengaja dibentangkan karpet merah agar bisa terlihat kalau intannya jatuh.

Selain aneka koleksi wayang, pengunjung Museum Wayang bisa memperoleh informasi tentang tokoh-tokoh dalam cerita wayang dan karakter masing-masing dari para pemandu ahli. Sebagai contoh, untuk mengetahui tokoh Gatut Kaca, Hanoman, Arjuna, Bima, Kresna dan sepak terjang mereka, pengunjung bisa bertanya kepada pemandu yang siap menjelaskannya. Tak ketinggalan pula aneka boneka tokoh-tokoh cerita serial kartun anak-anak di TVRI, seperti Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, Melani, dan tokoh favorit lainnya yang sangat terkenal tahun 1980-an.

Prasasti

Selain koleksi unik dan langka, Museum Wayang menyimpan sejumlah prasasti yang terpampang di dinding lantai bawah bagian belakang. “Inilah keunikan dan daya tarik Museum Wayang. Ada prasasti serta koleksi terlengkap dan langka,” ujar Rini.

Konon, sebelum ada museum pernah dibangun gereja bernama De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Belanda Lama) sekitar 1640 hingga bertahan selama 93 tahun atau 1732. Kemudian di lokasi yang sama dibangun gereja baru dan berganti nama De Nieuw Hollandsche Krerk (Gereja Belanda Baru) hingga tahun 1808. Halaman samping gereja dimanfaatkan sebagai makam, antara lain makam gubernur jenderal, pejabat tinggi VOC serta keluarga mereka. Kemudian makam itu dipindahkan ke taman makam khusus di Jalan Tanah Abang I, Jakarta, yang kini menjadi Museum Taman Prasasti.

Hingga kini masih tersisa sejumlah prasasti dengan ukiran nama-nama orang Belanda yang pernah dimakamkan di sana. Prasasti ini cukup menarik karena memiliki aneka model, gaya dan ukuran serta ditata rapi pada dinding tembok di taman bagian tengah bangunan. Antara lain, nama Guberner Jenderal VOC, pendiri kota Batavia, Jan Pieterszoon Coen yang meninggal 1692. Juga terdapat prasasti Gubernur Jenderal VOC Gustaaff Willem Baron van Imhoff, pendiri Toko Merah dan Gubernur Jenderal Adriaan Valckkenier (1751). Pada masa pemerintahan Valckkenier terjadi peristiwa pembantaian ribuan warga Tionghoa di Batavia (1740).

Setelah terjadi gempa bumi hebat, bangunan bekas gereja itu dirobohkan oleh Daendels. Bangunan yang ada sekarang dibangun tahun 1912, kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda dijual kepada perusahaan Geo Wehry & Co yang dijadikan kantor hingga tahun 1934. Kemudian tahun 1936, gedung ini dijadikan monumen setelah dibeli oleh Bataviaasch Genootschap van Kusten en Wetenschappen, sebuah lembaga Ilmu Pengetahuan, Seni dan Budaya di Batavia. Lembaga milik orang Belanda ini akhirnya menyerahkan gedung ini kepada Stichting Oud Batavia yang kemudian dijadikan Museum “De Oude Bataviaasche Museum” atau Museum Batavia Lama. Secara resmi museum tersebut dibuka pada 22 Desember 1922 oleh Gubernur Hindia Belanda terakhir di Indonesia, Jonkheer Meester Aldius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborg Stachouwer. Di zaman Jepang, museum ini ditelantarkan dan baru tahun 1957 diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Pada 17 September 1962, Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Indonesia menyerahkan gedung ini kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan ditetapkan sebagai Museum Jakarta sebelum diserahkan kepada Pemda DKI. Pada 23 Juni 1968, Pemda DKI kemudian menyerahkan pengelolaan gedung ini kepada Dinas Museum dan Sejarah. Dalam kondisi kosong, gedung dipugar dan resmi dijadikan Museum Wayang oleh Gubernur DKI Ali Sadikin, 13 Agustus 1975. (Susianna)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=146935

Mayapada Indah Wayang Golek


Sejarah Ringkas……

Seni rupa sandiwara boneka berkayu atau lebih lazim jenengan – namanya Wayang Golek, tindak-tanduknya memang kelihatan seperti lagi ngagulitik atau menggolek, asal muasalnya di dataran tinggi Priangan Jawa Barat yang kerajaan buddha Pajajaran masih misésa atau menguasai pada abad XV M., tatkala itu,  Sunan Giri, salah satu dari sembilan Wali Songo yang mendatangi pulau Jawa dari perbagai negeri ufuk timur seperti Persia, Turki, Mesir dan Cina untuk beruluk salam sambil mencanangkan kawibawan firman Allah, dipercaya memperkenalkan seni ini kepada penduduk setempat.

golek1

 

Itu lambat-laun terjungkar-jangkir  sepanjang daerah Priangan, bergabung sama adat istiadat pra-Islam dan budaya khayalak ramai.  Pada hakekatnya, ini dilantarankan aspeknya yang sudah merecup dalam benak masyarakat awam, tasmat menggalang faham-faham hikmah filsafat, akhlak atau malahan bermuatan kasad propaganda.   Bahwasanya, setiap babak pementasan adalah bidang permata atau ibarat tematis filsafat tertentu, dengan menyirat makna tersendiri bagi penilik yang berlatar belakang undak-usuk atau tingkat pendidikan berbeda-beda.  Berisikan serancaman cerita murni adapun pertikaian kebajikan melawan kedurjanaan dan segala nista kepasikan yang akhirnya cuang-caing.  Tidak pelak lagi, bukannya menyerupai selangkas buah papaya bahwa Seni Wayang Golek telah menghaturkan sumbangsih yang cukup berarti dalam hal mencagarkan kesinabungan warisan khazanah budaya tamaddun sunda  zaman pra-islam.

Simbolisme para Tokoh

Haraplah maklum tentang adanya  syarat mutalak bahwa seberinda pertunjukan Wayang Golek berdasarkan bentuk dan kode-kode warna yang bertujuan menggambarkan ciri masing-masing tokoh dan fihak dikotomis.

Continue reading Mayapada Indah Wayang Golek

Watak Cepot Untuk Bangsa


Oleh SUKRON ABDILLAH

KONON pertunjukan wayang bermula dari kesadaran manusia bahwa dirinya memiliki bayangan sebagai anugerah dari Tuhan. Maka, pertunjukan ini digunakan untuk menyertai aneka macam aktus yang berdimensi magis-religius. Dengan pelbagai kreasi, pergelaran wayang lambat laun bertransformasi sehingga melahirkan aneka seni pertunjukan sesuai dengan kekhasan daerah.

Di Tatar Sunda, umpamanya, kita pasti akrab dengan seni pertunjukan wayang golek, wayang wong Cirebon atau Priangan, wayang catur, wayang cepak, dan sebagainya. Dari yang tradisional sampai kontemporer, seni pertunjukan wayang golek serasa mengutak-atik perasaan untuk terus begadang menikmati kejenakaan panakawan, seperti Cepot, Dewala, Udel (Gareng), dan Semar.

Karena intensitas pertunjukan seni wayang agak berkurang, televisi menjadi medium untuk mengobati kerinduan saya pada seni budaya hibrid (antara Jawa dan Sunda) ini. Malam Minggu nanti saya akan memelototi televisi karena ada acara bertajuk Ngedate Sareng Cepot. Bahkan, pada bulan puasa ada acara Asep Show yang memadukan unsur modernitas di satu sisi dan tradisionalitas di sisi lain. Maka, “glokalisme” adalah istilah tepat untuk memasukkan gaya ngadalang Asep Sunandar Sunarya. Ia tidak harus terpaku pada pakem ketika menggelar pertunjukan wayang golek.

Kepiawaian dan keberaniannya mendobrak -lebih tepatnya merekonstruksi- pakem atau aturan pewayangan tradisional patut kita acungi jempol. Dengan memasukkan nilai-nilai modernitas, ia (melalui Giri Harja) berupaya mengkreasi alur cerita, setting, dan jenis wayang kayu sembari menyertakan manusia ketika pertunjukan berlangsung di televisi. Ini mengindikasikan bahwa wayang golek Sunda tidak antiperubahan. Seni pertunjukan ini terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar tetap dicintai warganya.

Maka, ungkapan miindung ka waktu, mibapa ka zaman adalah justifikasi yang tidak mengada-ada untuk menyebut epistemologi praksis gaya ngadalang Asep Sunandar Sunarya.

Kenapa harus Cepot?

LANTAS, mengapa dalam seni pertunjukan wayang golek Sunda tokoh yang lebih populer di telinga saya dan mungkin Anda berasal dari kalangan panakawan, seperti Astrajingga atau Cepot? Ada apa dengan Cepot? Unikkah pribadi si Cepot sehingga masyarakat Sunda dan non-Sunda banyak menyukainya? Padahal, wayang purwa sebagai nenek moyangnya diambil dari epos Mahabaratha dan Ramayana. Seharusnya yang lebih populer adalah tokoh dari kalangan ksatria dan raja.

Akan tetapi, hal itu tidak terjadi dalam pergelaran wayang golek Sunda. Si Cepot dan panakawan lainnya masih menjadi primadona dalam setiap pertunjukan. Tak percaya? Coba bayangkan jika cerita teater boneka kayu (puppet theatre) ini tidak menghadirkan mereka, pasti tidak nikmat ditonton. Maka, tak berlebihan jika pergelaran wayang golek penting diguar, terutama tokoh pewayangan khas urang Sunda, yakni si Cepot atau Astrajingga-ada yang menyebutnya Sastrajingga.

Saya pikir keunikan dan kekhasan pribadi si Cepot bisa dilihat dari kata-kata dan tingkah polahnya yang humoris dan memuat nilai-nilai filsafat hidup, semacam world view yang dipegang warga Sunda. Menurut pendapat Ajip Rosidi (1984), si Cepot memiliki watak khas, yakni sering menyatakan sanggup, sombong, mau menang sendiri, cunihin, culametan, tetapi ia berani membela kebenaran, setia, dan banyak akal.

Karakter kepribadiannya yang lain ialah humoris dan sering merelatifkan kehidupan dunia. Karena itu, si Cepot tertancap kuat dalam ingatan kolektif urang Sunda sehingga mengalahkan popularitas Arjuna dan Gatotkaca. Ia bisa membawa penikmat pertunjukan wayang golek merehatkan kepenatan hidup dengan lawakan-lawakannya. Sesuai dengan bahasa agama, kehidupan duniawi adalah permainan (laibun) dan bahan tertawaan (lahwun).

Ketika si Cepot tidak tampil dalam pergelaran wayang golek, pertunjukan akan terasa hambar dan serasa tidak komplit bagai sayur tanpa garam. Tak mengherankan jika si Cepot menjadi tokoh favorit pelbagai kalangan. Tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat menyenangi sepak terjang urang Sunda di kehidupan yang dihadirkan secara representatif oleh si Cepot.

Menafsir Pribadi

MENAFSIR pribadi si Cepot guna menciptakan kekuatan bangsa, yang penting dimiliki di zaman kenihilan etika-moral ini, adalah keniscayaan, apalagi dengan kondisi sosial ekonomi yang karut-marut, meranggasnya perilaku jahat dan korup, serta membiaknya ketidakpedulian masyarakat modern pada orang miskin. Boleh jadi si Cepot adalah obat mujarab untuk mengobati perilaku patologis pejabat secara cerdas, asyik, dan menggelitik. Sebab, irama suara sumbang rakyat jarang didengar dan bahkan sering kali ditertawakan pejabat, bukan malah ditanggulangi dan diselesaikan.

Si Cepot ialah representasi rakyat jelata yang kebetulan dekat dengan raja dan ksatria, putra cikal (pertama) Ki Semar yang bertugas memberi bantuan kepada kaum elite pewayangan guna menghadapi pelbagai persoalan yang mengimpit Astinapura. Bukti kesetiaan si Cepot pada negaranya bisa dilihat dari pertarungan mati-matian dengan buta hejo, antek Kurawa.

Secara kontekstual Kurawa bisa diartikan sebagai negara adidaya Amerika Serikat yang kerap melakukan intervensi dan mengganggu stabilitas nasional. Uniknya lagi, untuk konteks kekinian, yang banyak melakukan resistensi adalah kalangan rakyat. Para pejabat, entah karena ada kepentingan, diam seribu bahasa ketika pelbagai kebutuhan rakyat harus diimpor dari negara tetangga kendati media pemenuh kebutuhan itu tersedia di negeri sendiri.

Di dalam pertunjukan wayang golek Sunda, antara raja, ksatria, dan rakyat jelata (panakawan) bersatu melawan rongrongan kaum elite Kurawa. Sementara di negara kita, antara rakyat dan pejabat tidak ada kesejalanan visi dan misi, yang berakibat pada munculnya ketidakpercayaan. Demokrasi juga tidak meruang dan mewaktu di negeri ini. Tentunya ini berbeda dengan cerita di alam pewayangan.

Semoga saja wayang golek, sebagai representasi dari perlawanan lokal masyarakat Sunda terhadap nilai-nilai yang meminggirkan jati diri bangsa, dapat difungsikan sebagai medium pembentuk karakter bangsa. Alhasil, bangsa ini dan khususnya warga di Jawa Barat mampu menentukan arah perjalanannya pada masa mendatang. Untuk sekadar proses penyadaran kolektif, mungkin perlu ada acara “debat terbuka” antara pejabat dan si Cepot.

Sumber: Kompas Jabar, Sabtu, 28 Juli 2007.

Wayang Cepak Cirebon


Asal-usul wayang cepak di Cirebon bermula ketika Élang Maganggong, putra Ki Gendeng Slingsingan dari daerah Talaga, berguru agama Islam kepada Suta Jaya Kemit, seorang upas (sama dengan satpam sekarang) di Gebang yang pandai mendalang. Élang Maganggong di kemudian hari menurunkan ilmunya kepada Singgih dan keturunan-keturunan Singgih yang berkedudukan di Desa Sumber, Kecamatan Babakan. Peristiwa inilah yang membuat wayang cepak menyebar ke beberapa wilayah Cirebon bagian Timur seperti Waled, Ciledug, Losari dan Karang Sembung, serta Cirebon bagian Barat yang meliputi daerah Kapetakan dan Arjawinangun.

Wayang ini terbuat dari kayu, yang ujungnya tidak runcing (cepak = bhs Sunda / papak = bhs Jawa). Itulah sebabnya maka wayang ini disebut wayang cepak atau wayang papak. Dilihat dari bentuknya, wayang cepak diperkirakan merupakan pengembangan dari wayang kulit, wayang golek atau wayang menak yang berpusat di daerah Cirebon. Wayang cepak biasanya membawakan lakon-lakon Menak, Panji, cerita-cerita babad, legenda dan mitos. Tetapi, di daerah Cirebon sendiri, wayang cepak lebih banyak melakonkan babad Cirebon, juga babad Mekah dan Pamanukan yang disampaikan dengan bahasa Jawa Cirebon.

Pertunjukan wayang cepak Cirebon dewasa ini kurang mendapat sambutan. Pertunjukannya hanya terbatas pada upacara adat seperti Ngunjung Buyut (nadran, ziarah), acara kaul (nazar) dan ruwatan (ngaruwat = melakukan ritus inisiasi), yaitu menjauhkan marabahaya dari diri sukerta (orang yang diruwat). Dan orang yang diruwat ini biasanya berupa: wunggal (anak tunggal), nanggung bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia) atau suramba (empat orang putra), surambi (empat orang putri), pandawa (lima putra), pandawi (lima putri), talaga tanggal kausak (seorang putra diapit dua orang putri), dan lain sebagainya.

Dalam pertunjukannya di masyarakat, wayang cepak Cirebon memiliki struktur yang baku. Adapun susunan adegan wayang cepak Cirebon secara umum sebagai berikut : (1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer / kawit, murwa, nyandra, suluk / kakawen dan biantara; (2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan; (3) Nagara sejen; (4) Patepah; (5) Perang gagal; (6) Panakawan / Goro-goro; (7) Perang kembang; (8) Perang Raket; (9) Tutug.

Waditra yang mengiringi wayang cepak pada awalnya berlaras pelog, tetapi karena untuk menyesuaikan situasi dan kondisi, waditra yang dipakai diberi berlaras salendro. Waditra ini meliputi gambang, gender, suling, saron I, saron II, bonang, kendang, jenglong, dan ketuk. Sementara beberapa lagu yang mengiringi pertunjukan wayang cepak, di antaranya Bayeman, Gonjing, Lompong Kali, Gagalan, Kiser Kedongdong dan lain-lain.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-cepak-cirebon/

Wayang Golek Moderen


Wayang golek modern merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang terdapat di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Wayang golek modern ditemukan oleh Dalang Partasuwanda (alm). Seperti halnya wayang golek biasa, lakon yang dibawakan wayang golek modern yaitu cerita wayang purwa, yang membedakannya yaitu dalam wayang golek biasa dalangnya hanya seorang, antawacana pun dilakukan oleh seorang. Sedangkan dalam wayang golek modern, dalangnya lebih dari satu orang dan kadang-kadang antawacananya pun dibantu oleh dalang lain yakni setiap satu wayang satu dalang.

Dalam adegan perang, apabila keris atau senjata yang dipergunakan beradu, terdengar bunyi sesuai dengan bunyi aslinya, bahkan terlihat cahaya seperti kilat atau petir. Dalam adegan kocak atau lawakan yang diperankan oleh Si Cepot dan saudaranya, diperagakan dia naik motor atau mobil bahkan naik pesawat terbang, dan suaranya sama seperti suara aslinya. Ketika Si Cepot terlibat perkelahian, dia menggunakan senjata mesin seperti mortir dengan pelurunya yang  kelihatan berhamburan dan kilatan cahaya yang mirip dengan cahaya pada senjata aslinya.

Pada jagat (gedebog pisang) pentas wayang golek modern dipasang layar  yang dapat ditutup dan dibuka seperti dalam pertunjukan sandiwara di sebuah gedung. Di latar belakangnya pun ada seben yang gambarnya sesuai dengan adegan yang sedang berlangsung seperti dalam adegan keraton ditampilkan gambar ruangan keraton lengkap, dalam adegan di hutan ditampilkan pohon-pohon yang rindang. Selain gambar pohon-pohonan, pohon kecil pun disiapkan.

Gamelan wayang golek modern ditempatkan di depan layar yaitu di depan jagat. Pesinden berada di depan yang terdiri dari beberapa orang duduk berjejer. Apabila sedang melantunkan lagu-lagu yang dapat menampilkan adegan joget, pesinden pun ikut berjoget. Bahkan, atas permintaan penonton pesinden berjoget dengan penonton. Apalagi sekarang, dengan lagu-lagu dangdut sudah biasa ditampilkan dalam pagelaran wayang atau kiliningan, pesinden harus mau turun melantai.

Selain wayang golek lengkap sebagai perlengkapan utamanya, perlengkapan lainnya seperti layar, lampu-lampu yang beraneka ragam, tepung atau bedak dan bunga es pun dipersiapkan. Waditranya, selain gamelan salendro dan pelog, ada pula tambahan kecapi, gitar dan kadang-kadang bongo. Sekarang mungkin elektone atau organ pun dimasukkan apabila wayang golek modern ini masih dipertunjukkan.

Di Kota Bandung, tepatnya di Gang Ihi, dulu pernah ada perkumpulan kesenian yang tergabung dalam Lingkung Seni Pusaka Siliwangi pimpinan Kapten Permana. Dalam perkumpulan kesenian ini, selain degung, kecapian dan lawakan terdapat pula wayang golek modern. Akan tetapi, sekarang lingkung seni tersebu telah pindah alamat ke Ciparay, Majalaya, Kabupaten Bandung.

Wayang golek modern terakhir dipertunjukkan adalah dalam HUT Bayangkara dari Grup Kepolisian. Tempatnya di lapangan Brimob Sukajadi. Dalam pertunjukan tersebut, pesindennya hanya satu orang. Gamelan ditempatkan di belakang layar sehingga tidak terlihat oleh penonton. Ini berbeda dengan pertunjukan wayang golek modern yang ditampilkan oleh Grup Wayang Golek Modern Pusaka Siliwangi.

Di televisi pernah juga ada pertunjukan wayang golek yang di belakang para pemainnya agak ke atas terdapat layar besar. Ketika dalang menampilkan adegan perkelahian, di layar tersebut ditampilkan adegan perkelahian yang diperagakan oleh para penari latar. Selain itu, ada pula yang memasang jagat dua pasang, sama seperti halnya wayang golek modern. Ketika pertunjukan sedang berlangsung, dalang yang berada di belakang mempertunjukkan adegan lainnya namun tanpa antawacana. Ketika ada adegan perkelahian, dalang di belakang pun mempertunjukkan perkelahian namun tokohnya berbeda. Pertunjukan ini disajikan oleh Kelompok Pedalangan STSI Bandung.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-golek-moderen/

Wayang Golek


Wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang” karena dilihat dari pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul bayangan-bayangan. Di Jawa Barat, wayang ada yang menggunakan boneka (dari kulit/wayang kulit atau kayu/wayang golek) dan ada yang dimainkan oleh manusia (wayang orang). Berkenaan dengan wayang golek, ada dua macam wayang golek, yakni wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Semua wayang, kecuali wayang wong, dimainkan oleh dalang sebagai pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dan lain-lain.

Wayang golek biasanya memiliki lakon-lakon, baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita besar Ramayana dan Mahabrata dengan mempergunakan bahasa Sunda disertai iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, seperangkat bonang, seperangkat bonang rincik, seperangkat kenong, sepasang goong (kempul dan goong) dan ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang serta rebab.

Sejak 1920-an, pertunjukan wayang golek selalu diiringi oleh pesinden. Popularitas pesinden pada masa-masa itu sangat tinggi, sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Fatimah sekitar tahun 1960-an. Lakon yang biasa dipertunjukkan dalam wayang golek adalah lakon karangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukkan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dan lain-lain.

Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut : 1) Tatalu, dalang dan pesinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara ; 2) Babak Unjal, Paseban dan bebegalan ; 3) Nagara sejen ; 4) Patepah ; 5) Perang gagal ; 6) Panakawan/goro-goro ; 7) Perang Kembang ; 8) Perang raket ; dan 9) Tutug.

Salah satu fungsi wayang di masyarakat adalah ngaruwat (ritus inisiasi), yaitu membersihkan yang diruwat dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: Wunggal (anak tunggal); Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal); Suramba (empat orang putra); Surambi (empat orang putri); Pandawa (lima putra); Pandawi (lima putri); Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri); Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra) dsb.

Wayang golek sebagai seni pertunjukan rakyat memiliki fungsi yang relevan dengan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun materialnya. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat, misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain, adakalanya diiringi dengan pertunjukan wayang golek. Secara spiritual masyarakat mengadakan ruwatan guna menolak bala, baik secara komunal maupun individual dengan mempergunakan pertunjukan wayang golek.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-golek/