Bilung

Bilung bernama asli Bambang Sarawita. Dia sering diceritakan sebagai tokoh Panakawan dari negeri Melayu. Dalam pergelaran wayang purwa, Bilung sering memakai dialog berbahasa campuran Jawa dan Melayu. Bentuk fisik Bilung adalah rasaksa tapi kerdil seperti anak-anak.

Berbeda dengan Gareng, Petruk dan Bagong yang mengikuti Semar, Bilung mengikuti Togog kakak Semar. Bilung hidup bersama Togog, mengabdi kepada para rasaksa sebagai penasehat. Togog biasanya memberi petuah-petuah yang baik kepada para raja rasaksa. Tapi bila petuah Togog itu tidak digubris oleh raja rasaksa, maka Bilung akan menimpali dengan memberi petuah yang jelek. Hasilnya, para rasaksa akan mengikuti jalan salah yang ditunjukkan Bilung dan mereka menemui kematian ditumpas oleh para ksatria didikan Semar.

Bilung punya watak yang sok jagoan, sombong, tapi cengeng. Pada suatu ketika dikisahkan Bilung ingin memperistri Rara Temon puteri Prabu Kresna. Bilung merengek kepada Togog supaya membantu niatnya. Togog pada dasarnya punya watak penyayang dan mudah luluh hatinya. Maka Togog berjanji akan menolong Bilung, saudara angkatnya itu.

Dengan kesaktian Togog, Bilung diubah menjadi ksatria tampan bernama Bambang Tejokusumo. Togog sendiri berubah menjadi Begawan Sabarsabdono. Keduanya lalu berangkat ke Istana Dwarawati kediaman Prabu Kresna. Dikisahkan, para penjaga Kaputren diserang Aji Sirep oleh Togog, walhasil semua penghuni Kaputren klenger. Togog pun berhasil mencuri Roro Temon dari keraton. Akhirnya keraton Dwarawati gempar. Prabu Kresna meminta bantuan Semar untuk mengejar pencuri puterinya.

Ketika Bambang Tejokusumo sedang berlari bersama Begawan Sabarsabdono dengan membawa Roro Temon, Semar datang menghadang. Semar yang sakti langsung tahu bahwa dua orang yang dihadapinya itu tak lain adalah Togog dan Bilung. Maka Semar memberitahu bahwa sesungguhnya Rara Temon itu adalah Dewi Siti Sundari yang sedang menyamar, dan dia sudah memiliki suami yaitu Raden Abimanyu putera Raden Arjuna.

Begawan Sabarsabdono segera sadar akan kesalahannya karena mencuri istri orang, lalu berubah kembali menjadi Togog. Bambang Tejokusumo pun berubah kembali menjadi Bilung. Togog menitipkan Dewi Siti Sundari kepada Semar dan segera berpamitan. Bilung pun digelandang Togog kembali ke Padukuhan Pringsewu tempat tinggal mereka. Kali itu Togog tak peduli dengan tangisan Bilung yang masih menginginkan Rara Temon.

Sarawita seorang teman Togog. Dalam pewayangan, di waktu berkata-kata ia akan menggunakan bahasa Melayu campur dengan bahasa Jawa, dan mengaku bahwa ia berasal dari Tanah Seberang yang tulen. Waktu ia bertemu dengan para punakawan seperti Gareng dan Petruk, ia selalu sombong, tetapi cengeng (manja), maka selalu dipermainkan oleh lawannya.

Waktu dipermainkan oleh pengiring Kesatria, biasa yang menggodanya itu Petruk, dengan dipukul hingga menangis dan mengundurkan diri tetapi dengan berkeruyuk seperti ayam jantan. Hingga dalam cerita oleh Togog selalu diolok-olok. Adegan ini sering digunakan dalam banyak lakon.

BENTUK WAYANG

Sarawita bermata keran (juling), hidung pesek, bibir terbuka rambut dicukur, hanya tersisa sedikit kena kudis. Kain batik slobog dan pada ikat pinggangnya menyelip senderik (Jawa: cundrik). Kedua tangan belakang.

Selain nama Sarawita juga bernama Tokun atau Bilung.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,672 other followers

%d bloggers like this: