Tag Archives: semar boyong

Guyub Dalang – Semar Boyong (Audio Video)


Berikut adalah kolaborasi beberapa dalang yang menggelarkan wayang kulit dengan lakon Semar Boyong. Layar ada tiga dengan masing-masing satu dalang yang bergantian beberapa kali. Dalang-dalang yang show tergabung dalam “Guyub Dalang” (saya tidak dapat info apakah paguyuban ini masih ada)

Audio Pagelaran:

Selamat menikmati koleksi dari Pak Haryono ini (15 Klip)

http://www.youtube.com/view_play_list?p=37B10EA70967E605

Klip ke-12

KTCM Semar Boyong


Semar Boyong, Inspirasi Bangkit dari Keterpurukan

Jagad menika badhe ayem tentrem menawi sedaya titah purun nindakaken rehing subasita myang kramaniti tan koncatan jatidhirining bangsa. Jagad samangke kisruh amargi tata susila sampun dipun tilar, budi pekerti sampun boten dipun paelu. Pramila negari pikantuk walake Gusti syuh kanugrahaning Hyang Manon.”

PESAN Hyang Wenang tersebut dituturkan Kanestren, sesaat setelah kembali mewujud ke wadagnya yang sejati. Suaranya lembut, intonasinya pun datar. Meski demikian, mampu menggetarkan hati para ksatria yang sekian saat bertikai memperebutkan Semar Badranaya, sosok pencipta ketenteraman di mayapada.

Ucapan Kanestren segera memberikan kesadaran, betapa pralaya yang melanda negeri mereka adalah buah dari laku penistaan terhadap tata susila dan budi pekerti. Untuk mengembalikan tatanan sosial dan pemerintahan seperti sediakala, semua elemen harus kembali berpegang pada jati diri bangsa.

Bisa jadi, itulah piwulang yang dapat dicerap dari Pergelaran Wayang Orang berlakon Semar Boyong (Sekar Pudhak Tunjung Biru) persembahan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Sekar Budaya Nusantara (SBN), dan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) di Pusat Kesenian Jawa Tengah, kompleks PRPP Tawangmas, Semarang, Sabtu (4/12) malam.

Ya, pesan tersebut sangat kontekstual dengan kondisi negeri yang tengah berada dalam situasi carut-marut ini. Terasa benar ada kesengajaan Teguh Kenthus Ampiranto, sang sutradara, memacak lakon tersebut dalam pentas yang digelar bersamaan acara halalbihalal tersebut.

Semar Boyong adalah kisah teladan, yang setidak-tidaknya mampu memberikan inspirasi untuk kembali bangkit dari keterpurukan.

Kisah bermula dari pralaya yang melanda mayapada. Negeri-negeri besar yang terlihat kukuh, seperti Hastinapura, Pancawati, dan Amarta pun mengalami kemunduran. Adalah Semar, tokoh yang dianggap mampu membalikkan pralaya menjadi zaman gilang-gemilang. Maka, dengan segenap daya upaya, negeri-negeri agung itu berlomba memboyong Sang Batara Ismaya itu. Pancawati mengutus Lesmana, Hastinapura menugasi Sengkuni, sedangkan Amarta memercayakannya kepada Pandhawa.

Kepada para duta terhormat itu, Semar meminta syarat, barang siapa mampu mendapatkan Sekar Pudhak Tunjung Biru, kepadanyalah ia akan berserah diri. Perburuan dimulai, dan pertempuran tak terelakkan.

Lesmana dan Arjuna bertarung sengit memperebutkan kembang yang sejatinya penjelmaan Kanestren, istri terkasih Semar. Akibatnya, Sekar Pudhak Tunjung Biru terpisah menjadi dua: Arjuna mendapatkan sekar pudhak, Lesmana tunjung biru.

Terasa Ringan

Berdua mereka menyerahkan kembang tersebut kepada Semar di Klampisireng. Tokoh Panakawan itu lantas menyatukan kedua bagian yang terpisah. Maka, menjelmalah Kanestren dengan membawa pesan-pesan bijak Sang Hyang Wenang.

Berbeda dari garapan wayang orang klasik, pentas yang dimainkan gabungan anak wayang dari Bharata Jakarta, Ngesti Pandawa Semarang, Sriwedari Solo, dan beberapa perkumpulan lain itu terasa lebih ringan.

Durasi pementasan sekitar dua jam sebagian di antaranya diisi dengan gara-gara dan peperangan yang memukau.

Demikian halnya dengan bahasa yang digunakan, cenderung bahasa Jawa populer.

Pelawak kondang Kirun yang melakonkan tokoh Bagong mampu meretas kejumudan sekitar 150 orang penonton yang hadir dengan dagelan-dagelan segarnya yang acap keluar dari konteks cerita.

Tamu undangan seperti Gubernur Jateng H Mardiyanto, Wali Kota Semarang H Sukawi Sutarip dan istri, Ny Sinto Adi Prasetyorini, Ketua DKJT Prof Ir Eko Budihardjo MSc, dan Ketua SBN yang juga mantan menteri urusan peranan wanita Nani Soedarsono acap menjadi objek dagelannya.

”Wong pensiunan menteri saja bisa memberi THR, masak gubernur tidak,” sindir Kirun yang disambut tawa penonton.

Terlebih, sebelum pentas dimulai, Sukawi, Ny Sinto, dan Mardiyanto menyumbangkan dua tembang campursari, ”Kempling” dan ”Layang Kangen” dengan iringan orkes pengamen jalanan pimpinan Marco Marnadi.(Rukardi-81)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0412/06/bud01.htm

Berikut adalah lakon Semar Boyong oleh KTCM

 

Update Terakhir : 03042014

http://www.4shared.com/folder/8yp4Apo2/037.html