Tag Archives: wayang kulit

Sitija putrane Hyang Wisnu kang nguwasani krajan loro


sitija_solo

Tembung sitija ateges lair saka lemah, siti ateges lemah lan ja ateges lair. Bambang Sitija iku anake Hyang Wisnu lan Dewi Pratiwi utawa Pertiwi, putrane putri Prabu Nagaraja, raja krajan Sumur Jalatunda. Sitija duwe sedulur tunggal bapa biyung sing jenenge Dewi Siti Sendari.
Ing jagad pedhalangan Sitija kondhang kanthi jeneng Bambang Suteja utawa Seteja. Miturut andharan ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, 1991, Sitija duwe pusaka peparing ibune, saka kanugrahan kang diparingake Hyang Wisnu, arupa cangkok Kembang Wijayakusuma kang arane Wijayamulya. Pusaka iki duwe kasiyat nguripake titah kang wus mati lan kabeh barang kang wus ora migunani.

Sawijining dina Bambang Sitija pengin nggoleki bapake, kang wektu iku tumurun ing Arcapada njilma dadi sawijining raja gung binathara. Saka pituduhe ibune, Dewi Pratiwi, dheweke diwenehi pangerten, yen sejatine Bambang Sitija iku putrane Hyang Wisnu, ananging ing wektu kuwi nembe njilma marang Narayana utawa Sri Kresna. Dene cirine yaiku kulite cemani utawa ireng, padha kalawan kulite Hyang Wisnu. Continue reading

Raden Samba mati nglabuhi tresna


samba_solo

Samba iku ing jagad pedhalangan uga dikenal kanthi jeneng Wisnubrata, Kusumakilatmaka. Raden Samba duwe sisihan sing jenenge Dewi Yatnyawati, putrane putri Prabu Karekatnyana, raja ing nagara Tasikmadu.

Miturut andharan ing buku Ensklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, 1991, Samba iku putrane Prabu Kresna raja Dwarawati. Ibune Samba yaiku Dewi Jembawati kang ora liya prameswarine Prabu Kresna.

 

Samba duwe sedulur tunggal bapa biyung sing jenenge Raden Gunadewa lan dedunung ing Gadamana. Gunadewa wujude wanara, lan ing Gadamana digulawenthah dening simbahe, yaiku Resi Jembawan.
Dene papan dununge Samba yaiku kasatriyan Paranggarudha. Sedulure liyane kang tunggal bapa nanging beda ibu yaiku Raden Sarana, Partadewa utawa Partajumena, lan Dewi Titisari kang kabeh lair saka guwa garbane Dewi Rukmini.

Sedulur tunggal bapa liyane yaiku Raden Setyaka (lair saka guwa garbane Dewi Setyaboma) lan sing lair saka guwa garbane Dewi Pertiwi yaiku Sitija lan Siti Sendari. Maratuwane Samba, yaiku Prabu Karekatnyana, miturut andharan ing buku Bunga Rampai Wayang Purwa Beserta Penjelasannya, karyane Bondhan Harghana SW lan Muh Pamungkas Prasetya Bayu Aji, weton Cendrawasih, ora liya sedulure Prabu Karentaknyana, raja ing nagara Calamadu. Continue reading

Wayang Berbahasa Asing, Why Not ?


 

manteb-sudharsono

KI Manteb Soedharsono, dalang kondang dari Doplang, Karangpandan, Karanganyar, lagi-lagi ikut andil mengusung prestasi tertinggi di dunia pedalangan. Berkat penampilannya, wayang kulit purwa memperoleh penghargaan Master Piece of The Oral and Intangible of Humanity. Karena itu, wayang kini dimasukkan sebagai salah satu master piece warisan budaya dunia. Apa yang kemudian dilakukan oleh dalang yang dulu memperoleh predikat sebagai “dalang setan” itu? Rupa-rupanya dia mendapat “hadiah” keliling Eropa untuk memperkenalkan wayang kulit selama dua pekan. Lalu, apa komentar dia tentang pengahargaan tersebut? Berikut wawancara wartawan Suara Merdeka, Joko Dwi Hastanto, di sela-sela pertunjukan untuk ribuan anggota Unesco, di Paris belum lama ini.

Selamat! Anda telah mengantarkan wayang sehingga memperoleh penghargaan kelas dunia…

Terima kasih, matur nuwun. Sebenarnya penghargaan ini bukan bertolak dari jasa saya saja. Ini berkat kerja sama semua pihak yang melibatkan pengrawit, Senawangi, Pepadi, dubes Unesco, dan tentu saja semua rakyat Indonesia. Karena itu, penghargaan ini bukan untuk saya, melainkan untuk rakyat Indonesia.

Ya, tetapi paling tidak Andalah pemeran utamanya… Continue reading

Mulanya biasa saja


Kesukaan akan sesuatu, salah satu faktor pendukungnya adalah lingkungan. Lingkungan mempunyai pengaruh yang besar dalam mengarahkan kegemaran disamping tentu saja keinginan atau hasrat hati. Pengaruh lingkungan dapat berupa alam dan tempat tinggal atau manusia disekitar seperti keluarga, teman dekat, rekan sekerja, para tetangga.

Dulu saya tidak mengenal dan tidak terlalu suka dengan lagu-lagu Iwan Fals. Tapi karena kebetulan teman dekat cewek waktu itu suka Iwan, akhirnya saya jadi menyukainya juga. Awalnya untuk sekedar menyenangkan dia saja, lama-lam kok asyik juga.

Begitupun sosok Ebiet G. Ade. Karena hampir semua kakak suka dengar lagu-lagunya dan di rumah tersedia lengkap kaset-kasetnya, maka akhirnya sayapun jadi penggemar juga. Padahal waktu itu saya masih sekolah di SD dan saat itu sudah hafal lagu-lagunya.

Faktor lingkungan di kampung saya dahulu mengarahkan saya untuk menyukai musik berirama dangdut dan musik tradisional Jawa seperti gending karawitan, langgam dan juga wayang (dulu belum ada campur sari). Bagaimana tidak akan terpengaruh bila hampir di setiap rumah yang kita dengar adalah musik-musik Jawa. Pun pada saat ada kerjaan gotong royong, orang punya gawe atau sekedar santai sambil ngobrol di lincak pinggir jalan, yang selalu terdengar adalah itu juga.

Faktor yang mendukung lainnyapun bertebaran hampir disetiap sisi kehidupan kita. Siaran radio (masih AM) selalu mengumandangkan lagu-lagu Jawa, TVRI rutin menayangkan kesenian tradisional seperti kethoprak, dagelan dan wayang. Semua itu akhirnya mampu membentuk pola pikir dan kegemaran terhadap kesenian Jawa.

Pelajaran Macapat.

Bahkan saya ingat dulu saat kelas satu SMP di Klaten (sekitar tahun 80), ada pelajaran nembang Macapat disamping pelajaran Bahasa Jawa. Saya sudah lupa apa tepatnya nama mata pelajaran itu. Yang saya ingat, kita para murid diberi pelajaran nembang oleh guru beserta not-notnya untuk kemudian diuji satu persatu. Saya ingat betapa susahnya teman-teman waktu itu untuk menembangkan macapat saat diuji, maklum ketika itu para remaja cenderung suka lagu pop atau lagu Barat.

Dan saya selalu memperoleh nilai baik oleh guru karena katanya suara saya lantang dan cukup merdu dengan nada yang tepat. Weleh .. berbakat juga tho … :-) Saya tidak merasa GR karena itu adalah pernyataan guru bukan pernyataan saya lho. Karena sewaktu ada PORSENI dan salah satunya melombakan nembang macapat itu, guru saya menyayangkan karena saya tidak mengikutinya. “Coba kalau kamu ikut pasti kamu juara satu Pran !” begitu kata guru saya. Dan di raporpun terbukti nilai saya selalu yang tertinggi he he he …

Soal Wayang ?

Kegemaran akan wayang bermula karena di kampung saya waktu itu rutin setiap tahun mempergelarkan pertunjukan wayang setiap nyadran. Nyadran adalah tradisi menjelang bulan Puasa untuk berziarah ke makam para leluhur.

Setiap pagelaran membutuhkan biaya yang cukup besar dan itu ditanggung oleh seluruh warga kampung dengan iuran setiap KK tergantung status ke-petani-annya. Maksudnya status kepemilikan lahan sawah. Yang memiliki lahan sawah sendiri tentu menyumbang lebih besar dari petani yang lahannya kecil atau yang tidak memiliki sawah sama sekali (istilahnya buruh). Dan rumah yang menyelenggarakan pertunjukan itu dipilih secara mufakat melalui musyawarah dan tentu saja dengan kriteria-kriteria tertentu. Misalnya rumah harus besar dengan halaman yang cukup luas untuk menampung penonton.

Dan beberapa kali rumah Bapak warisan Simbah dipilih karena memenuhi kriteria. Rumah simbah adalah rumah joglo yang luas dengan halaman yang luas. Apalagi dinding pendopo terbuat dari kayu yang bisa dilepas untuk tempat layar dipasang sehingga mempermudah instalasi panggung.

Dan sesuai dengan prediksi maka begitu malam pertunjukan dimulai maka ramailah seantero kampung. Penonton dari tetangga kampung berdatangan, penjual-penjual kaki lima menawarkan dagangan dan akhirnya setelah pagelaran usai paginya menyisakan kotor dan penat. Tapi semua warga puas karena merasa terhibur dan dapat menghibur warga kampung lain.

PERINGATAN 100 HARI KI HADI SUGITO


Puspa Neka Graha Pentaskan Wayang Golek

14/04/2008 08:59:42

WATES (KR) - Paguyuban pedalangan dan karawitan, ‘Puspa Neka Graha’ menggelar pementasan wayang golek di Kriyan, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap. Pementasan dalam rangka memperingati 100 hari meninggalnya dalang wayang kulit Ki Hadi Sugito itu akan dibawakan dalang Ki Suparman Amat Jaelani dari Sentolo, Kulonprogo.

Panitia peringatan 100 hari meninggalnya dalang Ki Hadi Sugito, Suprasojo yang dihubungi KR mengungkapkan pergelaran pementasan wayang golek akan dilaksanakan hari Senin malam ini (14/4). Acara diawali dengan pembacaan Tahlil dilanjutkan dengan kenduri dan pementasan wayang golek. “Terselenggaranya acara ini atas inisiatif dari para seniman.

Acara diadakan sesederhana mungkin. Setelah acara inti terus dilanjutkan pementasan wayang golek dengan dalang Ki Suparman dari Sentolo,” kata Suprasojo. Menurutnya, Ki Hadi Sugito merupakan guru bagi para seniman dalang dan karawitan. Di masa hidupnya memiliki pendirian yang cukup kuat dalam usaha pelestarian wayang kulit. Jejak almarhum mengabdikan diri di dunia seni, menjadi panutan para seniman. Banyak dalang, katanya yang berusaha bisa mendalang seperti almarhum. Dalam memerankan tokoh wayang terasa hidup sehingga orang yang mendengarkan bisa membayangkan suasana dalam jalan cerita wayang.

Namun hingga sekarang belum ada yang mampu mengungguli kemampuan almarhum. Almarhum diidolakan para dalang muda. Bahkan, sebagian dalang ada yang merasakan seakan-akan almarhum masih hidup. Dalam peringatan 100 hari meninggalnya Ki Hadi Sugito mementaskan wayang golek dengan harapan wayang kulit dan wayang golek tetap lestari dan berkembang. (Ras)-g

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=159435&actmenu=36

Jaman Mataram Wis Nganggo Punakawan


WAYANG KULIT PURWA

28/04/2008 11:41:26

JAMAN Mataram mligine nalikane Amangkurat I kuwasa, wayang purwa wiwit nggunakake punakawan. Kaya kang ditulis dening Soekatno BA ing bukune Wayang Kulit Purwa, Klasifikasi, Jenis lan Sejarahe, mekare wayang purwa ngalami owah-owahan.

Jaman Mataram Mas Jolang (1601-1613), (Panembahan Seda Krapyak) uga nggatekake wayang kulit. Owah-owahan kang ditindakake, gawe wanda (pawakan) anyar. Antarane:

  • Arjuna wanda jimat (jimat = azimat, kesucian),
  • Bima wanda mimis (mimis = pluru = trampil),
  • Suyudana wanda jangkung (jangkung = ngayomi),
  • Raseksa Raton wanda Barong (barong = singa rambut dawa) lan sapanunggalane.

Uga ana dhagelan lan gapet wayang luwih becik.

Jaman Mataram Sultan Agung (1613-1645), wayang digawe kanthi mawerna-werna wujud mripat, kayata: liyepan, dondongan, thelengan, lan sapanunggalane. Uga gawe wanda (pawakan) wayang anyar kayata:

  • Baladewa wanda geger (geger = hura-hura),
  • Kresna wanda gendreh (gendreh = sifat mulya),
  • Arjuna wanda mangu (mangu = ragu-ragu),
  • Sembadra wanda rangkung (rangkung = langsing/singset),
  • Banowati wanda golek (golek = boneka),
  • Semar wanda brebes (brebes = luh utawa kaya arep nangis),
  • Bagong wanda gilut (gilut = ora duwe untu),
  • Semar wanda dhukun (dhukun = tabib),
  • Petruk wanda jlegong (jlegong = dhadha ciut weteng gedhe).

Dipengeti kanthi candra sengkala memet, wujud raseksa rambut geni = Buta Rambut Geni. Unine: Umurubing wayang gumuling tunggal, utawa taun 1563 Saka.

Jaman Mataram, Amangkurat I (1645-1677) Ana rong lakon yaiku:

  1. Lakon Kasepuhan kang digawe Kyai Panjang Mas. Crita iki digelar ana sajroning kraton, kanthi punakawan: Semar, Gareng, Petruk.
  2. Lakon Kanoman kang digawe Nyai Anjang Mas. Crita iki digelarake ing Kadipaten kanthi punakawan: Semar, Gareng, Petruk, Bagong. (Joko S/Top)-k KR-

SUTOPO SGH Punakawan ing wayang purwa koleksine Hadi Sukirno. 1

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=161138&actmenu=46

Menikmati Wayang Rasa Eropa


19/03/2008 09:12:13

KEMBALI ke romantisme Eropa masa lalu, sangat terasa saat menikmati opera The Nightingale alias Si Bul Bul di Auditorium LIP, Selasa (18/3) tadi malam. Rangkaian melodi orkestra yang diisi Dutch Chamber Music Ensemble dengan Arno van Houtert di Klarinet, Josef Auer pada Basson, Raymon Vievvermanns memegang terompet, Mark Boonstra untuk Trombon, Han Vogel memegang Perkusi; Adelina  Hasani pada Biola; Pia Pirtinaho di Double Bass yang dipimpin Ruud van Eeten mengiringi cerita yang dinarasi Sitok Srengenge.

Tontonan makin menghibur, dengan grafis karya Gustave Dore. Karikatur sederhana yang mengundang tawa ini disajikan Slamet Gundono, dalang yang tenar dengan wayang rumputnya lewat sehelai kanvas putih yang membimbing imajinasi penonton. Maka layak dibilang, pertunjukan ini seperti menonton wayang rasa Eropa. Wayang namun dilatari cerita daratan Eropa dan sentuhan teknologi proyektor.
Keunikan lain, orkestra memanfaatkan berbagai peralatan guna menyesuaikan narasi, misalnya saja, menggunakan tiupan napas menggambarkan badai salju, kucuran air saat bercerita banjir. Sehingga seluruh sajian terasa berbeda, menghibur dan tak membosankan.

Gagasan membuat versi Indonesia opera Si Bul-Bul karya komposer Theo Loevendie yang diambil dari dongeng Hans Christian Andersen, dari musisi Belanda Raymond Vievermanns dua tahun lalu. Ia ingin mempunyai burung Bulbul didramatiskan  dalang wayang kulit.

Sebagai pelengkap program, komposer Slamet Abdul Sjukur dan Roderik The Man serta Sitok Srengenge membuat ansambel baru, seperti petualangan ajaib Baron Von Munchhausen dan Kutang,
Selain Yogyakarta, potongan ensambel versi Indonesia tersebut dibawakan di beberapa kota besar Indonesia, mulai Jakarta dan Bandung pada 12 dan 13 Maret lalu, Surakarta 17 Maret dan berakhir di Taman Budaya Surabaya 20 Maret Esok. (Anna Karenina)

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=156520&actmenu=35

KI TARJONO DALANG RUWAT BANYUMAS


Sukses Jadi Juragan Soto Sekengkel

27/01/2008 05:36:48 NAMA

Ki Tarjono Wignyopranoto sebagai dalang wayang kulit sudah tidak asing lagi bagi masyarakat seni di Banyumas dan sekitarnya. Apalagi dalang terkenal yang merasakan masa kejayaan tahun 70-an tersebut, saat ini masih sering mendalang. “Tetapi sekarang saya lebih banyak mendalang untuk keperluan ruwatan. Karena itu sebutan saya sekarang adalang Dalang Ruwat,” kata Ki Tarjono yang pertama mendalang tahun 1965.

Ditemui KR, Kamis (24/1), di rumahnya sekaligus Pondok Soto Pak Jon’s miliknya, di Jl Karangrau Km 3 Banyumas, Ki Tarjono mengisahkan bahwa saat itu ia masih duduk di SMP. Sekolahnya tidak bisa selesai karena harus menggantikan ayahnya sebagai dalang wayang kulit. Sejak awal hingga sekarang, ia tetap setia pada pergelaran wayang gagrak Banyumasan. Bahkan Ki Tarjono saat ini merupakan salah satu narasumber yang selalu siap dan dengan suka rela menjelaskan wayang Banyumasan, kepada siapa saja yang memerlukannya.

Pada dekade 70-an sampai 80-an, Ki Tarjono boleh disebut sebagai dalang kondang. Saat itu ia bisa mendapat tanggapan sekitar 24 kali sebulan. Nama Tarjono sejak tahun 70-an bahkan tidak hanya dikenal di jagad pergelaran wayang kulit gagrak Banyumasan, tetapi juga terkenal di lingkungan seni ketoprak, lantaran ia menikahi Sudaryani, primadona ketoprak dari grup Sami Aji pimpinan Hardi Timbul (sekarang Timbul Srimulat).

Dari pernikahan dengan Sudaryani, Ki Tarjono dikaruniai lima anak, dua di antaranya kembar. Namun dari kelima anak itu, saat ini hanya Setyorini (anak sulung) yang menggeluti kesenian tradisional wayang kulit. “Kebetulan suami anak saya memang dalang wayang kulit, yaitu Kukuh Bayu Aji,” jelas Ki Tarjono yang sekarang lebih dikenal sebagai juragan soto sekengkel khas Banyumas. Sementara itu Nyi Sudaryani selain membantu berjualan soto juga membuka usaha rias pengantin.
Sejak tahun 1980, Tarjono memang merintis usaha jualan soto khas Banyumas. Saat itu usaha tersebut cukup laris, sehingga banyak pengusaha lain yang berjualan soto dengan ‘label’ Soto Khas Banyumas. “Meskipun demikian saat itu soto saya tetap laris karena kami punya resep yang benar-benar khas,” katanya.

Namun, lanjut Tarjono, pada suatu hari ada seorang wedana yang sudah menjadi pelanggan, menyarankan agar nama warung Tarjono lebih menonjolkan kekhasannya, yakni Soto Sekengkel Khas Banyumas ‘Pak Jon’. Saran tersebut dilaksanakan dan sampai sekarang Soto Sekengkel Pak Jon semakin laris.  Bahkan sejak beberapa waktu lalu banyak pelanggan dari Yogya, Solo, Jakarta, Bandung dan kota-kota besar lainnya. Menu utama tetap soto sekengkel dan soto torpedo. “Tetapi sekarang bertambah lagi, sehingga ada Soto Neko-neko, Soto Granat, Soto Daging, Es Jerman dan Es Teman,” tambah Ki Tarjono Wignyopranoto.

(Job)-c

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=150509&actmenu=45

MENGENANG PENGABDIAN KI HADI SUGITO DI JAGAD PERKELIRAN


Dalang, Faktor Utama Keadiluhungan Wayang Kulit

PAKEM pewayangan adalah paugeran pergelaran wayang yang harus dipatuhi oleh para dalang. Meskipun demikian, isen-isen ajaran dalam pergelaran wayang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Nut jaman kelakone. Bahkan dalam adegan tertentu, omongan tokoh-tokoh tertentu juga tidak ditabukan glenyengan atau dleweran ke permasalahan yang sedang aktual di masyarakat. Bahkan ketika sedang dalam jejeran, tiba-tiba Janaka terkentut, sebenarnya juga bukan hal yang tabu. Bukankah Janaka itu juga gambaran sesosok manusia biasa?

Pernyataan itu disampaikan Ki Hadi Sugito kepada KR pada tahun 1987. Saat itu gaya pewayangan Ki Hadi Sugito dinilai telah mengalami loncatan jauh maju ke depan, inovatif dan kreatif. “Dalam soal lakon, kalau memainkan lakon-lakon babonan saya selalu sama persis dengan apa yang ada di pakem lakon. Tetapi kalau memainkan cerita-cerita carangan, saya memang banyak menafsirkan sendiri dan saya sesuaikan dengan situasi dan kondisi sewaktu saya mendalang. Cerita-cerita carangan itu kan juga diciptakan sendiri oleh mbah-mbah buyut kita?” tegas Ki Hadi Sugito saat itu.

Selain dikenal ada keseimbangan antara tontonan (entertainment) dan tuntunan (ajaran pendidikan), gaya pedalangan Ki Hadi Sugito sejak tahun 70-an dikenal selalu dikemas segar namun berbobot. Kehebatan vokal dan antawecana dalang asal Kulonprogo itu dikenal sangat enak didengar dan ada harmoni antara suara dalang dengan gendhing pengiring. Karena itu banyak panggemar wayang kulit yang merasa seolah-olah melihat kehidupan nyata ketika mendengarkan pergelaran wayang kulit oleh Dalang Hadi Sugito, meskipun hanya lewat siaran radio atau rekaman audio.

Peran sentral Ki Hadi Sugito dalam pergelaran wayang kulit gagrak Yogyakarta sudah tidak diragukan. Ia adalah salah satu dalang yang tetap berpegang kuat pada pakem pergelaran wayang kulit gaya Yogya. Ia sama sekali tidak terseret arus dalang-dalang lain yang ‘terjebak’ pada pergelaran wayang yang hanya mengutamakan segi tontonan dan mengabaikan fungsinya sebagai tuntunan.
Dalam kondisi para pemerhati seni tradisi sedang prihatin lantaran jagad perkeliran yang sedang carut-marut, 9 Januari lalu mendadak terdengar kabar bahwa Sang Maestro Dalang Yogya, Ki Hadi Sugito, meninggal dunia. Berita itupun benar adanya, dan Ki Hadi Sugito dimakamkan di Sasana Laya Genthan Panjatan Kulonprogo, 10 Januari 2008 tepat 1 Sura 1941 (1 Muharam 1429 H).

Keprihatinan para pemerhati seni dan para dalang wayang kulit klasik bertambah, karena saat ini sebenarnya pedalangan gaya Yogya sangat memerlukan tokoh panutan, seperti Ki Hadi Sugito. Keprihatinan itu antara lain diungkapkan oleh Ki Cerma Sutedjo, Ki Sumono Widjiatmodjo dan sejumlah dalang lain. Sebab menurut mereka, dalang merupakan faktor utama keadiluhungan pergelaran wayang kulit. “Untuk saat ini Ki Hadi Sugito adalah figur yang paling pas dijadikan panutan para dalang muda khususnya, agar pergelaran wayang gaya Yogya tetap adiluhung,” kata Ki Cerma Sutedjo.

Dalang asal Surakarta, Ki Purba Asmoro SKar MHum menilai bahwa kalau mendalang, seolah roh Pak Hadi Sugito bisa masuk ke tubuh wayang, terutama kalau sedang memainkan tokoh Durna, Togog dan Mbilung. Kehebatan antawecana sampai membuat wayang seolah benar-benar hidup pada zaman sekarang, adalah kemampuan Ki Hadi Sugito yang tidak dimiliki oleh dalang-dalang lain. “Pak Gito benar-benar dapat menghidupkan wayang sesuai zamannya. Namun pergelaran wayang yang dimainkan Ki Hadi Sugito tetap bergaya klasik, sesuai aturan dan tatanan yang adiluhung,” tegas Ki Purbo ketika mewakili para seniman dalam upacara pemberangkatan jenazah Ki Hadi Sugito, Kamis (10/1) lalu.
Sebagai pelaku kesenian adiluhung, lanjut Ki Purbo, pengabdian Ki Hadi Sugito sudah tatas-tuntas. Ia telah mendarmabaktikan hidup sepenuhnya kepada kesenian tradisional yang adiluhung menjadi kesenian yang mampu mengikuti perkembangan zaman. “Sikapnya yang enthengan kepada sesama seniman dan sikapnya yang tegar berpegang pada pakem pewayangan klasik Gagrak Ngayogjakarta, merupakan sikap yang sangat pantas diteladani, agar pergelaran wayang kulit benar-benar tetap adiluhung,” tandasnya.

Tentang keadiluhungan pergelaran wayang, Ir Haryono Haryoguritno dari Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) mengatakan, suatu karya seni dapat mencapai kemahakaryaan karena ditentukan oleh manusia pelaku seni (seniman yang bersangkutan, dalam hal ini dalang), suasana sekitar yang mendukung pergelaran, iklim berkesenian di suatu daerah, dan faktor-faktor lain yang mendukung keadiluhungan pergelaran wayang.

Mengutip isi buku pedalangan Sastramiruda, Ir Haryono Haryoguritno menguraikan bahwa untuk menuju keadiluhungan pergelaran wayang, seorang dalang harus memenuhi 12 syarat. Di antaranya antawecana (menyuarakan secara tepat masing-masing tokoh wayang), renggep (dapat menyajikan tontonan yang mengasyikkan, nges (dapat mendramatisasi adegan sehingga mampu membangkitkan rasa keterlibatan penonton/pendengar), tutug (dapat menyajikan lakon sampai tuntas), gecul/banyol (dapat membuat lelucon) dan kawiradya (dapat membedakan janturan untuk masing-masing adegan.
Ketua Pepadi Kulonprogo, Ki Sumono Widjiatmodjo mengatakan, Pak Gito sangat dikenal sebagai dalang gecul ning ora saru. Dalam hal antawecana, Pak Gito sangat jagoan, terutama ketika memainkan tokoh Durna, Togog dan Mbilung. Bahkan dalam lakon Bagong Kembar, penonton atau pendengar dapat dengan jelas membedakan mana Bagong yang asli dan yang palsu.
“Soal nges lan greget, Pak Gito selalu dapat menarik perasaan orang lain terlibat dalam pergelaran wayang. Apalagi kalau sedang memainkan tokoh Durna yang jahat, sehingga ada penonton di Ngambal Kebumen benar-benar sangat membenci Durna dan mencabut wayang Durna yang sedang dimainkan Ki Hadi Sugito,” kata Ki Sumono.

(Joko Budhiarto)-c

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=149718&actmenu=45

Wayang Kulit:Eksistensi Perajin Antargenerasi


Rabu, 23 Mei 2007

Selain identik dengan budaya Jawa, wayang kulit kini juga sudah menjadi budaya nasional dan merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Tidak hanya tampil dalam pagelaran, wayang kulit kini juga banyak digunakan sebagai pajangan dan produk kerajinan tangan lainnya.

Memang wayang kulit selama ini identik dengan tokoh-tokoh pewayangan, seperti Gatot Kaca, Semar beserta anak-anaknya atau Arjuna. Wayang kulit selalu dikonotasikan barang-barang budaya yang selalu digunakan dalam pagelaran semalam suntuk dengan lakonnya masing-masing.

Kini, wayang kulit yang merupakan produk berbahan baku kulit binatang seperti sapi, kerbau, kambing, dan lainnya itu banyak diproduksi sebagai produk yang dikategorikan sebagai suvenir. Kini, tokoh-tokoh wayang hadir pada produk lukisan, topeng, kap lampu, pembatas buku, gantungan kunci, kipas, dan aneka suvenir lainnya.

Salah satu yang hingga kini masih menggeluti usaha membuat produk wayang kulit serta produk kerajinan dan suvenir lainnya itu adalah Sugeng Prayogo. Pria asal Bantul, Yogyakarta ini mengaku sudah memproduksi wayang kulit serta produk aneka kerajinan/souvenir sejak tahun 2000.

Sosok muda dan energik ini membuat wayang kulit dan produk kerajinan wayang lainnya di rumahnya di wilayah Timbul Harjo Sewon, Bantul, Yogyakarta. Sugeng memiliki 5 karyawan yang membantu dirinya memproduksi dan memasarkan wayang kulit serta produk kerajinan wayang lainnya itu. Saat ini, Sugeng memproduksi sekitar 20 jenis produk wayang kulit dan lainnya dengan volume produksi mencapai 10.000 unit produk per bulan.

“Saya ini sudah mengenal seni wayang kulit sejak umur 6 tahun. Kakek dan Bapak saya dalang, sehingga saya sudah akrab dengan tokoh-tokoh wayang dan sering mengikuti pagelaran sejak kecil. Saya ini sudah generasi ketiga,” kata Sugeng ketika ditemui Suara Karya saat mengikuti pameran di Plasa Industri Departemen Perindustrian, Jakarta, kemarin.

Selain memliki tempat produksi di kediamannya, Sugeng kini juga sudah memiliki gerai seni (artshop) di Malioboro Yogyakarta dan di Batam sebagai media untuk mempromosikan wayang kulit dan produk kerajinan/souvenir lain dari kulit. Selain itu, Sugeng juga secara intensif memasok ke toko-toko atau galeri seni yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Harga produk-produk wayang kulit dan turunannya produksi Sugeng dan karyawnnya mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 500.000 per unit. Pendapatan kotor usaha yang bernama Wahyu Art ini mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per bulan.

“Saya memproduksi wayang kulit dan produk souvenir berbasis wayang dengan tingkat kerumitan cukup tinggi dan lebih halus. Untuk satu produk wayang kulit dengan tokoh pewayangan atau wayang gunungan bisa memakan waktu satu minggu. Kualitas dan tingkat seninya selalu saya jaga,” tutur Sugeng.

Mungkin karena kualitas dan kehalusan tersebut, hingga saat ini para pembeli maupun kolektor masih memburu wayang kulit dan produk kerajinan berbasis wayang kulit lain yang dibuat Sugeng. Hingga saat ini, Sugeng juga masih mengerjakan produk wayang kulit pesanan para dalang yang masih eksis saat ini, maupun dari sanggar-sanggar seni.

Meski demikian, Sugeng mengaku, usaha produksi wayang kulit dan produk kerjainan turunannya itu bukanlah tanpa masalah. Saat ini, dua hal yang masih menjadi penghambat pengembangan usahanya, yakni masalah pemasaran dan mahalnya bahan baku.

Saat ini harga kulit kerbau atau sapi sudah mencapai Rp 50.000 per kilogram atau untuk kulit satu ekor bisa mencapai Rp 400.000 hingga Rp 600.000. “Untuk produk saya sebenarnya yang paling ideal kulit kerbau. tapi kita tahu sendiri jumlah kerbau sendiri sudah semakin berkurang. Sementara kulit sapi banyak peminatnya,” ujar Sugeng.

Sementara, masalah minimnya promosi dan keikutsertaan dalam pameran membuat produk Sugeng tidak banyak diketahui masyarakat. Masyarakat hanya tahu kalau mengunjungi Yogyakarta, Batam, atau Jakarta. Untuk itu, Sugeng sangat berharap bantuan pemerintah daerah dan pusat agar tetap bisa ikut pameran.

“Saya ingin terus ikut pameran, tapi memang tidak mudah. Ini karena banyak produsen dan pengusaha yang sampai mengantre untuk ikut pameran. Jadinya promosi yang saya lakukan sangat terbatas,” kata Sugeng. (Andrian Novery)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=173616