Tag Archives: semar kuning

Semar Kuning [17]


Punakawan_WP1

“Begini Kresna, kesalahan yang engkau lakukan cukup fatal. Bukan lantaran engkau meludahi kuncung Semar saja. Meskipun itu sangat menghinakan, namun itu adalah hanya sebagai akibat dari sikapmu yang sombong dan mengagungkan kekuasaan yang engkau miliki. Sebagai titisan Wisnu sudah selayaknya engkau mengayomi sesama dan alam raya ini sehingga tercipta kedamaian dan keadilan, buka

n malah kekuasaan yang engkau miliki dipergunakan untuk merendahkan orang lain dan meninggikan dirimu pribadi. Kesombonganmu dengan mengatasnamakan kekuasaan Wisnu dalam kemampuan mengubah warna dunia, adalah tidak benar adanya. Dirimu memang memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dipunyai oleh satria atau para raja lainnya. Ilmumu sangat luas namun tidak membuatmu lebih bijaksana dalam bertindak. Engkau masih mudah dipengaruhi oleh nafsumu untuk menunjukan kepada dunia bahwa Kresna adalah satria pinilih, satria kekasih dewa. Padahal justru dengan kedudukan itulah seharusnya engkau lebih rendah hati, mampu sabar dalam menghadapi segala kendala, bisa menerima saran dan kritik orang lain jika memang itu benar adanya dan mempergunakan ilmumu untuk kesejahteraan umat manusia dan alam raya ini”

Sejenak Semar menghela nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan kata-katanya :

“Dengan berat hati kukatakan bahwa akibat perbuatanmu itu, anakmu Siti Sendarilah yang menanggung akibatnya. Benar bahwa sekarang dia telah resmi menjadi istri dari anak Arjuna, Abimanyu. Namun kehendak dewa mengatakan bahwa dari perkawinan itu, kelak anakmu tidak akan memperoleh keturunan !”

Terkejut yang hadir mendengar kata-kata terakhir Semar. Meskipun pelan disampaikan namun bak petir di siang hari bolong, seketika dengan menggelegar menyambar perasaan hati yang hadir, terutama bagi Kresna dan Arjuna. Muka Kresna tampak pucat sungguh. Didongakkan pelan wajahnya memandang Semar yang tepat berada di depannya. Namun setelah melihat wajah teduh Semar dan merasakan perbawa yang terpancar, ditundukan kembali wajahnya seraya berkata :

“Pukulun … hamba terima ketentuan dewa ini. Meskipun dengan berat hati dan dada ini rasanya sesak perih, hamba terima semua yang pukulun katakan. Aduh … anakku Siti Sendari … Siti Sendari … maafkanlah Ramamu ini yang cubluk dan tak tahu diri hingga menyebabkan engkau menderita Nak ….” begitu sedihnya Kresna hingga tak terasa tangis tlah mengambang di pelupuk matanya.

Dibayangkan betapa nelangsa anaknya pabila mengetahui hal ini. Di dunia ini, wanita mana yang tidak ingin memiliki buah hati yang dilahirkan dari rahimnya, buah kasih sayang antara dia dan suaminya, buah cinta yang terwujud sebab lahirnya seorang putra yang kelak akan melanjutkan keturunan dari orang tuanya untuk memulyakan dan mengharumkan nama keluarga. Dan seorang istri yang tak mampu memberi keturunan adalah sebuah aib yang besar bagi dirinya dan keluarganya. Tak tega rasanya membayangkan itu semua. Seketika terbayang wajah anaknya Siti Sendari yang sekarang tentunya tengah berbinar dan bercahaya lantaran sedang memadu kasih dengan suaminya Abimanyu, mereguk indahnya cinta, tiba-tiba kan berubah menjadi muram dan nestapa seketika pabila mengetahui perkara ini. Ah … sungguh duka meliputi hati Kresna. Benar kata orang bijak, sesal datang kemudian, sesal muncul setelah segalanya terjadi dan tak mungkin dapat diulang lagi. Continue reading

Semar Kuning [16]


arjuna

Sungguh indah pabila dapat dijadikan sbagai pengingat jiwa
tiada guna berfikir yang berada disitu dan disana
lha wong disitu dan disana ternyata ada disini
dulu sekarang dan kelak hari
kan terengkuh dalam SEKARANG ini
namun waspadalah slalu duhai
pabila di renungkan dalam hati
hal itu sangat berbahaya terjadi

kalau keliru hingga tersesat budi
sungguh kan peroleh malapetaka abadi

Renungkanlah hanya dalam suasana hening
heninglah sejatinya keberadaan
keberadaan itu sejatinya
adalah sebenar-benarnya hidup
menghidupi semesta kehidupan
asal jadinya dari tidak
tidak artinya
si TIDAK mengandung maksud keberadaan
keberadaannya memiliki rupa tiada lebih
sungguh nyata tlah disandang

Pertanda pabila tlah diperoleh
perilakunya sungguh serba sederhana
mampu melihat hal-hal gaib
tuk kebahagiaan hidup
tak tergoda tuk mengagungkan diri
hanya ketentraman bersama yang diberi
tak ada keangkuhan dan kesombongan
sungguh tidak diragukan lagi
itulah yang disebut manusia sejati
mengerti akan sangkan paran, asal dan tujuan hidup

Berakhirnya tembang menghadirkan keheningan suasana. Kresna, Bima dan Arjuna serta Gareng Petruk dan Bagong tidak berani bersuara. Mereka hanya duduk bersimpuh di bawah lincak itu. Mereka sadar bahwa sosok di depannya itu hanya wadagnya saja Semar, sementara jiwanya tlah menitis Batara Ismaya.

Cukup lama suasana diam tercipta, hingga kemudian Semar membuka matanya pelan-pelan. Dipandanginya sosok-sosok yang berada di depannya satu persatu dan kemudian berujar pelan :

“Cucu-cucuku semua, smoga Yang Maha Kuasa memberikan rahmad dan kasihNYA kepada kalian semua. Kalian tahu akan makna tembang tadi bukan ? Intisari yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi hidup kita adalah bahwa hal yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menggapai kemampuan dalam mengerti gaibnya keberadaan, gaibnya hidup dan juga gaibnya Kang Murbeng Dumadi, Tuhan semesta alam, sejatinya tidak perlu difikirkan, dibayangkan ataupun dicari kemana-mana. Sebab sesungguhnya hal itu dapat di temui dalam diri kita sendiri dan semuanya tlah kita sandang serta miliki. Sebenarnyalah hal-hal tersebut sudah saling menyatu, hanya saja masih terhalang antara alam gaib dengan alam nyata.” Continue reading

Semar Kuning [15]


BAGONG

Dan di kaki gunung Tidar, Kresna, Bima dan Arjuna serta ketiga panakawan, Gareng, Petruk dan Bagong, tengah menyaksikan itu semua. Mereka memandang takjub fenomena cakrawala di sekitar gunung itu bermandikan cahya kekuningan. Indah dan menawan dan menyisakan kedamaian saat menikmatinya.

“Awas Gong, lalat mau masuk ke mulut mu tuh ! Lagian lihat yang di atas sampai ndlongop gitu

, ngowoh lagi, iler dleweran sampai nggak terasa. Tutup cangkemmu Gong !” Petruk menepuk bahu Bagong yang tengah menengadah.

“Ora ngono Kang, bukan begitu Kang Petruk, apa Kang Petruk tidak tahu tabiat saya kalau lagi serius. Ya begini nih Bagong kalau lagi berfikir keras !”
“Lho, emangnya apa yang sedang engkau pikirkan Gong ?”

“Aku sedang mengingat-ingat jaman dulu, sepertinya aku pernah melihat pemandangan yang seperti ini. Oh iya Kang aku kelingan, aku ingat ….. dulu waktu aku muncul pertama kali di dunia ini, suasananya ya kayak begini nih’
“Lho kamu tuh nggak dilahirkan sama mamih Kanastren to Gong ?”

“Waktu itu perpisahan antara Ramane Semar dengan Resi Manumanasa yang akan mukswa meninggalkan dunia ini. Ramane sedih karena tidak akan ada teman lagi kelak seandainya Resi Manumanasa sudah tidak ada. Akibat kesedihan Ramane, sekaligus keinginan tetap bersama karib, guru, sekaligus ndara, namun di pisah oleh takdir, Ramane berduka dan alampun ikut berpartisipasi karenanya. Hingga berdasarkan petunjuk Resi Manumanasa, maka aku kemudian nongol dari bayangan Ramane Semar. Makanya aku kan mirip banget sama Ramane. Waktu kejadian itu, suasananya ya seperti ini nih. Serem dan menghanyutkan”

“Masak serem sih Gong, lha wong kalau saya merasanya justru syahdu dan menentramkan hati kok”
“Terus critanya Gimana Gong ?” tanya Gareng ingin tahu.

“Ramane pernah crita sama aku, bahwa cahya kuning adalah warna persahabatan. Juga warna kuning melambangkan sinar sang bagaskara, cerah, membangkitkan energi dan ketetapan hati. Namun ada kalanya sifat positif tadi berbaur dengan energi negatif akibat sedang galau, gundah, sedih atau tiba-tiba muncul keinginan yang tidak lumrah.”

“Wah menarik sekali Gong, terus bagaimana pangandikane Kakang Semar ?” Arjuna yang merasa tertarik pun ikut bertanya.
“Ehm … ehm .. ehm .. wah wah wah … Bagong lagi di tanggap nih. Jarang kula memperoleh kesempatan seperti ini, memperlihatkan kapasitas, kapabilitas, kualitas dan intelektualitas diri Bagong. Bukan begitu nDara Janaka ?”

“Halah … trembelanmu Gong !” ujar Gareng sebel kalau sudah melihat Bagong jumawa begitu
“Iya Gong, silahkan lanjutkan ujaranmu yang serba tas tas tas tas tadi” lanjut Arjuna coba hangatkan suasana.

“Begini semuanya … oh sebentar … sebentar … apakah nDara Werkudara dan nDara Kresna juga mendengarkan yang saya wedarkan ini ?” suara Bagong meninggi seiring dengan tingginya ke-pede-annya.
“Heeeemmmmm …” Werkudara hanya mendehem.
“Lanjut Gong !” Kresna meminta Bagong meneruskan cerita. Continue reading

Semar Kuning [14]


semar

Nun .. di puncak sebuah bukit yang sedikit berkabut, pagi itu sinar sang surya mulai menghangatkan tanah dan pohon-pohon di hutan kecil di sekelilingnya. Meskipun gunung itu terbilang kecil bila dibandingkan dengan gunung-gunung di sekitarnya yang menjulang dan mengelilinginya, namun justru seolah menjadi pemimpin para gunung-gunung itu. Mengapa dibilang begitu ? Berdasarkan mit

os yang berkembang di masyarakat sekitar, gunung itu adalah pakunya tanah Jawa. Gunung itu persis berada di tengah-tengah pulau Jawa. Gunung itu memiliki perbawa bagi sesiapa yang memandangnya dan memikirkannya.

Walaupun hutan-hutan di gunung itu tidak terlalu lebat, namun tidak ada satupun penduduk sekitar yang berani menjamahnya. Tersiar kabar dari mulut ke mulut bahwa siapa saja yang menginjakkan kaki memasuki hutan di gunung itu, niscaya pulang hanya kembali nama saja. Kata orang, di hutan gunung itu terdapat banyak orang linuwih, pun berbagai jenis jin setan perayangan yang memiliki kesaktian dan kekejaman tak terkira. Hanya para satria yang kuat hati dan memiliki kedigdayaan bak dewa saja yang mampu dan berani melewati hutan dan bermalam di gunung itu.

Namun pagi itu, ternyata di puncak gunung telah ada seseorang yang tengah duduk bersantai di depan sebuah gubuk sederhana. Entah sejak kapan orang itu berada di situ karena tidak terlihat saat dia mendaki ataupun melewati lereng hingga sampai puncak. Dan anehnya para penghuni hutan dan gunung itu tidak ada yang tahu.

Sosok itu sungguh unik. Badannya pendek bulat, wajahnya bisa dibilang berantakan. Namun bila dipandang sangat nyaman dirasakan. Tidak lain dan tidak bukan, itulah sosok Semar.

Sambil bersantai menikmati indah dan sejuknya pagi, dia menembangkan tembang macapat. Bersenandung lirih seraya merenungi nada dan maknanya.

Mingkar-mingkur ing angkara
akarana karênan mardisiwi
sinawung rêsmining kidung
sinuba sinukarta
mrih krêtarta pakartining ngèlmu luhung
kang tumrap nèng Tanah Jawa
agama agêming aji Continue reading

Semar Kuning [13]


bima-2

Bima adalah manusia lurus hati dan teguh sikap. Apa adanya, lugu, jujur dan tiada bengkok pikirannya. Segala tindakannya hanya mengarah kepada satu tujuam yaitu mencari kesejatian hidup. Semua manusia dianggapnya sama sehingga kepada semua orang dia berbahasa ngoko (tingkatan bahasa lebih rendah daripada basa krama yang biasanya dipergunakan untuk pembicaraan yang dilakukan dalam satu level, semisal antara teman, sesama bocah atau antara orang yang sepantaran umurnya). Bahkan kepada dewa sekalipun hal itu dilakukan. Namun tidak berarti Bima mengecilkan semua orang, hal itu sebagai perlambang bahwa kedudukan semua manusia adalah sama di hadapan Yang Maha Kuasa, yang membedakan adalah kualitas pemahaman dan tindakan dalam iman kepada NYA. Satu-satunya anomali yang terjadi adalah saat Bima berhadapan dengan Dewa Ruci saat Sang Bima mencari air kehidupan dan kesempurnaan hidup (baca kisah Dewa Ruci atau Bima Suci).

Bima berdiri tegak di tengah alun-alun itu seraya mulai merenung. Dijernihkan suasana hati dan pikirannya. Hening, sepi dan perbawa malam membuatnya dapat berfikir tenang. Dirangkai ulang kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya. Meskipun masih ada yang mengganjal di hatinya, diniatkan untuk tidak hendak menyalahkan siapa saja dalam hal ini. Baik Puntadewa kakaknya, ataupun adiknya Janaka, pun Kresna saudara tua yang sangat dihormatinya. Yang berada dalam benaknya sekarang adalah bagaimana solusi yang harus dieksekusi. Akhirnya, dengan kemantaban niat maka diputuskan untuk segera mengejar Kresna untuk mencari adiknya Arjuna.

Dipercepat langkahnya terlihat setengah berlari. Hingga tak lama kemudian telah sampai di luar kota raja dan tanpa menunggu waktu segera dilanjutkan perjalanannya menembus malam menuju perbatasan Dwarawati. Bima tak tahu sekarang adiknya ada dimana, namun instingnya dan kedekatan hati dengan adiknya mengarahkan dirinya untuk melangkah ke barat daya.

Berjalan tengah malam di hutan gung liwang liwung tak menyurutkan semangat Bima tuk menghentikan perjalanan dan mengistirahatkan tubuhnya. Bima adalah satria Pandawa yang tak manja dan tlah terbiasa serta tertempa oleh berjuta pengalaman pahit yang mengharuskannya tuk selalu berjuang dan berkorban. Berjalan menyusuri hutan belantara berhari-hari lamanya tanpa istirahat dan hanya hanya kemasukan buah dan air seteguk, baginya sudah lumrah. Kisah hidupnya penuh dengan petualangan dan hutan belantara serta lautan lepas adalah laksana rumah keduanya yang begitu akrab digaulinya.

Saat melewati gelapnya hutan itu, terbayang kisah masa lalu ketika dirinya mengendong adiknya Pinten Tangsen, sesekali juga ibunya Kunti bila dilihatnya telas payah berjalan, tersuruk-suruk menerabas hutan setelah terlepas dari malapetaka terbakarnya istana kardus rekayasa kakak-kakaknya Kurawa. Dia bahu membahu bersama adiknya Arjuna menaklukan hutan tuk lepas dari ancaman Kurawa. (baca kisah Bale Gala Gala)

Malam telah berganti pagi, meskipun jalan yang dilalui masih gelap karena pohon-pohon raksasa menutupi sinar bagaskara yang mulai muncul, namun di beberapa tempat yang tidak begitu rimbun pepohonan, sinarnya mulai menampakan diri dan menandakan bahwa kehidupan masih berjalan dan siang tlah membalik malam.

Meskipun badan belum terasa lelah, namun saat melihat sebuah telaga di depannya diputuskannya untuk menghentikan langkah di sisi telaga itu. Kemudian dicarinya tempat yang bersih dan layak untuk bersemedi. Segera setelah diperolehnya tempat itu, maka Sang Bima duduk bersila dan segera terhanyut dalam mengheningkan cipta memohon petunjuk Sang Maha Pencipta akan langkah yang hendak dituju. Hening suasana di sekitar telaga di tengah hutan diselingi sesekali suara binatang hutan yang ria memulai hari.

Tak beberapa lama kemudian, dirasakan kemantaban hati Sang Bima semakin terpatri. Hingga kemudian setelah meminum air telaga barang beberapa reguk, dilanjutkan perjalanannya.

Siang menjelang, pagi mulai memudar, sang bagaskara bergerak menuju tengah cakrawala. Panas sinarnya mulai menghangatkan suasana hutan. Dan Bima pun tetap melanjutkan perjalanannya dalam diam. Hatinya yakin bahwa tak akan lama lagi apa yang diharapkan segera terwujud. Instingnya mengatakan bahwa adiknya Arjuna berada tak jauh dari dirinya sekarang ini. Dan benar saja, telinganya yang tajam menangkap sayup-sayup percakapan antara dua orang. Segera dipercepat langkahnya dengan berlari menuju asal suara. Continue reading

Semar Kuning [12]


Terkejut semua yang hadir ditempat mulia itu. Semua sadar bahwa apa yang dikatakan Puntadewa bukan hanya gertak semata. Kata-katanya niscaya akan dibuktikan adanya. Puntadewa terkenal sebagai orang yang jujur, tidak pernah menyakiti orang lain dan bahkan akan memberikan apapun yang dipunyai bila orang memintanya. Oleh karenanya dia digelari sebagai Ajatasatru, tidak punya musuh,

karena memang pada kenyataannya satu orangpun tidak pernah menjadi musuhnya. Lawan apalagi kawan semua segan dan hormat pada Puntadewa ya Sang Darmaputra.

Puntadewa berwajah tenang, berpenampilan sangat sederhana dan bertutur kata lemah lembut kepada siapa saja. Tidak peduli pabila berhadapan dengan rakyat jelata yang miskin sekalipun, niscaya akan dihormati dan dihargai layaknya kawan dekat ataupun saudara kandung.

Puntadewa setelah menjadi raja pun tidak berpakaian yang serba mewah dan penuh kemegahan. Pakaiannya sangat sederhana dan tidak mengenakan mahkota raja yang menurutnya dapat merenggangkan hubungan baiknya dengan orang lain, menjauhkan jarak karena perbedaan kasta. Juga dia terkenal sangat sabar hingga orang menyangka darahnya berwarna putih.

Di dalam dunia pewayangan, ada tiga tokoh yang berdarah putih yaitu : Subali, Begawan Bagaspati dan Puntadewa.

Bagaspati adalah seorang begawan di Argabelah. Dia adalah mertua dari Prabu Salya di Mandraka. Anaknya Pujawati diperistri oleh Narasoma, nama muda dari Prabu Salya, yang karena kelicikan Narasoma dan begitu cintanya pada anak satu-satunya, Bagaspati kemudian menyerahkan nyawanya dengan mentransfer ajian Candrabirawa. Kisah pilunya dapat dibaca disini http://wayangprabu.com/2011/02/07/utang-piutang-bagaspati-–-narasoma/.

Begitupun Puntadewa. Kisah kalah main dadu melawan saudaranya Kurawa yang dibungkus oleh kelicikan Sengkuni, sepenuhnya bukan karena Puntadewa suka berjudi, melainkan karena enggan menolak ajakan saudara tuanya, apalagi sebagai seorang satria pantang menolak sebuah tantangan. (Dalam hal ini walaupun bersikap baik, namun Puntadewa tidak tepat menerapkannya. Menurut ajaran agama, tidak boleh menerima ajakan dari orang tua sekalipun kalau itu mengarah kepada kesesatan).

Begitupun saat ini. Sifat “keras” dalam selalu menjaga perasaan orang lain, malah menyebabkan merasa terpukulnya jiwa adik-adiknya, terutama Werkudara. Namun disisi lain, ada jiwa yang tengah bergolak. Ada jiwa yang gundah dan gelisah. Ya … pengaruh kejujuran, belas kasih dan kemurnian sikap Puntadewa, membukakan mata hati Kresna akan kebenaran. Meluluh lantakkan kesombongan yang selama ini membalut hatinya. Melumerkan sikap merasa paling benar dan paling kuasa karena ke-wisnu-annya. Membuat jiwanya terhanyut dalam nuansa hening nan berwibawa. Menyesali atas kepongahannya, perlakuan menyepelekan kepada adiknya Arjuna, menghina abdi kinasihnya Semar dan memandang rendah kakaknya sendiri Baladewa.

Bulir air mata mengambang di pelupuk mata Kresna. Dalam kisah dan masalah apapun mana pernah Kresna menangis. Namun kali ini hatinya menangis, walau air mata tanpa isak hanya meleleh satu dua, namun dampaknya sungguh luar biasa. Seketika wajah Kresna meneduh, matanya merunduk. Dan dengan suara yang teramat lembut berucap :
Continue reading

Semar Kuning [11]


Di sitinggil Amarta telah duduk sulung Pandawa, Prabu Puntadewa, di hadapan adik-adiknya minus Arjuna. Disebelah kanannya, berdiri dengan tegak Bima ya Werkudara serta di sebelah kiri berdiri si kembar, Nakula dan Sadewa. Amarta tengah kedatangan tamu agung yang sekarang sedang menghadap. Siapakah tamu agung itu ? Ternyata mereka adalah Prabu Kresna, Prabu Baladewa dan rombongan

. Prabu Kresna dan Prabu Baladewa di atas kereta Jaladara setelah menghindari bencana, akhirnya sepakat untuk mengungsi ke Amarta menemui adik-adiknya Pandawa, sekaligus untuk mewartakan apa yang tengah di alami Dwarawati.

“Selamat datang di Amarta Kakang Prabu Kresna dan Baladewa. Sayang sekali tidak mewartakan kabar kedatangan terlebih dahulu sehingga kami tidak dapat menyambutnya dengan baik. Hal apakah yang membawa kedatangan para keluarga Dwarawati dan Koko Prabu Baladewa ke Amarta ini”

“Terima kasih yayi Prabu, yayi Prabu dan adik-adiku Pandawa telah menerima kami sudah merupakan suatu kehormatan. Kami datang kesini memang tidak direncanakan sebelumnya sehingga tidak sempat mengirim warta atau nawala. Hal yang akan saya wartakan adalah sesuatu yang penting bagi yayi Prabu bahwa saya telah menikahkan ananda Abimanyu dan Siti Sendari beberapa hari yang lalu. Hal ini saya lakukan meskipun tanpa kehadiran besan, yayi Arjuna, mengingat bahwa hubungan keduanya sudah begitu akrab dan dekat. Keduanya sudah saling mencintai dan sepertinya memang sudah dijodohkan oleh Yang Kuasa untuk menjadi suami istri. Dan untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan maka saya segera berinisiatf untuk menyatukan mereka berdua dalam bahtera hidup rumah tangga.”

Kemudian Kresna bercerita bahwa Baladewapun kemudian merestui pernikahan itu, tentang kedatangan Semar pada saat para raja undangan tengah menyantap hidangan yang disediakan, bagaimana Semar memberi hadiah dua pupuh tembang sarkara yang kemudian membuatnya merasa disentil, dan kemudian saat bagaimana Abimanyu atas perintahnya meludahi kuncungnya Semar.” Continue reading

Semar Kuning [10]


Kita tinggalkan Prabu Kresna dan rombongan dari istana Dwarawati yang mengendarai kereta Jaladara berusaha menghindari bencana dan berniat untuk sementara mengungsi.

Kita kembali mengikuti perjalanan anak-anak Semar panakawan yang ditinggal Ramanya, Semar, dan disuruh untuk mencari nDaranya satria Madukara, Arjuna. Meskipun belum tahu dimana sebenarnya nDaranya berada, namun ke

tiga panakawan telah hafal akan perilaku nDaranya itu. Kalau sedang mengalami masalah berat dan membutuhkan solusi yang bener lan pener, maka tidak ada tempat yang tepat selain mencari kesunyian jauh dari keramaian untuk bertapa menentramkan hati, memusatkan pikiran, tuk berharap pepadhang. Tidak hanya bila menemui masalah berat, saat mengharapkan sesuatu yang dirasakan penting bagi diri, keluarga, saudara-saudaranya maupun bagi negaranya, pun Arjuna lebih sreg melakukannya dengan ber-tirakat, mendekatkan diri kepada Pencipta Semesta.

Dan ketekunannya dalam bertapa itu memang sudah teruji.Jangankan cuma sekedar binatang buas, ataupun jin gendruwo atau setan yang paling menakutkanpun, bahkan godaan yang lebih hebat lagi berupa bidadari kahyangan yang cantik molek tiada menggoyahkan tekad dan kemauan keras Permadi. Bahkan tidak hanya satu bidadari, melainkan tujuh bidadari tidak mampu menarik minat Arjuna selagi bertapa. Dewi Warsiki, Dewi Irimrin , Dewi Tunjungbiru, Dewi Wilutama, Dewi Supraba, Dewi Gagarmayang dan Dewi Lengleng Mulat yang mendapat tugas untuk menggoda, berakibat senjata makan tuan, malah mereka yang tergoda oleh tidak saja sosok dan wajah Arjuna yang rupawan, juga dibuat kagum oleh kekuatan tekad, hati dan pikiran (baca kisah Begawan Mintaraga).

Sehingga akhirnya Gareng, Petruk, Bagongpun menemukan nDaranya di suatu hutan di sebelah barat daya kerajaan Dwarawati. Tentu tempat yang digunakan Arjuna tidak sembarangan, melainkan tempatnya tersembunyi, bersih, dan layak untuk didiami selama beberapa bulan.

Ketiga panakawan tadi sementara melepas lelah tidak jauh dari tempat nDaranya bertapa karena melihat bahwa Arjuna masih begitu khusyu dalam semedinya sehingga tidak berani membangunkannya.
“Kalau saya pikir-pikir, Ramane Semar tuh aneh ya Kang Gareng. Lha wong jelas-jelas dihina sama ndara Abimanyu dan ndara Kresna begitu … eee … bukannya marah atau membalas malah diam saja” Petruk memulai pembicaraan mengeluarkan uneg-unegnya.

“Iya Kang, kalau saya yang digituin …. oooo pasti langsung tak bales malah tak tambahi bonus. Kalau ada yang meludahi mukaku … langsung tak bales meludahi mukanya bahkan kalau perlu langsung tak uyohi !” tambah Bagong dengan penuh ekspresi.

“Hush … ora elok kuwi … tidak bagus begitu. Malah kita harus bersyukur punya orang tua seperti Ramane Semar. Ramane Semar terkenal sebagai pamomong para ksatria dan raja. Pamomong itu tidak hanya sekedar jadi batur, babu atau pembantu, melainkan lebih dari itu. Mengingatkan yang dimomong kalau berbuat salah, memberi wejangan dan teladan yang baik, bahkan sering diajak diskusi mencari solusi terhadap permasalahan yang tengah terjadi. Usulannya sering didengar malah kerap dijadikan sebagai pedoman. Jadi dihadapan mereka, kedudukan Rama Semar itu sangat mulya, tidak hanya dianggap sebagai pendamping dan pembantu saja. Oleh karenanya meskipun usia ndara yang dimomong Ramane Semar itu jauh lebih muda, tapi semuanya menyebut Ramane dengan Kakang. Itu memperlihatkan bahwa hubungan antara ndara dan pamomongnya itu begitu dekat” terang Gareng bijak.

“Tapi aku juga heran Kang Gareng atas perilaku nDara Kresna, lha kok lain dari biasanya. Kalau kita maen nemenin nDara Janaka ke sana, sikap nDara Kresna selalu baik kan. Malah pernah pulangnya aku dioleh-olehin sarung sama sak rantang opor kok” Petruk kembali berujar.

“Lha itu yang aku juga heran Kang Petruk sama Kang Gareng, mungkin setan atau Batara Kala sedang manjing di dirinya. Lha wong menurut cerita Rama, polah tingkah nDara Kresna juga aneh kok, katanya somse dan begitu merendahkan”
“Ya nggak tahulah Gong, yang penting kita sudah memenuhi perintah Ramane Semar mencari nDara Janaka”

Dan yang tengah diperbincangkan, akhirnya bangun dari semedinya. Matanya terbuka dan langsung dilihatnya para panakawan telah menunggu didepannya.

“Gareng, Petruk dan Bagong, sudah lamakah kalian menunggu disitu ?”
“Eeee nDara sudah bangun rupanya, kami belum lama kok nDara” jawab Gareng mewakili adik-adiknya. Continue reading