Tag Archives: ki purba asmara

Dua Pakeliran yang Memikat


ki-purbo-asmoroenthus

http://www.suaramerdeka.com/harian/0411/29/bud4.htm

WAYANG kulit masih menjadi tontonan favorit bagi warga Kota Solo. Apalagi jika yang tampil adalah dalang yang sudah kondang. Tak heran, meski dua pertunjukan digelar di tempat berbeda pada waktu yang bersamaan, keduanya tetap dibanjiri penonton. Inilah yang terjadi Sabtu (27/11) malam lalu ketika Ki Enthus Susmono dan Ki Purba Asmara menggelar pentas di dua tempat berbeda.

Di Pagelaran Keraton Surakarta, dalam rangka peringatan Hari AIDS Sedunia, Ki Enthus Susmono tampil membawakan lakon Ontran-ontran Bawono. Sementara di Pendapa SMKN 8 Surakarta, dalam sebuah pesta hajatan, Ki Purba Asmara menggelar kelir dengan lakon Banjaran Bisma.

Bagi para penggemar wayang kulit purwa, tampilnya dua dalang kondang itu tentu saja menjadi momen yang sangat menarik. Pasalnya, dalang asal Tegal dan dalang asal Kampung Gebang, Kadipiro Solo itu sama-sama memiliki keistimewaan.

Ki Enthus yang dikenal sebagai dalang nyentrik mempunyai ciri khas pada garapan pakelirannya yang cenderung menonjolkan kreasi. Dengan gaya yang seperti itu, terkadang pakeliran Ki Enthus menjadi berbeda dengan pakeliran-pakeliran klasik.

Sebaliknya, Ki Purba Asmara yang selama ini dijuluki sebagai dalang priyayi justru sangat menonjolkan pakeliran klasik. Disitulah ciri khas dalang yang juga dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta tersebut.

Pemanggungan

Dengan latar belakang yang kontradiktif itu tentu saja bisa dibayangkan seperti apa sajian pakeliran dari kedua dalang tersebut. Dan, rasanya itu sudah mulai bisa dilihat bahkan ketika pentas wayangnya belum dimulai sekalipun.

Ya, dalam hal pemanggungannya saja, bisa dirasakan perbedaan antara keduanya. Lihat saja ketika Ki Enthus membuat panggung wayang yang tidak semestinya.

Di antara sejumlah instalasi yang turut menghiasi panggung, simpingan wayangnya sengaja tidak dijajar rapi namun dibuat berantakan dengan ada yang menggantung terbalik.

“Selain menyesuaikan dengan lakon yang berbicara tentang ontran-ontran, simpingan seperti itu sebenarnya salah satu bentuk penggambaran yang saya tangkap tentang situasi negara sekarang ini. Sekarang ini antara teman bisa saling sikut-sikutan, saling menjatuhkan atau kondisi-kondisi memprihatinkan yang lainnya,” papar dalang yang belum lama ini menjuarai Festival Dalang Tingkat Jawa Tengah.

Pada pakeliran Ki Purba, simpingan wayang masih seperti yang lazim. Di antara kelir yang membentang, boneka-boneka wayang tetap dijajar rapi dengan urutan sebagaimana yang sering dijumpai pada sebuah pergelaran wayang kulit.

Perbedaan pemanggungan antara kedua dalang itu juga terlihat pada penataan gamelan. Dalam sajiannya Ki Enthus juga membawa sejumlah alat musik elektronik, sementara Ki Purba hanya menghadirkan gamelan saja.

Lantas siapa yang paling unggul dari keduanya? Tentu saja pertanyaan itu tak akan bisa terjawab, mengingat dalam dunia seni masalah tersebut bisa sangat luas pengertiannya. Yang jelas keduanya memiliki keunggulan sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. (Wisnu Kisawa-63)