Tag Archives: baratayuda

eBook Baratayuda, Perang Menuai Karma


Baratayuda, Perang Menuai KarmaAssalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin sudah banyak yang menulis buku tentang lakon perang Baratayuda yang sudah melegenda itu. Namun cerita yang dipadukan dengan kisah-kisah perang tersebut dalam Pedalangan dari beberapa dalang terkenal di negri ini, mungkin masih sangat jarang.

Mas Patikrajadewaku adalah salah satu pengasuh dalam blog wayangprabu.com yang pemahaman akan cerita-cerita wayang cukup dalam. Meskipun bukan seorang seniman ataupun penulis, namun dari pengalaman dan pemahaman akan kiprah para dalang senior seperti almarhum Ki Nartosabdho, almarhum Ki Timbul Cermo Manggolo, almarhum Ki Hadi Sugito, almarhum Ki Sugino Siswocarita, Ki Manteb Sudharsono dan dalang-dalang lainnya, beliau dikarunia kelebihan dalam menuangkan cerita wayang seolah kita mendengar alunan suara dari rekaman pagelaran wayang.

Kisah perang Baratayudha dalam buku ini, adalah tulisan Mas Patikrajadewaku yang telah dimuat secara serial di wayangprabu.com mulai 24 Juni 2010.

Kisah yang sangat menarik dan disajikan dengan renyah sehingga dapat membuat kita terbawa seolah berada dalam arena padang Kurusetra.

Melalui beberapa perbaikan penulisan, kami sajikan untuk Anda, khususnya para penggemar wayang dimanapun berada.

Mudah-mudahan hal kecil ini dapat berguna bagi kita semua dan merupakan kontribusi nyata bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya wayang di Indonesia.

Wassalam

Bandung, 28 September 2013

Pranowo Budi Sulistyo

Versi PDF dapat dibaca atau diunduh disini :

https://drive.google.com/file/d/0Bx7iMCYC_IYLNzhGNUxwSFE5cmM/edit?usp=sharing

BARATAYUDA SULUHAN GATUTKACA GUGUR SEBAGAI PAHLAWAN : KAJIAN DARI ASPEK ETIS DAN ESTETIS


Gatotkaca Gugur

Subandi

Staf pengajar jurusan pedalangan ISI Surakarta

Email : subandi_isi@ymail.com

Puppet show is part of Indonesian culture that teaches good conducts. In Javanese puppet world, Mahabarata story has many times been transformed in puppet plays. Baratayuda Suluhan is one of the episodes of great battle between Kurawa against Pandawa in Kurusetra battlefield, in which Gatutkaca plays role as the commander in chief. The show of Baratayuda series took place in Taman Budaya Jawa Tengah of Surakarta on every Friday Kliwon eves, Javanese date, that has been lasting for almost two years. The shows are based on the puppet maters’ (dalang) point of views so that, sometimes, they seem not in the right order and tend to follow the dalangs’ tastes. Suluhan play is often known as the Dead of Gatutkaca. After the death of Bisma, the knights of Kurawa obeyed Darmayuda’s rule no more. The rule was about war ethics. The battle between Kurawa and Pandawa occurred heroically, severely, cruelly and ruthlessly. They fought nights and days. The most important thing for the commander in chief was how to defeat the enemy and how to kill even when they broke the rule of war. They never stopped fighting. Baratayuda Suluhan is performed at night by using torch or suluh as the lamp. Gatutkaca died as a hero. There are ethics values that can be generated from the battle of Baratayuda Suluhan as the moral values. All characters dying in the battle have ethics judgments according to the perspective of Javanese supporting puppet show.

Kata kunci: pertunjukan wayang, etika , Baratayuda, pahlawan, sanggit

 

PENDAHULUAN

Melihat seni pertunjukan wayang dengan lakon Baratayuda Suluhan, di samping menyenangkan sehingga menghibur, juga mendapatkan tuntunan. Dalam pertunjukan wayang mengandung nilai estetis yang tinggi karena disuguhi berbagai bentuk seni seperti seni gerak, seni suara, vokal, seni rupa, seni musik yang dapat menyegarkan manusia setelah penat bekerja seharian. Di dalam pertunjukan wayang juga diperoleh filosofi, pendidikan dan etika kebijaksanan hidup. Lakon-lakon wayang dewasa ini sangat beragam sehingga penonton dapat memilih sesuai dengan selera hati.

Pada setiap malam Jumat Kliwon, pada penanggalan Jawa, sejak awal tahun 1999 di pendopo Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta selalu disajikan seni pertunjukan wayang dengan melibatkan dalang-dalang terkenal di seluruh Jawa Tengah. Pergelaran lakon Baratayuda pernah disajikan oleh para dalang seperti Ki Manteb Sudarsono, Ki Purba Asmoro, Ki Widodo. Para dalang telah diprogram secara sistematis untuk membawakan lakon yang ingin dipentaskan. Banyak pendukung dari masing- masing dalang yang sengaja datang ke Taman Budaya Surakarta untuk melihat pertunjukan wayang. Serial lakon Baratyuda pernah disajikan hampir selama dua tahun berturut turut yaitu pada tahun 1999 hingga tahun 2000. Pada bulan Oktober 1999 lakon yang disajikan oleh Ki Sri Joko Raharjo tidak mengambil serial Baratyuda karena bertepatan dengan pelantikan presiden Republik Indonesia. Ceritera lakon mengangkat Jumenengan. Menarik untuk dikaji karena ternyata para dalang mempunyai sanggit, alur lakon yang relatif berbeda antara dalang satu dengan dalang yang lain. Perbedaan sanggit justeru merupakan alat yang bagus untuk melestarikan pertunjukan wayang kulit.

Seni pertunjukan wayang sekarang telah mendapatkan pengakuan international yang berupa A Masterpiece of Oral Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO yang berpusat di Paris Perancis pada 7 Nopember 2003 (Suyanto, 2008 : 3, Slamet Suparno 2009 : 138). Seni pertunjukan wayang telah menjadi milik resmi bangsa Indonesia yang berisi nilai-nilai luhur, pendidikan moral filosofis. Perkembangan bentuk pertunjukan sedemikian pesat bahkan ada kecenderungan kearah bisnis hiburan. Menurut Slamet Suparno pertunjukan wayang sekarang cenderung menurun dengan lebih banyak porsi hiburan pada adegan Cangik Limbuk dan Goro-goro (2009 : 154-155.).

Menurut penelitian Soetarno dalam judul ”Dampak Perubahan Sistem Nilai terhadap Pertunjukan Wayang Kulit”(2000: 93-95) disebutkan bahwa para dalang sekarang lebih banyak menekankan porsi hiburan daripada menggarap nilai kehidupan yang wigati. Hiburan penting akan tetapi sebagai sajian seni juga harus memperhatikan tuntunan yang berupa pendidikan moral atau etika. Dalam banyak lakon yang pernah disajikan, nilai-nilai filosofis, pendidikan, moral selalu ditunggu penonton. Dalam penelitian Slamet Suparno(2007 : 183) ternyata penonton laki laki lebih banyak dari penonton perempuan demikian juga penonton orang dewasa lebih banyak daripada penonton anak-anak. Hal itu menunjukan bahwa ada keinginan yang harus dapat diperoleh oleh penonton yang berupa nilai moral untuk memperkaya pengalaman batinnya.

Dalam lakon Baratayuda, sajian pertunjukan wayang juga selalu ditunggu penonton tentang nilai yang ingin dituangkan oleh seorang dalang. Baratayuda Suluhan merupakan salah satu lakon yang baku, berbobot dan menarik, mengandung nilai-nilai etis yang sebenarnya ingin dipertahankan oleh masyarakat melalui pementasan lakon. Permasalahannya adalah bagaimanakah nilai etis dalam lakon Suluhan? Sebagai landasan untuk menganalisis nilai akan digunakan etika kebijaksanan hidup orang Jawa pendukung pertunjukan wayang.

LANDASAN PEMIKIRAN

Pengertian Etika

Etika sering disebut filsafat tingkah laku, filsafat moral, filsafat etis, juga disebut sebagai teori tentang kehidupan yang baik, teori tentang baik dan jahat. Beberapa pengertian yang terkandung antara lain, (1) sebagai pola umum tentang cara hidup,(2) sebagai kumpulan aturan, norma, kode etik, kode moral, (c) sebagai penyelidikan tentang cara-cara hidup yang baik.

Manusia berbuat baik

Manusia hidup harus berbuat baik, harus susila. Terdapat beberapa alasan untuk berbuat baik. Alasanya tersebut adalah (1) karena tujuan untuk memperoleh kebahagiaan, (2) karena dorongan dari kata hati atau suara batinnya, dan (3) karena pada hakikatnya halnya itu adalah baik.

Kriteria Perbuatan Baik

Sehubungan dengan kriteria, terdapat berbagai pandangan, sesuai dengan kriteria yang dianggap baik oleh masing-masing aliran.

Hedonisme

Aliran hedonisme berpendapat bahwa sesuatu yang baik adalah yang menimbulkan kepuasan. Lingkup kepuasan adalah yang menyenangkan pancaindera manusia. Jadi yang baik adalah yang menyenangkan pancaindera.

Utilitarisme

Menurut utilitarisme yang baik adalah apa yang berguna bagi masyarakat. Jadi ukurannya adalah berguna. Jika sekiranya kurang berguna atau kurang berarti bagi masyarakat, maka perbuatan itu dianggap tidak baik.

Vitalisme

Pandangan Vitalisme mengatakan yang baik adalah yang menimbulkan kekuatan dalam hidup manusia. Menurut Vitalisme kekuatan berasal dari faktor fisiko chemis.

Impresionalisme

Menurut pandangan Impresionalisme yang baik adalah perbuatan yang sesuai dengan suara batinnya (hati sanubari ).

Humanisme

Aliran humanisme menyatakan bahwa yang baik adalah yang sesuai dengan kodrat manusia yaitu kemanusiaannya. Manusia bebas untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Ia akan buruk jika pilihannya jatuh pada yang bertentangan dengan kodratnya.

Dogmatisme

Aliran dogmatisme menyatakan bahwa sesuatu perbuatan dianggap baik jika perbuatan dilakukan menurut norma-norma atau aturan tertentu. Setiap manusia dapat memilih sesuai dengan pandangan hidupnya.

Hati Sanubari atau Kata Hati

Tingkah laku merupakan perbuatan yang lebih banyak ditentukan oleh hati sanubari/kata hati. Putusan kata hati/hati sanubari sedikit banyak bergantung pada penerangan yang masuk. Jika penerangan yang masuk benar maka hati sanubari akan mengambil keputusan yang tepat, tetapi jika penerangan yang masuk keliru maka tidak mustahil putusan hati juga salah. Continue reading

CERITA SAKRAL: ANTARA KEKERASAN DENGAN PENYESALAN


wayang-perang
Oleh : Sugeng Priyadi

Perang Baratayuda dengan segala kekerasannya telah memakan korban yang cukup besar. Tidak hanya para prajurit dan pengikut kedua belah pihak yang bertikai, tetapi juga yang paling tragis adalah keluarga Kurawa yang tumpas atau habis tanpa tersisa.

Mereka yang disebut seratus Kurawa itu meliputi:
1) Duryudana, 2) Dussasana, 3) Dussaha, 4) Dusala, 5) Jalasanda, 6) Sama, 7) Saha, 8) Winda, 9) Anuwinda, 10) Durdarsa, 11) Subahu, 12) Durpadarsana, 13) Durmasana 14) Durmuka, 15) Duskarna, 16) Karna, 17) Wiwingsati, 18) Wikarna, 19) Sala, 20) Satwa, 21) Sulocana, 22) Citra, 23) Upacitra, 24) Citraksa, 25) Carucitra, 26) Sarasana, 27) Durmada, 28) Durwigaha, 29) Wiwitsuh, 30) Wikatanana, 31) Urnanaba, 32) Sunaba, 33) Nandaka, 34) Upanandaka, 35) Citrawana, 36) Cutrawarman, 37) Suwarman, 38) Durwilotana, 39) Ayobau, 40) Mahabau, 41) Citraga, 42) Citrakundala, 43) Bimawega, 44) Bimawala 45) Balaki, 46)Balawardana, 47) Ugayuda 48) Bima, 49) Kanakaya, 50) Dredayuda,

51) Dredawarman, 52) Dredaksattra, 53) Somakirti, 54) Anudara, 55) Dredasanda 56) Jarasanda, 57) Satyasanda, 58) Sanda, 59) Subatsa, 60) Ugrasrawa 61) Ugrasena, 62) Senani, 63) Durparajaya, 64) Aparajita 65) Kundasayin, 66) Wisalaksa, 67) Doradara, 68) Dretahasta, 69) Suhasta, 70) Watawega, 71) Suwarcas 72) Adityaketu, 73) Wahwasin, 74) Nagadatta, 75) Agrayayin, 76) Kawacin, 77) Kratana, 78) Kunda, 79) Kundadara, 80) Danurdara, 81) Ugra, 82) Bimaratta, 83) Wirabau, 84) Alolupa 85) Abaya, 86) Rudrakarman, 87) Dredaratta, 88) Anadresya, 89) Kundabedin, 90) Wirawi, 91) Dirgalocana, 92) Pramatta, 93) Pramatti, 94) Dirgaroma, 95) Dirgabau, 96) Mahabau (Wirabau ?), 97) Wiyudarsus, 98) Kanakadaya, 99) Kundasin, dan 100) Dursilawati (Toeriman, 1984:5; bdk. Setyowibowo, 1990:120-122).
Sementara itu di dalam dunia pedalangan pada umumnya, tokoh Kurawa yang dikenal hanya 22 orang, yaitu:

1) Bogadenta,
2) Bomawikata,
3) Citraksa,
4) Citraksi,
5) Citraboma,
6) Citrayuda,
7) Carucitra,
8) Duryudana (Kurupati atau Suyudana),
9) Dursasana,
10) Durmuka,
11) Durmagati,
12) Durjaya,
13) Durgempo,
14) Gardapura,
15) Gardapati,
16) Kartamarma,
17) Kartadenta,
18) Naranurwinda,
19) Surtayu,
20) Surtayuda,
21) Wikataboma, dan
22) Windadini (Setyawibowo, 1990:39-40).

Meskipun yang dikisahkan tidak seratus orang yang terbunuh, tetapi ketika Duryudana berhadapan dengan Bima, keluarga Kurawa tinggal dua orang yang hidup, yakni Duryudana dan Kartamarma. Hal itu diceritakan dalam Perang Baratayuda versi Jawa yang meliputi 12 babak yang dipergelarkan di Keraton Yogyakarta selama setahun, yaitu:

  1. Baratajuda Babak Ke-1 (Pendahuluan) Kalabendana Lena (Tjermatjarita 1958a),
  2. Baratajuda Babak Ke-2 (Pendahuluan) Kresna Gugah (Tjermatjarita, 1958b),
  3. Baratajuda Babak Ke-3 (Djabelan) Kresna Duta (Tjermatjarita, 1958c),
  4. Baratajuda Babak Ke-4 Seta Gugur (Tjermatjarita, 1958d),
  5. Baratajuda Babak Ke-5 Bogadenta Gugur (Tjermatjarita, 1958e),
  6. Baratajuda Babak Ke-6 Randjapan (Renyuhan) (Tjermatjarita, 1958f),
  7. Baratajuda Babak VII Burisrawa Gugur Atau Timpalan (Tjermatjarita 1958g),
  8. Baratajuda Babak Ke-8 Suluhan (Gatutkatja Gugur (Tjermatjarita 1958h),
  9. Baratajuda Babak Ke-9 Karna Tanding (Tjermatjarita 1958i),
  10. Baratajuda Babak Ke-10 Rubuhan (Sujudana Gugur) (Tjermatjarita 1958j),
  11. Baratajuda Babak Ke-11 Lahirnya Parikesit (Tjermatjarita, 1958k)
  12. 12) Baratajuda Babak Ke-12 Djumenengan (Lakon Sesudah Baratajuda) (Tjermatjarita, 1958l). Continue reading

KTCM “Duryudana Lena” Video


Kami sharing koleksi dari Pak Sugiran berupa pagelaran wayang kulit bersama dalang Ki Timbul Cermo Manggolo mengambil salah satu lakon Baratayudha yaitu “Duryudana Lena” yang merupakan rekaman dari siaran langsung TVRI Jogja.

Matur nuwun Pak

Disk-1

Disk-2

Disk-3

Disk-4

Disk-5

Disk-6

Disk-7