Category Archives: Cerita Ramayana

Cerita wayang yang termasuk dalam kitab Ramayana

Ramayana [6]


KNS Ramayana 1

Seiring dengan perjalanan waktu, keempat pangeran Ayodya tumbuh dewasa. Keakraban mereka sebagai saudara satu ayah tidak diragukan lagi. Hal ini disebabkan kebersamaan yang selalu mereka kedepankan dalam pergaulan sehari-harinya. Juga didikan dari Resi Wasista sangat membekas di hati mereka untuk saling menyayangi sesama saudara, mengasihi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya, memiliki jiwa satria utama dengan berlandaskan pada ujaran dan ajaran kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tertuang dalam kitab-kitab sastra warisan kaum cerdik cendekia terdahulu, semangat untuk selalu mengabdi kepada Tuhan semesta alam, berbakti kepada negara juga kepada orang tua, dan ajaran-ajaran bijak lainnya.

Dalam olah kanuragan dan kedigdayaan, jangan harap ada yang mampu menandinginya di bumi Ayodya. Kesaktian mereka tak terbantahkan. Yang paling menonjol dalam olah kasusastran dan juga olah kanuragan adalah si sulung Raden Rama. Seorang satria yang nyaris sempurna. Dikaruniai badan tegap perkasa, wajah tampan rupawan, aura perbawa yang mampu menundukkan sesiapa saja yang berdekatan atau berdialog dengannya. Meskipun perawakannya sedang-sedang saja, namun kekuatannya sungguh luar biasa. Juga kemampuan dalam hal memanah tiada duanya, mampu menguasai dan mengendalikan busur dan anak panah layaknya memiliki mata dan telinga saja, dapat diukur ketepatan dan kekuatan disesuaikan dengan sasaran yang hendak ditujunya. Continue reading

Rama tundung


Rama Sinta
Cuplikan deskripsi indah perjalanan Rama Sinta
saat terusir dari Ayodya ….
by Ki Nartosabdho lakon Rama Gandrung

Panging gering angawe-awe
kaya ngampirake tindaknya sang satria gung
raja putra ing Ngayodya
putra Sri Dasarata ingkang kekasih
Raden Rama ya Raden Regawa

Pranyata satria bagus tanpa cacat
tembene kang amulat kinarka dewa darat
cahya wening sumamburat
katitik sangka luhuring darajat
lamun kadulu suwe-suwe tan prabeda kaya wujuding jimat
akeh para manungsa-manungsa kang padha kepikat
darbe niyat supaya bisa lan sesandingan kalawan satria kang prabane kaya cahyaningrat

Denya kesah saking negara Ayodya dening sawargi ingkang rama
winatesan kawanwelas warsa laminipun
nedhenge temanten enggal mila garwa tan purun pisah sarema
anenggih raja putri ing Mantili dirja
putrine Sri Janaka ingkang sesilih Rekyan Sinta

Wanodya sulistya ing warna dasar pinter angedi busana ngadi sarira
trusing driya hangularum
ora jeneng mokal
denya nandang sungkawa nganti jagat saisine datan kuwawa anampani
sungkawane Dewi Sinta

Manuk-manuk kang padha mencok panging kayon
pating carowet ocehe
parandene dupi mulat tindaknya Dewi Sinta
cek klakep kaya binungkem
sami mandap sangking epang andekur
yen manungsaa kaya sung pembage
dateng rawuhe sang putri linangkung
kali cilik kang padha mambeg sakara banyune kemricik
ebahing toya labet denya kepengin tumingal marang sulistyaning warni Dewi Sinta
mina-mina alit kang mapan ana ing kana pating carungup
padha ngatonake sirahe
awit denya anginceng sarta angenginjen anglirik
namatake marang sulistane Dewi Sinta
Padas turi padha ambrol
Watu gedhe padha gathuk
watu cilik padha gatik
upamaa wujude manungsa padha saur-sauran
takon genti tinakon Continue reading

Ramayana [5]


Rama Lesmana

Dan itulah yang membedakan antara Kekayi dan Sukasalya. Dewi Ragu begitu sabar dan bijak kala mengandung Regawa. Dilakoninya dengan penuh kesabaran derita orang yang sedang mengandung. Walau kadang sakit dirasakan namun dihadapinya dengan kesabaran dan keikhlasan. Lain halnya dengan Kekayi, manjanya bukan main. Bila Dasarata mengunjunginya untuk menengok calon anaknya yang ada dalam perut Kekayi, maka muncullah sifat manja yang dibuat-buat. Terpaksa demi calon anaknya, Dasarata memijit-mijit kaki atau tangan Kekayi atas permintaan calon bayi katanya he he he …

Hingga saat kelahiran telah menjelang, genap sembilan bulan sepuluh hari maka dengan perjuangan berat seorang ibu, akhirnya bayi dalam perut Kekayi terlahir. Betapa suka citanya Kekayi. Pun juga Prabu Dasarata yang dengan setia menunggu saat-saat itu. Kembali negri Ayodya memiliki seorang pangeran yang baru lahir, anak dari Kekayi yang sesuai dengan harapannya terlahir laki-laki.

Dan setelah proses persalinan selesai, maka Resi Wasista berkata kepada Dasarata

“Sinuwun, selamat saya ucapkan telah memperoleh anak laki-laki lagi. Apakah sinuwun telah mempersiapkan nama untuk bayi yang tampan ini ?”

Belum sempat Prabu Dasarata menjawab, Kekayi menimpali dengan ketus
“Resi Wasista !”
“Ya Kanjeng Ratu”

“Kamu ini jangan lancang ya ! Yang penuh penderitaan saat mengandung bayi ini adalah aku. Pun yang melahirkan adalah Kekayi. Seharusnya akulah yang berhak memberi nama kepadanya” Continue reading

Ramayana [4]


kekayi_solo

Dan saat yang dinanti-nantikan tibalah !

Seorang bayi mungil berwajah rupawan terlahir ke dunia dari perut Dewi Ragu. Bergembiralah Prabu Dasarata, berserilah Resi Wasista, Patih Tameng Gita dan para nayaka di kerajaan Ayodya, dan bersuka rialah rakyat yang mendengar berita gembira yang tlah lama dinanti-nanti. Rasanya semua orang di negri Ayodya bergembira, kecuali satu orang yang bersedih dan iri hati.

“Mudah-mudahan bayi mungil ini adalah titisan Wisnu, Resi Wasista. Sewaktu melakukan tarak brata lalu, aku memohon perkenan dewata untuk menitiskan Batara Wisnu ke jiwa anakku”

“Sepertinya yang paduka harapkan dikabulkan, sinuwun. Lihatlah betapa cemerlang wajah bayi ini memancarkan perbawa agung. Bagi sesiapa yang memandangnya, tentram damai bakal dirasakan. Pada saatnya nanti, aku mohon perkenan paduka untuk menyerahkan anak ini untuk hamba tempa menjadi satria utama”

“Dengan senang hati, resi Wasista”

“Sudahkah paduka menyiapkan nama untuk bayi lelaki tampan ini, sinuwun ?”

“Bagaimana, yayi ratu. Apakah engkau telah menyiapkan nama untuk anak kita ini ?” Prabu Dasarata mengalihkan pertanyaan kepada Dewi Ragu. Dan yang ditanya, dengan perasaan berbunga menjawab seraya tersenyum manis

“Terserah kanda Prabu saja”

“Baiklah. Karena dia terlahir dari Ragu ibunya, maka kuberi dia kuberi nama RAGAWA yang berarti Ragu Putra. Diapun ku beri nama juga RAMA”

Maka dunia menyaksikan terlahirnya Regawa atau Rama dengan suka cita. Lalu siapakah yang justru tidak merasa senang dengan kelahiran Rama ini ?

Prabu Dasarata adalah seorang yang perasa dan bijaksana. Tentu hal ini tidak luput dari perhatiannya. Maka setelah urusan terkait dengan kelahiran Regawa selesai, dia segera menghampiri istrinya Kekayi.

“Gerangan apakah yang menyebabkan dirimu bermuram durja kekasih hatiku ?”

“Kanda Prabu tidak cinta lagi kepada dinda !”

“Hal apa yang menyebabkan engkau menyimpulkan demikian Dinda. Bolehlah engkau belah dada ini, maka tak akan engkau temukan kata dusta apalagi benci, yang ada hanyalah bunga-bunga cinta semata”

“Kanda Prabu hanya perhatian kepada Kangmbok Ragu yang cantik manis dan lemah lembut itu”

“Apakah Dinda tidak merasa bahwa kecantikan Dinda Kekayi sungguh membuat iri setiap wanodya. Kalaupun seumpama bidadari dari kahyangan semisal Batari Wilutama dipersandingkan dengan Dinda, niscaya akan terlihat lebih bercahya karna kemolekannya Dinda dibanding Wilutama.”

“Tapi hamba sangat berbeda dengan Kangmbok Ragu yang lemah lembut tutur bahasanya, gemulai polah tingkahnya. Sementara Kekayi, sudah cerewet, kalau berkata-kata apa adanya. Tentu Kanda Prabu tidak menyukai hal seperti itu bukan ?” Continue reading

Ramayana [3]


ragu_solo
“Duh Sinuwun Prabu, para leluhur, para brahmana, para cerdik cendekia telah lama mengungkapkan ujaran bijak yang tertuang dalam kitab-kitab sastra, agar selalu berharap dan berserah terhadap yang kita terima. Pabila rusak dan kotornya tembok, dapat kita perbaiki dengan menambal dan mengecetnya kembali hingga menjadi kokoh dan indah dipandang, rusaknya penyangga rumah tempat tinggal, dapat kita perbaiki dan bangun kembali dengan menggunakan kayu jati berkualitas tinggi sehingga mampu kokoh berdiri berabad lamanya, namun pabila tergerus dan runtuhnya kewibawaan diri, hanya mampu dibangun dan dibangkitkan kembali melalui tarak brata. Sukur seandainya Sinuwun berkesempatan, maka laksanakanlah triratya. Selama tiga hari tiga malam, harus disingkirkan kobar nafsu dari panca indra. Hindarkan kesegaran toya (air), jangan sampai terkena panas karena dayanya agni (api), jangan sampai terhembus nyaman diri karena dayanya maruta (angin). Singkatnya Sinuwun tidak diperkenankan untuk tidur, makan dan minum serta keluar dari sanggar sembahyang. Dan pada saat-saat itulah, heningkan cipta dan bererahlah kepada Sang Penguasa Alam serta memohon kehendakNya untuk dapat memenuhi keinginan Sinuwun melalui petunjuk yang diberikan. Mudah-mudahan apa yang Sinuwun Prabu harapkan yaitu segera memperoleh anak keturunan dapat segera terlaksana”

“Ee … Jagat wasesaning Batara ! Terbuka rasa hatiku. He … Patih Tameng Gita !”

“Daulat Tuanku”

“Mulai saat ini, aku perintahkan engkau menjaga kraton ini agar dalam keadaan diam. Pabila ada tamu yang berkehendak menemuiku, dipersilahkan untuk menundanya lain waktu. Pabila ada yang berkehendak memaksa memasuki istana ini, aku berikan kewenangan di pundakmu. Dan upayakan agar di dekat sanggar sembahyang ini terbebas dari gangguan baik suara ataupun hal lain yang dapat mengganggu tarak brataku. Apa bila hal itu masih terjadi sedangkan aku belum menyelesaikan selama tiga hari tiga malam, jiwamu menjadi taruhannya”

“Sendika dawuh Sinuwun !”

Maka berkemaslah Prabu Dasarata untuk melaksanakan apa yang tadi telah disarankan oleh Begawan Wasista. Dimasukinya sanggar sembahyang dengan kemantaban niat dan keyakinan hati untuk berusaha memperoleh petunjuk Yang Maha Kuasa. Di pasrahkan jiwa dan raga untuk berharap kemurahan Sang Pencipta. Selama tiga hari tiga malam, mata hatinya hanya tertuju kepada satu tekad saja. Di hilangkan rasa rindu kepada istri-istrinya, terhadap senyum manis Dewi Ragu, kenes manja Kekayi dan cantik manisnya Sumitra. Dibuang jauh-jauh hasrat ingin bercumbu rayu dengan mereka, mereguk kenikmatan bercinta, bermesra seraya berbagi rasa. Pun di buang sejenak pikiran untuk mengelola negara, menghidupi rakyat dalam kemakmuran, menegakkan hukum terhadap para pecundang, dan segala upaya untuk juga kejayaan negara.

Dilupakan rasa perih ulu hati karena perut tiada diisi, dinyalangkan matanya meskipun dalam gelap, di paksakan kesadarannya meskipun lelah dan kantuk berupaya menghampiri. Semua tekad dikumpulkannya demi tujuan utama untuk kemuliaan diri, keluarga dan negaranya.

Perjuangan tiada kenal lelah Prabu Dasarata akhirnya usai sudah. Genap tiga hari tiga malam menyepi diri dalam sanggar sembahyang, dirasakannya hatinya rasa tenang dan tentram. Dirasakannya Sang Penguasa Alam telah mendengar semua permohonannya, hingga apa yang kini dipandangnya nampak lebih indah.

Sesaat kemudian ada hasrat yang mendorongnya untuk segera menemui istrinya yang pertama, Dewi Ragu. Dewi Ragu yang melihat kedatangan suami dan junjungannya segera menyambut dengan tergopoh-gopoh namun terbayang kebahagiaan di wajah ayunya :

“Aduh … Sinuwun Prabu mengapa datang tiada menyampaikan warta terlebih dahulu. Yang hamba dengar, kakanda sedang melaksanakan tarak brata selama tiga hari tiga malam dan sepertinya kakanda telah menyelesaikannya.

“Benar Nimas Ratu” Continue reading

Ramayana [2]


Kekayi-Dasarata-Ragu-Sumitra

Sebagai keturunan langsung dari raja Ayodya, maka keterikatan dan rasa cintanya kepada tanah kelahiran yang membesarkannya, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi keabsahannya. Apalagi Dewi Ragu pernah mengalami pahit getirnya kehidupan, saat negaranya diporak porandakan oleh bala pasukan dari negri Ngalengka dan menyaksikan bagaimana ayahnya dan mantan suaminya di bunuh secara kejam oleh Rahwanaraja. Dan pada dasarnya, Dewi Ragu memang memiliki sifat terpuji, tenang dalam pembawaan, welas asih dan cenderung lebih suka mengalah untuk menghindarkan pertikaian.

Lain halnya dengan istri Dasarata yang kedua, Dewi Kekayi. Kekayi adalah putri Prabu Kekaya, raja negara Padnapura. Menurut cerita, Dewi Kekayi sebenarnya adalah putri Prabu Samresi, raja Wangsa Hehaya yang mati terbunuh dalam pertempuran melawan Ramaparasu. Dan Dewi Kekayi yang masih bayi pada saat itu, berhasil diselamatkan oleh emban Matara dan kemudian diangkat anak oleh Prabu Kekaya.

Hingga pada suatu saat, di sebuah peperangan yang melibatkan Prabu Dasarata, Kekayi menanamkan budi kepada Raja Ayodya. Ditengah ramainya pertempuran, tak sadar salah satu roda kereta yang dibawa oleh Prabu Dasarata terlepas. Sebenarnyalah Kekayi sangat pandai dalam ilmu peperangan dan saat menghadapi saat kritis tersebut, Kekayi menyelamatkan jiwa Prabu Dasarata dengan menggunakan jarinya untuk menahan roda agar tidak terpisah dari poros kereta. Setelah perang usai dan memperoleh kemenangan, Dasarata melihat bahwa tangan Kekayi mengeluarkan darah begitu banyak. Menyaksikan pemandangan yang menyedihkan dan mengharukan itu, Dasarata diliputi oleh rasa cinta yang meluap-luap dan begitu bangga akan keberanian serta pengorbanan Kekayi, sehingga kemudian Ia berkata:

“Kekayi, engkau boleh minta dua hadiah sekarang, terserah apa saja yang engkau inginkan, dan aku akan berusaha dengan jalan apapun untuk memenuhinya”.

Dasarata tidak menentukan hadiah apa yang boleh diminta Kekayi. Dan Kekayi dengan cerdik menolak mengungkapkan pada saat itu dan mengatakan bahwa pada saatnya kelak akan menagihnya. Seorang pria mencintai kekasihnya paling banyak, mencintai istrinya paling baik, tapi mencintai ibunya paling lama (A man loves his sweetheart the most, his wife the best, but his mother the longest, Irish Proverb kata bijak dari Irlandia). Dasarata begitu tersentuh oleh pengorbanan Kekayi sehingga dengan tanpa berpikir panjang langsung menyetujuinya. (Kelak, keteledoran Dasarata inilah yang menyebabkan petaka di Ayodya) Continue reading

Ramayana [1]


Silsilah Lokapala

Mendung di bumi Ayodya

Ada sebuah istana bagaikan surga, dipenuhi oleh orang-orang bijak serta luhur perbuatan, di Ayodhya-lah yang cukup terkenal di dunia, itulah istana Sri Baginda Prabu Dasarata

Keindahan surga benar-benar terkalahkan, oleh puri Ayodhya yang tiada bandingannya, di sana selalu dalam keadaan aman sentosa, pada waktu musim hujan maupun pada musim kemarau

Berbagai batu-batuan mulia, emas perak beserta permata terdapat di sana, itu laksana gigi keraton Ayodhya yang putih, seolah-olah tersenyum, surga dapat dikalahkannya

Ada sebuah balai yang bertahtakan permata, dikelilingi oleh taman yang sangat menakjubkan, tempat para gadis-gadis bercengkerama, bagai bidadari di gunung Mahameru (Himalaya)

Permata manik-manik tak terbilang banyaknya, semua berkilauan terletak pada balai peninjauan, seperti sungai Gangga dari gunung Himawan, kelihatan berkilauan dan sungguh menakjubkan

Ada seorang Raja besar, dengarkanlah. Terkenal di dunia, musuh baginda semua tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat agama, Prabu Dasarata gelar Sri Baginda, tiada bandingannya

Beliau ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia.

(Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana)

Dan pada saat itu memang negri Ayodya sangat terkenal sebagai negara besar yang dikagumi dan dihormati oleh kawan dan disegani oleh lawan. Rakyatnya hidup aman, tentram dan makmur dibawah pemerintahan rajanya, Prabu Dasarata.

(Tak heran dalam sebuah versi tentang asal-usul pemberian nama kota Yogyakarta, bila pendirinya yaitu Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana I memberi nama kerajaan dengan kata Yodya dengan harapan agar Yodya menjadi aman dan tentram yang kemudian di tambahkan dengan kata “karta” yang berarti makmur. Kemudian ditambahkan pula dengan “Hadiningrat” dan seiring dengan berjalan dengan waktu hingga sekarang terkenal dengan sebutan Yogyakarta Hadingingrat)

Namun saat ini Ayodya tengah di selimuti oleh mendung. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Sang Raja, Prabu Dasarata. Telah menjadi rahasia umum, bahkan telah menjadi pembicaraan rakyat luas bahwa telah terjadi ketidak harmonisan di dalam istana kerajaan. Dan Prabu Dasarata-pun menyadari hal tersebut. Continue reading

Lokapala [4]


Batara_Kuwera

Bareng lakune tekan ing tepis-wiringing piaja Ngalengka, barisan wadyabala Lokapala dialang-alangi dening wadya raseksa kang njaga tapel-watesing nagara, tinindhihan dening Marica, satemah dadi pancakara. Amarga karoban lawan, wadyabala Ngalengka kasoran. Marica mlayu menyang kadhaton Ngalengka, ngaturi priksa marang Prabu Sumali yen ana mungsuh teka saka nagara Lokapala, lakuning barisane rnungsuh wis ngliwati tapel-watesing praja.

Midhanget ature Mirica, Prabu Sumali gugup panggalihe, enggal-enggal nimbali Mintragna lan liya-liyane para gegedhunging wadyabala, didhawuhi mepak wadyabala, pinerang dadi rong bregada. Kang sabregada kadhawuhan nempuh mungsuh ana ing sajaban kutha, kang sabregada pacak-baris ana ing sakubenge dhatulaya.

Ora kacarita ramening campuhe wadyabala Ngalengka lumawan wadyabala Lokapala. lng sakawit perange wadyabala Ngalengka tansah unggul; akeh wadyabala Lokapala kang palastra. Nanging bareng Prabu Wiisrawana nyalirani perang, wadyabala Ngalengka keseser, kepeksa ngunduri pangangsege wadyabala Lokapala.

Undure wadyabala Ngalengka nenangi adrenging panggalihe Resi Wisrawa nedya nyalirani perang. Sawise cancut taliwanda, Sang Resi tumuli mangsah yuda.

Bareng priksa ingkang rama nyalirani perang, dukane Prabu Wisrawana kaya diububi. Sang Prabu banget ora sranta panggalihe, kumudu-kudu enggai bisa midana marang ingkang rama. Awit saka iku, wadyabalane tumuli diabani sumisih. Wadyabala Lokapala piyak ngiwa-nengen, satemah Prabu Wisrawana banjur ayun-ayunan karo ingkang rama.

“Bapa awatak slingkuh, kepatuh nletuh atindak rusuh !” Mangkono panguman-umane Prabu Wisrawana marang ingkang rama, banjur nglepasake jemparing dahana. Sang Resi prayitna, enggal-enggal nglepasake Barunastrso rninangka panulaking jemparing dahana.

Nganti suwe perange Resi Wisrawa lumawan ingkang putra Prabu Danaraja, padha ngadu tyasa arebut prabarwa, padhadene ngetokake aji kamayan lan pangabaran. Suwe-suwe Prabu Danaraja entek sabare, kapengin tumuli mungkasi yuda. Awit saka iku, Sang Prabu banjur ngetokake sanjata pamungkas, yaiku Kunta Baswara. Bareng priksa ingkang putra ngasta sanjata Kunta Baswara, Resi Wisrawa enggal-enggal ngeremake netra, panggalihe pasrah-sumarah marang kang murbeng bawana, wis nyipta manawa bakal tumuli palastra ketaman Kunta Baswara. Continue reading

Lokapala [3]


Wisrawa-Sukesi-Danaraja

Solah tingkahe Resi Wisrawa sarta Dewi Sukesi, suwe-suwe kapiyarsa dening Prabu Sumali, ndadekake gumun-nguguning panggalihe. Wasanane sang Prabu mupus pepesthening jawata. Nanging sang Arya Jambumangli, bareng ngrungu pawartapakartine Resi Wisrawa karo Dewi Sukesi, sanalika krodha tan sipi, enggal-enggal manjing ing taman Argasuka karo sesumbar maciya-ciya. Midhanget sesumbare Arya Jambumangli, lir tinepak mukane Resi Wisrawa. Sawise pamitan marang ingkang garwa, Resi Wisrawa tumuli miyos saka pantisari, nedya methukake krodhane Arya Jambumangli.

Perange Resi Wisrawa lumawan Arya Jambumangli banget nggegirisi, padhadene ngetokake pangabaran warna-warna. Nanging wasanane Arya Jambumangli palastra ketaman jemparinge Resi Wisrawa.

Ing sasedane Arya Jambumangli, Resi Wisrawa dipethuk dening ingkang garwa Dewi Sukesi, banjur gegandhengan asta manjing ing pantisari. Rina wengi sang resi karo sang dewi tansah ana ing pantisari, pijer ulah raras karasikan.

<<< ooo >>>

Prabu Wisrawana Ratu Lokapala, uga ajejuluk Prabu Danaraja, iya Prabu Danapati, patihe apeparab Banendra. Sang Prabu abala bacingah, tegese darbe wadyabala campuran yaiku wadyabala raseksa karo wadyabala manungsa, padha mawa senapati dhewe-dhewe. Senapatine wadyabala raseksa papat, yaiku : Gohmuka, Rukmuka, Gurmuka, lan Wisnungkara. Senapatine wadyabala manungsa uga papat, yaiku Citrajaya, Citrasudirga, Citragana, lan Citrasakti.

Kreta titihane Prabu Wisrawana pinatik manik nawa retna, arane wimana Puspaka, apangirid turangga wolu. Wimana (kreta) Puspaka iku peparinge Jawata. Sanjatane Prabu Wisrawana kunta Baswara lan jemparing maneka warna. Continue reading

Lokapala [2]


wy-sumali

Resi Wisrawa ngendika :

“Yayi Prabu, ingkang ndadosaken gumuning manah kula, dene nini Dewi kok kumedah kedah nguningani sastrajendra hayuningrat. Gek sinten ingkang marahi piyambakipun mbebana aneh nyleneh makaten punika. Kawuningana yayi Prabu, sastrajendra hayuningrat punika wewadosing bawana ingkang sinengker dening Sang Hyang Jagatnata, milanipun pilih janma ingkang uninga. Sanajan pandhita linangkung, tangeh uninga bab punika, manawi dereng bontos ing kawruh. Sastrajendrahayuningrat punika inggil-inggilipun kawruh, mulya-mulyanipun gegebengan. Sato kewan ingkang mireng ungelipun sastrajendra hayuningrat, manawi pejah, yitmanipun saged ketrimah, manunggil kaliyan nyawanipun manungsa wonten ing delahan. Tiyang ingkang wuninga lan saged nyakup wardinipun sastrajendra hayuningrat, manawi palastra, suksmanipun ngalami mulya, saged manunggil kaliyan Jawata”

Midhanget ngendikane Resi Wisrawa mangkono iku, katetangi panggalihe Prabu Sumali, kepengin nguningani wardine sastrajendra hayuningrat. Awit saka iku, banget pangarerepane sang Prabu marang sang Resi, kersaa mejang wardine sastra iku.

Resi Wisrawa : “Yayi Prabu kawuningana, sastrajendra hayuningrat pangruwating raseksa diyu, boten kenging kawedhar wonten ing sadhengah panggenan, ngemungaken wonten ing salebeting sanggar palanggatan.”

Prabu Sumali tumuli dhawuh marang abdi, ndikakake ngresiki sanggar palanggatan lan nyamektakake sawarnaning ubarampe. Sawise samekta, Prabu Sumali tumuli manjing ing sanggar palanggatan bebarengan karo resi Wisrawa. Nganti suwe pamejange resi Wisrawa marang Prabu Sumali. Sawise paripurna, sakarone miyos saka sanggar palanggatan, tindak menyang taman. Kawistara ing netra, sang Prabu banget suka rena, sajak kalegan ing panggalih priksa wardine sastrajendra hayuningrat, yaiku sastra cetha ugering ngaurip, kang jalari patitising pati sampurnaning kamuksan. Continue reading