Category Archives: Kawih Sunda

Cangehgar


Humor Bahasa Sunda CANGEHGAR berdurasi pendek-pendek, tapi padat dan pikasebeleun. Cangehgar adalah bobodoran kreasi dari Radio Rama FM Bandung yang cukup banyak digemari para pendengar setianya. Cangehgar (Carita Ngenah dan Segar) cukup ringan dan membuat segar untuk sekedar tersenyum, tertawa melepaskan kepenatan setelah lelah sehatian berkarya di rumah atau di tempat kerja.

Ternyata di lapak-lapak penjual CD bajakan, ada juga yang kreatif mengumpulkan rekaman-rekaman tersebut dalam satu CD. Dan “terpaksa” saya harus mengeluarkan uang lima ribu rupiah untuk membelinya karena penasaran juga.

Sebagian saya unggah disini

Cangehgar – Campuran Bag 1

Cangehgar – Campuran Bag 2

Cangehgar – Campuran Bag 3

Cangehgar – Campuran Bag 4

Cangehgar – Campuran Bag 5

Dapat juga Anda download yang lain silahkan menuju kesini http://manuskripkesunyian.wordpress.com/2009/12/12/download-mp3-humor-sunda-cangehgar/

Degung Klasik Vol. 1


Kita nikmati “Degung Klasik Vol. 1″ yang dibawakan bersama Group LS. Kancana Sari dengan pimpinan Endang Sukandar.

Musiciens antara lain : Anda Lugina, Endang Sukandar, Entis Sutisna, Achmad Suwandi dengan kawih-kawih:

  1. Mangari,
  2. Maya Selas – Gaya,
  3. Lutung Bingung,
  4. Lalayaran,
  5. Palsiun – Bungur,
  6. Genye,
  7. Paturay,
  8. Sangkuratu.

Selamat Menikmati

Idjah Hadidjah, Tonggeret


Berikut saya cuplik review dari Chris Nicson

http://www.allmusic.com/album/tonggeret-r98611

A fascinating document of the Jaipong popular style that swept through Indonesia in the late 1970s, typified by its highly dynamic drumming. Sung in the Sundanese language, with instruments and musical idioms drawn from the Sundanese tradition, it’s an unlikely form of pop. And, indeed, to Western ears it hardly sounds like pop — pieces like the lengthy “Serat Salira” seem to have more in common with an edgy type of avant-grade than anything else. Coming from the village genre known as ketuk tilu, which mixed singing and dancing, jaipong built on the foundation to create something new, also utilizing the instrumentation and structure of popular gamelan music. The hybrid, named jaipong, was instantly successful, initially as a musical style, but since then as a form of dance. Is it easy listening? Yes and no: The tones slide sinuously and beautifully, but the harmonies and melodies are definitely challenging to anyone grounded in Western music. At the same time, there’s a definite beauty to it all that warrants repeated listenings to be teased out.

Dan ini uraian dari Pak Bram Palgunadi di milis PPW tentang beberapa (empat) lagu yang ada di album ini

Sahabat-sahabat kinasih saya,

Kali ini saya kirimkan lima lagu/tembang Sunda klasik pilihan yang sangat bagus untuk anda semua dengarkan. Empat tembang dinyanyikan oleh pesindhen yang sangat bagus, yaitu Idjah Hadidjah. Sedang satu lagu lagi dinyanyikan oleh pesindhen Euis Komariah, yang suaranya juga bagus. Semua lagu ini, berasal dari era tahun 1980-an, sangat klasik dan sangat enak didengarkan di malam hari. Bagi sahabat-sahabat saya yang dulu semasa sekolah pernah tinggal di Kota Bandung, dan sekarang tinggal jauh dari Kota Bandung, lagu-lagu ini bisa menumbuhkan kenangan indah dan kerinduan pada Kota Bandung. Sedangkan bagi sahabat-sahabat saya yang bersuku Sunda dan sekarang tinggal jauh dari Kota Bandung atau jauh dari Tanah Parahyangan, saya kira kalau mendengar lagu-lagu ini bisa menangis karena rindu ke kampung halaman….

Tembang ‘Hiji Catetan’ (Sebuah Catatan), dinyanyikan sangat bagus dan penuh perasaan oleh Idjah Hadidjah (sekitar tahun 1987). Merupakan gendhing Sunda bergaya kliningan wayang, yang sangat bagus, menyentuh perasaan, sendu, dan sangat romantis. Syairnya, bercerita tentang kerinduan dan kenangan lama yang indah kepada seseorang yang pernah memadu cinta dan janji, tetapi kekasihnya kemudian meninggalkannya (tidak menepati janji). Ingatan tentang semua kenangan indah ini, melayang terbayang kembali saat melihat sebuah potret (foto) lama yang penuh kenangan indah berdua. Kalau dalam bahasa Jawa, sering ditampilkan dalam kalimat ‘linali lali tan bisa lali’ (berusaha dilupakan, tetapi tak bisa terlupakan juga). Tembang yang sangat sendu dan sedih ini, ditembangkan dalam gaya yang bergaya Pesisir, dengan nada ‘barang miring’ yang sangat sendu. Meskipun saya orang Jawa, tetapi kalau mendengarkan tembang ini, saya sering meneteskan airmata. Menurut saya, untuk mendengarkan tembang ini, anda semua tidak perlu mengerti bahasa Sunda. Tembangnya sudah bisa menceritakan seluruh peristiwanya.

Continue reading

Kawih Nenden DK


Rehat sejenak mendengarkan wayang. Nggak ada salahnya kali ini menikmati karawitan yang tidak kalah indah dan menyentuh. Kali ini saya persembahkan video kawih cianjuran bersama Nenden DK

Silahkan menikmati playlist kawih-kawihnya (6 Klip)

1. Papatet, Mupu Kembang, Raja Mantri, Taropong

2. Jemplang Panganten, Jemplang Cidadap, Jemplang Pamirig, Panyileukan

3. Mangari, Dandanggula Pancaniti, Kasuat-suat

4. Udan Mas, Udan Iris, Lara-Lara

5. Setra, Stria, Gandrung Gunung

6. Samagaha Pikir, Bogoh Teu Sapikir, Karanginan