Tag Archives: ki timbul cermo manggolo

KTCM Sembodro Ratu


Dari Mas Sudarmanta

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kepada punggawa PPW yang dirahmati Allah. Selamat menjalankan ibadah puasa dan juga selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H yang sebentar lagi segera datang kepada kita. Hari ini, Jum’at 26 Agustus 2011 kembali saya kirimkan persembahan wayang dari Ki Dalang Mas Bekel Timbul Cermo Manggolo (suwargi) dengan lakon Sembodro Ratu. Semoga menambah khazanah perwayangan di Blog kita tercinta ini. Amin.

Salam YOGYA MEMANG ISTIMEWA.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb

URL untuk Sembodro Ratu  – Ki Timbul Cermo Manggolo

  1. http://www.4shared.com/audio/XgTDQuP_/SEMBODRO_RATU_01_-_Ki_Timbul_C.html
  2. http://www.4shared.com/audio/xfzXxq-6/SEMBODRO_RATU_02_-_Ki_Timbul_C.html
  3. http://www.4shared.com/audio/DgGGVg6G/SEMBODRO_RATU_03_-_Ki_Timbul_C.html
  4. http://www.4shared.com/audio/8agWZ89b/SEMBODRO_RATU_04_-_Ki_Timbul_C.html
  5. http://www.4shared.com/audio/kbs8Gab9/SEMBODRO_RATU_05_-_Ki_Timbul_C.html
  6. http://www.4shared.com/audio/B3j3fVFM/SEMBODRO_RATU_06_-_Ki_Timbul_C.html
  7. http://www.4shared.com/audio/IooMVG7a/SEMBODRO_RATU_07_-_Ki_Timbul_C.html
  8. http://www.4shared.com/audio/nwSYXOEb/SEMBODRO_RATU_08_-_Ki_Timbul_C.html
  9. http://www.4shared.com/audio/8ZzRM0S-/SEMBODRO_RATU_09_-_Ki_Timbul_C.html
  10. http://www.4shared.com/audio/BP4EZS5b/SEMBODRO_RATU_10_-_Ki_Timbul_C.html
  11. http://www.4shared.com/audio/R7C-JMXD/SEMBODRO_RATU_11_-_Ki_Timbul_C.html
  12. http://www.4shared.com/audio/-pVnIBLT/SEMBODRO_RATU_12_-_Ki_Timbul_C.html
  13. http://www.4shared.com/audio/GcW8mmb4/SEMBODRO_RATU_13_-_Ki_Timbul_C.html
  14. http://www.4shared.com/audio/e0MuvkxA/SEMBODRO_RATU_14_-_Ki_Timbul_C.html
  15. http://www.4shared.com/audio/B_30dt_L/SEMBODRO_RATU_15_-_Ki_Timbul_C.html
  16. http://www.4shared.com/audio/jZ526ZVZ/SEMBODRO_RATU_16_-_Ki_Timbul_C.html

KTCM “Gatutkaca Kendaga”


Kali ini Mas  Darmanto dari Radio Suara Parangtritis AM 828 Jogjakarta di Jl. Parangtritis km.22 Bantul Jogja, kembali berbagi untuk kita semua, khususnya pecinta Swargi Ki Mas Bekel Timbul Cermo Manggolo, dengan judul “Gatotkaca Kendaga”.

Selamat Menikmati

Matur nuwun sharing nya Mas, semoga sukses selalu

 

Update Terakhir : 03042014

http://www.4shared.com/folder/mCPs0UPD/030.html

KTCM “Antareja Begal”


Masih koleksi dari kiriman Mas Darmanto dari Radio Suara Parangtritis AM 828 Jogjakarta di Jl. Parangtritis km.22 Bantul Jogja. Kali ini menampilkan kiprah Almarhum KiTimbul Cermo Mangolo dengan mengambil lakon “Antareja Begal”

Matur nuwun kepada Mas Darmanto

 

Update Terakhir : 03042014

http://www.4shared.com/folder/cyL83nuo/024.html

Teruntuk KTCM


Konsisten dengan keyakinan kuat adalah suatu perjuangan
apalagi bila lingkungan sekitar seolah berseberangan
dan katanya jaman maju menginginkan yang serba moderen
serba praktis, serba menarik
dan harus disukai masyarakat
karena bersifat menghibur, entertain

Istiqomah dengan kemantaban tekad adalah suatu perjuangan
kala dunia dipenuhi oleh konsumerasi dan dipengaruhi gaya hedonisme
maka sebuah kesederhanaan seakan laksana sebuah jarum tertelan segudang jerami
dan penyampaian nilai kehidupan seperti berteriak dalam hiruk pikuk di pasar
tenggelam
lenyap
tertelan jaman

Konsistensi dan istiqomah adalah milikmu
beberapa dekade telah kau jalani melalui rute yang sama
walau mungkin hanya segelintir orang yang mengiringimu
tidak peduli karna keyakinan begitu menghunjam
dalam hati terus terpatri
keyakinan
bahwa kebenaran adalah kebenaran
bahwa nilai-nilai kehidupan harus diwartakan
bahwa kebaikan harus menjadi pakaian keseharian
dan
bahwa kesederhanaan
slalu akan menghindarkan diri carut marut, hingar bingar dunia yang tak tentu arah
bahwa kesederhanaan
adalah inti dari kehidupan

Selamat jalan Ki Timbul Cermo Manggolo
Smoga Allah memberimu jalan lapang di akhirat baka
pesanmu agar tak ada wayang di pemakamanmu
adalah benar adanya
wayangmu akan kami mainkan, insya allah
menghadaplah kepada Allah hanya dengan amal kebaikanmu
bersama konsistensi, istiqomah dan kesederhanaanmu
bersama perjuanganmu
dan
bersama doa kami semua

Bandung, 10-05-2011 17:45
Prabu

Berita-berita tentang KTCM di media

Ki Timbul Tak Ingin Ada Wayang di Pemakamannya

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Semasa hidupnya, Ki Timbul Hadiprayitno, salah satu dalang wayang kulit yang andal di negeri ini, pernah berpesan pada Gesang Sudrasono, salah seorang anaknya, agar anak-anak dan keluarganya tak membawa wayang dan keris ke lokasi pemakamannya. “Bapak beralasan, saya orang Islam,” kata dia mengenang, Selasa, 10 Mei 2011.

Continue reading

Kiriman Mas Ali Mustofa


Tadi siang saya memperoleh kiriman koleksi dari Mas Ali Mustofa Trenggalek berjumlah 4 keping DVD/VCD, dengan perincian sbb :

  • Wahyu Cahyo Wacono – Ki Timbul Cermo Manggolo (6 file MP4)
  • Pandowo Krido – Ki Rusmadi (5 file AVI)
  • Anoman duta – Ki Bayu Aji Pamungkas (1 file DAT)
  • Petruk Dadi Ratu – Ki Deny Sableng Carito (4 file DAT)
  • CAPRES (Calo Presiden) 2014 – Republik Mimpi (1 file AVI)
  • Album Pop Keroncong “Langgam Kasmaran” (10 lagu format DAT)

Ki Rusmadi adalah dalang gaya Mataraman yang mirip dengan KHS, tetapi beliau setuju dengan    adanya kolaborasi dalam pertunjukan sesuai dengan perkembangan jaman. Beliau adalah seorang anggota Kepolisian di wilayah POLDA DIY.        Sepeninggal KHS beliaulah yang sekarang disebut sebut warga Kulon progo sebagai dalang yang mirip KHS dalam olah vocal maupun gaya humornya.

Ki Deni Sableng Carito nama aslinya Deni Setiawan berasal dari Blitar Jawa timur  yang tergolong masih muda, lahir tahun 1982. Sejak kecil belajar dalang dan pernah nyantrik kepada Ki Manteb Sudarsono       . Kemudian belajar dalang di Sanggar Pedalangan Trenggalek di rumah bapak Hanarko koko atau lebih terkenal dengan nama Pak Koko (MC atau Presenter senior di Trenggalek).

Matur nuwun Mas Ali Mustofa dan segera nanti disharing kepada para sutresna wayang di sini.

Insya Allah.

Ki Timbul yang Konsisten


http://asia.groups.yahoo.com/group/paguyuban_pecinta_wayang/message/2190

Mas Sugiran dan sahabat-sahabat saya

Saya sependapat dengan anda. Ki Timbul Hadi Prayitno, merupakan salah seorang dhalang senior (maestro), yang mempunyai suatu keunggulan yang sangat jarang dimiliki dhalang lain, yaitu pagelaran wayang yang dibawakan beliau, sangat kuat memilih dan memakai kalimat-kalimat yang sangat mudah dimengerti orang awam. Coba dengarkan guyonannya. Semua guyonannya selalu merupakan kalimat yang mudah dicerna dan merupakan guyonan gaya ‘wong cilik’ (rakyat jelata). Meskipun saya termasuk penganut mahzab Pesisir, tetapi saya sangat mengagumi permainan mahzab Mataraman Klasik yang menjadi dasar utama pagelaran wayang yang dibawakan beliau.

Coba juga dicermati cara dan gaya beliau saat menceritakan adegan dalam pagelaran wayang. Bahkan, kita bisa memahami dan membayangkan berbagai adegan yang dibawakan beliau tanpa perlu melihat pagelarannya secara langsung. Misalnya, jika mendengarkan pagelaran Ki Timbul dari radio. Seakan-akan pagelaran wayang yang dibawakan beliau itu tampil secara sangat jelas di dalam imajinasi kita.

Saya juga sangat beruntung, karena pernah melihat pagelaran beliau, yang dilaksanakan di Siti Hinggil Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, beberapa puluh tahun yang lampau. Saat itu, beliau ndhalang dengan iringan gamelan keraton yang sangat luar biasa jumlah ricikan-nya dan sangat bagus suaranya. Bahkan memakai dua pengendhang (biasanya kan hanya ada satu pengendhang), tidak termasuk penabuh bedhug ageng. Kalau saya tidak salah, saat pagelaran wayang itu, beliau diringi memakai gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Laut. Sedangkan pradangga-nya sebagian besar merupakan pradangga dalem keraton, dari kelompok ‘Uyon-uyon Adi Luhung’, yang semuanya merupakan pradangga senior atau maestro yang sangat mumpuni. Waktu itu, saya hanya bisa tercengang dan duduk diam terpaku saja semalam suntuk, tanpa bisa berkata-kata atau berkomentar apapun. Terus terang, saya belum pernah mendengar suara gamelan yang seperti itu getar, gaung, dan gemanya.

Getaran nadanya, begitu aneh dan mencengangkan, karena membuat setiap nada yang dibunyikan menjadi mengalun berombak, dan bunyi yang dihasilkan, seperti dilakukan oleh ratusan pradangga. Saya kok merasa pengaturan (penalaan) nada pada kedua gamelan ini, bisa menghasilkan efek seperti ditabuh oleh beberapa ratus orang (efek bunyinya, seakan-akan seperti penabuhnya dilipat-gandakan jumlahnya). Tentang hal ini, sudah pernah saya tanyakan kepada banyak panji, termasuk beberapa panji sepuh sekalipun. Semuanya tidak bisa menjawab secara jelas, bagaimana efek suara itu bisa dihasilkan. Kebanyakan hanya menjawab bahwa itu merupakan permainan ‘embat’ saja. Tetapi dalam hati kecil saya, tetap saja selalu bertanya-tanya (karena ada semacam ketidak-puasan atas jawaban yang saya terima),apa yang sebenarnya menjadi penyebab terjadinya efek penggandaan bunyi itu.

Seingat saya, yang memakai mikropon saat itu hanya, dhalang, pesindhen, wiraswara, rebab, gender barung, gambang, slenthem, dan siter. Ricikan lainnya sama sekali tidak dilengkapi mikropon. Saat itu, saya juga melihat sama sekali tidak ada peralatan elektronika apapun yang dipasang sehingga bisa menghasilkan efek seperti melipat-gandakan pradangga-nya. Hanya ada sound mixer biasa dengan sebuah perangkat penguat suara (audio amplifier) yang juga biasa saja. Lodspiker, hanya dipasang dua set, masing-masing di sisi kanan dan kiri panggung.

Continue reading

KTCM : Antasena Takon Bapa


Lakon ini sudah ada sebelumnya di blog ini, “Antasena Takon Bapa“. Sebagai perbandingan boleh juga kalau dimiliki koleksi dari Radio Swara Kenanga ini.

Secara umum audio file yang saya terima mempunyai bitrate antara 32-64 KB sehingga size dari file relatif kecil. Kalau saya biasanya menggunakan standar audio CD yaitu 128 KB/144 KHz.

“Antasena Takon Bapa”

Password silahkan lihat di Milis PPW

Siapakah ANTASENA ?

Berikut tulisan Pitoyo Amrih

Anda tak akan menemukan tokoh ini pada versi Mahabarata aslinya, versi India. Karena tokoh Antasena hanya ada di kisah wayang gubahan Jawa. Pun hanya ada di Yogyakarta. Pada wayang Surakarta, nama Antasena juga ada, tapi Antasena di sini, hanya nama lain dari tokoh Antareja. Sedang di Yogyakarta, Antasena dan Antareja dikisahkan sebagai dua karakter yang berbeda, walaupun keduanya sepertinya sama-sama diciptakan sebagai sosok ‘pencari’ makna kehidupan sejati, tapi nuansa tingkah-laku mereka sangat berbeda. Antasena adalah anak bungsu Raden Bima, kedua Pandawa. Lahir dari rahim Dewi Urangayu, putri semata wayang Sang Hyang Baruna. Jalinan kisah itu membuat Antasena menjadi sosok yang unik. Dia adalah bangsa manusia, lahir dari keturunan campuran bangsa Samodra dan bangsa Dewa.

Di dalam pakeliran wayang Jawa, sosok Antasena menyimpan misteri tersendiri, entah karena pengejawantahan karakter Antasena sendiri yang samar, ataupun sengaja dibuat demikian, tak ada yang tahu. Tapi konon kabarnya memang sosok karakter Antasena ini dimunculkan sebagai penggambaran akan sebuah kepribadian sufi. Orang menghubung-hubungkan akan kemunculan tokoh Antasena ini dengan semisal figur ‘nyleneh’ Syeh Siti Jenar ataupun sosok ‘sakral’ Abdul Qadir Jaelani.

Tak banyak dalang yang cukup ‘berani’ melakonkan tokoh Antasena dalam pertunjukannya. Mungkin karena penokohannya sendiri yang misterius, atau kegamangan para dalang itu yang merasa tidak cukup mampu menghidupkan karakter Antasena dari tangan mereka.

Antasena bisa dikesankan orang yang angin-anginan, sudah tidak lagi memandang dunia. Terbebas dari sifat unggah-ungguh kehidupan kerajaan. Dia bebas berkata kepada siapa saja tanpa harus berbahasa halus. Kesaktiannya sulit digambarkan, karena tak pernah diceritakan dia kalah oleh orang lain, bahkan oleh bangsa Dewa sekalipun! Konon untuk membalik dunia wayang pun dia dianggap mampu.

Lalu, kira-kira karakter yang seperti apa yang ada dalam kepribadian seseorang sakti tanpa tanding? Karena toh kemampuan seperti ini tidak mungkin ditempelkan pada tokoh antagonis. Karakter seperti ini pun rasanya akan hambar bila harus ada pada para ‘lakon’. Sehingga karakter ini seolah kemudian dilengkapi dengan sebuah penggambaran akan sifat ketinggian ilmu dan kebijaksanaannya. Ilmu yang secara awam tak akan mampu dibaurkan dengan para tokoh wayang kebanyakan. Ada yang kemudian memunculkan tokoh ini dengan kesan lucu dan selengekan, saya pikir demi sebuah upaya agar tokoh Antasena ini bisa digagas dan diterima secara khalayak. Tapi tetap ada juga yang berusaha menggambarkan tokoh Antasena ini seperti keinginannya, men-tauhid, kesufi-sufian, jauh dari keinginan dunia, dan selalu mengagungkan Sang Pencipta di setiap langkahnya.

Bentuk fisik yang khas adalah kulit sisik kemerahan di sekujur badannya. Digambarkan seperti sisik udang. Dapat hidup di darat dan di dalam air.

Antasena jelas tidak dilibatkan di perang Baratayudha. Gubahan cerita wayang versi Jawa itu tetap menempatkan Antasena seperti apa adanya, samar-samar. Dan karakter seperti Antasena tentunya tidak punya keinginan untuk turut serta pada hingar bingar peperangan. Karena kehidupan dan kematian yang dilihatnya sudah beda sekali dibanding yang dipahami orang kebanyakan.

Ketika banyak orang yang khawatir akan kesaktiannya yang tanpa tanding, akankah dia melibatkan diri pada perang Baratayudha? Cerita itu membawa pengertian bahwa justru Antasena sendiri yang tidak begitu tertarik untuk terlibat Baratayudha. Karena baginya hampir tak ada jarak pemisah antara ‘membunuh’ dan ‘melapangkan jalan kematian’. Satunya akan dihujat dan dikutuk, sementara yang satunya akan mendapat terimakasih dari si mati.

Kematiannya pun penuh misteri. Seakan cerita itu memang sengaja dibuat tidak lengkap demi mempertahankan sosok remang-remang bagi Antasena. Ada yang berkata bahwa dia hidup terus dan tak pernah mati. Ada versi yang mengungkap bahwa Antasena menjadi mengecil dihadapan Sang Hyang Wenang menjelang Baratayudha. Juga ada versi –yang saya pakai dalam novel saya- dimana dia menempuh jalan kematian sebagai tanaman jagung untuk juga menahan keterlibatan Baladewa di Baratayudha. Untuk kemudian kembali merubah dirinya sebagai ikan pari untuk mengantar jasad Bisma bertemu roh Dewi Amba di alam dasar Samodra. Dan jalan kematian itu pun seakan tak pernah selesai, ketika Antasena selalu merubah dirinya ke wujud kehidupan lain setelah kehidupan sebelumnya dianggapnya sudah selesai tugasnya.

Antasena memiliki istri Dewi Jenakawati, putri Arjuna.

Pitoyo Amrih

http://www.pitoyo.com/duniawayang/mod.php?mod=publisher&op=printarticle&artid=31

Update Terakhir : 02042014

Koleksi 1 :

http://www.4shared.com/folder/PLF2IeHi/025.html

Koleksi 2:

http://www.4shared.com/folder/XwbJiW5Y/026.html

Koleksi KTCM “Swara Kenanga Jogja Radio”


Sabtu sore kemarin saya telah menerima kiriman koleksi wayang dari Pak Siswanto Jogja. Matur nuwun Pak Sis, insya allah akan mulai saya share minggu depan. Matur nuwun.

Koleksi pagelaran wayang Kulit bersama Ki Timbul Cermo Manggolo (Ki Timbul Hadi Prayitno) koleksi dari Radio Swara Kenanga Jogja AM 774 (Pak Siswanto) :

Swara Kenanga Jogja Radio

AM 774 KHz

“Citra Seni Budaya Bangsa”

Address : Jl Panti Wreda 5,Giwangan,Umbul Harjo, YOGYAKARTA 55163
Phone : Telp : 0274 383537 – 0274 410244
Fax : Fax : 0274 410244
Website :
Email : swarakenangajogja_am@yahoo.co.id

  1. Anoman Takon Bapa
  2. Anoman Takon Swarga
  3. Banjaran Abimanyu
  4. Banjaran Arjuna 1
  5. Banjaran Arjuna 2
  6. Banjaran Bimo Seno
  7. Banjaran Carios Hanoman
  8. Banjaran Carios Gatotkaca
  9. Banjaran Duryudono
  10. Banjaran Karno
  11. Banjaran Kumbokarno, Gunawan Wibisono
  12. Banjaran Pandita Durna
  13. Banjaran Baladewa
  14. Banjaran Sengkuni
  15. Begawan Ciptoning (Mintaraga)
  16. Durna Gugur
  17. Gatotkaca Gugur
  18. Gatotkaca Krama
  19. Kalima Husada 1
  20. Kalima Husada 2
  21. Karno Tanding
  22. Kresna Duta
  23. Kresna Gugah
  24. Kuncara Manik
  25. Lokapala Bedah
  26. Pasar Anyar Ngastino
  27. Prabu Watu Gunung
  28. Permadi Krama
  29. Puspita Dewa Retna
  30. Rama Nitik
  31. Rama Tambak
  32. Rama Nitis
  33. Rubuhan (Barata Yudha)
  34. Satriyo Pinilih
  35. Semar Boyong
  36. Sesaji Rajasuya
  37. Setya Wening
  38. Suyudana Gugur
  39. Wahyu Imandaya Nutuh
  40. Wahyu Widayat
  41. Wisanggeni Krama
  42. Wisnu Ratu