Category Archives: Ki Nartosabdho

Pagelaran Wayang oleh Ki Nartosabdho

KNS : Lakon Lokapala dan Ramayana


Sumantri Ngenger

sumantriSebuah lakon tentang seorang bambang yang ingin mengabdi kepada Rajanya, Bambang Sumantri ingin ngenger kepada rajanya yaitu Arjunasasrabahu. Dasar masih hijau sehingga tidak mengenal dalamnya samudra dan tingginya gunung, sifat dan sikap tinggi hati dan kepercayaan tinggi atas kesaktian yang dimiliki, nyaris membuatnya di tolak dan di usir oleh Sri Baginda.

Namun lantaran sudah terlanjur suka, akhirnya Sang Raja Maespati menerima ngengernya Sumantri dengan memberi tugas pertama sebagai duta dalam meminang Dewi Citrawati dari Negri Magada. Namun sosok adiknya yang buruk rupa, Sukasarana, merusak kehidupan yang sedang dibangunnya. Rasa malu beradik buruk rupa, sifat tinggi hati menghancurkan potensi Sumantri. Bagaimana akhir hayat Bambang Sumantri ?

Dasamuka Lahir (Sastra Jendra Hayu Ningrat)

DasamukaCerita ini dapat juga disebut sebagai cerita Alap-alap Sukesi atau lahirnya Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana. Merupakan petikan babad Lokapala yang di dalamnya mengandung mutiara yang sangat berharga.

Kerajaan Lokapala pada waktu itu diperintah oleh Danaraja atau Danapati yang belum mempunyai permaisuri. Karena itu ia ingin memasuki sayembara perang melawan Jambu Mangli kemenakan Prabu Sumali Raja dari negara Alengka yang apabila menang dapat mempersunting Dewi Sukesi putri Sumali Raja. Sebelum Danapati berangkat, ayahnya yang bernama Begawan Wisrawa datang, menyanggupkan diri menyelesaikan persoalan tersebut karena Sumali raja adalah teman baik dari Wisrawa.

Masalah besar terjadi lantaran Sukesi mempersyaratkan calon suaminya harus mampu mewedarkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwat Diyu”. Dan Begawan Wisrawa mampu melakukan itu hingga akhirnya Sukesi tunduk dan patuh menjadi istri Begawan Wisrawa.

Tentu saja Danaraja marah besar atas kejadian itu, meskipun yang melakukan itu adalah ayahnya.

Link lain : http://indonesiawayang.com/2009/07/12/ki-narto-sabdho-sastro-jendroyuningrat-alap2-sukesi/

Rama Tundung (Ramayana I)

KKNS Ramayana 1isah kelahiran Ramawijaya di Ayodya. Ayahnya Prabu Dasarata mempunyai tiga orang istri yaitu Dewi Ragu, Dewi Kekayi dan Dewi Sumitra. Saat itu muncul perseteruan diantara mereka yang disebabkan oleh sifat dan watak jelek dari Dewi Kekayi hingga akhirnya kemudian lahirlah keempat putra Ayodya yaitu Ramawijaya, Leksmana, Barata dan Satrugna.

Menjelang dewasa saat hendak diangkat menjadi pangeran pati, Rawawijaya malah terusir dari akibat iri dengki Dewi Kekayi, ibu dari Barata.

Ramayan I dalam unggahan lain bisa di unduh disini : http://www.4shared.com/folder/NBoRFrHi/31_online.html

Rama Gandrung

Rama sinta RamayanaTerusir dari Ayodya dan hidup mengembara di tengah hutan ditemani istri tercinta, Dewi Sinta, serta adik yang begitu setia, Leksmana, tidak membuat Ramawijaya larut dalam kesedihan akibat diusir oleh ayahnya. Namun peristiwa berikutnya adalah awal malapetaka ! Dewi Sinta diculik oleh Rahwanaraja.

Sungguh kasihan Ramawijaya yang selalu terkenang akan kekasih hatinya.

Anoman Obong

Hanoman02Sugriwa yang berhutang budi kepada Ramawijaya akhirnya bersedia membantu Ramawijaya untuk merebut kembali istrinya Dewi Sinta dari tangan Dasamuka di negri Alengkadiraja.

Awalnya yang diutus untuk mengabarkan kepada Dewi Sinta bahwa suaminya hendak berjuang merebutnya dari tangan Raja Alengka, adalah Anoman, kera putih sakti putra Anjani. Kiprah dan krida Anoman penuh cerita heboh dan berbuah huru hara di ibukota Alengka.

Rama Tambak

ramawijaya_soloSementara itu, mata-mata Alengka, Kala Marica melaporkan kepada Prabu Rahwana tentang rencana pembangunan bendungan tersebut. Prabu Dasamuka merasa cemas dengan rencana Prabu Rama tersebut. Mendengar itu, Prabu Dasamuka memerintahkan Detya Kala Yuyu Rumpung untuk membawa seluruh pasukan raksasa kepiting yang ada di Samodera Hindia, untuk menghancurkan jembatan buatan pasukan wanara Pancawati.

Yuyu Rumpung berwujud raksasa berkepala ketam (jawa =yuyu). Ia adalah salah satu punggawa kerajaan Alengka yang oleh Prabu Dasamuka ditempatkan di dalam samodra. Yuyurumpung sangat sakti. Ia dapat hidup di dalam air dan darat.

Detya Kala Yuyu Rumpung siap melaksanakan perintah Prabu Dasamuka. Ia akan mengerahkan seluruh yuyu rumpung di Samodera Hindia, untuk menggagalkan pembangunan jembatan Prabu Rama. Berangkatlah Detya Kala Yuyu Rumpung ke Samodera Hindia. Tentu saja Detya Kala Marica ikut pergi ke Samodera Hindia, mengawasi jalannya eksekusi pasukan Prabu Dasamuka pada jembatan Prabu Rama.

Sementara itu di Pancawati, Prabu Rama sedang berembug dengan Narpati Sugriwa, Laksmana, Anoman, Anggada, Anila dan para punggawa yang lain. Prabu Rama merencanakan pembuatan tanggul di Samudera Hindia, dari Pancawati  sampai tanah Alengka, untuk membawa pasukan Pancawati sebanyak-banyaknya.

Akhirnya mereka mulai membendung samudera Hindia. Para pasukan kera Pancawati bahu-membahu membuat bendungan dengan batu dan batang pohon dari hutan di sekitar Pancawati. Namun belum sampai ke Alengka tanggul itu selalu jebol dan hancur. Pasukan Prabu Rama menjadi putus asa. Belum tahu langkah apa yang harus dilakukan.

Kumbakarna Lena

KumbakarnaPerang antara pasukan kera pimpinan Ramawijaya melawan pasukan Alengka pecah sudah. Pertempuran ramai terjadi. Namun satu demi satu prajurit andalan Alengka berguguran, meskipun di pihak Ramawijaya korbanpun tidak sedikit.

Sarpakena, raksasi yang sakti mandraguna adik dari Rahwanaraja, telah menemui ajalnya. Demikianpun, Prahasta, patih Alengka yang masih terbilang paman dari Rahwanaraja, telah menemui ajal.

Rahwana kemudian menyuruh Indrajit anaknya untuk membangunkan Kumbakarna yang tengah bertapa. Kumbakarna sebenarnyalah tidak setuju atas perilaku kakaknya dalam menculik dewi Sinta. Namun apa daya, pendapatnya selalu ditolak oleh Sang Dasamuka.

Namun akhirnya Sang Kumbakarna maju perang demi membela negara, bukan untuk membela tindakan kakaknya yang tidak benar.

Kumbakarna Lena dalam unggahan lain bisa di unduh disini : http://www.4shared.com/folder/BdZLmiWZ/28_online.html

Dasamuka Lena

Dasamuka triwikrama-Yogya-04Akhirnya setelah semua orang kepercayaan dan andalannya gugur, termasuk anaknya Indrajit, maka mau tidak mau Dasamuka maju sendiri sebagai senapati Alengka. Kemarahan yang memuncak atas hilangnya orang-orang dekatnya, ditambah luluh lantaknya negara membakar nafsu membunuh Rahwana. Banyak korban dari pihak Ramawijaya akibat keganasan Rahwana.

Namun kezaliman akhirnya bakal sirna. Dasamuka tak berdaya saat menghadapi Ramawijaya.

Bagaimana kemudian pertemuan antara kekasih yang tak sua sekian lama ? Bagaimana kisah antara Rama dan Sinta ?

KNS : Anoman Obong


Pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho dengan mengambil lakon “Anoman Obong” dapat diunduh disini

http://www.4shared.com/folder/DmDnXckD/27_online.html

Sekilas cerita Anoman Obong

http://caritawayang.blogspot.com/2012/11/anoman-duta-anoman-obong.html

Prabu Rama akhirnya memerintahkan kepada Anoman untuk melakukan perjalanan kenegeri Alengka. Hal ini dilakukan oleh Prabu Rama mengingat berita yang simpang siur tentang keberadaan Dewi Sinta.Pertimbangan itu diambil karena Anoman memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Sehingga apabila menghadapi musuh yang ditemuinya nanti dalam perjalanan, akan dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih-lebih pula Anoman dapat terbang keangkasa, sehingga Prabu Rama dapat memperkirakan, perjalanan Anoman akan lebih cepat dari pada para senapati lainnya. yang lewat daratan. Apalagi perjalanan ini akan melewati samudera, dan merupakan tugas pertama menuju Alengka

Anoman berpamitan kepada Prabu Rama,untuk segera melaksanakan tugas. Namun kemudian datanglah Anggada menghadap Prabu Rama. *Anggada adalah putra Subali dengan Dewi Tara. Anggada minta Prabu Rama untuk membatalkan niatnya untuk mengutus Anoman ke Alengka. Akhirnya Anoman dan Anggada berkelahi memperebutkan tugas ke Alangka. Prabu Rama melerai keduanya agar tidak berkelahi.

Keduanya didudukkan bersama. Prabu Rama menguji kelebihan masing-masing. Prabu Rama menanyakan pada Anoman berapa lama waktu perjalanan yang ditempuh dalam melakukan tugas. Anoman menyangggupi 10 hari. Diperkirakan oleh Anoman, Kerajaan Alengka jauh letaknya, disamping itu ada kemungkinan dalam perjalanan nanti akan menghadapi mata-mata Prabu Dasamuka, yang pasti akan menghambat perjalanan berikutnya. Sedangkan Anggada menyanggupi 7 hari. Kemudian keduanya tawar menawar. Anoman menyanggupi 5 hari parjalanan menuju Alengka. Anggada tidak mau mengalah, ia menyanggupi 3 hari perjalanan menuju Alengka. Anoman akhirnya menyanggupi 1 hari. Kemudian Prabu Rama menunjuk Anoman untuk berangkat ke Alengka. Perjalanannya menuju Alengka disertai Para Punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong..

Untuk memudahkan perjalanan, para punakawan dimasukkan dalam kancing gelung Anoman. Dari penulis menginginkan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, mengikuti Anoman yang sedang terbang dalam perjalanannya ke Alengka, namun karena tidak lazim, ada Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, maka mereka saya masukkan saja dalam kancing gelung Anoman. Mereka sebenarnya bisa terbang, karena Semar adalah jelmaan Dewa, Gareng dan Petruk adalah gandarwa sedangkan Bagong adalah bayangan Semar.

Pada hari pertama perjalanannya, Anoman pergi ke kahyangan, menemui Batara Surya . Dimintanya Batara Surya mau mengikat matahari supaya tidak bergeser ke Barat. Batara Surya keberatan,dan tidak bisa menyanggupi kemauan Anoman. Anoman memaksa Batara Surya untuk memenuhi permintaannya.Maka terjadilah perkelahian antara keduanya. Semar segera melerai perkelahian mereka. Akhirnya Semar sendiri yang minta agar Batara Surya mau menuruti kehendak Anomann. Akhirnya.Batara Surya memenuhi keinginan Anoman, mengingat Semar adalah Sanghyang Ismaya adalah ayahanda Batara Surya sendiri,.Anoman meminta Batara Surya tidak melepaskan matahari sampai Anoman kembali ke Pancawati.. Batara Surya menuruti permintaan Anoman. Batara Surya mengikat matahari yang posisinya masih diatas kepala, sehingga negeri Pancawati akan mengalami siang yang berke panjang an selama Anoman dalam perjalanan.

Ditengah perjalanan di angkasa menuju Alengka, Anoman kehilangan arah. Anoman sudah berada diatas lautan Hindia. Laut luas membiru. Anoman terkejut merasa ada kekuatan besar yang menyedot tubuhnya, Tiba-tiba saja tubuh Anoman tertarik kebawah dan masuk dalam perut raksasa.Raksasa itu Wil Kataksini, yang bertugas menjaga lautan Alengka. Tubuh Anoman tidak berdaya dan berusaha keluar dari mulut raksasa Wil Kataksini.

Anoman dengan sekuat tenaga menendang-nendang dan mencakar-cakar dalam perut Wil Kataksini. Kataksini merasa dalam perutnya perih dan geli. Anoman yang ada dalam perut itu di muntahkan kembali keluar mulutnya. Setelah itu tubuh Wil Kataksini menjadi limbung, dan roboh, Wil Kataksini tewas.

Sementara itu tubuh Anoman bagaikan dibanting, Anoman jatuh terpelanting di daerah pegunungan. Anoman memperkira kan daerah Suwelagiri, sangat cocok untuk menghimpun pasukan dan menyusun pertahanan Prabu Rama dalam penyerangan ke istana Alengka atau tempat unntuk memata-matai Prajurit Alengka.

Anoman sudah tidak bisa terbang lagi. Ia melanjutkan perjalanan lewat daratan dengan tertatih-tatih. Setelah berjalan begitu lama, Anoman tidak kuat lagi. Ia jatuh pingsan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, segera keluar dari kancing gelung Anoman. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong membawa Anoman ketempat berlindung.

Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah goa, yaitu Goa Windu tempat bersemayamnya seorang pertapa wanita bernama Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba adalah mantan istri Prabu Dasamuka. Ia seorang bidadari. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang memapah Anoman sudah sampai dihadapan Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba segera menyambut kedatangan para tamunya. Setelah beberapa hari dirawat di dalam goa, Anoman sadar dari pingsannya. Ia terkejut ketika mengetahui dirinya berada di dalam istana yang megah, Anoman kagum ternyata di dalam goa terdapat istana yang megah dan indah. Ia pun melihat ada seorang dewi cantik berada dihadapannya. Anoman tertarik kecantikan Dewi Sayempraba. Selama dalam perawatan Dewi Sayempraba Anoman tidak tahu apa yang dilakukan pada dirinya.

Kelihatannya Anoman terpedaya dengan kecantikan dewi Sayempraba. Anoman dan para punakawan dijamu dengan makanan yang lezat dan minuman yang menyegarkan. Anoman dan para punakawan makan dengan lahapnya.Anoman memang lapar. Sudah lama ia pingsan jadi sudah beberapa hari tidak makan. Selesai makan minum, Anoman berpamitan mau melanjutkan perjalanan menuju Alengka. Dewi Sayempraba menghalangi Anoman, agar tidak meninggalkan Goa Windu. Sayempraba menghendaki agar Anoman bersedia memperistrinya. Anoman menolak ajakan dewi Sayempraba. Kemudian Anoman segera mengajak para punakawan meninggalkan istana Sayempraba.

Sepeninggal Anoman, Dewi Sayempraba gundah gulana. Ia kecewa Anoman tidak menanggapi cintanya. Padahal Dewi Sayempraba sangat mencintainya. Namun Dewi Sayempraba percaya, kalau Anoman akan kembali ke Goa Windu pada suatu saat.

Setelah beberapa lama berjalan meninggalkn goa. Tiba-tiba kedua mata Anoman seakan akan melihat seberkas cahaya yang sangat menyilaukan. Kemudian pandangan menjadi gelap, Anoman menjadi buta Anoman menjadi sedih, Ia merasa gagal melak sanakan tugas dari Prabu Rama. Para panakawan memapah Anoman dan mencarikan orang yang dapat mengobati sakitnya.

Anoman kelihatannya masih beruntung, agaknya tangisannya didengar oleh seekor burung garuda, yang bernama Sempati. Sempati mencoba mengobati Anoman. Sebelumnya Burung Sempati memohon dewa agar dapat menyembuhkan mata Anoman. Sempati mengobati kedua mata Anoman dengan meneteskan air liur dari paruhnya. Permohonan burung Sempati kepada dewa, agaknya dikabulkan Dewa, Anoman sembuh. Anoman sudah tidak buta lagi.

Burung Sempati menceriterakan saudaranya, Burung Jatayu, yang tewas ketika melawan Prabu Dasamuka. Burung Jatayu sebenarnya mau menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik Prabu Dasamuka. Namun Jatayu gagal membawa Dewi Sinta ke Ayodya, karena Prabu Dasamuka, membabat kedua sayapnya dan lehernya dari belakang, sehinga burung Jatayu jatuh ke bumi.Sedangkan Dewi Sinta dapat direbut kembali oleh Prabu Dasamuka dan dibawa ke negerinya, Alengka. Beberapa saat kemudian, Jatayu pun tewas. Anoman mendengar cerita Burung Sempati menjadi semakin yakin, bahwa yang menculik Dewi Sinta adalah Prabu Dasamuka. Anoman dan para Punakawan mengucapkan terima kasih pada burung Sempati karena telah menyembuhkan Anoman dari kebutaannya. Anoman dan para Punakawan berpamitan kepada burung Sempati, untuk meneruskan perjalanannya ke negeri Alengka Oleh Anoman para Punakawan dimasukkan kembali dalam kancing gelungnya. Kemudian Anoman melesat jauh keangkasa menuju Istana Alengka. Perjalanan Anoman ke istana Alengka dirasa tidak terlalu lama lagi. Setelah beberapa saat kemudian sampailah Anoman ke Istana Alengka.

Indrajid anak Prabu Dasamuka yang sedang berjaga di luar Istana melihat sekelebatan makhluk asing yang berlalu dihadapannya. Indrajid penasaran, ia segera mencari keseluruh penjuru Istana. Anoman sekarang sudah berada di taman Asoka. Ia bersembunyi diatas pohon Nagasari yang rimbun daunnya.

Sementara itu di Kaputren taman Asoka, Prabu Dasamuka merasa kecewa, karena dewi Sinta belum mau diboyong ke dalam Istana. Prabu Dasamuka berniat memaksa dewi Sinta untuk melayani dirinya. Namun niat Prabu Dasamuka dapat diurungkan oleh Dewi Trijatha anak Wibisana, adik Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka meninggalkan taman Asoka dengan kecewa.

Untuk menghilangkan gundah hati Dewi Sinta, Dewi Trijatha mengajak Dewi Sinta ke taman bunga yang letaknya dekat pohon Nagasari, dimana tempat Anoman bersembunyi. Anoman segera meloncat dari pohon. Kedua wanita itu menjadi terkejut, ketika melihat makhluk asing didepannya. Anoman memperkenalkan diri bahwa ia utusan Prabu Rama. Anoman menyampaikan pesan Prabu Rama agar Dewi Sinta bersabar menunggu kedatangan Prabu Rama untuk menjemputnya. Anoman menawarkan jasa, apabila Dewi Sinta menghendaki Anoman akan membawa pulang ketempat Prabu Rama.

Anoman memberikan cincin dari Prabu Rama kepada Dewi Sinta. Dewi Sinta menerima pemberian cincin dari Prabu Rama, dan dipakai dijari manisnya. Namun sayang cincin itu menjadi kebesaran, karena Dewi Sinta menjadi kurus kering, setelah tinggal di Alengka. Dewi Sinta menitipkan sebuah sisir yang sudah lama tak dipakai. Karena sejak di Alengka Dewi Sinta sudah tidak mau menyisir rambut dan merawat dirinya. Kelihatannya badan Dewi Sinta menjadi rusak. Dewi Sinta merasa tersiksa di negeri orang, jauh dari Prabu Rama. Dewi Sinta tidak bersedia dibawa Anoman pulang ke tempat Prabu Rama. Dewi Sinta menginginkan Prabu Rama sendiri yang menjemput pulang.

Belum selesai mereka saling bicara, Indrajid dan pasukannya telah mengepung taman Asoka. Anoman sengaja tidak memberi perlawanan, agar mereka menangkap dirinya. Anoman bermaksud mengukur kekuatan pertahanan Alengka. Indrajid segera membawa Anoman ke tempat Prabu Dasamuka yang sedang mengadakan pertemuan agung, yang dihadiri Patih Prahasta, adik-adik Prabu Dasamuka, seperti Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana, para putera Prabu Dasamuka serta raja-raja taklukan Kerajaan Alengka.

Setelah Anoman dibawa masuk ke dalam Istana, Indrajid menghadap Ayahandanya dan melaporkan semua kejadian yang baru terjadi. Mendengar itu muka Prabu Dasamuka menjadi merah padam.Prabu Dasamuka marah bukan kepalang.

Oleh Prabu Dasamuka, Indrajid disuruh mengikat Anoman di depan istana, dan dibakar hidup-hidup.Indrajid berangkat melaksanakan tugas. Anoman digelandang keluar istana dan di ikat di tiang depan istana. Anoman melihat beberapa orang perajurit membawa kayu bakar, dan menumpukkannya di sekeliling Anoman berdiri. Indrajid dan para perajuritnya masuk kembali ke istana, dan melaporkan kesiapannya untuk membakar Anoman .

Sewaktu Indrajid dan perajurit-prajuritnya masuk istana, datanglah Togog, seorang Abdi Kerajaan Alengka jelmaan Sanghyang Antaga mendatangi Anoman. Dibawakannya Anoman sebuah kendi yang berisi air minum yang sejuk dan menyegarkan. Anoman memang sejak tadi merasakan kehausan, karena sejak kedatangannya di negeri Alengka belum minum sama sekali.Anoman segera menerima kendi itu dan meminumnya. Anoman merasakan tubuhnya menjadi segar kembali.
Anoman berterima kasih kepada Togog dan berpesan, agar Togog memasang janur kuning diatap rumahnya.

Tiada lama kemudian Indrajid bersama ayahandanya, Prabu Dasamuka beserta para adik dan putera-putera yang lainnya mendekati Anoman. Wibisana, Adik Prabu Dasamuka meminta kakaknya bisa berbuat bijaksana. Dimintanya Prabu Dasamuka melepaskan Anoman dan menyuruhnya pulang ke Negara asalnya.

Prabu Dasamuka tidak memperdulikan permintaan adiknya. Prabu Dasamuka segera menyuruh Indrajid segera membakar Anoman. Dengan sekali sulut saja, terbakarlah seluruh tumpukan kayu disekeliling Anoman. Anoman kelihatan sudah terbakar dan sekarang yang nampak hanyalah nyala api yang membumbung tinggi. Api semakin membesar dan menjilat-jilat sampai setinggi istana.

Setelah ikatan Anoman terlepas, Anoman terbang dengan membawa api yang menyala ditubuhnya. Api tidak membakar Anoman. Anoman melemparkan api-api itu keseluruh bangunan istana. Istana Alengka terbakar. Penghuninya lari pontang-panting.Seluruh bangunan istana habis terbakar.

Untunglah masih ada satu tempat yang tidak terbakar, yaitu sebuah rumah gubug milik Tejamantri Togog. Prabu Dasamuka dan segenap keluarga dan perangkatnya mengungsi kerumah Togog. Selesai membakar istana Alengka, Anoman pun meninggalkan Alengka kembali ke negeri Pancawati.

Anoman sekarang sudah kembali ke Negara Pancawati. Mataharipun mulai bergeser ke barat.Rupanya Bathara Surya telah mengetahui kepulangan Anoman ke Pancawati, sehingga tali pengikat matahari pun dilepas.

Anoman kemudian menceriterakan semua kejadian yang dialami, khususnya pertemuan dengan Dewi Sinta.Kepada Rama, Anoman menyerahkan titipan Dewi Sinta berupa sisir yang sudah lama tidak dipakainya. Dewi Sinta tidak akan pergi dari Alengka kalau yang menjemput bukan Prabu Rama sendiri. Sehingga ajakan Anoman untuk memboyong Dewi Sintapun ditolak olehnya. Prabu Rama bersedih hati mendengar laporan Anoman, ia terharu mengetahui Dewi Sinta istrinya selalu setya padanya. Prabu Rama berjanji akan segera menyusul Dewi Sinta ke Alengka, untuk memboyongnya pulang kenegeri Ayodya.

Prabu Rama segera bersiap-siap menggelar perang melawan Prabu Dasamuka.Prabu Dasamuka nantinya hanya ada dua pilihan, memilih dengan cara damai yaitu Prabu Dasamuka mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama, ataukah dengan perang.

Untuk membawa pasukan ke negeri Alengka, Prabu Rama merenca nakan membuat jembatan atau menambak air laut sehingga di laut ada jalan yang bisa dilewati pasukan Prabu Rama, mulai dari Pantai Pancawati ke daratan Alengka.***

KNS : Rama Tambak


Pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho dengan lakon “Rama Tambak” dapat diunduh di sini

http://www.4shared.com/folder/1aFbqd3K/26_online.html

Sekilas cerita Rama Tambak :

http://caritawayang.blogspot.com/2012/11/rama-tambak.html

Ini dia, Rama Bridge..jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) yang menghubungkan antara Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) yang disebut2 buatan Rama.

Rama Wijaya termangu sedih ketika mendapati kenyataan tak seindah impian. Bayangan Sinta, istri yang sangat dicintainya perlahan memudar dari benaknya, terpagut hempasan ombak samudra yang terbentang di hadapannya. Prabu Sugriwa, Lesmana, Anoman, Anila, Anggada, dan seluruh pasukan kera yang ada pun tak mampu berbuat banyak untuk membuat Sri Rama tersenyum.

Gejolak kerinduan junjungannya kepada sang istri bagai sembilu yang menyayat hati. Sebagai senopati perang, ingin sekali rasanya Anoman beraksi dan membawa terbang Rama menyeberangi samudra. Tapi Anoman sadar, jika perang dengan wadya bala Alengka harus dilakoni dengan cara yang ksatria. Akan tetapi, samudra Hindia yang membentang di depan mata dihuni ribuan pasukan raksasa air yang nggegirisi. Sungguh sebuah perbuatan konyol dan bunuh diri jika membiarkan pasukan kera yang tak bisa berenang menceburkan diri ke dalam samudra. Namun alam berkehendak lain. Di tengah keputusasaan Sri Rama, muncullah Hyang Baruna dewanya para ikan dan hewan laut. Baruna paham masalah apa yang dihadapi Rama.

Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, Baruna pun mengingatkan Rama Wijaya untuk tak lagi putus asa dan ragu-ragu dalam bertindak. Karena sebagai seorang pemimpin, keraguan dan keputusasaan adalah jurang kematian yang siap merenggut nyawa rakyat yang dipimpinnya. Sadar telah salah dalam berpikir, Rama pun kembali bangkit. Dan dengan bantuan Baruna, Sri Rama pun bahu membahu bersama para pasukan kera melakukan sebuah mega proyek yaitu membuat bendungan (jawa = tambak) untuk membentung lautan sebagai jembatan untuk  menyebrang ke Alengka.
Sementara itu, mata-mata Alengka, Kala Marica melaporkan kepada Prabu Rahwana tentang rencana pembangunan bendungan tersebut. Prabu Dasamuka merasa cemas dengan rencana Prabu Rama tersebut. Mendengar itu, Prabu Dasamuka memerintahkan Detya Kala Yuyu Rumpung untuk membawa seluruh pasukan raksasa kepiting yang ada di Samodera Hindia, untuk menghancurkan jembatan buatan pasukan wanara Pancawati.

Yuyu Rumpung berwujud raksasa berkepala ketam (jawa =yuyu). Ia adalah salah satu punggawa kerajaan Alengka yang oleh Prabu Dasamuka ditempatkan di dalam samodra. Yuyurumpung sangat sakti. Ia dapat hidup di dalam air dan darat.

Detya Kala Yuyu Rumpung siap melaksanakan perintah Prabu Dasamuka. Ia akan mengerahkan seluruh yuyu rumpung di Samodera Hindia, untuk menggagalkan pembangunan jembatan Prabu Rama. Berangkatlah Detya Kala Yuyu Rumpung ke Samodera Hindia. Tentu saja Detya Kala Marica ikut pergi ke Samodera Hindia, mengawasi jalannya eksekusi pasukan Prabu Dasamuka pada jembatan Prabu Rama.

Sementara itu di Pancawati, Prabu Rama sedang berembug dengan Narpati Sugriwa, Laksmana, Anoman, Anggada, Anila dan para punggawa yang lain. Prabu Rama merencanakan pembuatan tanggul di Samudera Hindia, dari Pancawati  sampai tanah Alengka, untuk membawa pasukan Pancawati sebanyak-banyaknya.

Akhirnya mereka mulai membendung samudera Hindia. Para pasukan kera Pancawati bahu-membahu membuat bendungan dengan batu dan batang pohon dari hutan di sekitar Pancawati. Namun belum sampai ke Alengka tanggul itu selalu jebol dan hancur. Pasukan Prabu Rama menjadi putus asa. Belum tahu langkah apa yang harus dilakukan,

Tidak lama kemudian Prabu Rama kedatangan tamu dari Alengka, yaitu Wibisana. Prabu Rama merasa senang dengan kehadiran Wibisaba, yang mau bergabung dengan Prabu Rama. Prabu Rama bersedia memberikan fasilitas Kerajaan Pancawati.Wibisana sehari harian diperbolehkan menggunakan apa yang ada di Pancawati. Wibisaana mendapatkan tenda tersendiri, yang letaknya bersebelahan dengan tenda Prabu Rama dan Laksmana.

Sebagai tanda baktinya kepada Prabu Rama, Wibisana membantu pembuatan jembatan dari Pantai Pancawati sampai ke negeri Alengka. Dalam waktu sekejab Wibisana menciptakan jembatan yang kokoh dan kuat. Anoman kemudian mencoba jembatan yang baru diciptakan Wibisana.

Belum beberapa lama jembatan itu dicoba oleh Anoman, jembatan itu ambrol dan hancur. Jembatan ciptaan Wibisana menjadi runtuh.  Disaat seperti ini Wibisana bagai teruji kesetiaannya pada Prabu Rama. Beberapa tokoh senapati meminta agar Wibisana diusir saja dari Pancawati, karena bisa saja niat Wibisana mau menghancurkan Pancawati dari dalam. Wibisana tak bisa berbuat apa apa. Pikirannya melayang kembali kekakaknya, Prabu Dasamuka, Wibisana berpikiran lebih baik tinggal di Alengka, dari pada setelah meninggalkan tanah kelahirannya, ternyata sesampai di tempat Prabu Rama yang asing baginya, dianggap mata-mata musuh. Dalam hatinya menangis, teringat pula kakaknya, Kumbakarna yang sempat mau mengikuti kepergiannya. Wibisana terdesak pikiran-pikiran yang mestinya tidak perlu. Akan tetapi Prabu Rama menyatakan bahwa ia tetap percaya pada Wibisana.

Prabu Rama percaya pada Wibisana, karena Wibisaba pasti mengetahui seluk beluk pertahanan Alengkadiraja.

Persoalan selalu runtuhnya bendungan tersebut oleh Prabu Rama diserahkan pada Wibisana. Menurut perkiraan  Wibisana, keruntuhan-keruntuhan yang terjadi pada jembatan tersebut, akibat ulah pasukan Prabu Dasamuka. Wibisana meminta Prabu Rama untuk mengerahkan seluruh kera kera Yuyu Kingkin, yang berada di hutan Pancawati,  ke Jembatan Situbanda yang telah dibuat  Perajurit Pancawati.  Kapi Yuyu Kingkin siap akan mengerahkan ribuan kera yuyu kingkin di hutan Pancawati mengusir pengganggu dari Alengka. Kapi Yuyu Kingkin adalah satu satu satu nya jenis kera, yang mempunya capit yuyu yang kuat, sanggup menyelam berjam-jam di dalam Samodera.

Dalam melakukan operasi tesebut, ditugaskan pula Kapi Sarpacitra untuk membatu. Kapi sarpacitra adalah kera pujaan Batara Cakra, seorang dewa yang juga berkedudukan sebagai pujangga kayangan. Ia berwujud kera berkepala ular dan memiliki ekor yang sangat panjang.

Pasukan Pancawati pun bertindak. Kapi Yuyu Kingkin beserta pasukan dan Kapi Sarpacitra menyelam ke dasar lautan. Benar saja sesuai perkiraan Wibisana, tambak yang dibangun ternyata dirusak oleh pasukan Alengka yang dipimpin Kala Yuyu Rumpung. Pasukan Kapi Yuyu Kingkin berhasil mengalahkan bala Alengka, Pasukan Yuyu Rumpung sebagian tewas dan yang masih hidup menyelamatkan diri.

Sementara itu sang komandan, Kapi Yuyu Kingkin dan Kapi Sarpacitra berhadapan dengan Kala Yuyu Rumpung. Karena kuwalahan menghadapi Kala Yuyu Rumpung di dalam air, Kapa Sarpacitra melilit tubuh Yuyu Rumpung dengan ekornya yang panjang dan dibawa ke daratan. Kapi Yuyu Kingkin pun ikut kembali ke daratan. Pertempuran pun kembali berlanjut. Ternyata di darat Yuyu Rumpung tak sehebat jika bertarung di dalam air dan akhirnya tewas di tangan Kapi Yuyu Kingkin.

Sesudah tidak ada lagi gangguan dari pasukan Alengka,  Pasukan Pancawati dan Wibisana, melanjutkan pembuatan jembatan Situbanda, dengan bahu membahu dalam membuat jembatan ke Alengka, maka jadilah tanggul itu dan akhirnya pasukan  kera yang jumlahnya ribuan itu bisa diberangkatkan ke Alengka Diraja. Mereka termasuk para kera ciptaan Dewa, seperti Cucak Rawun, Endrajanu, Bakliwinata, Baliwisata, Indrajanu, serta lainnya berbaris rapi, bagaikan tentara yang perkasa, siap ke medan laga, menjemput maut, demi membela kebenaran. Jembatan ini dikenal dengan Jembatan Situbondo. Dan konon jembatan yang menghubungkan India dengan Srilangka, masih ada, yang menyerupai pulau pulau kecil di ujung Srilangka.

KNS : Sumantri Ngenger


Sebenarnya koleksi ini sejak awal blog ini dibuat sudah disharing. Namun dahulu hanya dishare begitu saja tanpa penjelasan dan review serta narasi jalannya cerita. Lumayan … MasPatikRaja sudah menuliskan cerita ini secara lengkap, jadi saya tinggal mencaploknya saja he he he … Nuwun sewu KangMas … saya menyampaikan tulisan ini sebagai narasi untuk Unggahan “Sumantri Ngenger” by KNS ini dan juga mewartakan kepada para pembaca bahwa ada blog yang sangat bagus untuk selalu di ikuti milik MasPatikRajaDewaku.

Untuk mengunduh file audionya, silahkan di download dari laman-nya MasPatikRaja atau versi lainnya dapat diunduh disini : http://www.4shared.com/folder/Cto-rpgL/21_online.html

Matur Nuwun nggih … :D

Sumantri Ngenger

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2012/12/18/sumantri-ngenger-1-ki-nartosabdo/

Baya ta maduretna kang pinusthika /pinasthi dadi kusuma pepujanku/ kekuwungira kang weh rudating driya/ driya matrenyuh/ tistis linobong branta/

Demikian suluk pathet nem ngelik pembuka dari lakon Sumantri Ngenger yang kami unggah. Jelas ini bukan permulaan jejeran di Negara Maespati. Ini adalah kaset kedua dari delapan kaset audio sumbangan dari seorang teman. Kaset pertama yang diubek kesana kemari ternyata tidak ketemu. Jadilah kaset ke 2 ini sebagai permulaan dari persembahan Sumantri Ngenger yang dipanggungkan oleh Ki Nartosabdo, yang kali ini kami unggah.

Tapi jangan kawatir, kaset kedua adalah pas menjadi permulaan ketika Sumantri menghadap keharibaan Sri Arjuna Sasrabahu. Satu lagi yang perlu kami sampaikan kepada anda para rawuh, bahwa lakon Sumantri Ngenger yang kami persembahkan ini adalah sanggit berbeda dari yang sudah pernah dimuat di “wayangprabu”.

Versi pertama sudah seringkali saya dengar dan bahkan sudah apal diluar kepala adegan demi adegan, kalimat demi kalimat. Karena lakon ini suatu saat pernah kami tanam di ponsel, dan seringkali sebagai teman ketika menunggu boarding ketika jalan keluar kota.

Ketika suatu saat seorang teman tersebut memberikan kaset lakon Sumantri Ngenger, niat saya yang utama, tadinya, adalah mengulang convert, karena yang versi terdahulu beraura mono. Namun ketika dikerjakan konvertnya, wah . . . Stereo!!!

Pemisahan kanal kiri dan kanan sangat terasa, membuat antusiasme mengkonvert tambah berkobar. Sayang waktu untuk mengunggah dan menulis bumbu lakon terkendala. Baru kali ini kami persembahkan kepada para rawuh, dan itupun hanya awalnya saja. Jangan khawatir, semua audio analog sudah selesai kami pindahkan ke kode biner.

Serupa tapi tak sama. Demikian kesimpulan ketika mendengarkan dialog jejeran di Maespati. Perbincangan yang cair diantara ketiga paraga, Prabu Arjuna Sasrabahu, Patih Surata dan Bambang Sumantri, tidak jauh seperti unggahan yang terdahulu. Tetapi kesan santai ketika Patih Surata yang menjadi pintu masuk kearah hadapan Prabu Arjuna Sasrabahu, ternyata dalam mewawancari Sumantri lebih nyaman dinikmati dibanding dengan yang versi terdahulu. Ini perasaan saya.

Hal yang sama dalam kesimpulan dialog diantara dua sanggit Sumantri Ngenger, adalah ketika Bambang Sumantri dengan sikap cumanthaka (jumawa) mengecilkan kesaktian dari yang hendak disuwitani, dengan kalimat : Sanget sanget ing atur panyuwun kula, mbok inggiha paduka sampun ngantos tindak ing negari Magada. Sampun ngantos kesesa ing penggalih nandhingi kridhaning para narendra manca negari. Inggih menawi paduka menang . . .

Dhodogan sasmita iringan gendhing ririh menjadi latar belakang narasi ketika Prabu Arjuna Sasrabahu merasa terpukul dadanya karena ucapan Sumantri yang secara lahir menyayangi Rajanya, tetapi secara kebatinan, ia telah mengecilkan kemampuan rajanya. Prabu Arjuna Sasrabahu turun dari tahtanya dan berjalan membelakangi kedua yang menghadap.

Kalimat diatas itulah yang membawa Bambang Sumantri terusir dari hadapan Prabu Harjuna Sasrabahu. Namun demikian, bawaannya Prabu Arjuna Sasrabahu sudah “jatuh cinta” kepada rupa dan tingkah serta aura Bambang Sumantri, maka patih Surata telah diperintahkan untuk menyusul Bambang Sumantri.

Namun kemudian, Sumantri direlakan pergi ke Magada, dengan syarat ia mau mengenakan busana yang diberikan. Bukan apa apa, sebagai duta Maespati,tidaklah Bambang Sumantri pantas mengenakan pakaian yang dinilai oleh Prabu Arjuna Sasrabahu berkelas bagai pakaian strata Sudra.

Patih Surata awalnya memarahi Sumantri seraya menakut-nakuti. Pada adegan Patih Surata dengan Bambang Sumantri yang intinya memberikan tugas; Pertama membubarkan kepungan para raja yang ada di Magada, dan keduanya memboyong Dewi Citrawati. Itulah kata Patih Surata menyambung titah gustinya, hal itulah yang bisa menebus kesalahan ketika Sumantri terpeleset kata.

Hanya sekilas adegan pagelaran njawi yang tidak umum ini. Namun dari dialog diantara keduanya terdengar wajar tetapi tetap saja mempesona, membuat kita seperti terbawa pada adegan diantara Patih Surata dengan Bambang Sumantri tersebut. Silakan disimak

Babak kedua dari lakon ini dimulai dengan bendrongan. Adalah ketika Raja Pudhak Setegal , Prabu Malaya Denta, juga salah satu menghendaki Dewi Citrawati. Adegan sabrangan yang kelihatannya merupakan adegan carangan, bagaimanapun tetap enak dinikmati dengan geculan Togog, mBilung dan Gustinya. Dan anda yang kangen dengan Uler Kambang, disini anda bisa menikmati.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2012/12/21/sumantri-ngenger-2-ki-nartosabdo/

Bagian ketiga dari delapan babakan chapter dimulai ketika sisa ujung dari Uler Kambang yang merupakan adegan Prabu Malaya Dhenta, raja Pudhak Setegal, yang tengah gandrung kapirangu alias tergila gila dengan sosok Dewi Citrawati terdengar. Dialog ketiga tokoh yang tertancap pada pakeliran walau tidak tervisualisasi, tetap saja menimbulkan keasyikan pada rongga imaginasi. mBilung dengan bahasa Indonesia yang separo-separo mengingatkan ketika tahun-tahun itu atau sebelumnya ketika banyak diantara orang Jawa yang masih belum “wasis” menggunakan bahasa Indonesia menjadi gambaran jaman tersebut.

Togog sang konsultan ditanya, bagaimana baiknya agar raja Pudhak Setegal dapat mempersunting Dewi Citrawati. Menurut Togog; wanita itu kalau diimingi harta, pasti menurut. Tetapi pertanyaan itu dibantahnya sediri oleh Malaya Dhenta. Menurutnya, syarat agar disenangi wanita adalah kulina, atau terbiasa. Kedua tenaga dan ketiganya barulah harta. Kedua terakhir dirinya merasa mampu, namun perkara kulina, Malaya Dhenta minta agar Togog membantu untuk dekat dengan Citrawati.

Singkat kata Prabu Malayadhenta berangkat ke Magada agar tidak ketinggalan dengan raja seribu Negara yang mempunyai hasrat yang sama.

***

Ridhu mawur mangawur-awur wurahan/tengaraning ajurit/ gong maguru gangsa teteg kadya butula/wor panjriting turangga-hesti/ rekatak ingkang/ dwaja lelayu sebit/.

Demikian pembuka perang gagal ketika Patih Pudhak Setegal, Patih Suwenda bentrok dngn Patih Maespati, Patih Surata. Begini sesumbar dari kedua tokoh antara lain:

SW: Padha semisiha saka dalan kene, bakal kanggo liwat gustiku Prabu Malaya Dhenta.
SR: Mbuh ora idhep iki dalane wong akeh.
SW: Wani kowe tak coba?!!
SR: Ngajak apa?!!
SW: Alus wani?!!
SR: Wani!!
SW: Kasar wani?!!
SR: Mapan gaweyanku!!
SW: Bagus !! Dak rangkul githokmu, dak tatapke wit gurdha, pecah sirahmu!!.
SR: Durung nganti kowe ngrangkul,dhadhamu wis kena ing pusakaku, keparat!!

Silakan dinikmati babak ini yang dengan disisipi palaran, hingga usai perang pada menit 20an. Kemudian babak sanga dimulai dengan pathetan. Sulukan ini dilagukan dengan sederhana, tapi dengan gaya apapun sanggit suluk pathet sanga ini, tetaplah sem bila dilagukan oleh Sang Maestro.

Sasmita gendhing Onang-onang mengantarkan kita menikmati jejeran di Jatisarana atau juga disebut juga pertapaan Anggrastina. Mohon maaf, bila suluk usai gending ini agak kasar terdengar. Keteledoran dalam memantau peak amplitude-lah yang membuat kemerduan Ki Narto agak terganggu.

Seperti yang terjadi pada lakon-lakon berisi Panakawan Protaginis yang dipentaskan beliau. Baik yang diseling dengan gara-gara atau langsung adegan pertapaan, sisipan pernahing unggah-ungguhing basa selalu diajarkan kepada kita para pemerhati kesusasteraan, Coba diperhatikan.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2012/12/24/sumantri-ngenger-3-ki-nartosabdo/

Kaset ketiga ini adalah yang paling susah tangguh-nya ketika dkonversi audionya ke digital. Tadinya diperkirakan inputnya overdrive. Tetapi bagaimanapun level diatur, tetap saja suara tidak mulus. Disimpulkan bahwa kasetnya telah terdegradasi. Sekali lagi, mohon maaf juga kali ini untuk kualitas convert-nya.

Dikisahkan bahwa Sumantri telah menghadap kepada Prabu Harjuna Sasrabahu, dan mengatakannnya hal tersebut kepada ayahnya. Ia telah menyatakan kesanggupan untuk suwita kepada rajanya, walau seandainya jabatan yang diperloleh-pun hanya sebagai seorang pekathik pangeroking kudhapun, ia bersedia. Sukur kalau ia diterima sebagai prajurit.

Namun kesalahan ucap telah menjadikannya terusir dari hadapan rajanya. Walau kemudian kesalahan itu telah dimaafkan, tetapi tugas berat telah diletakkan diatas pundaknya. Seketika itu, Sumantri teringat, bahwa ia belum menghadap ayahandanya untuk meminta restu atas tindakannya. Demikian jalan cerita yang telah ia alami, demikian pungkas cerita ketika pergi ke Maespati kepada ayahndanya.

Seperti lumrahnya plot dalam pedhalangan gagrak Surakarta, dimana saat blok adegan bambangan, dalam hal ini Bambang Sumantri . Orang muda yang digambarkan sedang giatnya ngangsu kawruh, maka nasehat seorang guru yang digambarkan disini sebagai sosok Begawan Swandagni, menasihati murid sekaligus anak didiknya dengan nasihat untuk bekal langkah menghadapi kerasnya tantangan riil dunia.

Bila diterjemahkan secara bebas, mungkin inilah kata bijak sang guru ketika ia menasihati anak muridnya.

Walaupun kamu dekat dengan orang besar, tetapi hendaklah tidak menjadikanmu besar kepala. Ingatlah, segala apapun yang menjadi kehendak diri, syaratnya hanyalah kamu haru berlaku mantap dan disiplin. Bila para pembesar dan para suci mencari pengikut, mereka akan dijajagi terlebih dulu siapa, seberapa takaran keluhuran jiwanya, dan siapa yang pantas mengabdi kepada Negara. Terlebih lagi ia akan mencari siapa pribadi terpilih itu yang nantinya bakal pantas diteladani.

Maka nasihatku kali ini adalah, berangkatlah ke Magada. Hanya hal yang harus kamu ingat, manusia itu pada dasarnya memiliki nafsu menguasai terhadap segala apapun. Manusia itu selalu punya nafsu besar untuk memiliki apapun. Maka harusnya tidak sekalipun kamu ingin memiliki yang bukan milikmu, walaupun itu telah jelas nampak didepan mata.

Sifat tidak sabar dan kurang perhitungan, tidak seyogyanya kamu lakkukan dalam tata pergaulan di masyarakat. Haruslah kamu memegang teguh ajaran tridarma ; tiga kewajiban. Tiga kewajiban yang secara laku harus dijalankan seperti ini:

  1. Bila merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaganya dengan teguh. Haruslah bersikap mulat sarira hangrasa wani. Artinya berani melakukan mawas-diri. Jangan gampang menyalahkan orang lain dan merasa hanya diri dan kelompoknya sendiri yang paling benar.
  2. Haruslah engkau melakukan hal yang empat; selalu mengagungkan tuhanmu. Kedua,selalu menjalankan laku panembah. Dan ketiganya, ucapkan delapan perkara yang semua berarti benar. Dan yang terakhir, tetaplah selalu tekun dalam belajar. Sebab ilmu itu bila diupamakan, bila kita berjalan melintas dalam gelap, akan menjadi penerang. Bila menapak dalam licinnya jalan bisa menjadi tongkat penyangga dan begitu seterusnya.
  3. Dan terakhir, tetaplah eling dan waspada.

Begitulah nasihat sang guru menjadi bekal penyempurna untuk mengarungi hidup bagi orang muda yang hendak turun gunung. Bambangan yang sebagai sanepan anak muda ketika ia ia telah tamat dalam menuntut ilmu dan hendak terjun ke masyarakat.

Lelungsen tak bebakali, pangestuku marang kowe; hayu-hayu rahayu niskala, demikian ucap restu terakhir disertai sendon 9. pengiring bedholan Bambang Sumantri dari hadapan ayahndanya:

Palugon laguning lekas /lukita linuding kidung/kadung kadereng amomong memangun manah rahayu/.

Setelah Bambang Sumantri lengser, adegan penawakawan dan cantrik dengan segala gerr yang diciptakan oleh kedua pihak menguasai panggung, hingga menjelang akhir dari 60 menit ketiga unggahan Sumantri Ngenger ini.

Dimulai ketika Semar dengan euphimisme bahasa yang dirakit memet, ketika ia minta sangu. Diiringi awalan Mijil barang miring lagon dari Ki Lurah Semar, kemudian diteruskan dengan Witing Klapa. Ini kata Semar dengan segala putar-puter kata yang ujungnya minta bekal uang.

Bahwa dijalan banyak peristiwa dapat ditemui. Ada pedagang, pasar juga ada. Jangan dianggap pasar kalau tidak ada yang beli. Disana aku hendak menggenapi apa itu yang namanya pasar dengan menjadi pembeli. Tapi kantong ini kosong. Begitu awal pembukaan yang njlimet Semar ketika minta dibekali, yang berakhir kosong.

Tidak dapat sangu juga dari cantrik, Semar undur diri dengan menembang Pucung, bersambung dengan Rujak Jeruk. Tinggallah Gareng yang juga dengan kalilmat berbelit belit juga minta sangu, namun salah terap. Setelah undurnya Sang Begawan, kemudian tinggallah cantrik dengan anak-anak Semar dengan segala polah lucunya.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2013/07/19/sumantri-ngenger-iv-ki-nartosabdo/

Mari kita lanjutkan kembali nikmatnya sajian Ki Narto dalam melakonkan Sumantri Ngenger yang sudah lama tertunda. Kenapa? Akun saya yang memuat banyak unggahan di mediafire tidak lagi bisa diakses, karena password lama kurang banyak hurufnya. Celakanya, e-mail yang untuk login menggunakan e-mail kantor lama yang sudah berubah servernya. Terpaksa unggahan diulang lagi L. Ada yang bisa kasih solusi?

Adegan di Pertapan Jatisarana berlangsung cepat. Bandelnya Sukasrana yang tidak mempan oleh berbagai nasihat Bapaknya, diceritakan hanya sebentar. Sukasarana menampik nasihat Resi Swandagni dan pergi tanpa bisa ditahan lagi. Begitu lepas dari hadapan ayahnya, kesaktian Sukasarana mampu melacak arah perginya Sumantri. Tersusul oleh adiknya, kebohongan yang akhirnya keluar dari mulut Sumantri. Kebohongan yang diucapkan Sumantri, bahwa ia pergi hanya mencarikan mainan untuk dirinya yang berupa anak kijang, tidak dipercaya begitu saja oleh Sukasarana.

Disini humor segar yang mengolok kata-kata pelo dari Sukasarana oleh para penakawan, meningkahi adegan. Ke”peloan” Sukasarana dipancing penakawan hingga Sukasarana keluar normalnya. Sumantri kemudian mengeluarkan jurus bohongnya yang lain. Ia melela adiknya denga Sinom Parijotho, dengan arti maksud lagu kurang-lebihnya; bahwa setelah buntu akal budi karena menahan rasa ragu, maka berganti menjadi keberanian dalam hatinya. Walau ia berlaku acuh, namun dalam hatinya begitu khidmad dalam meminta maaf dari yang kuasa. Hingga akhirnya dapat menyingkirkan kemurkaan musuh.

Demikan menghanyutkan alunan Sinom Parijotho ditelinga Sukasarana. Terlelap Sukasarana yang kemudian ditinggal diam-diam oleh Sumantri dan para panakawan. Walau diganggu oleh tingkah Bagong yang berbuat sembrono, Sukasarana tetap tertidur hingga beberapa saat. Sadar dirinya telah ditinggal oleh kakaknya ketika Sukasarana terbangun, ia bergegas menyusul Sumantri yang diperkirakan olehnya, bahwa tak akan berhasil cita-cita Sumantri bila tidak dibantu olehnya.

****

Perang Kembang. Ketika Raden Sumantri telah menyasar ke tengah hutan. Begini kurang lebih ketika Ki Nartasabdo menggambarkan situasi ketika mengiringi kemunculan barisan raksasa dari Ngawu-awu langit:

Saya manengah tindaknya Bambang Sumantri, tan nyipta pringga bayaning margi. Tan ketang durgama ing hawan. Geger buron wana warak, andaka, sima, ajag, lutung. Menawa bisa tata jalma, teka mangkana pangucape: “ heh batur, padha miyak- suminggaha, katitik sumlamar gandane kang lenga jayeng katon. Kae dudu wong ala-ala, kae trahing kusuma rembesing madu, tedhaking atapa, turunne kang andana warih. Aja ta amung kegepok salirane, senajan kapidak wayangane gedhe walate. Heh kanca, mire . . . mire . . . . mire . . . . .”. Sak . . sak. . . . gropak-gedebug sakala pindha sinapon.

Sinigeg kang lumaksana, madyaning wana ana barisaning denawa saka Negara Ngawu-awu langit. Wantuning raksasa mambu gandaning kang lenga Jayengkaton. mBoten saranta jumendhul saking grumbul, nyampe panging kekayon, pating gropak pating jletot swarane.

Bila diterjemahkan dengan bebas, mungkin begini bunyinya: Makin ketengah hutan Bambang Sumantri melangkah, tidak mempedulikan bahaya yang mengadang jalan. Juga tidak menghitung adanya jebakan di didepannya. Geger hewan hutan seperti badak, banteng, singa, ajag, lutung. Upama mereka bisa berbicara, mungkin begini kata-katanya: “heh teman semua, mari kita menyingkir, kerena tercium harum bau minyak Jayengkaton. Itu (pertanda) bukan manusia sembarang, tetapi dia adalah keturunan orang terhormat. Jangankan tersentuh tubuhnya, walau kita terinjak bayangannya-pun akan besar bahayanya. Teman, menyingkirlah . . . . .”. Sak . . . . sak . . . gropak-gedebuk, seketika tempat itu bersih bagai tersapu.

Kita tinggalkan yang sedang berjalan, ditengah hutan berbaris para raksasa dari Negara Ngawu-awu langit. Watak dari para raksasa yang membaui harum minyak Jayengkaton. Mereka tidak sabar muncul dari balik semak, menyambar dahan pepohonan dengan disertai suara yang berderak.

Tentu kemudian para raksasa bisa ditaklukkan. Dan pada seri ini, cerita ditutup dengan adegan di Negara Magada. Ketika itu Prabu Citragada sedang duduk di singgahsana, dihadap oleh putri Sang Prabu, Dewi Citrawati. Dibelakang Citrawati, adalah adiknya yang bernama Raden Citrasena.

Bayangan bayem mbayeyet agung ngrembuyung/ruwe-ruwe ring rawan kara taru turi/ karandhan kundhang/kedhondhong ndhendheng kasandhing/ kumedhungan kudhi/thenguk-thenguk manguk . . . demikian suluk yang mengawali adegan antawacana antara bapak anak di Magada, sekaligus mengakhiri babakan seri 4. Sendhon yang penuh irama pengulangan bunyi pada akhiran kata, yang jarang dikeluarkan oleh Ki Nartosabdo pada banyak lakon yang dipentaskannya.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2013/07/24/sumantri-ngenger-6-ki-nartosabdo/

Prabu Citradarma yang masgul karena rakyatnya yang sejumlah selawe kethi dan membutuhkan ketentraman, keraharjaan, kebahagiaan dan tercukupi sandang pangannya telah terusik. Sedangkan hasrat rakyat Magada akan hal itu saat ini sedang teruji oleh suasana genting Negara. Semua masalah sebenarnya akan terselesaikan oleh ucapan seorang saja. Ucapan sekar kedhaton Dewi Citrawati. Dewi Citrawati yang mendengar ucapan ayahandanya akan empat harapan rakyat Magada meminta penjelasan lebih lanjut, mengapa hal yang demikian bisa terjadi dan apa hubungannya dengan dirinya. Walau ia sudah menebak, kemana arah penjelasan dari ayahandanya.

Dijelaskan oleh ayahnya, bahwa pada saat ini Magada telah didatangi oleh para raja dari banyak negara. Dan mereka berkehendak sama. Mereka ingin menjadikan sekar kedhaton, Citrawati, sebagai istri. Dari kebandelan Citrawati yang masih menampik keinginan dari banyak pendatang yang tunggal keinginannya, membuat ibundanya selalu menitikkan air mata yang tak lagi bisa dibendung, bila melihat gawatnya negara.

Citrawati diminta tolong oleh ayahndanya agar ia dapat mengentaskan kecemasan rakyatnya serta meredakan kesedihan ibundanya. Prabu Citradarma mendesak, agar Citrawati dengan segera memilih salah satu dari raja pendatang yang menginginkannya sebagai istri. Dijelaskan oleh Sang Prabu, demikian gemuruh suara dari para raja pendatang, dan macam ragam ucapan para raja tersebut. Ada yang berani mati serah jiwa. Sementara ada raja yang mengerahkan wadya bala ataupun mempertaruhkan negaranya demi untuk mendapatkan cinta Citrawati.

Pada kenyataannya adalah suatu kebanggan, bahwa Citrawati adalah putri raja yang diperebutkan oleh para raja. Itu sama halnya, bahwa ia telah meninggikan derajat raja serta negara. Namun pada saat yang sama, demikian besar harapan ayahnda, agar Citrawati jangan berulah untuk menampik dan hendaknya menerima salah satu dari mereka demi keselamatan negara dan rakyatnya.

“Rama, dosa apakah yang hamba terima jika menolak kehendak dari ayahnda yang merupakan pengayoman hamba. Bahkan hamba sudah anggap paduka sebagai dewa sesembahan. Tetapi ketahuilah rama, apakah suatu kewajaran bila hamba menikah oleh keterpaksaan. Keterpaksaan dalam perjodohan menurut kebiasaan yang sudah berlangsun, sering kali hanya berlangsung sesaat saja. . . “ demikian sebagian dari pembelaan Citrawati.

Alasan yang dikemukakan oleh Citrawati dimengerti. Prabu Citradarma mengusap dadanya. Dalam hatinya yang kemudian terlahir dalam ucapan, ia mengeluhkan beratnya menjadi seorang ayah dari seorang putri yang sedang menapaki kedewasaannya.

Kata Sang Prabu, ketika putrinya masih ujud bayi, setiap kali ia terbangun dimalam hari oleh rewelnya anak, ia dengan senang hati merawat, bahkan digendongnya putrinya dengan tumpahan kasih sayang. Saking bangga serta sayangnya, dibuainya putrinya dengan kain sutra. Tetapi ketika sudah dewasa, kejadiannya bisa dikatakan melenceng dari harapan yang diangankan semula. Mrucut saka ngembanan, luput saka kudangan.

Ia mengeluhkan, bagaimana sulitnya ia kini ketika hendak memulai dasar rembugan, bahwa pada kenyataannya, semua yang dikatakan putrinya adalah suatu kebenaran. Sarambut ora luput, satengu ora kleru. Tetapi Sang Prabu akhirnya mengingatkan, bahwa manusia adalah diwajibkan ihtiar dan berusaha, agar semua yang dijumpai nanti adalah berujud kebahagiaan dan kemuliaan.

Namun lain halnya, Prabu Citradarma sangat sangat mengkhawatirkan, bagaimana rusaknya negara Magada bila Citrawati tetap kukuh menolak keinginan ayahnya dan hanya menuruti ketetapan hatinya. Yang diketahui oleh Citrasena yang akhirnya berkata jujur, bahwa kakaknya, Citrawati masih merasa berhutang budi kepada kedua orang tuanya. Citrawati belum merasa imbang dalam memberikan balasan kasih sayang kepada kedua orang tuanya, namun ia harus berpisah karena menikah dan dibawa suami ke tempat jauh.

Ungkapan Citrasena melapangkan jalan apa yang harusnya ditempuh dalam mengatasi keruwetan ini. Nasihat yang menjelaskan arti dari kasih sayang orang tua dalam membesarkan anak-anaknya membuat Citrawati menjadi lebih paham. Dikatakan, bahwa kasih orang tua kepada anaknya adalah terbatas dalam suatu kurun waktu. Bila nanti ia sudah bersuami atau beristri, hendaknya cinta itu dibagi menjadi dua. Pertama adalah kasih kepada orang tua, dan kedua dalam hal ini kepada suami.

Bila kedua hal tersebut sudah dapat diterapkan, maka hal ini akan menjadi ibarat tetunggalan antara lahir dan batin. Batin berbakti kepada orang tua, lahir melayani suami. Inilah tempat yang sebenarnya tepat dilakukan oleh seorang anak dalam melakukan bakti kepada kedua orang tuanya.

Begitu gamblang, dalam, penuh makna serta jelas nasihat Ki Nartosabdo melalui adegan di Puraya-gung Negara Magada. Nasihat lawas yang sampai saat ini masih update, utamanya bagi orang tua yang mempunyai putri yang sedang beranjak dewasa. Suatu contoh yang mengena kepada kita, utamanya saya sendiri yang mempunyai masalah yang sama dalam menghadapi anak wanita yang beranjak dewasa. Bagi para orang tua yang mempunyai hanya anak perempun yang masih kecil, waspadalah!

**

Ayak-ayak manyura diiring kombangan Ki Nartosabdo dengan cakepan selaras gending, kawuryan kang gaduh mayang mekar, nyirik nyongklang kudanya den candhet miring. Kombangan mengiringi suasana puraya-gung keperbawaan oleh putrinya yang masih belum mengucapkan kesanggupannya memilih salah satu pelamar, walau satu kalimatpun. Maka Citrawati hanya sedhakep tertunduk. Dan adiknya, Raden Citrasena yang hanya tertegun bingung, macam-macam yang berkecamuk pikiran memenuhi benaknya. Ia setuju dengan gagasan orang tuanya, bahwa bila tak ada satupun pelamar yang dipilih, tidak urung Magada akan menjadi lautan api.

Keindahan rangkaian kalimat yang terucap dari narasi suasana senyap di pisowanan Magada hingga kedatangan Sumantri, tidak dapat tertandingi pesonanya. Malah bila terjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, narasi akan kehilangan keindahannya: Dhedhep tidem swasana jro puraya-gung Negara Magada. Kaperbawan legeging penggalih Sang Nata ingkang dereng rumaos lega awit sangking wangkoting putra Dewi Citrawati, senadyan saklimah kewala dereng wonten narendra ingkang minongka pepilihane. Mula anggung tumungkul pasemone Dewi Citrawati saraya sedhakep kang asta.

Amung Raden Citrasena ingkang anggung bingung bilulungan, waneh waneh kang ginagas. Cundhuk lang pangandikane ingkang rama, yen tan ana sawiji kang pinilih, tan wurunga ing Magada cinadhang dadi karang-abang.

Wauta, geder kang samya jejagi ing reregol, mulat ana satriya bagus anganthi repat panakawan catur. Gya linarapake minggah ing pendhapi ageng, repepeh-repepeh kaya sata mriyembada.

**

Status sebagai sekar kedhaton membuat Citarawati kesulitan menjaga kesusilaan sehingga sikapnya menjadi serba gelisah dengan kedatangan pria yang membuat hatinya terpaut. Namun Bambang Sumantri mengaku, bahwa ia yang berpangkat jajar, adalah hanya sebagai utusan Prabu Harjuna Sasrabahu yang hendak meminang Sekar Kedhaton, Dewi Citrawati.

Setelah menyatakan maksud kedatangannya kepada Prabu Citradarma, Sumantri diperbolehkan lengser dari puraya-gung untuk sementara. Ketika Bambang Sumantri sudah keluar dari puraya-gung untuk menantikan keputusan, Citrasena yang juga telah condong menerima lamaran untuk kakandanya, kemudian mendongengkan sekilas siapa Sri Harjuna Sasrabahu sebagai titis Wisnu. Tujuannya tentu saja agar bagaimana Citrawati menerima lamaran dari utusan seorang Bambang Sumantri untuk rajanya. Dikatakan, bahwa bila kakaknya menerima lamarannya, tidak hanya Citrawati seorang yang nantinya memperoleh kehormatan menjadi istri titis Wisnu. Rasa bahagia juga akan dinikmati oleh seluruh rakyat Magada.

Bersedia secara bagaimana Citrawati menerima salah satu calon suami, tetapi secara berkebalikan ia masih tetap teguh menolak kemauan ayah dan saudaranya? Juga dikatakan bahwa ia rela mati walau sejumlah dewa turun melamar, sebab dalam hatinya masih belum trep dalam melayani pria.

Dalam babak ini anda akan dibawa pesona suatu sanggit antawecana hebat. Inilah salah satu macam kekuatan sanggit berliku yang terkadang sangat sulit dilacak sampai dimana ujung dari dialog dalam suatu plot jejeran yang dilakonkan oleh Sang Maestro.

http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2013/11/13/sumantri-ngenger-vi-tancep-kayon-ki-nartosabdo/

Sumantri: Adhiku dhi, Sukasarana

Sukasarana: Aku elu ya akang?!

Sumantri: Ya . . . pun Kakang ora bakal cidra kabeh kang wus tak ucapake bakal dadi kasunyatan. Kae rungokna Sukasarana, ana tetabuhan umyung. Tengara bendhe munya mangungkung, minangka pertandha, kanjeng Sri Narendra bakal tedhak ing taman Sriwedari. Kowe umpetan luwih dhisik, wong bagus . .
Sukasarana: Emoh . . aku kepengin weruh retune kok. Aku kepengin weruh retune, aku emoh alih –alih ya akang . . . aku engko yen ditakoni ratumu, andakna aku batulmu, ning aku elu. Kang . . .

Petruk: mBok niku ditampa ah, mesakke. Sing menehi syarat kok mboten ditampa niku kepripun

Sumantri: Sukasarana, ora gampang suwita ing ratu. Ya dene yen ketampa. Yen ora, ora wurung aku keluputan. Kowe baliya disik marang pertapan wong bagus. Aja dadi muringingpun kakang kowe baliya dhisik, wong bagus . . . .

Iringan Tlutur mungel lajeng kasirep ririh nyarengi adegan Sumantri njempalani ingkang rayi kados ing ngandhap.

Sukasarana: Kang . . . . aku emoh keri, aku melu kowe, Kang.

Sumantri: Aja gawe wiranging pun kakang, kowe semingkira dhisik. Sukasarana . . . apa klakon aku mara tangan

Petruk: nDara ah, eling . . .

Bagong: nDaraaa eliiing.

Petruk : Niku adhimu melu lara lapa ora jeneng . . . .

Sukasrana: Adhuh mati aku kang . . .

Sumantri: Aja kebacut kowe lara, kowe baliya dhisik, wong bagus

Sukasarana: Emoh akang, aku kok kongkon ngidul ya ngidul. Ngalorl ya ngalol, bareng klakon aku dikon minggat, aku emoh pisah karo kowe . . . . .

Petruk: nDara ampun plak-plek

Bagong: nDara Sumantri wong bagus kok mentalan huuu . . .

Sukasarana: Aduh mati aku kang . . .

Kocap kacarita nalika semana, saya caket swantening tetabuhan umyung. Tandha tedhaking Sang Nata marang taman Sriwedari. Wauta, saya kisruh penggalihe Bambang Sumantri. Padha sakala rekatak musthi warastra angembat langkap, ing pengangkah kinarya angagar-agari bambang Sukasarana. Noleh nganan-ngering, ngarsa miwah ing pungkur, miyarsa tetabuhan kang umyung. Anggrahita Bambang Sukasarana, lamun Sang Raka rumaos lingsem dipun dhereki. Padha sanalika ponang warastra sinaut pribadi dening bambang Sukasarana. Suduk salira lampus dhiri . . . . . .

****

Itulah yang tergambar pada Lakon Sumantri Ngenger versi lain dari Pagelaran yan dilakonkan oleh Ki Nartosabdo. Akhir yang tragis dari suatu pengabdian seorang adik terhadap kakaknya, namun dibalas dengan kematian hanya karena gengsi.

Versi yang controversial. Karena terbanyak dari yang dilakonkan baik dalam wayang kulit maupun wayang wong yang pernah saya dengar maupun lihat, bahwa Sukasarana terkena oleh panah Sumantri atas ketidak sengajaan. Keringat Sumantri yang membasahi tangannya karena kegugupan mendengar suara bendhe pertanda kedatangan rajanya, membuat licin pegangan gendewa, yang akhirnya panah meluncur mengenai Sang Sukasarana.

Namun pada pagelaran ini, ceritanya lain. Merasa dirinya memang menjadi duri dalam daging, Sukasarana mengalah demi kemukten kakaknya. Sebuah akhir pengabdian yang berujung sama tragisnya seperti pada versi lain. Pada pagelaran lainpun, Ki Narto pernah melakonkan dengan versi, bahwa kelalaian Sumantri telah menyebabkan panah tidak sengaja menghajar tubuh Sukasarana.

Nah, kali ini lakon tetap sama Sumantri Ngenger, namun diupamakan makanan, maka kali ini, lakon diolah dengan bumbu yang berbeda.

Rasanya? Kalau kokinya Ki Nartasabdo, apapun yang dihidangkan, pasti citarasa tetaplah tinggi.

Bagi yang sudah duluan nyicipi, enak to? Dan yang belum silakan dicicipi:

 

KNS : Lakon Banjaran (New)


Saya mencoba menyusun ulang koleksi-koleksi dari para dalang yang sudah ada di blog ini dengan tujuan agar lebih tertata dan menarik. Memang akan memakan waktu cukup lama untuk menyusun ulang lagi karena harus mereview setiap lakon serta menuangkannya dalam narasi yang berkesinambungan dengan lakon-lakon lain.

Tapi nggak ada salahnya kalau kita mulai. Bagi yang berkenan dapat juga membantu untuk menyusun ulang lakon-lakon yang ada disertai dengan narasi tentang jalan cerita, kualitas rekaman, hal-hal yang menarik di lakon tersebut serta nilai yang dapat diambil.

Banjaran Bisma

Prabu Pratipa adalah ayah dari Prabu Santanu . Suatu saat di tengah semedi muncul wanodya berada di dekatnya dan ternyata adalah seorang hapsari bernama Dewi Gangga yang ingin menjadi istri Prabu Pratipa. Prabu Pratipa menolak dengan halus namun berjanji bahwa suatu saat Dewi Gangga akan diambil mantu. Hingga akhirnya saat Prabu Santanu tengah menyusuri sungai Gangga, dia bertemu dengan Dewi Gangga dan akhirnya kemudian menjadi permaisuri kerajaan Astina.

Namun sudah cukup lama usia pernikahan, Dewi Gangga belum mau di sentuh oleh Prabu Sentanu sehingga membuat Prabu Sentanu sedih dan menumpahkannya kepada Patih Mandrawa. Hingga setelah dibujuk dengan berbagai rayuan, akhirnya Dewi Gangga mau melaksanakan kewajiban sebagai istri dengan meminta syarat yang harus dipenuhi oleh suaminya.

Dengan bahasa yang sangat indah, KNS menceritakan bujuk rayu seorang suami yang begitu dirundung cinta dan ingin bercumbu dengan istrinya sendiri.

Syaratnya adalah Prabu Sentanu tidak boleh bertanya atau melarang bila saat Dewi Gangga melahirkan putranya maka akan di buangnya. Meskipun sangat berat akhirnya Prabu Santanu menyetujuinya.

Benar saja, saat lahir anak yang bertama, Dewi Gangga langsung membuangnya ke sungai. Prabu Santanu tidak bisa berbuat apa-apa.

Hingga anak yang ke-9 lahirlah seorang anak laki-laki yang cemerlang, tampan dan terlihat agung. Meskipun mengingkari janjinya, akhirnya tak tahan Prabu Santanu kemudian melarang istrinya untuk membuang ke sungai saat Dewi Gangga meminta untuk segera dibuang.

Akhirnya sesuai dengan perjanjian sebelumnya, Dewi Gangga kembali ke kahyangan dengan meninggalkan bayi yang kemudian diberi nama Dewabrata, Raden Ganggaya, Raden Cahnawisuta.

Ikuti kisah menarik Dewabrata, masa kecil, dewasa, kisah kasih dengan Dewi Amba yang terhalang sumpah wadat Dewabrata.

Hingga saat perang Baratayudha, saat tidak mau tidak Bisma harus membela Kurawa dan kemudian menemui ajal ditangan cucu-cucunya Pandawa, Bisma memilih mati sebagai seorang ksatria dengan meminum darah para satria yang gugur di peperangan dan tidur di dipan susunan anak panah dan tombak.

Sungguh indah kisah Bisma ini dibawakan oleh KNS. Selamat menikmati

Banjaran Karna

Perjalanan hidup seorang anak Kunthi, saudara tua dari para Pandawa. Dari saat muncul ke dunia yang tidak diharapkan, kemudian dibuang ke sungai layaknya sampah menjijikan dan tiada berguna hanya karena menghindari aib negara Mandura. Pilihan berat bagi Kunthi memang, antara pisah dengan anaknya dan pertaruhan besar untuk mempertahankan kehormatan ayahnya.

Akhirnya atas upaya Resi Druwasa, bayi merah tanpa dosa tersebut dilarung ke sungai Gangga dengan diberi nama Raden Karna Basusena (sena=anak, basu=matahari, karna=sorot).

Masa remaja dilalui bersama “orang tua angkat” yang menemukannya di sungai, hingga akhirnya ditampung dan dimulyakan oleh Duryudana yang bersaing dengan pandawa saat menerima pengajaran dari Begawan Dorna.

Hingga saat perang Baratayudha pecah, Karna tetap bersikukuh untuk tetap mengabdi untuk membalas budi terhadap Duryudana. Meskipun sudah beberapa duta telah memberi nasehat, bahkan ibundanya Kunthi yang menangis mengharap untuk berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya Pandawa.

Segmen ini begitu menyentuh, satu pilihan harus ditetapkan dari alternatif yang sama-sama pahit. Bertanding dengan saudara kandung sendiri, Arjuna, atau mengingkari jiwa ksatria.

Dan pilihan itulah yang mengantarkannya menemui ajal sebagai seorang senopati ditangan adiknya sendiri.

Banyak nilai yang dapat kita manfaatkan dari kisah perjalanan hidup Karna Basusena ini dan selamat menikmati.

Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)

Banjaran Bima

Satria nomor dua Pandawa yang menjadi benteng pelindung saudara-saudaranya dan ibunya dari berbagai kesengsaraan dan perlakuan menyakitkan dari kurawa.

Lahir secara aneh dibelit bungkus (bimo bungkus) dan kemudian menjadi begitu perkasa dan memiliki banyak kesaktian tiada tara, itulah Bima.

Perjalanan hidup seorang satria utama nan perkasa hingga di akhir cerita akhirnya menuntaskan hidup Duryudana dalam akhir-akhir perang Baratayudha.

Banjaran Arjuna I

Menceritakan perjalanan Arjuna dari kelahirannya sampai bertemu dengan calon istrinya “Wara Sumbadra”

Banjaran Arjuna II

Diawali dengan nelangsa Kunthi yang merasa kasihan atas nasib Arjuna yang ternyata untuk melamar Wara Sumbadra diminta untuk memenuhi persyaratan yang sangat berat oleh Prabu Baladewa dan Prabu Kresna, kakak-kakak Wara Sumbadra. Namun dengan bijak Resi Abiyasa memberikan petunjuk dan solusi untuk segera memenuhi permintaan itu.

Cerita diakhiri dengan kisah pertempuran di Baratayudha saat melawan saudara tuanya, Karna (lakon Karna Tanding)

Versi Lain unggahan dapat diunduh disini : http://www.4shared.com/folder/kYdUXSc9/06_online.html

Banjaran Gatotkaca

Gatotkaca adalah sosok yang luar biasa. Dari saat lahir, putra Bima dengan Arimibi ini, mengalami peristiwa yang luar biasa di kahyangan sehingga memperoleh kesaktian yang tiada tara.

Perjalanan hidup Gatotkaca penuh liku jalan satria. Hingga kemudian menemui ajal sebagai pahlawan dalam perang Baratyudha sebagai senapati perang ditangan Senapati Kurawa, Karna Basusena.

Adegan saat-saat pralaya Gatotkaca sangat indah diceritakan oleh KNS di akhir-akhir cerita.

Versi unggahan lain, dapat diunduh disini : KNS : Banjaran Tetuka

Banjaran Druna

Tokoh yang menarik. Sebagai guru dari Pandawa dan Kurawa, keilmuan dan kedigdayaan Durna tidak diragukan. Namun di sepanjang kisah perjalanan hidup Pandawa Kurawa, sering Durna diidentikan sebagai “pemihak” Kurawa yang membabi buta. Terkenal sebagai pandita yang licik menggunakan segala tipu daya dan kelicikan untuk memenuhi permintaan Duryudana dalam mengenyahkan Pandawa.

Namun bagaimanapun Durna adalah seorang guru besar bagi Astina, bagi Pandawa dan Kurawa. Seorang guru yang sungguh dihormati oleh para Pandawa sekalipun. Hingga setelah berakhir perang Baratayudha, saat para Kurawa, Karna dan Durna telah gugur dan Pandawa memenangkan perang besar itu, tetap menyisakan kepedihan yang dalam. Dan saat Pandawa, Kresna, Baladewa segera mengakhiri kehidupan di dunia, dalam perjalanannya menemukan arwah Pandita Durna dalam wujud seekor kuda. Disinilah kebijaksanaan seorang Bima yang merasa berhutang budi terhadap Gurunya sehingga kemudian membantu melepaskan suksma Durna.

KNS : Banjaran Tetuka


banjaran gathutkaca

Sumber : http://maspatikrajadewaku.wordpress.com/2012/08/08/banjaran-gathutkaca-ki-nartosabdo/

Satu lagi file audio wayang karya besar Ki Nartosabdo kami persembahkan untuk penikmat wayang purwa yang “pure wayang”. Lakon dalam file  ini bukan kami yang pertama mengunggah di Internet, tapi ini adalah yang sudah kesekian kalinya. Kami unggah bukan karena apa-apa, kecuali kami dititipi pesan dari yang punya koleksi kaset, bahwa ada karya beliau yang menurutnya sangat sayang kalau hanya disimpan sendiri. Kemauan bapak yang satu ini, tentu saja selaras dengan keinginan kami. Kami sendiripun sangat ingin membagi kesenangan akan kesenian wayang yang dikatakan orang sebagai seni adi luhung. Juga sembari berharap, barangkali yang kami bagikan lebih mudah didapat dengan mendonlod content dari file yang saya olah dan unggah ini.

Sekali lagi saya sampaikan, bahwa usaha menyebarkan file Ki Nartosabdo adalah semata-mata untuk memperkenalkan kepada masyarakat lintas generasi, bahwa pada saat itu, seni pertunjukan wayang adalah seperti ini. Sajian yang benar-benar berbudaya dan bersastra tinggi. Dan pasti banyak jauh berbeda dengan apa yang terlihat pada pertunjukan wayang di masa sekarang, yang saya nilai sudah disusupi pertunjukan yang bukan lagi wayang.

Sebagai gambaran, peran dalang disaat itu, dalam hal ini Ki Nartosabdo, adalah benar-benar sebagai tokoh sentral dari pertunjukan. Tidak perlu kekuatan lain disekitarnya yang diperlukan untuk mendongkrak performanya hingga penonton terpaku ditempat duduknya. Dan dengan kepiawaian beliau sendiri, ia mampu mejadikannya sebagai seorang dirigen untuk para crew, dan pengikat para penonton hingga akhir pertunjukan.

Keprihatinan banyak pihak terhadap seni Wayang saat sekarang yang sebagian besar berpendapat pertunjukan wayang sudah digunakan dengan cara diluar wayang, maka dengan langkah membagi file pagelaran wayang yang sebenarnya ini dan kemudian downloader membandingkannya dengan wayang yang ditemui pada saat sekarang, maka setidaknya didapati kesimpulan, apakah masih pantas pertunjukan wayang masa sekarang masih berlabel adi-luhung, ataukah sudah tidak ada bedanya dengan pertunjukan kontemporer lain yang sekarang tengah marak. Tetapi mendahului pendapat anda para pembaca, menurut pendapat kami, pertunjukan wayang masa sekarang pada umumnya sudah melenceng dari arti adi-luhung

Maka ada sebagian orang merindukan pagelaran berbudaya tinggi seperti pada saat itu. Kemudian muncul pendapat bahwa, bila ingin mengembalikan pertunjukan wayang kearah pertunjukan budaya wayang adalah dengan menanggap wayang dengan garap klasik. Tetapi lagi menurut saya, hal itu tidak sepenuhnya effektif. Pegelaran dengan biaya mahal pada umumnya dengan frekuensi yang sporadis tidak akan mampu mengangkat wayang yang “berbudaya dan bersastra wayang” dan kemudian berpengaruh terhadap selera jelata.

Gempuran massif wayang dengan genre campuran bermacam seni kotemporer lain yang hanya menyisakan sedikit alur cerita wayang, lebih banyak berpengaruh terhadap masyarakat penonton. Frekuensi penayangan atau pertunjukan wayang kotemporer yang sangat tinggi dibanding dengan bila kita sebagai pecinta budaya wayang menanggap-nya membuat pecinta pure wayang yang menanggap wayang klasik, bagai menabur garam dilautan. Biaya yang dirogoh dari kantong kita dengan dalam bila dihitung peluang untuk mempengaruhi masyarakat agar kembali ke seni klasik ini tidak sepadan.

Pertunjukan wayang memang bagi kebanyakan masyarakat adalah mahal. Pertunjukan wayang dengan biaya gula kopi, saya istilahkan, memang ada. Tapi ini adalah hal yang  hanya bersifat kasuistis. Untuk masyarakat umum yang tidak ada koneksi, minimal sedikit diatas sepuluh juta untuk honor dalang kampung, dan mencapai 75 juta bahkan lebih, net, untuk dalang top, kita harus merogoh kantong untuk itu.

Pun bila kita menanggap wayang secara kolektif dan menampilkan gaya klasik hanya bisa dibilang sebagai pemuas dahaga kelompok yang tidak menyentuh masyarakat luas. Kasarnya sekedar (ma’af) onani pemuas diri sendiri saja, karena pertunjukan seperti ini pasti dijauhi awam. Penikmat pure wayang pada saat ini secara feeling (IMHO, sekali lagi hanya feeling bukan data) jumlahnya minoritas dibandingkan dengan penggemar wayang jelata.

Pertanyaannya, terus bagaimana dong?! Menurut pendapat saya, bola ada dikaki pelaku seni. Seberapa kuat tekanan dari penanggap yang memaksakan pertunjukan digarap dengan seleranya, seharusnya ditanggapi dengan batasan sampai dimana seharusnya pagelaran wayang dilakukan sebagaimana mestinya pertunjukan wayang. Tidak kok para dalang menjadi ketakutan tidak lagi dapurnya berasap. Boleh memang menuruti kehendak penanggap dan itu sah-sah saja. Tapi sebagai pelaku seni, dalang seharusnya tetap berdiri pada kesejatian seorang seniman sejati yang harus tahu empan papan dan berpengaruh sebagai tuntunan. Sebagai insan seni, seharusnya mereka mampu menyampaikan misi seninya dengan kekuatan seni yang dimiliki dan membaginya dengan kompromi, sehingga tidak melenceng dari misi seni yang diembannya.

Utopis memang. Tapi bila para pelaku seni sudah berubah sifat menjadi oportunistik dan hedonis, maka seni wayang dalam hal ini disinyalir sudah ada pada waktu sandyakala yang sebenarnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana peran kita? Bila itu ditanyakan kepada kami selaku orang biasa yang tidak mampu mempengaruhi massa dengan menangggap wayang. Apalagi dengan gaya klasik, lebih jauh lagi menanggapnya dengan frekuensi sesering mungkin, maka pengenalan seni wayang yang sesungguhnya melalui file wayang adalah dipandang sebagai perbuatan yang paling mungkin dilakukkan. Walau sebagian mengatakan illegal, menyalahi aturan hak cipta. Kecintaan terhadap kelestarian seni pertunjukan adi luhung ini mendobrak batas aturan itu. Tapi kenekatan itu ternyata banyak diamini oleh para donor koleksi barang seni itu yang dengan sukarela membeli dan membagikan koleksinya.

Peran masyarakat pencita pure wayang adalah minoritas seperti pendapat yang disebutkan diatas. Pengharap seni wayang kembali ke masa keemasan ketika sastra wayang mampu menjadi panglima pertunjukan, sekarang hanya bisa melakukan sebatas mengedukasi masyarakat luas selaku potensial penanggap.

Dengan suguhan file-file seni hebat wayang masa lalu, setidaknya ini akan mampu menggiring opini masyrakat, bahwa seni wayang memang pantas dikatakan adi-luhung. Kemudian kembali merindukan suguhan indah seperti yang didengar , sehingga mereka menjadi terbiasa kembali dengan nuansa pagelaran “wayang yang benar benar wayang”.

Juga pendapat bahwa seni wayang secara inti tetaplah sebagai seni wayang, dan sebagai plasmanya adalah kreasi kreasi yang menyertainya adalah suatu keniscayaan. Tetapi kreasi atau modifikasi yang seorang sahabat mengatakan sebagai modifikasi negatif, akan menghancurkan seni wayang itu sendiri. Inilah yang sebaiknya dihindari oleh pelaku seni, agar tidak segera kesenian ini benar-benar surup.

Bila harapan itu tidak terjadi, kegemaran kami akan wayang akan tetap tinggal sebagai saat sekarang. Bernostalgia dengan garap klasik Ki Nartosabdo yang yang bagi kami penuh dengan pesona.

Kemudian dengan berbagi file ini lagi,  adalah cara lain dari kami untuk mengungkapkan kecintaan kami terhadap wayang yang sebenarnya. Mungkin bukan cara termurah, bahkan berresiko. Tapi kami harap cara ini lebih berpeluang untuk menjadikan orang banyak menjadi tahu, kemudian cinta kepada “wayang yang sesungguhnya wayang”.

Pada Link dibawah ini adalah salah satu contoh modifikasi positif dari Ki Narto. Cerita banjaran atau riwayat seorang tokoh yang dibawakan dalam satu pagelaran semalam. Modifikasi lakon pepanggungan yang banyak diekor oleh para dalang semasa beliau masih hidup dan hingga kinipun masih dijadikan pola pagelaran. Namun sayang, saat ini cerita panjang suatu tokohpun terokupasi oleh badutan yang berpanjang-panjang, sehingga esensi dari lakon banjaran yang sebenarnya begitu panjang itu tidak tercapai.

Berikut Link Banjaran Tetuka by KNS

Banjaran Tetuka (8 File)

http://www.4shared.com/folder/F223S4-7/147.html

Banjaran Gatotkaca (16 File)

http://www.4shared.com/folder/NDuD7GU_/07_online.html

KNS : Banjaran Karna


Karna jangkah Solo

Bercerita Karna adalah bercerita tentang kepedihan dan kesedihan
bertutur Basukarna adalah bertutur tentang mendua tutur kata dan rasa hati
mengenang Suryatmaja adalah mengenang kepahlawanan dan pengorbanan

Dengarkanlah ..
suara hati Sang Karna saat sua dengan ibunda sejati jelang Baratayudha
walau hasrat tuk bersimpuh di kaki ibunda Kunthi begitu membuncah
memeluk dan bermanja di dada ibunda yang melahirkannya
ingin di belai rambutnya dengan kasih sayang yang tiada diperolehnya saat masa kecilnya dahulu
namun sikap tegasnya
tetap mengatakan TIDAK untuk bergabung dengan saudara-saudaranya Pandawa

Dengarkanlah …
bagaimana curahan hatinya kepada Kresna saat menyengaja bertemu dengannya jelang Baratayudha
bagaimana dirinya tetap keukeuh agar Baratayudha tetap terjadi
agar angkara murka yang ada pada Prabu Duryudana dapat sirna
walaupun itu …
akan mengorbankan dirinya sebagai tumbal
ah …
tiada mengapa
biarlah adik-adiknya saja yang meraih kemenangan

Dan dengarlah dialog dirinya dengan adiknya Arjuna jelang pertempuran di Kurusetra (Karno Tanding)

“Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”.

Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.

“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas. “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Kisah hidup Karna dapat dinikmati pada pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho pada lakon Banjaran Karna, disini

http://www.4shared.com/folder/D7kn9Hkq/02_online.html