Tag Archives: Ki Sigit Adji Sabdopriyono

Ki Sigit Aji Sabdopriyono


http://bayusatria.multiply.com/journal/item/11/Mengenal_Ki_Sigit_AS_Dalang_Banyumas_yang_Tenar_di_Amerika

Sesuai Pakem, Lakonkan Ramayana dengan Bahasa Inggris

TAK mudah menjalani profesi sebagai dalang. Apalagi, nama orang tua menjadi pertaruhan ketika ciri khas sudah banyak dikenal orang. Meski demikian, Ki Sigit Adji Sabdopridjono, putra sulung dari dalang kondang Banyumas Ki Sugito itu berani mencoba hal baru dalam dunia pewayangan, yakni menampilkan wayang berbahasa Inggris.

Wayang dengan bahasa Inggris yang akan ia tampilkan bukan pertama kalinya dalam pertunjukan Ki Sigit. Sedikitnya, dalang jebolan Sekolah Seni Indonesia (SSI) Solo itu pernah menggelar show wayang berbahasa Inggris selama enam kali. Itu dilakukannya saat ia dipercaya menjadi dosen pengampu mata kuliah karawitan di University of Michigan, USA.

Saat main enam kali di enam negara bagian berbeda, Ki Sigit yang juga kakak kandung dari Mayang Sari mengambil lakon Ramayana. Ia mengambil judul Missing Princess atau hilangnya seorang putri. Putri yang hilang dalam lakon Missing Princess itu tak lain adalah Dewi Shinta. Wayang yang ia gelar adalah wayang kilat yang menceritakan perjalanan penculikan Dewi Shinta oleh Rahwana.

“Durasi waktu pagelaran wayang pada umumnya lebih dari delapan jam, tapi saya hanya menyajikan satu cerita sehingga hanya butuh waktu satu jam saja,” tutur kakak kandung artis Mayangsari itu.

Kehebatan melakonkan wayang tak mengubah performa Ki Sigit yang nyentrik. Gayanya tidak berbeda dengan anak muda gaul lainnya. Mulai dari cara berpakaian maupun gaya berbicaranya. Namun, soal keahlian dan pengatahuannya tentang wayang, Ki Sigit lebih dari pada menguasai segalanya. “Saya selalu berusaha menerapkan pakem seperti yang ayah saya lakukan, meski dalam menyampaikan cerita saya menggunakan bahasa Inggris saat di Amerika dulu,” tutur Ki Sigit.

Ki Sigit mengaku kagum dengan gaya ayahnya yang saklek tidak mau menggunakan peralatan modern dalam pertunjukkannya. Itu menjadi salah satu gaya khas ayahnya yang hingga sekarang belum bisa ditiru. “Saya kadang masih tetap harus menggunakan peralatan modern seperti organ atau drum untuk memenuhi kebutuhan pasar,” kata Sigit. Namun demikian, saat ini Ki Sigit mengaku sedang ancang-ancang untuk menunjukkan ciri khas wayang Banyumasan dengan bahasa asli Banyumas.

Kiprah Ki Sigit di dunia pedalangan cukup lama. Sebelum berangkat mengajar ke negeri Paman Sam, Ki Sigit pernah meraih juara pertama saat ikut dalam Festival Dalang Dulongmas tahun 2003 silam. Selama dua tahun dirinya mencoba meniti karir pedalangan di Eks Karesidenan Banyumas, hingga akhirnya memilih untuk menjadi pengajar di University of Michigan, sejak 2005 hingga 2007 kemarin.

Saat membawa kesenian asli Jawa itu ke USA, Ki Sigit mengaku begitu bangga. Pasalnya, mahasiswa lokal maupun berbagai negara yang sedang mengenyam pendidikan di USA, begitu apresiatif terhadap seni wayang. Saat main di berbagai negara bagian di sana itulah, Ki Sigit mendapatkan bantuan penayagan (penabuh gamelan) yang tak lain para mahasiswa di universitas dimana ia mengajar. Bukan hanya apresiasi, soal bayaran ki Sigit juga mengaku puas.

“Satu kali manggung minimal 3.000 dollar yang diberikan hanya untuk dalang. Bayaran tertinggi pernah saya dapatkan saat tampil di California semalam suntuk dibayar 7.500 dollar,” kenangnya.

Dikatakan Ki Sigit, memainkan pagelaran wayang di Amerika tidak mudah seperti di negera sendiri. Terutama soal peralatan yang harus dibawa ke tempat pertunjukkan. Hampir setiap kali manggung, Ki Sigit harus menguras tenaga dulu untuk menata seluruh peralatan sendiri mulai dari memasang kelir, angkut barang (wayang dan gamelan) sampai membereskannya sendiri saat pagelaran usai. “Jadi saya merangkap dalang sekaligus pekerja bongkar muat peralatan,” kisahnya. (ANGGA SAPUTRA, Purwokerto)

http://news.okezone.com/read/2008/04/05/1/97782/wayang-kulit-berbahasa-inggris-bikin-siswa-ger-geran

Wayang Kulit Berbahasa Inggris Bikin Siswa Ger-Geran

BANYUMAS-Aula SMU Negeri 2 Purwokerto ini telah dipenuhi oleh ratusan siswa dan guru yang duduk di lantai. Di ruangan inilah dalang Ki Sigit Aji Sabdopriyono (40), seorang dalang muda yang juga kakak kandung artis Mayank Sari ini menggelar pentas wayang kulit dengan pengantar Berbahasa Inggris.

Continue reading