Category Archives: Cerita Mahabarata

Cerita wayang yang termasuk dalam kitab Mahabarata

pasewakan_njawi_kurawa1113

Sebuah Pesta Penyambutan


duryudana

Wahyu Cakraningrat (5)

Sorot mancur mencorong
mijil saking putri winongwong,
nenggih Dèwi Banowati, musthikaning uwong.
Nyata ayu akarya lamong,
akèh priya kang kepéngin mboyong,
dadi kembang lambé pating clemong,
akèh kang gandrung kloyong-kloyong.
Lamun Sang Banowati liwat, para priya mung pating plenggong
plompang-plompong ora kuwat ndulu bundering bokong.

Dedegé ora sangkuk,
asta lir gendhéwa tinekuk,
driji kaya saya minggah saya mucuk,
padharan ora mblendhuk,
ponang pocong nyenthing munjuk,
disawang saka mburi cundhuk,
ngiringan mathuk,
ngarep metuthuk.
Bojo kaya Dèwi Banowati sewayah-wayah gathuk,
awan sayuk,
wengi njuk,
luwih-luwih yèn ta ‘bar adus ésuk.

Nyata tetungguling memanis.
Réma njanges semu wilis,
sinom lir ron pakis,
nanggal sepisan kang alis,
lathi abang lir manggis,
janggut nyathis,
pamulu hambenglé kéris.
Yèn dandan ora uwis-uwis.
Payudara lir bluluk kuning dèn prenah mrih manis,
sinangga kemben dadya munjuk sawetawis,
mula ora susah dikepeti wis ésis.

(Pocapan dicuplik dari Ki Purbo Asmoro : Makutharama)

Itulah Dewi Banuwati ! Prameswari Astina, istri satu-satunya Duryudana. Duryudana tiada pernah dan tak akan mencoba untuk mendua. Baginya, cintanya tlah berlabuh di Banuwati seorang. Apatah lagi Banuwati telah memberinya dua orang anak buah hatinya yaitu Lesmana Mandrakumara dan Lesmanawati. Continue reading

Punakawan

Sang Pamomong


Punakawan

Wahyu Cakraningrat (4)

Prabawaning wahyu kang sumedya
turun ing mercapada miling-miling wonten ing angkasa
gebyar-gebyar pindha ndaru kang sumedya tumibèng bawana
timbuling prabawa dumadi gara-gara tanpa sangkan
swara kaya mecah-mecahna jagad nganti sumundhul ing kayangan Suralaya
clorooot …. gleger
warda wening sirep kocap gara-gara
swara tanpa una tanpa uni
doh lamun jinarwakna
senajan ta katon slaka, slaka cèlèng
intena, inten bumi
para putra-putra bibar saknalika
pungun-pungun tyasira Ki Lurah Semar kanthi anggana raras

Daya perbawa wahyu yang tengah bersiap
turun ke marcapada, dunia, mencari tempat bersemayam sejati
bersinar cerlang layaknya cahya bintang jatuh
munculnya perbawa menciptakan gara-gara tanpa sebab
bersuara seolah memecahkan jagat dan tembus hingga kahyangan Suralaya
meluncur .. cepat menggelegar ..
sosok tua berparas teduh hening redam gara-gara

—-

Setelah mengerti akan tugasnya dan tlah dibekali ilmu serta pitutur luhur dari ayahnya Arjuna serta para sesepuh lainnya, maka segera Abimanyu menjemput para panakawan untuk mendampinginya dalam perjalanannya menuju TKP. Continue reading

abimanyu

Sang Pejuang 3 : Abimanyu


wu87-02-02-abimanyu-text2

Wahyu Cakraningrat (3)

Menjalani kehidupan perkawinan laksana mengendarai bahtera mengarungi samudra lepas nan luas dan ganas. Kadang tenang menghanyutkan disertai dengan pemandangan alam nan mempesona, bertabur gemerlap bintang di malam kelam, ufuk lautan seolah menciptakan batas dengan langit disertai ronanya nan berwibawa. Namun adakalanya badai sesekali melanda disertai hujan deras serta gelegar petir menyambar membuat ciut hati. Yah … begitulah romantika kehidupan manusia. Susah senang, lara bahagia, nelangsa dan suka, datang silih berganti. Akan selalu begitu dan memang sudah ditetapkan demikian. Ibarat sebuah gelombang sinusoida, roda kehidupan berjalan bukan merupakan garis lurus, perjalanan kadang berada di bawah, acap di atas dan suatu kali niscaya berada di tengah.

Begitupun yang dialami Abimanyu dan Siti Sundari. Madu yang tlah direguk dan dinikmati manisnya disaat-saat awal perkawinan, kini mulai berubah menjadi rasa bratawali, pahit. Bulan madu adalah episode yang telah berlalu.

Memang ketulusan cinta mereka berdua tiada bercacat, namun kata orang bijak, rasa cinta bukan satu-satunya perekat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ada faktor lain yang mampu menghadirkan kebahagiaan hidup berumah tangga, yaitu kehadiran ANAK. Seorang keturunan penerus garis darah, selalu menjadi dambaan pasangan suami istri. Tak bisa dibayangkan bagaimana keringnya sebuah rumah tanpa celoteh dan tangis si kecil.

Perkawinan yang telah dijalaninya cukup lama, tentu membuat Abimanyu bahagia karena Siti Sundari adalah pilihannya pribadi dan adalah perempuan yang dicintainya. Namun sebuah kabar yang didengarnya kemarin siang, membuatnya seakan kebahagiaan itu tercerabut dari dirinya dan bahkan berubah menjadi kesengsaraan hati. Kabar itu laksana petir di siang hari bolong yang mengejutkan dirinya hingga seolah tiada semangat lagi tersisa dalam menjalani hari-hari di Plangkawati.

Oleh karenanya kemudian dia memutuskan untuk “mengadu” kepada Dewata atas nasib yang tengah disandangnya ini. Dengan khusuk Abimanyu mengheningkan cipta di sanggar pamujan berharap dewata yang agung memberikannya secercah cahaya dan solusi jalan keluar atas masalahnya ini.

Begitupun Siti Sundari. Kabar itu sungguh membuat hatinya hancur lebur berkeping-keping, tercerai berai. Hari-hari yang tlah lalu dan dijalaninya bersama suaminya tercinta seakan menjadikan dirinya adalah wanita yang paling berbahagia di muka bumi ini. Bagaimana tidak ? Suaminya begitu sayang padanya dan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang tak pernah dialami sebelumnya. Abimanyu adalah seorang satria yang sempurna. Sehat jiwa raga, gagah perkasa dan dikaruniai wajah yang luar biasa tampan. Tentu membuat iri wanita lainnya karna dia memperoleh kekasih yang begitu rupawan dan menawan.

Namun bagaimana sekarang ? Dirinya telah divonis tidak akan dapat melahirkan seorang anak, keturunan yang tentunya menjadi dambaan bagi mereka berdua. Apalah gunanya seorang perempuan yang meskipun dikaruniai kecantikan tiada tara laksana dewi kahyangan namun tidak mampu untuk melahirkan seorang anak ? Bukankah harkat seorang perempuan adalah kemampuan untuk melanjutkan trah garis keturunan suaminya ? (baca kisah Semar Kuning)

Hari-hari Siti Sundari dipenuhi oleh air mata kesedihan. Dirinya belum mampu menerima kenyataan ini. Siapa yang harus disalahkan ? Dirinya ? Ramanyakah ? Atau bahkan dewa yang bertindak tidak adil ? Continue reading

Lesmana Mondro Kumoro

Sang Pejuang 2 : Lesmana Mandrakumara


wu87-01-16-lesmana-mandrakumara-text2

Wahyu Cakraningrat (2)

Jejer negara Astina.

Negri Astina adalah negara besar, negara super power di kala itu. Negara besar dengan sejarah panjang dimulai dari Prabu Nahusa, Prabu Yayati, Prabu Kuru, Prabu Dusanta, Prabu Barata, Prabu Hasti, Prabu Puru, Prabu Pratipa, Prabu Santanu, Prabu Abiyasa, Prabu Pandudewanata hingga sekarang ini diperintah oleh putra sulung Sang Destarastra.

Sinten ta jejuluking sri nata ing Ngastina, wenang dèn-ucapna, nenggih Mahaprabu Duryudana, Kurupati, Jakapitana, Hanggendarisuta. Mila jejuluk Duryudana, ateges naléndra ingkang abot sangganing aprang. Kurupati, angratoni darahing Kuru. Jakapitana, duk nalika sang nata sinengkakaké ngaluhur jumeneng naléndra nyata maksih jejaka dèrèng nambut silaning akrami. Déné Anggendariputra, nyata sang nata putra pambayuning Kusuma Dèwi Gendari.

Siapakah gerangan raja di Astina ? Tiada lain dia bergelar Mahaprabu Duryudana, Kurupati, Jakapitana, Hanggendarisuta. Bergelar Duryudana karena dia adalah seorang nalendra yang mengedepankan peperangan dalam mencari solusi. Bergelar Kurupati lantaran dia adalah raja berdarah Kuru. Jakapitana karena saat diangkat menjadi raja dia masih muda dan belum memiliki pendamping hidup. Sedangkan Anggendariputra karena dia adalah putra dari Dewi Gendari istri dari Destarastra.

Kacarita, Prabu Duryudana kondhang ing rat naléndra bèrbudi bèrbandha, remen hanggeganjar hangulawisudha, nanging kirang marsudi rèhing tata krami. Kadang satus kang sami nyantana dèn-ugung kesenengané. Marma sagung para kadang sami kaduk adigang, adigung, miwah adiguna, ngendelaké kadanging ratu.

Diceritakan bahwa Prabu Duryudana terkenal sebagai raja yang kaya raya bergelimang harta, senang membagi ganjaran dan hadiah bagi siapa saja yang dianggapnya berjasa bagi dirinya, namun sungguh sayang perilakunya kurang baik dalam tata krama. Saudaranya kurawa yang berjumlah seratus dimanjakan dengan kemewahan dan limpahan harta benda serta dituruti segala keinginan untuk slalu bersenang-senang sehingga tidaklah heran pabila para kurawa selalu bersikap adigang, adigung dan adiguna, mengedepankan bahwa mereka adalah saudara seorang penguasa di sebuah negara besar.

Sungguh sifat dan watak yang tidak baik sikap adigang, adigung adiguna itu. Bukankah para bijak cendekia telah merangkai untaian tembang indah untuk difahami dan kemudian menjauhinya dan menghindarinya ?

Sêkar gambuh ping catur

kang cinatur polah kang kalantur

tanpa tutur katula-tula katali

kadaluwarsa katutuh

kapatuh pan dadi awon

Tembang gambuh yang keempat, yang dibicarakan adalah tingkah laku yang kebablasan dan keterlaluan, tiada berisi kebenaran terbata-bata tak berujung berpangkal, pabila sudah terlanjur siapa yang bakal disalahkan, sungguh hal itu berakibat buruk. Continue reading

samba_solo

Sang Pejuang 1 : Samba


samba_solo

Wahyu Cakraningrat (1)

Swuh rep data pitana, anenggih nagari pundi ingkang kaeka adi dasa purwa, eka sawiji, adi luwih, dasa sapuluh, purwa wiwitan. Sanadyan kathah titahing dewa ingkang kasongan ing akasa, kasangga pratiwi, kapit ing samodra, katah ingkang sami anggana raras, boten wonten kados nagari ing Dwarawati ya Dwaraka. Mila kinarya bubuka, ngupayaa nagari sadasa tan antuk satunggal, ngupayaa nagari satus tan angsal kalih, sewu tan antuk sadasa. Mila winastan ing Dwarawati, palawanganing jagad, utawi wenganing rahsa, Dwaraka panggenan pambuka.

Dari gelap, sepi, kosong, suwung, mati … kan digelar lakon kehidupan di dunia ini. Syahdan tersebutlah sebuah negri besar yang terbentang luas wilayahnya, memiliki deretan pegunungan yang mengitarinya dan di apit oleh dua samodra yang maha luas. Tidak ada negri yang seperti Dwarawati ya Dwaraka, pabila dicari sepuluh mungkin hanya menemukan satu, carilah seratus maka hanya kau temui tak lebih dari sepuluh, seribu tidak bakal ada seratus. Dan disebut Dwarawati berarti pintunya dunia, ataupun terbukanya rasa, Dwaraka sebagai tempat pembuka.

Dasar nagari panjang punjung, pasir wukir loh jinawi, gemah ripah karta tur raharja. Panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane, pasir samudra, wukir gunung, dene nagari ngungkurake pagunungan, ngeringake pasabinan, nengenaken banawi, ngayunaken bandaran gede. Loh tulus ingkang tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku, gemah kang lumaku dagang, rinten dalu tan ana pedote, labet tan ana sangsayaning margi, aripah janma ing manca kang sami griya salebeting praja, jejel apipit, pangrasa – aben cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak saking rejaning nagari. Karta, kawula ing padusunan pada tentrem atine, mungkul pangulahing tatanen; ingon-ingon kebo sapi, pitik iwen tan ana cinancangan, rahina aglar ing pangonan, yen bengi mulih marang kandange dewe-dewe; raharja tebih ing parangmuka, dene para mantri bupati pada kontap kautamane, bijaksana limpad ing kawruh putus marang wajib pangrehing praja, tansah ambudi wewahe kaluhuraning Nata.

Sungguh negri panjang punjung, pasir wukir loh jinawi, gemah ripah karta tur raharja. Panjang, terkenal ceritanya, punjung luhur wibawanya, pasir adalah samudra, wukir gunung, bahwa negri dikaruniai pegunungan, terbentang hijau pesawahan, juga dialiri sungai nan panjang terbentang, terdapat pula pelabuhan besar di sana. Loh, subur semua yang ditanam, jinawi, serba murah barang yang terbeli, gemah, roda perdagangan tiada henti bergulir siang malam meramaikan sepanjang jalan, ripah, rakyat mempunyai rumah layak dan besar berjejal bertebaran di pelosok menunjukkan makmurnya negri. Karta, kawula di desa merasa tentram hidupnya menjalani kehidupan sebagai petani, binatang peliharaan kerbau, sapi, ayam tidak pernah dikurung, siang bebas mencari makan dan bila malam hari pulang ke kandangnya masing-masing. Raharja, jauh dari musuh, para mantri bupati begitu memperhatikan keutamaan, bijaksana dan pintar memenuhi kewajiban mengayomi warga negara serta selalu mengupayakan keluhuran raja.

Dasar nagara gede obore, padang jagade, duwur kukuse adoh kuncarane; boten ing tanah Jawi kemawon ingkang sumujud sanajan ing tanah sabrang katah ingkang sumawita, tanpa kalawan karaning banda yuda, mung kayungyun popoyaning kautaman, babasan ingkang celak manglung, ingkang tebih tumiyung, sami atur putri minangka panungkul; ing saben antara mangsa asok bulu bekti, glondong pangareng-areng, peni-peni raja peni, guru bakal guru dadi. Continue reading

SERAT KALIMATAYA (1)


kalimataya8-1

Sumber Gambar : http://maspatikrajadewaku.wordpress.com

1. Dhandhanggula

1. rarasing rèh sinawung mêmanis | dènirarsa marsudi utama | maspadakkên caritane | ngago[2] tulatdan[3] agung | berata tyas ingkang tan yukti | ika para Pandhawa | atmajaning Pandhu | mêmardi tyas martotama | tama têmah bisa luhur madêg aji | rumêgêm ing Ngastina ||

2. pinèngêtan duk nurun marêngi | ari Akat Wage ping sapisan | kasadasa ing mangsane | candrama Sapar nuju | wuku Wayang lagya lumaris | Sancaya windunira | Jimakir kang taun | sangkalanira pinetang | dadine kang guna angèsthi sawiji |[4] ran Srat Kalimataya ||

3. kang tinutur tartiping pawarti | mèt turuting Srat Pustakaraja | pinugut ing panganggite | nênggih sabibaripun | aprang Bratayuda ing nguni | kang jumênêng Ngastina | Yudhisthira Prabu | sakadangira sadaya | karatone wus ngumpul dadya sawiji | Wiratha wus aniwa ||

4. sagung para kadanging narpati | wus sinungan mulya kawiryawan | sajuru-juru pinancèn | pan jinêjêr jinurung | sadayanya wus samya mugti | samya jinunjung lênggah | nagri dèn dum-êdum | marang Prabu Darmaputra | para ari sadaya wus samya tampi | pamatahnya sri nata ||

5. Arya Wrêkudara sinung linggih | Banjarjungut dene Sang Arjuna | nênggih wus dhinaupake | lan Banuwati sampun | pinaringan ing Banakêling | gumantyèng Jayadrata | myang ari waruju | sira Sang Arya Nangkula | lan Sadewa kalih samya kinaryaji | mêngku nagri Môndraka ||

6. nama Prabu Nangkula lan ari | Prabu Sadewa tulus raharja | ing Mandraka karatone | miwah kang para wadu | samya sinung môncanagari | bêktan saking Ngamarta | kang sami jinunjung | miwah Prabu Baladewa | Rêsi Bisma palênggahannya ginanti | dumadi parampara ||

7. wontên punakawannya kêkalih | kakang adhi kadang naking sanak | sinung sih nama kalihe | Draswapasi kang sêpuh | pinaringan ing Gilingwêsi | Sayakèsthi rinira | Mukabumi sinung | kalihnya jinunjung raja | nama Prabu Praswapati Sayakêsthi | sami tulus wibawa ||

8. wontên malih kang sinungan linggih | para santana kawula warga | pinangkat punggawa kabèh | Ngastinarja kêlangkung | para ratu misih sumiwi | dèrèng wontên rinilan | marang prajanipun | miwah Sri Bathara Krêsna | dèrèng kondur dhatêng nagri Dwarawati | mêgsih anèng Ngastina ||

9. cinarita dene ingkang warsi | sangking dènira prang Bratayuda | pan misih tunggil taune | taun surya ingetung | sinangkalan sajroning warsi | pêgsa gunaning nata |[5] taun côndra ketung | tata gatining pandhita |[6] duk samana nagri Ngastina winarni | wontên sipta sasmita ||

10. kadhatêngan cahya anglimputi | sato wana kèbêgkan[7] sadaya | tan ana wruh pinangkane | cahya wênês sumunu | lintang-lintang kang bumi langit | miwah kang surya côndra | sadaya kalimput | kongsi saptari mangkana | datan ana kang wikan ing rina wêngi | amung kang tinêngêran ||

11. lamun krasa luwe arsa bugti | miwah nginum puniku siyangnya | kang tinêngaran[8] wêngine | kabèh swaraning manuk | kang pancèn tan rinêngèng jalmi | walang krèk calapita | lir natarèng gunung | nanging padhang tan prabeda | surya côndra kalihnya datan kaègsi | kasongan prabèng cahya ||

12. duk sêmana Sang Sri Narapati | Yudhisthira miwah para nata | sêdaya ngungun galihe | samya duhkitèng kalbu | karsa prabancana dhatêngi | sagunging para nata | prasamya angrungruh | manawana ingkang mawa | Sang Bathara Krêsna myang Sri Maswapati | katiga Baladewa ||

13. samya parentah kinèn ngulati | kang amawa cahyarda angkara | samana tan wruh ênggène | kampitèng tyas sêdarum | dadya rêmbag samya sêmadi | manêgas[9] karsaning Hyang | kang murwèng pandulu | ri wusnya samya mangkana | nulya wontên parmaning jawata luwih | nuruni rata cahya || Continue reading

Mahabharata : Adiparwa


Adiparwa book sumber tembi.net

Adiparwa adalah buku pertama atau bagian (parwa) pertama dari kisah MahaBharata. Penuturan kisah keluarga besar Bharata tersebut dimulai dengan percakapan antara Bagawan Ugrasrawa yang mendatangi Bagawan Sonaka di hutan Nemisa. Bagian-bagian kitab Adiparwa itu di antaranya:

  • Cerita Begawan Ugrasrawa (Ugraçrawā) mengenai terjadinya pemandian Samantapañcaka dan tentang dituturkannya kisah MahaBharata oleh Begawan Waisampayana (Waiçampāyana). Kisah panjang tersebut dituturkan atas permintaan maharaja Janamejaya, raja Hastinapura, anak mendiang prabu Parikesit (Parīkşit) dan cicit Pandawa. Begawan Waisampayana bermaksud menghibur sang maharaja atas kegagalan kurban ular (sarpayajña) yang dilangsungkan untuk menghukum naga Taksaka, yang telah membunuh raja Pariksit.
  • Selain itu sang Ugrasrawa juga menjelaskan ringkasan delapan belas parwa yang menyusun MahaBharata; jumlah bab, seloka (çloka) dan isi dari masing-masing parwa.
  • Cerita dikutuknya maharaja Janamejaya oleh sang Sarama, yang berakibat kegagalan kurban yang dilangsungkan oleh sang maharaja.
  • Cerita Begawan Dhomya beserta ketiga orang muridnya; sang Arunika, sang Utamanyu dan sang Weda. Dilanjutkan dengan ceritera Posya, mengenai kisah asal mula sang Uttangka murid sang Weda bermusuhan dengan naga Taksaka. Oleh karenanya sang Uttangka lalu membujuk Maharaja Janamejaya untuk melaksanakan sarpayajña atau upacara pengorbanan ular.
  • Cerita asal mula Hyang Agni (dewa api) memakan segala sesuatu, apa saja dapat dibakarnya, dengan tidak memilah-milah. Serta nasihat dewa kepada sang Ruru untuk mengikuti jejak sang Astika, yang melindungi para ular dan naga dari kurban maharaja Janamejaya.
  • Ceritera Astika; mulai dari kisah sang Jaratkāru mengawini sang Nāgini (naga perempuan) dan beranakkan sang Astika, kisah lahirnya naga dan garuda, dikutuknya para naga oleh ibunya agar dimakan api pada kurban ular, permusuhan naga dengan garuda, hingga upaya para naga menghindarkan diri dari kurban ular.
  • Di dalam ceritera ini terselip pula kisah mengenai upaya para dewa untuk mendapatkan tirta amrta atau air kehidupan, serta asal-usul gerhana matahari dan burlan.
  • Cerita asal-usul Raja Parikesit dikutuk Begawan Çrunggī dan karenanya mati digigit naga Taksaka.
  • Cerita pelaksanaan kurban ular oleh maharaja Janamejaya, dan bagaimana Begawan Astika mengurungkan kurban ular ini.
  • Cerita asal-usul dan sejarah nenek moyang Kurawa dan Pandawa. Kisah Sakuntala (Çakuntala) yang melahirkan Bharata, yang kemudian menurunkan keluarga Bharata. Sampai kepada sang Kuru, yang membuat tegal Kuruksetra; sang Hasti, yang mendirikan Hastinapura; maharaja Santanu (Çantanu) yang berputra Bhîsma Dewabrata, lahirnya Begawan Byasa (Byâsa atau Abiyasa) –sang pengarang kisah ini– sampai kepada lahirnya Dhrestarastra (Dhŗţarāstra) –ayah para Kurawa, Pandu (Pãņdu) –ayah para Pandawa, dan sang Widura.
  • Cerita kelahiran dan masa kecil Kurawa dan Pandawa. Permusuhan Kurawa dan Pandawa kecil, kisah dang hyang Drona, hingga sang Karna menjadi adipati di Awangga.
  • Cerita masa muda Pandawa. Terbakarnya rumah damar, kisah sang Bima (Bhîma) mengalahkan raksasa Hidimba dan mengawini adiknya Hidimbî (Arimbi) serta kelahiran Gatutkaca, kemenangan Pandawa dalam sayembara Drupadi, dibaginya negara Hâstina menjadi dua untuk Kurawa dan Pandawa, pengasingan sang Arjuna selama 12 tahun dalam hutan, lahirnya Abimanyu (Abhimanyu) ayah sang Pariksit, hingga terbakarnya hutan Kandhawa tempat naga Taksaka bersembunyi.

Penuturan isi kitab tersebut bermula ketika Sang Ugrasrawa mendatangi Bagawan Sonaka yang sedang melakukan upacara di hutan Nemisa. Sang Ugrasrawa menceritakan kepada Bagawan Sonaka tentang keberadaan sebuah kumpulan kitab yang disebut Astadasaparwa, pokok ceritanya adalah kisah perselisihan Pandawa dan Korawa, keturunan Sang Bharata. Dari penuturan Sang Ugrasrawa, mengalirlah kisah besar keluarga Bharata tersebut (Mahābhārata).

Kisah Bagawan Dhomya menguji tiga muridnya

Dikisahkan seorang Brāhmana bernama Bagawan Dhomya, tinggal di Ayodhya. Beliau memiliki 3 murid, bernama: Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda. Ketiganya akan diuji kesetiaannya oleh Sang Guru. Sang Arunika disuruh bersawah. Dengan berhati-hati Sang Arunika merawat biji padi yang ditanamnya. Ketika biji-bijinya sedang tumbuh, datanglah hujan membawa air bah yang kemudian merusak pematang sawahnya. Ia khawatir kalau air tersebut akan merusak tanamannya, maka ia perbaiki pematangnya untuk menahan air. Berkali-kali usahanya gagal dan pematangnya jebol, maka ia merebahkan dirinya sebagai pengganti pematang yang jebol untuk menahan air. Karena kesetiannya tersebut, Sang Arunika diberikan anugerah kesaktian oleh Bagawan Dhomya.

Sementara itu, Sang Utamanyu disuruh mengembala sapi. Sang Utamanyu tidak diperbolehkan untuk meminta-minta air kalau ia sedang haus saat mengembala sapi, maka ia menjilat susu sapi yang digembalanya. Hal tersebut juga ditentang oleh Sang Guru, maka Sang Utamanyu menghisap getah daun “waduri” untuk menghilangkan dahaga. Hal tersebut mengakibatkan matanya buta. Ia tidak tahu jalan sehingga terperosok ke dalam sumur kering. Sampai sore, Sang Utamanyu tidak juga kembali pulang, gurunya menjadi cemas. Ketika dicari, didapatinya Sang Utamanyu berada dalam sebuah sumur. Bagawan Dhomya kemudian mendengarkan cerita Sang Utamanyu. Karena kesetiannya terhadap kewajiban, Sang Utamanyu diberikan mantra sakti yang mampu menyembuhkan penyakit oleh Bagawan Dhomya.

Sementara itu, Sang Weda disuruh tinggal di dapur untuk menyediakan hidangan yang terbaik buat gurunya. Sang Weda selalu menuruti perintah gurunya, meski yang buruk sekalipun. Segala perintah gurunya dikerjakan dengan baik. Maka dari itu, Sang Weda dianugerahi segala macam ilmu pengetahuan, mantra Veda, dan kecerdasan.

Kisah Sang Winata dan Sang Kadru

Dikisahkan terdapat seorang Maharsi bernama Bagawan Kasyapa, putera bagawan Marirci, cucu Dewa Brahma. Ia diberi oleh Bagawan daksa empat belas puteri. Keempat belas puteri tersebut bernama: Aditi, Diti, Danu, Aristi, Anayusa, Kasa, Surabhi, Winata, Kadru, Ira, Parwa, Mregi, Krodhawasa, Tamra. Di antara empat belas puteri tersebut, Sang Winata dan Kadrru tidak memiliki anak. Mereka berdua kemudian memohon belas kasihan Bagawan Kasyapa. Sang Kadru memohon seribu anak sedangkan Sang Winata hanya memohon dua anak. Kemudian Bagawan Kasyapa memberikan Sang Kadru seribu butir telur sedangkan Sang Winata diberikan dua butir telur. Kedua puteri tersebut kemudian merawat telur masing-masing dengan baik.

Singkat cerita, seribu butir telur milik Sang Kadru menetas, dan lahirlah para Naga. Yang terkemuka adalah Sang Anantabhoga, Sang Wasuki, dan Sang Taksaka. Sementara telur Sang Kadru sudah menetas semuanya, telur Sang Winata belum menetas. Karena tidak sabar, maka telurnya dipecahkan. Ketika pecah, terlihatlah seorang anak yang baru setengah jadi, bagian tubuh ke atas lengkap sedangkan dari pinggang ke bawah tidak ada. Sang anak marah karena ditetaskan sebelum waktunya. Anak tersebut kemudian mengutuk ibunya supaya diperbudak oleh Sang Kadru berlebih-lebihan. Kelak, saudaranya yang akan menetas akan menyelamatkan ibunya dari perbudakan. Anak tersebut kemudian diberi nama Sang Aruna, karena tidak memiliki kaki dan paha. Sang Aruna menjadi sais (kuir) kereta Dewa Surya.

Kisah pemutaran Mandaragiri

Dikisahkan, pada zaman dahulu kala, para Dewa, detya, dan rakshasa mengadakan rapat untuk mencari tirta amerta (air suci). Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) mengatakan bahwa tirta tersebut berada di dasar laut Ksira. Cara mendapatkannya adalah dengan mengaduk lautan tersebut. Para Dewa, detya, dan rakshasa kemudian menuju laut Ksira. Untuk mengaduknya, Naga Wasuki mencabut gunung Mandara (Mandaragiri) di pulau Sangka sebagai tongkat pengaduk. Gunung tersebut dibawa ke tengah lautan. Seekor kura-kura (Kurrma) besar menjadi penyangga/dasar gunung tersebut. Sang Naga melilit gunung tersebut, kemudian para Dewa memegang ekornya, sedangkan rakshasa dan detya memegang kepalanya. Dewa Indra berdiri di puncaknya agar gunung tidak melambung ke atas.

Beberapa lama setelah gunung diputar, keluarlah Ardhachandra, Dewi Sri, Dewi Lakshmi, kuda Uccaihsrawa, dan Kastubhamani. Semuanya berada di pihak para Dewa. kemudian, munculah Dhanwantari membawa kendi tempat tirta amerta. Para detya ingin agar tirta tersebut menjadi milik mereka sebab sejak awal tidak pernah dapat bagian. Tirta amerta pun menjadi milik mereka. Para Dewa memikirkan cara untuk merebut tirta tersebut. akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik, kemudian mendekati para rakshasa dan detya. Para rakshasa-daitya yang melihatnya menjadi terpesona, dan menyerahkan kendi berisi tirta tersebut. Wanita cantik itu kemudian pergi sambil membawa tirta amerta dan berubah kembali menjadi Dewa Wisnu.

Para detya yang melihatnya menjadi marah. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran antara para Dewa dan rakshasa-detya. Kemudian Dewa Wisnu teringat dengan senjata chakra-nya. Senjata chakra kemudian turun dari langit dan menyambar-nyambar para rakshasa-detya. Banyak dari mereka yang lari terbirit-birit karena luka-luka. Akhirnya ada yang menceburkan diri ke laut dan masuk ke dalam tanah. Para Dewa akhirnya berhasil membawa rtirta amerta ke surga.

Kisah Sang Garuda dan para Naga

Dikisahkan, pada suatu hari Sang Winata dan Sang Kadru, istri Bagawan Kasyapa, mendengar kabar tentang keberadaan seekor kuda bernama Uccaihsrawa, hasil pemutaran Gunung Mandara atau Mandaragiri. Sang Winata mengatakan bahwa warna kuda tersebut putih semua, sedangkan Sang Kadru mengatakan bahwa tubuh kuda tersebut berwarna putih sedangkan ekornya saja yang hitam. Karena berbeda pendapat, mereka berdua bertaruh, siapa yang tebakannya salah akan menjadi budak. Mereka berencana untuk menyaksikan warna kuda itu besok sekaligus menentukan siapa yang salah.

Sang Kadru menceritakan masalah taruhan tersebut kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mengatakan bahwa ibunya sudah tentu akan kalah, karena warna kuda tersebut putih belaka. Sang Kadru pun cemas karena merasa kalah taruhan, maka dari itu ia mengutus anak-anaknya untuk memercikkan bisa ke ekor kuda tersebut supaya warnanya menjadi hitam. Anak-anaknya menolak untuk melaksanakannya karena merasa perbuatan tersebut tidak pantas. Sang Kadru yang marah mengutuk anak-anaknya supaya mati ditelan api pada saat upacara pengorbanan ular yang diselenggarakan Raja Janamejaya. Mau tak mau, akhirnya anak-anaknya melaksanakan perintah ibunya. Mereka pun memercikkan bisa ular ke ekor kuda Uccaihsrawa sehingga warnanya yang putih kemudian menjadi hitam. Akhirnya Sang Kadru memenangkan taruhan sehingga Sang Winata harus menjadi budaknya.

Sementara itu, telur yang diasuh Sang Winata menetas lalu munculah burung gagah perkasa yang kemudian diberi nama Garuda. Sang Garuda mencari-cari kemana ibunya. Pada akhirnya ia mendapati ibunya diperbudak Sang Kadru untuk mengasuh para naga. Sang Garuda membantu ibunya mengasuh para naga, namun para naga sangat lincah berlari kesana-kemari. Sang Garuda kepayahan, lalu menanyakan para naga, apa yang bisa dilakukan untuk menebus perbudakan ibunya. Para naga menjawab, kalau Sang Garuda mampu membawa tirta amerta ke hadapan para naga, maka ibunya akan dibebaskan. Sang Garuda menyanggupi permohonan tersebut.

Singkat cerita, Sang Garuda berhasil menghadapi berbagai rintangan dan sampai di tempat tirta amerta. Pada saat Sang Garuda ingin mengambil tirta tersebut, Dewa Wisnu datang dan bersabda, “Sang Garuda, jika engkau ingin mendapatkan tirta tersebut, mintalah kepadaku, nanti pasti aku berikan”.

Sang Garuda menjawab, “Tidak selayaknya jika saya meminta kepada anda sebab anda lebih sakti daripada saya. Karena tirta amerta anda tidak mengenal tua dan mati, sedangkan saya tidak. Untuk itu, berikanlah kepada saya anugerah yang lain”. Dewa Wisnu berkata, “Jika demikian, aku memintamu untuk menjadi kendaraanku, sekaligus menjadi lambang panji-panjiku”. Sang Garuda setuju dengan permohonan tersebut sehingga akhirnya menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Kemudian Sang Garuda terbang membawa tirta, namun Dewa Indra tidak setuju kalau tirta tersebut diberikan kepada para naga. Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut akan diberikan kalau para naga sudah selesai mandi.

Sampailah Sang Garuda ke tempat tinggal para naga. Para naga girang ingin segera meminum amerta, namun Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut boleh diminum jika para naga mandi terlebih dahulu. Para naga pun mandi sesuai dengan syarat yang diberikan, tetapi setelah selesai mandi, tirta amerta sudah tidak ada lagi karena dibawa kabur oleh Dewa Indra. Para naga kecewa dan hanya mendapati beberapa percikan tirta amerta tertinggal pada daun ilalang. Para naga pun menjilati daun tersebut sehingga lidahnya tersayat dan terbelah. Daun ilalang pun menjadi suci karena mendapat tirta amerta. Sementara itu Sang Garuda terbang ke surga karena merasa sudah menebus perbudakan ibunya.

Mangkatnya Raja Parikesit

Dikisahkan, ada seorang Raja bernama Parikesit, ayahnya adalah Abimanyu sedangkan putranya adalah Janamejaya. Beliau merupakan keturunan Sang Kuru, maka disebut juga Kuruwangsa.

Saat Maharaja Parikesit masih berada dalam kandungan, ayahnya yang bernama Abimanyu, turut serta bersama Arjuna dalam sebuah pertempuran besar di daratan Kurukshetra. Dalam pertempuran tersebut, Abimanyu gugur dalam serangan musuh yang dilakukan secara curang. Abimanyu meninggalkan ibu Parikesit yang bernama Utara karena gugur dalam perang.

Pada pertempuran di akhir hari kedelapan belas, Aswatama bertarung dengan Arjuna. Aswatama dan Arjuna sama-sama sakti dan sama-sama mengeluarkan senjata Brahmāstra. Karena dicegah oleh Resi Byasa, Aswatama dianjurkan untuk mengarahkan senjata tersebut kepada objek lain. Maka Aswatama memilih agar senjata tersebut diarahkan ke kandungan Utara. Senjata tersebut pun membunuh Parikesit yang masih berada dalam kandungan. Atas pertolongan dari Kresna, Parikesit dihidupkan kembali. Aswatama kemudian dikutuk agar mengembara di dunia selamanya.

Setelah parikesti lahir, Resi Dhomya memprediksikan kepada Yudistira bahwa ia akan menjadi pemuja setia Dewa Wisnu, dan semenjak ia diselamatkan oleh Bhatara Kresna, ia akan dikenal sebagai Vishnurata (Orang yang selalu dilindungi oleh Sang Dewa).

Resi Dhomya memprediksikan bahwa Parikesit akan selamanya mencurahkan kebajikan, ajaran agama dan kebenaran, dan akan menjadi pemimpin yang bijaksana, tepatnya seperti Ikswaku dan Rama dari Ayodhya. Ia akan menjadi ksatria panutan seperti Arjuna, yaitu kakeknya sendiri, dan akan membawa kemahsyuran bagi keluarganya.

Saat dimulainya zaman Kali Yuga, yaitu zaman kegelapan, dan mangkatnya Kresna Awatara dari dunia fana, lima Pandawa bersaudara pensiun dari pemerintahan. Parikesit sudah layak diangkat menjadi raja, dengan Krepa sebagai penasihatnya. Beliau menyelenggarakan Aswameddha Yajña tiga kali di bawah bimibingan Krepa.

Kutukan Sang Srenggi

Pada suatu hari, Raja Parikesit pergi berburu kijang ke tengah hutan. Kijang diikutinya sampai kehilangan jejak. Ia kepayahan, lalu berhenti untuk beristirahat. Akhirnya ia sampai di sebuah tempat pertapaan. Di pertapaan tersebut, tinggalah Bagawan Samiti. Beliau sedang duduk bertapa dan membisu. Ketika Sang Raja bertanya kemana buruannya pergi, Bagawan Samiti hanya diam membisu karena pantang berkata-kata saat sedang bertapa. Karena pertanyaannya tidak dijawab, Raja Parikesit marah dan mengambil bangkai ular dengan anak panahnya, lalu mengalungkannya ke leher Bagawan Samiti. Kemudian Sang Kresa menceritakan kejadian tersebut kepada putera Bagawan Samiti yang bernama Sang Srenggi yang bersifat mudah marah.

Saat Sang Srenggi pulang, ia melihat bangkai ular melilit leher ayahnya. Kemudian Sang Srenggi mengucapkan kutukan bahwa Raja Parikesit akan mati digigit ular setelah tujuh hari sejak kutukan tersebut diucapkan. Bagawan Samiti kecewa terhadap perbuatan puteranya tersebut, yang mengutuk raja yang telah memberikan mereka tempat berlindung. Akhirnya Bagawan Samiti berjanji akan mengakhiri kutukan tersebut. ia mengutus muridnya untuk memberitahu Sang Raja, namun Sang Raja sudah merasa tersinggung dan juga malu untuk menerima mengakhiri kutukan tersebut dan memilih untuk berlindung. setelah beliau diramalkan akan dibunuh oleh seekor ular. Maka beliaupun menyuruh untuk mengadakan upacara sarpayajna untuk mengusir semua ular dan berlindung di sebuah menara yang dijaga dan diawasi dengan ketat oleh prajurit dan para patihnya. Di sekeliling menara juga telah siap para tabib yang ahli menangani bisa ular.

Kemudian Naga Taksaka pergi ke Hastinapura untuk melaksanakan perintah Sang Srenggi untuk menggigit Sang Raja. Penjagaan di Hastinapura sangat ketat. Sang Raja berada dalam menara tinggi dan dikelilingi oleh prajurit, brahmana, dan ahli bisa. Naga Taksaka mengalami kesulitan untuk menjalankan perintah itu. Akhirnya pada hari ketujuh, yaitu hari yang diramalkan menjadi hari kematiannya, seekor naga yang bernama Taksaka menyamar menjadi ulat pada jambu yang dihaturkan kepada Sang Raja. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Raja Parikesit wafat setelah digigit Naga Taksaka .

Versi Jawa

Parikesit adalah putera Abimanyu alias Angkawijaya, kesatria Plangkawati dengan permaisuri Dewi Utari, puteri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yustinawati dari Kerajaan Wirata. Ia seorang anak yatim, karena ketika ayahnya gugur di medan perang Bharatayuddha, ia masih dalam kandungan ibunya. Parikesit lahir di istana Hastinapura setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Hastinapura.

Parikesit naik tahta negara Hastinapura menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudistira setelah menjadi raja negara Hastinapura. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.

Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putera, yaitu:

  1. Dewi Puyangan, berputera Ramayana dan Pramasata
  2. Dewi Gentang, berputera Dewi Tamioyi
  3. Dewi Satapi alias Dewi Tapen, berputera Yudayana dan Dewi Pramasti
  4. Dewi Impun, berputera Dewi Niyedi
  5. Dewi Dangan, berputera Ramaprawa dan Basanta.

Raja Janamejaya mengadakan upacara korban ular

Setelah Maharaja Parikesit mangkat, puteranya yang bernama Janamejaya menggantikan tahtanya. Pada waktu itu beliau masih kanak-kanak, namun sudah memiliki kesaktian, kepandaian, dan wajah yang tampan. Raja Janamejaya dinikahkan dengan puteri dari Kerajaan Kasi, bernama Bhamustiman. Raja Janamejaya memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dunia tenteram, setiap musuh pasti dapat ditaklukkannya. Ketika Sang Raja berhasil menaklukkan desa Taksila, Sang Uttangka datang menghadap Sang Raja dan mengatakan niatnya yang benci terhadap Naga Taksaka, sekaligus menceritakan bahwa penyebab kematian ayahnya adalah karena ulah Naga Taksaka.

Sang Raja meneliti kebenaran cerita tersebut dan para patihnya membenarkan cerita Sang Uttangka. Sang Raja dianjurkan untuk mengadakan upacara pengorbanan ular untuk membalas Naga Taksaka. Singkat cerita, beliau menyiapakan segala kebutuhan upacara dan mengundang para pendeta dan ahli mantra untuk membantu proses upacara. Melihat Sang Raja mengadakan upacara tersebut, Naga Taksaka menjadi gelisah. Kemudian ia mengutus Sang Astika untuk menggagalkan upacara Sang Raja. Sang Astika menerima tugas tersebut lalu pergi ke lokasi upacara. Sang Astika menyembah-nyembah Sang Raja dan memohon agar Sang Raja membatalkan upacaranya. Sang Raja yang memiliki rasa belas kasihan terhadap Sang Astika, membatalkan upacaranya. Akhirnya, Sang Astika mohon diri untuk kembali ke Nagaloka. Naga Taksaka pun selamat dari upacara tersebut.

Wesampayana menuturkan MahaBharata

Maharaja Janamejaya yang sedih karena upacaranya tidak sempurna, meminta Bagawan Byasa untuk menceritakan kisah leluhurnya, sekaligus kisah Pandawa dan Korawa yang bertempur di Kurukshetra. Karena Bagawan Byasa sibuk dengan urusan lain, maka Bagawan Wesampayana disuruh mewakilinya. Beliau adalah murid Bagawan Byasa, penulis kisah besar keluarga Bharata atau Mahābhārata. Sesuai keinginan Raja Janamejaya, Bagawan Wesampayana menuturkan sebuah kisah kepada Sang Raja, yaitu kisah sebelum sang raja lahir, kisah Pandawa dan Korawa, kisah perang di Kurukshetra, dan kisah silsilah leluhur sang raja. Wesampayana mula-mula menuturkan kisah leluhur Maharaja Janamejaya (Sakuntala, Duswanta, Bharata, Yayati, Puru, Kuru), kemudian kisah buyutnya, yaitu Pandawa dan Korawa.

Garis keturunan Maharaja Yayati

Leluhur Maharaja Janamejaya yang menurunkan pendiri Dinasti Puru dan Yadu bernama Maharaja Yayati, beliau memiliki dua permaisuri, namanya Dewayani dan Sarmishta. Dewayani melahirkan Yadu dan Turwasu, sedangkan Sarmishta melahirkan Anu, Druhyu, dan Puru. Keturunan Sang Yadu disebut Yadawa sedangkan keturunan Sang Puru disebut Paurawa.

Dalam silsilah generasi Paurawa, lahirlah Maharaja Dushyanta, menikahi Sakuntala, yang kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menaklukkan dunia dan daerah jajahannya kemudian dikenal sebagai Bharatawarsha. Sang Bharata menurunkan Dinasti Bharata. Dalam Dinasti Bharata lahirlah Sang Kuru, yang menyucikan sebuah tempat yang disebut Kurukshetra, kemudian menurunkan Kuruwangsa, atau Dinasti Kuru. Setelah beberapa generasi, lahirlah Prabu Santanu, yang mewarisi tahta Hastinapura.

Hastinapura adalah sebuah kota dan Nagar Panchayat di distrik Meerut, Uttar Pradesh, negara bagian India. Hastinapura berasal dari kata Hasti (gajah) + Pura (kota). Banyak kejadian di kisah MahaBharata yang terjadi di Hastinapura. Pada masa kini, kota ini disebut Hastinapur, sebuah kota kecil yang terletak di Uttar Pradesh, jaraknya 120 km dari Delhi dan 37 km dari Meerut. Di sana terdapat objek wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Kuil Jain dan Taman Nasional Hastinapur. Populasi sekitar 20.000 jiwa. Perjalanan ke sana dapat ditempuh dengan bus dari Meerut yang siap sedia dari jam 7 pagi sampai 9 malam. Jalanan bagus dan bersih dengan pemandangan hijau dan hamparan persawahan di kiri-kanan. Di sana terdapat objek wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Kuil Jain dan Taman Nasional Hastinapur.

Prabu Santanu dan keluarga besarnya:

Bisma dan Srikandi, Pandu, Drestarasta dan Gandari, Sakuni, Widura, Balarama, Kresna, Subadra, Pandawa, Korawa

Bhisma

Tersebutlah seorang Raja bernama Pratipa, beliau merupakan salah satu keturunan Sang Kuru atau Kuruwangsa, bertahta di Hastinapura. Raja Pratipa memiliki permaisuri bernama Sunandha dari Kerajaan Siwi, yang melahirkan tiga putera. Di antara ketiga putera tersebut, Santanu dinobatkan menjadi Raja.

Raja Santanu menikahi Dewi Gangga, kemudian berputera 8 orang yang merupakan penjelmaan dari delapan Wasu. Setiap putranya lahir, Ibunya (Dewi Gangga) pergi ke sungai dan menenggelamkannya. Hal tersebut terjadi sebanyak tujuh kali. Saat putera yang kedelapan lahir, Raja mengikuti dan mencegah istrinya menenggelamkan anak mereka yang kedelapan. Putera yang selamat itu bernama Dewabrata, yang di kemudian hari dikenal sebagai Bhisma. Raja Santanu menikah sekali lagi dengan seorang puteri nelayan bernama Satyawati. Satyawati melahirkan 2 putera, bernama Chitrāngada dan Wicitrawirya.

7 putra tersebut ditenggelamkan merupakan penjelmaan dari Delapan Wasu yang mengalami kutukan karena perbuatannya mencuri lembu sakti milik Resi Wasistha. Dalam perjalanannya menuju bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga mau turun ke dunia untuk menjadi istri putera Raja Pratipa, yaitu Santanu. Delapan Wasu kemudian membuat kesepakatan dengan Dewi Gangga bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putera Prabu Santanu dan dilahirkan oleh Dewi Gangga. Bisma merupakan penjelmaan Wasu yang bernama Prabhata.

Sementara tujuh kakaknya yang telah lahir berhasil mengakhiri kutukan karena ditenggelamkan ke sungai Gangga oleh ibu mereka sendiri, Bisma tidak berhasil mengikuti jejak 7 wasu yang lain karena di cegah oleh ayahnya. Kemudian, sang ibu membawa Bisma yang masih bayi ke surga, meninggalkan Prabu Santanu sendirian. Setelah 36 tahun kemudian, Dewi Gangga kemudian menyerahkan anak tersebut kepada Sang Prabu di hilir sungai Gangga, dan memberinya nama Dewabrata. Dewabrata kemudian menjadi pangeran yang cerdas dan gagah, dan dicalonkan sebagai pewaris kerajaan. Namun karena janjinya terhadap Sang Dasapati, ayah Satyawati (ibu tirinya), ia rela untuk tidak mewarisi tahta serta tidak menikah seumur hidup agar kelak keturunannya tidak memperebutkan tahta kerajaan dengan keturunan Satyawati. Karena ketulusannya tersebut, ia diberi nama Bisma dan dianugerahi agar mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.

Nama Bhishma dalam bahasa Sanskerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.

Bisma mempelajari ilmu politik dari Brihaspati (guru para Dewa), ilmu Veda dan Vedangga dari Resi Wasistha, dan ilmu perang dari Parasurama (Ramaparasu; Rama Bargawa), seorang ksatria legendaris sekaligus salah satu Chiranjīwin yang hidup abadi sejak zaman Treta Yuga. Dengan berguru kepadanya Bisma mahir dalam menggunakan segala jenis senjata dan karena kepandaiannya tersebut ia ditakuti oleh segala lawannya.

Di lingkungan keraton Hastinapura, Bisma sangat dihormati oleh anak-cucunya. Tidak hanya karena ia tua, namun juga karena kemahirannya dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran, pastilah ia selalu menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak ada yang sanggup menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan laskar Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang.

Bisma memiliki dua adik tiri dari ibu tirinya yang bernama Satyawati. Mereka bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya.

Saat Amba di menangkan Bhisma, didalam hatinya Ia lebih memilih Salva, seorang raja dari Saubala, begitu pula sebaliknya. Mereka saling menyerahkan hatinya. Raja Salva mencegat Bisma dan terjadilah pertarungan. Pertarungan itu dimenangkan oleh Bisma.

Amba, Ambika, dan Ambalika hendak dinikahkan pada Citranggada, Amba berkata pada Bisma, ’Oh Putra Gangga, tentunya engkau mengentahui apa kata kitab suci. Hatiku telah memilih Sava sebagai suami namun engkau membawa paksa diriku kemari’. Bisma mengakui bahwa Amba di bawa paksa, kemudian dengan pengawalan ang pantas Ia di kembalikan ke Raja salva.

Amba merasa sangat bersukacita, Ia menceritakan apa yang terjadi pada Raja Salva, namun ternyata tidak sesuai dengan harapannya, raja Salva tidak mau menerima Amba lagi karena ia merasa Malu telah dikalahkan dan tidak dapat menyelamatkan pujaan hatinya dulu. Amba di minta kembali kepada Bisma. Amba kemudian di minta kembali ke Hastinapura dan menceritakan apa yang terjadi pada Bisma.

Karena Citrānggada wafat pada suatu pertempuran melawan seorang Raja Gandharva, pemerintahannya digantikan oleh adiknya, Wicitrawirya, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya.

Mendengar penuturan Amba, maka kemudian Bisma kemudian membujuk Wicitrawirya untuk mengawini Amba. Namun Raja yang baru menikahi 2 wanita itu menolak menikahi Amba yang telah menyerahkan hatinya pada orang lainnya. Amba mendengar penolakan Raja dan akhirnya meminta pertanggungjawaban Bisma untuk mengawininya namun Bisma juga menolak karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Ia kemudian berjanji akan mencari cara agar Raja Salva mau menerimanya.

Permulaan Amba merasa gengsi namun setelah enam tahun berjalan dalam kesedihan yang mendalam akhirnya Ia kembali mencari Raja Salva, namun tetap saja Raja itu menolaknya.

Sungguh sangat memelas nasib Amba bertahun-tahun nasibnya terkatung-katung tak tentu dan ia merasa bahwa ini adalah gara-gara Bisma sehingga kemudian menjadi sangat dendam kepada Bisma atas seluruh kejadian yang menimpanya. Ia kemudian berkeliling keseluruh penjuru mencari mengadukan nasibnya pada para ksatria dan meminta bantuan mereka untuk melawan Bisma. Seluruh ksatria saat itu tidak ada yang mau berhadapan dengan Bisma. Ia kemudian mencari perlidungan kepada Yang maha kuasa (subramanyam), Yang maha Kuasa memberikan sebuah karangan bunga lotus kepadanya bahwa barang siapa yang memakai itu akan dapat mengalahkan Bisma.

Sekali lagi ia pergi keseluruh penjuru mencari Ksatria yang ada, namun mereka terlalu gentar untuk melawan Bisma. Terakhir ia memohon kepada Raja Drupada, namun Raja itu juga menolak. Amba putus asa dan meletakan Karangan bunga itu di pintu gerbang Istana dan kemudian masuk menuju hutan. Di Hutan itu ia bertemu dengan beberapa pertapa yang menyarankan Amba untuk memohon bantuan pada Parasurama, guru dari Bisma

Gurunya Bisma, Parasurama, menaruh perhatian terhadap masalah Bisma dan Amba. Ia kemudian bertemu dengan Bisma, dari mulai membujuk halus hingga terjadilah pertarungan antara guru dan murid. Ternyata sang Guru juga dapat dikalahkan oleh muridnya. Kejadian itu juga yang mimicu sumpah Parasurama bahwa Ia tidak lagi menerima murid dari kasta Kshatriya.

Setelah tidak ada satu manusiapun yang mampu. Akhirnya Amba menuju Himalaya, melakukan tapabrata keras dan memasrahkan persoalan ini kepada Yang Mahakuasa, Shiva. Ditengah pertapaannya itu, Shiva hadir dihadapannya dan memberikan restu bahwa di kehidupan mendatang Ia akan dapat membunuh Bhisma. Amba senang mendengar ini namun ia sudah tidak sabar lagi menanti saat itu tiba. Ia kemudian membakar dirinya agar dapat segera membunuh Bisma dengan tangannya Sendiri.

Berkat Deva Shiva menjadikan Ia lahir sebagai anak Raja Drupada. Beberapa tahun kemudian setelah kelahirannya. Ia juga menemukan karangan bunga yang pernah ia letakan di gerbang Istana. Karangan buga itu masih ada, karena tidak ada seorangpun yang berani mengambilnya untuk berhadapan melawan Bisma. Ia kemudian memakainya. Raja Drupada melihat juga hal itu dan merinding melihatnya, kemudian Raja mengasingkannya di sebuah Hutan. Di hutan itu, Ia menggembleng diri dan melakukan tapabrata. Kelaminnya berubah menjadi Laki-laki dan Iapun dikenal denan nama Srikandi. Beberapa tahun kemudia Bisma tewas di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra.

Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Korawa. Mereka menghormatinya sebagai seorang kakek sekaligus kepala keluarga yang bijaksana. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka (Pandu), yang sebenarnya telah wafat. Saat perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdo’a agar kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan. Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.

Versi Jawa:

Bisma adalah anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahnawi (dalam versi Jawa). Waktu kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga mempunyai nama lain Ganggadata. Dia adalah salah satu tokoh wayang yang tidak menikah yang disebut dengan istilah Brahmacarin. Berkediaman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan digambarkan seorang yang sakti, dimana sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena keinginan yang luhur dari dirinya demi menghindari perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak menjadi raja.

Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara untuk mendapatkan putri bagi Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang dimenangkannya adalah Dewi Amba dan Dewi Amba ternyata mencintai Bisma. Bisma tidak bisa menerima cinta Dewi Amba karena dia hanya wakil untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba tetap berkeras hanya mau menikah dengan Bisma. Bisma pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi Amba yang sedang sekarat dipeluk oleh Bisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Dewi Amba. Setelah roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kemudian mengatakan bahwa dia akan menjemput Bisma suatu saat agar bisa bersama di alam lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha.

Dikisahkan, saat ia lahir, ibunya moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Ayahnya prabu Santanu kemudian mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata bertemu dengan Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa. Setelah Durgandini bercerai, ia dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citrānggada dan Wicitrawirya, yang menjadi saudara Bisma seayah lain ibu.

Setelah menikahkan Citrānggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta menjadi pertapa, dan digantikan anaknya. Sayang kedua anaknya kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Astina dan janda Citrānggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Byasa, putra Durgandini dari suami pertama. Byasa-lah yang kemudian menurunkan Pandu dan Dretarata, orangtua Pandawa dan Korawa. Demi janjinya membela Astina, Bisma berpihak pada Korawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di perang Bharatayuddha. Bisma memiliki kesaktian tertentu, yaitu ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri

Adik tiri Bisma, Wicitrawirya wafat tak lama setelah pernikahannya. Ia tidak memiliki keturunan. Oleh karena itu, Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, untuk menemui Resi Byasa, sebab Sang Resi akan mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan.

Byasa

Byasa bergelar Weda Wyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai Weda). Beliau juga dikenal dengan nama Krishna Dwaipayana. Beliau adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu MahaBharata.

Wisnupurana menyatakan bahwa alam semesta adalah suatu siklus, ada dan tiada berulang kali. Setiap siklus dipimpin oleh beberapa Manu, satu untuk setiap Manwantara, yang memiliki empat zaman, disebut Caturyuga (empat Yuga). Dwaparayuga adalah Yuga yang ketiga. Kitab Purana (Buku 3, Chanto 3):

“Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Wisnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Weda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, ia membuat Weda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa.”

Krishna Dwaipayana membagi Weda menjadi empat bagian (Caturweda), dan oleh karena itu ia juga memiliki nama Weda Wyasa yang artinya “Pembagi Weda”. Kata Wyasa berarti “membelah”, “memecah”, “membedakan”. Dalam proses pengkodifikasian Weda, Wyasa dibantu oleh empat muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana.

Pada suatu ketika, timbul keinginan Resi Byasa untuk menyusun riwayat keluarga Bharata. Atas persetujuan Dewa Brahma, Hyang Ganapati (Ganesha) datang membantu Byasa. Ganapati meminta Wyasa agar ia menceritakan MahaBharata tanpa berhenti, sedangkan Ganapati yang akan mencatatnya. Setelah dua setengah tahun, MahaBharata berhasil disusun. Murid-murid Resi Byasa yang terkemuka seperti Pulaha, Jaimini, Sumantu, dan Wesampayana menuturkannya berulang-ulang dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Orangtua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati (alias Durgandini atau Gandawati). Diceritakan bahwa pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu.

Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk.

Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan Satyawati dalam sekejap.

Setelah lamaran disetujui oleh orangtua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India. Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Ia diberi nama Krishna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (krishna) dan lahir di tengah pulau (dwaipayana). Anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.

Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam MahaBharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya.

Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam MahaBharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati menanggil Byasa agar melangsungkan suatu yadnya (upacara suci) untuk memperoleh keturunan. Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.

Versi Jawa

Abyasa merupakan putra pasangan Parasara dan Durgandini. Dikisahkan Durgandini menderita bau amis pada badannya semenjak lahir. Ia diobati Parasara seorang pendeta muda, di atas perahu sampai sembuh. Keduanya saling jatuh hati dan melakukan sanggama, sehingga lahir Abyasa. Abyasa tidak lahir sendiri. Parasara juga mencipta perahu, penyakit, dan alat-alat pengobatannya menjadi manusia berjumlah enam, yaitu Setatama, Rekathawati, Bimakinca, Kincaka, Rupakinca, dan Rajamala. Semuanya dipersaudarakan dengan Abyasa.

Durgandini kemudian menjadi permaisuri Sentanu raja Hastina. Ia melahirkan Citranggada dan Citrawirya. Masing-masing secara berturut-turut naik takhta menggantikan Sentanu. Namun, keduanya masih muda. Citranggada meninggal saat belum menikah, sedangkan Citrawirya meninggal saat belum memiliki putra.

Durgandini kemudian memanggil Abyasa untuk menikahi kedua janda Citrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika. Saat itu ia baru saja bertapa sehingga keadaan tubuhnya sangat buruk dan mengerikan. Ambika ketakutan saat pertama kali bertemu sampai memejamkan mata. Abyasa meramalkan kalau Ambika kelak melahirkan putra buta. Sementara itu, Ambalika memalingkan muka karena takut. Abyasa meramalkan kelak Ambalika akan melahirkan bayi berleher cacad. Abyasa juga menikahi dayang Ambalika bernama Datri. Perempuan itu ketakutan dan mencoba lari. Ia pun ditramal kelak akan melahirkan putra berkaki pincang. Akhirnya, Ambika, Ambalika, dan Datri masing-masing melahirkan putra yang diberi nama Dretarastra, Pandu, dan Widura.

Pewaris sah takhta Hastina sesungguhnya adalah Bisma putra Sentanu dari istri pertama. Namun ia telah bersumpah tidak akan menjadi raja, sehingga sebagai pengganti Citrawirya, Abyasa pun naik takhta sampai kelak ketiga putranya dewasa. Setelah tiba saatnya, Abyasa pun turun takhta digantikan Pandu sebagai raja Hastina selanjutnya. Ia kembali menjadi pendeta di pertapaan Ratawu yang terletak di pegunungan Saptaarga. Abyasa merupakan pendeta agung yang sangat dihormati. Tidak hanya keluarga Hastina saja yeng menjadikannya tempat meminta nasihat, namunjuga dari negeri-negeri lainnya.

Versi pewayangan mengisahkan kematian Abyasa sesaat sesudah perang Baratayuda usai, yaitu ketika keturunannya yang bernama Parikesit cucu Arjuna dilahirkan. Konon, atas jasa-jasanya selama hidup di dunia, datang kereta emas dari kahyangan menjemput Abyasa. Ia pun naik ke sorga bersama seluruh raganya. Nama Dipayana kemudian diwarisi oleh Parikesit.

Satyawati

Satyawati menyuruh Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Dretarastra.

Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putera yang buta (Dretarastra) seperti yang telah dilakukan Ambika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan (Byasa) yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu (puteranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat. Atas anugerah Bagawan Byasa, seorang pelayan yang turut serta dalam upacara tersebut melahirkan seorang putera, bernama Widura yang paling bijaksana, tapi bukan keturunan ksatria.

Drestarastra

Drestarastra, sebagai anak tertua sebenarnya yang berhak menjadi Raja Hastinapura karena ia merupakan putera Wicitrawirya yang tertua. Akan tetapi Karena Dretarastra terlahir buta, maka tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya, yaitu Pandu. Setelah Pandu wafat, Dretarastra menggantikannya sebagai raja (kadangkala disebut sebagai pejabat pemerintahan untuk sementara waktu).

Drestarastra menikahi Gandari yang merupakan puteri Subala, Raja Gandhara (di masa sekarang disebut Kandhahar), yaitu wilayah yang meliputi Pakistan barat daya dan Afghanistan timur, dan namanya diambil dari sana. Gandari menikahi Dretarastra, pangeran tertua di Kerajaan Kuru. Ketika mengetahui calon suaminya Buta, maka ia lalu menutupi matanya sendiri degan kain, “Kalau suamiku tidak bisa melihat lalu buat apa ku melihat”. Semenjak itu Gandari sengaja menutup matanya sendiri agar tidak bisa menikmati keindahan dunia karena ingin mengikuti jejak suaminya.

Saat Gandari hamil dalam jangka panjang yang tidak wajar, ia memukul-mukul kandungannya dalam keadaan cemburu pada Kunti yang telah memberikan Pandu tiga orang putera. Atas tindakannya, Gandari melahirkan gumpalan daging berwarna keabu-abuan. Kemudian Gandari memuja Byasa, seorang pertapa sakti, yang kemudian memberi berkah seratus orang anak kepada Gandari. Kemudian Byasa memotong gumpalan daging tersebut menjadi seratus bagian dan dimasukkan ke dalam guci kemudian dikubur selama setahun. Setelah guci-guci tersebut digali kembali, dari setiap potongan daging itu kemudian tumbuh seorang anak, yang kemudian menjadi Korawa. Di antara Korawa, yang terkemuka adalah Duryodana dan Dursasana,dan adik-adiknya yang lain.

Tanda-tanda yang buruk mengiringi kemunculannya dari dalam pot. Para brahmana di keraton merasakan adanya tanda-tanda akan bencana yang buruk. Widura mengatakan bahwa jika tanda-tanda seperti itu mengiringi kelahiran putranya, itu tandanya kekerasan akan mengakhiri dinasti tersebut. Widura dan Bisma menyarankan agar putera tersebut dibuang, namun Dretarastra tidak mampu melakukannya karena rasa cinta dan ikatan emosional terhadap putera pertamanya itu. Diantara korawa terdapat seorang puteri bernama Dursala yang menikahi Jayadrata.

Meskipun putera-putera Gandari disebut sebagai tokoh jahat, ajaran moral yang tinggi dalam MahaBharata mengacu kepada Gandari. Ia berulang kali menasihati puteranya agar mengkikuti dharma dan berdamai dengan Pandawa. Gandari dekat dengan Kunti yang menghormatinya seperti seorang kakak.

Pada saat perang antara Korawa dan Pandawa berkecamuk, satu-persatu putera Gandari gugur dalam pertempuran, hingga akhirnya hanya Duryodana yang tersisa. Takut akan kehancuran keturunannya, Gandari memberi anugerah kepada Duryodana agar puteranya tersebut mendapat kekebalan terhadap berbagai serangan musuh. Ia menyuruh agar Duryodana mandi dan setelah itu datang menemui ibunya dalam keadaan telanjang bulat. Pada saat Duryodana pergi untuk menemui ibunya, ia berpapasan dengan Kresna yang baru saja mengunjungi Gandari. Kresna mencemooh Duryodana yang tak tahu malu karena mau menghadap ibunya sendiri dalam keadaan telanjang bulat. Oleh karena malu terhadap ejekan Kresna, Duryodana mengambil kain dan menutupi wilayah kemaluannya, termasuk paha. Setelah itu ia pergi menemui ibunya.

Ketika Duryodana tiba, Gandari langsung membuka penutup matanya dan melihat Duryodana. Pada saat matanya terbuka, sinar ajaib muncul dan memberi kekuatan kepada Duryodana. Namun ketika ia mengetahui bahwa puteranya menutupi wilayah kemaluannya termasuk paha, Gandari mengatakan bahwa wilayah tersebut tidak akan kebal oleh serangan musuh karena tidak mendapat siraman kekuatan. Prediksi Gandari menjadi kenyataan. Pada saat Duryodana bertarung dengan Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas, Duryodana gugur perlahan-lahan karena pahanya yang tidak kebal dihantam oleh gada Bima.

Setelah pertempuran besar di Kurukshetra berakhir, Gandari meratapi kematian seratus putera-puteranya. Gandari menghujat Kresna yang membiarkan perang berkecamuk. Ia juga menyalahkan Kresna yang tidak mampu mencegah peperangan dan tidak bisa mendamaikan kedua pihak. Kresna berkata bahwa kewajibannya adalah melindungi kebenaran, bukan mencegah peperangan. Kemudian Gandari mengutuk Kresna, bahwa keluarga Krena, yaitu Wangsa Wresni, akan binasa karena saling membantai sesamanya. Kresna menerima kutukan tersebut dengan senyuman dan sadar bahwa Wangsa Wresni tidak akan terkalahkan kecuali oleh sesamanya. Tiga puluh enam tahun setelah kutukan tersebut diucapkan, Wangsa Wresni melakukan pembantaian besar-besaran terhadap keluarga mereka sendiri. Mereka saling membunuh sesama. Hanya Kresna, Baladewa, dan para wanita yang bertahan hidup. Setelah itu, kediaman Wangsa Wresni, yaitu Kerajaan Dwaraka, tenggelam ke dalam lautan dan memusnahkan jejak mereka. Kresna dan Baladewa bertapa ke dalam hutan dan moksa di sana, sementara para wanita mengungsi ke Kurukshetra.

Versi Jawa

Dretarastra dalam pewayangan Jawa disebut sebagai putra kandung Abyasa. Dretarastra atau kadang disingkat Destarata, dilahirkan oleh Ambika dalam keadaan buta sebagai pengingat karena ketika pertama kali berjumpa dengan Abyasa, ibunya itu memejamkan mata. Kedatangan Abyasa ke negeri Hastina ialah atas undangan ibunya, yaitu Durgandini untuk menikahi janda-janda Citrawirya. Tujuannya ialah untuk menyambung garis keturunan Wangsa Bharata, karena pewaris yang sesungguhnya, yaitu Bisma, telah bersumpah untuk hidup wahdat. Sewaktu kecil Dretarastra serta kedua adiknya, yaitu Pandu dan Widura berguru kepada Bisma tentang ilmu pemerintahan dan kesaktian. Meskipun menyandang tunanetra, namun Dretarastra mampu menguasai ilmu Lebur Geni sehingga mampu meremukkan apa saja melalui genggamannya.

Dikisahkan Pandu pulang dari Mandura dengan membawa Kunti sebagai hadiah sayembara, serta Madrim putri dari Mandaraka. Di tengah jalan rombongan itu dihadang oleh Gendara raja Plasajenar yang terlambat mengikuti sayembara di Mandura. Pertempuran terjadi antara keduanya dan berakhir dengan kematian Gendara. Ia berwasiat menitipkan kedua adiknya, yaitu Gendari dan Sengkuni untuk dibawa Pandu. Sesampainya di Hastina, Pandu menyerahkan ketiga putri boyongannya untuk dipilih salah satu sebagai istri Dretarastra. Kakaknya itu memilih Gendari yang diramalkannya akan memberinya banyak putra. Perkawinan tersebut memang melahirkan seratus orang anak, yang dikenal dengan nama Korawa.

Karena menyandang cacad fisik, takhta Hastina pun diserahkan kepada Pandu, sedangkan Abyasa yang bertindak sebagai raja sementara kembali ke pertapaannya di Saptaarga. Sementara itu, Dretarastra diangkat sebagai adipati (raja bawahan) di daerah Gajah Oya, sedangkan Widura di Pagombakan.

Pandu

Pandu, merupakan anak kedua, Kakaknya adalah Dretarasta yang sebenarnya merupakan pewaris dari Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura, tetapi karena buta maka tahta diserahkan kepada Pandu dan Widura, yang tidak memiliki ilmu kesaktian apapun tetapi memiliki ilmu kebijaksanaan yang luar biasa terutama bidang ketatanegaraan.

Nama Pandu atau pāṇḍu dalam bahasa Sanskerta berarti pucat, dan kulit beliau memang pucat, karena ketika ibunya (Ambalika) menyelenggarakan upacara putrotpadana untuk memperoleh anak, ia berwajah pucat.

Di kalangan Jawi (jawa Kuna/Sunda), “Pandu” berasal dari “Wandu” yang artinya bukan laki bukan perempuan, tetapi bukan banci. Tegasnya, sajeroning lanang ana wadon, sajeroning wadon ana lanang, yaitu manusia yang sudah menemukan jodohnya dari dalam dirinya sendiri. Gusti Pangeran dan hambanya sudah bersatu dan selalu berjamaah.

Pandu merupakan seorang pemanah yang mahir. Ia memimpin tentara Dretarastra dan juga memerintah kerajaan untuknya. Pandu menaklukkan wilayah Dasarna, Kashi, Anga, Wanga, Kalinga, Magadha, dan lain-lain.

Saat berburu di hutan, tanpa sengaja Pandu memanah seorang resi yang sedang bersenggama dengan istrinya. Atas perbuatan tersebut, Sang Resi mengutuk Pandu agar kelak ia meninggal saat bersenggama dengan istrinya. Sejak saat itu apabila nanti Pandu bersenggama dengan Istrinya Ia akan mati.

Dalam suatu sayembara, Prabu Pandu berhasil memenangkan sayembara untuk mendapatkan Kunti putri dari Prabu Kuntiboja. Prabu Salya dari kerajaan Madra yang terlambat datang menantang Pandu untuk mendapatkan Dewi Kunti dengan taruhannya adalah Dewi Madri adiknya.

Salya dan Pandu kemudian bertanding dan Pandu menang sehingga juga mendapatkan Madri sebagai istri kedua. Madri dinikahkan dengan Pandu untuk mempererat hubungan antara Hastinapura dengan Kerajaan Madra.

Pandu menanggung kutukan bahwa ia akan meninggal apabila bersenggama, maka ia tidak bisa memiliki keturunan. Akhirnya Pandu dan istrinya mengembara di hutan sebagai pertapa dan meninggalkan Hastinapura. Di sana, Kunti mengeluarkan mantra rahasianya untuk memangil para Dewa. Ia menggunakan mantra tersebut tiga kali untuk memanggil Dewa Yama, Bayu, dan Indra. Dari ketiga Dewa tersebut ia memperoleh tiga putera, yaitu Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kunti juga memberikan kesempatan bagi Madri untuk memanggil Dewa. Madri memanggil Dewa Aswin, dan mendapatkan putera kembar bernama Nakula dan Sadewa.

Lima belas tahun setelah ia hidup membujang, ketika Kunti dan putera-puteranya berada jauh, Tergodalah Pandu dan mencoba untuk bersenggama dengan Madri. Atas tindakan tersebut, Pandu wafat sesuai dengan kutukan yang diucapkan oleh resi yang pernah dibunuhnya. Baik Kunti maupun Madri bersedih dan hendak melakukan Satya, namun Madri menyatakan bahwa Ia yang menyebabkan kematian, maka biarkan ia yang melakukan Satya dan menitipkan putera kembarnya, Nakula dan Sadewa, agar dirawat oleh Kunti sementara ia membakar dirinya sendiri untuk menyusul suaminya ke alam baka.

Versi Jawa

Dalam pewayangan, tokoh Pandu (Bahasa Jawa: Pandhu) merupakan putera kandung Byasa yang menikahi Ambalika, janda Wicitrawirya. Bahkan, Byasa dikisahkan mewarisi takhta Hastinapura sebagai raja sementara sampai Pandu dewasa. Pandu digambarkan berwajah tampan namun memiliki cacat di bagian leher, sebagai akibat karena ibunya memalingkan muka saat pertama kali menjumpai Byasa. Para dalang mengembangkan kisah masa muda Pandu yang hanya tertulis singkat dalam MahaBharata. Misalnya, Pandu dikisahkan selalu terlibat aktif dalam membantu perkawinan para sepupunya di Mathura. Pandu pernah diminta para dewa untuk menumpas musuh kahyangan bernama Prabu Nagapaya, raja raksasa yang bisa menjelma menjadi naga dari negeri Goabarong. Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Pandu mendapat hadiah berupa pusaka minyak Tala.

Pandu kemudian menikah dengan Kunti setelah berhasil memenangkan sayembara di negeri Mathura. Ia bahkan mendapatkan hadiah tambahan, yaitu Puteri Madri, setelah berhasil mengalahkan Salya, kakak sang puteri. Di tengah jalan ia juga berhasil mendapatkan satu puteri lagi bernama Gandari dari negeri Plasajenar, setelah mengalahkan kakaknya yang bernama Prabu Gendara. Puetri yang terakhir ini kemudian diserahkan kepada Dretarastra, kakak Pandu.

Pandu naik takhta di Hastina menggantikan Byasa dengan bergelar “Prabu Pandu Dewanata” atau “Prabu Gandawakstra”. Ia memerintah didampingi Gandamana, pangeran Panchala sebagai patih. Tokoh Gandamana ini kemudian disingkirkan oleh Sangkuni, adik Gandari secara licik.

Dari kedua istrinya, Pandu mendapatkan lima orang putra yang disebut Pandawa. Berbeda dengan kitab MahaBharata, kelimanya benar-benar putera kandung Pandu, dan bukan hasil pemberian dewa. Para dewa hanya dikisahkan membantu kelahiran mereka. Misalnya, Bhatara Dharma membantu kelahiran Yudistira, dan Bhatara Bayu membantu kelahiran Bima. Kelima putra Pandu semuanya lahir di Hastina, bukan di hutan sebagaimana yang dikisahkan dalam MahaBharata.

Kematian Pandu dalam pewayangan bukan karena bersenggama dengan Madri, melainkan karena berperang melawan Prabu Tremboko, muridnya sendiri. Dikisahkan bahwa Madri mengidam ingin bertamasya naik Lembu Nandini, wahana Batara Guru. Pandu pun naik ke kahyangan mengajukan permohonan istrinya. Sebagai syarat, ia rela berumur pendek dan masuk neraka. Batara Guru mengabulkan permohonan itu. Pandu dan Madri pun bertamasya di atas punggung Lembu Nandini. Setelah puas, mereka mengembalikan lembu itu kepada Batara Guru. Beberapa bulan kemudian, Madri melahirkan bayi kembar bernama Nakula dan Sadewa.

Sesuai kesanggupannya, Pandu pun berusia pendek. Akibat adu domba dari Sangkuni, Pandu pun terlibat dalam perang melawan muridnya sendiri, yaitu seorang raja raksasa dari negeri Pringgadani bernama Prabu Tremboko. Perang ini dikenal dengan nama Pamoksa. Dalam perang itu, Tremboko gugur terkena anak panah Pandu, namun ia sempat melukai paha lawannya itu menggunakan keris bernama “Kyai Kalanadah”. Akibat luka di paha tersebut, Pandu jatuh sakit. Ia akhirnya meninggal dunia setelah menurunkan wasiat agar Hastinapura untuk sementara diperintah oleh Dretarastra sampai kelak Pandawa dewasa. Antara putera-puteri Pandu dan Tremboko kelak terjadi perkawinan, yaitu Bima dengan Hidimbi, yang melahirkan Gatotkaca, seorang kesatria berdarah campuran, manusia dan raksasa.

Istilah Pamoksa seputar kematian Pandu versi Jawa berbeda dengan istilah moksa dalam agama Hindu. Dalam “Pamoksa”, Pandu meninggal dunia musnah bersama seluruh raganya. Jiwanya kemudian masuk neraka sesuai perjanjian. Atas perjuangan putera keduanya, yaitu Bima beberapa tahun kemudian, Pandu akhirnya mendapatkan tempat di sorga. Versi lain yang lebih dramatis mengisahkan Pandu tetap memilih hidup di neraka bersama Madri sesuai janjinya kepada dewa. Baginya, tidak menjadi masalah meskipun ia tetap tinggal di neraka, asalkan ia dapat melihat keberhasilan putera-puteranya di dunia. Perasaan bahagia melihat dharma bakti para Pandawa membuatnya merasa hidup di sorga.

Widura

Widura adalah adik tiri Pandu dan Dretarasta karena memiliki ayah yang sama, tetapi lain ibu. Diceritakan bahwa pada saat Ambalika diminta untuk menghadap Resi Byasa untuk memperoleh keturunan, ia menolak karena merasa takut dengan raut wajah sang resi yang sangat dahsyat. Demi memenuhi permintaan mertuanya, yaitu Satyawati, Ambalika mengirimkan seorang pelayan untuk menemui Resi Byasa sendirian di dalam sebuah kamar. Pelayan tersebut melayani sang resi dengan baik sehingga sang resi berkata bahwa kelak anak yang akan dilahirkan dari rahim pelayan tersebut akan berperilaku mulia. Resi Byasa juga berkata bahwa anak yang akan dilahirkan sang pelayan merupakan penjelmaan Dewa Dharma. Namun satu hal yang membuat Satawati kecewa yakni putera tersebut bukanlah keturunan menantunya, melainkan keturunan seorang pelayan.

Saat Widura masih muda, ia belajar di bawah bimbingan Bisma bersama dengan kedua orang saudaranya. Menurut MahaBharata, ia paling bijaksana jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Ia belajar menjadi menteri raja, sementara Pandu diangkat menjadi panglima perang, sedangkan Dretarastra dipilih sebagai putera mahkota. Karena Dretarastra buta, Pandu menggantikannya dan memerintah atas nama Dretarastra, sedangkan Widura menjadi penasihat raja dan menemani Dretarastra.

Widura merupakan orang yang tanggap ketika timbul niat jahat di hati Dretarastra dan Duryodana untuk menyingkirkan para Pandawa. Maka sebelum Pandawa berangkat ke Waranawata untuk berlibur, Widura memperingati Yudistira agar berhati-hati terhadap para Korawa dan ayah mereka, yaitu Dretarastra. Saat keselamatan para Pandawa dan ibunya terancam di Waranawata, berkali-kali Widura mengirimkan pesuruh untuk membantu para Pandawa meloloskan diri dari setiap bencana yang menimpanya.

Dalam pertikaian antara Korawa dan Pandawa mengenai masalah Hastinapura, Widura telah berusaha untuk mendamaikannya, mengingat bahwa kedua belah pihak adalah satu keluarga dan saudara. Dalam usahanya mencari perdamaian ia menghubungi sesepuh-sesepuh Pandawa dan Korawa, antara lain Resi Bisma, Resi Drona, Prabu Dretarasta, Sri Kresna, Yudistira dan Duryodana serta menyatakan bahwa ialah yang menulis piagam penyerahan Hastinapura dari Resi Byasa (Abiyasa) kepada Prabu Dretarasta sebagai pemangku kerajaan setelah Prabu Pandudewanata mangkat. Ketika perang di Kurukshetra berkecamuk, Widura tetap tinggal di Hastinapura meskipun ia tidak memihak para Korawa.

Versi Jawa

Widura sering pula disebut dengan nama Yamawidura. Ia berkedudukan sebagai adipati Pagombakan, yaitu sebuah negeri kecil bawahan Hastina. Widura merupakan putra ketiga Abyasa yang lahir dari dayang bernama Datri. Abyasa kemudian diperintah ibunya (Durgandini) untuk “berhubungan” dengan Ambalika sekali lagi. Ambalika memerintahkan dayangnya yang bernama Datri supaya menyemar sebagai dirinya. Ternyata Datri juga ketakutan saat bertemu dengan Abyasa. Ia mencoba lari ke luar kamar. Akibatnya, Datri pun melahirkan bayi berkaki pincang, yang diberi nama Widura.

Widura menikah dengan Padmarini, putri Dipacandra dari Pagombakan, bawahan negeri Hastina. Widura kemudian menggantikan kedudukan Dipacandra sepeninggal mertuanya itu. Yang menjabat sebagai patih di Pagombakan adalah Jayasemedi. Widura memiliki putra bernama Sanjaya yang menjadi juru penuntun Dretarastra. Sementara itu, dalam versi aslinya, antara Widura dengan Sanjaya sama sekali tidak terdapat hubungan darah.

Sepeninggal Pandu, kelima putranya yang disebut Pandawa tidak menetap di istana Hastina, melainkan tinggal bersama Widura di Pagombakan. Widura berhasil mendidik kelima keponakannya itu menjadi manusia-manusia utama. Dalam dunia politik, Widura bermusuhan dengan Sangkuni, adik ipar Dretarastra yang berpangkat patih. Sangkuni sendiri menanamkan kebencian di hati para keponakannya, yaitu Korawa untuk membenci Pandawa sejak kecil.

Ketika Pandawa hendak diserahi takhta Hastina warisan Pandu, mereka terlebih dulu dijebak oleh para Korawa dalam Balai Sigala-gala yang dibakar. Namun, karena Widura membangun terowongan rahasia di bawah gedung tersebut, Pandawa dan ibunya, yaitu Kunti berhasil meloloskan diri dari maut.

Widura berusia sangat panjang. Sementara itu putranya, yaitu Sanjaya gugur dalam perang Bharatayuda melawan Karna. Widura meninggal dunia saat bertapa di dalam hutan, ketika Pandawa telah berhasil mendapatkan kembali kekuasaan atas negeri Hastina pasca tertumpasnya Korawa.

Kunti

Kunti merupakan puteri Raja Kuntibhoja dari Wangsa Wresni, Ia adalah saudara dari Basudewa yang merupakan ayah dari Baladewa, Kresna dan Subadra. Ayah Kunti adalah Raja Surasena dari Wangsa Yadawa, dan saat bayi ia diberi nama Pritha. Ia merupakan adik Basudewa, ayah Kresna. Kemudian ia diadopsi oleh Raja Kuntiboja yang tidak memiliki anak, dan semenjak itu ia diberi nama Kunti. Setelah Kunti menjadi puterinya, Raja Kuntibhoja dianugerahi anak.

Pada saat Kunti masih muda, Ia menjamu dengan baik tamu ayahnya, yaitu seorang pendeta bernama Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, yaitu semacam mantra agar mampu memanggil Dewa mana saja dan memberikannya anak tanpa perlu menjalani kehamilan. Ketika Kunti bertanya mengapa ia diberikan mantra itu, Resi tersebut menjawab bahwa itu akan diperlukannya kelak kemudian.

Karena tidak yakin seampuh apa mantra itu, maka Kunti mencoba menggunakan mantra Adityahredaya sambil memandang matahari terbit. Akibatnya, dewa penguasa matahari yaitu Surya muncul dan siap menganugerahi Kunti seorang putra. Kunti yang ketakutan menjawab bahwa dirinya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya saja. Ia menolak memiliki anak karena saat itu dirinya belum menikah. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Surya kemudian bersabda, dan seketika itu pula Kunti mengandung. Namun berkat bantuan dewa matahari tersebut, dalam waktu singkat Kunti langsung melahirkan seorang putera. Surya lalu kembali ke kahyangan setelah memulihkan keperawanan Kunti.

Versi Jawa

Guru Kunti bernama Resi Druwasa, sedangkan mantra yang diajarkannya bernama Aji Punta Wekasing Rasa Cipta Tunggal Tanpa Lawan. Dalam versi ini, yang membantu kelahiran Karna bukan Batara Surya, melainkan Resi Druwasa sendiri. Dengan kesaktiannya, ia membantu Kunti melahirkan “putera Surya” itu melalui telinga sehingga keperawanannya tetap terjaga. Kisah versi Jawa ini mungkin terpengaruh oleh makna harfiah Karna, yaitu “telinga”. Sementara versi asli menyebut Kunti melahirkan secara normal dengan bantuan Surya.

Kunti tidak ingin memiliki putera semasih muda, maka ia memasukkan anak tersebut ke dalam keranjang dan menghanyutkannya di sungai Aswa. Kemudian putera tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton Hastinapura yang bernama Adirata, dan anak tersebut diberi nama Karna.

Salya

Salya adalah raja Kerajaan Madra. Raja Kerajaan Madra semula bernama Artayana, yang memiliki dua orang anak bernama Salya dan Madri. Setelah Artayana meninggal, Salya menggantikannya sebagai raja. Merujuk pada nama ayahnya, Salya dalam MahaBharata sering pula disebut Artayani. Salya memiliki dua orang putra bernama Rukmarata dan Rukmanggada. Namun siapa nama istrinya atau ibu dari kedua anak tersebut tidak diketahui dengan jelas. Versi Bharatayuddha, yaitu sebuah naskah berbahasa Jawa Kuno menyebut nama istri Salya adalah Satyawati. Dari perkawinan itu kemudian lahir Rukmarata.

Versi Jawa

Kisah perkawinan Salya dan Setyawati terdapat dalam versi pewayangan Jawa. Salya yang sewaktu muda bernama Narasoma pergi berkelana karena menolak dijodohkan oleh ayahnya. Di tengah jalan ia bertemu seorang brahmana raksasa bernama Resi Bagaspati yang ingin menjadikannya sebagai menantu. Bagaspati mengaku memiliki putri cantik bernama Pujawati yang mimpi bertemu Narasoma dan jatuh hati kepadanya. Narasoma menolak lamaran Bagaspati karena yakin Pujawati pasti juga berparas raksasa. Keduanya pun bertarung. Narasoma kalah dan dibawa Bagaspati ke tempat tinggalnya di Pertapaan Argabelah. Sesampainya di Argabelah, Narasoma terkejut mengetahui bahwa Pujawati ternyata benar-benar cantik. Ia pun berubah pikiran dan bersedia menikahi putri Bagaspati tersebut. Narasoma yang sombong merasa jijik memiliki mertua seorang raksasa. Pujawati yang lugu menyampaikan hal itu kepada Bagaspati. Bagaspati menyuruh putrinya itu memilih antara ayah atau suami. Ternyata Pujawati memilih suami. Bagaspati bangga mendengarnya dan mengganti nama Pujawati menjadi Setyawati.

Setyawati menyampaikan kepada Narasoma bahwa ayahnya siap mati daripada mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. Bagaspati rela dibunuh asalkan Setyawati jangan sampai dimadu. Narasoma bersedia. Ia kemudian menusuk Bagaspati namun tidak mempan. Bagaspati sadar kalau memiliki ilmu kesaktian bernama Candabirawa. Ia pun mewariskan ilmu tersebut kepada Narasoma terlebih dulu. Narasoma kemudian menusuk siku Bagaspati, yaitu tempat titik kelemahannya. Kali ini Bagaspati tewas seketika. Narasoma kemudian membawa Setyawati pulang ke Mandaraka.

Mandrapati menyambut kedatangan Narasoma dan Setyawati dengan gembira. Namun ia berubah menjadi sedih begitu mendengar kematian Bagaspati yang ternyata merupakan sahabat baiknya. Mandrapati pun marah dan mengusir Narasoma pergi dari istana. Madrim yang masih rindu segera menyusul kepergian kakaknya itu. Narasoma dan Madrim tiba di Kerajaan Mandura di mana sedang diadakan sayembara untuk mendapatkan putri negeri tersebut yang bernama Kunti. Dengan mengerahkan Candabirawa, Salya berhasil mengalahkan semua pelamar dan memenangkan Kunti.

Pandu pangeran dari Hastina datang terlambat dan memutuskan untuk pulang. Narasoma mencegah dan menantangnya. Namun Pandu tidak mau melayani tantangan itu karena Narasoma sudah ditetapkan sebagai pemenang. Narasoma yang sombong terus memaksa, bahkan menyerahkan Kunti dan Madrim sekaligus jika Pandu mampu mengalahkan dirinya. Pandu terpaksa melayani tantangan Narasoma. Narasoma pun mengerahkan ilmu Candabirawa. Dari jarinya muncul raksasa kerdil tapi ganas, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Pandu sempat terdesak. Atas nasihat pembantunya yang bernama Semar, ia pun mengheningkan cipta menyerahkan diri kepada Tuhan. Anehnya, dengan cara tersebut Candabirawa justru lumpuh dengan sendirinya.

Narasoma menyerah kalah. Tujuannya ikut sayembara bukan karena menginginkan Kunti, namun hanya sekadar untuk mencoba keampuhan Candabirawa saja. Sesuai perjanjian, Kunti dan Madrim pun diserahkan kepada Pandu. Narasoma kemudian kembali ke Mandaraka dan dikejutkan oleh kematian ayahnya yang serba mendadak. Konon, Mandrapati sangat sedih atas kematian Bagaspati yang tewas dibunuh Narasoma. Ia merasa telah gagal menjadi ayah yang baik dan memutuskan untuk bunuh diri menyusul sahabatnya itu. Narasoma kemudian menggantikan kedudukan Mandrapati sebagai raja, bergelar Salya. Pemerintahannya didampingi Tuhayata sebagai patih.

Meskipun sudah menjadi raja, Salya tetap bersifat sombong. Ia langsung menerima lamaran Duryudana raja Hastina yang merupakan raja terkaya di dunia saat itu untuk menikahi Erawati, putri sulungnya. Namun, Erawati kemudian hilang diculik orang. Erawati berhasil diselamatkan oleh Baladewa yang saat itu menyamar sebagai pendeta muda. Menurut perjanjian, seharusnya Erawati diserahkan kepada Baladewa. Namun hal itu ditunda-tunda karena Salya lebih suka memiliki menantu seorang raja. Baru setelah ia tahu kalau Baladewa ternyata raja Kerajaan Mandura, Erawati pun diserahkan kepadanya. Salya kembali menerima lamaran Duryudana untuk Surtikanti. Namun putri keduanya itu diculik dan dinikahi Karna. Duryudana merelakannya karena Karna banyak berjasa kepadanya. Ia kemudian menikahi putri Salya yang lain, yaitu Banowati.

Sakuni atau Sangkuni

Sakuni atau Sangkuni, adalah kakak dari Gandari sehingga merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Mereka berasal dari Kerajaan Gandhara. Ayah Sakuni bernama Suwala. Pada suatu hari adik perempuannya Gandari dilamar untuk dijadikan sebagai istri Dretarastra, seorang pangeran dari Hastinapura yang menderita tunanetra. Sangkuni marah atas keputusan ayahnya yang menerima lamaran tersebut. Menurutnya, Gandari seharusnya menjadi istri Pandu, adik Dretarastra.

Namun karena semuanya sudah terjadi, ia pun mengikuti Gandari yang selanjutnya menetap di istana Hastinapura. Sakuni dikatakan sebagai reinkarnasi dari Dwapara sedangkan Duryodana reinkarnasi dari Kali, yaitu sejenis dewa yang bertugas menciptakan kekacauan di muka bumi.

Versi Jawa

Dalam pewayangan, terutama di Jawa, Sangkuni bukan kakak dari Gandari, melainkan adiknya. Sementara itu Gandara versi pewayangan bukan nama sebuah kerajaan, melainkan nama kakak tertua mereka.

Pada mulanya raja Kerajaan Plasajenar bernama Suwala. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Gandara. Pada suatu hari Gandara ditemani kedua adiknya, yaitu Gandari dan Suman, berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan Kunti, putri negeri tersebut.

Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara Kunti. Pertempuran pun terjadi. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gandari dan Suman menuju Hastina.

Sesampainya di Hastina, Gandari diminta oleh kakak Pandu yang bernama Dretarastra untuk dijadikan istri. Gandari sangat marah karena ia sebenarnya ingin menjadi istri Pandu. Suman pun berjanji akan selalu membantu kakaknya itu melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad akan menciptakan permusuhan di antara para Korawa, anak-anak Dretarastra, melawan para Pandawa, anak-anak Pandu.

Pada suatu hari Suman berhasil mengadu domba antara Pandu dengan muridnya yang berwujud raja raksasa bernama Tremboko. Maka terciptalah ketegangan di antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Pringgadani. Pandu pun mengirim Gandamana sebagai duta perdamaian. Gandamana adalah pangeran dari Kerajaan Pancala yang memilih mengabdi sebagai patih di Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Pandu. Suman yang sangat berambisi merebut jabatan patih menggunakan cara-cara licik untuk menyingkirkan Gandamana.

Di tengah jalan, Suman menjebak Gandamana sehingga jatuh ke dalam perangkapnya.

Suman kemudian kembali ke Hastina untuk melapor kepada Pandu bahwa Gandamana telah berkhianat dan memihak musuh. Pandu yang saat itu sedang labil segera memutuskan untuk mengangkat Suman sebagai patih baru. Tiba-tiba Gandamana yang ternyata masih hidup muncul dan menyeret Suman. Suman dihajar habis-habisan sehingga wujudnya yang tampan berubah menjadi jelek.

Sejak saat itu, Suman pun terkenal dengan sebutan Sangkuni, berasal dari kata saka dan uni, yang bermakna “dari ucapan”. Artinya, ia menderita cacad buruk rupa adalah karena hasil ucapannya sendiri.

Setelah Pandu meninggal dunia, pusakanya yang bernama Minyak Tala dititipkan kepada Dretarastra supaya kelak diserahkan kepada para Pandawa jika kelak mereka dewasa. Minyak Tala sendiri merupakan pusaka pemberian dewata sebagai hadiah karena Pandu pernah menumpas musuh kahyangan bernama Nagapaya.

Beberapa tahun kemudian, terjadi perebutan antara para Pandawa melawan para Korawa yang ternyata juga menginginkan Minyak Tala. Dretarastra memutuskan untuk melemparkan minyak tersebut beserta wadahnya yang berupa cupu sejauh-jauhnya. Pandawa dan Korawa segera berpencar untuk bersiap menangkapnya.

Namun, Sangkuni dengan licik lebih dahulu menyenggol tangan Dretarastra ketika hendak melemparkan benda tersebut. Akibatnya, sebagian Minyak Tala pun tumpah. Sangkuni segera membuka semua pakaian dan bergulingan di lantai untuk membasahi seluruh kulitnya dengan minyak tersebut.

Sementara itu, cupu beserta sisa Minyak Tala jatuh tercebur ke dalam sebuah sumur tua. Para Pandawa dan Korawa tidak mampu mengambilnya. Tiba-tiba muncul seorang pendeta dekil bernama Drona yang berhasil mengambil cupu tersebut dengan mudah. Tertarik melihat kesaktiannya, para korawa dan Pandawa pun berguru kepada pendeta tersebut.

Sangkuni yang telah bermandikan Minyak Tala sejak saat itu mendapati seluruh kulitnya kebal terhadap segala jenis senjata. Meskipun ilmu bela dirinya rendah, namun tidak ada satu pun senjata yang mampu menembus kulitnya.

Basudewa

Basudewa mempunyai adik dua orang. Yang perempuan adalah Kunti (Ibu Pandawa) dan yang lelaki adalah Srutadewa atau Srutasrawas (Ayah dari Sisupala, yang kemudian menjadi musuh bebuyutan Kresna dan terbunuh oleh Krisna saat upacara Rajasurya di Istana Indraprasta yang diselenggarakan oleh Yudistira).

Mereka termasuk ke dalam wangsa Yadawa (nenek moyang mereka adalah Yadu atau kadang juga disebut Surasena, karena ada leluhur mereka yang juga terkemuka namanya). Termasuk bangsa Yadawa adalah wangsa Wresni, Andhaka, dan Bhoja. Wrêsni adalah seorang keturunan Yadu dalam Wangsa Yadawa. Wresni lahir sebagai putera sulung Maharaja Madhu dari generasi ke-19 keturunan Yadu, sang putera Yayati. Wangsa Wresni adalah keturunan Wresni. Kresna masuk ke dalam percabangan Chandrawangsa keturunan Wresni dan dari sanalah ia mendapat nama Warshneya. Rakyat Dwaraka dikenal sebagai Wangsa Wresni. Ibukota wangsa-wangsa ini adalah Mathura yang dipimpin oleh Ugrasena.

Dalam Bhagawata Purana dikisahkan, ada seorang rakshasa yang terbang di atas kota Mathura dan terpesona melihat Padmawati istri Ugrasena yang cantik luar biasa. Raksasa itu kemudian menjelma menjadi Ugrasena dan bersetubuh dengan Padmawati. Dari hubungan itu lahirlah Kamsa. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kenyataan ini, termasuk Kamsa sendiri.

Kamsa mempunyai dua orang kepercayaan yaitu Banasura, yang sering menganjurkan untuk merebut tahta. Canur, yang menyarankan agar Kamsa menikahi dua orang puteri Jarasanda raja Kerajaan Magadha, yang juga sahabat Banasura. Nama kedua putri itu adalah Asti dan Prapti. Kamsa akhirnya menantu dan sekutu Jarasanda. Pasukan Magadha yang dikirim Jarasanda untuk mengawal kedua putri digunakan Kamsa untuk memaksa Ugrasena turun dari takhta Mathura. Ugrasena kemudian dijebloskan ke dalam penjara istana. Kamsa mewarisi tahta Mathura setelah menjebloskan ayahnya, yaitu Raja Ugrasena ke Penjara.

Kamsa memiliki sepupu bernama Dewaki yang dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Dewaki menikah dengan Basudewa dan pernikahan mereka dirayakan secara meriah oleh Kamsa. Tiba-tiba terdengar suara dari langit bahwa kelak Kamsa akan mati di tangan anak Dewaki. Sebelumnya Basudewa telah mempunyai Istri bernama Rohini

Karena takut ramalan itu menjadi kenyataan, maka ia menjebloskan pasangan tersebut ke penjara Setelah itu setiap Dewaki melahirkan anak Ia ambil dan bunuh jabang bayi tersebut. Sudah 6 anak Dewaki tewas di bunuh oleh kakak kandungnya.

Di saat kehamilan Dewaki yang ke 7, Janin yang dikandungnya secara ajaib berpindah kepada Rohini, istri pertama Basudewa, yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa disebut pula Sankarsana yang berarti “pemindahan janin”. Balarama berkulit putih,

Di saat kehamilan Dewaki yang ke 8. Para Dewa membuat semua penjaga penjara tertidur, pintu penjara terbuka dan Basudewa dengan mudah diseundupkan keluar keluar dan dititipkan kepada kepada Yasoda dan Nanda atau Nadagopa di Gokula, Mahavana. Setelah itu, Basudewa membawa bayi perempuan anak Nandagopa kembali ke penjara. Esok paginya, Kamsa datang ke penjara untuk membunuh bayi Dewaki yang baru lahir. Ketika melihat bayi tersebut ternyata perempuan, ia pun merasa menang atas ramalan dewata. Sri Kresna lahir pada tanggal 19 Juli tahun 3228 SM. Krisna artinya “hitam” atau “gelap” Ia berkulit warna kulit gelap bersemu biru langit [Brahma Samhita 5.30].

Setelah Balarama dan Krisna Lahir, Akhirnya Rohini mempunyai anak sendiri, perempuan yang bernama Subadra, Ia berkulit Putih

Bayi yang dilahirkan oleh Rohini dan Dewaki masing-masing tumbuh menjadi pemuda bernama Balarama dan Kresna. Keduanya dibesarkan oleh pasangan Nandagopa dan Yasoda di lingkungan pedesaan. Kamsa akhirnya mengetahui keberadaan keduanya. Mereka pun diundang ke Mathura untuk menghadiri pesta perayaan. Ketika keduanya tiba di Mathura, Kamsa mencoba untuk membunuh mereka. Namun ramalan dewata benar-benar menjadi kenyataan. Dalam sebuah perkelahian, justru Kresna yang berhasil membunuh Kamsa.

Versi Jawa

Dalam pewayangan Jawa, Kamsa dieja dengan sebutan Kangsa, dan merupakan anak Basudewa raja Kerajaan Mandura. Adapun Ugrasena versi Jawa bukanlah mertua Basudewa, melainkan adik bungsunya. Dikisahkan, Basudewa memiliki empat orang istri, yaitu Mahira, Rohini, Dewaki, dan Badraini. Suatu hari ketika Basudewa berburu di hutan, muncul seorang raja raksasa dari Kerajaan Guargra, bernama Gorawangsa yang menyamar sebagai dirinya dan bersetubuh dengan Mahira. Hal ini diketahui oleh Rukma adik Basudewa. Gorawangsa pun dibunuhnya.

Basudewa yang mendengar laporan Rukma segera membuang Mahira ke hutan. Di sana ia melahirkan Kangsa dengan bantuan seorang pendeta raksasa bernama Anggawangsa. Mahira sendiri kemudian meninggal dunia. Bayi Kangsa diubah menjadi dewasa dalam sekejap oleh Anggawangsa. Kangsa kemudian mendatangi Basudewa di Mandura untuk minta diakui sebagai anak. Kebetulan saat itu Mandura diserang oleh Suratrimantra adik Gorawangsa yang ingin menuntut balas. Kangsa berhasil mengalahkan Suratrimantra dan mendapat pengakuan dari Basudewa.

Basudewa yang cemas melihat ambisi dan kesaktian Kangsa memutuskan untuk menitipkan anak-anaknya, yaitu Baladewa, Kresna, dan Subadra kepada pembantunya yang tinggal di desa Widarakandang, bernama Antagopa dan Sagopi.

Sementara itu, Kangsa telah diberi kedudukan sebagai adipati di Sengkapura oleh Basudewa. Suratrimantra yang kini mengabdi sebagai patih memberi tahu Kangsa bahwa ia sebenarnya adalah anak kandung Gorawangsa. Kangsa pun memutuskan untuk merebut takhta dari tangan Basudewa.

Kangsa juga mengetahui kalau anak-anak Basudewa disembunyikan di Widarakandang. Ia mengirim prajurit untuk membunuh mereka. Namun karena tidak ada, yang jadi sasaran adalah Antagopa, yang ditangkap dan dibawa ke tempat Kangsa. Sedangkan Sagopi dan Subadra berhasil meloloskan diri. Sagopi dan Subadra yang dikejar prajurit Kangsa berhasil diselamatkan oleh Arjuna keponakan Basudewa. Mereka juga bertemu Baladewa dan Kresna yang masing-masing baru saja berguru ilmu kesaktian. Bersama-sama mereka menuju tempat Kangsa untuk membebaskan Antagopa.

Kangsa sendiri menantang Basudewa untuk mengadu jago. Jika jagoan Basudewa kalah, ia harus menyerahkan takhta Mandura kepada Kangsa. Jagoan Kangsa tidak lain adalah Suratrimantra, sementara jagoan Basudewa adalah Bimasena, kakak Arjuna.

Dalam pertandingan di atas panggung, Bima berhasil mengalahkan Suratrimantra. Namun begitu melihat Baladewa datang, Suratrimantra segera turun untuk membunuhnya. Baladewa dengan cepat lebih dulu membunuh raksasa itu.

Melihat kematian pamannya, Kangsa segera menangkap Baladewa. Kresna mencoba menolong tapi ikut tertangkap pula. Keduanya dicekik sampai lemas. Untuk menolong kedua kakaknya, Subadra berdiri di hadapan Kangsa. Kangsa pun terpesona sehingga lengah. Arjuna pun memanah dadanya, sehingga Baladewa dan Kresna pun terlepas. Pada saat itulah Baladewa dan Kresna bangkit menyerang Kangsa dengan senjata masing-masing. Kangsa pun tewas. Peristiwa ini dalam pewayangan dikenal dengan kisah Kangsa Adu Jago.

Kangsa meninggalkan gada yang sangat berat bernama Rujakpolo dan tidak ada seorang pun yang bisa memindahkannya, kecuali Bimasena. Oleh karena itu, gada pusaka tersebut kemudian menjadi milik Bima.

Baladewa atau Balarama

Baladewa atau Balarama, disebut juga Balabhadra dan Halayudha, adalah kakak dari Kresna. Dalam filsafat Waisnawa dan beberapa tradisi pemujaan di India selatan, ia dipuja sebagai awatara keenam dari Maha Awatara dan termasuk salah satu dari 25 awatara dalam Purana. Menurut filsafat Waisnawa dan beberapa pandangan umat Hindu, ia merupakan manifestasi dari Sesa, ular suci yang menjadi ranjang Dewa Wisnu. Baladewa dipuja bersama Sri Kresna sebagai kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa dan dalam pemujaan mereka sering disebut “Krishna-Balarama”. Di penitisan Wisnu sebelumnya yaitu Rama, maka Baladewa adalah Laksmana. Pada zaman Kali, beliau menitis sebagai Nityananda, sahabat Sri Caitanya.

Nanda, Ayah tiri Krisna mengundang Resi (muni) Garga, untuk memberikan nama kepada Kresna dan Baladewa. Upacara itu dilakukan secara rahasia agar tidak diketahui dan dicurigai Kamsa.

“Karena Balarama, putera Rohini, mampu menambah pelbagai berkah, namanya Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia dipanggil Baladewa. Ia mampu menarik Wangsa Yadu untuk mengikuti perintahnya, maka dari itu namanya Sankarshana’- [Bhagawatapurana, 10.8.12]

Pada masa kecilnya, ia bernama Rama. Namun karena kekuatannya yang menakjubkan, ia disebut Balarama (Rama yang kuat) atau Baladewa. Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna dan teman-temannya. Ia menikah dengan Rewati, puteri Raiwata dari Anarta.

Baladewa bersenjata bajak dan gada. Ia yang mengajari Bima dan Duryodana menggunakan senjata Gada. Dalam perang di Kurukshetra, Baladewa bersikap netral. Namun, ketika Bima hendak membunuh Duryodana, ia mengancam akan membunuh Bima. Kresna kemudian menyadarkan Baladewa bahwa Bima membunuh Duryodana adalah sebuah kewajiban untuk memenuhi sumpahnya. Selain itu, Kresna mengingatkan Baladewa akan segala prilaku buruk Duryodana.

Versi Jawa

Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Madura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura.

Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.

Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa berkulit putih.

Pada perang Bharatayuddha sebenarnya prabu Baladewa memihak para Korawa, tetapi berkat siasat Kresna, beliau tidak ikut namun sebaliknya bertapa di Grojogan Sewu (Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Bharatayuddha, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti Bharatayuddha terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang Bharatayuddha. Jika Baladewa turut serta, pasti para Pandawa kalah, karena Baladewa sangatlah sakti.

Baladewa ada yang mengatakan sebgai titisan daripada naga sementara yang lainya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayudha, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia bergelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.

Krishna

Krishna, Adik dari Balarama disebut pula Nārāyana, yaitu sebutan yang merujuk kepada perwujudan Dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha. Nama lain dari Krisna adalah Achyuta (yang tak pernah gagal), Arisudana (penghancur musuh), Bhagavān (kepribadian Yang Maha Esa), Gopāla (Pengembala sapi), Govinda (Pemberi kebahagiaan pada indria-indria), Hrishikesa (penguasa indria), Janardana (juru selamat), Kesava (yang berambut indah), Kesinishūdana (pembunuh raksasa Kesin), Mādhava (suami Dewi Laksmi), Madhusūdana (penakluk raksasa Madhu), Mahābāhu (yang berlengan perkasa), Mahāyogi, Purushottama (Manusia utama, awal mula), Varshneya (keturunan wangsa Wresni), Vāsudeva (putera Basudewa), Vishnu , Yādava (keturunan dinasti Yadu), Yogesvara (Penguasa segala kekuatan batin)

“Dewa Brahma memberitahu para Dewa: Sebelum kami menyampaikan permohonan kepada Beliau, Beliau sudah sadar terhadap kesengsaraan di muka bumi. Maka dari itu, selama Beliau turun ke bumi demi menuntaskan kewajiban dengan memakai kekuatan-Nya sendiri sebagai sang waktu, wahai kalian para Dewa semuanya akan mendapat bagian untuk menjelma sebagai para putera dan cucu dari keluarga Wangsa Yadu”.- [Bhagavata Purana 10.1.22]

Kresna dipuja sebagai awatara Wisnu yang kedelapan. Wisnu dianggap sebagai Awal dari semua Reinkarnasi [Bhagavata Purana 10.1.22]. Kemahakuasaan Tuhan sewaktu Perang di Kurukhsetra disaksikan oleh tiga orang yaitu: Arjuna, Sanjaya, dan Byasa. Namun Sanjaya dan Byasa tidak melihat secara langsung, melainkan melalui mata batin mereka yang menyaksikan perang Bharatayuddha. Berikut kutipan dari BhagavadGita yang menggambarkan siapa Krisna:

yadā yadā hi dharmasya, glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmana sjāmy aham

Kapan pun kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itu Aku turun menjelma, wahai keturunan Bharata (Arjuna)

paritrāāya sādhūnā, vināśāyā ca duktām, dharma-sasthāpanārthāa, sambhavāmi yuge yuge

Untuk menyelamatkan orang saleh dan membinasakan orang jahat, dan menegakkan kembali kebenaran, Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman

aham ātmā guākeśa sarva-bhūtāśaya-sthita, aham ādiś ca madhya ca bhūtānām anta eva ca

O Arjuna, Aku adalah Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup. Aku adalah awal, pertengahan dan akhir semua makhluk

purodhasā ca mukhya viddhi pārtha bhaspatim, senāninām aha skanda, sarasām asmi sāgara

Wahai Arjuna, di antara semua pendeta, ketahuilah bahwa Aku adalah Brihaspati, pemimpinnya. Di antara para panglima, Aku adalah Kartikeya, dan di antara segala sumber air, Aku adalah lautanprahlādaś cāsmi daityānā, kāla kalayatām aham mā ca mgendro ‘ha vainateyaś ca pakiām

Di antara para Detya, Aku adalah Prahlada, yang berbakti dengan setia. Di antara segala penakluk, Aku adalah waktu. Di antara segala hewan, Aku adalah singa, dan di antara para burung, Aku adalah Garuda.

vṛṣṇīnā vāsudevo ‘smi pāṇḍavānām dhanañjaya, munīnām apy aha vyāsa kavīnām uśanā kavi

Di antara keturunan Wresni, Aku ini Kresna. Di antara Panca Pandawa, Aku adalah Arjuna. Di antara para Resi, Aku adalah Wyasa. Di antara para ahli pikir yang mulia, aku adalah Usana.

dyūta chalayatām asmi tejas tejasvinām aham jayo ‘smi vyavasāyo ‘smi sattva sattvavatām aham

Di antara segala penipu, Aku adalah penjudi. Aku adalah kemulian dari segala sesuatu yang mulia. Aku adalah kejayaan, Aku adalah petualangan, dan Aku adalah kekuatan orang yang kuat

Ayah angkat Krisna adalah Nanda merupakan pemimpin di komunitas para pengembala sapi, dan ia tinggal di Vrindavana. Kamsa yang mengetahui bahwa Kresna telah kabur terus mengirimkan raksasa (seperti misalnya Agasura) untuk membinasakannya. Sang raksasa akhirnya terkalahkan di tangan Kresna dan kakaknya, Baladewa. Beberapa di antara kisah terkenal tentang keberanian Kresna terdapat dalam petualangan ini serta permainannya bersama para gopi (pengembala perempuan) di desa, termasuk Radha. Kisah yang menceritakan permainannya bersama para gopi kemudian dikenal sebagai Rasa lila.

Kresna yang masih muda kembali ke Mathura, dan menggulingkan kekuasaan pamannya – Kamsa – sekaligus membunuhnya. Kresna menyerahkan tahta kembali kepada ayah Kamsa, Ugrasena, sebagai Raja para Yadawa. Ia sendiri menjadi pangeran di kerajaan tersebut. Lokasi dimana Kresna adalah India Utara, yang mana sekarang merupakan wilayah negara bagian Uttar Pradesh, Bihar, Haryana, Delhi, dan Gujarat. Kerajaan Kuru, tempat saudara sepupunya (Pandawa) tinggal di sisi lain Yamuna.

Setelah Krisna membunuh Kamsa, ayah mertua Kamsa yaitu Jarasanda memupuk kebencian pada Kresna dan berambisi untuk membunuhnya. Melihat kondisi menyedihkan yang terjadi kepada dua puterinya yang menjadi janda, Jarasanda bersumpah akan menyerang Mathura dan merebut kerajaan tersebut.

Jarasanda, ayah mertua Kamsa, menyerang Mathura dengan pasukan besar; dan walaupun Kresna menghancurkan pasukan raksasa tersebut, asura yang lain, Kalayawan namanya, juga mengepung Mathura dengan pasukan lain yang berjumlah tiga juta setan ganas. Kemudian Kresna berpikir bahwa lebih baik mereka mengungsi ke Dwaraka. (di masa sekarang disebut Gujarat).

Versi Buddhis, Sutta pitaka, Jataka no 454, Ghata Jataka, yang merupakan kisah kehidupan sebelumnya dari Sang Buddha

Dahulu kala, seorang raja yang bernama Mahakansa berkuasa di Uttarāpatha, di wilayah Kaṃsa dalam kota Asitañjanā. Ia mempunyai dua anak laki-laki, Kaṃsa dan Upakaṃsa, dan satu anak perempuan yang bernama Devagabbhā. Di hari ulang tahun putrinya, para brahmana meramalkan kejadian masa depannya: “Anak laki-laki yang dilahirkan oleh wanita ini suatu hari akan menghancurkan negeri ini dan garis keturunan Kaṃsa.”

Raja sangat menyayangi putrinya sehingga tidak tega untuk membunuhnya, ia membiarkan saudara-saudaranya yang mengatasi masalah ramalan ini, menjalani sisa hidupnya dan kemudian meninggal. Setelah ia meninggal, Kaṃsa menjadi raja dan Upakaṃsa menjadi wakil raja. Mereka berdua berpikir bahwa akan terjadi protes keras bila mereka membunuh saudara perempuannya, jadi mereka memutuskan untuk tidak menikahkan dirinya kepada pemuda manapun, dan agar rencana ini dapat berjalan dan dapat diawasi, mereka membangun sebuah menara untuk ia tinggal.

Putri tersebut mempunyai seorang pelayan wanita yang bernama Nandagopā, dan suami pelayan wanita tersebut Andhakaveṇhu, yang bertugas menjaganya. Pada waktu itu seorang raja yang bernama Mahāsāgara berkuasa di Upper Madhurā, dan ia mempunyai dua orang putra, Sāgara dan Upasāgara.

Setelah ayah mereka meninggal, Sāgara menjadi raja dan Upasāgara menjadi wakil raja. Pemuda ini adalah teman dari Upakaṃsa, besar bersama dengannya dan diajar oleh guru yang sama pula. Akan tetapi ia memiliki hubungan gelap dengan istri abangnya, dan melarikan diri ke wilayah Kaṃsa mencari Upakaṃsa sewaktu hubungannya itu diketahui oleh abangnya.

Upakaṃsa memperkenalkannya kepada Kaṃsa, dan raja memberikannya kedudukan yang tinggi di sana. Di masa Upasāgara melayani raja, ia mengamati menara tempat Devagabhā. Di saat bertanya siapa gerangan yang tinggal di dalam menara tersebut, ia mengetahui tentang ceritanya dan menjadi jatuh cinta kepada wanita tersebut.

Pada suatu hari, Devagabhā melihatnya ketika ia berangkat dengan Upakaṃsa untuk menjumpai raja. Ia bertanya kepada Nandagopā siapa pemuda itu, dan sewaktu diberitahu bahwa itu adalah Upasāgara, putra dari raja agung Sāgara, ia juga menjadi jatuh cinta kepadanya.

Upasāgara memberikan sesuatu kepada Nandagopā sambil berkata, “Saudari, Anda dapat mengatur pertemuanku dengan Devagabhā.”

Nandagopā berkata, “Cukup mudah,” dan ia pun memberitahukan putri tentang hal ini. Putri yang memang sudah jatuh cinta kepadanya langsung menyetujuinya. Suatu malam Nandagopā mengatur sebuah janji pertemuan, dan membawa Upasāgara masuk ke dalam menara tersebut; di sana ia tinggal berdua dengan Devagabhā.

Dikarenakan hubungan intim terus menerus yang dilakukan mereka, Devagabhā menjadi hamil. Keadaan ini pun segera diketahui dan kedua saudara laki-lakinya bertanya kepada Nandagopā. Ia membuat mereka berjanji memaafkannya terlebih dahulu, kemudian menceritakan seluk beluk masalah tersebut.

Setelah mendengar ceritanya, mereka berpikir, “Kita tidak mungkin membunuh adik. Bila ia melahirkan seorang anak perempuan, kita biarkan ia hidup; tetapi bila ia melahirkan seorang anak laki-laki, kita akan membunuhnya.”

Dan mereka pun menjadikan Devagabhā sebagai istri dari Upasāgara. Di saat tiba waktunya, ia melahirkan seorang anak perempuan. Kedua saudara laki-lakinya merasa senang sewaktu mendengar kabar ini, dan memberinya nama Putri Añjanā.

Mereka juga memberikan sebuah desa kepada adiknya sebagai tempat tinggal, yang disebut Govaḍḍhamāna. Upasāgara membawa Devagabhā tinggal bersama di desa tersebut. Tidak lama kemudian Devagabhā hamil lagi, dan Nandagopā juga mengandung.

Di saat waktunya tiba, mereka melahirkan anak pada waktu yang sama, Devagabhā melahirkan seorang putra dan Nandagopā melahirkan seorang putri. Tetapi Devagabhā yang merasa takut anak laki-lakinya itu akan dibunuh, mengirimnya kepada Nandagopā dan mengambil anak perempuan Nandagopā sebagai anaknya. Mereka memberitahukan kedua saudara laki-lakinya tentang kelahiran tersebut.

“Putra atau putri?” tanya mereka.

“Putri,” jawabnya.

“Kalau begitu, besarkanlah anak tersebut,” kata dua saudara itu. Dengan cara yang sama Devagabhā melahirkan sepuluh orang putra dan Nandagopā melahirkan supuluh orang putri. Semua putra tersebut tinggal dengan Nandagopā dan semua putri tersebut tinggal dengan Devagabhā. Tidak ada seorang pun yang mengetahui rahasia ini.

Putra sulung Devagabhā diberi nama Vāsu-deva, yang kedua Baladeva, ketiga Canda-deva, keempat Suriya-deva, kelima Aggi-deva, keenam Varuṇa-deva, ketujuh Ajjuna, kedelapan Pajjuna, kesembilan Ghata-paṇḍita, dan yang kesepuluh Aṁkura.

Mereka terkenal sebagai sepuluh putra dari Andhakaveṇhu si pelayan, Sepuluh Saudara Laki-laki. Seiring berjalannya waktu mereka menjadi tumbuh dewasa, kuat, kejam dan ganas. Mereka berkeliaran merampas barang milik orang lain, mereka bahkan merampas barang yang akan diberikan kepada raja. Orang-orang datang berbondong-bondong ke halaman istana raja sambil mengeluhkan, “Putra-putra Andhakaveṇhu, Sepuluh Saudara Laki-laki merampas seisi desa!”

Maka raja menyuruh pengawal untuk membawa Andhakaveṇhu dan mengecamnya karena membiarkan anak-anaknya melakukan perampasan. Tiga atau empat kali dibuat keluhan ini dengan cara yang sama, dan raja mulai mengancam dirinya.

Andhakaveṇhu merasa takut kehidupannya yang aman itu akan hilang, memberitahukan rahasianya, bahwasannya mereka itu bukan putra-putranya, melainkan putra-putra dari Upasāgara. Raja menjadi terkejut.

“Bagaimana kita dapat melawan mereka?” ia bertanya kepada para menteri di istananya.

Mereka menjawab, “Paduka, mereka adalah pegulat. Mari kita adakan sebuah pertandingan gulat di kota, dan ketika mereka masuk ke dalam arena, kita tangkap dan bunuh mereka.”

Maka mereka pun memanggil dua orang pegulat Muṭṭhika, dan membuat pengumuman di seluruh kota dengan membunyikan drum, ”bahwasannya akan ada pertandingan gulat di hari ketujuh.”

Arena pertandingan itu disiapkan di depan istana raja; dibuat pagar untuk pertandingan tersebut, arenanya dihiasi dengan indah, bendera-bendera kemenangan disiapkan. Seluruh isi kota sangat berantusias, baris demi baris tempat duduk
penuh, deret demi deret juga.

Cānura dan Muṭṭhika masuk ke dalam arena dan berkeliling di dalamnya dengan sombong, melompat-lompat, berteriak, menepuk tangan mereka. Sepuluh Saudara tersebut datang juga.

Sebelumnya di dalam perjalanan, mereka merampas pakaian tukang cuci dan mengambil jubah yang berwarna cerah, dan mencuri minyak wangi dari toko, kalung bunga dari toko bunga; dengan tubuh mereka yang telah diberi wewangian, kalung bunga di kepala, anting-anting di telinga, mereka berjalan masuk dengan sombong ke dalam arena, melompat-lompat, berteriak, dan menepuk tangan mereka.

Pada waktu itu, Cānura jalan mengitari dan menepuk tangannya. Baladeva yang melihatnya, berpikir, “Saya tidak akan menyentuh orang yang ada di sana dengan tanganku!” maka dengan mengambil sabuk dari dalam kandang gajah, sambil melompat dan berteriak, ia melemparkannya di sekeliling perut Cānura dan mengikat kedua ujung sabuk tersebut, memegangnya dengan ketat, kemudian mengangkatnya, memutarnya di atas kepala, dan mencampakkannya ke tanah dengan kuat sampai keluar dari arena.

Setelah Cānura mati, raja mengeluarkan Muṭṭhika. Muṭṭhika naik ke dalam arena, melompat-lompat, berteriak dan menepuk tangannya. Baladeva menghantamnya dan menusuk matanya; dan di saat ia berteriak—“Saya bukan seorang pegulat! Saya bukan seorang pegulat!” Baladeva mengunci tangannya sambil berkata, “Pegulat atau bukan, tidak ada bedanya bagiku,” dan dengan kuat mencampakkannya ke tanah, membunuhnya dan melemparnya keluar dari arena.

Muṭṭhika di saat menjelang kematiannya, mengucapkan sebuah permohonan—“Semoga nantinya saya menjadi yakkha dan memakan dirinya!” Dan ia pun menjadi yakkha di sebuah hutan yang dikenal dengan nama Kāḷamattiya.

Raja berkata, “Bawa pergi Sepuluh Saudara tersebut.” Pada saat itu juga, Vāsudeva melemparkan sebuah senjata roda [cakra] yang menjerat putus kepala dari dua bersaudara [Raja dan saudaranya] itu. Kerumunan orang yang melihat ini menjadi ketakutan, berlutut, dan memintanya menjadi pelindung mereka.

Demikianlah Sepuluh Saudara itu menguasai kota Asitañjanā setelah membunuh kedua paman mereka sendiri, dan membawa orang tuanya pindah ke sana. Kemudian mereka pergi ke luar dari istana dengan tujuan menguasai seluruh India.

Tidak berapa lama berjalan, mereka tiba di kota Ayojjhā, tempat kekuasaan raja Kāḷasena. Mereka mengitari kota ini dan menghancurkan pepohonan di sekitarnya, merobohkan dinding dan menawan raja, serta mengambil alih kedaulatan dari tempat itu.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Dvāravatī. Kota ini berbatasan dengan laut di satu sisi dan di sisi yang lain adalah pegunungan. Dikatakan bahwa tempat itu ada yakkha-nya. Sang yakkha berjaga-jaga di sana, dan di saat melihat musuh datang, akan mengubah wujudnya menjadi seekor keledai dan mengeluarkan suara ringkikan keledai.

Segera, kota itu berada melayang di udara dan menempatkan dirinya di pulau yang ada di tengah laut tersebut dengan kekuatan gaib sang yakkha itu; dan di saat musuh telah pergi, kota itu akan kembali ke tempat semulanya. Kali ini sama seperti biasanya, di saat keledai melihat kedatangan Sepuluh Saudara, ia mengeluarkan suara ringkikan keledai. Kota itupun langsung melayang di udara dan pindah ke pulau di tengah laut itu. Mereka tidak melihat kota apapun dan kembali. Kemudian kota itu kembali ke tempat semulanya. Mereka berbalik kembali—keledai itu juga mengucapkan hal yang sama seperti sebelumnya.

Kedaulatan di kota Dvāravatī tidak dapat mereka ambil alih. Maka mereka pergi mengunjungi Kaṇha-dipāyana dan berkata:

“Tuan, kami gagal mengambil alih kerajaan Dvāravatī. Beritahu kami cara untuk menaklukkannya.”

Ia berkata, “Di dalam saluran air, di dalam sebuah tempat seperti itu, ada seekor keledai yang berjaga. Ia meringkik di saat melihat musuh, dan kota itu dengan cepat akan melayang di udara. Kalian harus bersujud di kakinya, itulah caranya untuk menaklukkannya.”

Kemudian mereka pamit kepada petapa tersebut dan pergi menjumpai keledai itu. Dengan bersujud kepadanya, mereka berkata, “Tuan, hanya Anda yang dapat membantu kami! Di saat kami datang untuk mengambil alih kota, mohon Anda jangan mengeluarkan suara ringkikan!”

Keledai itu menjawab, “Saya tidak dapat menahan suara ringkikanku. Akan tetapi, jika empat dari kalian datang dengan membawa bajak besi yang besar dan menggali lubang untuk tempat tonggak besi di keempat pintu gerbang kota kemudian mengaitkan rantai besi yang diikatkan ke bajak tadi pada tiang itu, ia tidak akan dapat melayang di udara.”

Mereka berterima kasih kepada keledai tersebut; dan ia tidak mengeluarkan suara ringkikan di saat mereka mengambil bajak dan meletakkan tiang di dalam lubang yang dibuat di empat pintu gerbang kota, kemudian ia berdiri sambil menunggu. Tidak lama setelah itu, keledai tersebut meringkik dan kota tersebut mulai melayang. Tetapi mereka yang berdiri di keempat gerbang masing-masing dengan bajak besi yang terikat dengan rantai besi yang dikaitkan ke tiang, membuat kota tersebut tidak dapat melayang di udara.

Saat itu juga, Sepuluh Saudara tersebut masuk ke dalam kota, membunuh rajanya dan mengambil alih kerajaan. Demikian caranya mereka menaklukkan seluruh India, dan di tiga ratus enam puluh ribukota mereka membunuh para rajanya dengan senjata cakra.

Dan akhirnya mereka tinggal di Dvāravatī, dengan membagi kerajaannya menjadi sepuluh bagian, tetapi mereka melupakan adik perempuannya, Putri Añjanā. Maka mereka berkata, “Mari kita membaginya menjadi sebelas bagian.”

Tetapi Aṁkura menjawab, “Berikan saja bagianku kepadanya. Saya akan mengerjakan hal yang lain untuk bertahan hidup; hanya saja kalian harus mengirimkan pajak masing-masing dari kerajaan kalian kepadaku.” Mereka menyetujuinya dan memberikan bagiannya kepada adik perempuan mereka. Dan mereka tinggal Dvāravatī bersama dengannya, sembilan raja, sedangkan Aṁkura melakukan usaha perdagangan.

Seiring dengan berjalannya waktu, mereka dikaruniai dengan putra dan putri. Setelah waktu yang lama berlalu, orang tua mereka pun meninggal. Dikatakan bahwa pada waktu itu, usia seseorang mencapai dua puluh ribu tahun.

Jarasanda

Jarasanda, secara berarti “disatukan oleh Jara”. Ayahnya bernama Brihadata. Karena Raja Brihadata dari Kerajaan Magadha tidak memiliki keturunan, ia memutuskan untuk meninggalkan kerajaannya dan hidup di hutan sebagai petapa. Di hutan, ia melayani seorang resi yang bernama Candakosika. Sang resi merasa kasihan kepada Brihadata yang tidak memiliki keturunan. Akhirnya, sang resi memberikan satu buah ajaib untuk dimakan oleh permaisuri Brihadata. Karena sang resi tidak tahu bahwa Brihadata memiliki dua permaisuri, maka ia hanya memberikan satu buah saja.

Ketika pulang ke istananya, Brihadata memotong buah ajaib pemberian resi Candakosika lalu membaginya kepada dua permaisurinya. Beberapa bulan kemudian, kedua permaisuri Brihadata melahirkan anak, namun badannya hanya separuh saja serta tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena takut, Brihadata memutuskan untuk membuang bayinya ke tengah hutan. Seorang raksasi bernama Jara memungut bayi tersebut dan menyatukan tubuhnya. Saat disatukan, bayi tersebut hidup dan menangis keras. Sang raksasi yang merasa kasihan, menyerahkan bayi tersebut kepada raja dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Brihadata menamai bayi tersebut Jarasanda, yang secara harfiah berarti “disatukan oleh Jara”.

Saat Candakosika tiba di istana Brihadata, ia melihat si bayi dan meramal bahwa Jarasanda akan memperoleh anugerah istimewa, dan akan terkenal sebagai pemuja Siwa.

Jarasanda tumbuh menjadi raja yang terkenal dan amat kuat, senang memperluas wilayah kerajaannya. Ia menaklukkan banyak raja, dan diberi gelar Maharaja Magadha. Sementara kekuatannya terus bertambah, ia merasa cemas memikirkan masa depannya karena tidak memiliki pewaris tahta. Atas nasihat sahabatnya yaitu Banasura, maka Jarasanda mempersembahkan dua puterinya, Asti dan Prapti, untuk dinikahkan kepada putera mahkota Mathura, yaitu Kamsa. Jarasanda juga meminjamkan pasukan dan penasihatnya kepada Kamsa.

Jarasendra berusaha menyerang Mathura namun usahanya gagal saat Mathura dipimpin Ugrasena, yang didukung oleh Basudewa, penasihat militer Akrura, ditambah kekuatan Kresna dan Baladewa. Jarasanda tidak juga menyerah hingga ia menyerang Mathura untuk yang kedelapan belas kali. Dalam serangannya yang kedelapan belas, ia dibantu oleh Raja Sisupala dari Kerajaan Chedi, dan Raja Kalayawana dari Paschimadesa. Setelah serangan terakhir dari Jarasanda, Kresna memberi saran kepada Raja Ugrasena dan ayahnya untuk mengungsi dan mendirikan kerajaan baru di Dwaraka. Hal itu dilakukan karena alasan strategi peperangan.

Pada suatu hari, Kresna menerima pesan rahasia dari Magadha. Seseorang meminta bantuan Kresna untuk membebaskan para raja yang dipenjara oleh Jarasanda di benteng Giribraja. Karena Kresna tahu bahwa Jarasanda tidak mudah dikalahkan dalam peperangan, maka ia pergi ke Indraprastha untuk meminta bantuan Bima and Arjuna. Mereka pergi menghadap Jarasanda dengan cara menyamar menjadi tiga brahmana. Saat Jarasanda menjamu mereka dan meminta apa yang mereka butuhkan, ketiga brahmana meminta agar Jarasanda bertarung dengan salah seorang di antara mereka. Setelah melakukan pertimbangan, Jarasanda memilih Bima.

Jarasanda menolak untuk membebaskan para raja yang ditawannya, sehingga ia menerima tantangan duel dan memilih Bima. Pertarungan berlangsung lama sekali, sekitar 27 hari. Untuk mengakhiri pertarungan secepatnya, Kresna memberi isyarat kepada Bima. Ia mengambil sehelai daun, lalu menyobeknya menjadi dua dan melemparnya ke arah yang berlawanan. Bima melihat apa yang dilakukan Kresna dan ia mengerti maksud isyarat tersebut. Akhirnya, Bima menarik kaki Jarasanda, menyobek tubuhnya menjadi dua bagian dan melempar potongan tubuh tersebut ke arah yang berlawanan. Setelah kematian Jarasanda, segala raja yang ditawan dapat dibebaskan. Kresna mengangkat putera Jarasanda yang bernama Sahadewa menjadi raja. Sifat anak ini berbeda dengan ayahnya, sehingga Magadha menjadi sekutu Indraprastha.

Istri-istri krisna yang terkemuka adalah Radha, Rukmini (Putri Bismaka dari kerajaan Widarbha), Satyabama, Jambawati, Mitrabinda, Satyabama, dan lain-lain, yang ia peroleh dengan perbuatan besar; misalnya Ketika Kresna memerintah di Dwaraka, Duryodana menindas para Pandawa di Hastinapura dan berusaha membinasakan mereka. Kresna dan Balarama pergi untuk membantu mereka, dan saat itu Kresna menikahi Kalindi, putera Sang Surya. Setiap istrinya melahirkan sepuluh putera dan seorang puteri.

Kisah lainnya adalah ketika seorang raksasa bernama Bomasura/Narakasura membawa kabur dan menawan ribuan puteri, Kresna megejarnya dan membunuhnya dan membebaskan mereka semua. Menurut adat yang keras pada waktu itu, seluruh wanita tawanan tidak layak untuk menikah, artinya akan ada ribuan putri yang tidak mempunyai kehormatan di pandangan masyarakat. Namun Krisna justru dengan tangan terbuka dan gembira menyambut mereka sebagai puteri bangsawan di kerajaannya serta menjadikan 16.100 Putri itu sebagai Istrinya. Dalam tradisi Waisnawa, para istri Kresna di Dwarka dipercaya sebagai penitisan dari berbagai wujud Dewi Laksmi.

Narakāsura/Bhaumāsura/Bomasura

Narakāsura/Bhaumāsura/Bomasura adalah raja raksasa dari Kerajaan Pragjyotisha atau yang di masa sekarang dikenal sebagai daerah Assam, di India Timur. Ia merupakan putra dari Pertiwi sehingga ia juga dikenal dengan sebutan Boma yang bermakna “anak Bumi”. Ayah dari Naraka adalah Waraha, salah satu awatara Wisnu saat menolong bumi dari bencana yang disebabkan oleh Hiranyaksa.

Dalam Bhagawatapurana, Naraka adalah putra Pertiwi (perwujudan dewi bumi) dengan Waraha, salah satu awatara Wisnu. Wisnu menjelma sebagai Waraha (babi hutan) untuk menolong Bumi yang ditenggelamkan Hiranyaksa ke dalam suatu lautan kosmik. Dengan menggunakan kedua taringnya, Waraha berhasil mengembalikan Bumi ke dalam orbitnya, serta membunuh Hiranyaksa.

Setelah peristiwa tersebut, Waraha menikahi Pertiwi (perwujudan Bumi). Dari perkawinan itu lahir Naraka yang berwujud asura.

Naraka memerintah Kerajaan Pragjyotisha dengan kejam. Ia mengalahkan banyak raja serta menawan putri-putri mereka, bahkan para dewa pun diserangnya. Karena merasa resah, Indra raja kahyangan melaporkan kejadian tersebut kepada Sri Kresna. Kresna berhasil menewaskan Naraka dengan menggunakan senjata Cakra Sudarsana. Setelah itu ia pun membebaskan para raja dan putri yang ditawan oleh asura tersebut.

Kresna kemudian mengangkat putera Naraka yang bernama Bhagadatta untuk menjadi raja Pragjyotisha selanjutnya. Tokoh Bhagadatta ini kemudian memihak Korawa saat meletus perang besar di Kurukshetra. Ia akhirnya tewas di tangan Arjuna pada hari ke-12.

Versi Bhomakawya

Kisah kematian Naraka dalam naskah Bhagawatapurana disadur dan dimodifikasi oleh pujangga Jawa dengan judul Bhomakawya, atau “Kematian Boma”. Naskah ini menggunakan bahasa Jawa Kuna dan ditulis pada zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa.

Naraka atau Boma dikisahkan sebagai raja kejam dari Kerajaan Pragjyotisha yang suka mengganggu para pertapa. Ia memiliki seorang istri cantik bernama Yadnyawati, reinkarnasi seorang bidadari kahyangan. Perkawinan keduanya kurang harmonis karena Yadnyawati selalu berusaha menghindari suaminya itu.

Kresna raja Kerajaan Dwarawati mengirim putra sulungnya yang bernama Samba untuk melindungi para pertapa dari serangan para prajurit Boma. Dengan bantuan seorang bidadari bernama Tilottama, Samba berhasil menyusup ke dalam istana Pragjyotisha dan menemui Yadnyawati.

Kisah selanjutnya ialah Boma menyerang Kerajaan Dwarawati karena Samba telah membawa lari Yadnyawati. Dalam suatu pertempuran Boma berhasil menewaskan Samba. Namun ia sendiri akhirnya tewas di tangan Kresna.

Setelah perang berakhir, Kresna menghidupkan Samba kembali. Samba kemudian menikahi Yadnyawati dan keduanya hidup bahagia.

Versi Jawa

Dalam pewayangan Jawa, Prabu Kresna merupakan Raja Dwarawati, kerajaan para keturunan Yadu (Yadawa) dan merupakan titisan Dewa Wisnu. Kresna adalah anak Basudewa, Raja Mandura. Ia (dengan nama kecil “Narayana”) dilahirkan sebagai putera kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya dikenal sebagai Baladewa (alias Kakrasana) dan adiknya dikenal sebagai Subadra, yang tak lain adalah istri dari Arjuna. Ia memiliki tiga orang istri dan tiga orang anak. Istri isterinya adalah Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, dan Dewi Satyabama. Anak-anaknya adalah Raden Boma Narakasura, Raden Samba, dan Siti Sundari.

Pada perang Bharatayuddha, beliau adalah sais atau kusir Arjuna. Ia juga merupakan salah satu penasihat utama Pandawa. Sebelum perang melawan Karna, atau dalam babak yang dinamakan Karna Tanding sebagai sais Arjuna, beliau memberikan wejangan panjang lebar kepada Arjuna. Wejangan beliau dikenal sebagai Bhagawadgita.

Kresna dikenal sebagai seorang yang sangat sakti. Ia memiliki kemampuan untuk meramal, mengubah bentuk menjadi raksasa, dan memiliki bunga Wijaya Kusuma yang dapat menghidupkan kembali orang yang mati. Ia juga memiliki senjata yang dinamakan Cakrabaswara yang mampu digunakan untuk menghancurkan dunia, pusaka-pusaka sakti, antara lain Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, terompet kerang (Sangkala) Pancajahnya, Kaca Paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan.

Setelah meninggalnya Prabu Baladewa (Resi Balarama), kakaknya, dan musnahnya seluruh Wangsa Wresni dan Yadawa, Prabu Kresna menginginkan moksa. Ia wafat dalam keadaan bertapa dengan perantara panah seorang pemburu bernama Jara yang mengenai kakinya.

Kresna dianggap sebagai penjelmaan Sang Hyang Triwikrama, atau gelar Bhatara Wisnu yang dapat melangkah di tiga alam sekaligus. Ia juga dipandang sebagai perantara suara Tuhan dalam menjalankan misi sebagai juru selamat umat manusia, dan disetarakan dengan segala sesuatu yang agung.

Boma Narakasura, putra Batara Wisnu dengan Batari Pertiwi. Ia dilahirkan di Kahyangan Ekapratala tempat tinggal Batara Ekawarna, kakeknya dari pihak ibu. Menurut versi ini, nama kecil Boma adalah Sitija. Ia memiliki adik perempuan bernama Sitisundari yang kelak menjadi istri Abimanyu putra Arjuna dari keluarga Pandawa. Setelah dewasa, Sitija diminta para dewa untuk mengalahkan pamannya sendiri, yaitu Bomantara yang berani menyerang kahyangan. Dalam pertempuran tersebut Sitija berhasil membunuh Bomantara. Roh Bomantara kemudian bersatu dalam diri Sitija sehingga menambah kekuatannya.

Setelah kematian Bomantara, Sitija pun menjadi raja Kerajaan Surateleng bergelar Boma Narakasura. Ia mengganti nama negeri peninggalan pamannya itu menjadi Trajutrisna. Selanjutnya, Boma mendengar bahwa ayahnya, yaitu Wisnu, telah terlahir ke dunia sebagai manusia bernama Kresna raja Kerajaan Dwarawati. Setelah melalui perjuangan berat, Boma akhirnya mendapat pengakuan sebagai putra sulung Kresna.

Boma dilukiskan sebagai sosok antagonis yang sering terlibat persaingan dengan Gatutkaca putra Bimasena dari keluarga Pandawa. Meskipun demikian kematiannya tetap dikisahkan oleh tangan Kresna, “ayahnya” sendiri. Kematian Boma dalam pewayangan diadaptasi dari Kakawin Bhomakawya oleh para dalang, terutama Ki Narto Sabdo, namun dengan sedikit modifikasi sehingga lebih terkesan dramatis. Peristiwa tersebut dinamakan Gojalisuta atau perang antara ayah melawan anak.

Istri Boma disebut dengan nama Agnyanawati, putri Karentagnyana raja Kerajaan Giyantipura. Ia hanya mau melayani Boma asalkan dibuatkan jalan raya lurus tanpa berbelok dari Trajutrisna menuju Giyantipura. Boma merasa bimbang karena jalan tersebut pasti menerobos bukit Gandamadana, tempat leluhur Kresna dimakamkan. Atas pertimbangan ibunya, Boma akhirnya memutuskan untuk menolak permintaan Agnyanawati, bahkan ia bersedia menceraikan istrinya itu. Ternyata Agnyanawati telah dilarikan oleh Samba, putra Kresna yang lahir dari Jembawati. Namun Boma merelakannya, bahkan ia berencana untuk menikahkan keduanya.

Kresna di Dwarawati marah atas perilaku Samba yang berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri. Utusan Boma bernama Pancadnyana kemudian datang meminta kepada Kresna supaya menyerahkan Samba dan Agnyanawati untuk dinikahkan di Trajutrisna. Kresna merestui dan menyerahkan pasangan tersebut. Namun di tengah jalan Arjuna muncul merebut Samba dan Agnyanawati karena mencurigai keputusan Boma. Arjuna juga melukai Pancadnyana dan ia mengirim surat tantangan kepada Boma supaya merebut Samba dan Agnyanawati melalui pertempuran.

Boma marah membaca surat tantangan Arjuna. Ia pun memimpin pasukan menyerbu Kerajaan Dwarawati. Perang besar terjadi. Boma semakin marah karena dihasut kendaraannya yang berwujud burung raksasa bernama Wilmana. Dengan kejam, Boma membunuh Samba dan Agnyanawati serta memotong-motong tubuh mereka. Dalam pertempuran selanjutnya, Arjuna akhirnya mundur setelah dipermalukan di depan umum karena pakaiannya robek setelah diserang Wilmana, kendaraan Boma. Boma kemudian terlibat pertempuran sengit melawan Gatutkaca yang memihak Dwarawati.

Kresna muncul dan menyesali terjadinya perang. Ia pun melepaskan senjata Cakra Sudarsana ke angkasa agar para prajurit yang sedang berperang mengetahui kehadirannya dan segera menghentikan pertempuran. Namun peristiwa itu justru menyebabkan Boma mengalami kecelakaan fatal ketika hendak mendarat. Burung Wilmana yang dikendarainya silau melihat kilauan cahaya Cakra Sudarsana sehingga terbang tak terkendali dan akhirnya menabrak senjata tersebut. Akibatnya, Wilmana sekaligus Boma sama-sama tewas dengan tubuh hancur. Berbeda dengan Bhomakawya, dalam versi ini Kresna tidak menghidupkan Samba kembali. Ia merelakan kedua putranya tersebut tewas sebagai korban Perang Gojalisuta.

Subadra

Subadra adalah puteri bungsu pasangan Basudewa dan Rohini (istri pertama Basudewa), Ia berkulit putih dan lahir setelah ayahnya Basudeva dibebaskan Krisna.

Saat Arjuna menjalani masa pembuangannya karena tanpa sengaja mengganggu Yudistira yang sedang tidur dengan Dropadi, Dalam perjalanannya ia sampai di Dwaraka, yaitu kediaman sepupunya yang bernama Kresna, karena ibu Arjuna (Kunti) bersaudara dengan ayah Kresna (Basudewa). Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra. Kresna pun mengetahui hal tersebut dan berharap Arjuna menikahi Subadra. Pada saat itu status Arjuna adalah suami yang memiliki tiga istri, yaitu Dropadi, Citrānggadā, dan Ulupi. Krisna mengetahui Baladewa tidak akan pernah menyetujui pernikahan itu.

Ia mengatur sedemikian rupa sehingga Arjuna mendapat perhatian dan simpati dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Krisna berperan menentang mereka tingga disana, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Di saat itu pulalah sebuah kereta sudah dipersiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.

Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa dan dengan menghajar Arjuna bukan hanya menghambat rencana kebesaran Bharatawarsa tapi juga akan membuat kesedihan yang mendalam Subadra adik yang mereka cintai. Baladewa juga mengetahui bahwa adiknya, yaitu Krisna turut ‘bermain’ dalam perkawinan ini akhirnya ia membuat keputusan dengan menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta. Maka Subadra menjadi istrinya arjuna yang keempat.

Subadra dan Arjuna memiliki seorang putera, bernama Abimanyu. Saat Pandawa kalah main dadu dengan Korawa, mereka harus menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun, ditambah masa penyamaran selama satu tahun. Subadra dan Abimanyu tinggal di Dwaraka sementara ayah mereka mengasingkan diri di hutan. Pada masa-masa itu Abimanyu tumbuh menjadi pria yang gagah dan setara dengan ayahnya.

Di India, Subadra menjadi salah satu dari tiga dewa yang dipuja di Kuil Jagannath di Puri, bersama dengan kakaknya yang bernama Kresna (sebagai Jagannatha) dan Baladewa (atau Balarama, Balabhadra). Salah satu kereta dalam Ratha Yatra yang diselenggarakan secara tahunan didedikasikan untuknya. Menurut beberapa interpretasi, Subhadra dianggap sebagai inkarnasi dari YogMaya.

Karna

Karna seharusnya adalah anak pertama dari Kunti (ibu Pandawa). Secara harfiah karna bermakna “telinga”, sehingga muncul anggapan bahwa tokoh Karna lahir melalui telinga. Namun nama Karna baru dipakai setelah ia dewasa, karena nama ini juga bermakna “terampil” atau “pandai”. Dengan kata lain, nama Karna bukanlah nama asli sejak bayi, melainkan julukan yang ia sandang atas kepandaiannya itu.

Karna juga memiliki berbagai panggilan, yaitu Basusena, Radheya, Suryaputra, Sutaputra, Wresa dan Anggaraja Selain nama-nama tersebut dalam versi pewayangan Jawa masih dikenal beberapa nama tambahan lagi yaitu Basukarna, Suryatmaja, Arkasuta, Rawisuta, Pritasuta, Bismantaka, Talidarma dan Anggadipa

Dalam versi jawa kunti melahirkan “putera Surya” itu melalui telinga sehingga keperawanannya tetap terjaga. Kisah versi Jawa ini mungkin terpengaruh oleh makna harfiah dari Karna, yaitu “telinga”. Sementara versi asli menyebut Kunti melahirkan secara normal dengan bantuan Surya.

Demi menjaga nama baik negaranya, Kunti yang melahirkan anak sebelum menikah terpaksa membuang “putera Surya” di sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Bayi itu kemudian terbawa arus dan ditemukan oleh Adirata yang bekerja sebagai kusir kereta Drestarasta.

Adirata dengan perasaan gembira memungut bayi tersebut sebagai anaknya. Karena sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting, kalung dan Baju besi pemberian Surya, maka bayi itu pun diberi nama Basusena. Sejak saat itu Basusena menjadi anak angkat keluarga Adirata, sehingga ia dikenal dengan sebutan Sutaputra atau “anak kusir”. Namun, namanya yang lebih terkenal adalah Radheya, yang bermakna “anak Radha”. Adapun Radha adalah nama istri Adirata.

Meskipun tumbuh dalam lingkungan keluarga kusir, Radheya justru bersita-cita ingin menjadi perwira kerajaan. Adirata pun mendaftarkannya ke dalam perguruan Resi Drona yang saat itu sedang mendidik para Pandawa dan Korawa. Akan tetapi Drona menolak Radheya karena ia hanya sudi mengajar kaum ksatriya saja. Radheya yang sudah bertekad bulat memutuskan tetap belajar meskipun secara diam-diam. Ia sering mengintai Drona saat sedang mengajarkan ilmu perang kepada murid-muridnya, terutama ilmu memanah atau Danurweda. Meskipun berguru secara tidak resmi, namun kehebatan Radheya dalam memanah melebihi murid-murid Drona, kecuali Arjuna. Bakat keterampilan inilah yang membuat Radheya dijuluki sebagai Karna.

Pada suatu hari Karna bertemu seorang pendeta bernama Parasurama yang dulu pernah mengajar Drona. Pendeta gagah berumur panjang, dari zaman Tretayuga (zaman Ramayana) sampai zaman Dwaparayuga (zaman MahaBharata). Parasurama memiliki pengalaman yang buruk dengan kasta ksatriya, sehingga ia terkenal sebagai pembenci kaum ksatriya. Hal itu membuat Karna harus menyamar sebagai brahmana muda untuk bisa mendekatinya. Dengan cara itu Karna berhasil menjadi murid Parasurama.

Pada suatu hari, saat Parasurama ingin beristirahat, Karna menyediakan pangkuannya sebagai bantal. Ketika Parasurama tertidur pulas, tiba-tiba muncul seekor serangga menggigit paha Karna. Karena rasa baktinya pada sang guru, Parasurama agar tidak mengganggu tidur nyenyaknya, Karna membiarkan pahanya terluka hingga darah mengucur sedangkan dirinya tidak bergerak sedikit pun. Ketika Parasurama bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat kaki Karna telah berlumuran darah. Kemampuan Karna dalam menahan rasa sakit telah mengherankan Parasurama dan ia berkata pada Muridnya, ‘Karena engkau memiliki kekuatan sedemikan hebatnya untuk menahan rasa sakit, pastilah engkau bukan keturunan Brahmana’. Karna kemudian membenarkan, ‘Ya, hamba terlahir di dalam keluarga kusir kereta’. Merasa telah ditipu, Parasurama pun mengutuk Karna. Kelak, pada saat pertarungan antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa terhadap semua ilmu yang telah diajarkan Parasurama.

Setelah menerima kutukan dari Parasurama, Karna dengan sedih dan bergerak meninggalkan asrama. Setelah berjalan tanpa tujuan, ia pun tiba di tepi pantai. Sambil termangu-mangu memikirkan jati dirinya, dia duduk di sana untuk beberapa lama, kemudian bangun lalu pergi. Ketika ia kembali ke tempat tersebut, ia melihat sesosok binatang yang melaju dengan cepat. Karena mengira hewan tersebut seekor rusa, ia pun melepaskan panah untuk membunuhnya. Setelah melihat dari dekat, barulah Karna sadar kalau hewan yang dibunuhnya bukan rusa, melainkan sapi milik seorang brahmana. Karna pun pergi menemui si pemilik untuk meminta maaf atas kecerobohannya. Namun, brahmana itu terlanjur marah dan mengutuk kelak Karna akan mengalami kematian saat sedang lengah sebagaimana ia telah membunuh sapi kesayangannya yang juga dalam keadaan lengah.

Versi lain mengisahkan, suatu hari Karna mengendarai sendiri keretanya dan melaju kencang hingga menewaskan seekor sapi yang sedang menyeberang jalan. Brahmana pemilik sapi menjadi marah, lalu mengutuk Karna supaya kelak roda keretanya akan terbenam dalam lumpur ketika bertarung melawan musuh terberatnya.

Karna merupakan sosok dengan sifat-sifat yang lengkap. Ia dikenal sebagai seorang yang penuh percaya diri, tegas, pemberani, kejam terhadap lawan, setia terhadap kawan, dan murah hati kepada kaum miskin.

Karna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah yang hampir setara dengan Arjuna. ia mahir berperang, namun bakatnya terperangkap dalam status sosial yang rendah. Hal itu membuatnya haus akan status yang memberikannya identitas. Meskipun Karna diasuh dalam keluarga yang berkasta rendah, ia memiliki sikap seorang ksatria, meskipun jarang yang mengakuinya. Ia memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Duryodana, yang telah mengangkatnya menjadi raja di Kerajaan Anga, sekaligus menaikkan statusnya. Atas perlakuan baik yang dilakukan Duryodana terhadap dirinya, Karna berjanji bahwa ia akan selalu berada di pihak Duryodana. Kebencian Karna terhadap Arjuna bertemu dalam satu jalan dengan kebencian Duryodana terhadap para Pandawa.

Karna memiliki persaingan yang sangat hebat dengan Arjuna, dan berambisi bahwa ia akan membunuh Arjuna saja saat Bharatayuddha, bukan Pandawa yang lain. Sebelum Bharatayuddha, Kunti datang ke hadapan Karna dan mengatakan bahwa ia sebenarnya ibunya. Kunti menyuruh Karna agar memihak Pandawa. Karna mengatakan bahwa ia hanya mengakui Radha sebagai ibunya dan tetap memihak Korawa. Karna juga mengatakan, bahwa ia hanya mau membunuh Arjuna, bukan Pandawa yang lain.

Ketika tiba waktunya, Drona mempertunjukkan hasil pendidikan para Pandawa dan Korawa di hadapan segenap kaum bangsawan dan rakyat Hastinapura, ibu kota kerajaan Kuru. Setelah melaui berbagai tahap pertandingan, Drona akhirnya memutuskan bahwa Arjuna adalah murid terbaiknya, terutama dalam hal ilmu memanah. Tiba-tiba Karna muncul menantang Arjuna sambil memamerkan kesaktiannya. Resi Krepa sang pendeta istana meminta Karna supaya menjelaskan asal-usulnya terlebih dahulu karena untuk menghadapi Arjuna haruslah dari kaum yang sederajat. Mendengar permintaan itu, Karna pun tertunduk malu.

Duryodana sang pemimpin Korawa maju membela Karna. Menurutnya, keberanian dan kehebatan tidak harus dimiliki oleh kaum ksatriya saja. Namun apabila peraturan memang mengharuskan demikian, Duryodana bersedia mematuhinya. Ia lalu mendesak ayahnya, yaitu Dretarastra raja Hastinapura, supaya Karna diberi kedudukan sebagai raja bawahan di Angga. Dretarastra yang berhati lemah tidak mampu menolak permintaan itu. Akhirnya pada saat itu juga, Karna dinobatkan menjadi Raja Angga. Para brahmana membacakan weda-weda dan Duryodana memberi mahkota, pedang, dan air penobatan kepada Karna. Karna terharu dengan kemurahan hati Duryodana. Balasan yang diinginkan oleh Duryodana hanyalah persahabatan yang kekal.

Adirata muncul bersuka cita menyambut penobatannya. Akibatnya, semua orang pun tahu kalau Karna adalah anak Adirata. Melihat hal itu, Bimasena mengejek Karna sebagai anak kusir sehingga tidak pantas jika bertanding melawan Arjuna yang berasal dari kaum bangsawan. Melihat ulah Bimasena, Duryodana pun kembali tampil membela Karna. Suasana semakin tegang dan memanas. Namun tidak seorang pun yang menyadari kalau Kunti jatuh pingsan di bangku penonton setelah melihat putra sulung yang ia buang sejak lahir itu, kini telah dewasa dan saling berhadapan dengan putranya yang lain. Ciri-ciri yang membuat Kunti langsung mengenalinya adalah pakaian perang dan perhiasan pemberian Surya yang selalu dikenakan Karna. Senja pun tiba. Dretarastra membubarkan acara tersebut sehingga pertandingan antara Karna melawan Arjuna tertunda. Namun sejak saat itu dimulailah persahabatan antara Karna dengan Duryodana, pemimpin para Korawa. Karna memiliki putera bernama Wresasena.

Nama istri Karna dalam versi pewayangan Jawa, yaitu Surtikanti, puteri ketiga Prabu Salya, raja kerajaan Madra (Mandaraka). Dikisahkan, Surtikanti menjalin cinta dengan Karna meskipun dirinya telah bertunangan dengan Duryudana (ejaan Jawa untuk Duryodana). Karna yang serba salah akhirnya menculik Surtikanti dan membawanya kabur. Tuduhan penculikan Surtikanti pun jatuh kepada Arjuna yang saat itu sedang bertamu ke istana Mandaraka, karena wajahnya mirip dengan Karna. Untuk membersihkan namanya, Arjuna berjanji akan segera menangkap pelaku yang sebenarnya.

Arjuna akhirnya berhasil menemukan persembunyian Karna. Keduanya bertarung seru sampai akhirnya berhasil dipisah oleh Batara Narada yang turun dari kahyangan. Narada memberi tahu kalau keduanya masih bersaudara, yaitu sama-sama putera Kunti. Arjuna gembira mengetahui hal itu. Ia pun berniat membantu Karna supaya dapat menikahi Surtikanti. Kebetulan pada saat itu, Kerajaan Hastina (Hastinapura) sedang menghadapi pemberontakan dari seorang raja bawahan di Awangga yang bernama Prabu Kalakarna. Pemberontakan tersebut akhirnya berhasil ditumpas oleh Karna dengan bantuan Arjuna. Atas kemenangan itu, Duryudana mengangkat Karna sebagai Raja Awangga dan merelakan Surtikanti untuknya. Kemudian, Duryudana menikah dengan adik Surtikanti yang bernama Banowati sehingga hubungan persaudaraannya dengan Karna semakin erat. Dari perkawinan antara Karna dengan Surtikanti kemudian lahir dua orang putera bernama Warsasena dan Warsakusuma.

Dengan demikian terdapat dua perbedaan penting dalam kedua versi di atas. Versi asli mengisahkan pengangkatan Karna sebagai Raja Angga terjadi sewaktu ia muncul dalam arena pertandingan murid-murid Resi Drona. Sementara itu, versi Jawa menyebut Karna menjadi Raja Awangga sebagai hadiah atas jasanya menumpas pemberontakan Kalakarna. Perbedaan kedua ialah, Karna versi Jawa mengetahui kalau Pandawa merupakan adik-adiknya berkat pemberitahuan Batara Narada, sedangkan menurut versi asli, Karna baru mengetahui hal itu dari Kresna sesaat menjelang Bharatayuddha meletus. Meskipun berbeda waktu kejadiannya, namun sikap Karna tetap tegas yaitu berpihak pada Korawa.

Karna merupakan kekuatan utama pendukung Korawa. Ia banyak melakukan penaklukkan terhadap negeri-negeri yang menolak mengakui kedaulatan Duryodana. Berkat kesaktiannya, wilayah Hastinapura semakin luas dan bertambah kaya.

Dewa Indra khawatir membayangkan jika anaknya, Arjuna kelak sampai kalah saat menghadapi Karna. Ia pun merencanakan tipu muslihat untuk merebut pusaka Karna yang diberikan Surya sejak bayi, yaitu baju perang, kalung, dan sepasang anting. Surya yang mendengar rencana tersebut segera memberi tahu Karna bahwa Indra akan datang menyamar sebagai pendeta tua yang akan meminta semua pusaka Karna. Mendengar hal itu, Karna tidak khawatir dan tetap menjalani hidup seperti biasa, Karna terkenal sebagai seorang dermawan. Pendeta samaran Indra pun muncul di hadapan Karna.

Terjadilah tanya jawab, Karna berkata, ‘Apa yang Paduka inginkan? Uang, pakian atau apakah?’. Pendeta samaran itu berata, ‘Tidak, saya tidak memerlukan itu semua,’ Apapun yang ditawarkan Karna, Pendeta itu terus menolak. Pendeta samaran itu merasakan kedemawanan yang luarbiasa tidak juga tega mengungkapkan keinginan yang sebenarnya dan akhirnya Pendeta samaran berkata, ‘Saya pergi, jika demikian’. Namun Karna berkata, ’Tuan telah datang padaku, jadi tidak pantas kalau aku tidak memberikan sesuatu kepada tuan, lebih-lebih tuan pergi denga perasaan aku masih Hidup’. Pendeta itu berkata bahwa ia menginginkan semua yang melekat di badan Karna. Ia tahu dengan pasti apa yang sebenarnya diminta oleh pendeta samaran itu namun tetap ia laksanakan tanpa rasa menyesal sama sekali padahal Ia sedang diambang perang besar. Karna kemudian melepas baju perangnya menggunakan pisau karena telah melekat di kulitnya sejak bayi hingga lecet-lecet dan berdarah. Kalung dan anting juga ia berikan semua.

Karna mengatahui bahwa baju perang nya dan Anting pusakanya telah membuat tidak ada satupun yang mampu melukai dirinya. Namun Ia tetap memberikannya! Indra terharu melihat ketulusan Karna. Demi ingin menyaksikan Arjuna menang, ia telah berbuat tidak adil terhadap Karna. Indra pun melepas samarannya dan memberi Karna pusaka baru berupa Konta (yang bermakna tombak). Namun, pusaka tersebut hanya bisa digunakan sekali saja. Karna berterima kasih dan menyediakan Konta hanya untuk menghadapi Arjuna kelak.

Versi Jawa

Pusaka pemberian Indra tersebut bukan bernama Konta, melainkan bernama panah Badal Tulak. Adapun senjata Konta versi Jawa, atau yang lebih terkenal dengan sebutan Kuntawijayadanu, sudah didapatkan Karna jauh sebelumnya, yaitu ketika kelahiran Gatotkaca, putera Bimasena. Dikisahkan bahwa bayi Gatotkaca sampai berusia satu tahun tidak juga terpisah dengan ari-arinya (plasenta). Tidak ada satu pusaka pun yang dapat memotong tali pusar Gatotkaca. Arjuna kemudian pergi bertapa demi menolong keponakannya itu. Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk menyerahkan panah Kuntawijayadanu kepada Arjuna. Pada saat yang sama, Karna juga sedang bertapa. Batara Surya membantunya dengan menutupi cahaya matahari dan menyuruh Karna supaya mengaku sebagai Arjuna saat Narada tiba nanti. Narada akhirnya tiba di hadapan Karna yang dikiranya Arjuna.

Sesuai rencana, panah Kunta pun jatuh ke tangan Karna. Menyadari telah tertipu, Narada pergi mencari Arjuna yang asli. Arjuna yang mendengar hal itu segera mengejar Karna. Pertarungan terjadi di mana Arjuna hanya mampu merebut sarung pembungkus pusaka tersebut. Meskipun demikian, sarung panah itu dapat digunakan untuk memotong tali pusar bayi Gatotkaca. Anehnya, benda itu ikut masuk ke dalam perut si bayi. Kelak ketika perang Bharatayuddha terjadi, panah Kunta digunakan Karna untuk membunuh Gatotkaca, sebagai simbol pusaka bertemu sarungnya.

Pandawa dan Kurawa

Pandawa dan Korawa hidup bersama-sama di istana Hastinapura.

Istilah Korawa yang digunakan dalam MahaBharata memiliki dua pengertian, yaitu

merujuk kepada seluruh keturunan Kuru (termasuk pandawa di dalamnya), arti lainnya merujuk kepada anak-anak Dretarastra, sebab ia merupakan keturunan yang tertua dalam garis keturunan Kuru (Pandawa tidak termasuk). Rsi Drona mendidik mereka semasa kanak-kanak, bersama dengan puteranya yang bernama Aswatama. Selain itu mereka diasuh pula oleh Bhisma dan Bagawan Kripa. Setelah Pandu mangkat, kakaknya yang bernama Drestarastra melanjutkan pemerintahan. Drestarastra melihat talenta para Pandawa dan hendak mencalonkan Yudistira sebagai Raja, namun hal tersebut justru menimbulkan sikap iri hati dalam diri Duryodana, salah satu Korawa.

Yudistira

Yudistira dikenal yang sulung dari Pandawa, Ia seharusnya anak Kedua Kunti bukan anak pertama. Yudistira bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Nama lainnya adalah Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya. Julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah: Ajataśatru, “yang tidak memiliki musuh”, Bhārata, “keturunan Maharaja Bharata”, Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa Dharma”, Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru”, Kurunandana, “kesayangan Dinasti Kuru”, Kurupati, “raja Dinasti Kuru”, Pandawa, “putera Pandu”, Partha, “putera Prita atau Kunti”.

Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma, dan Duryodana. Dalam versi pewayangan Jawa julukan yang lain lagi untuk Yudistira, adalah: Puntadewa, “derajat keluhurannya setara para dewa”. Yudistira, “pandai memerangi nafsu pribadi”, Gunatalikrama, “pandai bertutur bahasa”, Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri”.

Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma (Yama) dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa melalui persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan.

Sifat-sifat Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam MahaBharata terutama dalam hal memainkan senjata tombak.

Versi Jawa

Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda. Menurut versi ini, Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong kelahiran Puntadewa dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa tersebut, Puntadewa lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa, nama Puntadewa lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira baru digunakan setelah ia dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan Puntadewa sebagai seorang manusia berdarah putih, yang merupakan kiasan bahwa ia adalah sosok berhati suci dan selalu menegakkan kebenaran. Ia pernah dikisahkan menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan hanya meraba kepala mereka.

Yudistira mempunyai beberapa pusaka, antara lain Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa kitab, sedangkan Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka utama kerajaan Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah pemberian Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi raksasa besar berkulit putih bersih.

Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira tampil sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu, Pandawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.

Bima

Bima orang kedua dari Pandawa dan anak ke 3 Kunti. Bima artinya adalah “mengerikan”. Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara, artinya ialah “perut serigala”, dan merujuk ke kegemarannya makan. Nama julukan yang lain adalah Bhimasena yang berarti panglima perang.

Kunti (istri Pandu) berseru kepada Bayu, (marut/Maruta) dewa angin. Dari hubungan Kunti dengan Bayu, lahirlah Bima. Atas anugerah dari Bayu, Bima akan menjadi orang yang paling kuat dan penuh dengan kasih sayang.

Pada masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kekuatan Bima tidak ada tandingannya di antara anak-anak sebayanya. Kekuatan tersebut sering dipakai untuk menjahili para sepupunya, yaitu Korawa. Salah satu Korawa yaitu Duryodana, menjadi sangat benci dengan sikap Bima yang selalu jahil. Kebencian tersebut tumbuh subur sehingga Duryodana berniat untuk membunuh Bima.

Pada usia remaja, Bima dan saudara-saudaranya dididik dan dilatih dalam bidang militer oleh Drona. Dalam mempelajari senjata, Bima lebih memusatkan perhatiannya untuk menguasai ilmu menggunakan gada, seperti Duryodana. Mereka berdua menjadi murid Baladewa, yaitu saudara Kresna yang sangat mahir dalam menggunakan senjata gada. Dibandingkan dengan Bima, Baladewa lebih menyayangi Duryodana, dan Duryodana juga setia kepada Baladewa.

Pada suatu hari ketika Korawa serta Pandawa pergi bertamasya didaerah sungai Gangga, Duryodana menyuguhkan makanan dan minuman kepada Bima, yang sebelumnya telah dicampur dengan racun. Karena Bima tidak senang mencurigai seseorang, ia memakan makanan yang diberikan oleh Duryodana. Tak lama kemudian, Bima pingsan. Lalu tubuhnya diikat kuat-kuat oleh Duryodana dengan menggunakan tanaman menjalar, setelah itu dihanyutkan ke sungai Gangga dengan rakit. Saat rakit yang membawa Bima sampai di tengah sungai, ular-ular yang hidup di sekitar sungai tersebut mematuk badan Bima. Bisa ular tersebut menjadi penangkal racun yang dimakan Bima. Keadaan ini dalam Ayurveda disebut ‘samah samam shamayati’ atau racun melawan racun atau yang menyebabkan sakit dan yang menyembuhkannya sama. Ketika sadar, Bima langsung melepaskan ikatan tanaman menjalar yang melilit tubuhnya, lalu ia membunuh ular-ular yang menggigit badannya. Beberapa ular menyelamatkan diri untuk menemui rajanya, yaitu Naga Basuki.

Saat Naga Basuki mendengar kabar bahwa putera Pandu yang bernama Bima telah membunuh anak buahnya, ia segera menyambut Bima dan memberinya minuman ilahi. Minuman tersebut diminum beberapa mangkuk oleh Bima, sehingga tubuhnya menjadi sangat kuat. Bima tinggal di istana Naga Basuki selama delapan hari, dan setelah itu ia pulang. Saat Bima pulang, Duryodana kesal karena orang yang dibencinya masih hidup. Ketika para Pandawa menyadari bahwa kebencian dalam hati Duryodana mulai bertunas, mereka mulai berhati-hati.

Versi Jawa

Bima adalah seorang tokoh yang populer dalam khazanah pewayangan Jawa. Suatu saat mantan presiden Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa ia sangat senang dan mengidentifikasikan dirinya mirip dengan karakter Bima. Nama lain Bima adalah Bratasena, Balawa, Birawa, Dandungwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, Wijasena dan Jagal Abilowo

Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.

Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu: Dewi Nagagini, berputera (mempunyai putera bernama) Arya Anantareja, Dewi Arimbi, berputera Raden Gatotkaca dan Dewi Urangayu, berputera Arya Anantasena. Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputera Srenggini.

Arjuna

Arjuna adalah yang ketiga dari Pandawa dan merupakan Putra Bungsu Kunti (ke 4), Kunti menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka anak yang dinamakan Arjuna. Arjuna berarti “bersinar terang”, “putih” , “bersih”. Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti “jujur di dalam wajah dan pikiran”. Arjuna mendapat julukan “Kuruśreṣṭha” yang berarti “keturunan dinasti Kuru yang terbaik”. Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan). Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya ia menjawab:

“Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya. Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawāhana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachī. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah “yang tak pernah lapuk”, itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna. Aku lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttarā Phālgunī berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phālguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Prithā, sehingga aku disebut juga Pārtha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun.”

Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan “Dananjaya”. Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan “Parantapa”, yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki “Kurunandana”, yang artinya putera kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain “Kuruprāwira”, yang berarti “kesatria Dinasti Kuru yang terbaik”, sedangkan arti harfiahnya adalah “Perwira Kuru”. Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat kusuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya.

Arjuna didik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar “Maharathi” atau “kesatria terkemuka”. Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.

Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama “Brahmasirsa”. Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut MahaBharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya.

Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti “anugerah Dewa”.

Versi Jawa

Arjuna banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Indrasuta, Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong). “Begawan Mintaraga” adalah nama yang digunakan oleh Arjuna saat menjalani laku tapa di puncak Indrakila dalam rangka memperoleh senjata sakti dari dewata, yang akan digunakan dalam perang yang tak terhindarkan melawan musuh-musuhnya, yaitu keluarga Korawa.

Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin.

Jasanya bukan Cuma itu ia juga mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada) Keris Kiai Kalanadah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putera Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Drona), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Kiai Sarotama, Panah Pasupati, Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).

Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.

Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, Arjuna sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Arjuna menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi. Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah: Dewi Subadra, berputera Raden Abimanyu, Dewi Larasati, berputera Raden Sumitra dan Bratalaras, Dewi Ulupi atau Palupi, berputera Bambang Irawan, Dewi Jimambang, berputera Kumaladewa dan Kumalasakti, Dewi Ratri, berputera Bambang Wijanarka, Dewi Dresanala, berputera Raden Wisanggeni, Dewi Wilutama, berputera Bambang Wilugangga, Dewi Manuhara, berputera Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati, Dewi Supraba, berputera Raden Prabakusuma, Dewi Antakawulan, berputera Bambang Antakadewa, Dewi Juwitaningrat, berputera Bambang Sumbada, Dewi Maheswara, Dewi Retno Kasimpar, Dewi Dyah Sarimaya, Dewi Srikandi

Nakula dan Sahadewa

Nakula dan Sahadewa, merupakan yang ke empat dan kelima dari pandawa. Nakula adalah anak pertama dari Dewi Madri (Istri kedua Pandu). Ia adalah saudara kembar Sadewa. Dewi Kunti mengajarkan Dewi Madri mantra Adityahredaya untuk memanggil Dewa Aswin, Dewa tabib kembar dan lahirlah Nakula dan Sahadewa. Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. nakula merupakan nama lain dari Dewa Siwa, dalam bahasa Sansekerta merujuk kepada warna Ichneumon, sejenis tikus atau binatang pengerat dari Mesir. Nakula juga dapat berarti “cerpelai”, atau dapat juga berarti “tikus benggala”. Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi.

Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.

Versi Jawa

Nakula dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat). Ia merupakan putera keempat Prabu Pandudewanata, raja negara Hastinapura dengan permaisuri Dewi Madri, puteri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa. Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama Puntadewa (Yudistira), Bima alias Werkudara dan Arjuna

Nakula adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi “Banyu Panguripan” atau “Air kehidupan” pemberian Bhatara Indra.

Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu: Dewi Sayati puteri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putera masing-masing bernama Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati. Istri kedua Nakula adalah Dewi Srengganawati, puteri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra alias Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung. Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik.

Setelah selesai perang Bharatayuddha, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa di gunung Himalaya bersama keempat saudaranya.

Sadewa merupakan anggota Pandawa yang paling muda, yang memiliki saudara kembar bernama Nakula. Meskipun kembar, Nakula dikisahkan memiliki wajah yang lebih tampan daripada Sadewa, sedangkan Sadewa lebih pandai daripada kakaknya itu. Terutama dalam hal perbintangan atau astronomi, kepandaian Sadewa jauh di atas murid-murid Resi Drona lainnya. Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu mengetahui kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi dua. Selain itu ia juga pandai dalam hal ilmu peternakan sapi.

Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka. Yudistira bahkan pernah berkata bahwa Sadewa lebih bijak daripada Brihaspati, guru para dewa.

Setelah kemenangan Arjuna atas sayembara memanah di Kerajaan Pancala, maka semua Pandawa bersama-sama menikah dengan Dropadi, putri negeri tersebut. Dari perkawinan tersebut Sadewa memiliki putra bernama Srutakirti. Selain itu, Sadewa juga menikahi puteri Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Kemudian dari istrinya yang bernama Wijaya, lahir seorang putra bernama Suhotra.

Tokoh Utama Sudamala

Sadewa merupakan tokoh utama dalam Kakawin Sudamala, yaitu karya sastra berbahasa Jawa Kuna peninggalan Kerajaan Majapahit. Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa istri Batara Guru bernama Umayi, akibat perbuatannya berselingkuh dengan Batara Brahma.

Umayi dikisahkan berubah menjadi Rakshasi bernama Ra Nini, dan hanya bisa kembali ke wujud asal apabila diruwat oleh bungsu Pandawa. Maka, Sadewa pun diculik dan dipaksa memimpin prosesi ruwatan. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Ra Nini.

Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna “menghilangkan penyakit”. Atas petunjuk Ra Nini yang telah kembali menjadi Umayi, Sadewa pun pergi ke desa Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Tambrapetra. Gadis itu bernama Predapa.

Versi Jawa

Sadewa dikisahkan lahir di dalam istana Kerajaan Hastina, bukan di dalam hutan. Kelahirannya bersamaan dengan peristiwa perang antara Pandu melawan Tremboko, raja raksasa dari Kerajaan Pringgadani. Dalam perang tersebut keduanya tewas. Madrim ibu Sadewa melakukan bela pati dengan cara terjun ke dalam api pancaka.

Versi lain menyebutkan, Sadewa sejak lahir sudah kehilangan ibunya, karena Madrim meninggal dunia setelah melahirkan dirinya dan Nakula.

Sewaktu kecil, Sadewa memiliki nama panggilan Tangsen. Setelah para Pandawa membangun Kerajaan Amarta, Sadewa mendapatkan Kasatrian Baweratalun sebagai tempat tinggalnya.

Istri Sadewa versi pewayangan hanya seorang, yaitu Perdapa putri Resi Tambrapetra. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak bernama Niken Sayekti dan Bambang Sabekti. Masing-masing menikah dengan anak-anak Nakula yang bernama Pramusinta dan Pramuwati.

Versi lain menyebutkan Sadewa memiliki anak perempuan bernama Rayungwulan, yang baru muncul jauh setelah perang Baratayuda berakhir, atau tepatnya pada saat Parikesit cucu Arjuna dilantik menjadi raja Kerajaan Hastina. Rayungwulan ini menikah dengan putra Nakula yang bernama Widapaksa.

Tokoh Lain Bernama Sama

Dalam mitologi Hindu dan sejarah India, terdapat beberapa tokoh lain yang bernama Sahadewa, yaitu: Nama putra Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Dengan demikian ia adalah saudara ipar Sahadewa putra Pandu. Salah satu raja dari kalangan Dinasti Surya, putera Dharmanandana juga bernama Sahadewa. Nama putra Sudasa atau ayah Somaka, raja Kerajaan Pancala. Nama seorang raksasa putera Dumraksa dan juga ayah dari Kresawa. Nama seorang Paman Gautama Buddha.

Dalam legenda Jawa juga terdapat seorang bernama Sadewa dari zaman yang lebih tua. Ia merupakan cucu dari Watugunung raja Kerajaan Gilingwesi. Sadewa yang ini menderita kelainan seksual, yaitu mencintai sesama laki-laki atau homoseksual. Ia akhirnya berhasil menjadi raja di Kerajaan Medangkamulan bergelar Cingkaradewa.

Cingkaradewa merupakan raja serakah yang ingin menguasai seluruh Pulau Jawa. Antara lain ia berhasil merebut Kerajaan Gilingwesi peninggalan kakeknya, yang saat itu dikuasai oleh Parikenan. Parikenan yang merupakan leluhur para Pandawa versi Jawa dikisahkan tewas di tangan Cingkaradewa. Cingkaradewa sendiri akhirnya berhasil dikalahkan seorang pertapa dari India bernama Resi Wisaka, yang merupakan samaran dari Aji Saka, seorang manusia setengah dewa yang melegenda.

Para Korawa

Para Korawa (putera Dretarastra) yang utama berjumlah seratus. Kemudian Dewi Gandari melahirkan seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala (atau Duççala atau Dussala). Nama-nama Kurawa yang lain di sini

Duryodana atau Suyodana merupakan yang sulung dari 100 Kurawa. Ia adalah inkarnasi dari Kali sedangkan Sakuni merupakan inkarnasi dari Dwapara. Ia lahir dari pasangan Dretarastra dan Gandari. Duryodana merupakan saudara yang tertua di antara seratus Korawa. Secara harfiah, nama Duryodana memiliki arti “sulit ditaklukkan” atau dapat pula berarti “tidak terkalahkan”.

Tubuh Duryodana dikatakan terbuat dari petir, dan ia sangat kuat. Ia dihormati oleh adik-adiknya, khususnya Dursasana. Dengan belajar ilmu bela diri dari gurunya, yaitu Krepa, Drona dan Balarama atau Baladewa, ia menjadi sangat kuat dengan senjata gada, dan setara dengan Bima, yaitu Pandawa yang kuat dalam hal tersebut.

Saat para Korawa dan Pandawa unjuk kebolehan saat menginjak dewasa, munculah sesosok ksatria gagah perkasa yang mengaku bernama Karna. Ia menantang Arjuna yang disebut sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Namun Krepa mengatakan bahwa Karna harus mengetahui kastanya, agar tidak sembarangan menantang seseorang yang tidak setara.

Duryodana membela Karna, kemudian mengangkatnya menjadi raja di Kerajaan Anga. Semenjak saat itu, Duryodana bersahabat dengan Karna. Baik Karna maupun Duryodana tidak mengetahui, bahwa Karna sebenarnya merupakan putera Kunti. Karna juga merupakan harapan Duryodana agar mampu meraih kemenangan saat Bharatayuddha berlangsung, karena Duryodana percaya bahwa Karna adalah lawan yang sebanding dengan Arjuna.

Duryodana menikah dengan puteri Prabu Salya dan mempunyai putera bernama Laksmana (Laksmanakumara). Duryodana digambarkan sangat licik dan kejam, meski berwatak jujur, ia mudah terpengaruh hasutan karena tidak berpikir panjang dan terbiasa dimanja oleh kedua orangtuanya. Karena hasutan Sangkuni, yaitu pamannya yang berotak dan berlidah tajam, ia dan saudara-saudaranya senang memulai pertengkaran dengan pihak Pandawa.

Dalam perang Bharatayuddha, bendera keagungannya berlambang ular kobra. Ia dikalahkan oleh Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas karena pahanya dipukul dengan gada.

Pandangan lain

Dalam pandangan para sarjana Hindu masa kini, Duryodana merupakan raja yang kuat dan cakap, serta memerintah dengan adil, namun bersikap licik dan jahat saat berusaha melawan saudaranya (Pandawa). Seperti Rawana, Duryodana sangat kuat dan berjaya, dan ahli dalam ilmu agama, namun gagal untuk mempraktekkannya dalam kehidupan. Namun kebanyakan umat Hindu memandangnya sebagai orang jahat yang suka mencari masalah.

Duryodana juga merupakan salah satu tokoh yang sangat menghormati orangtuanya. Meskipun dianggap bersikap jahat, ia tetap menyayangi ibunya, yaitu Gandari. Setiap pagi sebelum berperang ia selalu mohon do’a restu, dan setiap kali ia berbuat demikian, ibunya selalu berkata bahwa kemenangan hanya berada di pihak yang benar. Meskipun jawaban tersebut mengecilkan hati Duryodana, ia tetap setia mengunjungi ibunya setiap pagi.

Di wilayah Kumaon di Uttranchal, beberapa kuil yang indah ditujukan untuk Duryodana dan ia dipuja sebagai dewa kecil. Suku Kumaon di pegunungan memihak Duryodana dalam Bharatayuddha. Ia dipuja sebagai pemimpin yang cakap dan dermawan.

Dursasana atau Duhsasana merupakan adik dari Duryodana. Dursasana terdiri dari dua kata, yaitu dur atau duh, dan śāsana. Secara harfiah, kata Dusśāsana memiliki arti “sulit untuk dikuasai” atau “sulit untuk diatasi”.

Yuyutsu adalah saudara para Korawa, dari ibu yang lain, seorang dayang-dayang. Berbeda dengan para Korawa, ia memihak Pandawa saat perang di Kurukshetra. Hal itu membuatnya menjadi penerus garis keturunan Drestarastra, sementara saudaranya yang lain (Korawa) gugur semua di medan Kuru atau Kurukshetra. Setelah Yudistira mengundurkan diri dari dunia, Yuyutsu diangkat menjadi raja di Indraprasta.

Perseteruan Pandawa dan Kurawa

Suatu hari Duryodana berpikir ia bersama adiknya mustahil untuk dapat meneruskan tahta Dinasti Kuru apabila sepupunya masih ada. Mereka semua (Pandawa lima dan sepupu-sepupunya atau yang dikenal juga sebagai Korawa) tinggal bersama dalam suatu kerajaan yang beribukota di Hastinapura. Akhirnya berbagai niat jahat muncul dalam benaknya untuk menyingkirkan Pandawa lima beserta ibunya.

Drestarastra yang mencintai keponakannya secara berlebihan. Ketika Ia mengangkat Yudistira sebagai putra mahkota tetapi ia langsung menyesali perbuatannya yang terlalu terburu-buru sehingga ia tidak memikirkan perasaan anaknya. Hal ini menyebabkan Duryodana iri hati dengan Yudistira. Irihati Duryodaya berkembang menjadi rencana pembunuhan. Sangkuni-pun memfasilitasinya. Duryodana mengundang Pandawa beserta ibunya berlibur ke tempat di dekat Hutan Waranawata. Di sana terdapat bangunan yang megah yang dinamakan Jatugraha yang dibuat oleh pesuruh Duryodana, yaitu Purocana, Bangunan itu dibuat dengan bahan seperti lilin sehingga cepat terbakar. Kemudian Sakuni akan membakar Gedung Jatugreha ketika Pandawa dan Ibunya terlelap tidur. Rencana itu sudah dipersiapkan sangat matang oleh Duryodana dan Sakuni namun diketahui dan dibocorkan oleh Widura yang juga merupakan paman dari Pandawa lima. Dalam pewayangan, peristiwa pembakaran ini terkenal dengan nama Balai Sigala-Gala.

Sebelum sampai di tempat peristirahatan tersebut Yudistira juga telah diingatkan oleh seorang petapa yang datang ke dirinya bahwa akan ada bencana yang menimpannya oleh karena itu Yudistira pun sudah berwaspada terhadap segala kemungkinan. Ketika Pandawa dan ibu sampai disana Yudistira dan Bima sadar bahwa rumah penginapan yang disediakan untuk mereka, telah dirancang untuk membunuh mereka serta ibu mereka. Bima hendak segera pergi, namun atas saran Yudistira mereka tinggal di sana selama beberapa bulan.

Pada suatu malam, Kunti mengadakan pesta dan seorang wanita yang dekat dengan Purocana turut hadir di pesta itu bersama dengan kelima orang puteranya. Ketika Purocana beserta wanita dan kelima anaknya tersebut tertidur lelap karena makanan yang disuguhkan oleh Kunti, Bima segera menyuruh agar ibu dan saudara-saudaranya melarikan diri dengan melewati terowongan yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian, Bima mulai membakar rumah lilin yang ditinggalkan mereka. Oleh karena ibu dan saudara-saudaranya merasa mengantuk dan lelah, Bima membawa mereka sekaligus dengan kekuatannya yang dahsyat. Kunti digendong di punggungnya, Nakula dan Sadewa berada di pahanya, sedangkan Yudistira dan Arjuna berada di lengannya.

Ketika keluar dari ujung terowongan, Bima dan saudaranya tiba di sungai Gangga. Di sana mereka diantar menyeberangi sungai oleh pesuruh Widura, yaitu menteri Hastinapura yang mengkhwatirkan keadaan mereka. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka melewati Sidawata sampai Hidimbawana. Dalam perjalanan tersebut, Bima memikul semua saudaranya dan ibunya melewati jarak kurang lebih tujuh puluh dua mil.

Di Hidimbawana, Bima bertemu dengan Hidimbi/arimbi yang jatuh cinta dengannya. Kakak Hidimbi yang bernama Hidimba, menjadi marah karena Hidimbi telah jatuh cinta dengan seseorang yang seharusnya menjadi santapan mereka. Kemudian Bima dan Hidimba berkelahi. Dalam perkelahian tersebut, Bima memenangkan pertarungan dan berhasil membunuh Hidimba dengan tangannya sendiri. Lalu, Bima menikah dengan Hidimbi. Dari perkawinan mereka, lahirlah seorang putera yang diberi nama Gatotkaca. Bima dan keluarganya tinggal selama beberapa bulan bersama dengan Hidimbi dan Gatotkaca, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati Hidimbawana, Bima dan saudara-saudaranya beserta ibunya tiba disebuah kota yang bernama Ekacakra. Di sana mereka menumpang di rumah keluarga brahmana. Pada suatu hari ketika Bima dan ibunya sedang sendiri, sementara keempat Pandawa lainnya pergi mengemis, brahmana pemilik rumah memberitahu mereka bahwa seorang raksasa yang bernama Bakasura meneror kota Ekacakra. Atas permohonan penduduk desa, raksasa tersebut berhenti mengganggu kota, namun sebaliknya seluruh penduduk kota diharuskan untuk mempersembahkan makanan yang enak serta seorang manusia setiap minggunya. Kini, keluarga brahmana yang menyediakan tempat tinggal bagi mereka yang mendapat giliran untuk mempersembahkan salah seorang keluarganya. Merasa berhutang budi dengan kebaikan hati keluarga brahmana tersebut, Kunti berkata bahwa ia akan menyerahkan Bima yang nantinya akan membunuh raksasa Baka. Mulanya Yudistira sangsi, namun akhirnya ia setuju.

Pada hari yang telah ditentukan, Bima membawa segerobak makanan ke gua Bakasura. Di sana ia menghabiskan makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada sang raksasa. Setelah itu, Bima memanggil-manggil raksasa tersebut untuk berduel dengannya. Bakasura yang merasa dihina, marah lalu menerjang Bima. Seketika terjadilah pertarungan sengit. Setelah pertempuran berlangsung lama, Bima meremukkan tubuh Bakasura seperti memotong sebatang tebu. Lalu ia menyeret tubuh Bakasura sampai di pintu gerbang Ekacakra. Atas pertolongan dari Bima, kota Ekacakra tenang kembali.

Ia tinggal di sana selama beberapa lama, sampai akhirnya Pandawa memutuskan untuk pergi ke Kampilya, ibukota Kerajaan Panchala, karena mendengar cerita mengenai Dropadi dari seorang brahmana.

Dropadi merupakan anak yang lahir dari hasil Putrakama Yadnya, yaitu ritual untuk memperoleh keturunan. Dalam kitab MahaBharata diceritakan bahwa setelah Drupada dipermalukan oleh Drona, ia pergi ke dalam hutan untuk merencanakan pembalasan dendam. Kemudian ia memutuskan untuk memperoleh seorang putera yang akan membunuh Drona. Atas bantuan dari Resi Jaya dan Upajaya, Drupada melangsungkan Putrakama Yadnya dengan sarana api suci. Dropadi lahir dari api suci tersebut. Pada mulanya, Dropadi diberi nama “Kresna”, merujuk kepada warna kulitnya yang kehitam-hitaman. Dalam bahasa Sanskerta, kata “Krishna” secara harfiah berarti gelap atau hitam. Lambat laun ia lebih dikenal sebagai “Dropadi”, yang secara harfiah berarti “puteri Drupada”. Nama “Pañcali” juga diberikan kepadanya, yang secara harfiah berarti “puteri kerajaan Panchala”. Karena ia merupakan saudari dari Drestadyumna, maka ia juga disebut “Yadnyaseni”

Tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Bentuk pertandingannya adalah sebuah boneka ikan dari kayu yang dipasang pada sebuah roda yang berputar di atas arena. Tepat di bawah sasaran tersebut terdapat kolam berisi minyak. Para peserta sayembara harus dapat memanah mata boneka ikan tersebut melalui bayangan di dalam kolam, bukan melihat ke atas secara langsung.

Banyak ksatria di penjuru Bharatawarsha turut menghadiri seperti misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatria, melainkan menyamar sebagai brahmana.

Saat sayembara, tidak ada seorang pun yang mampu mengangkat busur berat pusaka negara Panchala, apalagi memanah sasaran sulit tersebut. Karna kemudian maju mewakili Duryodana setelah sahabatnya itu mengalami kegagalan. Dengan penuh penghormatan, ia berhasil mengangkat busur pusaka tersebut dan siap memanah sasaran sayembara. Tiba-tiba Dropadi menyatakan keberatan apabila Karna sampai berhasil memenangkan sayembara, karena dirinya tidak mau menikah dengan anak seorang kusir. Karna sakit hati mendengar penghinaan itu. Ia menyebut Dropadi sebagai wanita sombong dan pasti menjadi perawan tua karena tidak ada lagi peserta yang mampu memenangkan sayembara sulit tersebut selain dirinya.

Ucapan Karna membuat Drupada (ayah Dropadi) merasa cemas. Ia pun membuka pendaftaran baru untuk siapa saja yang ingin menikahi Dropadi tanpa harus berasal dari golongan ksatriya. Arjuna yang saat itu sedang menyamar sebagai brahmana maju mendaftarkan diri.

Para Pandawa yang diwakili oleh Arjuna turut serta. Arjuna tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan persyaratan, maka Dewi Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun para peserta lainnya menggerutu karena seorang brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya diikuti oleh golongan kesatria. Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat dihindari lagi. Arjuna dan Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan Yudistira, Nakula, dan Sadewa melarikan Dropadi ke rumah mereka. Sesampainya di rumah Dewi Kunti, ibu mereka. Kresna yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para brahmana yang telah mendapatkan Dropadi dan ia berkata kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut mendapatkan Dropadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik.

Arjuna dan Bima pun berkelahi dengan para ksatria di sana, sementara Yudistira, Nakula dan Sadewa melarikan Dropadi ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, Walaupun Arjuna pun mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya, tetapi Bima yang berkata kepada ibunya, “lihat apa yang kami bawa ibu!”. Kunti, ibu para Pandawa, tidak melihat apa yang dibawa oleh anak-anaknya karena sibuk dan berkata, “Bagi dengan rata apa yang kalian peroleh”. Ketika ia menoleh, alangkah terkejutnya ia karena anak-anaknya tidak saja membawa hasil sedekah, namun juga seorang wanita. Kunti yang tidak mau berdusta, membuat anak-anaknya untuk berbagai istri. Karena perkataan ibunya maka Pancali (Dropadi) pun bersuamikan lima orang. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang menggangu adalah pembuangan selama 12 tahun. Dari kelima Pandawa Droupadi memiliki lima putera, yakni:

  • Pratiwinda (dari hubungannya dengan Yudistira)
  • Sutasoma (dari hubungannya dengan Bima)
  • Srutakirti (dari hubungannya dengan Arjuna)
  • Satanika (dari hubungannya dengan Nakula)
  • Srutakama (dari hubungannya dengan Sadewa)

Kelima putera Pandawa tersebut disebut Pancawala atau Pancakumara.

Versi Jawa

Dalam budaya pewayangan Jawa, Dewi Dropadi dinikahi oleh Yudistira saja dan bukan milik kelima Pandawa. Cerita tersebut dapat disimak dalam lakon Sayembara Gandamana. Dalam lakon tersebut dikisahkan, Yudistira mengikuti sayembara mengalahkan Gandamana yang diselenggarakan Raja Dropada. Siapa yang berhasil memenangkan sayembara, berhak memiliki Dropadi. Yudistira ikut serta namun ia tidak terjun ke arena sendirian melainkan diwakili oleh Bima. Bima berhasil mengalahkan Gandamana dan akhirnya Dropadi berhasil didapatkan. Karena Bima mewakili Yudistira, maka Yudistiralah yang menjadi istri Dropadi. Dalam tradisi pewayangan Jawa, putera Dropadi dengan Yudistira bernama Raden Pancawala. Pancawala sendiri merupakan sebutan untuk lima putera Pandawa.

Terjadinya perbedaan cerita antara kitab MahaBharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Setelah kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu runtuh, munculah Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Pada masa itu, segala sesuatu harus disesuaikan dengan hukum agama Islam. Pertunjukan wayang yang pada saat itu sangat digemari oleh masyarakat, tidak diberantas ataupun dilarang melainkan disesuaikan dengan ajaran Islam. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab MahaBharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam.

Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa kembali ke Hastinapura dan memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari pihak Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan Korawa atas tahta Hastinapura kembali terjadi. Setelah melalui perundingan, dan atas saran Bisma, Kerajaan Kuru dibagi dua.

Korawa mendapatkan istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk membangun istana baru. Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan angker, namun para Pandawa mau menerima wilayah tersebut. Selain wilayahnya yang seluas hampir setengah wilayah kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum Hastinapura. Atas bantuan dari sepupu Yudistira, yaitu Kresna dan Baladewa, mereka mengubah daerah gersang tersebut menjadi makmur dan megah, dan dikenal sebagai Indraprastha.

Indraprastha adalah sebuah kota besar di India utara pada zaman dahulu kala. Kota ini terletak di tepi sungai Yamuna, lokasinya dekat dengan ibukota India zaman sekarang, Delhi. Sebelum dikenal sebagai Indraprastha, kota ini dikenal sebagai Kandawaprastha yang merupakan ibukota kerajaan besar di India pada zaman dahulu kala, dan diperintah oleh para leluhur Pandawa dan Korawa, seperti misalnya Maharaja Pururawa, Nahusa, dan Yayati. Namun kota tersebut menjadi gersang akibat kutukan para resi, untuk menghukum putera Budha.

Saat diberikan kepada Pandawa, Kandawaprastha merupakan kota gersang. Melihat keadaan itu, Sri Kresna memanggil Indra, pemimpin para Dewa, untuk membantu Yudistira memperbaiki keadaan negeri tersebut. Dewa Indra memunculkan Wiswakarman, arsitek para Dewa yang merancang kota megah. Dengan suatu upacara, Wiswakarman berhasil mengusir segala penyakit di negeri tersebut dan menyuburkan kembali daerah yang gersang. Sesuai janji Kresna, Kandawaprastha akan diberi nama Indraprastha jika Indra mampu mengubah keadaan Kandawaprastha. Perlahan-lahan kota tersebut menjadi kota yang makmur dan berduyun-duyun orang-orang dari negeri tetangga bermigrasi ke negeri baru tersebut. Kota Indraprastha pun menjadi kota besar. Setelah Yudistira naik tahta, kota Indraprastha tetap mendapat pengawasan dari Hastinapura.

Catatan sejarah

Indraprastha berumur 50.000 tahun. Legenda mengatakan bahwa Indraprastha terletak di wilayah Purani Choot sekarang ini. Sebuah desa bernama Indraprat ada di Delhi sampai permulaan abad ke-20, kemudian digusur dan kota New Delhi dibangun di atasnya. Penggalian di wilayah perbukitan Indraprastha, ibukota para Pandawa, seperti yang ditunjukkan Purana Qila menemukan bukti bahwa daerah itu pernah didiami selama hampir 2.500 tahun. Indraprastha sempat menjadi kota besar selama berabad-abad, dari zaman Kerajaan Maurya sampai Kerajaan Gupta di India, namun kurang terkenal karena berdirinya kota-kota seperti Pataliputra, di sebelah tenggara daerah aliran sungai, yang menjadi sumber dua kerajaan terkuat di India. Indraprastha diserbu oleh bangsa Hun setelah jatuhnya Kerajaan Gupta. Raja Hindu bernama Dhilon konon membangun kota Delhi Kuno, dekat dengan Indraprastha.

Versi Jawa

Dalam versi pewayangan Jawa, nama Indraprastha lebih terkenal dengan sebutan kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan yang dibuka para Pandawa bukan bernama Kandawaprastha, melainkan bernama Wanamarta.

Versi Jawa mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak kembali ke Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat mereka yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang bersimpati pada pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka kawasan hutan tak bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan baru. Hutan Wanamarta dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin oleh lima bersaudara, bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu. Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.

Sejarah ini dikenal dengan kisah atau lakon Babad Alas Wanamarta. Korawa yang telah merasa berhasil membunuh Pandawa dalam cerita Bale Sigalagala terkejut ketika mengetahui ternyata Pandawa masih hidup. Prabu Duryudana yang tidak ingin kerajaan Astina atau Hastina diminta oleh Pandawa selaku penguasa yang sah mencari berbagai cara agar bisa membunuh kembali Pandawa. Untuk memperhalus niatan tersebut, Pandawa diberikan daerah yang masih berupa hutan yang bernama hutan Wanamarta (Wana berarti Hutan). Hutan tersebut terkenal keangkerannya, begitu angkernya sehingga digunakan istilah “Manusia Datang, Manusia Mati, Hewan Datang, Hewan Mati” (Jalma Mara, Jalma Mati, Sato Mara, Sato Mati) untuk menggambarkan keangkerannya.

Pandawa kesulitan dalam membuka hutan Wanamarta karena dikuasai oleh lima makhluk halus yang wajahnya mirip dengan para Pandawa. Kelima makhluk halus tersebut adalah Yudistira yang mirip dengan Prabu Puntadewa, Dandungwacana yang mirip dengan Bima, Dananjaya yang mirip dengan Arjuna, Nakula dan Sadewa yang mirip dengan si kembar Pinten dan Tansen. Kelima penguasa Wanamarta ini tidak sudi diganggu ketenangannya. Arjuna yang mempunyai minyak Jayengkaton mengoleskannya ke setiap mata Pandawa agar dapat melihat kelima makluk halus penguasa Wanamarta.

Akhirnya Pandawa dapat mengalahkan kelima penguasa hutan Wanamarta tersebut dan kelimanya menitis masuk kedalam tubuh para Pandawa sehingga Pandawa memiliki nama yang sama dengan para penguasa hutan Wanamarta tersebut serta seketika itu juga hutan Wanamarta berubah menjadi kerajaan yang megah luar biasa bernama Indraprastha atau Amarta.

Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa berusaha keras untuk memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita bahwa barang siapa yang bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang bernama Dewi Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi makmur dan sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk memiliki seorang istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya menikah lagi demi kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju Kerajaan Slagahima. Di istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak raja dan pangeran yang datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri hanya sudi menikah dengan seseorang yang berhati suci, dan ia menemukan kriteria itu dalam diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten tiba-tiba musnah dan menyatu ke dalam diri Puntadewa. Sebenarnya Kuntulwinanten bukan manusia asli, melainkan wujud penjelmaan anugerah dewata untuk seorang raja adil yang hanya memikirkan kesejahteraan negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima yang asli bernama Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa dan diangkat sebagai patih di kerajaan Amarta.

Sebagai bentuk syukur atas berdirinya kerajaan Indraprastha atau Amarta ini atas petunjuk Sri Batara Kresna maka dilakukan upacara yang disebut dengan Sesaji Raja Surya atau Sesaji Rajasuya.

Makna Filosofis Babad Alas Wanamarta

  • Lawan adalah diri kita sendiri (wujud yang sama dengan Pandawa)
  • Untuk mengetahuinya digunakan cara atau sudut pandang yang lain (penggunaan minyak Jayengkaton)
  • Jika mampu mengalahkan diri sendiri maka akan terjadi hal yang luar biasa (berubahnya hutan Wanamarta menjadi kerajaan yang megah)

Rajasuya

Rajasuya adalah sebuah upacara yang diselenggarakan oleh Para Raja pada zaman India Kuno. Upacara tersebut sangat terkenal, selayaknya upacara Aswamedha. Rajasuya maupun Aswamedha sama-sama merupakan upacara yang hanya bisa dilakukan apabila seorang Raja merasa cukup kuat untuk menjadi penguasa.

Seperti Aswamedha, selama persiapan upacara Rajasuya, para jendral ( patih, saudara, atau ksatria yang masih sekerabat) melakukan kampanye dengan menaklukkan daerah-daerah (kerajaan) di sekitar mereka, sekaligus mengambil upeti dari kerajaan yang berhasil ditaklukkannya. Raja yang kalah harus bersedia untuk memberikan upeti dan mau menghadiri penyelenggaraan upacara.

Terdapat perbedaan antara upacara Aswamedha dengan Rajasurya. Pada saat upacara Aswamedha, kampanye militer dilakukan dengan melepaskan seekor kuda lalu para prajurit mengikuti kuda tersebut dan daerah yang dilalui kuda tersebut ditaklukkan, sedangkan dalam upacara Rajasuya, kuda tidak diperlukan. Para prajurit menaklukkan kerajaan sekitar sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan.

Upacara Rajasuya yang terkenal diselenggarakan Rajasuya yang diselenggarakan oleh Yudistira, putera tertua Pandu di antara para Pandawa. Hal tersebut dijelaskan dengan detail dalam kitab Mahābhārata.

Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun.

Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putera yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Beliau memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citrānggadā. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan seorang putera, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putera. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citrānggadā memiliki seorang putera yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citrānggadā setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.

Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Arjuna mampir ke Dwaraka dan disana ia mendapatkan Subadra sebagai istrinya yang ke-empat.

Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hutan tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu dengan Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna dan Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediakan senjata kuat bagi mereka berdua untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Untuk Kresna, Baruna memberikan Cakra Sudarsana. Dengan senjata tersebut, mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis.

Pengaruh dalam budaya

Kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi, banyak digubah menjadi cerita pewayangan. Dalam kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta mungkin terdapat perbedaan dengan lakon pewayangannya, yang kadang-kadang besar sekali, sehingga memberi kesan bahwa segala sesuatunya terjadi di Jawa. Hal ini disebabkan oleh kecerdasan para pujangga masa lampau yang mampu memindah alam pikiran para pembaca atau pendengarnya dari suasana India menjadi Jawa Asli. Jika Hastinapura sebenarnya terdapat di India, maka nama-nama seperti Jonggringsalaka, Pringgandani, Indrakila, Gua Kiskenda, sampai Gunung Mahameru dibawa ke tanah Jawa.

Begitu pula dengan tokoh Pancawala (Pancakumara). Jika dalam versi aslinya mereka terdiri dari lima orang, maka dalam pewayangan mereka dikatakan hanya satu orang saja. Menurut Mulyono dalam artikelnya berjudul “Dewi Dropadi : Antara kitab MahaBharata dan Pewayangan Jawa”, ia menyatakan bahwa terjadinya perbedaan cerita tentang Pancawala antara kitab MahaBharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Hal serupa juga terjadi pada kisah Dewi Dropadi dalam kitab Adiparwa. Jika dalam Adiparwa ia bersuami lima orang, maka dalam pewayangan Jawa (yang sudah terkena pengaruh Islam) Dropadi hanya bersuami satu orang saja. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab MahaBharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam. Pancawala yang sebenarnya merupakan lima putera Pandawa pun diubah menjadi seorang tokoh yang merupakan putera Yudistira saja.

Sumber : http://wirajhana-eka.blogspot.com/2008/11/mahabharata-2.html#adiparwa