Tag Archives: condong raos

Mengenang Ki Nartosabdho 1


Gending-gending Nartosabdhan memang enak dinikmati hingga kini. Membuktikan bahwa Ki Nartosabdho memang seniman dengan kualitas yang tiada banding dan tiada tanding. Karyanya begitu banyak namun tetap tidak dibuat asal-asalan.

Kumpulan gending-gending karya KNS ini adalah hadiah Kakak saya kepada Bapak dulu. Namun sebagian kaset sudah tidak ada lagi. Saya lihat di toko kaset di Klaten dan sekitarnya, kaset-kaset KNS masih banyak dipajang dan dijual. Tentu saja setelah di rekam ulang.

Side A :

  1. Praon Pl. 5
  2. Ngundha Layangan Pl. 6
  3. Janjine Piye Pl. 6

Side B :

  1. Gandaria Sl. 9
  2. Aku Ngimpi Pl. 6
  3. Bersih Desa Pl. Br.

Selamat Menikmati

 

KNS : Bale Golo Golo (Pakdhe MP)


Kembali saya link-an koleksi dari Pakdhe MP berupa pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho. Kali ini mengambil lakon “Bale Golo Golo”. Bagi yang ingin mengunduh langsung dari Multiply silahkan langsung menuju TKP disini.

Lakon ini sudah pernah di unggah di blog ini. Namun bila para sutresna ingin mengoleksi dan menikmati koleksi Pakdhe ini, silahkan dounduh koleksi dimaksud. Bagi yang merasa kesulitan untuk mengunduh via MP karena tidak familiar atau file-filenya terlalu besar, maka saya menyediakan di mediafire file-file yang telah saya split.

Silahkan dapat diunduh disini.

Matur nuwun Pakdhe

 

Update terakhir new upload : 29032014

http://www.4shared.com/folder/o1nGdNQH/139.html

Jumlah File : 3 File

KNS Banyumasan


KNS Gending2 Banyumasan Cover

Karawitan : Condong Raos

Pimpinan : Ki Nartosabdho

Waranggana : Nyi Ngatirah, Nyi Suyatmi, Nyi Suryati

Nartosabdho - Banyumasan

Sisi A:

  1. Randha Nunut Sl. Mnyr.
  2. Ricik-ricik Banyumasan Sl. Mnyr.
  3. mBang Lepang Sl. 9
  4. Warudoyong Sl. Mnyr.

Sisi B:

  1. Gunungsari Kalibagoran Sl. Mnyr.
  2. Logondang Banyumasan Sl. Mnyr.
  3. Eling-eling Banyumasan Sl. Mnyr.

Silahkan Nikmati disini

 

Aneka Pangkur dan Palaran KNS


Bersama Ki Nartosabdho dan Paguyuban Karawitan CONDONG RAOS dengan waranggono : NGATIRAH, TUGINI, TANTINAH dan wiraswara : PONIDI, PARNO, PRIYO, TOTO SUHARJO.

 Nartosabdho-Aneka Pangkur Vol 1 Cover

  1. Pangkur Gobjog Lr Sl Pt 9
  2. Pangkur Dudo Kasmaran Lr Pl Pt Br
  3. Pangkur Renas Lr Pl Pt 5
  4. Pangkur Wanaran Mataram Lr Sl Pt 9
  5. Pangkur Mocopat Lr Pl Pt 6
http://www.4shared.com/folder/yfVJgulX/Aneka_Pangkur_Vol.html

 Nartosabdho-Aneka Pangkur Vol 2 Cover

  1. Pangkur Macan Ucul Pl. Br
  2. Pangkur Rimong Batik Sl. 9
  3. Pangkur Asih Prana Pl. Br
  4. Pangkur Wolak Walik
http://www.4shared.com/folder/QPK7CvHg/Aneka_Pangkur_Vol.html

Aneka Palaran Vol. 1

  1. Palaran Dandanggula Sinom Durma
  2. Palaran Dandangula Sidaasih
  3. Palaran Maskumambang Mijil Sinom Pocung
  4. Palaran Kinanthi Megatruh Dandanggula Gambuh
http://www.4shared.com/folder/nh2I6jlo/Aneka_Palaran_Vol.html

 

Nartosabdho-Aneka Palaran Vol 2 Cover

  1. Dandanggula Palaran Waosan Sl. Mnyr
  2. Palaran Dandanggula Sidoasih Pl. 6
  3. Palaran Dandanggula Banjet Pl. Br
  4. Asmaradana Palaran gagrag Langen Driyan Sl. Mnyr
  5. Asmaradana Palaran gagrag Mondowanaran lan gagrag Waosan Sl Mnyr
http://www.4shared.com/folder/5UE1eWVW/Aneka_Palaran_Vol.html

Nyi Ngatirah


Artikel di bawah ini saya cuplik dari Harmonia berjudul “POPULARITAS SINDHEN”. Tidak saya tampilkan semua tulisan, hanya saya cuplik pada kisah Nyi Ngatirah. Bagi penggemar Condong Raos pimpinan Ki Nartosabdho, sosok sindhen ini tentu sudah tidak asing lagi.

M. Jazuli, Jurusan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Negeri Semarang


1. Latar Belakang Kehidupan Ngatirah

Ngatirah lahir pada tanggal 31 Desember 1944 di kampung Karangan, Sabrang, Jurang Jero, Karanganom, kabupaten Klaten. Ayahnya bernama Djojoredjo, seorang pengrawit (penabuh gamelan Jawa). Ibunya bernama Gladrah seorang wirasuasta yang mempunyai usaha home industry pencetakan genting (atap rumah) di kampungnya. Gladrah adalah istri kedua Djojoredjo memiliki tiga orang anak, yaitu Sugiyem, Ngatimin, dan Ngatirah. Perkawinan Djojoredjo dengan istri pertama mbok Nyendir tidak dikaruniai anak.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan sekaligus menyalurkan hobinya, Djojoredjo bekerja sebagai pengendang ketoprak dan wayang wong Tobong (kemidhên). Kesenian kemidhên dalam hal ini ketoprak dan wayang wong adalah suatu pertunjukan kesenian yang diselenggarakan di tempat yang tidak permanen, selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain dalam kurun waktu tertentu. Gedung pertunjukannya juga tidak permanen, biasanya terbuat dari anyaman bambu dengan atap dari dedaunan.

Jangka waktu penyelenggaraan pertunjukan tidak tentu, biasanya antara satu bulan sampai empat bulan karena tergantung pada animo jumlah penontonnya. Kemampuan dan kondisi penonton juga merupakan dasar pertimbangan utama pemilihan lokasi pentas kesenian Tobong karena biaya produksi pergelaran sangat bergantung dari hasil penjualan tiket. Dari hasil penjualan tiket itulah digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup para anggota kelompok kesenian Tobong serta membiayai segala perlengkapan pergelarannya.

Ngatirah sejak usia tujuh tahun sudah berafiliasi dengan lingkungan masyarakat seniman, mengikuti ayahnya bergabung dengan kesenian Tobong yang senantiasa melakukan pentas berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Sebagai konsekuensinya proses pendidikan Ngatirah agak terbengkelai, tidak lancar karena kesulitan membagi waktu antara bersekolah dan berpentas. Indikasinya, Ngatirah sering tidak masuk sekolah dengan alasan lelah, malas, dan mengantuk. Kenyataan itu bisa dimaklumi mengingat durasi pergelaran ketoprak maupun wayang wong relatif lama antara 4 sampai 6 jam, dan biasanya pergelaran dimulai sekitar pukul 20.00. Puncak persoalan yang dihadapi Ngatirah dalam pendidikan formalnya terjadi ketika wilayah pentas berjauhan dengan lokasi sekolahnya. Segala upaya telah dilakukan Ngatirah agar tetap bisa bersekolah, di antaranya berpindah sekolah yang dekat dengan wilayah pentasnya. Hal ini dilakukan sampai tiga kali berpindah sekolah. Namun usaha itu akhirnya kandas sampai di kelas 3 Sekolah Rakyat (setingkat SD) karena mau tak mau Ngatirah harus memilih antara bersekolah atau menjadi pengembara berkesenian.

Tentu saja hal ini merupakan pilihan yang sulit bagi Ngatirah. Jika bersekolah butuh biaya dan waktu sedangkan tingkat kemampuan ekonomi keluarga sangat lemah. Sebagaimana dia katakan, ”kadospundi badhé sekolah kanggé mangan mawon rekaos, wong tiyang mboten gadhah (bagaimana mau sekolah untuk makan saja sulit, saya orang miskin, wawancara 18 Oktober 2008)”. Sungguhpun demikian Ngatirah merasa bersyukur karena dari pendidikannya yang hanya sampai kelas 3 tersebut dia tidak buta aksara, Ngatirah mampu membaca dan menulis. Dengan kemampuan membaca dan menulis Ngatirah dapat belajar sindhén kepada maestro dalang Ki Narto Sabdo yang selalu memberikan materi gending dan tembang dengan notasi yang memerlukan keterampilan membaca.

Pada tahun 1956 Ngatirah yang berusia 12 tahun pindah ke Semarang mengikuti ayahnya bergabung dengan grup wayang orang Ngesti Pandawa dan hidup satu rumah dengan ibu tirinya Wasiyem atau akrab dipanggil mbok Welas, istri ketiga Djojorejo. Meskipun harus tinggal bersama ibu tirinya, Ngatirah merasa senang menjalani hidupnya karena Wasiyem memahami aktivitasnya bersenian dan memperlakukan dirinya cukup baik. Dari hari ke hari aktivitas seni Ngatirah di Ngesti Pandawa semakin padat baik latihan tari, latihan nyindhén, dan pentas bersama kelompok Ngesti Pandawa. Kepadatan aktivitas tersebut membuat Ngatirah tidak sempat membantu pekerjaan rumah mbok Welas secara maksimal, bahkan jarang di rumah. Meskipun demikian mbok Welas tidak mempersoalkan bahkan mendorong Ngatirah untuk mengembangkan bakat seninya. Continue reading

Ki Nartosabdo


Gending-gending Nartosabdhan, Tak Lekang Dimakan Zaman

Selasa, 14/08/2007 – 09:49 – dikirim oleh: fajar.

Saya terpaksa harus kecewa pada malam Minggu (7/7). Sebab, Widayat yang memerankan tokoh Gareng dalam pergelaran Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo dalam lakon Condro Birowo malam itu, tak menyanyikan lagu Swara Suling karya seniman besar asal Semarang, Ki Nartosabdho.

Ki Nartosabdho

Untuk mengobati kekangenan saya pada karya-karya Ki Nartosabdho, dalam perjalanan menuju ke penginapan, saya pun bersenandung lagu itu:

Swara suling, ngumandang swarane
Tulat-tulit…kepenak unine
U…unine.. mung nrenyohake
ba..reng lan kentrung, ketipung suling
sigrak kendangane…

(Suara seruling, bergema suaranya
tulat-tulit…enak bunyinya
bunyinya bisa melenakan hati
–jika berbunyi–bareng kentrung, ketipung
–ditambah–gendang yang rancak)

Mendendangkan swara suling, kenangan saya pun melayang-layang ke silam kelam, saat saya masih bermukim di Semarang. Ya…, betapa malam-malam minggu saya nyaris tak lepas dari kehadiran Pak Nartosabdho melalui RRI Semarang atau radio swasta niaga yang menyiarkan wayangan dengan dalang Ki Nartosabdho semalam suntuk.

Ki Nartosabdho bagi saya dan juga warga Semarang lainnya yang betah melek pada tahun 80-an–terutama pada malam minggu–adalah kawan sekaligus idola yang bukan saja menghibur, tetapi juga memeberikan nasihat-nasihat melalui lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya.

Itulah soal, saat saya mengiringi pemakaman beliau ke pemakaman Bergota, lewat kaca ambulans yang membawa jasad Ki Narto, saya melihat betapa masyarakat Semarang di sepanjang jalan berdiri takzim melepas kepergian dalang kampiun itu.

Keharuan saya pun pecah dalam titik air mata saat jasad Ki Nartosabdho disemayamkan di Gedung Ngesti Pandowo kala itu di Jalan Pemuda 116. Sebab ternyata, beliau pun telah menyiapkan sebuah komposisi untuk mengantar kepergiannya sendiri.

Lelayu, begitulah judul komposisi tua berjenis mijil yang dikreasi kembali oleh Ki Nartosabdho yang dibawakan oleh kelompok Condong Raos, grup gamelan pimpinan Ki Narto pada persemayaman tersebut.

Layu-layu, umiring sang kinkin,
sajroning patunggon sung sasanti sang dyah kamuksane
Nedya anut mring sang guru laki
Kang gugur madyaning palugon…

Mijil Lelayu terdengar, mengantarkan sang maestro ke alam kelanggengan. Lagu sedih itu telah menggugurkan sekalian tangis para budayawan, dalang, pengrawit, pesinden dan semua yang pernah dekat dengan sang kreator. Bahkan pengusaha jamu sekaligus musisi Jaya Suprana yang mengaku pernah belajar pada almarhum, tak lama setelah kepergian Pak Narto, menyempatkan diri menggubah sebuah komposisi berjudul Epitaph II bagi sang guru.

Hari memang sudah malam, tapi saya kepingin lebih jauh mengenang Pak Narto. Di simpang lima, tempat warga Semarang menghabiskan malam dengan sejumlah pedagang kaki-lima, saya pun memarkir mobil. Duduk di salah satu warung di Jalan Pahlawan, sambil minum kopi.

Tentang Ki Nartosabdho

Sunarto nama aslinya, lahir di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tanggal 25 Agustus 1925 dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Partinojo seorang pembuat sarung keris. Oleh karena kemiskinannya ini Sunarto kecil tak dapat melanjutkan sekolahnya setelah putus sekolah angka “telu’ pada Standart School Muhammadiyah.

Disudutkan pada situasi ekonomi yang sulit ini, Sunarto yang sudah beranjak remaja ikut menopang ekonomi keluarga dengan mencari uang melalui kemampuannya dalam bidang seni lukis. Merasa mampu pada bidang kesenian lainnya, dia pun kemudian turut memperkuat orkes keroncong “Sinar Purnama” sebagai pemain biola. Minatnya yang besar pada dunia kesenian ini lebih tampak lagi ketika dia melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.

Terlebih-lebih setelah perkenalannya dengan Ki Sastrasabdho pada tahun 1945. Oleh pendiri Ngesti Pandowo ini Sunarto betul-betul ditempa kemampuannya dalam mengenali dan mendalami instrumen gendang.Lewat Ki Sastrasabdho pula, Sunarto mengenal dunia pewayangan. Maka sejak itu pun Sunarto belajar mendalang .

Antara Ki Sastrosabdho dan Sunarto adalah ibarat “Warangka manjing curuga, curiga manjing warangka”, keduanya adalah satu kesatuan sebagai anak dan bapak. Oleh karenanya kemudian Ki Sastrosabdho menganugerahi nama belakangnya kepada murid kinasihnya ini menjadi Nartosabdho.

Dari perjalanan hidupnya tersebut tampak bahwa Ki Nartosabdho telah melalui proses yang panjang dalam berkesenian . Jiwanya jadi kaya lantaran dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman batin baik dalam hidup maupun dalam berkesenian.

Pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat telah memperkaya dirinya dengan berbagai pengetahuan, sampai-sampai Presiden Soekarno waktu itu menjadikan dirinya sebagai dalang kesayangannya.

Gending-gending Nartosabdhan

Perjalanan hidupnya yang liat dan panjang, terpancar jelas pada karya-karya gendhingnya yang memiliki karakter khas milik Ki Nartosabdho. Oleh sebab itu tak heran jika gendhing-gendhingnya mendapat istilah “Gendhing-gendhing Nartosabdhan”.

Ki Nartosabdho pula yang mendapat istilah sebagai seniman yang memiliki Tri Karsa Budhaya. Sebuah istilah yang dicetuskan oleh Sekretariat Pewayangan Indonesia itu memliki makna: menggali, mengembangkan, dan Melestarikan kebudayaan Nasional.

Dengan kesadaran Tri Karsa Budhaya inilah Ki Narto berjalan di belantara kesenian Indonesia . Beberapa lagu rakyat yang sempat dia gali antara lain, Kembang Glepang Banyumasan, Mijil Lelayu, Jurang Jugrug, Gudril dan lain-lain. Bersama perkumpulan Karawitan “Condong Raos” yang dia pimpin Ki Narto mengolah lagu-lagu kuna itu menjadi segar kembali.

Dalam melaksanakan Tri Karsa Budhaya ini Ki Narto bukannya tanpa mengalami rintangan, pada pertengahan pemunculannya bahkan sampai ada salah satu RRI yang tidak mau memutar gendhing-gendhing karyanya.

Namun dengan kegagahan seorang kreator yang tahan uji, Ki Narto malah tambah getol dalam mencipta dan berkreasi. Pandangannya yang moderat telah membuka wawasan berpikirnya lebih luas termasuk dalam mempelajari budaya Jawa.

Akhirnya, hampir pada setiap produk gendhing gendhingnya yang tersaji bersama perkumpulan karawitan “Condong Raos”, segera saja meledak di pasaran, terlebih lebih karena para dhalang yang sefaham dengan Ki Narto juga ikut mengembangkannya melalui seni pakelirin, maka otomatis gendhing-gendhing Nartosabdhan ini makin memasyrakat.

Sebut saja misalnya, siapa yang tak mengenal gendhing “Lesung Jumengglung”? atau juga gendhing Ampat Lima. Ditambah lagi di tahun-tahun akhir menjelang kepergiannya, Ki Narto juga menciptakan gendhing yang elok yakni Wawasan Identitas Jawa Tengah. Begitulah, gendhing-gendhing Nartosabdhan akhirnya menjadi air deras yang tak dapat dibendung. Dia mengalir terus menapaki waktu, bahkan hingga kini.

Sepertinya para seniman karawitan sepakat mengistilahkan karya-karya gending Ki Nartosabdho dengan sebutan gendhing-gendhing Nartosabdhan. Betapa tidak, dari dalang termasyur ini lahir ratusan karya gendhing yang menempatkan dirinya sejajar dengan seniman-seniman besar yang dimiliki oleh negeri ini.

Istimewa

Bukan cuma lantaran banyaknya jumlah karya yang telah dihasilkan (319 gending) sehingga gendhing-gendhingnya mendapatkan tempat yang istimewa di hati para seniman karawitan, budayawan, dalang maupun waranggana, namun secara kualitas nampaknya memang belum ada kreator lain yang mampu menandinginya.

Ini tak berlebihan, seperti yang saya ingat menjelang pemberangkatan jenazah Ki Narto dari rumah duka di Jalan Anggrek X, dari penuturan dalang ki Anom Soeroto, Ki Timbul, Nyi Suharti, mereka mengaku bukan cuma kagum terhadap karya-karya almarhum, namun juga merasa pernah menjadi murid baik secara langsung maupun tak langsung dari seniman besar itu.

Adapun karakteristik yang terkandung di dalam gendhing-gendhing Nartosabdhan dapat ditandai lewat lagu lagu maupun gendhingnya yang berisi beberapa hal, misalnya, adanya unsur gregel seperti yang tertuang pada cakepan (syair) lagu Dhandhang Gula Sida Asih.

Adanya wiled (cengkok yang menunjukkan naik turunnya titi laras), hal ini nampak betul pada setiap lagu yang memasuki interlude. Sigrak, hampir setiap lagon (jenis gending yang terlepas dari Subokasto: Gending, Ketawang, Ladrang dan Lancaran), dan lain-lain, di dalamnya terkandung unsur dinamis yang merangsang orang yang mendengarnya untuk hanyut dalam lagu-lagu tersebut.

Sebagai contoh dari lagu yang memiliki unsur-unsur di atas misalnya tampak pada lagu kinudang Kudang. Lagu ini bukan saja memiliki unsur-unsur termaksud, namun juga memiliki keiistimewaan yang tak dimiliki oleh lagu-lagu lainnya, karena di dalam lagu ini terkandung pula obsesi pengarangnya kepada seseorang yang dikaguminya dari segi kemampuannya menyinden. Simaklah syair ini :

Kinudang kudang

Kinudang kudang tansah bisa leladi
Narbuka rasa tentrem angayomi
Tata susila dadi tepa tuladha
Sababe dek iku sarawungan kudu
Dadi srana murih guna kaya luwih
Ngrawuhi luhuring kabudayan
Tinulat sakehing bangsa manca
Tinulat sakehing bangsa manca
Rahayu sedya angembang rembaka

Jika kita urut dari atas ke bawah, maka akan berbunyi: Ki Nartosabdho – Ngatirah. Dan masih banyak lagi lagu-lagu sejenis di atas yang menurut saya juga berguna untuk menyelamatkan karya-karya Ki Nartosabdho dari para plagiat. Sebab ternyata, ia juga seorang seniman yang cerdik yang menyadari hak patent, jauh sebelum ada Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Ah…, hari telah menjelang pagi. Suara pengajian di Masjid Baiturrahman telah berkumandang. Saya mesti bergegas pulang ke penginapan untuk tidur sejenak. Sebab pada siangnya, saya mesti kembali ke Jakarta. (jodhi yudono)

Sumber:
http://www.kompas.co.id/ver1/Negeriku/0707/30/183217.htm