Category Archives: Cerita Ramayana

Cerita wayang yang termasuk dalam kitab Ramayana

Ramayana [25]


Dengan wajah tanpa dosa serta memang hati begitu berbahagia sua kembali dengan kakaknya tersayang, dengan riang dan ringan Sukasarana berucap :“Engkau perintahkan aku untuk bersembunyi di bagian yang paling tersembunyi di taman ini”

Sebenarnyalah, di dasar hati Sumantri timbul rasa kasihan kepada adiknya itu. Apalagi karna jasa adiknya itulah maka dia sekarang diterima mengabdi di Maespati. Dan kesalahan fatalnya karena pernah membangkang kepada Prabu Harjuna Sasrabahu, dapat dimaafkan hanya karena bantuan adiknya yang begitu lugu itu. Sehingga dengan suara perlahan kemudian Sumantri berkata :

“Adikku yang sangat kusayangi, mengertilah bahwa kakakmu diberi kewajiban untuk menjaga keamanan disini. Engkau tadi membuat Kusuma Ratu terkejut dan takut melihat keberadaanmu. Ayolah adikku yang baik, kakang akan mengantarkanmu kembali ke Pertapan Jatisrana. Nanti kalau waktunya sudah tepat, engkau akan aku susul lagi untuk menghadap Prabu Hrajuna Sasrabahu”

“Emoh kakang, yen aku bali, kowe ya kudu bali. Nalika samana kakang nyimpe aku tanpa pamit, kaya pecat-pecata sukmaku. Mangertiya kakang, mbiyen kuwi aku nangis meh sepasar suwene. Tak goleki seprana-seprene nanging saiki sikakang bakal mbalekake aku maneh marang Pertapan. Oooh kakang, kaya ngapa rasa sepining ati, yenta aku pisah kalawan kowe kakang”

Sukasrana segera menolak permintaan kakaknya itu. Wajahnya bocahnya sudah terlihat ketakutan bakal tak bertemu lagi dengan . Continue reading

Ramayana [24]


Photo
Photo

Maka berangkatlah wadya bala Maespati dengan dipimpin oleh Sumantri menuju Magada. Sesampai disana, utusan Maespati diterima dengan penuh kegembiraan oleh Prabu Citragada seolah bak penerang di gelap malam yang tengah menaungi suasana hati Sang Prabu dan juga negri Magada bakal aman tentram lagi seperti sedia kala.

Singkat cerita, maka Sumantri kemudian mampu mengusir para raja dan satria yang berkehendak memboyong Bunga Kedaton Dewi Citrawati, terutama Prabu Darmawasesa dari negri Widarba yang memiliki bala tentara kuat. Sumantri memang memiliki kedigdayaan yang luar biasa sehingga Prabu Darmawasesa yang terkenal sakti mandraguna-pun, takluk bertekuk lutut di bawah krida Sumantri. Dan kemudian di boyonglah Dewi Citrawati ke Maespati.

Namun selama perjalanan, benak Sumantri gelisah berfikir tentang apa yang dialaminya. Bagaimana tidak ? Dengan kekuatannya sendiri, dia mampu mengalahkan musuh-musuhnya sehingga mampu menunaikan tugas yang diembannya. Dewi Citrawati dapat diboyong karena hasil kerjanya, lalu mengapa harus diserahkan kepada Sang Prabu Harjuna Sasrabahu ? Alangkah enaknya jadi Prabu Harjuna Sasrabahu yang duduk manis tanpa keluar keringat kemudian menerima anugerah berupa Dewi Citrawati. Jiwa mudanya bergolak ! Kesombongannya tiba-tiba menyeruak. Dikatakan dalam hati “Inilah Sumantri ! Pemuda sakti mandraguna, pilih tanding tiada lawan sebanding, gagah rupawan tiada cela. Masak cuman menjadi caraka negri Maespati, alangkah nista dan tercelanya ! Mungkin Sang Prabu Harjuna Sasrabahu-pun tidak akan mampu menghadapi olah kridaku ! Lalu mengapa aku harus menyerahkan Dewi Citrawati yang adalah hasil kerja kerasku kepada Sang Prabu ? Betapa bodohnya diriku !”

Sikap adigang adigung adiguna mencengkeram jiwa Sumantri. Saat mendirikan pesanggrahan di tapal batas Maespati, Patih Surata menjemput rombongan caraka yang telah berhasil memboyong Sang Dewi. Namun Patih Surata sungguh terkejut mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Sumantri :

“Paman Patih, aku mau menyerahkan Dewi Citrawati pabila Sang Prabu sendiri yang menjemputnya disini !”

“Lho … lho … lho … Sumantri … apa maksudmu ini. Kok jadi begini ! Bukankah engkau sendiri yang meminta untuk mengabdi di Maespati dan Sang Prabu menerimanya dengan persyaratan engkau sanggup untuk memboyong Dewi Citrawati untuk dijadikan sebagai permaisuri Maespati ? Lha …. sekarang kok malah begini, engkau malah nglunjak, apa yang terjadi, Sumantri ?”

“Sudah, tidak perlu banyak omong, pokoknya sampaikan apa kata-kataku ini kepada Sang Prabu seutuhnya, tidak perlu engkau kurangi atau engkau lebihkan !” Continue reading

Ramayana [23]


sumantri_sl

Hingga pada suatu hari, sampailah Bambang Sumantri ke negri Maespati. Tanpa menunda waktu, dia kemudian langsung menuju ke istana raja dan berkehendak menghadap Sang Prabu Harjuna Sasrabahu. Setelah diperkenankan menghadap, maka dengan sikap tunduk menghormat menghadaplah Sumantri di duli Sang raja Maespati

“Heh bocah bagus kang nembe prapta. Aja sira nganggep ingsun tumambuh, awit katemben iki ingsun nyumurupi ing sira. Saka ngendi sira lan apa mungguh wigatine dene kumawani marak seba ana ing ngarsaku”

“Sinuwun, kula wingking saking pertapan Jatisarana, atmaja Sang Resi Swandagni, nami kula Bambang Sumantri. Sewu lepat dene kula kumawantun sumalonong sowan ing ngarsanipun ingkang sinuwun. Mugi wontena suka lilaning panggalih, waleh-waleh menapa, sotaning manah kula badhe suwita, ngenger-ngiyup ing ngandhaping pepada paduka sinuwun. Senajanta kadadosna pekathik pangariting suket – pangeroking kudha, sukur bage lamun kula katampi dados tamtamaning praja” kata-kata yang keluar dari Sumantri begitu teratur, runtut dan tertata serta sesuai dengan tata susila menunjukan sebagai seorang yang berpendidikan baik.

“Sumantri, purwa madya wasana wus mboya karempit aturira. Nanging kawruhana, para pamagangan kuwi kudu kawuningan luwih dhisik dening patih wasesaning praja yaiku Patih Surata. Borong kawicaksanan tak pasrahake marang sira, Patih Surata” kemudian Sang Prabu menyerahkan urusan kepada Patih Surata, yang kemudian segera menjelaskan kepada Sumantri

“Ngger Bambang Sumantri, awit saka keparenge gusti ratumu Prabu Harjunasasra. Aku kang tinanggenah ngrampungi perkara. Ala lamun mbalekake wong kang arsa suwita ing ratu lan tulus lahir batin duwe karep utama angayahi pakaryaning praja. Sumantri, wajibe kang arsa suwita ing ratu, sira datan kena minggrang-minggring nggonira angayahi wajib nyangkul jejibahan, sira kudu manut setya tuhu miturut sapakon. Sira aja angresula menawa kajibah ing pakaryan kang abot, sabab pangresula kuwi surasane amung lumuh ingaran luput. Sira uga aja tumindak cilik anduwa, gedhene andhaga marang titahing nalendra. Lamun sira tumindak kang mangkana, bakal gedhe pidananing ratu tumrap marang sira” Sareh Patih Surata amijangake.

“Nuwun inggih gusti Patih. Sedaya atur paduka Gusti Patih, samendhang mboten wonten ingkang karempit. Sampun kula tampi jangkep lan sedaya pangandika Paduka Gusti Patih kula pundhi” Continue reading

Ramayana [22]


Sumantri Sukrasana bingkai

Resi Suwandagni adalah brahmana di pertapaan Argasekar. Ia adalah putra kedua dari Resi Wisanggeni (dalam Serat Ramayana dikenal dengan nama Ricika). Adapun saudara sekandung Suwandagni adalah Jamadagni, bapak dari Ramaparasu. Resi Wisanggeni merupakan putra bungsu dari dua bersaudara putra Bagawan Dewatama, yang berarti adalah cucu Dewanggana, dan kalau diurutkan silsilahnya maka akan menuju kepada Bathara Surya.

Resi Suwandagni menikah dengan Dewi Darini, seorang hapsari keturunan bathara Sambujana, putra Sang Hyang Sambo. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama Bambang Sumantri dan Bambang Sukasarana atau Sukasrana. Sebutan Bambang adalah untuk menandakan sebagai putra seorang pendeta di gunung. Namun sungguh aneh, wujud mereka berdua bak bumi dan langit. Sumantri dikaruniai perawakan yang gagah tegap perkasa dan juga wajah yang sangat rupawan, sebaliknya Sukasrana bertubuh mungil, pendek dan memiliki banyak cacat tubuh serta berwujud raksasa (sering disebut sebagai buta bajang).

Namun perbedaan itu tidak mengurangi kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Resi Suwandagni sangat sayang kepada putra-putranya. Pendidikannya diarahkan kepada hal-hal yang bersifat kesantikan, kesaktian dan menanamkan rasa kebaktian kepada umat. Olah keprajuritan sangat diutamakan, sehingga kedua putranya sangat mendalami jiwa keprajuritan dan kepahlawanan. Sikap Sumantri kepada adiknya sebenarnyalah sangat menyayanginya, namun adakalanya muncul rasa malu pabila diketahui oleh orang lain tentang keadaan adiknya. Dan hal sebaliknya dimiliki Sukasarana, dia begitu mencintai kakaknya. Cinta kepada kakaknya tak tercela. Begitu ikhlash dirinya menyayangi kakaknya, bahkan melebihi sayangnya kepada diri sendiri. Kakaknya adalah segalanya bagi dirinya.

Hingga suatu hari, merasa dirinya sudah dewasa maka Sumantri ingin meluaskan pengalaman, mengamalkan ilmu yang dipelajari dan berniat untuk mengabdi kepada raja Maespati. Hal itu disampaikan kepada ayahnya dan memperoleh persetujuan. Mengetahui rencana kakaknya, Sukasarana pun minta persetujuan ayah dan kakaknya untuk ikut serta pergi ke Maespati. Namun tentu saja Sumantri merasa keberatan karena dianggapnya akan mengganggunya diperjalanan kelak. Dibujuknya sang adik untuk tinggal saja di pertapaan Argasekar untuk menemani ayah ibunya. Walau dengan berat hati, akhirnya Sukasarana mengiyakan namun sudah ditekadkan untuk mengikuti kakaknya secara sembunyi-sembunyi. Dalam benaknya terpikir, bagaimana hidupnya tanpa sang kakak berada di dekatnya atau minimal dapat melihat keadaan sang kakak walau secara tak berterang. Alangkah tersiksanya bila hanya bersendirian. Continue reading

Ramayana [21]


rama bargawa_solo

Dilihatnya ada bekas ranting yang patah seperti terkena anak panah, dan juga tampak bekas tapak kaki yang menunjukan pernah ada orang yang lewat di situ. Sekian lama pengalamannya berkelana, menajamkan instingnya bahwa sebentar lagi akan ditemuinya seorang satria. Dirunutnya bekas tapak yang meskipun mulai samar namun masih terlihat oleh mata tajam Ramaparasu.

Dan … akhirnya Sang Ramaparasu melihat sosok seseorang yang sedang menarik busur entah apa yang hendak dipanahnya. Orang itu menghadap berlawanan arah dengannya. Diperhatikan sejenak sosok itu. Sangat terlihat kalau ahli dalam hal olah memanah. Berpakaian sangat sederhana dengan badan yang tegap dan sikap yang tenang, perasaan Ramaparasu mengatakan bahwa orang itu bukanlah penduduk biasa. Boleh jadi dia termasuk golongan satria. Seketika … Ramaparasu melompat menghadang di depan orang itu dengan menampakan wajah bengisnya.

Terkaget orang itu yang tiada lain memang Prabu Harjuna Sasrabahu. Sang Prabu yang telah meninggalkan kerajaan beberapa bulan lamanya tanpa arah jelas dan jiwa yang kosong. Keadaan kedua orang itu tiada berbeda. Hati mereka tengah galau, jiwa lagi goyah, pikiran pekat melanda. Sebenarnyalah tujuan mereka tiada beda kini. Tujuan mereka adalah mencari manusia titisan Bathara Wisnu yang bakal mengakhiri penderitaan yang dialaminya. Dua orang yang satu harap, kini saling berhadapan !

<<< ooo >>>

Diceritakan, tersenyum dalam hati Sang Prabu takala langkahnya dihadang oleh seseorang yang memiliki perawakan yang seba sembada. Dalam hatinya tidak samar lagi bahwa telah bertemu dengan apa yang menjadi harapannya.
“Heh sapa sira kang wani ngadhang lakuku?! Iblis, menungsa apa wewujudaning Dewa?” demikian Sang Prabu berkata juga bertanya

Sang Rama Parasu tidak segera menjawab, hanya bibirnya tersenyum mengikuti senyum dan gembira suasana hatinya. Dan kini keduanya saling memandang dengan tersenyum di hutan di pagi hari itu yang mentaripun tengah menampakan senyumnya.

“Mesthine sira wujuding jalma manungsa, katitik sira ora ilang kenedhepake!” akhirnya Rama Parasu menjawab.

“Mesthine sira uga sabangsaning manungsa, katitik ana wewayanganmu kang cumithak ing bantala!” Sang Prabu balik menjawab tak mau kalah.

“ Bagus! Nyata lamun kita darbe pamawas kang ora geseh!”

“Ora luput pamuwusmu!”

“Yoh, kita rerembugan kaya dene patraping satriya, aja kaya patrape brahmana kang andum wewarah. Tumuli sajarwaa, sapa sejatine jeneng sira?” dengan suara tegas dan menggelegar Rama Bargawa berkata.

“Sapa jenengmu heh jalma wanan!? Kalamun tak umpamane ingsun iki pawongan kang mardhika, iki papan dunungku. Mula sira kang luwih dhisik sajarwa sapa aranmu, kaya kalumrah patrape tetamu teka ing papan panggonanku!” begitupun Sang Harjuna Sasrabahu membalasnya dengan mantab. Continue reading

Ramayana [20]


Sasrabahu-Jatim

“Orang yang hatinya tlah teguh memegang prinsip panembah jati, pastinya akan berusaha untuk mendekatkan diri kepada yang disembahnya setiap saat. Siapapun yang mendekatkan diri kepadaNYA maka niscaya bakal didekati oleh NYA. Engkau melangkah setapak, Sesembahanmu melangkah mendekatimu lima langkah. Engkau merapat lima tindak, Sesembahanmu bakal melakukannya jauh lebih banyak lagi. Aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engkau dekat. Itulah yang disebut kebahagiaan”

“Terus apa yang disebut cahaya tadi ?”

“Cahya itu yang disebut sebagai pepadhang (penerang, petunjuk) yang sejati. Kelak engkau akan mengerti hal itu”

“Apakah Sesembahan hamba berkenan bertahta di hati titah paduka, Pukulun?”

“Lebih dari itu ngger, pabila Sesembahanmu berkenan, engkau malah akan memperoleh lebih dari itu. Engkau mungkin malah memperoleh apa yang disebut sebagai wahyu”

“Wahyu ? Apa lagi yang disebut wahyu itu ? Sampai dengan saat ini, tidak ada terbersit keinginan ataupun hasrat untuk memperoleh wahyu kemulyaan jagat. Semua yang aku cintai telah meninggalkan diriku”

“Wahyu, ada kalanya berwujud pitutur sejati. Pitutur sejati itulah yang akan menjadi sarana dirimu kembali kepada asal muasalmu. Disana, kelak engkau bakal menemukan kemuliaan sejati yang bernama nirwana. Carilah Wisnu ! Ketahuilah, Wisnu sekarang telah lepas dari ragamu. Wisnu berwujud cahya kehidupan yang manunggal bersama Hyang Tunggal. Selama ini engkau memiliki senjata sakti yang tanpa tanding, bahkan engkau tidak mempan terhadap senjata musuh apapun. Namun pabila ada senjata yang mampu menembus dadamu, maka orang yang memiliki senjata itu sesungguhnyalah wujud sejatinya Wisnu !”

Setelah memberikan penjelasan terakhir tadi, seketika hilang musnah wujud Batara Narada di dalam mimpinya. Dan seketika itu pula Sang Narendra terbangun dari tidurnya. Termenung sejenak Sang Harjuna Sasrabahu. Kata-kata Sang Kanekaputra satupun tiada dilupakannya, satupun tiada yang tercecer dari ingatannya. Semua begitu jelas, dan telah jelas pula apa yang harus dilakukannya segera !

Diceritakan, perjalanan Ramaparasu telah sampailan di negri Maespati. Namun betapa kecewanya dia, takala mendengar kabar bahwa Sang Prabu Harjuna Sasrabahu ternyata tidak ada di kerajaan. Kabar yang beredar mengatakan bahwa setelah terjadinya serbuan Dasamuka ke Maespati, Sang Prabu telah meninggalkan istana tanpa seorangpun yang tahu kemana perginya. Continue reading

Ramayana [19]


Rahwana vs Arjunasasrabahu

Terbujur lemas Sang Prabu, rebah di atas tanah lembab hutan. Mulai dirasakan betapa lemah fisiknya, lebih-lebih lagi jiwanya tlah carut marut seolah tiada wujudnya lagi. Lelah fisik dan jiwa menanggung beban berat dan derita yang disandangnya membuat dirinya seakan tanpa daya sama sekali. Hingga akhirnya tanpa disadarinya, tertidur Sang Harjuna Sasrabahu di tengah hutan itu berkasur daun-daun kering dan berselimut gelap malam.

Lelah fisik dan jiwanya membuat tidurnya bak orang mati saja. Sungguh kasihan sekali keadaan Sang Prabu. Beberapa hari yang lalu, dirinya masih menjadi seorang raja dari sebuah negara besar bernama Maespati. Dirinya masih menduduki singgasana yang megah di dampingi oleh dua patihnya yang sangat dipercayainya, Patih Suwanda dan Patih Surata. Juga betapa bahagianya dia memiliki permaisuri Dewi Citrawati yang begitu jelita lahir dan batinnya. Sepertinya bahagia dan kesenanganlah yang selalu melingkupi sepanjang hari-harinya. Sepertinya tiada pernah susah dan nestapa tiada pernah mengunjunginya.

Namun itulah dunia ! Itulah ke-fana-an ! Segalanya berubah hanya dalam hitungan hari. Senang berubah menjadi sedih, bahagia berganti menjadi nestapa. Bak cakra manggilingan yang terus berputar, kini posisinya berada di bawah ! Dirinya menjadi pecundang. Segala yang dimiliki, dicintai dan dikasihi, hilang musnah tiada bersisa. Benarkah selama ini dirinya telah beroleh kebahagiaan sejati ?

Kesenangan-kesenangan dalam bentuk apapun di dunia ini pasti tidak abadi, tidak langgeng dan bersifat fana. Kesenangan ibarat gelembung-gelembung air sabun yang terbang mengangkasa dan tidak lama kemudian pecah, hilang dan musnah begitu saja. Kesenangan adalah output dari nafsu yang kemudian menimbulkan ikatan-ikatan dengan sumber kesenangan itu. Pabila suatu saat kesenangan itu dipisahkan dan direnggut dari kita, seolah yang kita rasakan begitu kehilangan karena ikatan-ikatan itu terlepas dan memudar. Dan perasaan duka kemudian menghinggapi diri.

Hidup ini penuh dengan kedukaan yang kerap muncul akibat dari kekecewaan, rasa iba diri, kemarahan, kebencian, iri hati, permusuhan dan dendam membara. Pada saat itu kemudian kita merindukan apa yang dinamakan sebagai BAHAGIA. Namun sayang sungguh sayang, kita sering salah mengenalinya bahwa kesenangan sama halnya dengan kebahagiaan. Bahwa mencari kesenangan itu sama halnya dengan mencari kebahagiaan. Continue reading

Ramayana [18]


DasamukaMendengar tewasnya Patih Suwanda yang begitu dibanggakan dan dicintainya, Sang Prabu Harjuna Sasrabahu terluka hatinya. Maka segera dia turun tangan sendiri untuk menghadapi Sang Angkara Murka raja Ngalengkadiraja. Kemarahannya terhadap perbuatan Rahwanaraja yang bertindak semaunya sendiri tanpa peduli tata susila dan tanpa berperikemanusiaan, membuatnya triwikrama. Badannya meraksasa seperti gunung menjulang tinggi.

Triwikramalah Sang Prabu ! Dengan mudahnya dikejar dan ditangkapnya Raja Alengka, kemudian diikat dan diseret di belakang kereta. Prabu Dasamuka hanya mampu merintih dan meraung kesakitan sepanjang jalan.

Nun di tempat terpisah, Kalamarica, abdi kinasih Rahwana raja, melihat gustinya tertangkap, seketika muncul rekadaya untuk membalas tindakan Raja Maespati itu terhadap gustinya. Kalamarica adalah seorang raksasa yang sakti dan pintar, namun kepintarannya itu sering dimanfaatkan untuk merekayasa perbuatan yang curang dan penuh tipudaya. Maka dengan kesaktiannya, segera dia menuju Taman Sriwedari dengan menyamar sebagai seorang prajurit Maespati yang terluka. Diberitakannya kepada para abdi emban yang melayani Dewi Citrawati, bahwa Sang Prabu Harjuna Sasrabahu telah tewas di pertempuran dan juga sebentar lagi Sang Rahwana Raja akan segera menuju taman untuk mengambil dengan paksa Sang Dewi untuk dijadikan tawanan dan sekaligus akan diperistrinya.

Maka mengetahui kabar yang sangat penting itu, kemudian Kalamarica dihadapkan kepada Dewi Citrawati. Dengan badan yang penuh dengan darah karna terluka dan seolah menahan sakit sehingga suaranya terputus-putus, mengadulah Kalamarica

“Dhuh Kusuma Dewi sesembahan kawula! Jagad sampun mangertosi manapa ta ingkang ingaran tiyang ingkang dados bebandan. Pakarti menapa ingkang badhe kasandhang dening Paduka Sang Kusuma Dewi, menawi Prabu Rahwana manjing salebeting Taman Sriwedari. Paduka Kusuma Dewi pinasthi badhe kapatrapan tindak siya, kadi dene putri tetelukan. Mboten saged kagambaraken, nestapa ingkang badhe sinandhang ing paduka mangke!”

“Duh Kusuma Dewi sesembahan hamba ! Jagad telah menyaksikan bagaimana nasibnya orang yang menjadi tawanan. Perlakuan apa yang akan diterima terhadap paduka Kusuma Dewi, pabila nanti Prabu Rahwana telah berada di dalam Taman Sriwedari ini. Paduka akan menerima perlakuan yang sangat buruk, seperti halnya putri taklukan. Tak terbayangkan, nista dan nestapa yang akan paduka alami” Continue reading

Ramayana [17]


dasamuka

“Tidak ! Sama sekali aku tidak menyindir apa yang engkau lakukan Ramaparasu ! Sudah aku katakan tadi bahwa aku hanya sekedar lewat dan bertemu denganmu. Namun berfikirlah dengan jernih, endapkanlah dalam hatimu apa yang aku sampaikan tadi”

Dan … ucapan terakhir bijak sang brahmana tadi, semakin meluruhkan jiwa Sang Ramaparasu. Dirasakannya dirinya semakin ringkih, kesombongannya yang menguasai dirinya selama ini, seakan mulai meluntur, berganti hasrat yang begitu membuncah untuk mengikuti kebenaran sejati yang selama ini mungkin tlah tertindas oleh kebenaran pribadi yang begitu diagung-agungkannya. Keinginannya untuk mengakhiri hidup panjangnya semakin nyata karena dirinya merasa telah capek menjalani kehidupan yang begitu keras dan monoton begitu saja. Kemudian dengan pelan dia berucap

“Siapakah sebenarnya engkau ? Tapi itu bukan hal yang penting dan tidak perlu engkau jawab wahai brahmana ! Uraian yang telah engkau sampaikan tadi seolah sabda Dewata Agung yang memberikan jalan terang kepadaku. Telah terjawab apa yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang darma dan kebenaran. Laku darma yang selama ini aku yakini kebenarannya ternyata sungguh tidak benar dan melenceng dari laku yang digariskan oleh Tuhan Yang Maha Agung. Tujuan hidup yang kupegang erat sejak dahulu, ternyata malah membawa kekisruhan baik bagi dunia ini maupun bagi diriku pribadi. Namun mungkin itu telah menjadi kodrat bagi diriku sesuai dengan permintaan dari rama Resi Jamadagni bahwa aku tidak terkalahkan oleh musuh. Sekarang aku hanya berharap kebijaksanaan Bathara Wisnu untuk segera mengantarkanku meninggalkan dunia ini. Engkau telah memulainya maka segeralah tunjukkan dimana keberadaan Bathara Wisnu !”

Brahmana itu kemudian menjawab pertanyaan Ramaparasu

“Aku telah mendengar sebuah kabar yang mewartakan bahwa Bathara Wisnu sudah turun ngejawantah ke arcapada dunia ini. Melalui guwa garba, kandungan, siapa tidak ada yang bisa mengatakan dengan pasti. Namun aku hanya dapat memperkirakan, mungkin juga tidak benar, bahwa ada seorang raja besar di sebuah negara besar yang bernama Maespati yang bernama Harjuna Sasrabahu, menurut kabar yang aku dengar beliau sanggup ber-triwikrama dan pada saat itulah merupakan gambaran dari Bathara Wisnu yang sebenarnya. Kalau memang demikian adanya, maka titisan Bathara Wisnu yang menjelma dalam diri Harjuna Sasrabahu itulah yang akan menjadi sarana kematianmu wahai Ramaparasu !” Continue reading

Ramayana [16]


Ramaparasu arjunawijaya

Dan sejak saat itulah nama Ramaparasu begitu terkenal di seantero jagat. Sumpahnya tersebar bak udara panas yang dengan cepat merambah kemana-mana. Sumpahnya menciptakan kekalutan dan kekawatiran kaum satria. Sosok Ramaparasu kemudian digambarkan kegagahannya melebihi kenyataannya. Apalagi setelah korban pertama berjatuhan. Anak turun raja Hehaya yang dalam benaknya adalah penyebab kematian ayahnya, dicari dan kemudian ditumpas habis tak bersisa. Sepak terjang Ramaparasu semakin kondang membahana !

Sumpahnya membawa dirinya berkelana dari satu negara ke negara lain untuk mencari mangsa para satria. Tak terhitung sudah berapa ratus, bahkan mungkin sudah mencapai ribuan jiwa para satria yang menjadi korbannya.

Namun Ramaparasu adalah manusia biasa seperti halnya yang lain, di karuniai juga nalar dan pikiran, ditimpakan juga kebahagiaan dan kesedihan, serta kejenuhan dan kesepian. Sekian lamanya berpetualang dengan tujuan menghabisi kaum satria, dirinya laksana kehausan dan kemudian minum air laut sebagai pengusir dahaga. Bukannya lenyap rasa haus, malah semakin menjadi-jadi.

Jenuh dan jemu kerap menghampirinya. Betapa tidak ? Nyaris tak pernah ada yang mau berbagi dengannya, baik sekedar bersapa ataupun mengobrol santai, apalagi berlama-lama berdiskusi tentang hakekat kehidupan. Jangankan untuk duduk berduaan dengannya, baru mendengar namanya saja orang-orang sudah ketakutan setengah mati dan kaum satria segera berupaya mencari tempat persembunyian untuk menghindarkan diri dari sosok Ramaparasu.

Hidupnya seperti bersendirian, sebatang kara ! Dan juga dalam pikirannya kerap muncul pertanyaan. Sekian lama dia telah berusaha menghilangkan kaum satria dari muka bumi dengan membunuhinya, namun anehnya tiada pernah habis-habis, selalu saja kemudian muncul kaum satria baru. Dalam satu negara ketika rajanya telah dibunuhnya, tidak beberapa lama kemudian tlah didengarnya muncul pengganti raja yang baru.

Bosan ! Jenuh ! Tak tahu harus berbuat apa lagi Sang Ramaparasu. Apalagi jalan hidup yang telah dilaluinya begitu panjang sepanjang usianya kini. Entahlah … telah berapa generasi baru muncul di muka bumi, dirinya tetaplah Ramaparasu yang memiliki sumpah dan sepak terjang sama seperti dulu. Continue reading