Oluka, Caraka Kurawa Menguji Ketahanan Mental Pandawa


Oluka, Caraka Kurawa Menguji Ketahanan Mental Pandawa

Namanya pendek, Oluka. Tapi pemunculannya di arena pewayangan cukup menarik. Dia anak Sakuni yang urakan, pembual pandai memperolok orang. Bualnya menyebalkan dan bila mengejek sanggung membuat orang menjadi kesal. Sifat-sifat ini menarik perhatian Suyudana untuk dimanfaatkan menghadapi perang dengan Pandawa. Lalu disusun taktik perang urat syaraf, yaitu mengintimidasi, mencaci maki atau mengejek musuh disertai gerak dan gaya yang menyebalkan untuk menjatuhkan mental Pandawa. Setelah diberi latihan bagaimana cara mengejek orang dan pesan-pesan yang harus disampaikan, berangkatlah ia ke perkemahan Pandawa dengan predikat Caraka atau Duta yang memiliki kekebalan diplomatik sehingga akan terhindar dari gangguan fisik.

Kebetulan saat itu Pandawa sedang mengadakan musyawarah dengan para raja membahas persiapan perang. Di saat itulah Oluka muncul ke tengah persidangan. Dengan gaya dibuat-buat jalan terbungkuk-bungkuk kemudian duduk bersimpuh di hadapan Yudhistira seraya berkata: “Duh gusti manusia berbudi luhur, hamba adalah Caraka Kurawa diutus Prabu Duryudana untuk menyampaikan pesan beliau ke hadapan gusti dan para satria Pandawa,” ujarnya.

“kedatanganmu kuterima dengan senang hati. Adakah engkau membawa surat dari gustimu?” “Ampun gusti, tak sehelai pun hamba bawa, kecuali pesan lisan yang harus hamba sampaikan melalui mulut hamba,” katanya mengundang rasa heran. Pesan apa gerangan yang ingin disampaikan Duryudana menjelang perang? Kresna yang sejak tadi curiga bertanya: “Apakah pesan itu bersifat terbuka? “Siapa pun boleh mendengarkan,” katanya dengan suara parau dibuat-buat. Kresna membisikkan sesuatu kepada Yudhistira dimana kemudian ia minta perhatian seluruh yang hadir untuk mendengarkan pesan Duryudana melalui Carakanya. Tetapi diingatkan, apabila bunyi pesan dan tingkah laku si Caraka tidak berkenan, diminta untuk tidak melakukan tindakan atau menyakiti sang Caraka. Kemudian Caraka dipersilahkan menyampaikan pesan-pesan itu.

Mula-mula ia berlaku sopan, sujud di hadapan Yudhistira, memberi hormat kepada semua yang hadir. Tetapi sejurus kemudian tak diduga, tiba-tiba ia melompat ke tengah persidangan sambil tertawa terbahak-bahak. Kedua kakinya direntangkan, tangan kiri bertolak pinggang, sedang tangan kanan menunjuk-nunjuk Yudhistira seraya berkata: “Hei, Yudhi, aku adalah Suyudana raja agung di seluruh jagat raya. Dengarkan aku ingin bicara kepadamu. Engkau keturunan raja perkasa berdarah satria, tapi mengapa engkau menjadi seorang pengecut, hah.” Menyaksikan ulah si Oluka yang mendadak seperti orang gila keadaan menjadi kacau, para raja menjadi kesal dan sebal.

Serentak mereka bangun dari kursinya dan berteriak-teriak histeris: “Tangkap dia, dia Caraka gila yang sengaja dikirim Suyudana untuk menghina kita. Ayo tangkap bunuh dia.” Melihat gelagak tak baik segera Yudhistira berseru: “Tengan, tengan, tuan-tuan, sudah kami ingatkan bahwa seorang Duta tak boleh disakiti. Ini ujian bagi kita khususnya bagi kami kaum Pandawa. Kendalikan diri anda masing-masing. Terima kasih.” Akhirnya suasana menjadi tenang kembali meskipun di sana-sini masih terdengar suara menggerutu. Kemudian Oluka dipersilahkan kembali menyampaikan pesan Suyudana.

Maka Oluka melirik ke arah sang Bima dan dengan mata melotot serta telunjuk dituding-tudingkan hampir mengenai hidung Bima mulai ia mengoceh: “Naaah, sekarang giliranmu hei orang gemblung. Sejak tadi kuperhatikan kau seperti orang melamun. Rupa-rupanya kau sedang melamun ingin menjadi orang kaya jika berhasil merebut negara Astrina,” ejeknya sambil tertawa terbahak-bahak. “Wah, wah, orang miskin pengen jadi kaya kemudian memimpin negara, lalu seenaknya memakai uang untuk membeli keperluan rumah tangga, … wah celaka negara bisa bangkrut. Cisss tak tahu malu. Tapi sayang hei orang edan, keinginanmu itu tidak seimbang dengan keberanianmu. Buktinya wakt Drupadi ditelanjangi didepan orang banyak, kau hanya menggeram-geram saja seperti orang sedang sakit meriang, ha ha haaa … lalu, oya … kau pernah mengancam akan membunuh adikku Dursasana, oouhh, lucu, karena sebelum kau sempat melakukannya, tubuhmu yang besar tapi tak bergizi itu sudah kulemparkan ke dalam lumpur di Tegal Kuru, ha.. ha.. haaa….,” ejeknya.

Begitu selesai Oluka memaki, meloncatlah Bima memburu berusaha menjambak rambut Oluka. Untunglah Arjuna dan Nakula Sadewa yang sudah menduga Bima takkan tahan menerima ejekan, telah bersiap-bersiap menghadang. Sementara para raja berteriak-teriak mendukung Bima: “Bunuh dia, cekik dia, gantung dia….” mendengan suara dukungan Bima semakin bernafsu hendak membanting si Caraka, tetapi tiba-tiba ia mendengar suara lembut tapi berwibawa: “Sena, elinglah dik. Kita sedang diuji Dewata. Penjarakan nafsumu, kau tak akan terkenal dengan membunuh dia, lagi pula dia hanyalah seorang Caraka, dik,” ujar Yudhistira minta pengertian.

Bima hanya bisa menggeram-geram sambil mencoba memulihkan kesadarannya. Tapi sebagai ganti melampiaskan amarhnya, ia salurkan lewat mulutnya: “Hei anak ******** licik penipu judi, sampaikan pesanku kepada si ******* Suyudana, bahwa apabila wakti itu aku tidak menolong Drupadi, bukan karena aku takut, tetapi aku tunduk kepada saudaraku Yudhistira. Sebaliknya kalau saja tak dihalang-halangi,kepala si ******* Suyudana pasti sudah kuhancurkan rata dengan tanah,” katanya geram. Oluka mengira Bima sudah selesai memaki ditambah perasaan takut yang tak kepalang, ia beranjak hendak kembali ke tempat semula, tetapi tiba-tiba: “Diam,” bentak Bima hingga Oluka semakin gemetaran dibuatnya. “Aku belum puas ngomong ******. Dengarkan dan katakana kepada suyudana, bahwa saatnya akan segera tiba di mana aku telah bersumpah, di medan perang nanti pahanya akan kuremukkan dengan gadaku dan kulitnya akan ku beset-beset hingga kelihatan dagingnya, mengerti, hah?”

Oluka menjawab: “Me, me, me, mengerti gusti…..,” sahutnya gemetaran. “Sudahlah kang,” bujuk Arjuna. “Diam,” Arjuna pun kena bentak hingga tertunduk. “Sampaikan juga kepada si Dursasana, bahwa perutnya akan ku odet-odet sampai keluar isinya darahnya akan kuminum serta sebagian lagi untuk keramas Drupadi,” tukasnya sambil balik ke tempatnya.

Demikianlah berturut-turut pesan Suyudana itu disampaikan oleh Oluka masing-masing kepada Arjuna dan Kresna dengan gaya dan kata-kata yang menyebalkan, tetapi dijawab dengan kata-kata yang tak kurang bernadakan ancaman dalam peperangan nanti di Tegal Kuru. Setelah selesai Oluka berkata: “Duh gusti ratu adil paramarta, hanya kebesaran jiwa padukalah yang dapat memaafkan segala tindakan hamba tadi. Hamba hanyalah titah belaka,” katanya mohon pengertian. Yudhistira pun maklum bahwa sedikitpun Oluka tidak bersalah. Yudhistira menyampaikan pesan kepada Suyudana, bahwa ia minta maaf apabila nanti di medan perang pihaknya akan bersikap keras sebagai layaknya, yang berperang. Setelah itu Oluka kembali ke kubu Kurawa.

Ebet Kadarusman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s