Luka Hati Seorang Dorna Terbalaskan


drupada_solosucitra_solokumbayana_solodurna_solo

Luka Hati Seorang Dorna Terbalaskan

Pada umumnya seorang beranggapan dia berwatak buruk perusak perdamaian dan tukang fitnah, tetapi dia seorang resi bergelar Danghyang Dwija Wirpa. Artinya saking lihung derajatnya hampir setingkat dewa. Sikapnya bijaksana, cerdas tetapi rendah diri walau berilmu tinggi. Ia puns eorang sarjana ilmu perang memiliki Sir Weda Danur Weda, yakni kitab ilmu bercinta dan ilmu menggunakan senjata dan strategi perang.

Tubuhnya yang cacat berawal ketika mengunjungi bekas sahabat karibnya Sucitra yang ketika itu telah menjadi raja negara Pancala bernama Drupada. Dahulu ketika keduanya masih menjadi siswa Resi Baratwadya mereka sangat bersahabat, berperibahasa makan sepiring bersama minum semangkuk bersama. Bahkan ketika Sucitra kempali ke negeranya berjanji akan memberikan sebagian tanah negara kepada Dorna. Karena itu harapannya bila nanti bertemu dengan Sucitra, ia pasti akan disambut dengan penuh keramah tamahan sehingga akan merupakan pertemuan nostalgia yang sangat indah mengenang masa lalu.

Tetapi apa yang terjadi, lain harapan yang diangankan lain pula yang dialami. Begitu ia masuk keraton menyapa sahabatnya dengan kata-kata penuh kerinduan, lain pula budi perangai Drupada yang diperlihatkan dingin, muram dan berucap ketus: “Hei, siapa engkau … beraninya mengaku kau sahabat karibku. Sejak kapan aku bersahabat dengan kau. Tidak mungkin seorang raja agung seperti aku bersahabat dengan seorang pengemis seperti engkau. Cisss, dasar gelandangan tak tahu diri,” ujarnya sambil memblengoskan muka.

Dorna terperangah tak menyangka akan disambut dengan sikap dan kata-kata yang menyakitkan. Tapi ia masih mencoba mengingatkan, hanya kata-katanya berbeda dengan yang tadi: “Oh, maaf beribu maaf tuan. Hamba memang orang dari dusun tak tahu sopan santun. Sikap hamba tadi karena hamba mengira tuan masih seperti tuan yang dahulu ketika kita sama-sama menuntut ilmu dan, …” “Cukup,” bentak Drupada memutus pembicaraan Dorna. “Itu pengakuan yang tidak akan pernah terjadi dan hanya dibuat-buat agar aku mau mengakui bahwa kaubenar sahabatku. Aku memang pernah berguru ilmu, tetapi tidak pernah seperguruan dengan orang serendahmu,” kilahnya.

Continue reading Luka Hati Seorang Dorna Terbalaskan

Dorna yang Sakti Terpancing Provokasi


durna_yogya2

Dorna yang Sakti Terpancing Provokasi

Kekuatan fisik dan keahlian bertanding ditopang dengan kesaktian yang tinggi, belum menjamin sebagai suatu kekuatan yang prima tanpa ditunjang aspek kejiwaan seperti ketenangan, ketahanan mental dan kewaspadaan atin. Maha resi Dorna seorang pakar straegi perang dan ahli menggunakan senjata masih terpancing oleh berita provokasi hingga terpecah konsetrasinya melemah daya juangnya. Ini terjadi dalam perang barata ketika bertarung dengan Pandawa bekas muridnya.

Sebenarnya guru besar ilmu perang itu menaruh simpati yang dalam kepada Pandawa yang selama menjadi mahasiswanya, dinilai baik tingkah lakunya, penurut dan sungguh-sungguh dalam mengamalkan pelajaran yang diberikan. Sebaliknya kaum Kurawa selain tingkah lakunya ugal-ugalan, juga rendah akhlaknya dan kurang memperhatikan pelajaran sehingga dalams egala hal Pandawa di nilai lebih unggul. Keberadaannya di pihak Kurawa adalah rekayasa politik Sakuni untuk memperkuat barisan Kurawa jika timbul perang dengan Pandawa.

Walau demikian Dorna masih berusaha membujuk Duryudana agar bersikap lebih lunak mau memenuhi tuntuan Pandawa untuk memperoleh tanah sesigar semangka sehingga perang dapat dicegah. Berkata Dorna:” Angger Prabu, redamlah kebencian itu. Kebencian timbul karena dirinya tidak mampu berpikirs ecara sehat. Karena itu bersikaplah lebih lunak agar tercipta perdamaian kedua belah pihak,” ujarnya menyarankan. “Jangan paman bicara soal perdamaian. Aku tidak berugur macam itu. Damai berarti rugi, perang pilihan terbaik,” jawabnya tegas. “Mereka menuntut keadilan bukan perang.” kilah Dorna. “Itu sudah merupakan keadilan yang digariskan Hyang Pasti. Kaum pengemis sudah terbiasa hidup sengsara. Karena itu mereka tidak patut memerintah negara,” kilahnya dengan nada menghina. “Angger masih anggap enteng Pandawa? Bukankah sudah terbukti mereka unggul segala-galanya? Adipati karna yang dijagokan ajal di tangan Arjuna. lalu hari ini, esok atau lusa siapa lagi yang akan menyusul,” Dorna memberi peringatan. “Justru hari ini, esok atau lusa dan seterusnya giliran mereka yang akan binasa di tangan kaum Kurawa!” sergahnya. “lalu siapa orangnya yang sanggup menghancurkan pandawa?” desak sang resi ingin tahu. “Siapa lagi kalau bukan sampeyan yang sanggup dan harus menghancurkan Pandawa. Hari esok harus paman buktikan kesetianmu kepadaku. Ini perintah!” tegasnya.

Continue reading Dorna yang Sakti Terpancing Provokasi

Salya Membuka Rahasia Kematiannya


narasoma_solosalya_solo

Salya Membuka Rahasia Kematiannya

Waktu muda bernama Narasoma. Ia anak Prabu mandrapati raja Mandaraka. mempunyai adik perempuan bernama Madrim menikah dengan Pandu berputra kembar, Nakula Sadewa. Istrinya bernama Pujawati (Satyawati) putri Begawan raseksa Pinandita di padepokan Arga Belah.

Menjelang berakhirnya Baratayuda raja Salya diangkat menjadi panglima perang Astina. Pengangkatan itu telah menarik perhatian Pandawa mengingat kesaktian raja Mandaraka itu tidak ada tandingannya. ia memiliki aji Candra birawa yang dapat menciptakan ribuan raseksa ganas pemangsa manusia. Konon apabila darahnya menciprat benda, maka benda itu akan menjadi raseksa. Dapat dibayangkan apabila banyak darah bercipratan, akan bermunculan pula raseksa-raseksa lain dan arena peperangan lainnya akan dipenuhi oleh makhluk-makhluk pemangsa itu.

Menurut Kresna sekalipun Salya sakti tiada tanding gagah tak ada lawan, batinnya lebih menyayangi Pandawa. Berpihaknya kepada Kurawa karena terjebak kelicikan Sakuni. Padahal semula ia akan membantu Pandawa. Untuk mengetahui rahasia kelemahannya, diutuslah nakula Sadewa menghadap uwaknya.

Demikianlah tatkala nakula Sadewa menghadap Salya, dengan nada sendu si kembar berkata: “Duh, uwak Prabu, kedatangan hamba menghadap paduka, hanya untuk menyerahkan jiwa raga hamba berdua. Hamba malu oleh saudara-saudara hamba, apabila balatentara Pandawa dan saudara-saudara hamba akan dengan mudah paduka hancurkan. Kesaktian paduka tiada tandingannya. Karena itu hamba berdua ingin didahulukan dibunuh sebelum paduka berhadapan dengan mereka,” ujarnya memelas.

Continue reading Salya Membuka Rahasia Kematiannya

Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri


 

arimbi_soloarimbi_raseksi_solo

Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri

Cinta adalah urusan hati. karena itu tidak mengenal kelas tinggi rendahnya derajat, kaya miskin, suku bahkan yang berlainan bangsa. Bila cinta telah bersemi dalam dua hati sulit untuk dipisahkan. Walaupun demikian bukan berarti tidak ada batas kewajaran ketentuan yang hak dan non hak, baik menurut ketentuan adat istiadat maupun azas peradaban manusia.

Tetapi yang namanya cinta terkadang melanggar peradaban hak azasi seperti makhluk raksesa jatuh cinta kepada bangsa manusia. Tentu saja itu hanya terjadi dalam cerita seperti cerita pewayangan raksesi Arimbi jatuh cinta kepada Bima sebagai simbol manusia. Tetapi itu pun hanya merupakan lambang semata.

Awal terjadinya cinta itu ketika kaum Pandawa sedang menjalani hukum buang akibat kalah main judi dengan Kurawa hingga harus menderita merana di hutan belantara. Ketika itu Pandawa bersama ibunya sedang meneduh di bawah sebuah pohon yang daunnya amat rindang. Karena kelelahan yang amat sangat, mereka tertidur dengan lelap hanya Bima yang menjaga menolak bahaya yang mungkin datang. Ternyata mereka berada di daerah kekuasaan raja raseksa yang ganas beranma Arimba penguasa kerajaan Pringgandani.

Continue reading Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri

Bagaspati Raseksa Pinandita


bagaspati_solosatyawati_solo

Bagaspati Raseksa Pinandita

Baik buruknya kualitas suatu benda umumnya di nilai dari perbedaan buruk. Baik bentuknya baik pula kualitasnya. Buruk bentuknya buruk pula mutunya. Tetapi hukum perbedaan dua unsur itu tidak selalu stabil nilai kualitasnya, ada yang baik bentuknya ternyata buruk kualitasnya, Buruk bentuknya justru baik kualitasnya.

Demikian pula dengan manusia, yang tampan dan cantik parasnya, ‘hati’nya tidak selalu setampan atau secantik parasnya. Baik buruknya kelakuan manusia akan tergantung dari manusianya itu sendiri, tidak selalu tergantung pada wujud lahiriahnya. Kadang-kadang kita sering disilaukan oleh wujud lahiriahnya, padahal belum tentu wujud yang kemilau itu isinya baik. Sifat yang kontroversial selalu menjadi ciri yang alami dalam kehidupan. Peribahasa mengatakan: tempurung berbulu berisi madu. Artinya di luarnya buruk isinya semanis madu. Lahir dan batin tidak selalu memiliki nilai yang seimbang. peribahasa ini cocok bagi Begawan Bagaspati penghuni padepokan Arga Belah. Ia berwujud dan berwajah raseksa tetapi hatinya mulia, baik tutur bahasanya, lemah lembut ramah tamah, sering menolong orang yang sedang kesusahan, memberi obor kepada yang sedang kegelapan, sehingga ia dihormati dan disukai masyarakat di sekitar padepokan itu.

Continue reading Bagaspati Raseksa Pinandita

Duryudana, Sekaratnya Tersiksa


duryudana_soloduryudana__bokongan__solo

Setiap wanita melahirkan bayi. Tetapi tidak demikian dengan Gandari istri Destarata. Ia melahirkan segelantung daging sebesar guling. Orang bertanya-tanya pertanda apa gerangan. Bisma segera mengundang Resi Abiyasa dari pertapaan Sapta Arga guna mempermaknakan kelahiran yang unik itu. Oleh Resi daging itu dikucuri air. Ajaib daging gelantung itu bercerai-berai menjadi berkeping-keping kemudians atu pesatu berubah menjadi bayi laki-laki, satu di antaranya perempuan.

Bayi pertama diberi nama Duryudana atau Suyudana, kedua Dursasana dan seterusnya hingga semua berjumlah seratus anak bayi. Sedan yang perempuan diberi nama Dusala atau Dursilawati. Sementara Pandu dari kedua istrinya, Kunti dan Madrim melahirkan lima orang anak laki-laki. Dari Kunti lahir Yudhistira, Bima dan Arjuna. Sedang dari Madrim, Nakula dan Sadewa. Kedua golongan itu masing-masing disebut Kurawa dan Pandawa dan merupakan inti cerita Mahabharata.

Karakter kedua golongan itu saling bertolak belakang. Kurawa berwatak angkara sedang Pandawa memiliki budi pekerti luhur dan ksatria. Duryudana sebagai ketua kelompok Kurawa budinya rendah tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak mempunyai pertimbangan sendiri segala sesuatu bagaimana orang lain. Dalam hal ini Sakuni yang berwatak dengki dan licik mempunyai andil membentuk kepribadian anak Gandari pertama yang berwatak angkara itu. Dia selalu ingin disanjung tetapi tidak senang kalau ada yang menyaingi sehingga tidak pernah mau berkenalan dengan kebenaran.

Continue reading Duryudana, Sekaratnya Tersiksa

Oluka, Caraka Kurawa Menguji Ketahanan Mental Pandawa


Oluka, Caraka Kurawa Menguji Ketahanan Mental Pandawa

Namanya pendek, Oluka. Tapi pemunculannya di arena pewayangan cukup menarik. Dia anak Sakuni yang urakan, pembual pandai memperolok orang. Bualnya menyebalkan dan bila mengejek sanggung membuat orang menjadi kesal. Sifat-sifat ini menarik perhatian Suyudana untuk dimanfaatkan menghadapi perang dengan Pandawa. Lalu disusun taktik perang urat syaraf, yaitu mengintimidasi, mencaci maki atau mengejek musuh disertai gerak dan gaya yang menyebalkan untuk menjatuhkan mental Pandawa. Setelah diberi latihan bagaimana cara mengejek orang dan pesan-pesan yang harus disampaikan, berangkatlah ia ke perkemahan Pandawa dengan predikat Caraka atau Duta yang memiliki kekebalan diplomatik sehingga akan terhindar dari gangguan fisik.

Kebetulan saat itu Pandawa sedang mengadakan musyawarah dengan para raja membahas persiapan perang. Di saat itulah Oluka muncul ke tengah persidangan. Dengan gaya dibuat-buat jalan terbungkuk-bungkuk kemudian duduk bersimpuh di hadapan Yudhistira seraya berkata: “Duh gusti manusia berbudi luhur, hamba adalah Caraka Kurawa diutus Prabu Duryudana untuk menyampaikan pesan beliau ke hadapan gusti dan para satria Pandawa,” ujarnya.

“kedatanganmu kuterima dengan senang hati. Adakah engkau membawa surat dari gustimu?” “Ampun gusti, tak sehelai pun hamba bawa, kecuali pesan lisan yang harus hamba sampaikan melalui mulut hamba,” katanya mengundang rasa heran. Pesan apa gerangan yang ingin disampaikan Duryudana menjelang perang? Kresna yang sejak tadi curiga bertanya: “Apakah pesan itu bersifat terbuka? “Siapa pun boleh mendengarkan,” katanya dengan suara parau dibuat-buat. Kresna membisikkan sesuatu kepada Yudhistira dimana kemudian ia minta perhatian seluruh yang hadir untuk mendengarkan pesan Duryudana melalui Carakanya. Tetapi diingatkan, apabila bunyi pesan dan tingkah laku si Caraka tidak berkenan, diminta untuk tidak melakukan tindakan atau menyakiti sang Caraka. Kemudian Caraka dipersilahkan menyampaikan pesan-pesan itu.

Mula-mula ia berlaku sopan, sujud di hadapan Yudhistira, memberi hormat kepada semua yang hadir. Tetapi sejurus kemudian tak diduga, tiba-tiba ia melompat ke tengah persidangan sambil tertawa terbahak-bahak. Kedua kakinya direntangkan, tangan kiri bertolak pinggang, sedang tangan kanan menunjuk-nunjuk Yudhistira seraya berkata: “Hei, Yudhi, aku adalah Suyudana raja agung di seluruh jagat raya. Dengarkan aku ingin bicara kepadamu. Engkau keturunan raja perkasa berdarah satria, tapi mengapa engkau menjadi seorang pengecut, hah.” Menyaksikan ulah si Oluka yang mendadak seperti orang gila keadaan menjadi kacau, para raja menjadi kesal dan sebal.

Continue reading Oluka, Caraka Kurawa Menguji Ketahanan Mental Pandawa