Semar Kuning [7]


Sosok pendek, bulat, hitam dan berwajah suram itu berjalan pelan sendiri di tengah hutan belantara gung liwang liwung.

Ya sosok itu adalah Semar yang tengah membawa jiwa gundah dan lara. Berjalan tanpa arah sekehendak kaki melangkah. Meskipun sendirian di hutan nan angker dan banyak dihuni oleh binatang-binatang buas, namun anehnya tiada yang sanggup mendekat apalagi menyentuh untuk mengganggu t

ubuh sosok itu. Bahkan singa, harimau, serigala sampai jin setan perayangan yang berkeliaran disekitar hutan itu, terdiam dan hanya memandang sosok itu dengan pandangan penuh hormat.

Ya … jiwa minulya itu adalah Nayataka, naya adalah wajah, rona, ulat (basa jawa) dan taka adalah mati. Wajah kematian yang menggambarkan bahwa pemiliknya telah mencapai taraf mengenal dan telah siap mati kapanpun. Bahwa kematian adalah wajib adanya karena nyawa adalah milik Sang Maha Kuasa.

Ya … jiwa minulya itu adalah Nayabadra atau badranaya, naya adalah ulat, badra adalah bulan. Sang pemilik wajahnya bersinar bak rembulan. Terang dan meneduhkan bagi sesiapa yang memandangnya. Menentramkan yang bersapa dan berdekatan dengannya.

Sosok Semar adalah penggambaran manusia dan Tuhannya, antara penuh kekurangan dengan kesempurnaan. Semar adalah seorang lelaki karena bagian kepalanya menyerupai laki-laki, namun payudara dan pantatnya adalah perempuan. Rambutnya memiliki kuncung layaknya anak-anak, namun tlah memutih seperti orang tua. Bibirnya slalu tersenyum menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan, namun matanya selalu basah oleh tangis kesedihan. Semar adalah kita, yang sering tertawa namun kerap pula menitikan air mata lara, adakalanya bersikap kekanak-kanakan namun kerap pula bertindak bijaksana. Semar adalah kita, yang dalam diri bersemayam kekurangan, cacat dan jauh dari sempurna. Dan bila kita menyadarinya dan berupaya tuk mengurangi kekurangan dan mengedepankan kebaikan maka Allah Yang Maha Sempurna dapat berkenan meyertai jiwa dan raga kita.

Seraya berjalan pelan, Semar lirih mendendangkan sebuah lagu

Bocah Bajang nggiring angin
anawu banyu segara
ngon-ingone kebo dhungkul
sa sisih sapi gumarang Continue reading

Resa Seputra [2]


Sumalidewa : Nuwun-nuwun mangke, yen ta kula tingali saking busana sampun cetha yen ta panjenengan punika satunggalipun nalendra. Sang prabu, sawatawis anggen panjenenganipun rawuh wonten paseban Purwacarita mugi klilanana kula ngaturaken pasegahan panakrami konjuk ing ngarsa, nuwun.

Jalawalikrama : Estungkara manik raja dewaku, we lah dalah. Sang prabu…., saderengipun kula ngaturaken punapa ingkang dados kekajengan kula prapteng punika negari, salam kula katur wonten ngarsa panjenenganipun sinuwun ing Purwacarita.

Sumalidewa : Inggih dhawah sami-sami kula tampi, sugeng rawuhipun.

Jalawalikrama : Inggih, pangestu panjenengan, niskala anggen kula prapteng Negari Purwacarita kanthi winantu ing kabasuken, kabasunandha.

Sumalidewa : Sokur mangayu bagya, para warga akrab ing negari pundi paduka.

Jalawalikrama : Inggih, tepangaken, inggih kula ingkang sesasi kepengker ngutus abdi kula Rekyana Patih Bramangkara. Kula Nalendra Sunggela Manik, Prabu Jalawalikrama nami kula sinuwun.

Sumalidewa : Oh….oh..oh, dados panjenengan ingkang jejuluk Prabu Jalawalikrama.

Jalawalikrama : Inggih, calon mantu panjenengan sinuwun.

Sumalidewa : Sang Prabu Jalawalikrama.

Jalawalikrama : Wonten dhawuh.

Sumalidewa : Dados panjenengan ingkang ngutus ingkang abdi Rekyana Patih Bramangkara kinen ngaturaken nawala ingkang isinipun nawala panglamar.

Jalawalikrama : Inggih leres. Kula ngajengaken putra panjenengan ingkang pembarep kusumaning ayu Ni Dewi Sumaliwati. Natkala semanten Rekyana Patih Bramangkara kautus wangsul ing ndalem sawetawis saking Negari Purwacarita ingkang wigatosipun ngrantos wangsulan saking Sumaliwati. Samenika kula sowan wonten ngarsa panjenengan sinuwun, mboten sanes namung sepisan kula nglamar idhep-idhep ngarak.

Sumalidewa : Nglamar tur nggih ngarak.

Jalawalikrama : Inggih.

Sumalidewa : Punapa nggih pitados saestu yen badhe kawula tampi. Continue reading

Semar Kuning [6]


“Tih … Patih Kumbarananggo”

“Sendika dawuh Gusti”

“Kamu pernah sakit wuyung nggak Tih”

“Kalau sakit gayung belum pernah Gusti”

“Wuyung Tih … dudu gayung“

“Oooo kalau duyung saya pernah lihat Gusti”

“Wuyung Tih .. wuyung … jatuh cinta. Walah … punya patih kok pendengarannya kurang to”

“Ooo nggih Gusti mohon maaf. Memang beberapa hari ini kuping saya agak mbrengengeng begitu. Kalau jatuh cinta sudah pasti pernah Gusti. Malah beberapa kali, termasuk sama ibunya anak-anak saya itu”

“Elok tenan Tih .. sampai beberapa kali kamu jatuh cinta. Jadi sekarang istrimu berapa Tih ?”

“Ya cuman satu to Gusti”

“Lha kok cuman satu ?”

“Yang jadi cuman satu, yang lainnya cuman jatuh cinta tapi bertepuk sebelah tangan”

“Maksudnya gimana to Tih ?”

“Saya cinta setengah mati, yang saya jatuh cinta-i mati beneran”

“Lha kok bisa Tih ?”

“Nah itu yang saya herankan Gusti. Setiap yang saya sir kok tiba-tiba mati dadakan”

“Lha yang sekarang menjadi istrimu bagaimana Tih ?”

“Makanya setelah saya analisa dari berbagai sisi maka penyebabnya adalah saya mendekati perawan. Makanya saya kemudian mencoba ngepek janda Gusti, dan akhirnya bisa hidup sampai sekarang”

“Ha ha ha ha … Tih Patih. Aneh juga nasibmu itu Tih. Tapi kan istrimu sekarang biar janda tapi sulistya ing warna ta Tih ?”

”Menurut saya begitu Gusti, tapi menurut Togog dibawah standar Gusti, nggak tahu itu artinya apa”

“Ha ha ha ha … yo wis radadi ngapa.”

“Gusti tanya tanya begini apakah sedang jatuh cintakah ?”

“Benar Tih. Sudah tiga malam Gustimu ini mimpi yang sama. Bertemu dengan seorang putri yang bak bathari dari kahyangan. Biyuh … biyuh … biyuh Tih, uayune uleng-ulengan tenan Tih. Senyumnya luar biasa manisnya. Kalau tertawa Tih … duniapun ikut tertawa, dunia menjadi berseri. Kalau berjalan Tih .. hatiku ikut terbang. Setelah kutanya dia bernama Siti Sendari. Tahu nggak Tih kamu … putri mana Siti Sendari tadi ?”

“Halah … bilai iki. Apakah Gusti beberapa minggu yang lalu tidak di undang oleh Prabu Kresna raja Dwarawati ?”

“Diundang apa Tih, kan tidak ada utusan dari Dwarawati ta Tih”

“Beberapa minggu lalu, saya memperoleh informasi dari intel yang saya sebar bahwa Ratu Dwarawati punya hajat besar, yaitu mengawinkan Siti Sendari dengan Raden Abimanyu”

“We lha dalah … jagat wasesane bathara … lha kok ngene. Wis … tapi saya tidak peduli Tih. Mau sudah kawin atau belum, saya tetap tresna Tih. Sekarang terserah apa upayamu untuk mewujudkan keinginanku ini Tih” Continue reading

Semar Kuning [5]


Dengan berjalan pelan Semar keluar dari istana Dwarawati menuju alun-alun. Disanalah anak-anaknya menunggu dia kembali. Dan benar saja, terlihat dari jauh Gareng Petruk dan Bagong ngawe-awe tangan memberi tanda keberadaannya. Sepertinya mereka telah selesai berkeliling menyaksikan keramaian di seputar alun-alun itu.

“Lha itu Ramane Semar sudah kelihatan, wah pasti membawa oleh-oleh makanan. Pastinya lezat-lezat lha wong yang punya hajat kan raja Dwarawati” Petruk langsung nrocos.

“He eh Truk, pasti juga Ramane Semar dibekali uang bayak oleh nDara Abimanyu. Kan ndara Abimanyu lagi hepi, jadi tentunya Ramane sebagai pamomongnya dapat limpahan rejeki. Betul nggak Mo” kata Gareng sambil membayangkan segera dapat membeli sarung baru sebagai ganti sarungnya yang sudah bolong dimuka dan di belakang.

“Kang Gareng dan Kang Petruk boleh berharap, tapi kelihatannya Rama Semar nggak bawa apa-apa tuh” kata Bagong kalem

“Boleh jadi makanannya nanti diantar ke sini oleh utusan dari istana” Petruk masih berharap

“Barangkali uangnya disembunyikan Rama di balik sarungnya itu” Garengpun masih percaya

“Kalau gitu, geledah saja sarungnya Rama Semar, kalau ada yang ganjel berarti itu kemungkinan uang, Kang Gareng” Bagong mencoba memberi solusi

“Lha kalau yang ganjel bukan uang, itu terus apa Gong”

“Ya tinggal dilihat no kenapa ganjel disitu”

“Kalau nggak boleh di lihat”

“Diintip atau kalau perlu dipegang aja”

“Ini pada ngapain sih kok malah ngurusin per-ganjel-an, Kang Gareng sama Bagong lihat nggak Ramane Semar lagi gimana gitu” ujar Petruk yang sedari tadi memperhatikan Ramanya.  Continue reading

Semar Kuning [4]


“Abimanyu !!!”

“Inggih, sendika dawuh rama prabu”

“Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Dwarawati setelah resmi menjadi suami dari anakku Siti Sendari tadi. Dan kamu adalah calon seorang raja dan juga senapati agung. Apa yang bakal engkau lakukan bila orang tuamu yang adalah seorang raja negara besar, dihina oleh orang kecil kaum sudra papa di depanku ini ?”

Gundah Abimanyu mendengar perintah mertuanya itu. Hatinya bercabang antara menuruti perintah mertuanya, atau menuruti kata hatinya yang begitu sayang kepada pamomongnya sedari kecil, Semar. Di pandanginya sosok yang begitu lekat di hatinya itu. Sosok yang bisa dikatakan berantakan untuk ukuran manusia normal, tubuh cebol bulat, hitam dan jelek serta wajahnyapun tak berbentuk menarik, namun begitu disayanginya seperti halnya ayahnya dan para leluhurnya. Dari resi Manumanasa, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata sampai ke ayahnya Arjuna, menempatkan Semar di posisi yang terhormat.

“Abimanyuuuu !!!” kembali suara Kresna penuh tekanan terdengar.

Suara yang tidak keras namun karena hanya satu-satunya yang muncul dikeheningan suasana, terdengar bagai halilintar di telinga Abimanyu.

Dan tak ingin mendengar perintah untuk kali ketiga, Abimanyu segera menghampiri Semar dan setelah dekat meludahi kuncung Semar serta wajahnya.

Kembali keheningan tercipta diruangan besar itu. Kali ini lebih mencekam. Semua orang yang ada dan menyaksikan peristiwa itu, tertegun dan hampir tak percaya bahwa itu nyata. Continue reading

Resa Seputra [1]


Naskah Pertunjukan Wayang Semalam Suntuk gaya Jawatimuran dalam cerita Resa Seputra (nara Sumber: Ki Dalang Bambang Sugio, tahun 2004, di Gedung Arstistika SMKN 9 Surabaya jalan Siwalankerto Permai I Surabaya. Dalam rangka penyerapan materi jurusan seni Pedalangan)

Janturan Negari Purwacarita

Anenggih sinigeg ing swuh rep data pitana sekaring bawana langgeng. Tiyang ngringgit sedalu mangke nggelar kandha purwa, nggelar jaman purbakala. Pundi ta ingkang minangka purwakaning kandha. Anenggih punika ta gelaring Negari Purwacarita.

Swuh wa eka adi dasa purwa. Wa pangaraning wadah, eka marang sawiji, adi linuwih, dasa Sepuluh purwa wiwitaning kandha. Sapta raja sasra bawana mindra. Sapta pitu raja ratu sasra sewu bawana jagad, mindra mider. Midera sajagat rat pramudhita, sanadyan ta kathah titahing dewa ingkang kaungkulan ing akasa kasangga ing pratiwi kaapit ing samodra, nanging candranipun datan kadya ing Negari Purwacarita. Bebasan njajaha sewu negara tan wonten sedasa ngupaya-a satus tan ganep kalih. Dhasar candrane Negari Purwacarita negari ingkang panjang punjung loh jinawi gemah ripah tata kerta tur raharja. Panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane, pasir samodra wukir gunung.

Nyata Negari Purwacarita negari ingkang nengenaken pasabinan ngeringaken tegalan, ngungkuraken pagunungan tur mangku bandaran ageng. Loh tulus kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku. Swasana negari mirah boga lan busana, liripun murah sandhang klawan pangan, ngibarat datan wonten para warga

ingkang dhahar kirang, nyandhang cingkrang, tandha yen gesangipun sarwa kacekapan. Ingkang wonten karang padesan samya sayuk saeka praya anggenipun mangun karukunan, remen tuntun tinuntunan, daya dinayan, mad sinamadan, tandha yen ing Negari Purwacarita datan wonten warga ingkang remen cecongkrahan.

Dene gemah lampahipun para warga ingkang lumampah dedagangan, dagang alit, dagang ageng sanadyanta dagang lelayaran, siyang pantaraning ratri ndlidir tan ana pedhote, tan ana rubeda ing dedalan. Aman sentosa swasananing praja apa ta tandhane. Wanci dalu tan ana kori ingkang cinengkal lamun rahina tan ana rajakaya ingkang kinandhangan. Samya gelar sepapan wonten ing papan panggonan, wancine Sang Dewangkara mangklung kilen wangsul dhateng kandhange piyambak-piyambak cinandra golong-golong mangetan, Continue reading

Semar Kuning [3]


“Oooo lae lae … nDara Baladewa, awal mula saya jadi abdi adalah kepada Resi Manumanasa. Saat dia akan mukswa, saya merasakan kehilangan hingga menangis sedih seraya bertanya kelak siap yang akan menemaniku. Sabda sakti Sang Manumanasa kemudian memberikan teman seorang Bagong dari bayanganku sendiri, wewayangan kang bebagongan. Sejak saat itu pula saya diberi wahyu delapan perkara yang selamanya melekat pada diriku. Semar jadi tahan lapar, tidak mengenal mengantuk, tidak pernah sedih, tidak merasakan dingin karna dayanya air, tidak bisa terbakar oleh sebab api, terpenuhi segala apa yang diharap, bisa menjadi apa saja sesuai keinginan dan ditakdirkan berumur panjang. Jadi kalau perkara makan dan minum saja, walaupun serba mewah dan enak, kula mboten kepengin nDara. Maksud kedatangan saya kemari adalah menyampaikan turut berbahagia atas perkawinan nDara Abimanyu. Niat saya sih juga mau nyumbang.”

Prabu Kresna kemudian merespon

“Apa yang akan kau sumbang Kakang Semar, pastinya engkau tidak mempunyai apa-apa. Pakaianmu saja lusuh kumel dan telah compang-camping, jadi mana mampu kamu nyumbang kepada seorang raja”

“Oooo .. bukan berwujud harta nDara yang akan saya sumbang. Lha kalau harta yang saya berikan, ibaratnya menggarami lautan to, dan negri Dwarawati sudah begitu kaya sehingga apalah artinya sumbangan seorang Semar. Saya hanya ingin menyumbang sebuah tembang kepada nDara Kresna. Sebuah tembang Sarkara”

“Apa maksudnya itu Kakang Semar ?”

“Sarkara itu berarti gula, atau madu. Jadi saya ingin nembang Dandanggula nDara Baladewa”

“Ya sudah kalau begitu, cepat engkau lakukan Kakang Semar” ujar Kresna dengan penuh ketidaksabaran karena merasa terganggu.

“Kula mulai nembang nggih nDara

Kacarita nagri dwarawati

tan prabeda kaywangan kaendran

kabeh bab upa rengganes

dasar ratu misuwur

kalokengrat lumahing bumi

yaiku prabu kresna

titising hyang wisnu

nyata ratu binatara

kabeh dewa tresna pada asih tintrim

pinter sakbarang karya” Continue reading

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,672 other followers

%d bloggers like this: