Category Archives: Tokoh Wayang

Werkudara (1)


Sosok dan Kiprah Werkudara

Bima2

Siapa yang tak kenal dengan Werkudara ?

Ketika lahir, ia terbungkus. Segala senjata pusaka tak dapat memecahkannya. Ia dibawa ke tengah hutan Tegrakan. Di sana ia dapat keluar dari bungkusnya karena dibelah dengan gading seekor gajah yang bernama Sena, yang akhirnya menjanma kepadanya. Selanjutnya ia diberi nama Sena. Sena dilahirkan di negeri Astina yang pada waktu itu sedang berperang melawan Prabu Tremboko di negeri Pringgadani, yang kemudian Prabu Tremboko kalah dan binasa oleh bayi Sang Sena.

Dalam lakon Bale Sigala-gala, ia mendapat petunjuk dari Dewa, untuk menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya dengan mengikuti Garanganseta, musang putih malihan Raden Sanjaya putera dari Sang Widura. Setelah Garanganseta hilang ia sudah sampai di Kahyangan Saptapratala, kemudian ia kawin dengan Dewi Nagagini, Raja dan Dewa di Saptapratala, yang akhirnya ia berputra Aria Anantaraja.

Kemudian Raja raksasa Ekacakra, sang kanibal, Raja Baka pun akhirnya tewas ditangan Sang Werkudara, yang berakibat kemerdekaan bagi rakyatnya akan kesewenang-wenangan pemerintahan rajanya, menghilangkan ketakutan menjadi persembahan sang raja yang doyan daging manusia ! (lakon Bima bumbu)

Dalam lakon Jagal Bilawa ini dapat membunuh jagoan Sang Kenca dan Kencaka bernama Rajamala. Juga Sang Kenca dan Kencaka beserta tentaranya yang akan merebut kekuasaan Kerajaan Prabu Matswapati lebur punah oleh Sang Sena. Sebagai tanda terima kasih, para Pandawa mendapat hadiah hutan Endraprasta (Babad Pandawa).

Dalam lakon Kangsa Adu Jago, ia pernah dipinjam oleh Prabu Basudewa, diadu lawan jagonya Kangsa yang bernama Suratimantra.

Lakon Pandawa Timbang, ia mempunyai kesaktian dimana beratnya melebihi Kurawa yang seratus orang itu.  Continue reading Werkudara (1)

Durgandini (4)


Durgandini (4)
Prabu Sentanu bertemu dengan Dewi Durgandini di pinggir sungai Gangga (gambar: herjaka HS)

Sang Dewi Durgandini atau Dewi Setyawati memang terpaksa harus merelakan Abiyasa anak satu-satu yang setelah tidak menyusu, dibawa oleh Palasara suaminya ke pertapaan Saptaarga. Lebih baik berpisah daripada harus mendampingi Palasara dan Abiyasa menjadi petapa di gunung Saptaarga, jauh dari keraton Wirata.

Baginya, hidup sebagai petapa tidak jauh berbeda dengan hidup menderita seperti yang pernah ia jalani sejak kecil hingga dewasa, yaitu hidup yang dibuang, menjadi penjual jasa penyebrangan dengan perahunya di sungai Yamuna. Maka jika saat ini ia meninggalkan keraton Wirata untuk mengikuti Palasara sama artinya ia sengaja mengulangi penderitaannya.

Semenjak Palasara membebaskan penyakit dan penderitaannya, Dewi Durgandini diperkenankan kembali keraton Wirata dan menikmati fasilitas yang ada sebagai putri raja. Pada saat itu Dewi Durgandini ingat sebuah kata-kata yang berisi pengharapan yang senantiasa diucapkan Ki Dasabala ayah angkatnya: ‘Bersabarlah, ada saatnya nanti, penyakit dan segala penistaannya dihapuskan’. Dan sekarang saatnya telah tiba, semenjak ia bertemu dan menyeberangkan Palasara.

Namun jika kini ia bersama Palasara dan Abiyasa kembali naik perahu menyebrangi sungai Gangga dan sungai Yamuna, meninggalkan Wirata dan menuju Saptaarga, artinya ia siap menderita kembali bersama berbagai hal yang menyakitkan. Aku tidak siap, tidak mau menderita lagi. Aku ingin tinggal di keraton dengan segala kemewahan dan kesenangannya.

Durgandini telah menggunakan jalan pikirannya dengan benar, bahwasannya ujung dari sebuah penderitaan dan kesengsaraan adalah kebahagiaan dan kemuliaan. Tidaklah mungkin setelah bahagia dan mulia dicapai, akan kembali menderita. Kemuliaan adalah puncak dari tumpukan kesengsaraan, di mana kesengsaraan tidak ada lagi, yang ada adalah kemuliaan. Ajakan suami untuk meninggalkan keraton dan mengasuh anaknya menjadi petapa dianggap menunda atau bahkan membatalkan kesempatannya untuk merasakan kebahagiaan serta kemuliaan itu.

Sebuah pilihan telah diambil, ia telah memilih untuk tidak meninggalkan keraton, baik dengan atau tidak bersama suami dan anak. Hari-harinya dijalani dengan kesendiriannya. Abiyasa memang selalu hadir dalam angannya, namun tidak sebagai petapa kecil, melainkan sebagai calon raja di sebuah negara yang besar.

Ketika pada suatu waktu, Dewi Durgandini sedang melakukan sesuci di sungai Gangga, ia bertemu dengan Prabu Sentanu, raja Hastinapura. Dalam pandangan pertama itu Sentanu amat terkejut melihat pancaran wajah Dewi Durgandini yang mirip sekali dengan bidadari Ganggawati isterinya yang telah kembali ke kahyangan. Untuk menyakinkan bahwa yang berada di depannya bukan Batari Ganggawati, Sentanu semakin mendekat memperkenalkan dirinya kepada Durgandini, demikian sebaliknya. “Aku bukan Ganggawati sang Prabu, namaku Durgandini atau Setyawati”.

Pertemuan dan perkenalan diantara keduanya merupakan pertemuan bersejarah, yang nantinya akan membuat sejarah baru kerajaan Hastinapura. Dimulai dari kerinduan Prabu Sentanu kepada Batari Ganggawati dan rasa sepi Dewi Setyawati semenjak ditinggal Palasara suaminya dan Abyasa anaknya, keduanya semakin dekat. Ada kekosongan yang saling mengisi di hatinya. Walaupun wanita di hadapannya bukan Ganggawati, kehadiran Durgandini mampu mengobati kerinduan Sentanu kepada Ganggawati. Demikian sebaliknya, kehadiran Sentanu mampu mengobati rasa sepi Setyawati semenjak kepergian Palasara suaminya, dan Abiyasa anaknya ke Pertapaan Saptaarga.

Gayung pun bersambut. Keduanya mulai merenda benang-benang harapan, harapan akan cinta-kasih yang member daya hidup.

“Adakah yang memberatkan, jika pada suatu waktu aku datang ke Wiratha untuk melamarmu?.”

“ Tidak sang Prabu, aku berharap dan bersyukur jika sang Prabu sudi meminangku. Namun sebelumnya saya mohon maaf.”

Setyawati berhenti sejenak untuk menenangkan hati.

“Ada satu permohonan yang mungkin sangat memberatkan hati sang Prabu.”

“ Permintaan apa, Setyawati? Katakanlah!”

“Aku takut, jika hal ini aku katakana, sang prabu akan mengurungkan niatnya melamar aku.

“Tidak, Setyawati, apa pun yang akan kau katakan aku tetap akan meminangmu.”

“Sungguhkah itu Sang Prabu?.”

Prabu Sentanu mengangguk perlahan.

“Sang Prabu Sentanu, jika kelak Sang Hyang Widdi Wasa mengijinkan kita untuk bersatu dan melahirkan anak laki-laki, aku berharap agar anak kita menjadi raja di Hastinapura

Herjaka HS

Durgandini (3)


Durgandini (3)
Dewi Laraamis menyeberangkan Palasara dengan perahu dayung di sungai Yamuna (karya: herjaka HS)

Seiring dengan proses pemulihan Dewi Durgandini dari penyandang kutukan, untuk kembali menjadi bidadari, bersih dari ‘sesuker’ kotoran jiwa, ada perang besar yang tejadi. Perang antara penyakit atau ‘memala’ bahkan rajanya penyakit atau Rajamala dengan Palasara. Kesembuhan Dewi Durgandini sama halnya dengan kekalahan si Rajamala. Rajamala bersama perahu dayung yang setiap hari menyatu dengan Dewi Durganini telah dipecahkan oleh petapa sakti Palasara. Perahu yang pecah menjadi dua tersebut mewujud menjadi manusia dan diberi nama Rupakenca dan Kencakarupa, sedangkan dayung perahu berubah wujud menjadi seorang putri dengan nama Dewi Rekatawati. Keempat perwujudan yang telah lama menjadi beban hidup Dewi Durgandini telah dilepaskan, dan selanjutnya diperintahkan untuk mengabdi di kerajaan Wirata.

Setelah sembuh dari penyakitknya, Dewi Durgandini memancarkan kecantikan yang luar biasa. Jika sebelumnya, Dewi Durgandini ikut menyangga ‘dosa’ ibunya Bidadari Adrika yang dikutuk menjadi ikan, sehingga badan sekujur kasar dan amis, kini setelah disembuhkan oleh Palasara, sang Petapa muda, Dewi Durgandini atau Dewi Laraamis, sudah tidak amis lagi. Ia berubah menjadi bidadari muda yang tubuhnya halus mulus dan sangat jelita, mewarisi kecantikan ibunya yang adalah bidadari kahyangan. Kecantikan Dewi Durgandini yang tiba-tiba memancar membuat Palasara terpana karenanya.

Pertemuannya dengan Durgandini merupakan peristiwa istimewa yang mampu menggoncangkan hatinya. Walaupun sejak kanak-kanak Palasara telah menjalani laku tapa, belajar mengolah pikir serta mengendalikan rasa, ia tak kuasa menahan goncangan asmara. Ada perasaan yang tumbuh begitu cepat dan dahsyat. Perasaan yang mengkristal dan tertuju hanya kepada satu wajah, satu sosok, satu hati, serta satu nama yaitu Durgandini.

Karena tidak kuasa menanggungnya, dengan kepolosan Palasara menyatakan perasaannya kepada dewi Durgandini. Entah karena hutang budi atau perasaan kagum atau sentuhan rasa yang lain, tetapi yang pasti bukan karena ketampanannya, sang Dewi Durgandini mau menerima cinta Palasara. Kedua insan muda tersebut mulai merenda benang harapan akan masa depan yang indah dan membahagiakan.

Bersamaan dengan cinta mereka yang tumbuh, Dasabala, orang tua asuh Durgandini ingin membawa anak angkatnya besama dengan Palasara menghadap Prabu Basuparicara raja Wirata. Sesuai dengan janji Prabu Basuparicara, Dewi Durgandini setelah menjadi sembuh diterima di kraton Wirata, termasuk juga Palasara, yang mampu menyembuhkan Durgandini dan juga perwujudan dari penyakit dan perahu dayung Durgandini yaitu: Rajamala, Rupakenca, Kencakarupa dan Rekatawati. Bahkan untuk selanjutnya, ketika Prabu Basuparicara mengetahui bahwa diantara Durgandini dan Palasara ada benih cinta yang mulai bersemi, mereka berdua di resmikan menjadi suami istri.

Tak berapa lama kemudian pasangan Palasara dan Durgandini dianugerahi seorang anak laki-laki dan diberi nama Abiyasa. Durgandini menginginkan agar Abiyasa kelak menjadi raja, tidak sengsara seperti dirinya. Namun Palasara tidak demikian, ia berharap agar Abiyasa menjadi seorang petapa atau brahmana seperti dirinya. Perbedaan pendapat antara Dewi Durgandini dan Palasara dalam hal mendampingi dan mengarahkan Abiyasa anaknya, tidak dapat dipersatukan. Keduanya kukuh bertahan dengan pendapatnya masing-masing. Maka kemudian yang terjadi adalah Palasara membawa Abiyasa ke gunung Saptarga dipuncak Wukiretawu, meninggalkan Durgandini seorang anak bidadari yang setahun lalu sangat dicintainya.

herjaka HS

Durgandini (2)


Durgandini (2)
Dewi Durgandini dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Dasabala si tukang perahu itu mengasuh anak kembar dampit (laki-laki dan perempuan) yang dilahirkan oleh Bidadari Adrika dengan penuh kasih sayang. Kedua anak tersebut tumbuh menjadi remaja yang tampan, cantik serta cerdas. Namun ada satu hal yang memprihatinkan, yaitu keadaan Durgandini. kulitnya ‘mbekisik’ dan menebarkan bau amis yang menyengat. Oleh karenanya Durgandini juga disebut Laraamis. Hal tersebut berkaitan erat dengan Bidadari Adrika yang melahirkannya ketika sedang menjalani kutukan menjadi seekor ikan.

Seperti yang dipesankan bidari Adrika sebelum kembali ke kahyangan, bahwa kelak jika si kembar dampit yaitu Durgandana dan Durgandini sudah dewasa, hendaknya Dasabala menyerahkan kepada raja Wirata.

Dasabala tidak tahu, mengapa Durgandana dan Durgandini harus diserahkan kepada raja Wirata yang bertahta? Namun ketidaktahuannya tidak menjadikan Dasabala enggan ketika tiba saatnya, si kembar yang diasuhnya selama belasan tahun harus diserahkan kepada sang raja.

Seperti yang diduga dan diragukan sebelumnya, bahwasannya yang diterima oleh raja Wirata hanyalah Durgandana. Sedangkan Durgandini dikembalikan kepada Dasabala, agar dicarikan tabib untuk menyembuhkan penyakitnya. Jika nanti sudah sembuh, bawalah kembali ke istana

Selain perasaan iba karena derita Durgandini, Dasabala bahagia, karena masih diberi waktu untuk mendampingi Dewi Durgandini. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan. Dengan kasih sayang yang tak pernah pudar, Dasabala mengajari apa yang menjadi keahlihannya kepada Dewi Durgandini, yaitu mencari ikan dan menjalankan perahu.

Dengan ketrampilan menjalankan perahu, Durgandini dapat membantu setiap orang yang kesulitan untuk menyeberang sungai Yamuna. Rupanya profesi sebagai ‘tukang santang’ oleh Durgandini dijalaninya dengan tulus dan dijadikannya sebagai laku dan permohonan agar dirinya dibebaskan dari penyakit yang mengganggu dan memalukan.

Seperti hari-hari biasanya, pagi-pagi benar, Dewi Laraamis telah menyiapkan perahunya. Dari kejauhan nampaklah seorang petapa muda yang berdiri di tepi sungai Yamuna. Dihampirinya petapa itu dengan perahunya. Sesampainya di depan Petapa muda itu, Dewi Durgandini menawarkan jasanya dan mempersilakan petapa muda itu naik di perahunya. Beberapa saat setelah petapa muda itu naik di perahu, mereka berdua saling berkenalan.

“Aku bernama Durgandini, tetapi banyak orang memanggilku Raraamis. dikarenakan sekujur tubuhku menebarkan bau amis yang menyengat.” ucap Durgandini, sesaat setelah orang yang diseberangkan itu memperkenalkan diri bernama Palasara, seorang petapa dari Saptarga di puncak Ngukiretawu.

Melihat penderitaan Durgandini, Palasara merasa iba. sebagai petapa muda yang ‘waskita’ Ia dapat membaca bahwa penuturan Durgandini tersebut merupakan sebuah litani permohonan agar dirinya dilepaskan dari penyakit yang sudah belasan tahun mencengkeram hidupnya. Dengan kesaktiannya, Palasara berhasil menyembuhkan Durgandini.

Dasabala bersukacita melihat bahwa putrinya telah terbebas dari ‘mala trimala,’ sakit-penyakit yang menyiksa tubuhnya. Kini keelokan dan kecantikan Dewi Durgandini nampak memancar dari wajah dan tubuhnya.

herjaka HS

Sumber : http://tembi.org/

Dewi Durgandini (1)


Dewi Durgandini (1)
Prabu Basuparicara atau Prabu Basupati Raja negara Cediwiyasa yang kemudian bernama negara Wirata, adalah anak Prabu Basukesthi atau Prabu Basukiswara. Prabu Basuparicara adalah sosok raja yang dapat dikatakan istimewa. Keistimewaan tersebut dikarenakan ia dapat mengetahui bahasa binatang. Oleh karenanya Prabu Basuparicara harus pandai-pandai memanfaatkan kelebihan yang ia miliki. Karena jika tidak, mendengar apa yang dibicarakan antara para binatang, akan memecah konsentrasi dan membuat hidup ini tidak nyaman. Sadar akan hal itu, sang Prabu Basuparicara berusaha untuk mengesampingkan kelebihannya dalam hal mendengarkan pembicaraan para binatang, untuk lebih mengutamakan perhatiannya kepada Negara dan keluarga, terlebih kepada Dewi Girika istrinya. Namun ternyata pengalihan perhatihan yang dipaksakan beresiko pula. Dikarenakan terlalu mencintai istrinya, ke mana pun Prabu Basuparicara pergi, bayangan Dewi Girika tak pernah lepas dari pikirannya.

Demikian juga ketika Prabu Basuparicara berburu di hutan, kecantikan wajah dan kemolekan tubuh istrinya tak pernah bisa lepas dari pikirannya. Semakin besar niatnya untuk melepaskan bayang-bayang Dewi Girika di dalam pikirannya, semakin besar pula kerinduan Prabu Basuparicara kepada istrinya. Kerinduan puncak dari seorang suami kepada istri, berubah menjadi bongkahan nafsu yang tumpah dari kelelakiannya. Akibatnya, air kama Prabu Basuparicara jatuh di atas dedaunan pohon talas yang banyak tumbuh di pinggir hutan. Di mata Prabu Basuparicara kama yang jatuh itu adalah wujud kerinduannya kepada istri yang amat dicintanya, oleh karenanya Sang Prabu ingin menyampaikan kerinduan itu kepada Dewi Girika.

Dengan kelebihannya atas bahasa binatang, Prabu Basuparicara memanggil burung Gagak untuk mengantarkan air kama yang sudah dibungkus dengan daun talas kepada istrinya. Maka terbanglah burung Gagak tersebut membawa kerinduan Prabu Basuparicara kepada Dewi Girika. Di tengah perjalanan, burung Gagak tersebut diterjang oleh burung Elang, maka jatuhlah kama yang dibawa dengan paruhnya ke sungai Gangga.

Di sungai Gangga, hiduplah seekor ikan besar yang lain dari pada ikan-ikan yang ada di sungai tersebut. Ikan istimewa tersebut adalah jelmaan dari bidadari Adrika yang puluhan tahun lalu dikutuk oleh Dewa. Ia dapat pulih kembali menjadi bidadari, jika ia dapat melahirkan anak manusia. Dalam masa penantian yang tak kunjung selesai, tiba-tiba dihadapan mulutnya jatuhlah segumpal kama yang dibungkus dengan daun talas. Dengan naluri yang ada, ‘ikan kutukan’ itu menyambar daun talas. Sebentar kemudian, daun talas yang berisi kama Prabu Basuparicara tersebut berada di perut ikan.

Keajaiban terjadi, tak berapa lama dari peristiwa tersebut, ‘ikan kutukan’ tersebut mengandung dan melahirkan anak manusia kembar, laki-laki dan perempuan. Seperti yang sudah dijanjikan, bersamaan dengan lahirnya anak kembar tersebut, ikan tersebut pulih wujud semula, menjadi bidadari Adrika.

Anak kembar yang dilahirkan Bidadari Adrika tersebut diberi nama Durgandana dan Durgandini. Sebelum naik ke kahyangan, Durgandana dan Durgandini di percayakan kepada Dasabala si tukang perahu, untuk diasuh dan dibesarkan. Kelak jika sudah dewasa haturkan kedua anak tersebut kepada raja Wirata, demikian pesan Bidadari Adrika kepada Dasabala.

herjaka HS

Sumber : http://tembi.org/

Cantrik


Cantrik

Tokoh Cantrik ditampilkan dalam wayang kulit purwa dengan roman muka yang gembira dengan plelengan. Hidungnya ndelik atau sumpel. Bermulut sunthi dengan kumis tipis, kadang ada yang berjenggot dan berjabang. Perut buncit, memakai rompi dan memakai celana pocong dagelan. Kepalanya memakai kethu, semacam topi. Dipunggungnya, kemana-mana menyandang sabit.
(wayang buatan Kaligesing Purworejo, koleksi museum Tembi Rumah Budaya, foto: Sartono)

———-

Cantrik termasuk panakawan, namun tidak panakawan baku seperti halnya: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong (panakawan tengen) atau pun Togog dan Bilung (panakawan kiwa). Cantrik merupakan panakawan morgan atau panakawan sampingan dan tidak baku. Walaupun tidak baku kehadiran Cantrik dalam wayang kulit purwa cukup penting. Ia hadir sebagai pengiring pendeta atau begawan, baik pendeta yang berujud raksasa maupun pendeta yang berujud ksatria, di sebuah pertapaan atau percabaan.

Pada pagelaran wayang kulit Purwa, adegan percabaan ini merupakan kelanjutan dari adegan gara-gara, ketika para panakawan tengen (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) selesai bersenang-senang menghibur, lalu mengantar seorang ksatria menuju percabaan untuk memohon pencerahan kepada pendeta yang bersangkutan. Dalam adegan percabaan ini biasanya seorang dalang memanfaatkan bertemunya Cantrik dan Semar Gareng, Petruk, Bagong dengan guyonan yang lucu dan konyol.

Sesungguhnya Cantrik merupakan penggambaran seseorang yang sedang menuntut ilmu kepada pendeta atau begawan di padepokan atau percabaan. Sistem pengajaraannya menggunankan sistem khusus, yaitu sistem pengajaran paguron. Dalam sistem paguron ini, para Cantrik (laki-laki) dan Mentrik (perempuan) juga menjadi bagian dari keluarga, mereka tinggal makan dan bekerja bersama serta berfungsi sebagai pelayan atau pengasuh.

Tokoh Cantrik jarang diceritakan secara khusus, kecuali tokoh cantrik yang bernama Janaloka. Cantrik yang satu ini menjadi terkenal karena keinginannya memperistri Endang Pergiwa dan ssaudara kembarnya Endang Pergiwati. Pergiwa dan Pergiwati adalah anak Arjuna dengan Endang Manuhara yang tinggal bersama eyangnya Begawan Sidik Wacana di percabaan Andong Sumiwi. Pada suatu hari kedua putri kembar itu ingin menemui Arjuna ayahnya di keraton Ngamarta. Begawan Sidik Wacana mengutus Cantrikanya untuk mengantar kedua cucunya menemui ayahnya. Namun di tengah jalan Cantrik Janaloka yang seharusnya melindungi Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati, malahan berniat memperistrinya. Namun sebelum niat Cantrik Janaloka kesampaian, ia keburu mati ditangan para Korawa.

Cerita ini menggambarkan seseorang yang memiliki keinginan, namun tidak ‘ngilo githoke dhewe,’ tidak melihat kekuatan dan kenyataan yang dimilikinya. Dan juga merupakan penggambaran dari abdi yang tidak setia kepada gurunya yang selama ini telah membimbingnya. Diibaratkan pagar makan tanaman yang seharusnya dijaga malah dirusak sendiri.

 

herjaka HS

Sumber : tembi.org

SRIKANDHI: THE YOUNG WARRIOR PRINCESS (PART 2)


by Bram Palgunadi on Friday, November 11, 2011 at 5:01am

Srikandhi telah menjelma menjadi seorang gadis dewasa yang mempesona. Postur tubuhnya yang tinggi semampai, wajahnya yang selalu cantik dan penuh ceria, selalu membuat para pria terpesona saat mereka memandangnya.

Sang Sasadara telah menyinarkan cahaya purnamanya ke angkasa luas. Cahayanya bersinar keemasan di antara mega-mega, seakan hendak menyampaikan tarian cerita sendu. Bias cahayanya, berpendar-pendar menyeruak di antara gumpalan awan yang berjalan perlahan dengan enggan. Sepasang burung malam, tampak terbang berputaran dengan cekatan, saling menyambar di atas angkasa malam Pancala Radya, bagaikan menarikan bias kehidupan manusia di alam janaloka. Lalu, dari kejauhan, terdengar samar-samar terbawa sang Samirana, tembang Kidung Kinanthi dinyanyikan para pradangga dan waranggana, meniti lembut nada-nada Ketawang Pangarum-arum, melantunkan cerita-cerita parwa yang menyayat hati, bercerita tentang hidup dan perjalanan manusia, saat gamelan ditabuh memainkan rangkaian Talu yang menyentuh pagelaran agung kehidupan anak-anak manusia. Bercerita tentang hidup dan mati. Tentang kelahiran dan kematian. Tentang kemegahan dan kesengsaraan. Tentang cinta dan kesedihan. Tentang ‘sangkan paraning dumadi’  manusia, yang pada suatu ketika nanti pasti akan ‘bali mulih mring mula-mulanya’ (kembali pulang ke asal mulanya).  Tentang kesendirian, yang membuat siapapun yang mendengarnya akan terketuk relung hatinya dan meneteskan air mata. Maka Talu-pun dimulai, menceritakan berbagai peristiwa kehidupan Sang Srikandhi, putri Pancala Radya….

Wus munya gangsa ing dalu,

Angelangut gya rinukmi,

Tembanging carita parwa,

Ngarum-arum wanci ratri,

Rinengga wulan kartika,

Heneng hana hanawengi.

Wus munya gangsa gya Talu,

Suluk myang tembang respati,

Ginawa Sang Samirana,

Kidung kandha jroning ratri,

Angidung lakoning jalma,

Sesuluh laku utami. [1]

Sang Srikandhi diam termenung di malam itu. Gelisah perasaannya. Berita-berita tentang para kerabat Pandhawa yang diusir dari Hastina-Pura oleh para kerabat Kurawa, telah sampai pula di telinganya. Berita-berita tentang peristiwa pengusiran kerabat Pandhawa itu, setiap hari memenuhi halaman depan koran dan televisi Pancala Radya dan berita-berita itu selalu menjadi ‘headline’ yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar dan mencolok, disertai dengan ulasan, bahasan, dan cerita; yang hampir semuanya menyalahkan dan memojokkan para kerabat Pandhawa, akibat peri-lakunya kalah berjudi melawan para kerabat Kurawa. Miris hatinya, jika merasakan bagaimana sekelompok kerabat ksatria itu diperlakukan secara nista dan hina. Tetapi saat membaca banyak berita itu, Srikandhi juga bisa merasakan, menimbang, serta membuat kesimpulan; bahwa segala peristiwa itu sebenarnya dimulai dari kebodohan para kerabat Pandhawa sendiri, yang menerima begitu saja tantangan berjudi dari para kerabat Kurawa, tanpa tahu bahwa sebagian besar dari lawannya itu terkenal sebagai penjudi ulung yang licik.

Srikandhi, sebenarnya tidaklah begitu kenal dengan para kerabat Pandhawa itu. Tetapi berita-berita yang sangat gencar dan membanjirinya setiap saat, membuatnya sedikit-banyak terpengaruh juga. Timbul rasa kasihan setiap kali melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan bagaimana para kerabat Pandhawa itu diolok-olok, direndahkan, dan dihinakan martabatnya secara keterlaluan oleh para kerabat Kurawa. Para kerabat Pandhawa itu, diusir dan diperlakukan seakan seperti segerombolan anjing kurap saja. Martabatnya direndahkan sedemikian rupa, sehingga mereka dianggap tak perlu diperlakukan sebagai manusia. Benar-benar keterlaluan…..

Myat langening kalagyan,

Aglar pandham muncar….[2]

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan warsa demi warsa; berlalu begitu saja tak terasakan. Begitu lama berlalu, sehingga akhirnya berita tentang kerabat para Pandhawa itu hilang ditelan waktu. Seakan mereka lenyap dan musnah dari muka bumi. Semua kehidupan, seakan kembali seperti awal mulanya. Begitu pula Sang Srikandhi, kembali kepada kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan berbagai kegiatan seperti dulu. Tak terasakan, waktu telah berlalu begitu lama, dan Sang Srikandhi telah menjelma menjadi seorang putri remaja yang dewasa. Tubuhnya yang semampai, dengan perawakan tegak tinggi bagaikan seorang ksatria, tampil dengan berbagai kepandaian dan kelincahan dalam berolah diri. Sahabat-sahabatnya yang dulunya menjulukinya sebagai ‘si pembuat onar’, telah lama mengganti julukannya menjadi ‘si jelita dari Pancala Radya’. Julukan ini, kelihatan memang lebih cocok untuk Sang Srikandhi yang sudah mulai menginjak dewasa dan seringkali tampil lebih lembut, meskipun masih juga kelihatan ‘tomboy’.

Sesekali, Sang Srikandhi menyenangkan dirinya bermain dan bercengkerama di pantai Pancala Radya…Srikandhi yang enerjik, telah berubah menjadi wanita dewasa yang mempesona…Seperti layaknya seorang wanita yang mulai menapak masa dewasa, mimpi-mimpi Srikandhi juga mulai mengembara jauh ke relung-relung kehidupan yang berbunga-bunga…

Hari itu, Sang Srikandhi nan jelita baru pulang dari sebuah kuliah ‘stadium generale’, Continue reading SRIKANDHI: THE YOUNG WARRIOR PRINCESS (PART 2)