Category Archives: Ki Hadi Sugiran

Ki Hadi Sugiran – Lakon Sembodro Larung live


Kembali Diunggah Audio MP3 Wayang kulit dengan lakon Sembodro larung yang tentu dibawakan oleh dalang asal Gunung Kidul Ki Hadi Sugiran

Ini juga salah satu dari sekian banyak koleksi dari Kharisma Sound System dan tentu didokumentasikan juga oleh bapak Sugiran Aulia dan talah selesai diunggah.

Dibawah ini linknya :

SEMBODRO LARUNG 01

SEMBODRO LARUNG 02

SEMBODRO LARUNG 03

SEMBODRO LARUNG 04

SEMBODRO LARUNG 05

SEMBODRO LARUNG 06

SEMBODRO LARUNG 07

SEMBODRO LARUNG 08

Ki Hadi Sugiran – Lakon Burisrowo Gandrung Sembodro larung (Audio)


Nah Yang ditunggu – tunggu Audio Mp3 Lakon Burirowo gandrung Sembodro Larung dengan dalang Ki Hadi Sugiran dari tlatah Gunung Kidul.

Disini Linkya :

Burisrowo Gandrung 01

Burisrowo Gandrung 02

Burisrowo Gandrung 03

Burisrowo Gandrung 04

Burisrowo Gandrung 05

Burisrowo Gandrung 06

Burisrowo Gandrung 07

Burisrowo Gandrung 08

 

Ki Hadi Sugiran : WAHYU MUSTIKAJATI


           Bethari Durga (Yogya) koleksi Pak Alexz Lugiman

Setunggal malih koleksinipun Pak Sugiran Aulia ingkang kaunggah lan samangke dipun aturaken dhumateng sedaya sutresna ringgit purwa mliginipun gagrak Mataraman.

Ing pagelaran lampahan Wahyu Mustikajati utawi ugi kasebat Wahyu Ekajati, Ki Hadi Sugiran manggungaken kanthi gaya Mataraman kotemporer. Ing kalih plot adegan, inggih punika Limbukan lan Gara-gara, panjenengan sutresna campur sari lan ndangdutan kauja dening Ki Dhalang.

Mangga ingkang kersa ngundhuh file audio pagelaran Live, kula aturi klik ing MRIKI

Ki Hadi Sugiran – Lakon Dewa Ruci


Seperti diketahui, wayang yang berkembang 5-6 abad yang lalu di wilayah yang kita sebut Nusantara ini, mengadaptasi cerita Ramayana dan Mahabharata dari India, dan mengolahnya, meng-improvisasi dan menambah di sana sini agar sesuai dengan kondisi kita. Selain berfungsi sebagai hiburan, lakon wayang juga membawa serta pesan, pitutur dan petuah dari leluhur untuk menjalani hidup benar.
Pesan ini biasa dititipkan dalam lakon-lakon sisipan atau yang lazim disebut carangan. Biasanya penyampaiannya amat halus dan tersamar. (Tidak seperti sinetron atau filem kita sekarang, petuah biasanya datang secara verbal, jelas dan kasar).
Lakon Dewa Ruci ini adalah lakon carangan dari Mahabharata yang boleh dibilang penting dan “berat”. Seperti lakon lainnya yang kelas “berat”, (Lahirnya Kurawa, Pandhawa Moksha, Kumbakarna Gugur), lakon ini jarang dipentaskan. Tidak semua dalang mau dan mampu mementaskannya secara sembarangan. Meskipun demikian, dan juga meskipun ceritanya sangat sederhana dan tidak menarik, lakon ini menjadi cerita favorit para orang tua yang bercerita kepada anaknya, Guru kepada muridnya, dan…………aliran kebathinan yang disebut Kejawen. (yang dulu di jaman Soeharto disebut Aliran Kepercayaan itu).
Lakon ini menjadi berat, karena cerita di dalamnya mengandung jalan kontemplasi tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi), menyingkap kerinduan akan Tuhan dan perjalanan rohani untuk mencapaiNya (manunggaling kawula Gusti).
Karena terhitung favorit, lakon ini banyak sekali variasinya, tergantung siapa yang menuturkannya dan siapa dhalang yang memainkannya. Menurut Poerbatjaraka, doktor Antropologi itu (1940), paling tidak ada 40 naskah lakon yang juga disebut sebagai Bima Suci ini. 19 naskah diantaranya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Yang paling terkenal, adalah gubahan pujangga keraton Surakarta Yosodipuro berjudul “Serat Kidung Dewa Ruci”, yang disampaikan dalam bentuk tembang macapat, dengan bahasa Kawi-Sansekerta dan Jawa Kuno.
Lambang, pitutur, petuah, esensi cerita
Untuk mendapatkan “inti pengetahuan sejati” (Tirta Prawitasari) Sang Bima harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, (Hutan Tibaksara “tajamnya cipta“; Gunung Reksamuka, “pemahaman mendalam“). Sang Bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa Rukmaka “kamukten, kekayaan” dan Rukmakala “kemuliaan” . Tanpa mengendalikan nafsu dunianya dalam batas maksimum.
Perjalanannya menyelam ke dasar laut diartikan dengan “samodra pangaksami” pengampunan. Membunuh Naga yang mengganggu jalannya simbol dari melenyapkan kejahatan dan keburukan diri.
Pertemuannya dengan Sang Dewa Ruci melambangkan bertemunya Sang Wadag dengan Sang Suksma Sejati. Masuknya wadag Bima kedalam Dewa Ruci dan menerima Wahyu Sejati bisa diartikan dengan “Manunggaling Kawula-Gusti“, bersatunya jati diri manusia yang terdalam dengan Penciptanya. Kemanunggalan ini mampu menjadikan manusia untuk melihat hidupnya yang sejati. Dalam istilah Kejawen “Mati sajroning urip, urip sajroning mati“. (Mati di dalam Hidup, dan Hidup di dalam Mati). Ini adalah esensi dari Kawruh Kejawen. Perjalanan tasawuf untuk menukik ke dalam dirinya sendiri.
Nah kembali disharing Audio Lakon Dewa Ruci oleh dalang Ki Hadi Sugiran dari Tlatah Gunung Kidul. dan salah satu dari sekian banyak koleksi milik bapak Sugiran ini.

Ki Hadi Sugiran Lakon Semar Dadi Ratu Live


Kembali Diunggah Audio Wayang Kulit dengan lakon Semar dadi ratu oleh dalang Ki Hadi Sugiran dari Gunung Kidul DIY. Audio ini juga koleksi dari Bapak Sugiran yang bukan dalang……hehehe.

Bagaimana kisah semar dadi ratu dan kiprah dalang Ki Hadi Sugiran ?

Koleksi dari Bapak Sugiran yang lakon Semar dadi ratu  disini LINKNYA