Tag Archives: Pagelaran Wayang

PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA DI TENGAH HUTAN RIMBA BELANTARA


by Bram Palgunadi on Wednesday, June 13, 2012 at 6:19pm ·

 

Pagelaran ‘bayang-bayang’ wayang kulit purwa, yang menggetarkan hati, mengharu-biru emosi, dan memikat hati penonton, merupakan dambaan….

Membaca cerita pendek true story ini, ada baiknya sambil mendengarkan alunan Gendhing Laler Mengeng dan Gendhing Talu Wayangan, gaya tradisional yang sangat klasik (dari tahun 1970-an)…..

GENDHING LALER MENGENG

GENDHING TALU WAYANGAN 1 

GENDHING TALU WAYANGAN 2

GENDHING TALU WAYANGAN 3

GENDHING TALU WAYANGAN 4

GENDHING TALU WAYANGAN 5

Selamat membaca dan menikmati…..

Ini adalah kenangan indah saat saya masih anak-anak dan masih duduk di kelas 3 sampai kelas 6 Sekolah Rakyat (sekarang disebut Sekolah Dasar), di Kota Jember, Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 1962 – 1963. Di masa-masa yang saat itu dikenal dengan sebutan ‘masa perebutan Irian Barat’, atau oleh kalangan masyarakat umum sering juga disebut ‘jaman Trikora’. [1]

Pada masa itu, ayah saya bekerja sebagai seorang ADM (administratur) PN Perhutani[2] di kantor KPH Jember. [3]  Jika sedang masa liburan, saya seringkali ikut truk milik PN Perhutani ke hutan. Kebetulan kita tinggal di komples perumahan dinas PN Perhutani, yang lokasinya berhadapan dengan garasi dan bengkel PN Perhutani, yang lokasinya di Patrang, sedikit di sisi utara Kota Jember. Naik truk ke hutan, merupakan salah satu pengalaman yang menyenangkan saya. Biasanya truk-truk PN Perhutani itu berangkat pagi-pagi, sekitar jam 07.00 pagi Waktu Jawa (sekarang penyebutan waktu sudah diubah menjadi jam 07.00 Waktu Indonesia Barat atau WIB),  dan pulang dari hutan sore hari. Pada masa itu, truk-truk tua yang dipakai umumnya bertonase sekitar 3,5 ton, merknya Chevrolet, Dodge, dan Fargo. Ketiga merk truk itu, buatan Amerika.

Pada masa itu, rute truk hutan yang paling saya sukai, adalah yang menuju hutan di sekitar Sempolan atau Garahan, yakni ke arah timur, di jalan raya yang menuju Kota Banyu-Wangi. Selewat kota kecil Kali-Sat, truk akan menuju Sempolan dan akhirnya berbelok ke kiri, memasuki jalan hutan. Sebelum masuk jalan hutan, truk-truk itu biasanya berhenti untuk melapor lebih dahulu di kantor ‘kemantren’atau kantor KRPH (Kesatuan Resor Pemangkuan Hutan) Sempolan, yang lokasinya di sisi kiri jalan raya Jember – Banyu-Wangi.  Saya sangat senang dan karenanya juga sangat sering ikut truk yang melewati ke rute ini dan sangat senang jika truk yang saya tumpangi mampir ke ‘kemantren’ Sempolan ini. Mengapa? Tidak lain, karena Pak Mantri Hutan yang tinggal di sebelah kantor kemantren ini, adalah seorang dhalang wayang. Mantri hutan yang pada masa itu sangat terkenal ini, namanya Pak Sugondo; yang biasanya dipanggil Pak Gondo. Disebut sangat terkenal, karena seragam pakaiannya yang luar biasa gagah, memakai pakaian safari dan celana berwarna cokal muda, dengan ikat pinggang kulit berukuran besar. Di ikat pinggangnya, selalu tergatung sebuah pistol  Colt ‘revolver’ kaliber 38 dan sebuah ‘veldvles’ (tempat air minum), serta pisau rimba berukuran besar. Sementara sepatu yang digunakannya adalah jenis sepatu ‘laars’ kulit berwarna hitam, yang tingginya hampir mencapai lutut. Pak mantri hutan ini seringkali pergi memeriksa hutan sambil naik kuda. Saat naik kuda ia memakai topi lebar berwarna coklat tua, seperti topi ‘vilt’ yang biasa dipakai para koboi Amerika, tetapi dibuat dari anyaman ‘mendong’, yang salah satu sisi sampingnya sedikit dilengkungkan ke arah atas dan sisi samping lainnya rata. Kelihatannya gagah sekali, dan sangat mirip dengan seorang ‘sherif’(kepala polisi ‘daerah pedalaman’ Amerika).

Di samping rumah dinas tempat tinggalnya, yang letaknya hanya beberapa meter di sebelah kanan kantor kemantren, saya bisa melihat beberapa orang sedang ‘ngerok’ (mengikis) lembaran kulit sapi atau kulit kerbau, yang ditarik kuat-kuat ke arah samping sampai tegang memakai tali-tali yang diikatkan pada konstruksi batang kayu berbentuk kotak (seperti pigura lukisan). Lembaran kulit sapi atau kerbau itu, dikikis memakai ‘pecok’ (seperti pacul kecil yang ditajamkan), supaya seluruh permukaan kulitnya rata, halus, dan hilang bulu-bulunya. Mengikis kulit sapi atau kerbau, biasanya dilakukan pagi hari sampai menjelang siang hari, dan dilakukan di halaman luar. Dan, yang lebih menyenangkan hati saya, sisa kikisan kulit yang berbentuk gulungan-gulungan kecil terputus-putus, sesudah dikeringkan, biasanya dimasak dengan cara digoreng, dan menjadi ‘krupuk kulit’ atau ‘krupuk krecek’. Atau, dimasak menjadi ‘sambel goreng krecek’, yang jangankan dimakan, bahkan saat melihat saja, sudah timbul air liur saya. Lembar-lembar kulit itu, setelah kering dan rata, lalu dipotong dan dipakai untuk membuat wayang kulit, yang proses pembuatannya juga dilakukan di teras rumah Pak Gondo.

Selain mengikuti truk hutan, saya juga sering ikut ayah melakukan pemeriksaan wilayah hutan, yang di kalangan kehutanan kegiatan seperti ini lazim disebut ‘tourne’. Mobil dinas milik PN Perhutani yang dipakai ayah, adalah sebuah kendaraan jip Willys kuno, buatan tahun 1942, warna hijau tua, dengan lampu besarnya yang sangat khas. Letak lampu depannya, di dalam lubang besar pada panel depan kendaraan. Jip Willys kuno yang bernomor polisi P-310 ini, setiap kali akan dipakai ‘tourne’ harus diisi air dingin lebih dulu. Peralatan baku ‘inventaris’ ayah saya yang dibawa di kendaraan ini, biasanya meliputi senapan laras ganda (double loop) berkaliber 16 mm lengkap dengan sekotak peluru (ukuran pelurunya besar sekali, karena berkaliber 16 mm dan panjang setiap peluru sekitar 10 cm), kompas, teropong binokular, peta petak (peta khusus kehutanan), pisau rimba, ‘veldvles’ (tempat minum versi militer, yang digantung di sabuk celana), sepatu ‘laars’, dan tak lupa juga sebuah jaket. Ayah saya, biasanya memakai baju ‘dinas’ berupa baju safari lengan pendek dan celana panjang yang dibuat dari bahan ‘dril’ berwarna ‘khaki’ (coklat muda). Ia biasanya juga memakai topi pet, berwarna coklat muda. Pada masa itu, kain yang bisa dibeli hanyalah kain dril warna cokla muda itu dan kain belacu warna putih. Seperti juga kesenangan saya ikut truk hutan, saya juga sangat senang jika tourne dilakukan di wilayah hutan sekitar Sempolan. Penyebabnya juga sama, yaitu karena sering mampir di kantor kemantren Sempolan itu.

Selain bersama pengemudi jip Willys tua yang bernama Pak Saleh, seringkali ayah saya juga melakukantourne bersama beberapa pegawai kantor KPH Jember. Di antara mereka, yang paling sering ikut melakukan peninjauan bersama, adalah ‘sinder hutan’ dan ‘mantri hutan’ yang menanggung-jawabi wilayah hutan yang akan ditinjau. Pemeriksaan wilayah hutan seringkali dilaksanakan dengan cara jalan kaki potong kompas, dengan hanya melihat peta petak, langsung menuju petak hutan yang akan ditinjau. Jip Willys tua dan pengemudinya, biasanya dititipkan di rumah penduduk desa setempat, diparkir begitu saja di sisi jalan hutan, atau diminta menunggu di suatu tempat di wilayah sekitar petak hutan yang akan dituju.

Pada masa itu, sebagian wilayah hutan di sekitar Sempolan sedang ditebang dan diganti dengan tanaman hutan produksi jenis pohon pinus. Saat liburan, saya juga sering ikut truk hutan yang mengangkut bibit pohon pinus, yang tingginya sekitar 15 – 20 cm dan diletakkan (dengan media tanahnya) di keranjang-keranjang kecil, yang dibuat dari anyaman bambu. Bibit pohon pinus yang masih kecil ini, biasanya diambil dari tempat pembibitan, yang lokasinya dekat dengan base campperalatan mekanik Sempolan. Beratus-ratus bibit pohon pinus ini, kemudian diangkut ke tempat penamanan, jauh di tengah hutan. Di tempat penaman pohon pinus itu, biasanya sudah ada sekelompok besar penduduk desa ‘mager-sari’, yang oleh PN Perhutani diperbolehkan melakukan kegiatan bertani palawija sambil menanam dan memelihara pohon-pohon pinus yang masih kecil. Biasanya, mereka akan tinggal selama beberapa tahun di lokasi yang sama, sampai pohon-pohon pinus itu menjadi cukup besar dan bisa ditinggalkan. Setelah pohon-pohon pinus itu besar (setinggi kira-kira 2 – 3 meter), mereka akan dipindahkan ke lokasi lain, untuk melakukan peran dan kegiatan yang sama.  Jika kita sekarang melakukan perjalanan dari Kota Jember ke arah Banyu-Wangi, maka setelah melewati Sempolan, sebelum memasuki wilayah hutan Garahan (hutan Gunung Kemitir), kita akan melewati hamparan hutan pohon pinus yang tumbuh subur dan sekarang sudah berubah menjadi pohon pinus yang sangat tinggi dan lebat. Melihat pemandangan ini, membuat saya terharu dan jadi teringat masa kecil saya, saat sering ikut menanam bibit pohon-pohon pinus kecil itu, di sekitar tahun 1962 – 1963. Waktu serasa berlalu sedemikian cepatnya. Tak terasa, pohon-pohon pinus yang dulu terlihat sangat kecil dan ringkih, sekarang sudah menjadi hutan pinus yang indah, lebat, teduh, dan rindang.

Di dalam hutan Sempolan, pada suatu lokasi yang jaraknya beberapa kilometer dari jalan-raya Jember – Banyu-Wangi, ada suatu tempat semacam base camp, tempat para pegawai kehutanan dari bagian mekanisasi kehutanan tinggal beserta seluruh keluarga dan alat-alat berat yang ditanggung-jawabi. Mereka itu, merupakan kelompok pegawai mekanik kehutanan pindahan dari Saradan. [4] Uniknya, semua pegawai mekanik ini (pengemudi traktor raksasa, pengemudi buldozer raksasa, pengemudi truktrailer pengangkut kayu gelondongan), beserta seluruh keluarganya, adalah pemain, penari, dan penabuh gamelan yang sangat canggih. Saya masih ingat benar, salah seorang pengemudi traktor penyeret kayu gelondongan bermesin diesel, beroda rantai raksasa, tipe D-9 merk Allis Chalmers, yang beratnya sekitar 39 ton; adalah seorang penari dan pemeran raksasa ‘cakil’ yang sangat bagus, terampil, sangat cekatan gerak tarinya. Tubuhnya yang tinggi ramping, terlihat sangat cocok dengan peran ‘cakil’-nya itu. Sekali sebulan, saat ada perayaan tertentu, perayaan ‘syawalan’, atau peringatan hari kemerdekaan; mereka bisa tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan grup kesenian, lengkap dengan penari dan penabuh gamelan-nya. Di base camp mereka itu, setiap bulan sekali kita bisa menyaksikan mereka melakukan pagelaran wayang wong atau kethoprak.

Di antara sejumlah pagelaran wayang itu, beberapa kali dilaksanakan di halaman depan kantorkemantren Sempolan. Biasanya, yang menjadi dhalang ya Pak Mantri Sugondo itu. Sedangkan penabuh gamelan, pesindhen, dan wiraswara-nya; para pegawai mekanik kehutanan dan keluarganya. Tetapi ada suatu pagelaran wayang kulit purwa yang benar-benar unik. Pagelaran wayang ini dilakukan di tengah hutan di tengah hutan rimba di sisi barat laut Sempolan. Pada masa itu, PN Perhutan KPH Jember sedang giat-giatnya membuat jalan rintisan (jalan tembus hutan) di wilayah pedalaman barat luat Sempolan. Bukan membuat jalan raya, tetapi membuat jalan hutan yang bisa dilewati truk dan jip saja. Pada saat awal, jalan hutan itu dibuat dengan cara meratakan tanah memakai buldozer raksasa dari unit  mekanisasi Sempolan dan beberapa peralatan berat lainnya. Pembuatan jalan hutan ini memakan waktu selama beberapa bulan. Jika menemui hambatan berupa jurang atau sungai, biasanya dilakukan upaya untuk membuat jembatan. Biasanya yang dibangun adalah jembatan kayu. Beberapa dari jembatan kayu itu, mempunyai bentangan yang cukup panjang dan melewati sungai atau jurang yang cukup dalam.

Pada saat awal pembangunan, biasanya seluruh pegawai PN Perhutani yang terlibat proses pembangunan, termasuk teknisi dan para operator peralatan berat, dipimpin oleh kepala proyek, akan melakukan selamatan, di lokasi dekat jembatan. Selamatan, biasanya dilakukan siang hari, dan hanya secara sederhana saja.  Peristiwa yang benar-benar menyenangkan tetapi juga agak mencemaskan, sebenarnya bukan saat awal pembangunan, tetapi saat jembatan itu sudah jadi dan akan diresmikan pemakaiannya. Pada saat jembatan di tengah hutan rimba itu sudah diselesaikan, maka seperti awalnya, akan dilakukan selamatan dan syukuran. Tetapi yang bagi saya paling menyenangkan, adalah dilaksanakan pagelaran wayang kulit purwa lengkap semalam suntuk. Ceritanya biasanya dipilih yang menarik dan ramai. Dhalang-nya….? Ya Pak Gondo itulah, lengkap dengan para penabuhgamelan yang para operator peralatan berat.

Sejak pagi hari, ‘tarub’ (tenda besar) biasanya sudah didirikan di dekat lokasi jembatan baru. Lalu sekumpulan ibu-ibu (para isteri) keluarga operator peralatan berat itu sudah kelihatan sibuk memasak, di sejumlah tarub kecil, dibantu sejumlah ‘blandhong’ dan anak-anak putri mereka. Sementara, para pria biasanya mempersiapkan penyembelihan sapi, kerbau, atau beberapa kambing. Suasana di sekitar jembatan baru itu, benar-benar semarak dan kelihatan sangat sibuk. Sebagian dari para pria itu, selain sibuk meletakkan deretan kursi, meja, dan tikar mendong untuk duduk lesehan yang dibentangkan di atas lembaran ‘gedheg’ (anyaman bambu); juga sibuk memasang selang-selang kecil di tiang-tiangtarub, yang akan dipasang pada lampu-lampu ‘stromking’. [5]

Siang hari, sekitar jam satu siang, setelah selesai makan, saya bersama ayah melihat-lihat berkeliling dan memperhatikan bagaimana beberapa penabuh gamelan yang sehari-harinya adalah para operator alat berat itu memasang ‘geber wayang’ (layar wayang) dan ‘menyimping’ (menata) wayang kulit dan menancapkannya di atas ‘debog’ pisang panjang, di sebelan kanan dan kiri gunungan. Saya memperhatikan saat wayang-wayang kulit itu ditata secara berurut dan sangat rapi. Beberapa orang sibuk menata ricikan gamelan dan mengatur letaknya, sehingga ada ruang yang cukup untuk para penabuhnya duduk saat menabuh. Tepat di bagian tengah layar wayang, agak ke atas, beberapa orang terlihat sedang sibuk memasang lampu stroomking. Sekitar jam empat sore, seluruh proses penataan panggung pagelaran wayang sudah selesai. Di mata saya, panggung wayang dan gamelan itu tampak sangat indah dan memberikan kesan semarak. Apalagi dengan rancak gamelan-nya yang berwarna merah menyala dengan hiasan ornamen berwarna keemasan.

Sekitar jam tujuh malam, para pejabat PN Perhutani dan para undangan lainnya, termasuk penduduk desa setempat, para sepepuh desa, lurah, carik, kepala dukuh, serta sanak keluarga para operator peralatan berat dan seluruh pekerja proyek jembatan; sudah pada hadir dan duduk di tempat masing-masing. Gendhing-gendhing juga sudah mulai dimainkan. Suara gendhing-nya biasanya bisa terdengar dari kejauhan (beberapa kilometer). Beberapa saat kemudian, upacara pembukaan pun dimulai. Biasanya dilakukan sambutan-sambutan resmi dari para pejabat, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dilakukan oleh kyai setempat. Setelah seluruh acara resmi dan pembacaan doa selesai dilaksanakan, lalu dilanjutkan dengan makan bersama-sama.  Hidangan yang paling disukai adalah sate sapi dan sate kambing, dengan saus kacang dan kecap yang pedas bercampur potongan bawang merah. Sementara itu, ada juga hidangan gulai daging kerbau. Ada juga sayur sop dengan potongan-potongan kecil wortel, kentang, dan kubis, yang biasanya sangat gurih rasanya. Sudah barang tentu, kiriman makanan yang berasal dari sumbangan Pak Mantri Sugondo yang sangat khas, yaitu ‘sambel goreng krecek’, tidak pernah lupa disajikan. Nasi hangat (memakai beras ‘Raja Lele’) yang masih mengepul, membuat perut seluruh pengunjung semakin lapar saja. Suasana makan bersama ini, berlangsung sekitar satu jam dengan penuh kegembiraan.

Sebagai pelengkap, biasanya disajikan rokok. Rokok putih, umumnya tidak terlalu disukai. Sebaliknya, lazimnya disajikan rokok kretek, yang biasanya dihidangkan dalam keadaan sudah dibuka bungkusnya dan batang-batang rokoknya diletakkan di dalam gelas-gelas. Berbagai merk rokok kretek dicampur begitu saja di dalam gelas-gelas. Minuman teh hangat dan kopi umumnya menjadi minuman standar yang disajikan. Suasana malam peresmian jembatan itu benar-benar semarak dan membuat senang seluruh yang hadir. Deretan kursi (tidak terlampau banyak), biasanya ditempati para pejabat dan para pamong desa, sedangkan para hadirin lainnya dan penduduk setempat biasanya duduk lesehan di atas tikar. Seluruh yang hadir, biasanya berjumlah sekitar 150 – 200 orang. Semuanya duduk berkumpul di bawah naungan tarub besar itu.

Sekitar jam delapan malam, udara sudah semakin dingin. Gendhing-gendhing dimainkan para pengrawitmenemani para hadirin makan bersama. Bulan sudah purnama dan menyinarkan cahayanya bagaikan bola emas bersinar terang di angkasa. Dan, sekitar jam setengah sembilan malam, Gendhing Talu Wayang mulai dimainkan. Suasana mulai berubah menjadi semakin ‘gayeng’ dan semarak.  Hadirin sedikit demi sedikit berusaha mendekat ke arah panggung. Mereka duduk bersila lesehan di atas tikar. Lalu sekitar jam sembilan malam, Pak Mantri Sugondo yang sudah memakai pakaian tradisional Jawa, seakan ‘berubah’ peran dan menjelma menjadi seorang dhalang, berdiri tegak, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati para pejabat, sesepuh, dan pamong desa. Sesaat, ia bersalaman dengan para pejabat dan memohon ijin untuk memulai pagelaran wayang. Bersamaan dengan terdengarnya Gendhing Sampak Manyura yang ditabuh bertalu-talu, ia naik ke atas panggung pagelaran. Tepat saat Gendhing Sampak Manyura berubah menjadi melambat dan terdengar semakin sayup-sayup karena hendak dihentikan, Pak Gondo yang sudah menjadi dhalang pagelaran wayang kulit purwa malam itu, duduk tegak bersila di tempatnya, tepat di depan layar wayang.  Sesaat kemudian, nyala lampu-lampustroomking dipadamkan. Dan, tinggal sebuah lampu stroomking yang menyala di depan layar wayang. Tiba-tiba saja bau asap kemenyan menyeruak menyebar ke seluruh bagian dalam tarub. Suasana seketika berubah menjadi remang-remang penuh sakral. Begitu Gendhing Sampak Manyura berhenti. Suasanya hening sejenak. Tak ada yang berkata-kata. Hanya kesunyian yang terjadi. Dhalangmembaca mantra dan doa sesaat. Suaranya terdengar lirih, seakan berbisik kepada Sang Penguasa Jagat Raya, memohon berkah, rakhmat, dan karunia-Nya. Hanya terdengar suara burung-burung malam di kejauhan dan gemerisik angin malam yang berhembus. Lalu gedhog dhalang dibunyikan, dan tiba-tiba pagelaran wayang pun dimulai……

Di tengah hutan rimba belantara, pagelaran wayang kulit purwa itu menghasilkan suasana yang menggetarkan. Selama beberapa waktu, saat gendhing jejer pathet nem mulai dimainkan, suaragamelan mengalun seakan menyihir seluruh hadirin, yang duduk terpaku di tempatnya masing-masing. Adegan demi adegan berlangsung di bawah sorot mata para hadirin. Perlahan-lahan, suasana berubah menjadi semakin cair. Semakin malam suasana semakin cair, dan semakin menyenangkan. Semua yang hadir, masuk ke dalam tarub besar itu dan berusaha menempatkan dirinya seenak mungkin.

Sementara di luar tarub besar, jauh di atas ranting dan dahan pohon-pohon rimba yang tegak berdiri agak jauh, samar-samar terlihat sejumlah pasangan cahaya bulat hijau kebiru-biruan bersinar terang di dalam kegelapan. Pasangan cahaya itu sesekali bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri. Jumlah pasangan cahaya itu, lebih dari sepuluh pasang. Saya yang berdiri di pinggir tarub, terpaku saat melihat pasangan cahaya yang jumlahnya cukup banyak dan selalu bergerak-gerak. Ada sedikit rasa takut saat melihat pasangan cahaya-cahaya itu. Saya mencoba menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas dan bertanya-tanya dalam hati, cahaya apakah gerangan itu. Bermenit-menit saya berusaha memperhatikan titik-titik pasangan cahaya itu, tetapi tak juga mengerti apa sebenarnya pasangan cahaya itu.

Tanpa saya ketahui, rupanya seorang mandor hutan, melihat apa yang sedang saya perhatikan. Dia lalu menggamit bahu saya. Saya sedemikian terkejutnya, sampai-sampai terlonjak kaget. Mandor hutan itu lalu memberitahu saya sambil berbisik: “Anakmas, jangan keluar dari tarub ya.” Saya terkejut dan balik bertanya: “Kenapa Pak?” Dengan tetap berbicara perlahan-lahan, dia menjawab: “Sebab pasangan cahaya berwarna hijau kebiru-biruan yang bergerak-gerak dan ada jauh di atas dahan dan ranting pohon rimba di sana itu, adalah mata macan tutul dan macan kumbang yang akan bersinar jika terkena pendaran cahaya lampu. Harimau-harimau itu menunggu saat yang tepat untuk turun dan makan sisa hidangan, termasuk makan sisa-sisa daging hewan yang siang tadi disembelih di luar tarub. Jadi, sebaiknya Anakmas jangan ke luar dari tarub. Harimau-harimau itu takut pada api dan cahaya. Karena itu, di luar tarub orang menyalakan beberapa api unggun kecil. Api unggun ini harus tetap hidup sampai besok pagi. Harimau-harimau itu, sangat sabar menunggu. Nanti, setelah semua hadirin selesai menikmati makan malamnya, beberapa blandhong akan melemparkan sisa-sisa makanan dan daging ke luar, dilempar jauh-jauh ke arah harimau-harimau itu.” Mendengar penjelasan pak mandor hutan itu, saya jadi bergidik dan timbul rasa takut juga. Tapi dia ‘ngayem-ayemi’ (menteramkan hati saya), dengan berkata: “ Jangan kuatir Anakmas, pokoknya jangan keluar dari tarub ya….” Saya hanya menganggukkan kepala. Pak mandor hutan itu rupanya tahu juga kekecutan hati saya. Ia lalu berkata kepada saya: “Begini saja Anakmas, bagaimana kalau Anakmas saya antar naik ke atas panggung, dan duduk di antara para penabuh gamelan?” Mendengar usulannya itu, saya terkejut dan balik bertanya: “Apa boleh begitu?” Dia menjawab: “Ya boleh saja. Ayo saya antar ke sana…..” Sesaat kemudian, saya diantar pak mandor hutan dan kemudian dicarikan tempat yang agak longgar di antara para penabuh ricikan saron dan demung yang letaknya di deretan paling belakang para penabuh. Nah, sejak itulah, jika nonton pagelaran wayang kulit purwa, saya selalu berusaha untuk naik ke panggung dan duduk di belakang para penabuh ricikan balungan.

Pagi-pagi tubuh saya terasa terguncang-guncang! Ternyata saya telah tertidur pulas di belakang badan para penabuh gamelan. Begitu membuka mata, samar-samar saya melihat ayah saya berdiri di belakang panggung dan berkata: “Ayo kita pulang, wayangan-nya sudah selesai dan hari sudah pagi….” Pagi itu, hari Minggu, dengan mata masih terkantuk-kantuk kami naik jip Willys tua yang setia, kembali ke Kota Jember. Saya tidak tahu lagi melewati mana saja perjalanan pulang itu, karena saya tak bisa lagi menahan kantuk dan meneruskan tidur di jok belakang jip tua itu. Sejak itulah, saya menyukai nonton pagelaran wayang kulit purwa dalam kondisi yang sangat tradisonal. Kenangan indah saat menonton pagelaran wayang kulit purwa di tengah hutan rimba belantara Sempolan itu, tidak akan pernah hilang dari ingatan saya sampai kapan pun…….

____________________________________

[1]       ‘Trikora’ adalah singkatan judul pidato Bung Karno, yang isinya memerintahkan rakyat Indonesia bergabung menjadi sukarelawan dan menyerbu Irian Barat, yang saat itu masih menjadi wilayah jajahan Belanda.

[2]       PN adalah singkatan dari ‘perusahaan negara’. Sekarang, sebutannya sudah berganti menjadi PERUM, singkatan dari ‘perusahaan umum’.

[3]       KPH merupakan singkatan dari ‘Kesatuan Pemangkuan Hutan’. Pejabat tertinggi di kantor KPH adalah seorang ‘administratur’, yang di kalangan kehutanan sering disingkat penyebutannya menjadi ADM. Seorang ADM, biasanya membawahi beberapa ‘sinder’ yang kantornya lazim disebut ‘kesinderan’. Seorang ‘sinder kehutanan’, biasanya membawahi beberapa ‘mantri hutan’, yang kantornya lazim disebut ‘kemantren’ atau kantor KRPH (Kesatuan Resor Pemangkuan Hutan). Seorang ‘mantri hutan’, biasanya membawahi sejumlah ‘mandor hutan’. Dan, seorang ‘mandor hutan’ biasanya membawahi sejumlah ‘blandhong’, yaitu pekerja yang bekerja secara langsung di hutan. Di wilayah kemantren tertentu, biasanya terdapat suatu lokasi yang khusus melakukan pembibitan atau penyemaian tanaman hutan, TPK (tempat penimbunan kayu) hasil tebangan hutan, dan kadang-kadang ada juga base workshop dan base station tempat menyimpan sejumlah peralatan berat untuk keperluan kehutanan, seperti traktor, buldozer, truk trailer, truk katrol, dan kelengkapan bahan bakar serta minyal pelumas untuk keperluan berbagai mesin itu. Unit ini, seringkali disebut sebagai unit peralatan mekanisasi kehutanan, yang lokasinya biasanya terpencil di tengah hutan.

[4]       Saradan, adalah nama sebutan sebuah TPK (tempat Penimbunan Kayu) gelondongan kayu jati dan pohon rimba milik PN Perhutani KPH Madiun, yang sangat terkenal dan sangat besar kapasitasnya. Lokasinya terletak di tengah hutan jati, di sebelah timur Kota Madiun; pada jalan raya Madiun – Jombang.

[5]       ‘Stroomking’ adalah sejenis lampu seperti ‘petromax’, tetapi mempunyai tangki minyak yang terpisah. Lampu stroomking, biasanya menerima minyak tanah bertekanan tinggi dari tangki melalui selang-selang kecil yang dipasang di antara tangki dan lampu stroomking. Tangki minyak tanah yang dipakai, biasanya berukuran cukup besar, karena harus bisa menyalakan semua lampu stroomkingsemalam suntuk. Seperti pada petromax, setiap lampu stroomking sebelum dinyalakan, harus dipanaskan lebih dahulu memakai minyak spiritus selama beberapa menit. Sementara lampu-lampustroomking itu dipanaskan memakai minyak spiritus, tangki minyak tanah dipompa, sehingga menghasilkan tekanan yang cukup tinggi. Setelah lampu stroomking menjadi cukup panas dan tekanan minyak tanah sudah mencukupi, maka keran kecil pengatur aliran minyak tanah bertekanan di lampustroomking itu dibuka sedikit demi sedikit, sehingga nyala lampu stroomking diatur sehingga menjadi terang benderang seperti lampu petromax. Sebagai tambahan, istilah ‘stroomking’ yang lazim dipakai di kalangan masyarakat, sebenarnya merupakan penyebutan yang salah dari merk lampu minyak tanah bertekanan itu. Lampu ini, sebenarnya bermerk ‘Storm King’. Tetapi bagi lidah penduduk lokal, mungkin karena sukar menyebutnya, lalu supaya mudah lalu disebut ‘stroomking’.

Pagelaran wayang beber di masa lampau. Sederhana, penuh ritual, sesaji, dan mistik.

 

Hutan pohon pinus yang indah, lebat, rindang, dan subur; di wilayah Garahan, yang letaknya di sebelah timur Sempolan.

 

Terowongan kereta-api di Garahan, merupakan salah satu pemandangan unik dan indah wilayah ini.

 

Tanjakan jalan raya di sekitar Garahan, pada rute Jember – Banyu-Wangi.

 

Kereta-api penumpang Sri-Tanjung sedang melewati rute di sekitar Garahan.

Pagelaran Wayang Tradisional Kita


By Bram Palgunadi

Kehidupan di kota-kota besar Indonesia, membuat kita tidak bisa menghindarkan mata dan kehidupan kita dari pemandangan dan peristiwa khas, yaitu gedung-gedung tinggi, pencakar langit, kehidupan modern, kehidupan yang serba cepat, serba instan, serba terburu-buru, serba saling bersenggolan kepentingan, saling menekan, saling mengancam, saling mempengaruhi, saling berlomba hampir di segala hal, dan diam-diam mau diakui atau tidak, merupakan kehidupan yang sebenarnya ‘menyakitkan’, karena membuat orang pelakunya menjadi tertekan dan stress. Orang yang hidup di dalam lingkungan modern seperti ini, seringkali hidup dalam kesepian di antara hiruk-pikuk. Orang dihargai dari berapa banyak dia punya uang, harta, dan kedudukannya. Kalau tidak punya uang, tidak punya harta, atau tidak punya kedudukan; ia dianggap tidak ada, tidak eksis, dan tidak perlu diperhatikan. Harta, kedudukan, jabatan, pangkat, dan gelar; menjadi sebuah tujuan yang absurd dan semakin lama menjadi semakin tidak jelas lagi maknanya. Kehidupan spiritual, agama, dan kepercayaan terhadap sesuatu; berubah menjadi kepercayaan terhadap ‘uang’. Orang bukan lagi menyembah Tuhan, tetapi lalu menyembah ‘uang’, karena uanglah yang bisa berakibat dia hidup dan dihargai, dihormati orang lain.

Kota besar yang penuh tekanan, persaingan, dan melelahkan; membuat orang Jepang ini mabuk ‘sake’ secara rutin pada hari Jumat, sepulang dari kantor. Dan, baru pulang selewat tengah malam, setelah menyelesaikan seluruh ritual rutinnya, ‘mabuk sake’.

Apa kita juga hendak meniru ‘kemajuan’ budaya macam ini? Atau kita memang cenderung mudah atau memang ditakdirkan menjadi ‘bangsa pengekor budaya bangsa lain?’ Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh kita sendiri.

Minuman keras, merupakan salah satu pelarian yang jelas bisa merusak seluruh peri kehidupan. Dan, bahkan bisa berakibat terjadinya ketergantungan yang parah, selain soal kesehatan yang jelas rusak. Apakah peri kehidupan seperti ini yang hendak kita tiru?Orang Jepang yang ‘sangat modern’, setiap hari Jum’at sore tiba, sepulang dari kantor, lalu berbondong-bondong bergerombol bersama teman, sahabat, dan teman sejawatnya; melepaskan diri dari segala kungkungan kehidupan yang amat sangat modern, yang serba menekan dan menjerat dirinya, dengan cara beramai-ramai bergembira ria, membebaskan diri dari formalisme, makan, dan minum ‘sake’ sampai mabuk! Ini merupakan sebuah ‘ritual’ yang hampir pasti menerpa semua lapisan orang Jepang. Tentu tidak semuanya begitu. Tetapi sebagian besar begitu. Tengah malam atau lewat tengah malam, mereka baru pulang ke rumah masing-masing, dan menemukan kedamaian tradisional di rumahnya. Mereka berganti pakaian, dari semua berpakaian ala Barat di kantor, lalu berganti memakai pakaian tradisional Jepang mereka. Pulang ke rumah, berarti kembali ke tradisi Jepang, lengkap dengan segala ritual dan kebiasaannya. Karena itulah, orang Jepang umumnya membangun rumah tinggalnya secara ‘amat sangat tradisional’. Segala hal dan renik-renik tradisi Jepang, ada di rumah seorang bangsa Jepang. Mereka itu, seakan hidup di dua dunia yang amat sangat berbeda. Satu sisi merupakan kehidupan Barat yang ‘amat sangat modern’. Dan, satu sisi lainnya merupakan  kehidupan Jepang yang ‘amat sangat tradisional’.

Continue reading

Haryono’s Collections ch. 2 n ch. 3


Kemarin, telah saya terima tahap ke-2 dan ke-3 dari hasil konversi VHS koleksi rekaman pagelaran wayang dari Pak Haryono melalui Kangmas Roni Subari.

Sebagaimana kita ketahui bahwa konversi ini dilakukan oleh Pak Haryono dengan didukung oleh para anggota milis PPW yang telah berkenan menyumbang sebagian rejekinya untuk kegiatan ini. Oleh karenanya dengan segala kerendahan hati, kami sampaikan ungkapan terima kasih yang tiada terkira kepada sang pemilik rekaman yaitu Pak Haryono, beserta segala pihak yang telah mendukung program ini dapat terlaksana.

Adapaun list rekaman yang saya terima sebagai berikut:

Tahap-2 :

  • Ki Anom Suroto Parto Dewo (1 file mpg, durasi 04:30:52)
  • Ki Sakri – Kilat Buwana (2 file mpg, durasi 03:22:08)
  • Rama Bergawa (3 file mpg, durasi 05:09:44)
  • Ki Sutono Hadi Sugito – Sena Ngumbara (1 file mpg, durasi 04:01:09)
  • Ki Manteb Sudharsono – Semar mBangun Kahyangan (1 file mpg, durasi 03:08:16)
  • Ki Manteb Sudharsono – Bratayudha (1 file, durasi 01:12:04)
  • Wayang Golek (masih jelek, belum bisa di play)

Tahap-3 :

  • Ki Manteb Suharsono – Anggada Balik (1 file, 04:24:59)
  • Ki Sakri – Kilat Buwana (1 file mpg, durasi 03:13:40)
  • Ki Manteb Sudharsono – Sinta Ilang (1 file mpg, durasi 03:49:08)
  • Ki Manteb Sudharsono – Sugriwo Subali (1 file mpg, durasi 05:02:40)

Terus terang saya belum melihat secara utuh semua koleksi ini, mana yang dapat langsung disharing dan mana yang membutuhkan proses editing lebih lanjut untuk audio (dan videonya) bila memungkinkan. Mudah-mudahan saya dapat memanfaatkan waktu luang saya untuk segera men-sharing koleksi-koleksi ini.

Sekali lagi, mari kita ber applause kepada Pak Haryono dan teman-teman lain yang telah mendukung kegiatan ini.

Matur nuwun

Karakter Wayang Sekarang Teracak-acak


Oleh Bambang Murtiyoso
(Dosen Institut Seni Indonesia Surakarta)

Tipologi wayang, di masa lampau, pada umumnya bersifat konstan. Artinya, “seolah-oalah” mapan dan tidak pernah berubah semenjak saya mengenal wayang sampai dasawarsa 90-an. Tokoh wayang yang bersifat jujur, akan selalu jujur pada setiap alur ceritar, episode, dan adegan yang mana saja. Demikian juga halnya bagi tokoh wayang jahat akan selalu jahat pada semua alur ceritar, episode, dan adegan yang mana saja.

Sesuai dengan perubahan zaman, para “dalang-dalang kreatif,” mencoba mengembangkan “sanggit” cerita wayang; termasuk di dalamnya perubahan karakter wayang. Perubahan itu tentu saja ada yang nalar ada pula yang asal-asalan. Disebut asal-asalan sebab pengembangan yang dilakukan hanya berorientasi asal berbeda dengan dalang pesaingnya. Hal ini sangat bergantung pada tingkat pemahaman para dalang terhadap jagad wayang yang memang terbuka untuk berubah. Kecuali itu perubahan termasuk pengembangan lakon wayang lazimnya dipengaruhi oleh latar budaya masyarakat dan masalah lain yang aktual pada zamannya.

Awal dari semuanya dimulai oleh Ki Nartasabda. Seperti gambaran tentang Suyudana, seorang raja besar, yang tidak pernaH KHUSUK saat bersamadi, karena kegusaranya maka diceritakan: “Gempung panggalihnya Sang Prabu, mila lajeng njethung, njepupung kemul sarung.” Satu keberanian yang tidak mungkin dilakukan para dalang sebelumnya. Sebab, suasana adegan itu tergolong masih tenang, agung, berwibawa dan “sakral.”

Ki Nartasabda memang terkenal sebagai seorang dalang “nakal tetapi kreatif.” Keberaniannya untuk memanusiakan wayang sangat luar biasa. Penafsirannya terhadap karakter Bima atau Wrekudara misalnya. Pada masa sebelumnya, Bima adalah gambaran tokoh yang selalu tegas, jujur, selalu serius, tenang, dan sederhana dalam menghadapi berbagai masalah, tidak pernah dan menangis. Oleh Ki Nartasabda Bima ditafsirkan sangat manusiawi. Pada adegan dan lakon tertentu, Bima ditampilkan sempat ketawa pada situasi yang lucu. Bima juga menangis pada suasana haru yang menyedihkan. Dua kasus ini merupakan contoh yang menonjol dari reintrepetasi Ki Nartasabda terhadap karakter wayang yang nyaris membaku.

Dalang lain yang gemar melakukan pengembangan karakter tokoh wayang adalah Ki Gandadarsana alias Ki Gandadarman. Digambarkan oleh dalang action ini adalah tokoh Baladewa, selain bertemperamen tinggi yang ?mudah marah” dan selalu serius itu seperti seorang raja yang jujur tetapi “bodoh.” Sehingga, Baladewa Ki Gandadarman mudah sekali dan sering dibohongi, terutama oleh Kresna, adiknya.

Saya tidak tahu persis apakah dimulai oleh Ki Gandadarman atau bukan, Semar (sepengetahuan saya) bukan sebagai pelawak, tetapi panakawan yang selalu memberi nasehat kepada para ksatria. Dalam pertunjukan wayang, Semar merupakan pengejawantahan dewa, Batara Ismaya. Semar oleh Ki Gandadarman sering melawak tidak bedanya dengan Gareng, Petruk, dan Bagong.

Pada masa Orde Baru, saya sempat membuat cerita berjudul SENGKUNI MERTOBAT. Cerita ini dilatarbelakangi oleh isu politik yang dikembangkan oleh Sudomo, orang kepercayaan Suharto, yaitu tentang VERSIH DIRI dan BERSIH LINGKUNGAN. Terhadap orang-orang eks PKI/G30S seakan-akan tertutup untuk bertobat, semua kesempatan telah terkunci rapat. Terlanjur “kebak sundukane” kata orang Jawa. Artinya, orang-orang yang dianggap bersalah tidak mungkin mendapatkan kesempatan untuk meraih kehidupan yang wajar. Dalam SENGKUNI MERTOBAT itu pun demikian, Sengkuni yang berniat menjadi orang yang baik, sabar, sholeh, dan beramal baik selalu ditentang oleh pihak lain; keluarganya, apalagi para ksatria, putra-putra Pandawa (Gatutkaca bersaudara). Akhirnya, Sengkuni kembali menjadi orang jahat.

Sekarang ada kecenderungan para dalang muda untuk merobah karakter wayang, yang jahat “disanggit” menjadi tokoh yang penuh heroik, dan memiliki cita-cita luhur dengan berbagai argumentasi yang seolah-olah benar dan rasional. Digambarkan penculikan Sinta oleh Rahwana merupakan tindakan sah, dengan alasan Sinta merupakan simbol kemakmuran negara, Alengka. Maka, Sinta dipertahankan sampai titik darah penghabisan, termasuk pengorbanan seluruh harta dan prajurit raksasa. Tidak peduli saudara atau sentana yang menghalangi harus dikorbankan dengan sia-sia. Diungkapkan dalam pertunjukan wayang, Sinta tetap suci, tidak dijamah sama sekali oleh Rahwana, meski dapat dilakukan dan kesempatan ada.

Dalam cerita yang konvensional Rahwana adalah tokoh yang bengis, rakus, ambisius dan tidak manusiawi. Sekarang image itu dinetralisis menjadi “baik” oleh sementara para dalang muda kita.
Pertanyaannya adalah, kalau Rahwana yang ambisius itu bercita-cita luhur, kenapa mengorbankan semua miliknya, sehingga Alengka harus hancur lumat oleh prajurit kera Ramawijaya? Sebuah pengembangan karakter dalam penggambaran yang tidak konprehensip, tetapi membahayakan. Apakah mungkin dipengaruhi perilaku para politikus Indonesia yang selalu menjual rakyat untuk kerakusan pribadinya? Silahkan dikaji secara cermat.

Pagelaran wayang mengeksploitasi mata-raga atau mata-hati?


by Bram Palgunadi on Saturday, December 4, 2010 at 10:07pm

Selama ratusan tahun, wayang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial-budaya masyarakat kita. Bahkan sebagian dari kita juga masih memandang wayang dan pagelarannya sebagai sesuatu yang sakral, penuh ritual, dan penuh tata-cara. Namun, pada masa sekarang, peran dan fungsi wayang dan pagelarannya, sudah banyak bergeser menjadi suatu ‘pagelaran hiburan’ semata. Banyak orang yang menyatakan bahwa wayang dan pagelarannya sudah nyaris punah atau sekurang-kurangnya menipis penikmat dan penontonnya. Tidak hanya orang awam yang menyatakannya, beberapa dhalang-pun menyatakan hal yang sama. Sejumlah pernyataan pesimistis, sering terdengar dinyatakan orang tentang wayang dan pagelarannya. “Di media televisi, pagelaran wayang tidak banyak peminat yang bersedia menjadi ‘sponsor’ atau pemasang iklan”. Ini merupakan kalimat ‘klise’ yang paling banyak terdengar dinyatakan oleh ‘orang-orang tv (televisi)’. Jadi jangan harap ada siaran televisi yang bersedia menampilkan pagelaran wayang semalam suntuk misalnya.

Jika kita berjalan-jalan di malam hari yang tenang di suatu kota kecil di wilayah pedalaman, maka telinga kita besar kemungkinan akan bisa mendengar sayup-sayup suara permainan gamelan (klenengan, kliningan, permainan sitar, cokekan, ludruk, kethoprak, macapat, tembang, jaipongan, wayang golek, wayang kulit purwa, atau wayang orang), yang berasal dari suatu pesawat penerima radio yang disetel seorang pedagang atau penjual makanan atau minuman di suatu warung atau lapak dagangan di pinggir jalan. Di sekitarnya, sekelompok orang duduk santai berkeliling, berselimut sarung, saling berbincang, sambil mendengar alunan suara permainan gamelan serta menikmati segelas kopi panas atau makanan kecil. Di kota besar, wilayah pinggiran umumnya juga bisa menampilkan fenomena seperti ini. Mereka itu, umumnya sangat menikmati siaran radio yang menyiarkan suatu kesenian daerah (kesenian tradisional). “Kalau ngeliat tv, kita nggak bisa sambil kerja mas!” Atau, “Kalau ngeliat tv, kita jadi berhenti kerja mas! Kerjaan jadi terganggu!”, begitu ujar mereka. Jadi, pada segmen dan kegiatan masyarakat tertentu, media seperti televisi dipandang tidak tepat untuk dipakai sebagai ‘teman’ saat bekerja atau berkegiatan tertentu.

Di lain pihak, coba kita lihat media elektronika seperti radio misalnya. Secara umum, stasiun-stasiun pemancar radio brodkas  bisa dibagi menjadi tiga golongan, yaitu yang bekerja di ban radio gelombang tengah (medium wave, MW), yang bekerja pada ban radio gelombang pendek (short wave, SW), dan yang bekerja di ban radio frekuensi sangat tinggi (very high frequency, VHF). Namun, sebagian besar stasiun pemancar radio brodkas di Indonesia, kecuali RRI (Radio Republik Indonesia), lazimnya hanya bekerja di ban radio gelombang tengah (medium wave, MW) dan di ban radio frekuensi sangat tinggi (very high frequency, VHF). Stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja di ban radio gelombang tengah(medium wave, MW), lazimnya bekerja memakai emisi AM (amplitude modulation).Sedangkan stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja di ban radio frekuensi sangat tinggi (very high frequency, VHF), lazimnya bekerja memakai emisi  FM(frequency modulation).

Continue reading

Catatan dari berbagai pagelaran wayang


by Bram Palgunadi on Wednesday, December 8, 2010 at 8:01am

Sumber gambar : http://www.jogjatrip.com/id/news/detail/1135/wayang-thingklung-ndalang-tanpa-gamelan

Memahami penonton ‘tradisional’ pada suatu pagelaran wayang, memang menarik. Di wilayah kota besar, mungkin karena kesibukan sehari-hari masyarakat yang luar biasa, maka peri-laku penonton menjadi lain dari pada saat suatu pagelaran wayang di pentaskan di wilayah pedalaman. Cobalah simak, pernyataan asisten Ki Purboasmoro yang menyatakan komentarnya di bawah ini.

Pagelaran wayang Ki Purboasmoro di Taman Mini. Dari asisten Ki Purbo: Sanget sukses wau dalu saking semangat lan dukungan kathah para penggemar Facebook, Paguyuban Pecinta Wayang, penggemar TMII, lan sanes2ipun kathah. Jam 8 dalu, jam 9 dalu taksih sepiiiiiiiiiii sanget lan jawah, ning jam 10:00 pun kebuuuuuak lan kathah sanget pamirsa ingkang semangat lan komunikatif.  (Terjemahan: Sangat sukses tadi malam sebab semangat dan dukungan banyak penggemar Facebook, Paguyuban Pecinta Wayang, penggemar TMII, dan banyak lagi lainnya. Jam 8 malam, jam 9 malam; masih sangat sepi penonton dan hujan. Tetapi, pada jam 10 sudah sangat penuh dan banyak sekali penonton yang sangat bersemangat dan komunikatif).

Pada pernyataan di atas, ada semacam kebimbangan (pada awalnya) tentang peri-laku penonton yang terlampau sedikit pada saat awal pagelaran wayang dimulai. Hal yang sama, juga terjadi pada saat dilakukan pagelaran wayang kulit purwa dalam rangka ‘Road to Bandung Wayang Festival‘ di GSG ITENAS pada hari Senin malam, 6 Desember 2010. Sebagian panitia pelaksana, juga sempat was-was.  Bahkan, saat Rektor ITENAS dan panitia memberikan sambutannya, penonton masih sangat sedikit. Tetapi, saat malam semakin larut, penonton menjadi semakin banyak dan memenuhi ruang pagelaran.

Jika suatu pagelaran wayang dilakukan di wilayah pedalaman, maka biasanya sejak sekitar jam tiga atau empat sore, di sekitar tempat pagelaran sudah dipenuhi para pedagang kaki lima dan anak-anak. Sejak sekitar jam tujuh malam, lazimnya tempat pagelaran sudah dipenuhi penonton, yang berasal dari berbagai kalangan yang berbeda. Jadi hiruk-pikuk penonton, anak-anak, dan para pedagang kaki lima, pada awal pagelaran wayang merupakan kekhasan yang tidak bisa diperoleh di wilayah kota. Jangan lupa, di wilayah pedalaman, gamelan dan wayang biasanya sudah ditata sejak pagi hari. Dan, sejak siang hari, semua penduduk yang tinggal di sekitar tempat pagelaran wayang bisa melihat seperangkat gamelan yang siap untuk ditabuh, serta wayang kulit yang sudah ditata dan sudah ‘disimping’ rapi. Bahkan orang tua yang sedang ‘momong’ anaknya, bisa menikmati. Jadi kegiatan membuat panggung, kegiatan mengangkut gamelan saat datang, kegiatan menata gamelan, serta kegiatan menata wayang dan ‘nyimping wayang’, semuanya sudah merupakan bagian dari pagelaran yang bisa dinikmati masyarakat sekitar.

Jangan lupa pula, bahwa pagelaran wayang yang dilakukan di wilayah pedalaman, biasanya bukan merupakan suatu pagelaran yang secara khusus hanya menampilkan wayang kulit purwa semata, melainkan juga dipenuhi dengan sejumlah pagelaran lainnya. Misalnya, ada pagelaran karawitan Soran oleh para pemuda/pemudi, pagelaran panembrama (koor) oleh para ibu-ibu, pagelaran karawitan oleh bapak-bapak atau remaja yang sedang belajar menabuh gamelan, dan/atau pagelaran ‘beksan’ (tari). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum pagelaran wayang dimulai, lazim disebut ‘gebyakan’, yang secara mudah artinya ‘menampilkan secara meriah’ . Misalnya, menampilkan suatu hasil latihan kesenian daerah yang dilakukan di sekitar tempat pagelaran. Bahkan kegiatan menghias panggung dengan berbagai ‘uba-rampe’ (kelengkapan) dan ‘upa-rengga’ (hiasan), sudah merupakan bagian dari kegiatan pagelaran yang menyenangkan dan bisa dinikmati masyarakat sekitarnya.

Jadi pagelaran wayang, sebelum dimulai, seringkali merupakan suatu kesempatan yang dipandang tepat untuk menampilkan dan mempagelarkan hasil latihan berbagai bentuk kesenian tradisional. Hal inilah yang dengan segera membedakannya dengan pagelaran wayang yang dilakukan di wilayah kota. Pada pagelaran wayang yang dilakukan di wilayah pedalaman, penonton pada saat sore hari, biasanya adalah mereka yang berkepentingan dengan pagelaran awal, dan bukannya penonton wayang. Misalnya, para orang tua (bapak, ibu, saudara, kerabat) yang anak-anaknya tampil, atau teman-teman, orang tua, dan guru dari murid-murid sekolah yang saat itu tampil menari. Meskipun begitu, bisa saja mereka itu pada malam harinya langsung meneruskan acaranya dengan menonton pagelaran wayang.

Di kota-kota besar, pagelaran wayang lebih sering ditemukan sebagai suatu bentuk pagelaran yang bersifat berdiri sendiri dan tidak ada pagelaran lain yang mengawalinya. Bahkan pagelaran wayang seringkali sama sekali tidak melibatkan masyarakat kecil (misalnya: pedagang kecil). Karena itulah, mereka yang datang sudah bisa dipastikan adalah penonton fanatik pagelaran wayang. Karena mereka biasanya merupakan anggauta masyarakat perkotaan yang relatif sibuk dengan kegiatan sehari-hari, maka selepas makan malam mereka barulah mereka bisa ‘keluar’ dari rumah untuk menonton pagelaran wayang. Salah satu yang juga menjadi kekhasan penonton wilayah perkotaan, adalah mereka biasanya merupakan anggauta komunitas atau kelompok tertentu. Karenanya, mereka akan cenderung saling melakukan perjanjian lebih dahulu dengan teman-teman sekomunitasnya, jadi nonton wayang atau tidak. Seringkali faktor ‘siapa yang menjadi dhalang-nya’ juga memegang peran penting. Jadi rupanya, daya tarik dhalang menjadi sangat penting, dibandingkan dengan lakon atau cerita yang ditampilkan.

Continue reading