Tag Archives: abimanyu

Wahyu Cakraningrat [9]


Punakawan_WP1

Prabawaning wahyu kang sumedya
turun ing mercapada miling-miling wonten ing angkasa
gebyar-gebyar pindha ndaru kang sumedya tumibèng bawana
timbuling prabawa dumadi gara-gara tanpa sangkan
swara kaya mecah-mecahna jagad nganti sumundhul ing kayangan Suralaya
clorooot gleger
warda wening sirep kocap gara-gara
swara tanpa una tanpa uni
doh lamun jinarwakna
senajan ta katon slaka, slaka cèlèng
intena, inten bumi
para putra-putra bibar saknalika
pungun-pungun tyasira Ki Lurah Semar kanthi anggana raras

Daya perbawa wahyu yang tengah bersiap
turun ke marcapada, dunia, mencari tempat bersemayam sejati
bersinar cerlang layaknya cahya bintang jatuh
munculnya perbawa menciptakan gara-gara tanpa sebab
bersuara seolah memecahkan jagat dan tembus hingga kahyangan Suralaya
meluncur .. cepat menggelegar ..
sosok tua berparas teduh hening redam gara-gara

Setelah mengerti akan tugasnya dan tlah dibekali ilmu serta pitutur luhur dari ayahnya Arjuna serta para sesepuh lainnya, maka segera Abimanyu menjemput para panakawan untuk mendampinginya dalam perjalanannya menuju TKP.

Tinut repat punakawan; nenggih ingkang munggwing ngayun, wongé rèmbès mripaté, awaké lemu, lanang ora lanang, wadon dédé, nenggih Ki Lurah Nayantaka, Badranaya, Lurah Semar, ya Risang Ismaya. Aja dupèh ala wujudé, parandéné iki déwa ingkang asalira manungsa, manungsa ingkang umur déwa.

Diikuti oleh empat panakawan; yang berjalan di depan, orangnya memiliki mata yang selalu berurai airmata, badannya gemuk, lelaki bukan lelaki, perempuanpun bukan. Itulah Ki Lurah Nayantaka, Badranaya, Lurah Semar, ya Risang Ismaya. Namun dibalik buruk wujudnya, sejatinya dia adalah dewa yang berwujud manusia, manusia yang memiliki panjang usia dewata.

Semar sering juga di artikan berasal dari bahasa arab Ismar. Ismar berarti paku, sehingga dapat berfungsi sebagai pengokoh terhadap semua kebenaran yang ada atau juga sebagai penasehat dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Agama adalah pengokoh atau pedoman hidup manusia. Semar dengan demikian juga adalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama. Continue reading

Wahyu Cakraningrat [8]


arjuna_solo

Di sitinggil kerajaan Amarta, Abimanyu melihat para sesepuh telah berkumpul tengah berdiskusi serius. Berdasarkan laporan dari prajurit jaga maka langsung Abimanyu dan Gatotkaca diperintahkan untuk menghadap.

“Masuklah engkau Abimanyu dan Gatotkaca” sabda Prabu Yudistira

“Sendika dawuh uwak Prabu. Putramu ini menghaturkan sembah kepada uwak Prabu, juga kepada Rama Prabu Kresna, uwak Werkudara serta Rama Arjuna” Abimanyu menghaturkan sembah.

“Demikian pula hamba menghaturkan sembah kepada para sesepuh” pun Gatotkaca menyampaikan hormat.

“Saya terima dengan senang hati anak-anakku. Pangestu kami para orang tua hendaknya kalian terima” jawab Yudistira.

“Terima kasih, tentu kami terima dengan senang hati dan akan kami jadikan sebagai jimat untuk menjalani kehidupan kami ini” hatur Abimanyu mewakili pula kakaknya Gatotkaca

“Tentu engkau ingin tahu mengapa dipanggil kesini bukan ?”

“Sendika dawuh uwak Prabu”

“Tadi pagi mertuamu Prabu Kresna datang dari Dwarawati khusus menyampaikan hal ini. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Koko Prabu Kresna, dewata hendak menurunkan sebuah wahyu yang bernama Cakraningrat. Wahyu ini adalah wahyu wijining ratu, wahyu pewaris raja. Sesiapa saja yang oleh dewata dipilih untuk menerimanya maka kelak dia akan menurunkan raja-raja di tanah ini. Terus terang oleh Kaka Prabu Kresna telah disampaikan bahwa kakakmu Samba telah diperintahkan pula untuk mencarinya, namun agar lebih yakin kita dapat menggapainya, maka beliau juga menyampaikan dan meminta kamu Abimanyu untuk mengikuti langkah kakakmu Samba yang telah menuju hutan Krendhawahana. Hal ini kami lakukan sebagai ikhtiar dalam menggapai tujuan. Mudah-mudahan kalau bukan kakakmu Samba maka engkaulah yang dapat memperolehnya. Kami yakin bahwa akan ada pihak lain yang mengupayakan hal serupa karena wangsit dewata ini tidaklah eksklusif untuk golongan kita saja.”

“Sendika dawuh uwak Prabu. Apa yang harus saya lakukan ?”

“Mintalah petunjuk kepada ramamu Arjuna”

“Putramu mohon petunjuk Rama” Continue reading

Wahyu Cakraningrat [7]


Gatutkaca-Solo

Menjalani kehidupan perkawinan laksana mengendarai bahtera mengarungi samudra lepas nan luas dan ganas. Kadang tenang menghanyutkan disertai dengan pemandangan alam nan mempesona, bertabur gemerlap bintang di malam kelam, ufuk lautan seolah menciptakan batas dengan langit dengan ronanya nan berwibawa. Namun adakalanya badai sesekali melanda disertai dengan hujan deras serta gelegar petir menyambar membuat ciut hati. Yah … begitulah romantika kehidupan manusia. Susah senang, lara bahagia, nelangsa dan suka, datang silih berganti. Akan selalu begitu dan memang sudah ditetapkan demikian. Ibarat sebuah kurva sinusoida, roda kehidupan berjalan bukan merupakan garis lurus, perjalanan kadang berada di bawah, pula acap di atas dan suatu kali niscaya kan di tengah.

Begitupun yang dialami Abimanyu dan Siti Sundari. Madu yang tlah direguk dan dinikmati manisnya disaat-saat awal perkawinan, kini mulai berubah menjadi rasa bratawali, pahit. Bulan madu adalah episode yang telah berlalu.

Memang ketulusan cinta mereka berdua tiada bercacat, namun kata orang bijak, rasa cinta bukan satu-satunya perekat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ada faktor lain yang mampu menghadirkan kebahagiaan hidup berumah tangga, yaitu kehadiran ANAK. Seorang keturunan penerus garis darah, selalu menjadi dambaan pasangan suami istri. Tak bisa dibayangkan bagaimana keringnya sebuah rumah tanpa celoteh dan tangis si kecil.

Perkawinan yang telah dijalaninya selama beberapa bulan, tentu membuat Abimanyu bahagia karena Siti Sundari adalah pilihannya pribadi dan pula perempuan yang dicintainya. Namun sebuah kabar yang didengarnya kemarin siang, membuatnya seakan kebahagiaan itu tercerabut dari dirinya dan bahkan berubah menjadi kesengsaraan rasa. Kabar itu laksana petir di siang hari bolong yang mengejutkan dirinya hingga seolah tiada semangat lagi tersisa dalam menjalani hari-hari di Plangkawati.

Oleh karenanya kemudian dia memutuskan untuk “mengadu” kepada Dewata atas nasib yang tengah disandangnya ini. Dengan khusuk Abimanyu mengheningkan cipta di sanggar pamujan berharap dewata yang agung memberikannya secercah cahaya dan solusi jalan keluar atas masalahnya ini.

Begitupun Siti Sundari. Kabar itu sungguh membuatnya hancur lebur tercerai berai. Hari-hari yang tlah lalu dan dijalaninya bersama suaminya tercinta seakan menjadikan dirinya adalah wanita yang paling berbahagia di muka bumi ini. Bagaimana tidak ? Suaminya begitu sayang padanya dan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang tak pernah dialami sebelumnya. Abimanyu adalah seorang satria yang sempurna. Sehat jiwa raga, gagah perkasa dan dikaruniai wajah yang luar biasa tampan. Tentu membuat iri wanita lainnya karna dia memperoleh kekasih yang begitu rupawan dan menawan.

Namun bagaimana sekarang ? Dirinya telah divonis tidak akan dapat melahirkan seorang anak, keturunan yang tentunya menjadi dambaan bagi mereka berdua. Apalah gunanya seorang perempuan yang meskipun dikaruniai kecantikan tiada tara laksana dewi kahyangan namun tidak mampu untuk melahirkan seorang anak ? Bukankah harkat seorang perempuan adalah kemampuan untuk melanjutkan trah garis keturunan suaminya ? (baca kisah Semar Kuning)

Hari-hari Siti Sundari dipenuhi oleh air mata kesedihan. Dirinya belum mampu menerima kenyataan ini. Siapa yang harus disalahkan ? Dirinya ? Ramanyakah ? Atau bahkan dewa yang bertindak tidak adil ?

Selama beberapa hari yang dilakukan hanyalah berdiam diri seraya menunggu suaminya yang tengah melakukan tapa brata di sanggar pamujan. Sedih dan sesal masih menggumpal di dadanya. Namun tidak percuma darah Dwarawati mengalir dalam dirinya, setelah sekian lama jiwanya bergolak akhirnya di tetapkan niat untuk tegar dan menerima semua yang telah digariskan oleh takdir. Sikap dan watak wanodya utama slalu melekat dalam jiwanya, bahwa kewajiban seorang istri adalah mengabdi kepada suami, kepada guru laki, apapun yang bakal terjadi kelak. Di tanamkan dalam hatinya bahwa segala sesuatu yang telah ditetapkan dewata adalah yang terbaik dan harus diterima dengan jiwa pasrah, maka niscaya akan berakibat baik bagi kehidupannya.

Dalam suasana diam itu, tiba-tiba Siti Sundari dikagetkan oleh datangnya prajurit Plangkawati yang mewartakan kedatangan saudara tua suaminya yaitu Gatotkaca. Dengan cepat dimintakan agar Gatotkaca segera masuk ke dalam dan dia segera beranjak ke sanggar pamujan untuk mewartakan hal tersebut kepada suaminya.

“Kakang Gatotkaca, gerangan apakah yang membuat Kakang datang ke Plangkawati ini tanpa kabar sebelumnya ? Namun sebelumnya adimu ini menghaturkan sembah pangabekti kepada Kakang” demikian tanya yang diungkapkan oleh Abimanyu sesaat setelah menerima kedatangan Gatotkaca. Continue reading

Angkawijaya Krama


Adegan (Jejer) Kerajaan Dwarawati.

Prabu Sri Batara Kresna, di pendapa agung sedang duduk di atas singgasana kursi gading, menerima kehadiran kakanda prabu Baladewa raja di kerajaan Mandura, yang diikuti oleh puteranya yang bernama Raden Walsatha dan Patih Pragota.

Sedangkan yang ikut menghadap dalam pertemuan besar (pasewakan) di istana raja selain dari kerajaan Mandura adalah para punggawa kerajaan Dwarawati di antaranya adalah Raden Patih Hariya Udawa, putera mahkota Raden Jayasamba, dan Raden Harya Setyaki.

Dalam persidangannya, sang prabu Baladewa mengusulkan pembatalan perkawinan Abimanyu atau Angkawijaya dengan Siti Sundari putri mahkota Dwarawati. Sri Batara Kresna hanya terserah saja kepada prabu Baladewa. Akhirnya Raden Walsatha bersama Raden Jayasamba diutus untuk menyerahkan surat penggagalan perkawinan Siti Sundari dengan Angkawijaya ke Raden Janaka atas perintah prabu Baladewa.

Keberangkatan Walsatha dan Jayasamba dari Dwarawati menjadikan prabu Baladewa menjadi lega. Namun tidak lama kemudian hadirlah seorang utusan dari Kerajaan Rancang Kencana yang rajanya bernama prabu Kala Kumara. Utusan yang bernama patih Kala Rancang menghaturkan surat lamaran . Isi surat tersebut ada lah sang Prabu Kala kumara menghendaki Siti Sundari untuk bersedia menjadi istrinya. Terjadilah pertengkaran mulut yang kemudian meningkat dan menjadi adu kekuatan fisik di alun-alun Dwarawati.

Di alun-alun Dwarawati terjadilah perang antara prajurit dari Mandura melawan prajurit Rancang Kencana. Berkat kekuatan prabu Baladewa semua prajurit Rancang Kencana mundur ketakutan.

Sri Batara Kresna yang sekembalinya dari kerajaan langsung bersemedi dibalai semedi (sanggar pamujan), berdoa agar persiapan perkawinan Siti Sundari yang kurang 5 hari itu bisa berjalan dengan lancar, dan kiranya Jayasamba dan Walsatha yang diutus ke kasatriyan Madukara dijauhkan dari mara bahaya.

Jejer Kasatriyan Madukara.

Raden Janaka sedang duduk di atas kursi gading. Dalam persidangan di Kasatriyan Madukara dihadiri Raden Angkawijaya, Raden Gathotkaca beserta pada panakawan Semar, Bagong dan Besut.

Pembicaraan yang diungkapkan adalah mengenai akan berlangsungnya perkawinan Raden Angkawijaya dengan Siti Sundari yang waktunya tinggal 5 hari. Belum lama berselang dalam pembicaraan itu, datanglah Raden Walsatha dan Raden Jayasamba menghadap serta menghaturkan sembah. Setelah duduk dengan tenang, maka segera di tanyakan apa keperluannya. Kedua-duanya menjawab bahwa kehadirannya diutus menyampaikan surat yang dikirim dari rama Prabu Baladewa untuk Raden Janaka.

Setelah surat dibaca oleh Raden Janaka, marahlah ia, surat dirobek-robek hingga hancur. Raden Angkawijaya peka terhadap keadaan tersebut sehingga mengetahui bahwa isi surat itu adalah pembatalan perkawinannya atas perintah prabu Baladewa. Maka marahlah Angkawijaya kepada salah satu utusan yaitu Raden Walsatha.

Continue reading

Abimanyu (2)


Abimanyu 2
Abimanyu dalam wujud wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Abimanyu telah memenangkan sayembara. Dewi Utari yang disayembarakan berhasil digendong Abimanyu. Paserta sayembara yang terdiri dari para raja dari seribu negara tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari. Hal tersebut dikarenakan di dalam pribadi Dewi Utari telah singgah babone ratu atau induknya raja yang bernama wahyu Widayat. Bagi seorang wanita yang mendapatkan wahyu Widayat ia akan menurunkan seorang raja. Oleh karena wahyu Widayat yang bersemayam tersebut, Dewi Utari menjadi sosok pribadi yang berbobot dan bernilai tinggi. Tidak sembarang orang mampu mengimbangi bobot nilainya, termasuk raja dari seribu negara. Kecuali Abimanyu tentunya.

Kemampuan Abimanyu dapat mengimbangi Dewi Utari dan kemudian menggendongnya dikarenakan ada wahyu Cakraningrat yang bersemayam di dalam pribadi Abimanyu. Wahyu Cakraningrat adalah wahyu yang dapat mengantar seseorang menjadi raja atau menurunkan raja. Abimanyu telah mendapatkan wahyu Cakraningrat karena ia tekun menjalani laku tapa. Oleh karenanya ia kuat menggendong Dewi Utari.

Memang sudah menjadi kehendak Jawata bahwa Wahyu Cakraningrat bersatu dengan wahyu Widayat. Maka kemudian Abimanyu dan Dewi Utari diresmikan menjadi pasangan suami isteri yang diharapkan bakal menurunkan raja.

Sebelum mereka berjanji setia, Dewi Utari bertanya kepada Abimanyu. Apakah Kakanda Abimanyu masih sendirian, dan belum pernah menikah? atas pertanyaan Dewi Utari tersebut seketika Abimanyu terdiam, tidak segera dapat menjawab. Walaupun Abimanyu telah berhasil menggendong Dewi Utari, Abimanyu tidak mempunyai keberanian untuk berkata yang sesungguhnya bahwa Abimanyu telah menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prab Kresna. Abimanyu takut jika Dewi Utari mengetahui hal tersebut, ia akan mengurungkan niatnya dan menolak dirinya menjadi suaminya. Atas pertimbangan itulah maka kemudian Abimanyu dengan tegas mengatakan dan menyatakan bahwa ia belum pernah menikah.

Dewi Utari sangsi atas pernyataan Abimanyu, karena ia mendengar kabar bahwa Abimanyu telah pernah menikah. Sumber yang dapat dipercaya mengatakan dengan jujur bahwa isteri Abimanyu adalah Dewi Siti Sundari. Abimanyu mengelak dengan gusarnya. Ia berusaha keras untuk menyembunyikan kejujuran. Sungguh aku berkata dengan jujur bahwa aku belum pernah mempunyai isteri, selain dirimu, kata Abimanyu. Dewi Utari belum percaya. Abimanyu semakin gusar dan bingung.

Pada puncak kegusarannya Abimanyu menyatakan sumpah dihadapan Dewi Utari dan alam semesta. Aku bersumpah, jika aku sudah beristeri kelak aku akan mati dalam aniaya yang nista. Alam seakan menggelegar mendengar sumpah Abimanyu. Dewi Utari ketakutan akan sumpah Abimayu. Ia kemudian mendekap Abimanyu erat-erat. Takut kehilangan Abimanyu. Dewi Utari menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Abimayu. Oleh karenanya ia tidak lagi mempermasalahkan apakah Abimanyu sudah beristeri atau belum. Yang didambakan bahwa mulai sekarang Abimanyu menjadi miliknya dan menjadi suami satu-satunya, tidak ada isteri lain bagi Abimanyu selain dirinya.

Pasangan Abimanyu dan Dewi Utari diharapakan oleh para tetua negeri baik negeri Amarta maupun negeri Wirata bakal menurunkan raja besar yang akan merajai di sebuah negara yang besar pula.

Herjaka HS

Abimanyu (1)


Abimanyu
Wayang kulit purwa tokoh Abimanyu koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing
Purworejo (foto: Sartono)

Abimanyu (1)

Abimanyu lahir dari Dewi Sembadara, isteri Arjuna. Diantara anak-anak Arjuna, Abimanyu anak yang paling disayangi. Tidak hanya disayangi oleh Arjuna dan Sembadra sebagai orang tuanya, tetapi juga disayangi oleh kerabat Pandawa. Ia disiapkan menjadi raja, dikarenakan Abimanyu adalah satu-satunya keturunan Pandawa yang mendapat wahyu raja yaitu wahyu Cakraningrat.

Abimanyu digambarkan sebagai satria yang tampan, sakti, pemberani, pendiam tetapi mudah marah dan ringan tangan. Jika sedang marah tidak ada yang berani mendekat, karena sangat berbahaya. Oleh sebab itu ia dinamakan Abimanyu yang artinya Abi = dekat dan manyu = marah.

Ketika masih remaja ia pernah membela dan melindungi ibunya dari ancaman Prabu Angkawijaya raja negara Plangkawati yang ingin memperisteri Dewi Sembadra. Abimanyu berhasil mengalahkan Prabu Angkawijaya. Sejak saat itu kerajaan Plangkawati dikuasai oleh Abimanyu. Rakyat Plangkawati menganggap Abimanyu sebagai pengganti Prabu Angkawijaya. Oleh karenanya mereka menyebut Abimanyu dengan nama Angkawijaya.

Setelah dewasa Abimanyu menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prabu Kresna. Namun sayang Siti Sundari mandul sehingga tidak mempunyai keturunan. Prabu Kresna merasa ikut bersalah atas perkawinan Abimanyu dan Angkawijaya yang ternyata anaknya tidak dapat mengandung dan melahirkan benih raja dari Abimanyu. Karena pada mulanya Kresna telah merekayasa perkawinan antara Abimanyu dengan Siti Sundari agar kelak anak keturunannya Siti Sundari dapat menjadi raja di tanah Jawa.

Untuk menebus kesalahannya Kresna menganjurkan agar Abimanyu memperisteri Dewi Utari yang mempunyai wahyu ratu yaitu wahyu Widayat. Maka kemudian ketika ada sayembara di negara Wirata, Abimanyu disarankan mengikutinya. Sayembara yang digelar Prabu Matswapati raja Wirata tersebut adalah barang siapa kuat menggendhong Dewi Utari putri raja Prabu Matswapati, berhak memperisteri Dewi Utari.

Ribuan peserta mengikuti sayembara tersebut, tetapi tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari. Hal tersebut dikarenakan Dewi Utari telah mendapatkan wahyu Widayat, yang adalah wahyu ratu. Satu-satunya orang yang kuat menggendong wahyu Widayat yang telah manuksma atau menjadi satu raga dan suksma dengan Dewi Utari adalah wahyu Cakraningrat yang telah manuksma di dalam diri Abimanyu. Maka sayembara dimenangkan oleh Abimanyu. Wahyu Widayat bersatu dengan wahyu Cakraningrat, Utari bersatu dengan Abimanyu dan melahirkan Parikesit yang kelak menjadi raja Hastina sesudah perang Baratayuda.

herjaka HS

Baratayuda [8] : Lunaslah Janji Abimanyu


By MasPatikrajaDewaku


Nggemprang Kuda Pramugari  bagai lari kijang dengan meninggalkan debu mengepul diudara. Gerak lajunya bagai tak menapak tanah. Tak lama Abimanyu sudah ada dihadapan Prabu Kresna dan Raden Trustajumna.

“Anakku yang bagus, sudah datang kiranya disini. Aku minta tenagamu kali ini, ngger !” sapa Prabu Kresna. Hatinya bergolak antara rasa tak tega kepada sang menantu menyongsong kematian atau membiarkannya maju memperbaiki formasi baris. Tetapi isi kitab jalan certita Baratayuda, Jitapsara di dalam ingatannya, membawanya mengatur laku apa yang seharusnya terjadi. Isi kitab itu lebih berpengaruh dalam benaknya.

Bersembah Abimanyu kehadapan ayah mertua, juga uwaknya,

“ Sembah bektiku saya berikan keharibaan uwa prabu. Bahagia rasanya dapat terlibat dalam perkara yang sedang menggayuti para orang tua orang tua kami”

“Baiklah, karena rusaknya barisan Hupalawiya sudah sangat parah, sekaranglah saatnya bagimu anakku, untuk membereskan kembali barisan dan gantilah dengan tata gelar baru”. Perintah sang uwa

“Uwa prabu, saya minta gelar apapun yang hendak dibangun, perkenankan saya untuk ditempatkan pada garda depan”. Pinta Abimanyu

“Yayi Drestajumna, apa gelar yang hendak kamu bangun?” Kembali Prabu Kresna menegaskan kepada Raden Drestajumna.

“Kiranya yang cocok dengan keadaan saat ini adalah Supit Urang, atas permintaan anakmas Abimanyu, kami tempatkan kamu dalam posisi sungut !”. Demikian putusan Sang Senapati.

Segera, dengan sandi, dikumandangkan, para prajurit yang sudah kocar kacir perlahan lahan membentuk diri lagi. Drestajumna menempati capit kiri sedangkan Gatutkaca ada pada sisi capit kanan. Arya Setyaki ada pada bagian kepala, sedangkan pada ekor adalah Wara Srikandi.

Perlahan namun pasti, barisan Pandawa Mandalayuda dapat kembali solid. Demikian besar pengaruh kedatangan Abimanyu dalam membuat tegak kepala para prajurit Randuwatangan. Amukan Abimanyu diatas punggung kuda Pramugari, bagaikan banteng terluka. Kuda tunggangan Abimanyu yang bagai mengerti segenap kemauan penunggangnya, berkelebat mengatasi musuh yang mengurung. Gerakannya gesit bagai sambaran burung sikatan. Olah panah yang dimiliki penungangnya  untuk menumpas musuh dari jarak jauh, dan keris Pulanggeni untuk merobohkan musuh didekatnya  tak lama membawa puluhan korban. Tak kurang beberapa orang Kurawa seperti Citraksi, Citradirgantara, Yutayuta, Darmayuda, Durgapati, Surasudirga dan banyak lagi, telah tewas. Bahkan Arya Dursasana yang hendak meringkus terkena panah Abimanyu. Walaupun tidak tedas, namun kerasnya pukulan anak panah menjadikannya ia muntah darah. Lari tunggang langgang Arya Dursasana menjauhi palagan.

Haswaketu yang mencoba menandingi kesaktian Abimanyu, tewas tersambar Kyai Pulanggeni warisan sang ayah, Arjuna. Raungan kesakitan berkumandang dari mulut Haswaketu membuat jeri kawannya, Prabu Wrahatbala dari Kusala.

Namun, malu Wrahatbala, bila diketahui perasaanya oleh kawan maupun lawan, ia terus maju mendekati Abimanyu. Sekarang keduanya telah berhadapan. Gerakan Wrahatbala gagap, kalah wibawa dengan Abimanyu yang masih sangat muda, tetapi dengan gagah berani telah mampu memulihkan kekuatan barisan dan bahkan telah menewaskan ratusan prajurit dalam waktu singkat. Oleh rasa yang sudah kadung rendah diri, gerakannya menjadi serba canggung. Tak lama ia menyusul temannya dari Kamboja terkena oleh  pusaka yang sama. Tersambar Kyai Pulanggeni, raga Wrahatbala roboh tertelungkup diatas kudanya dan tak lama jatuh bergelimpang ke tanah.

Continue reading

Baratayuda [7] : Rekadaya Durna, Sang Senapati Tua


By MasPatikrajaDewaku

Bagai tersaput kabut suasana dalam sasana Bulupitu. Gelap pekat dalam pandangan Prabu Duryudana. Kesedihan yang teramat dalam dibarengi dengan kekhawatiran akan langkahnya kedepan setelah gugurnya Resi Bisma, membuat Duryudana duduk tanpa berkata sepatahpun. Sebentar sebentar mengelus dada, sebentar sebentar memukul pahanya sendiri. Sebentar kemudian mengusap usap keningnya yang berkerut. Hawa sore yang sejuk menjelang malam, tak menghalangi keluarnya keringat dingin yang deras mengucur dan sesekali disekanya, namun tetap tak hendak kering. Dalam hatinya sangat masgul, malah lebih jauh lagi, ia memaki maki dewa didalam hati, kenapa mereka tidak berbuat adil terhadapnya.

Tak sabar orang sekelilingnya dalam diam, salah satunya adalah Prabu Salya. Dengan sabar  ia menyapa menantunya. “Ngger, apa jadinya bila pucuk pimpinan terlihat patah semangat, bila itu yang terjadi, maka prajuritmu akan terpengaruh menjadi rapuh sehingga gampang rubuh bila terserang musuh”.

Terdiam sejenak Prabu Salya mengamati air muka menantunya. Ketika dilihat tak ada perubahan, kembali ia melanjutkan, “Jangan lagi memikirkan apa yang sudah terjadi. Memang benar, kehilangan senapati sakti semacam Resi Bisma, eyangmu itu, tak mudah untuk digantikan oleh siapapun. Namun tidakkah angger melihat, aku masih berdiri disini. Lihat, raja sekutu murid-murid Pandita Durna, yang disana ada Gardapati raja besar dari Kasapta. Disebelah sana lagi ada Prabu Wersaya dari Negara Windya, sedangkan disana berdiri Raja sentosa bebahunya, Prabu Bogadenta dari Negara Turilaya, Prabu Hastaketu dari Kamboja, Prabu Wrahatbala dari Kusala, disebelah sana ada lagi Kertipeya, Mahameya, Satrujaya, Swarcas *) dan tak terhitung raja raja serba mumpuni olah perang lainnya yang aku tidak dapat disebu satu persatu. Para manusia sakti mandraguna masih berdiri disekelilingmu. Belum lagi gurumu Pandita Durna masih berdiri dengan segudang kesaktian dan perbawanya. Ada kakakmu Narpati Basukarna. Dan jangan remehkan juga pamanmu Sangkuni, manusia dengan ilmu kebalnya. Masih kurangkah mereka menjadi penunjang  berdirinya kekuatan Astina?”

Sekali lagi Prabu Salya mengamati wajah menantunya yang sebentar air mukanya berubah cerah, mengikuti gerakan tangan mertuanya menunjuk para raja dan parampara yang ada di balairung.

Sejenak kemudian, pikiran dan hati Prabu Duryudana mencair, tergambar dari air mukanya yang menjadi cerah.

Tak lama kemudian, sabda Prabu Duryudana terdengar “ Rama Prabu Mandaraka, Bapa Pandita Durna, Kakang Narpati Basukarna dan para sidang semua, terliput mendung tebal seluruh jagatku, tatkala gugurnya Eyang Bisma, seakan akan patah semua harapan yang sudah melambung tinggi, tiba-tiba tebanting di batu karang, remuk redam musnah segalanya”.

Sejenak Prabu Duryudana terdiam. Setelah menarik nafas dalam dalam, ia melanjutkan “Namun setelah Rama Prabu Salya membuka mata saya, bahwa ternyata disekelilingku masih banyak agul agul sakti, terasa terang pikirku, terasa lapang dadaku!. Terimakasih Rama Prabu, paduka telah kembali membangkitkan semangat anakmu ini”.

Continue reading

Quiz Wayang #1-13


Catatan : Jawaban dari para peserta akan di hold (tidak ditampilkan) dulu langsung, baru pada hari kemudian di tampilkan.

<<<<<< ooo >>>>>>

Dalam cerita wayang ada beberapa perkawinan yang bila dilihat dari garis keturunan dan sebab musabab dapat dikatakan agak tidak umum dilakukan yaitu diantaranya adalah perkawinan antara Wisrawa - Sukesi dan Abimanyu - Utari.

Jelaskan dan ceritakan sekilas pernyataan di atas !