Category Archives: Tokoh Mahabarata

Werkudara (7)


Janaloka
Janaloka : Akhir tragis sebuah penghianatan sumpah

Namun siapa yang mampu menahan gejolak asmara manakala gadis-gadis yang dikaguminya sepanjang hari seiring sejalan bersamanya. Apalagi dasarnya Pergiwa dan Pergiwati adalah gadis-gadis yang masih polos dan lugu serta alam pertapaan nan asri alami membentuknya menjadi pribadi yang ceria dan selalu memandang indah dunia. Apatah lagi, sebagai seorang putra dari Arjuna, lelananging jagad serta beribu manis Manuhara yang rupawan, tentu saja mewarisi kecantikan yang mengagumkan.

Dalam hati Janaloka, tlah lama mengendap kekaguman dan rasa cinta akan nDaranya itu. Sehingga ketika diminta gurunya, Bagawan Sidik Wacana, untuk menjadi pendamping Pergiwa dan Pergiwati dalam perjalanan menemui ayahnya, maka tanpa berfikir panjang kemudian dia menyanggupinya.

Dan …. rasa asmara yang semakin berkobar dari hari ke hari saat mendampingi mereka berdua, setiap saat memandangi wajah-wajah nan rupawan, sepanjang hari mencium aroma sedap dari tubuh perawan-perawan itu, melihat sikap yang menggemaskan, kenes karena kepolosan dari polah tingkah dara dara itu, akhirnya meruntuhkan nalar Janloka. Janji dan tanggung jawab yang sebelumnya slalu diingat dan dipegang erat, lama kelamaan terkikis dan akhirnya dilupakannya. Larangan dan ancaman Bagawan Sidik Wacana pabila dia melanggarnya, seketika diabaikannya.

Sehingga pada suatu kesempatan, disampaikanlah rasa hatinya kepada Pergiwa dan Pergiwati. Tentu saja Pergiwa dan Pergiwati menolak keinginan Janaloka untuk menjadi istri istrinya. Mereka tlah menganggap Janaloka sebagai pamannya sendiri, sebagai orang tua yang mengasuh dan melindunginya. Mendapat penolakan tersebut, Janaloka semakin lupa diri. Hingga kemudian dipaksanya kedua putri tadi untuk meladeni nafsu yang tlah menguasai hati dan pikirannya.

Dan benarlah apa yang disabdakan oleh Bagawan Sidik Wacana. Janaloka yang tlah mengingkari sumpah dan janjinya, akhirnya harus mengalami penderitaan. Tempat berteduh saat hujan dan panas selalu menjadi rusak ketika dia berada dibawahnya. Meskipun dia telah minum banyak air dan juga banyak makan, namun rasa haus dan lapar selalu muncul dan menyiksanya. Rasa menyesali akan kebodohannya seakan tak berguna. Meskipun dia masih bersama dengan Pergiwa Pergiwati, bukan keindahan yang dialaminya, namun penderitaan sepanjang perjalanan buah dari kutukan Bagawan Sidik Wacana.

<<< ooo >>>

Sementara itu, di negri Dwarawati tengah menjadi ajang perjuangan para satria untuk memetik bunga istana yaitu Dewi Siti Sendari. Dan kembali persaingan antara Pandawa dan Kurawa terjadi. Kurawa ingin menjodohkan Siti sendari dengan pangeran pati Lesmana Mandrakumara, putra dari Duryudana dan Banuwati, sementara Pandawa menginginkan Siti Sendari untuk dinikahkan dengan Abimanyu putra Arjuna dari Wara Sumbadra. Namun persyaratan yang diajukan sangat berat, satu diantaranya adalah menyediakan patah kembar nan jelita yang nantinya bakal disandingkan dengan pengantin wanita.

Maka mereka kemudian bergerak mencari persyaratan dimaksud. Kurawa menggelar ratusan prajurit untuk menyisir hutan disepanjang negri hingga ke manca untuk menemukan patah kembar itu. Sementara Abimanyu mencarinya sendiri dengan didampingi dengan kakak sepupunya Gatotkaca.

<<< ooo >>>

Pada suatu hari ratusan Prajurit Kurawa akhirnya menemukan yang dicari. Di tengah hutan di selatan negri Dwarawati, mereka bertemu di jalan dengan Pergiwa dan Pergiwati beserta Janaloka. Meskipun Janaloka tengah menderita menjalani kutukan, namun jiwa pengabdian sebagai cantriknya Bagawan Sidik Wacana, akhirnya membuatnya untuk melindungi kedua cucu gurunya itu. Maka dengan berbekal semangat tersisa, Janaloka meladeni serangan para prajurit Kurawa. Tentu bukan suatu pertempuran yang seimbang. Continue reading

Werkudara (6)


Gatutkaca Yogya 2

Kisah Perjalanan Satria “Otot Kawat Balung Wesi”

Maka setelah menyadari kesalahannya, Narada segera mencari Arjuna yang sebenarnya karena Karna telah tlah pergi entah kemana. (Ya inilah ceritanya … walau secara logis sebenarnya Narada tentu sanggup untuk mengejar Karna dan meminta kembali senjata pusaka yang telah salah diberikannya itu … sementara diterima saja dulu ceritanya he he he)

Dan setelah bertemu dengan Arjuna kemudian diceritakan kejadian sebenarnya, maka segera Arjuna mengejar Karna untuk merebut senjata Konta. Pertarungan pun terjadi. Karena memang hanya sekedar ingin mempertahankan senjata yang telah diperolehnya, maka Karna meloloskan diri dengan membawa senjata Konta, walaupun sarung pembungkus pusaka tersebut telah berhasil direbut Arjuna. Namun hal itu sudah cukup berdasarkan informasi yang diberikan Narada bahwa sarung pusaka Konta tersebut terbuat dari Kayu Mastaba yang ternyata bisa juga dipergunakan untuk memotong tali pusar Tetuka.

Dan keajaibanpun terjadi ! Sarung senjata tadi musnah dan bersatu dalam perut saat digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka. Hal tersebut tentu mengundang tanda tanya dan gundah yang hadir disitu. Namun Kresna yang ikut serta menyaksikannya, berpendapat bahwa pengaruh kayu Mastaba adalah positif karena akan menambah kekuatan bayi Tetuka. Tapi kelanjutan ramalannya kemudian membuat yang hadir merasa was was, bahwa kelak Tetuka akan tewas di tangan pemilik senjata Konta saat “senjata bersatu kembali dengan warangkanya”.

Berkisah tentang Gatutkaca adalah menceritakan tentang kepahlawanan seorang satria yang mengabdikan diri untuk kejayaan negaranya yaitu Pringgodani dan Amarta, negri para pamannya. Namun tentu saja tak ada gading yang tak retak, pada kisah “Kalabendana Lena”, Gatutkaca melakukan kesalahan fatal saat membunuh pamannya sendiri yang sangat mencintai dan dicintainya hanya karena salah paham dan kejujuran Kalabendana di satu sisi dan rasa cintanya kepada adik sepupunya Abimanyu di sisi lain. Continue reading

Werkudara (5)


antasena_solo

Antasena tawur kemenangan Pandawa

Anak ketiga dari Werkudara adalah Raden Antasena. Begitupun dengan Antareja, Antasena adalah kreasi pedalangan Jawa yang tidak ditemukan di kisah Mahabarata di India.

Sosok Antasena ini digambarkan sebagai seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Dibanding dengan kakak-kakaknya yaitu Antareja dan Gatotkaca, Antasena lebih unggul kedigdayaannya. Dia bisa terbang seperti halnya Gatotkaca, mampu ambles ke bumi seperti Antareja dan juga dapat hidup di kedalaman air.

Ibu Antasena adalah Dewi Urangayu, putri Resi Mintuna, dewa ikan yang berkedudukan di Kisiknarmada. Pertemuan Werkudara dengan Dewi Urangayu terjadi ketika Resi Druna menguji siswa-siswanya yaitu para Pandawa dan Kurawa di perguruan Sokalima. Pada saat itu Werkudara diadu melawan Duryudana dengan menggunakan gada dengan pemenangnya adalah Werkudara. Duryudana sakit hati dan kemudian menyuruh Dursasana untuk melenyapkan Werkudara.

Seperti biasa akal licik dan jebakan selalu digunakan dalam usaha mengenyahkan Pandawa. Dursasana kemudian mengadakan pesta dalam rangka memeriahkan pendadaran siswa Sokalima tadi. Dalam pesta itu Werkudara dibujuk untuk minum tuak yang sangat keras. Dengan bujukan bujukan manis tanda persahabatan dan persaudaraan, Werkudara akhirnya minum terlalu banyak sehingga menjadi mabuk dan jatuh pingsan. Dalam keadaan pingsan itulah tubuh Bima diikat dengan kuat kemudian diceburkan ke dalam sungai Jamuna.

Memang Bima belum ditakdirkan untuk mati, tubuh Bima hanyut hingga ke Kisiknarmada, pertemuan sungai Jamuna dan sungai Gangga. Dia kemudian ditolong oleh Resi Mintuna dan disembuhkan dengan air Rasakunda. Ternyata justru Werkudara menemukan keberuntungan, dia dijodohkan dengan putrinya Mintuna yaitu Dewi Urangayu.

Dewi Urangayu masih tinggal di Kisik Narmada bersama ayahnya setelah Werkudara pergi untuk menemui saudara saudaranya kembali. Saat Antasena lahir tetap tinggal bersama ibu dan kakeknya. Continue reading

Werkudara (4)


antareja_solo_2

Antareja, tumbal sebuah rekayasa kemenangan

Seorang yang perkasa tentu bakal menghasilkan keturunan yang perkasa pula bila dia berada dalam jalan lurus dan benar.

Adalah anak anak Werkudara yang menambah tinggi derajat sang ayah. Ketiga anaknya sungguh ksatria yang luar biasa, memiliki kesaktian tiada tara. (Dalam versi India anak Bima hanya Gatotkaca, sementara dua anak lainnya yaitu Antareja dan Antasena hanya ada di pewayangan Jawa).

Si Sulung Antareja dari Nagagini putri Batara Anantaboga, dewa bangsa ular. Perkawinan antara Bima dengan Nagagini terjadi setelah para Pandawa selamat dari jebakan istana kardus yang diskenariokan untuk memusnahkan para Pandawa oleh Kurawa dengan otak di belakang layar siapa lagi kalau bukan Sengkuni. (baca kisah Bale Sigala gala)

Menurut serat Pustakaraja, Antareja adalah nama Antasena setelah dewasa, namun menurut Purwacarita dan Purwakanda disebutkan bahwa Antareja adalah anak sulung Bima, sedangkan Antasena adalah anak bungsunya. Untuk sekarang sekarang ini, para dalang cenderung untuk membedakan antara tokoh Antareja dan Antasena, termasuk juga yang menggunakan gagrak Surakarta.

Sejak kecil Antareja tidak tinggal bersama ayahnya, melainkan tetap di kahyangan Saptapratala bersama ibunya Nagagini dan kakeknya Hyang Antaboga.

Antareja memiliki kesaktian yang luar biasa. Semburan ludahnya yang mengandung bisa mampu menewaskan siapa saja yang terkena. Bahkan tanah bekas telapak kaki orang yang kemudian dijilatnya dapat menyebabkan yang mempunyai tapak kaki akan tewas seketika. Selain itu Antareja dapat juga menghidupkan orang mati, jika memang garis ajalnya belum saatnya. Kemampuan ini adalah khasiat dari air suci Tirta Amerta yang dimilikinya, hadiah dari kakeknya. Dalam lakon Sembadra Larung, ia menghidupkan kembali Wara Subadra yang telah mati dibunuh Burisrawa. (Baca kisah Antareja takon Bapa atau Sumbadra Larung)

Ketika masih bayi Antareja pernah diadu melawan raja Jangkarbumi bernama Prabu Nagabaginda. Sebelum bertarung, Antareja lebih dulu dilumuri air liur oleh kakeknya sehingga tubuhnya menjadi licin dan kebal. Dalam pertarungan ini Antareja menang, sehingga Kerajaan Jangkarbumi menjadi miliknya. Walaupun demikian, hampir sepanjang hidupnya ia tinggal bernama kakeknya di Kahyangan Saptapertala.

Hidup Antareja berakhir tragis ! Kematiannya disebabkan karena menjilat bekas tapak kakinya sendiri. Semua ini adalah rekayasa Kresna dalam rangka mensukseskan kemenangan Pandawa dalam perang Baratayuda sekaligus menyelamatkan kakaknya Baladewa.

<<< ooo >>>

Kisah ini terjadi dalam lakon Kresna Gugah, menjelang perang Baratayuda pecah. Continue reading

Werkudara (3)


bima n dewa ruci

Bima Suci

Sang Bima menceburkan dirinya ke dalam samudra nan ganas mengikuti perintah gurunya, Begawan Durna, untuk mencari “air kehidupan” guna menggapai kesempurnaan hidup, Tirta Pawitra Mahening Suci. Badan terombang-ambing dihempas dan diterjang ganas ombak, seolah kapas dipermainkan tiupan angin kencang di angkasa nan maha luas. Werkudara sudah pasrah akan nasib dirinya. Namun tekadnya sungguh luar biasa, tidak goyah oleh kondisi tubuh yang makin lemah.

Sungguh sangat kokoh sikap dan semangat Sang Bima dalam menuruti apa kata seorang guru yang di hormatinya. Bahkan larangan saudara-saudaranya para Pandawa dan juga tangisan ibunya untuk mengabaikan perintah itu, tiada mampu menggoyahkan tekatnya untuk kali ini. Dalam benaknya tlah terpatri taqlid kepada sang guru, mengikuti apapun kata guru, walaupun menurut nalar normal dapat dipertanyakan kebenarannya. Itulah Bima ! Selagi kemantaban tekad tlah hadir, maka halangan apapun tiada digubrisnya.

Tiba-tiba dihadapannya, muncullah seekor naga yang luar biasa besarnya menghadang laju Bima. Kyai Nabat Nawa, nama naga raksasa itu, langsung menyerang sosok kecil dihadapannya dan menggigit betis Adik Yudhistira itu. Belum cukup dengan itu, diraihnya badan Werkudara untuk dibelit dengan maksud menghancurkan raga manusia yang menjadi mangsanya.

Namun badan Werkudara tidak ikut hancur karena tekadnya tidak lantas luntur. Semangatnya untuk mengabdi kepada guru begitu kuat mengalahkan rasa sakit serta rasa lelah yang sangat. Dikerahkan segala upaya, dikumpulkan seluruh tenaga untuk melepas himpitan naga. Dibayangkan sosok gurunya, senyum ibunya tercinta, tawa saudara-saudaranya dan tentu saja disandarkan rasa pasrah sumarah atas segala kehendak Sang Khaliq penguasa alam semesta. Dan berhasil ! Seketika kemudian Bima melesat menuju leher sang naga untuk menghunjamkan kuku Pancanaka.

Raung kesakitan yang memekakan telinga mengiringi rubuhnya sang naga. Mengiringi kematian badan raksasa itu hingga mengambang memenuhi pandangan. Disekelilingnya, air laut memerah oleh darah.

Werkudara begitu lelah. Sudah hilang kesadarannya. Perasaannya jiwanya melayang, tak ingat apakah masih hidup atau sudah tiada. Cukup lama jiwa sang ksatria itu melanglang tak tentu rimba.

Hingga saat tersadar, betapa terkejut Bima ketika dirinya merasa menginjak tanah, seolah menapak kembali kehidupan. Pandangannya memastikan bahwa dirinya berada dalam suatu pulau kecil ditengah lautan luas di dasar samudra itu. Alangkah indahnya pulau itu yang disinari oleh cahaya-cahaya kemilau menghiasi nuansa sekeliling.

Saat rasa begitu terbuai oleh ketakjuban, tiba-tiba Bima semakin dikejutkan oleh datangnya Bocah Bajang yang diiringi oleh cahaya yang mengalahkan cahaya yang ada. Cahaya diatas Cahaya !!! Bojah Bajang itu sungguh kecil, terlalu kecil bila dibandingkan dengan perawakan Bima. Bocah Bajang itu berjalan perlahan menghampirinya.

“Aku sungguh heran sekali, sepertinya sudah saatnya kematian menjemputku. Sama sekali aku tidak merasakan kehidupan lagi. Namun saat kutelusuri pandangan ke badan sampai ke ujung kaki, ternyata aku masih menyentuh bumi. Hilang wujudnya naga yang menggigit pahaku, tak dinyana aku sekarang terdampar di pulai kecil yang begitu indah. Tetumbuhan berbuah bergelantungan diselimuti cahaya. Namun terangnya cahaya tadi masih kalah dengan cahaya yang datang mengiringi Bocah Bajang menuju kesini” Sang Bima bergumam seolah bicara pada diri sendiri.

“Ayo mengakulah Bocah Bajang, siapa dirimu sebenarnya. Kamu bermain kesini siapa yang mengantarkan dan mengapa kamu tidak terpengaruh oleh ikan-ikan yang ganas yang sedang berpesta melahap darah naga itu”

“Werkudara, Kamu jangan gampang pergi bila belum mengetahui dengan tepat tempat yang hendak kamu tuju. Kamu jangan gampang makan tanpa tahu apa manfaat yang terkandung dalam makanan itu. Jangan sekali-kali berpakaian, bila tidak mengetahui bagaimana cara yang benar dalam berbusana. Pernahkan engkau mendengar cerita tentang seorang dari gunung yang ingin membeli emas di kota. Saat terjadi transaksi jual beli dengan pedagang, orang gunung tadi hanya diberi selembar kertas berwarna kuning yang dianggap sebagai emas murni. Maka berhati-hatilah terhadap segala sesuatu, semua tindakan harus diiringi berdasarkan ilmunya.”

Sang Bima begitu heran akan sosok mungil di depannya itu yang telah mengetahui nama dan melantunkan sanepa tentang maksud dan tujuan perjalanannya. Dan yang membuatnya semakin heran adalah perasaan adem damai hanya dengan melihat sosok mungil itu serta mendengar suaranya. Siapakah gerangan sosok itu ?

Dan seakan mengerti apa yang tengah bergolak dalam pikiran Werkudara, maka sosok itu melanjutkan kata-katanya :

“Perkenalkan Werkudara, saya adalah Dewa Kebahagian berjuluk Sang Hyang Bathara Dewa Ruci”

Seketika duduk bersimpuh Bima dihadapan sosok suci nan mungil itu. Seumur hidup, Bima tidak pernah “basa karma” kepada siapa-pun, bahkan kepada Bathara Guru sekalipun. Namun di hadapan sosok suci ini Bima sungguh tunduk dan sangat takjim bertutur.

Kemudian Werkudara menjelaskan maksudnya hingga sampai diujung samudra dan bertemu dengan Dewa Ruci ini. Continue reading

Werkudara (2)


bima-2

Dalam lakon Babad Mertani, dialah sebagai pelopornya membabat sehingga akhirnya ia mendapat negeri Jodipati. Kerajaan Dandun dan nama itupun dipakainya pula, karena Dandun tersebut menitis kepadanya.

Meskipun masih muda, ia telah menuntut ilmu kesempurnaan. Dengan petunjuk dari Pendeta Drona, ia dapat menggapai air suci tirta pawitra mahening suci, tersebut dalam lakon Dewa Ruci, semua karena kesentosaan semangat dan jiwa berbaktinya.

Dalam lakon Pandawa Papa, ia dapat membela Sang Irawan yang akan dimakan oleh Prabu Bakayaksa, Raja Raksasa itu dapat dibunuhnya. Sebagai balas budi. Irawan sanggup menjadi korban agar dalam Baratayuda Pandawa mendapatkan kemenangan.

Dalam lakon Partakrama, ia mencari sasrahan yang sangat berat, ialah berupa banteng sejumlah 40 ekor yang digembalakan oleh Jin Dadungawuk dan Mayanggaseta di padepokan Sendangagung.

Ia sangat bakti terhadap ibu dan kakaknya. Dalam lakon Dewamambang, ia berkorban untuk kakaknya, agar tetap bernama Puntadewa dan tetap bersinggasana di Amarta.

Waktu Sang Hyang Utipati menjalankan hukum yang tidak adil, ia menjadi raja di negeri Gilingwesi bernama Prabu Tuguwasesa, artinya menjalankan keadilan yang tegak. Ada pula yang menamakan Tuhuwasesa yang berarti keadilan yang benar atau sejati.

Dalam lakon Puntadewa Krama, ia berhasil mengalahkan Aria Gandamana yang menjadi pasanggiri Drupadi. Dan disinilah ia mendapat aji Bandung Bandawasa dari Gandamana yang mati tertusuk kuku Pancanaka.

Dalam lakon Lenga-tala, ia dapat merebut kembali dari tangan Kurawa dan ia mendapat kekebalan karena dimandikan dengan minyak tala pusaka Sang Abiyasa.

Dan … dalam Baratayuda, ia dapat memusnahkan musuh-musuh yang tak terbilang banyaknya, diantaranya Bogadenta, Patiweya, Wersaya, Dursasana, Sangkuni, Duryudana dan waktu membunuh Dursasana, ia dapat memenuhi sumpah Sang Drupadi untuk keramas dengan darah Dursasana yang dulu menghinanya pada kisah Pandawa Dadu.

Dia mempunyai Aji Pancanaka. Ajinya selalu digenggam kuat sebagai senjata perang. Ini berarti jika shalat itu dikerjakan dengan baik, ia mempunyai kekuatan yang tangguh (Effendy Zarkasi, 1977: 91).

Bagaimana sosok dan “penampakan” seorang Werkudara ? Continue reading

Werkudara (1)


Sosok dan Kiprah Werkudara

Bima2

Siapa yang tak kenal dengan Werkudara ?

Ketika lahir, ia terbungkus. Segala senjata pusaka tak dapat memecahkannya. Ia dibawa ke tengah hutan Tegrakan. Di sana ia dapat keluar dari bungkusnya karena dibelah dengan gading seekor gajah yang bernama Sena, yang akhirnya menjanma kepadanya. Selanjutnya ia diberi nama Sena. Sena dilahirkan di negeri Astina yang pada waktu itu sedang berperang melawan Prabu Tremboko di negeri Pringgadani, yang kemudian Prabu Tremboko kalah dan binasa oleh bayi Sang Sena.

Dalam lakon Bale Sigala-gala, ia mendapat petunjuk dari Dewa, untuk menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya dengan mengikuti Garanganseta, musang putih malihan Raden Sanjaya putera dari Sang Widura. Setelah Garanganseta hilang ia sudah sampai di Kahyangan Saptapratala, kemudian ia kawin dengan Dewi Nagagini, Raja dan Dewa di Saptapratala, yang akhirnya ia berputra Aria Anantaraja.

Kemudian Raja raksasa Ekacakra, sang kanibal, Raja Baka pun akhirnya tewas ditangan Sang Werkudara, yang berakibat kemerdekaan bagi rakyatnya akan kesewenang-wenangan pemerintahan rajanya, menghilangkan ketakutan menjadi persembahan sang raja yang doyan daging manusia ! (lakon Bima bumbu)

Dalam lakon Jagal Bilawa ini dapat membunuh jagoan Sang Kenca dan Kencaka bernama Rajamala. Juga Sang Kenca dan Kencaka beserta tentaranya yang akan merebut kekuasaan Kerajaan Prabu Matswapati lebur punah oleh Sang Sena. Sebagai tanda terima kasih, para Pandawa mendapat hadiah hutan Endraprasta (Babad Pandawa).

Dalam lakon Kangsa Adu Jago, ia pernah dipinjam oleh Prabu Basudewa, diadu lawan jagonya Kangsa yang bernama Suratimantra.

Lakon Pandawa Timbang, ia mempunyai kesaktian dimana beratnya melebihi Kurawa yang seratus orang itu.  Continue reading

Durgandini (4)


Durgandini (4)
Prabu Sentanu bertemu dengan Dewi Durgandini di pinggir sungai Gangga (gambar: herjaka HS)

Sang Dewi Durgandini atau Dewi Setyawati memang terpaksa harus merelakan Abiyasa anak satu-satu yang setelah tidak menyusu, dibawa oleh Palasara suaminya ke pertapaan Saptaarga. Lebih baik berpisah daripada harus mendampingi Palasara dan Abiyasa menjadi petapa di gunung Saptaarga, jauh dari keraton Wirata.

Baginya, hidup sebagai petapa tidak jauh berbeda dengan hidup menderita seperti yang pernah ia jalani sejak kecil hingga dewasa, yaitu hidup yang dibuang, menjadi penjual jasa penyebrangan dengan perahunya di sungai Yamuna. Maka jika saat ini ia meninggalkan keraton Wirata untuk mengikuti Palasara sama artinya ia sengaja mengulangi penderitaannya.

Semenjak Palasara membebaskan penyakit dan penderitaannya, Dewi Durgandini diperkenankan kembali keraton Wirata dan menikmati fasilitas yang ada sebagai putri raja. Pada saat itu Dewi Durgandini ingat sebuah kata-kata yang berisi pengharapan yang senantiasa diucapkan Ki Dasabala ayah angkatnya: ‘Bersabarlah, ada saatnya nanti, penyakit dan segala penistaannya dihapuskan’. Dan sekarang saatnya telah tiba, semenjak ia bertemu dan menyeberangkan Palasara.

Namun jika kini ia bersama Palasara dan Abiyasa kembali naik perahu menyebrangi sungai Gangga dan sungai Yamuna, meninggalkan Wirata dan menuju Saptaarga, artinya ia siap menderita kembali bersama berbagai hal yang menyakitkan. Aku tidak siap, tidak mau menderita lagi. Aku ingin tinggal di keraton dengan segala kemewahan dan kesenangannya.

Durgandini telah menggunakan jalan pikirannya dengan benar, bahwasannya ujung dari sebuah penderitaan dan kesengsaraan adalah kebahagiaan dan kemuliaan. Tidaklah mungkin setelah bahagia dan mulia dicapai, akan kembali menderita. Kemuliaan adalah puncak dari tumpukan kesengsaraan, di mana kesengsaraan tidak ada lagi, yang ada adalah kemuliaan. Ajakan suami untuk meninggalkan keraton dan mengasuh anaknya menjadi petapa dianggap menunda atau bahkan membatalkan kesempatannya untuk merasakan kebahagiaan serta kemuliaan itu.

Sebuah pilihan telah diambil, ia telah memilih untuk tidak meninggalkan keraton, baik dengan atau tidak bersama suami dan anak. Hari-harinya dijalani dengan kesendiriannya. Abiyasa memang selalu hadir dalam angannya, namun tidak sebagai petapa kecil, melainkan sebagai calon raja di sebuah negara yang besar.

Ketika pada suatu waktu, Dewi Durgandini sedang melakukan sesuci di sungai Gangga, ia bertemu dengan Prabu Sentanu, raja Hastinapura. Dalam pandangan pertama itu Sentanu amat terkejut melihat pancaran wajah Dewi Durgandini yang mirip sekali dengan bidadari Ganggawati isterinya yang telah kembali ke kahyangan. Untuk menyakinkan bahwa yang berada di depannya bukan Batari Ganggawati, Sentanu semakin mendekat memperkenalkan dirinya kepada Durgandini, demikian sebaliknya. “Aku bukan Ganggawati sang Prabu, namaku Durgandini atau Setyawati”.

Pertemuan dan perkenalan diantara keduanya merupakan pertemuan bersejarah, yang nantinya akan membuat sejarah baru kerajaan Hastinapura. Dimulai dari kerinduan Prabu Sentanu kepada Batari Ganggawati dan rasa sepi Dewi Setyawati semenjak ditinggal Palasara suaminya dan Abyasa anaknya, keduanya semakin dekat. Ada kekosongan yang saling mengisi di hatinya. Walaupun wanita di hadapannya bukan Ganggawati, kehadiran Durgandini mampu mengobati kerinduan Sentanu kepada Ganggawati. Demikian sebaliknya, kehadiran Sentanu mampu mengobati rasa sepi Setyawati semenjak kepergian Palasara suaminya, dan Abiyasa anaknya ke Pertapaan Saptaarga.

Gayung pun bersambut. Keduanya mulai merenda benang-benang harapan, harapan akan cinta-kasih yang member daya hidup.

“Adakah yang memberatkan, jika pada suatu waktu aku datang ke Wiratha untuk melamarmu?.”

“ Tidak sang Prabu, aku berharap dan bersyukur jika sang Prabu sudi meminangku. Namun sebelumnya saya mohon maaf.”

Setyawati berhenti sejenak untuk menenangkan hati.

“Ada satu permohonan yang mungkin sangat memberatkan hati sang Prabu.”

“ Permintaan apa, Setyawati? Katakanlah!”

“Aku takut, jika hal ini aku katakana, sang prabu akan mengurungkan niatnya melamar aku.

“Tidak, Setyawati, apa pun yang akan kau katakan aku tetap akan meminangmu.”

“Sungguhkah itu Sang Prabu?.”

Prabu Sentanu mengangguk perlahan.

“Sang Prabu Sentanu, jika kelak Sang Hyang Widdi Wasa mengijinkan kita untuk bersatu dan melahirkan anak laki-laki, aku berharap agar anak kita menjadi raja di Hastinapura

Herjaka HS

Durgandini (3)


Durgandini (3)
Dewi Laraamis menyeberangkan Palasara dengan perahu dayung di sungai Yamuna (karya: herjaka HS)

Seiring dengan proses pemulihan Dewi Durgandini dari penyandang kutukan, untuk kembali menjadi bidadari, bersih dari ‘sesuker’ kotoran jiwa, ada perang besar yang tejadi. Perang antara penyakit atau ‘memala’ bahkan rajanya penyakit atau Rajamala dengan Palasara. Kesembuhan Dewi Durgandini sama halnya dengan kekalahan si Rajamala. Rajamala bersama perahu dayung yang setiap hari menyatu dengan Dewi Durganini telah dipecahkan oleh petapa sakti Palasara. Perahu yang pecah menjadi dua tersebut mewujud menjadi manusia dan diberi nama Rupakenca dan Kencakarupa, sedangkan dayung perahu berubah wujud menjadi seorang putri dengan nama Dewi Rekatawati. Keempat perwujudan yang telah lama menjadi beban hidup Dewi Durgandini telah dilepaskan, dan selanjutnya diperintahkan untuk mengabdi di kerajaan Wirata.

Setelah sembuh dari penyakitknya, Dewi Durgandini memancarkan kecantikan yang luar biasa. Jika sebelumnya, Dewi Durgandini ikut menyangga ‘dosa’ ibunya Bidadari Adrika yang dikutuk menjadi ikan, sehingga badan sekujur kasar dan amis, kini setelah disembuhkan oleh Palasara, sang Petapa muda, Dewi Durgandini atau Dewi Laraamis, sudah tidak amis lagi. Ia berubah menjadi bidadari muda yang tubuhnya halus mulus dan sangat jelita, mewarisi kecantikan ibunya yang adalah bidadari kahyangan. Kecantikan Dewi Durgandini yang tiba-tiba memancar membuat Palasara terpana karenanya.

Pertemuannya dengan Durgandini merupakan peristiwa istimewa yang mampu menggoncangkan hatinya. Walaupun sejak kanak-kanak Palasara telah menjalani laku tapa, belajar mengolah pikir serta mengendalikan rasa, ia tak kuasa menahan goncangan asmara. Ada perasaan yang tumbuh begitu cepat dan dahsyat. Perasaan yang mengkristal dan tertuju hanya kepada satu wajah, satu sosok, satu hati, serta satu nama yaitu Durgandini.

Karena tidak kuasa menanggungnya, dengan kepolosan Palasara menyatakan perasaannya kepada dewi Durgandini. Entah karena hutang budi atau perasaan kagum atau sentuhan rasa yang lain, tetapi yang pasti bukan karena ketampanannya, sang Dewi Durgandini mau menerima cinta Palasara. Kedua insan muda tersebut mulai merenda benang harapan akan masa depan yang indah dan membahagiakan.

Bersamaan dengan cinta mereka yang tumbuh, Dasabala, orang tua asuh Durgandini ingin membawa anak angkatnya besama dengan Palasara menghadap Prabu Basuparicara raja Wirata. Sesuai dengan janji Prabu Basuparicara, Dewi Durgandini setelah menjadi sembuh diterima di kraton Wirata, termasuk juga Palasara, yang mampu menyembuhkan Durgandini dan juga perwujudan dari penyakit dan perahu dayung Durgandini yaitu: Rajamala, Rupakenca, Kencakarupa dan Rekatawati. Bahkan untuk selanjutnya, ketika Prabu Basuparicara mengetahui bahwa diantara Durgandini dan Palasara ada benih cinta yang mulai bersemi, mereka berdua di resmikan menjadi suami istri.

Tak berapa lama kemudian pasangan Palasara dan Durgandini dianugerahi seorang anak laki-laki dan diberi nama Abiyasa. Durgandini menginginkan agar Abiyasa kelak menjadi raja, tidak sengsara seperti dirinya. Namun Palasara tidak demikian, ia berharap agar Abiyasa menjadi seorang petapa atau brahmana seperti dirinya. Perbedaan pendapat antara Dewi Durgandini dan Palasara dalam hal mendampingi dan mengarahkan Abiyasa anaknya, tidak dapat dipersatukan. Keduanya kukuh bertahan dengan pendapatnya masing-masing. Maka kemudian yang terjadi adalah Palasara membawa Abiyasa ke gunung Saptarga dipuncak Wukiretawu, meninggalkan Durgandini seorang anak bidadari yang setahun lalu sangat dicintainya.

herjaka HS

Durgandini (2)


Durgandini (2)
Dewi Durgandini dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Dasabala si tukang perahu itu mengasuh anak kembar dampit (laki-laki dan perempuan) yang dilahirkan oleh Bidadari Adrika dengan penuh kasih sayang. Kedua anak tersebut tumbuh menjadi remaja yang tampan, cantik serta cerdas. Namun ada satu hal yang memprihatinkan, yaitu keadaan Durgandini. kulitnya ‘mbekisik’ dan menebarkan bau amis yang menyengat. Oleh karenanya Durgandini juga disebut Laraamis. Hal tersebut berkaitan erat dengan Bidadari Adrika yang melahirkannya ketika sedang menjalani kutukan menjadi seekor ikan.

Seperti yang dipesankan bidari Adrika sebelum kembali ke kahyangan, bahwa kelak jika si kembar dampit yaitu Durgandana dan Durgandini sudah dewasa, hendaknya Dasabala menyerahkan kepada raja Wirata.

Dasabala tidak tahu, mengapa Durgandana dan Durgandini harus diserahkan kepada raja Wirata yang bertahta? Namun ketidaktahuannya tidak menjadikan Dasabala enggan ketika tiba saatnya, si kembar yang diasuhnya selama belasan tahun harus diserahkan kepada sang raja.

Seperti yang diduga dan diragukan sebelumnya, bahwasannya yang diterima oleh raja Wirata hanyalah Durgandana. Sedangkan Durgandini dikembalikan kepada Dasabala, agar dicarikan tabib untuk menyembuhkan penyakitnya. Jika nanti sudah sembuh, bawalah kembali ke istana

Selain perasaan iba karena derita Durgandini, Dasabala bahagia, karena masih diberi waktu untuk mendampingi Dewi Durgandini. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan. Dengan kasih sayang yang tak pernah pudar, Dasabala mengajari apa yang menjadi keahlihannya kepada Dewi Durgandini, yaitu mencari ikan dan menjalankan perahu.

Dengan ketrampilan menjalankan perahu, Durgandini dapat membantu setiap orang yang kesulitan untuk menyeberang sungai Yamuna. Rupanya profesi sebagai ‘tukang santang’ oleh Durgandini dijalaninya dengan tulus dan dijadikannya sebagai laku dan permohonan agar dirinya dibebaskan dari penyakit yang mengganggu dan memalukan.

Seperti hari-hari biasanya, pagi-pagi benar, Dewi Laraamis telah menyiapkan perahunya. Dari kejauhan nampaklah seorang petapa muda yang berdiri di tepi sungai Yamuna. Dihampirinya petapa itu dengan perahunya. Sesampainya di depan Petapa muda itu, Dewi Durgandini menawarkan jasanya dan mempersilakan petapa muda itu naik di perahunya. Beberapa saat setelah petapa muda itu naik di perahu, mereka berdua saling berkenalan.

“Aku bernama Durgandini, tetapi banyak orang memanggilku Raraamis. dikarenakan sekujur tubuhku menebarkan bau amis yang menyengat.” ucap Durgandini, sesaat setelah orang yang diseberangkan itu memperkenalkan diri bernama Palasara, seorang petapa dari Saptarga di puncak Ngukiretawu.

Melihat penderitaan Durgandini, Palasara merasa iba. sebagai petapa muda yang ‘waskita’ Ia dapat membaca bahwa penuturan Durgandini tersebut merupakan sebuah litani permohonan agar dirinya dilepaskan dari penyakit yang sudah belasan tahun mencengkeram hidupnya. Dengan kesaktiannya, Palasara berhasil menyembuhkan Durgandini.

Dasabala bersukacita melihat bahwa putrinya telah terbebas dari ‘mala trimala,’ sakit-penyakit yang menyiksa tubuhnya. Kini keelokan dan kecantikan Dewi Durgandini nampak memancar dari wajah dan tubuhnya.

herjaka HS

Sumber : http://tembi.org/