Tag Archives: ki manteb sudharsono

Suluhan Gatotkaca Gugur by KMS


(sumber gambar : Rupa dan karakter wayang purwa by Heru S Sudjarwo)

Sesungguhnya Dursasana waktu mendapat tugas dari kakaknya sudah enggan segera  berangkat ke istana. Namun kematian Burisrawa kawan karibnya yang hanya bisa ia saksikan dari jauh, sebab ia sudah menyanggupi kembali ke Astina, menjadikan ia terpicu untuk segera berangkat malam kemarin. Keengganan yang berkepanjangan memaksa dirinya menunda keberangkatannya, namun kini ia terpaksa kembali ke peperangan dengan hati yang panas terluka.

Tak disangka oleh siapapun tadinya, malam kemarin itu sepeninggal Dursasana ternyata menjadi malam yang mengerikan. Prabu Salya yang terluka hatinya karena kematian putra kebanggaannya, satria Madyapura Arya Burisrawa, memarahi orang orang disekelilingnya. Sesabar-sabarnya Prabu Salya, kematian putra lelakinya yang terakhir kalinya ini, membuat ia betul-betul kehilangan kendali diri. Kemarahan melebar hingga lagi-lagi murka itu menyerempet kepada Adipati Karna. Tidak terima menjadi tumpuan kemarahan, Adipati Karna segera menyatakan madeg senapati malam itu juga. Dua kali ia telah dikenai hatinya oleh mertuanya dan sekali oleh resi Krepa, membuat ia kembali bergolak kemarahannya. Kemarahan yang tidak dapat dilampiaskan sebagaimana ia melampiaskan kepada Krepa, membuatnya ia memilih jalan lain untuk melampiaskan kekesalan hatinya.

Adipati Karna adalah seorang adipati dengan pengaruh kuat terhadap negara negara jajahannya, segera ia menyusun barisan yang berisi prajurit jajahan Awangga. Tak peduli lagi tentang tata krama perang yang berlaku, dengan menyalakan obor beribu-ribu ia menggerakkan pasukannya yang berujud para raksasa dari negara Pageralun yang dipimpin oleh Prabu Gajahsura, negara Pagerwaja yang dipimpin oleh Kelanasura dan negara Pagerwatangan dengan Lembusaka.

Majunya Adipati Karna sebagai senapati dan akan menggempur lasykar Randuwatangan malam itu benar benar tanpa tata krama, barisan raksasa membakari beberapa pasanggrahan garis depan dengan tiba tiba. Arya Drestajumna dan Wara Srikandi serta Setyaki yang lelah siang tadi bertarung sudah harus kembali menahan serangan musuh. Berita serangan itu akhirnya sampai ketelinga penghuni Randuwatangan.

Arjuna yang dari tadi duduk tenang segera menggeser duduknya. Panasnya hati mendengar kejadian yang tidak lazim, membuat ia menawarkan diri untuk menandingi majunya senapati Kurawa malam itu“Kanda Prabu, perkenankan adikmu ini hendak menandingi kesaktian kanda Basukarna. Bagi kami, kanda Adipati adalah jodoh kami dalam perang. Hamba mohon sekarang kami diijinkan. Inilah saat yang hamba nantikan kanda Prabu”.

Arjuna, bila majunya Karna ada pada waktu yang benar, maka aku ijinkan kamu untuk menandinginya. Tapi sekarang yang terjadi adalah perang dengan tidak menggunakan tata aturan perang yang sudah disepakati. Perang waktu malam adalah tindakan yang bukan watak satriaTenanglah lebih dulu, jangan terbawa oleh hawa kemarahan”.

“Werkudara, bila anakmu aku wisuda jadi prajurit untuk menghadapi musuh malam ini, apakah kamu setuju ?” Kresna yang dihadapi oleh Werkudara malam itu menanyakan kerelaannya.

“Anakku dilahirkan memang sebagai prajurit. Sudah semestinya peristiwa malam ini menjadi harapan bagi anakku untuk diberi kehormatan sebagai senapati. Tetapi kenapa harus Gatutkaca yang harus menjadi senapati malam ini ?”. Sahut Werkudara.

“Anakmulah yang mempunyai mata Suryakanta, yang dapat awas diwaktu malam, dan kotang Antrakusuma yang menyorot hingga dapat menerangi sekelilingnya”. Kresna menjelaskan dengan menyembunyikan kenyataan yang ia telah ketahui dari kitab Jitapsara. Saat inilah Gatutkaca harus pergi untuk menghadap hyang widi wasa.

“Apakah bila anakku ada apa-apanya, kamu bertanggung jawab atas penunjukanmu atas Gatutkaca ?”Kembali Werkudara dengan rasa was-was, naluri seorang ayah, menanyakan kepada Kresna.

“Aku adalah manusia yang mungkin dapat melakukan kesalahan, tetapi bila sampai anakmu gugur nanti, itu adalah mati dalam membela negara, mati sempurna sebagai kusuma bangsa, bukan mati sia sia. Kejadiannya akan tercatat dalam lembar sejarah dengan nama harum yang tak kan pernah tersapu oleh angin jaman. Masihkah kamu ragu ?” kembali Kresna meyakinkan hati adik iparnya yang masih saja ragu.

“Aku menurut apa kata katamu “ Werkudara akhirnya merelakan.

“Baik, adikku Drestajumna, panggil keponakanmu Gatutkaca menghadapku. Sekarang juga ”.

Segera menghadap Raden Gatutkaca kehadapan uwaknya, yang mengatakan bahwa kesaktian Gatutkaca-lah yang mampu membendung serangan Adipati Karna. Begitu mengetahui ia diberi kehormatan untuk menjadi senapati untuk berhadapan dengan Sang Arkasuta-Karna. Bangga hati Gatutkaca. Raden Arjuna-pun ikut memuji kesaktiannya yang dimiliki sang keponakan. Tersenyum lega hati dan gembira sang Gatutkaca setelah penantiannya, kapan ia akan diwisuda menjadi senapati dalam peperangan besar, segera malam ini terlaksana.

“Uwa Prabu, Rama Kyai, dan semua sesepuh, perkenankan hamba hendak berpamitan untuk maju ke medan pertempuran. Walaupun dalam dada ini tersimpan kemantapan diri yang besar, namun kesaktian uwa adipati Karna memang tidak dapat dianggap enteng. Dan tugas yang diberikan oleh para sesepuh dan orang tua kami, menjadikan rasa hamba bagaikan diberi kehormatan yang demikian tinggi, sejajar dengan derajat dari uwa Adipati Karna. Dan juga pemberian kesempatan sebagai senapati ini, putramu mengupamakan, sebagai hendak meraih bongkahan inten permata didalam taman surga”. Pamit Sang Purbaya kepada Prabu Kresna dan para sesepuh yang menyatakan sebagai meraih kebahagian sorga. Ia telah tidak sengaja berkata bagaikan pengucapan kata pamitan terakhir kalinya.

Kaget sang paman, Arjuna yang mendengar kata kata keponakannya itu. Kata kata terakhir ucapan Garutkaca, dalam pikiran Arjuna seperti halnya pamitan seseorang yang hendak mati. Segera dirangkulnya pundak Gatutkaca dengan air mata yang mulai menetes dikedua belah pipinya.

“Aduh anakku, kepergian adikmu Abimanyu sudah aku relakan. Ketika melihat sifat dan kesaktian yang kamu miliki, seakan tergantikan semua yang ada pada diri anakku. Namun dengan pernyataanmu tadi, aku merasakan adanya keanehan dalam ucapanmu tadi”.

“Permadi, tidak layaklah seorang satria memberi bekal tangis serta mengucapkan kata kata seperti itu kepada seorang senapati ketika ia hendak menunaikan tugasnya. Minggirlah, biar aku kalungi rangkaian melati buyut Prabu, sebagai tanda, bahwa sekaranglah saatnya Gatutkaca aku wisuda menjadi senapati”. Kata kata yang diucapkan Prabu Matswapati mau tidak mau membuat Arjuna menyisih memberikan kesempatan untuk eyangnya mengalungkan bunga sebagai tanda senapati.

Tak diceritakan persiapan prajurit Pringgandani, yang digerakkan oleh paman paman dari Raden Gatutkaca, Brajawikalpa, Brajalamatan dan para braja yang lain. Maka malam itu, campuh perang begitu mengerikan. Kedua pasukan yang berujud raksasa saling serang dengan suara raungan sebagaimana para raksasa. Suaranya terdengar bagai auman singa lapar dipadang rumput yang sedang berpesta bangkai kijang. Obor ditangan kiri dan senjata ditangan kanan mobat mabit membuat suasana perang menjadi begitu lain dari biasanya. Gemerlap pedang yang memantul dari cahaya merah obor berkilat bagai petir yang menyambar nyambar. Obor yang terpental jatuh seiring jatuhnya prajurit raksasa yang menjadi pecundang, tak urung membuat tanah yang mulai tergenang merah darah menjadi semakin merah. Bagaikan banjir api!  Dan diangkasapun terang obor dimedan Kuru seakan menelan sinar sang hyang wulan.

Tandang sang Gatutkaca tak kalah membikin giris siapapun yang melihatnya. Gerakannya bagai kilat hingga yang terlihat adalah ujud Gatutkaca seribu. Sigap tangannya menyambar nyambar kepala lawan. Yang lunak ditempelengnya hingga hancur, sedangkan yang liat dipuntirnya kepala hingga terlepas.

Ketiga sraya dari negara taklukan Awangga tak berdaya. Kelumpuhannya tinggal menunggu waktu kapan ia didekati oleh sang Gatutkaca, maka kepalanya akan segera lepas dari lehernya.

Benarlah, tanpa perlawanan berarti ketiga sraya itu berhasil disudahi oleh tangan kekar Gatutkaca.

Tetapi tidak hanya musuh yang tewas, kecepatan gerak dengan terbatasnya pandangan karena gelap malam dan sama sama berujud raksasa, para braja paman Gatutkaca ikut tewas oleh trengginasnya gerakannya yang begitu cepat.

Adipati Karna tidak dapat berbuat sesuatu lagi, selain harus menghadapi Gatutkaca sendiri. Maju ia setelah melihat prajuritnya banyak berkurang.

Segera Raden Gatutkaca dan Adipati Karna saling berhadapan. Adu kesaktian dan kekuatan saling dikeluarkan untuk melumpuhkan lawannya. Babak pertama Karna yang merasa keteter segera menerapkan ajiannya, Kalalupa. Ujud raksasa keluar dari tapak tangan Adipati Karna semakin banyak, menambah jumlah para raksasa yang dari ketiga negara jajahan Awangga. Dikerubut oleh makin banyak raksasa dengan perawakan yang sama, akhirnya membuat Gatutkaca keteteran. Segera serangan balik dilancarkan. Aji Narantaka warisan sang guru sekaligus buyut, Resi Seta, segera dirapal. Kobaran api menyembur dari kedua tapak tangan sang senapati, berkobar makin hebat padang Kurusetra oleh nyala api tambahan dari aji Narantaka. Semburan api dengan gemuruh keras membasmi raksasa jadian dari telapak tangan Karna. Mundur sang Adipati ngeri melihat semburan dahsyat api yang keluar dari ajian Narantaka senapati Pringgandani.

Terpesona Prabu Karna, dengan kesaktian sang Gatotkaca. Namun hal ini membawanya mengubah cara perangnya dengan menaiki kereta Jatisura, dengan kusirnya, yang juga patih Awangga, Patih Hadimanggala.

Malam yang sudah mencapai sunyi lewat tengah malam dihari lain, malam ini tidak berlaku. Geriap para raksasa yang sedang bertempur dengan geramannya masih membuat susana malam bagai terserang angin ribut. Kali ini ditambah dengan perbawa kesiur angin lesatan kereta Adipati Karna.

Diatas kereta, sang Adipati menyiapkan senjata Kunta Druwasa. Pusaka dewata yang dahulunya hendak dihadiahkan kepada Arjuna untuk memutus tali pusat Jabang Tetuka, bayi Gatutkaca, Atas keculasan Suryatmaja, nama Karna muda, pusaka itu jatuh ketangannya. Sedangkan Arjuna hanya mendapat sarungnya. Sarung itulah yang akhirnya bersemayam dalam puser sang Gatutkaca, ketika tali pusar berhasil diputus.

Waspada sang Gatutkaca ketika melihat Adipati Karna menghunus senjata Kunta Druwasa, dan bersiap melepaskan anak panahnya itu. Adipati Karna diuntungkan dengan sinar kutang Antrakusuma yang menyorot melebihi pijar sinar purnama didada musuhnya. Gatutkaca menghindari dengan naik lebih tinggi terbangnya, bersamaan lepasnya senjata Kunta. Ia melesat keatas awan, dengan harapan taklah panah Kunta berhasil mencapainya.

Syahdan, Kala Bendana, paman sang Gatutkaca, si raksasa boncel yang berhati bersih. Ia  yang terbunuh tidak sengaja oleh keponakannya ketika bersaksi atas menduanya Abimanyu dalam beristri, dalam peristiwa Gendreh Kemasan, Ia masih tetap setia menunggu sang keponakan di alam madyantara.

Rasaksa lucu yang kini berujud sukma setengah sempurna itu, hendak menjemput sang keponakan pada waktunya, ketika perang besar Baratayuda berlangsung. Saat inilah yang ditunggu. Maka ia bersiap berkeliling diatas arena tegal Kuru malam itu.

Maka ketika melihat lepasan sang Kunta Druwasa, disambarnya anak panah yang sebenarnya tak kuat sampai di sasaran diatas awan itu dan dibawanya menghadap Gatutkaca.

Kaget sang Gatutkaca ketika melihat sang paman datang keatas awan dengan membawa Kyai Kunta Druwasa sambil menyapa.

“Anakku Gatutkaca, sudah sampai saatnya pamanmu menjemputmu, Mari anakku, aku gandeng tanganmu menuju sorga “.

Takzim Gatutkaca menghormat pamannya.“Oh, paman . . . Aku tidak mengelak akan kesediaanku sesuai dengan janjimu. Putramu ikhlas, mari paman. Tapi perkenankan anakmu meminta sesuatu darimu”. Tak dapat menolak Gatutkaca atas ajakan pamannya. Ia telah pasrah dan mengaku segala kesalahannya dimasa lalu. Ia minta sesuatu sebagai permintaan terakhir terhadap pamannya.

“Dengan senang hati, anakku. Apa permintaanmu ?”senyum sang paman menanyakan permintaan keponakannya.

“Kematianku harus membawa korban dipihak musuh sebanyak banyaknya, hingga perang malam ini berakhir”.Jawab Gatutkaca mantap.

“Baik aku bisa melakukannya !”

Maka diarahkannya pusaka Kunta itu ke arah pusar sang Gatutkaca yang tersenyum menerima takdirnya. Melayang sukma Raden Gatutkaca ketika pusaka Kyai Kunta Druwasa masuk kedalam sarungnya. Dengan rasa kasih, digandengnya tangan kemenakannya menuju swarga tunda sanga. Penantian panjang sang paman akan keinginannya pergi berbarengan ke suarga bersama kemenakan tersayang, hari ini berakhir.

Bersatunya Kunta Druwasa kedalam sarungnya, menimbulkan akibat yang hebat. Sejenak kemudian diiringi suara mendesing, kemudian disusul suara gelegar hebat bagai suara meteor, raga Gatutkaca melesat menuju medan peperangan dibawah sana. Kecepatan lesatan raga Gatutkaca tak terkira cepatnya menimpa kereta perang Adipati Karna beserta sang kusir Hadimanggala. Tewas seketika sang patih. Remuk kereta Jatisura terkena tubuh sang Gatutkaca yang meledak menggelegar, menimbulkan lubang besar bertumbak-tumbak luasnya.

Begitu pula dengan putra Adipati Karna, Warsakusuma yang ikut ayahnya dalam peperangan juga tewas. Namun Adipati Karna berhasil menghindar.

Akibatnya, arena bagai terkena bom dengan daya ledak tinggi, hingga menewaskan banyak barisan prajurit. Gelombang kejut yang terjadi dari ledakan tubuh sang Gatutkaca menimbulkan hawa panas yang dahsyat hingga mampu meleleh luluh lantakkan apapun yang ada disekitar jatuhnya raga. Jangankan tubuh manusia, hewan tunggangan dan para raksasa, persenjataan yang terbuat dari logam-pun, cair meleleh, kemudian  menjadi abu. Dan seketika perang terhenti !

Berhenti perang meninggalkan luka dalam dihati Werkudara. Segera dicarinya Adipati Karna yang lari tinggalkan gelanggang peperangan.

Segera Sri Kresna menghentikan tindakan Werkudara. Disabarkan hati adik iparnya agar menunda dendamnya. “Lebih baik beritahu istrimu lebih dulu mengenai kejadian yang berlangsung malam ini.“Mari kita datang bersama dengan saudaramu yang lain untuk menghibur hatinya”.

“Kalau mau pergi ke Pringgandani, pergilah ! Aku tidak tega melihat apa  yang akan terjadi disana !”.Werkudara pergi sendirian kearah tak tentu dengan hati yang kosong. Kerasnya baja perasaan sang Bimasena tidak kuasa untuk membayangkan, lebih jauh lagi melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa hancur perasaan istri yang sangat dicintainya. Istri sakti yang tindakannya dimasa lalu berbuah jasa yang sangat besar bagi kelangsungan hidupnya, bahkan bagi kelangsungan hidup dan kejayaan seluruh keluarga Pandawa.

Kedatangan para Pandawa di sisa malam tanpa suaminya, membuat Dewi Arimbi terkesiap hatinya. Naluri seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang terjadi terhadap suami atau terlebih lagi bagi anaknya. Maka begitu diberitahu akan peristiwa yang terjadi malam tadi, ia berkeputusan untuk mengakhiri hidup dengan bakar diri dalam api suci. Demikan juga dengan Dewi Pregiwa, keduanya sepakat untuk bersama sama mengiring kepergian anak dan suami mereka. Semua saudara ipar dan Prabu Kresna tidak kuasa untuk membendung keinginannya. Maka upacara segera dimulai.

Dengan busana serba putih, sang Arimbi naik ke agni pancaka, menggandeng menantunya. Ia telah memutuskan pilihannya, tetap bersama suami atau mendampingi anak tunggal kekasih hatinya.

———————

Saya kutip kembali tulisan MasPatikRajaDewaku

Lakon Suluhan ini bersama Ki Manteb Sudharsono dapat dinikmati disini :

Link : http://www.mediafire.com/?42moccdc1nf6t

Password : wayangprabu.com

Persembahan dari rekanku Mas Guntur Sragen

Ranjapan Abimanyu by KMS


Pada bulan kedelapan atas usianya di kala masih di rahim ibunya, Sri Kresna bertutur di hadapan Arjuna, ayahnya. Sebuah suluh minyak jarak menempel di dinding kuil kecil di pinggir hutan itu, di kala Sri Kresna bertutur tentang gelar perang Cakrabyuha. Sebuah gelar perang dengan susunan prajurit perang yang melingkar berlapis membentuk kumparan yang akan mengurung musuh dengan tanpa kesempatan dan harapan untuk melepaskan diri. Sepasang telinga kecil dalam kandungan Subadra, ibunya, dengan takzim mendengarkan penuturan Sri Kresna tersebut. Tak berselang lama ketika Sri Kresna menerangkan tentang cara mematahkan gelar perang Cakrabyuha,  mimpi-mimpi malam telah memeluk Subadra dan anak yang sedang dikandungnya.

Abimanyu, anak Arjuna dari Subadra itu, tumbuh dan besar di Dwaraka dalam pengasuhan ayahnya. Olah kebathinan ia peroleh dari eyang buyutnya, Begawan Abiyasa. Wahyu Makutha Raja, Cakraningrat dan Wahyu Hidayat adalah karomah bathin yang ia dapatkan atas olah bathinnya. Ia menikah dengan Siti Sundari, putri Sri Kresna dan kemudian menetap di Plongkowati.

Bulan separuh purnama telah tancep kayon di ufuk barat. Gemintang terasa kurang di langit malam yang telah beranjak menjelang pagi. Dingin udara membekap padang Kurusetra. Sepi dan sunyi, hanya gemericik sungai Saraswati yang mengalun dari kejauhan. Di masing-masing ujung padang Kurusetra, tampak perapian yang masih menyala dengan lidah api yang hampir putus asa. Berdiri di belakangnya, pakuwon dari kedua belah pihak yang sedang terlibat dalam perang.

Dua belas hari sudah perang berlangsung di padang tersebut. Telah banyak korban atas perang wangsa Kuru itu. Tidak terkecuali eyang dari kedua belah yang sedang berperang, yakni Bhisma yang gugur pada hari kesepuluh dari perang tersebut. Perang saudara dengan tenaga yang tersisa yang telah menihilkan garis kekerabatan masing-masing pihak.

Pada hari ketiga belas, prajurit segelar sepapan Kurawa mengatur diri dengan gelar perang Cakrabyuha di bawah kendali Durna yang bertindak sebagai panglima perang Kurawa sepeninggal Bhisma. Prajurit Kurawa mengurung melingkar berlapis dan menekan pergerakan prajurit Pandawa. Dalam pergerakan prajurit Kurawa yang begitu cepat dan terus mengurung melingkar berlapis sebagai mana kumparan, satu per satu para prajurit Pandawa berjatuhan. Dalam hitungan waktu yang tak berselang lama, semakin banyak prajurit Pandawa yang meregang nyawa. Mereka, para prajurit Pandawa, terjebak dalam gelar perang prajurit Kurawa. Tiada kesempatan dan harapan bagi prajurit Pandawa untuk melepaskan diri dari sergapan musuh. Di depan dan belakang mereka, para prajurit Kurawa dengan kesiagaan yang sempurna senantiasa sigap untuk mengantarkan mereka dalam sekejap ke gerbang kematian.

Porak poranda para prajurit Pandawa, tercerai berai. Tiada lagi gelar perang yang dapat mereka kembangkan dalam perang di hari itu. Sementara para prajurit musuh, gelar perang Cakrabyuha yang mereka bangun tiada cela di dalamnya. Bukan perang brubuhsemestinya pada waktu itu, namun dengan perkembangan keadaan yang sangat tidak menguntungkan bagi  para prajurit Pandawa, suatu keniscayaan jika pada akhirnya perang tersebut menjadi perang brubuh bagi prajurit Kurawa dengan para prajurit Pandawa sebagai korbannya.

Di sisi utara Kurusetra, di kaki sebuah bukit, Yudhistira tertegun sejenak menyaksikan kenyataan itu. Dalam benaknya, hanya Arjuna dan Abimanyu yang dapat mematahkan gelar perang musuh. Yudhistira segera memerintahkan Abimanyu untuk merusak gelar perang para prajurit Kurawa. Sementara pada saat yang bersamaan Arjuna terlibat perang tanding dengan Bhagadatta.

Dengan berharap perlindungan dari empat Pandawa lainnya, Abimanyu merangsek dan mencoba merusak gelar perang musuh. Namun upaya perlindungan terhadap Abimanyu adalah kesia-siaan. Jayajatra menghadang empat Pandawa itu. Abimanyu terjebak seorang diri dalam gelar perang yang mulai mengepung dirinya. Dua kuda kereta perangnya telah mati setelah dibunuh prajurit lawan. Di samping kereta perangnya yang telah lumpuh, Abimanyu mencoba bertahan dari gempuran para prajurit Kurawa yang yang tak terhitung jumlahnya. Sementara Laksmana, putra Duryudana, berdiri pada lapis ketiga dari prajurit Kurawa yang menyerang Abimanyu.

Abimanyu terus bertahan dari gempuran musuh. Sementara empat Pandawa lainnya masih terhadang oleh Jayajatra dan para prajuritnya. Sesaat di tengah upayanya untuk bertahan, Abimanyu mencoba mengecoh perhatian prajurit musuh dengan melemparkan sebilah keris yang ia genggam di tangan kirinya ke arah Laksmana. Dengan sebelumnya menembus dua prajurit Kurawa, keris itu dengan tepat menghunjam ke dada Laksmana. Tersungkurlah Laksmana dengan dada bersimbah darah oleh keris Abimanyu.

Terperanjat Duryudana menyaksikan putera kesayangannya terbunuh dengan tragisnya. Kemurkaannya meluap, segera ia perintahkan segenap prajurit Kurawa untuk menyerang Abimanyu. Tanpa kecuali Sang Maharesi Durna dan Basukarno. Atas saran Durna, Basukarno menghancurkan busur Abimanyu dari belakang. Kereta perangnya yang tersisa dihancurkan dan semua senjatanya terbuang. Sebuah peperangan yang sudah lagi tidak mengindahkan aturan perang. Prajurit Kurawa menyerang Abimanyu secara serentak. Dengan kemampuan yang tersisa, Abimanyu dapat bertahan sampai pedangnya patah menjadi dua bagian dan roda kereta perang yang ia gunakan sebagai perisai hancur berkeping-keping. Sesaat kemudian, ratusan anah panah mengarah ke segenap bagian tubuh Abimanyu. Ia roboh bersimbah darah dengan luka di sekujur tubuhnya dan tanpa satupun bagian tubuhnya yang luput dari anak panah yang menghunjam.

Kakawin Bharatayudha menuturkan : “Ri pati Sang Abhimanyu ring ranangga. Tənyuh araras kadi cewaling tahas mas. Hanana ngaraga kalaning pajang lek. Cinacah alindi sahantimun gininten.” Ketika Abimanyu terbunuh dalam pertempuran, badannya hancur. Indah untuk dilihat bagaikan lumut dalam periuk emas. Jasadnya terlihat dalam sinar bulan dan telah tercabik-cabik, sehingga menjadi halus seperti mentimun.

Satu tahun sebelum perang itu, di hadapan Dewi Utari yang hendak dipinangnya, Abimanyu bersumpah bahwa ia bersedia menerima ranjapan senjata dalam suatu peperangan apabila ia berkata tidak jujur bahwa ia belumlah menikah. Sementara pada masa yang sama, Siti Sundari telah menjadi istrinya. Barang kali apa yang terjadi di padang Kurusetra itu adalah kepastian akan sumpahnya yang tiada tertunda.

Sumber tulisan : http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/04/27/ranjapan-abimanyu/

Sebuah lakon tragis kali ini dibawakan oleh Ki Manteb Sudharsono

silahkan menikmati disini :

link : http://www.mediafire.com/?dha97mpwhe4nv

password : wayangprabu.com

Lakon ini koleksinya Mas Guntur Sragen

Ki Manteb Sudharsono “Singer”


Selain piawai dalam mendalang memainkan wayang kulit sehingga terkenal dengan julukan “dalang setan” karena ketrampilan yang luar biasa, ternyata Ki Manteb Sudharsono juga jago dalam mencipta lagu serta menyanyikannya sendiri.

Berikut beberapa video hasil karya yang ditembangkannya sendiri

Ki Manteb Sudarsono “Jaman Edan”

Ki Manteb Sudarsono “Sayang”

Ki Manteb Sudarsono “Ledha Ledhe”

Video KMS Palasara Krama


Bersama Ki Manteb Sudharsono mari kita saksikan pagelaran wayang kulit berjudul “Palasara Krama”

KMS PANDOWO 9 LIVE


Mungkin sudah pernah ada yang mengunggah lakon Pandowo 9 atau Anoman maneges dari dalang Ki Manteb Sudarsono,tetapi tentunya berbeda dengan hasil dari convert audio kami dan ini juga salah satu koleksi istimewa dari KURNIA FM 91.5 MHz TRENGGALEK.

Ucapan terima kasih atas dukungannya terhadap kami (PPW Jatim) yang kembali mendapatkan supportnya dari KURNIA FM 91.5 MHz TRENGGALEK untuk dapat saling berbagi dengan sahabat – sahabat kami PPW dimana saja berada.

Lelah dan kantuk yang kami rasakan terasa indah dan enjoy disela – sela kesibukan kami mencari sesuap nasi setiap hari sehingga dapat menghadirkan beberapa Audio yang tentu dapat kita nikmati bersama.

PPW Jatim akan slalu setia menunggu kritik, saran, partisipasi ataupun kontribusi dalam bentuk apapun dan dari manapun sahabat – sahabat berada dan tentu akan menjadikan masukan – masukan positif serta menambah kedewasaan kami, karena Pengurus PPW Jatim masih terlalu muda dan tentu miskin pengalaman.

Akhirnya yang ditunggu – tunggu atau dinanti – nanti adalah dimana link audio lakon Pandowo 9 atau Anoman Maneges dari dalang Ki Manteb Sudarsono.

SELAMAT MENIKMATI

 

Update Terakhir : 02042014

http://www.4shared.com/folder/X42s-QkG/024.html

KMS SETYAKI PRASETYO (AUDIO)


Kali ini koleksi Audio KURNIA FM TRENGGALEK kembali mempersembahkan untuk PPW dimana saja berada lakon SETYAKI PRASETYO dibawakan oleh dalang KI MANTEB SUDARSONO mungkin sudah pernah diposting baik Audio maupun Videonya akan tetapi tentu beda livenya dimana dulu …..dan perlu kita nikmati bersama kali ini

SELAMAT MENIKMATI

Salam PPW Jatim

Ali Mustofa