Cakil, tokoh Perang Kembang


cakil_solo

Cakil merupakan tokoh asli kreativitas Indonesia. Cakil bukanlah nama, melainkan sebutan untuk raksasa yang berwajah dengan gigi taring panjang di bibir bawah hingga melewati bibir atas tersebut. Ia bisa diberi nama apa saja oleh Dalang yang memainkannya, kadang bernama Ditya Gendirpenjalin, kadang juga bernama Gendringcaluring, Klanthangmimis, Kalapraceka, dan bahkan saya pernah menjumpai dalang menamainya Ditya Kala Plenthong.

Cakil digambarkan berbeda dengan raksasa lain yang hanya satu tangannya bisa digerakkan. Tangan Cakil bisa digerakkan kedua-duanya. Hal ini diartikan sebagai penggambaran “sengkalan memet”: “tangan yaksa satataning janma” yang kurang lebih berarti tangan raksasa layaknya tangan manusia. Kata-kata tersebut mengandung watak bilangan sebagai berikut, tangan:2, yaksa:5, satataning:5, jalma:1. Jika dibaca terbalik maka akan menghasilkan angka Tahun Jawa 1552, atau 1630 Masehi yang merupakan tahun diciptakannya tokoh Cakil.

Continue reading Cakil, tokoh Perang Kembang

Wayang Pospa VIII – Parwo Maespati


VIII. Parwo Maespati

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 43

Rahwono Koplo

[ Parwo ini tidak banyak menyimpang dari pakem dan akan diceritakan dengan singkat. ]


Syahdan, dikawasan India utara terdapatlah sebuah negara besar wangsa Arya : Maespati. Maharajanya adalah prabu Arjunososrobahu dengan agul2nya Patih Suwondo. Maespati adalah sebuah negara adidaya dengan banyak jajahan.

Prabu Arjunososrobahu adalah raja playboyo. Permaisurinya hanya satu tetapi selirnya seribu banyaknya. Jika beliau mampu ngeloni satu dalam satu malam, maka setiap selir hanya dikeloni sekali tiap tiga tahun ! Jika sang raja mampu ngeloni satu tiap dua hari, maka seorang selir hanya kelonan sekali tiap 5-6 tahun. Sehingga tiap selir dipersilahkan mrongos selama 3-6 tahun untuk bisa dikeloni.

Continue reading Wayang Pospa VIII – Parwo Maespati

Wayang Pospa VII – Parwo Ranjapan



VII. PARWO RANJAPAN

Episode 38

Surat Tantangan.

Apa yang diungkapkan para gerilyawan tidak sepenuhnya benar. Walaupun pas2an, Kapi Mendo mengurus negara dengan cukup baik. Tuduhan bahwa pejabat2 bawahan Mendo korup diragukan. Siapa yang berani kurang ajar dengan Resi Subali. demikian juga halnya Subali, ia menjalankan kewajibannya sebagai raja cukup baik.

Apa yang disampaikan para gerilyawan sebenanrnya adalah ‘pembenaran’ untuk kedok ambisi masing2. Sugriwo memang dari dulu berambisi menjadi raja. Walaupun ia lebih baik, tidak berarti Resi Subali tidak becus. Anilo berambisi duduk kembali menjadi Rekyono Patih. Kapi Jembawan sangat mencintai Sugriwo dan ia akan berbuat apapun agar gegayuhan momongannya tercapai. Seperti Haryo Suman (Sengkuni) yang berbuat apapun demi keponakan2nya, Kurowo.

Romo dengan kanggunannya sangat pandai mengkamlufase ambisinya se-olah apa yang akan dilakukan adalah ‘membela kebenaran’. Sebenarnya ia bersikap licik, pengecut dan tengik. Namun karena paindainya, tidak kelihatan. Ia membungkus ambisinya dalam sutro dewonggo sehingga Kapi Senggono Anomanpun yang masih beliapun terpesona. Ia berdalih menaikkan Sugriwo demi masyarakat Poncowati. Dalam penampilannya yang bersahaja, kini tampak sosok Romo yang sejati. Ia adalah gladiator. Lahir untuk bertarung. Ia akan menyabung nyawa mengusik wanoro digdoyo, Resi Subali.

Continue reading Wayang Pospa VII – Parwo Ranjapan

Wayang Pospa VI – Parwo Poncowati


VI. PARWO PONCOWATI

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 33

Konspirasi Rojopati

Romo & Lesmono sementara waktu tinggal dikemah Gerilyawan Reksomuko. Ke-dua2nya disukai para gerilyawan karena sikap mereka yang bersahabat, bersahaja dan rendah hati. Ke-dua2nya adalah putra2 kraton yang terdidik ketat untuk bersikap santun. Pengetahuan mereka tentang tata negara, taktik perang, dll menarik perhatian. Juga pengetahuan agama Romo yang meguru resi2 kawentar mempesona para gerilyawan. Ketinggian pengetahuannya menyebabkan Romo tampak menjadi orang suci. Kisah tragedi mereka, dari terpental dari singgasana sampai kehilangan istri menarik simpati. Tentu saja rahasia homoseksualitas mereka simpan dalam2. Karena arogansi ras Arya, Romo tidak mau nyodomi para wanoro yang (dianggapnya) asor sehingga rahasia mereka tersimpan rapat. Praktis biseksualitas Romo sembuh. Ia hanya kelonan dengan Lesmono kinasih.

Suatu hari mereka ber-bincang2 mengelilingi api unggun.

“ Sekarang bagaimana keadaan pemerintahan Poncowati, kapi Jembawan ? “

“ Yang ngurusi negara itu Kapi Mendo, rekan saya seangkatan. Ia itu jujur dan setia namun agak dungu sehingga sering diapusi staf2nya yang korupsi, nyolong, dll. Coba, piyé keadaan Poncowati, Anilo ? “

“ Payah. Angka pengangguran naik, indikator ekonomi memble, blah …. blah … blah … “ Anilo nerocos, mem-buruk2kan keadaan Poncowati.

“ Apakah Resi Subali tidak mengambil tindakan ? “

“ Sebenarnya sudah di-beritahu bahwa kewajiban beliau sebagai raja tentunya mengurus negara tetapi memang Gus Subali itu trahing pandito rembesing Brahmono. Ia hanya tepekur memuja semedi, persis ayahandanya “

“ Terus piye ? “

Continue reading Wayang Pospa VI – Parwo Poncowati

Wayang Pospa V – Parwo Kiskendo


V. Parwo Kiskendo

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 25

Guwarso Guwarsi

Disebuah lereng gunung yang sangat terpencil jauh dari permukiman manusia, terdapatlah sebuah Padepokan Grasino. Padepokan itu milik dan tempat tinggal Resi Gutomo yang termashyur sakti dan waskito, mampu melihat yang sedang dan sudah winarah (terjadi). Tetapi beliau belum mampu melihat yang belum winarah. Saking genturnya bertapa, tanpa disadarinya Sang Wiku menjadi kelewat sakti, apa yang diucapkan akan winarah.

Dewi Windardi adalah istri yang setia tetapi ditelantarkan oleh suaminya yang terlalu gentur tapanya. Kalau sedang memuja semedi, Resi Gutomo bisa ber-hari2 bahkan ber-minggu2 di sanggar pamujan, lupa makan lupa minum. Lupa bahwa ia adalah ayah dan suami sebuah keluarga. Untuk mengusir sepi, Dewi Windardi suka meninggalkan padepokan dan bepergian jauh sampai ber-hari2 bahkan ber-minggu2. Dalam pakem pedalangan dikabarkan ia berselingkuh dengan dewa. Dalam kisah ini, tidak tertutup kemungkinan ia kelonan bukan dengan Dewa tetapi dengan pria lain. Dewi Windardi masih muda, belum menop(ause) tetapi ditinggal suaminya ber-zikir sepanjang bulan.

Anak yang paling sulung adalah Retno Anjani, kemudian Guwarsi dan sibungsu Guwarso. Guwarso & Guwarsi secara fisik nyaris kembar, bahkan nada bicaranyapun sama. Tetapi sifat mereka berbeda jauh. Guwarsi penyendiri dan pendiam. Ia seorang spesialis, tahu banyak tentang sedikit hal. Sebaliknya, Guwarso berpembawan hangat, ramah, dan suka bersosialisasi. Ia generalis, tahu sedikit2 tentang banyak hal. Sejak usia dini, Guwarsi menunjukkan ketertarikannya akan kependetaan. Ia suka menyimak ayahandanya dalam memuja semedi sampai ber-hari2. Sebaliknya, Guwarso menunjukkan bakatnya sebagai pemimpin kelompok.

Continue reading Wayang Pospa V – Parwo Kiskendo

Wayang Pospa IV – Parwo Reksomuko


IV. Parwo Reksomuko

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 22

Satria Pangulandaran.

Setelah membakar jenasah Kiai Jatayu, Romo & Lesmono meneruskan pengembarannya. Berbulan lamanya mereka mengembara sembari berguru ke guru2 sakti, padepokan2, dan asrama2 untuk menambah kedigdayan & kewaskitan mereka. Peristiwa yang baru berlalu bagaikan kawah Condrodimuko yang menggodok kedua pemuda itu makin menjadi kuat. Mereka sudah menjadi pria2 matang dan tangguh. Bukan lagi ABG yang hanya poya2 & hura2, tetapi manusia2 yang punya gegayuhan (cita2) dan bukan hanya sekedar trimo ing pandum. Mereka punya rencana hidup yang pasti. Mereka mau menggapai bintang gemintang dilangit biru.

“ Rasanya mustahil jika kita berdua menumbangkan rezim Mantoro. Lebih baik kita mencari kekuatan2 dari luar yang bisa kita ajak bergabung menumbangkan rezim Mantoro. “ Romo memaparkan rencananya, seperti Hun Seng yang mendatangkan Legiun Asing dari Vietnam menghadapi rezim Khmer Merah.

Continue reading Wayang Pospa IV – Parwo Reksomuko

Wayang Pospa III – Parwo Alengko Puwo


III. Parwo Alengko Puwo

http://kibroto.blogspot.com/

Episode 18

Bilahi Birahi di Girijembangan

Syahdan, jaman dulu sekali di pulau Srilangka ada beberapa negara kecil2. Seringkali negara2 kecil tersebut saling berperang memperebutkan wilayah. Diantara negara2 tersebut ada negara kecil Alengko dengan Rajanya Prabu Somali. Putri sulung bernama Dewi Sukaesi telah menginjak remaja dan sudah saatnya menikah. Raja Danarjo dari kerajaan Lokapala yang juga di pulau Srilangka tertarik dengan Dewi Sukesi. Kehendak Sang Prabu dilambari motif politis. Ia ingin Alengko dimerger dengan Lokapala.

Dewi Sukesi yang hanya sedikit lebih ayu dari Omah atau Yati Pèsèk punya syarat, ia mau dinikahi asalkan diajari ilmu Sastro Jendro Yuningrat Pangruwating Diyu. Sebuah ilmu yang wingit & pelik. Untungnya Prabu Danarjo anak begawan Dr. Wisrowo yang profesor emeritus kesusastraan dan rektor dari Universitas Girijembangan. Segera dipersilahkannya Woro Sukesi untuk mengikuti kuliah Bopo wiku. Karena anak Raja, Sukesi mendapat keistimewaan kuliah khusus sendiri.

Sebenarnya nilai Sukesi pas2an, kebanyakan C, beberapa C+, dan ada yang C-. selain kuliah Sastro Jendro yang jadi kuliah pokok, Woro Sukesi juga diizinkan kuliah minor. Boleh Fisika Quantum, Kimia, Geografi, dll. Karena kuliah sudah masuk semester III, Sukesi diizinkan masuk ke perpustakaan pribadi Sang Resi. Semua naskah diperbolehkan dipelajari kecuali sebuah kitab yang diberi warna biru. Buku sakral ini bukan untuk perjaka & perawan. Sebagai mahasiswi yang patuh, Sukesi tidak pernah berupaya mempelajari buku tersebut.

Continue reading Wayang Pospa III – Parwo Alengko Puwo